Posted by : ngatmow prawierow 2.10.2012

Tok...tok...tok....
Thomas terperanjat dari tidurnya manakala ada suara ketukan di pintu depan rumahnya. Susah payah dia berusaha bangun dari tempat tidurnya. Sambil beranjak dia sempat melirik ke arah jam dinding di sudut kamar.

Jelas sekali jam dinding digital itu tertulis 02.45 WIB.
Siapa sih yang tega-teganya mengetuk pintu dini hari seperti ini, pikirnya.

…....................

“ Oh mas Ali, ada apa mas ?” tanya Thomas sambil mengucek matanya. Rambutnya yang agak bergelombang masih awut-awutan karena memang belum dirapihkan.
“ Ini mas saya mau menitipkan ini “ jawab seseorang yang dipanggil Ali itu sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna putih.
“ Apa ini mas ? ”
“ Sekedar titipan dari Pak Wiyoto mas buat ongkos pemilu besok siang “ jawab tamu tak diundang itu sambil tersenyum. Sedetik kemudian dia beranjak pergi meninggalkan Thomas yang masih terbengong-bengong memegang amplop yang setelah dibukanya berisi selembar uang biru lima puluh ribuan.

Pemuda berbadan lebar itu memang baru pertama kalinya mengalami serangan fajar karena pada pemilu-pemilu sebelumnya tidak pernah ditemuinya kejadian sejenis. Angannya jauh melayang menuju menerjang kegelapan menuju kepada keprihatinan seorang warga yang merasa masih waras.

Beberapa pertanyaan muncul begitu saja dengan liar dipikirannnya. Apa gunanya semua ini ? Apa yang akan terjadi pada kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini apabila semua pemilihan umum yang seharusnya menjadi ajang pemilihan seorang pemimpin.
Lha ini, wong baru pemilihan Kepala Daerah saja modelnya sudah seperti ini. Pakai acara serangan fajar segala. Oke lah mungkin uang 50.000 kalau untuk satu orang adalah ringan. Tapi kalau untuk satu kabupaten ?? bisa milyaran kan ??

Thomas melangkah kembali ke kamarnya, dia tidak langsung menuju ke tempat tidur melainkan menuju meja. Sambil berpikir dan terjadi pro kontra di dalam hatinya mengenai uang yang sudah ada di tangan, dia meraih kalkulator dan selembar kertas.

1.006.257 x 50.000 = 50.312.850.000

Fantanstis...
angka 1.006.257 adalah jumlah warga pemilih di wilayah Kabupaten Negeribanjir. Angka yang kedua sudah jelas merupakan angka nominal uang dalam amplop yang digunakan untuk serangan fajar dan angka yang terakhir adalah nilai yang dibutuhkan seorang Calon Kepala Daerah untuk “menyerang” warganya dipagi buta hanya demi harapan agar semua warga tersebut nanti akan memilihnya.

Dan itu baru seorang calon..... padahal ada 3 calon yang akan bertanding siang nanti untuk memperebutkan jabatan sebagai Kepala Daerah terpilih.
Thomas hanya menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya dia mengutuk para calon Kepala Daerah itu dengan cacimaki yang tidak pantas diperdengarkan kepada siapapun. Pengeluaran dana sebesar itu pasti memiliki perhitungan tertentu baik dari sudut pandang matematis maupun politis. Dan kedua hal itu meskipun sangat berbeda sekali dalam realitanya di masyarakat, ada satu kesamaan di akhir kalimat. Pasti akan dicari kembali ketika sudah berhasil duduk manis di jabatan yang diperebutkan. Bedebah.

Tapi dia sadar dengan segala keadaan itu. Seperti apapun bejatnya para petinggi, masyarakat kitapun seolah masih saja menganggap sesuatu yang buruk itu sebagai sebuah kewajaran yang terkadang oleh sebagian orang sangat dinantikan.

Maksudnya adalah bila sedang berlangsung pesta demokrasi seperti pemilu, maka masyarakat akan akan bertanya-tanya ? Mana serangan fajarnya? Dan apabila satu dari beberapa calon mampu memberikan lebih banyak uang atau pemberian lain daripada calon-calon yang lainnya. Maka minimal dia sudah bisa bernafas lebih lega karena 70% pikiran masyarakat sudah beralih. Sebab dengan kegiatan bagi-bagi yang menyenangkan itu masyarakat pemilih yang sebagian besar orientasinya hanya kuantitas bukan kualitas akan mengalihkan pilihan kepadanya yang bisa memberikan lebih.

Thomas Fatah yang hanya seorang buruh negeri dengan penghasilan “jelas” tentu saja merasa jengah dengan hal ini. Sebab di kemudian hari dia yang bekerja di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Negeribanjir pasti akan berhubungan langsung dengan sang Kepala Daerah terkait kebijakan keuangan kabupaten. Dan tentu saja kebijakan yang diambil adalah sebuah kebijakan palsu yang dibuat dengan berbagai pertimbangan yang menguntungkan “orang besar” saja.

Tapi di satu sisi yang lain di hati Thomas ada rasa syukur juga dengan adanya kegiatan “sedekah” subuh ini. Sebab selaku manusia yang butuh uang tentu saja amplop yang baru saja diterimanya bisa menjadi penyambung nafas kehidupannya di tanggal yang sudah semakin menua. Toh dia juga tidak berjanji akan memilih si pemberi pada saat pemilihan nanti.......

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow