Archive for Desember 2014

Memandang Longsor Dahsyat Jemblung dari Ketinggian Udara dan Satelit (Artikel Copas dari Ekliptika)

Beberapa hari pasca bencana longsor dahsyat yang meluluhlantakkan dusun Jemblung, desa Sampang Banjarnegara, bagaimana luasnya skala bencana tersebut mulai terkuak. Khususnya setelah dua tim yang berbeda melaksanakan pemotretan (pencitraan) di atas lokasi bencana. Pencitraan pertama dikerjakan oleh tim KataDesa (Banjarnegara) bekerjasama dengan BukaPeta (Jakarta) dengan menggunakan pesawat udara nir-awak (PUNA) atau drone tepat di atas lokasi longsor pada Rabu 17 Desember 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Kedua relawan lembaga nirlaba tersebut melakukan pemotretan udara (pencitraan aerial) selama tiga hari penuh hingga 20 Desember 2014 TU, yang menghasilkan sejumlah data dalam bentuk rekaman-rekaman foto dan video.

Sejumlah citra foto dan videonya telah dipublikasikan semenjak awal. Sementara pencitraan kedua dilaksanakan oleh tim respon cepat bencana LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) pada saat yang hampir sama. Memanfaatkan satelit penginderaan jauh Pleiades milik badan antariksa Perancis yang melintas jauh di atas lokasi bencana pada 16 Desember 2014 TU, tim LAPAN mencitra dan mengolah datanya dalam kanal cahaya tampak (visual) untuk kemudian memublikasikan hasilnya per 19 Desember 2014 TU. Hasil kerja dua tim yang berbeda tersebut saling melengkapi sehingga memberikan perspektif baru dalam upaya kita memahami bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini.

Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.
Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.

Citra aerial dan citra satelit tersebut menyajikan batas-batas longsor dan beberapa perspektif tiga dimensi sektor longsor tertentu. Tatkala batas-batas tersebut dimasukkan ke dalam program pemetaan seperti Google Earth, diperoleh bahwa longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 mencakup area seluas hampir 18 hektar. Dari area seluas itu sekitar 2,2 % di antaranya, yakni hampir 4.000 meter persegi, merupakan bagian yang tak terjamah aliran maupun timbunan tanah dalam bencana ini, yang mencakup sebuah rumah berdinding putih dan kebun jagung.

Dua Luncuran
Selamatnya rumah dan kebun jagung ini dari terjangan tanah longsor telah mengundang decak kagum. Banyak yang menyebutnya sebuah keajaiban. Cerita-cerita yang tersebar luas tak berkeruncingan di media sosial menuturkan rumah itu adalah milik kiai kampung yang rajin berdakwah kepada penduduk sekitar. Namun penelusuran lebih lanjut menunjukkan pemilik rumah tersebut adalah seorang petani yang tinggal bersama istri, anak, menantu dan cucunya. Meski rumah tersebut selamat dari terjangan tanah, namun tidak demikian dengan penguninya. Hanya sang menantu yang sedang hamil 9 bulan dan satu keponakannya yang luput dari maut meski sempat tertimbun tanah setebal 1 meter. Sementara petani, istri, anak dan seorang cucunya lagi menjadi korban bencana dahsyat ini.

Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.
Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.

Citra aerial dipadukan dengan citra satelit menempatkan rumah dan kebun yang selamat itu dalam perspektif baru pada bencana longsor dahsyat ini. Dalam analisa sementara penulis, rumah dan kebun yang selamat beserta sepenggal tanah sempit di atasnya merupakan pembatas bagi sekurangnya dua kejadian luncuran tanah yang berbeda namun berlangsung dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan yang sebelah menyebelah. Yakni luncuran tanah sisi timur (arah Dieng) dan luncuran tanah sisi barat (arah Banjarnegara). Dua luncuran tanah ini ternyata senada dengan hasil analisis sementara BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) seperti yang dipaparkan Kepala Pusdatin (pusat data dan informasi) BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada 15 Desember 2014 TU lalu. Arah gerak kedua luncuran tanah tersebut pun terlihat berbeda. Namun pada akhirnya kedua luncuran tanah itu saling berkoalisi hingga menghasilkan kerusakan cukup besar dan luas.

Google Earth memperlihatkan dusun Jemblung secara topografis terletak di sebuah lembah berarah barat-timur yang dipagari dua buah gunung (bukit), masing-masing di sisi selatan dan utaranya. Bukit di sisi selatan dikenal sebagai Gunung Telagalele. Lembah ini tidak rata melainkan berhias sejumlah gundukan. Di sela-selanya mengalir sungai Petir, sebuah sungai kecil yang bermuara ke sungai Merawu. Sungai Merawu sendiri merupakan salah satu anak sungai utama dari sungai Serayu yang besar. Sehingga sungai Petir dan seluruh dusun Jemblung pada dasarnya merupakan bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Serayu.

Lembah dimana dusun Jemblung berada juga bukanlah lembah datar ataupun landai, karena ujung timurnya 30 meter lebih tinggi ketimbang ujung baratnya. Selain lebih rendah, ujung barat lembah dimana dusun Jemblung berada juga tepat bersisian dengan sungai Petir. Berbeda dengan ujung timurnya. Faktor ini yang nampaknya berperan penting terhadap aliran tanah pada bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU.
Sebelum luncuran tanah terjadi, dusun Jemblung telah lebih dulu dikejutkan oleh dua peristiwa luncuran tanah dalam skala kecil yang mengambil lokasi di dusun Jemblung sebelah barat. Apakah masih berkaitan ataukah tidak, apakah salah satu atau kedua longsor kecil itu menyebabkan gangguan stabilitas lereng utara Gunung Telagalele ataukah tidak, yang jelas ia segera diikuti luncuran tanah yang jauh lebih besar. Luncuran tanah terakhir ini secara umum dapat dibedakan menjadi luncuran tanah sisi timur dan luncuran tanah sisi barat.

Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Luncuran tanah sisi timur melaju tepat ke utara, menuju dusun Jemblung sebelah timur yang ada di kakinya. Namun volume tanah dalam luncuran tanah sisi timur ini mungkin lebih kecil ketimbang luncuran tanah sisi barat. Sehingga energinya pun mungkin lebih kecil yang membuatnya sebatas menimbuni jalan raya Banjarnegara-Dieng/Banjarnegara-Pekalongan dan bentang lahan di sisi selatannya. Ia tak sanggup ‘meloncat’ untuk menimbuni mayoritas rumah di dusun Jemblung sebelah timur yang ada di gundukan sisi utara jalan raya. Bahkan terdapat tanda-tanda benturan massa tanah longsoran ke gundukan dimana rumah-rumah dusun Jemblung sebelah timur berada. Benturan ini menyebabkan sebagian massa tanah longsor tersebut nampaknya terbelokkan ke arah barat, menurun menuju dusun Jemblung sebelah barat.

Hal itu berbeda dengan luncuran tanah sisi barat. Pada awalnya luncurannya mungkin kecil dengan arah ke utara-barat laut. Namun tumpukan material longsornya amat mendesak lereng yang lebih rendah. Sehingga lereng yang sudah labil itu pun turut runtuh, menghasilkan longsor dalam volume lebih besar juga dengan arah ke utara-barat laut. Hal yang sama berulang, tumpukan materialnya mendesak lereng yang lebih rendah lagi hingga turut longsor. Pada akhirnya luncuran tanah sisi barat membawa volume tanah yang lebih besar ketimbang sisi timur. Pun demikian energinya, sehingga daya gerusnya pun lebih besar. Massa tanah pun terdorong jauh tanpa terhenti meski telah menghantam dusun Jemblung sebelah barat dengan telak. Selain dari luncuran tanah sisi barat, dusun Jemblung sebelah barat juga diterjang sebagian kecil massa tanah dari longsoran tanah sisi timur yang tadi terbelokkan. Akibatnya dusun Jemblung sebelah barat pun dihapus dari peta, sebagian tertimbun tanah dan sebagian lagi tergerus. Massa tanah di sini pun meluncur jauh hingga memasuki sungai Petir untuk kemudian menghilir sejauh sekitar 150 meter. Sehingga selain di bekas dusun Jemblung sebelah barat, banyak jasad korban longsor yang ditemukan di sekitar sungai Petir.

Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Hingga Minggu 21 Desember 2014 TU tengah hari, secara akumulatif tim telah menemukan 95 jenazah. Paling tidak 13 jasad lainnya masih belum ditemukan. Namun atas kesepakatan bersama warga dusun Jemblung, BNPB memutuskan untuk menghentikan proses pencarian jasad korban. Pertimbangannya adalah luasnya kawasan yang terkena longsor, tebalnya timbunan tanah, cuaca yang kurang menentu dan ancaman longsor susulan akibat keberadaan telaga baru di bawah mahkota longsor sisi barat. Fokus penanganan bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 kini dialihkan pada relokasi penduduk dari 35 KK (kepala keluarga) yang selamat, mencakup 32 KK yang rumahnya tertimbun longsor dan 3 KK yang rumahnya rusak berat. 21 KK sisanya tidak turut direlokasi karena seluruhnya menjadi korban bencana dahsyat ini.

Pelajaran
Selain bermanfaat memperkirakan bagaimana mekanisme sebuah bencana khususnya pada bencana yang berskala besar, penggunaan citra aerial dan/atau citra satelit memberikan pelajaran berharga dari Banjarnegara. Citra aerial dan/atau citra satelit sangat membantu dalam pencarian jasad korban. Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, citra aerial dan satelit membantu memberikan gambaran antara pra dan pasca bencana. Sehingga gambaran dimana rumah-rumah yang tertimbun/tergerus tanah longsor dapat segera diperoleh. Mengingat cuaca yang kurang mendukung dengan langit kerap mendung, satelit penginderaan jauh tak bisa secepatnya membantu apalagi jika bekerja pada kanal cahaya tampak. Sebab pandangan satelit ke lokasi bencana akan kerap terganggu oleh tutupan awan. Sebaliknya PUNA/drone tidak begitu terganggu karena ketinggian jelajahnya lebih rendah dibanding awan. Sepanjang tidak turun hujan deras, PUNA/drone dapat dioperasikan tepat di atas lokasi bencana.

Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, sebelum tim KataDesa dan BukaPeta meluncurkan PUNA/drone-nya, sesungguhnya telah ada PUNA/drone lain yang terbang di atas lokasi bencana. Yakni dari tim respon cepat bencana UGM (Universitas Gadjah Mada) serta dari tim BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Hasil pencitraan aerial tim ini memang tidak dipublikasikan, namun nampaknya kemudian menjadi acuan bagi BNPB untuk menyusun bagan bencana longsor. Dengan bagan tersebut, maka dusun Jemblung yang terlanda bencana dibagi ke dalam sektor-sektor tertentu. Sehingga upaya tim relawan dalam pencarian jasad-jasad korban dapat dilakukan dengan lebih fokus.
Selain sangat membantu dalam pencarian jasad para korban dengan memetakan batas-batas kawasan yang terlanda bencana longsor, pelajaran berharga lainnya dari Banjarnegara adalah bahwa citra aerial yang diproduksi PUNA/drone juga membantu mengevaluasi bagaimana tutupan vegetasi (tumbuh-tumbuhan) di sebuah lereng. Juga bagaimana keadaan lereng tersebut, khususnya lereng yang telah menunjukkan gejala pendahuluan akan bencana tanah longsor dalam bentuk retak-retak tanah dalam beragam skala. Ini akan sangat membantu dalam menyiapkan kewaspadaan bagi masyarakat disekitarnya.

Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Takdir kebumian Banjarnegara khususnya kawasan Karangkobar-Merawu dengan batuan dasarnya yang rapuh membuat kejadian longsor di sini menjadi begitu banyak dan beberapa diantaranya unik. Dalam pandangan umum, tanah longsor bisa diminimalkan atau bahkan dielakkan jika lereng yang setengah terjal atau bahkan terjal ditanami dengan vegetasi (tumbuhan) berakar tunjang. Namun di sebagian Banjarnegara, hal tersebut tidak selalu berlaku. Dalam bencana longsor dahsyat Gunungraja (Sijeruk) 2006 misalnya, longsor berskala besar tetap terjadi meskipun lereng Bukit Pawinihan masih tertutup tumbuhan-tumbuhan tinggi yang relatif rapat dan berakar tunjang. Tebalnya tanah pelapukan membuat tumbuh-tumbuhan itu tak sempat mengakar kuat hingga ke lapisan batuan yang masih keras dibawahnya. Sehingga tatkala tanah pelapukan itu jenuh dengan air, longsor pun tetap terjadi.

Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.
Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.

Pasca bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, beberapa titik retakan baru telah muncul di lereng Gunung Telagalele. Misalnya di teras SD Negeri 3 Sampang (dusun Tekik), di jalan desa ke dusun Gondang dan tepat di atas mahkota longsor Jemblung. Di luar Gunung Telagalele, retakan-retakan juga terdeteksi di dusun Slimpet desa Tlaga (kecamatan Punggelan) dan di desa Bandingan (kecamatan Sigaluh). Titik-titik retakan baru ini bisa jadi merupakan gejala pendahuluan tanah longsor yang akan datang.
Titik-titik ini perlu segera ditangani dengan jalan segera ditutup tanah hingga rata. Juga perlu untuk terus dipantau apakah ada tanda-tanda pendahuluan lainnya seperti mulai merosotnya lereng, mulai miringnya pepohonan/tiang listrik ataupun mulai menegangnya kabel listrik yang melintas di atas lokasi. Selain itu bagaimana skenario terburuk terkait besarnya luncuran tanah dan arahnya pun musti mulai dipikirkan. Dalam konteks inilah pencitraan aerial berbasis PUNA/drone menjadi penting peranannya untuk mengevaluasi status lereng tersebut. Apalagi dengan kemampuannya yang melebihi resolusi citra satelit penginderaan bumi dan ongkos operasionalnya yang relatif murah. Agar kelak korban tak lagi berjatuhan…

Special Regard to ekliptika.wordpress.com 
12.23.2014
Posted by ngatmow

Charity Hunt KPFB : Fotografer Peduli Bencana

Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) pada hari Sabtu yang lalu, tanggal 20 Desember 2014, menggelar sebuah acara amal bertajuk "Penggalangan Dana Fotografer Peduli Bencana" bertempat di sebagian ruas jalan Dipayuda Banjarnegara.


Acara penggalangan dana dengan tema "Berbuat nyata untuk sesama" ini adalah sebagai wujud kepedulian Komunitas Fotografer yang ada di Banjarnegara dan sekitarnya atas musibah yang terjadi di wilayah Banjarnegara, terutama yang menimpa Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.
Peserta acara  sendiri datang dari para penghobi dan menggemar fotografi di Banjarnegara dan juga komunitas fotografer dari luar kota, seperti Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan daerah lainnya. Dalam hunting ini, pantia mendatangkan delapan model dari Inggil Production Banjarnegara, dan Embun Pagi Akustika sebagai pengisi acara.

Sebagai informasi, pada acara yang digelar selama hampir 3 jam ini, donasi yang terkumpul mencapai Rp. 12.480.600,-. Donasi tersebut berasal dari sumbangan on the spot peserta dan donasi lintas komunitas yang berkenan hadir seperti Formulasi (Forum Multimedia Edukasi), SFCI (Suzuki Forsa Community Indonesia), HPPW (Himpunan Penggemar Photo Wonosobo), Pengusaha Kampus Jateng. Juga donasi via transfer melalui rekening panitia seperti dari KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel),  Jurnalis Peduli Banjarnegara dan personal yang turut merasakan keprihatinan korban bencana.

Tidak hanya itu, dukungan juga datang dari Kompo Motor Banjarnegara, Candradimuka Jeep Comunity, Dapoer Central, Entik Cafe, Warkopenyong Cafe, dan Fabian Salon.
“Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak, termasuk yang dengan ikhlas menyediakan properti untuk kepentingan hunting bareng ini,” Ujar Renda Sabita Noris selaku ketua panitia.

Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Posko Bantuan Logistik Pemda Banjarnegara pada hari Senin tanggal 22 Desember 2014 pukul 10.30 WIB dengan diterima oleh Kabag. Kesra Setda Banjarnegara, Drs. Wahyono, MM.

Bersama Mas Ahlis dari Pengusaha kampus Jateng

Bersama Mas Eko Prem dari HPPW
Donasi dari SFCI


Penyerahan Donasi Kepada Posko Bantuan Logistik Pemda Banjarnegara


Berita duka dari Jemblung

Berita duka kembali menghiasi layar kaca di seluruh negeri ini. Semua headline news tertuju ke Banjarnegara. Di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, tanah longsor tiba-tiba datang mengubur sekitar 40 rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 keluarga sekitar pukul 17.30 WIB. Jumlah warga Dusun Jemblung RT 05 RW 01 yang tertimpa longsor diperkirakan sekitar 108 orang, sedangkan warga lainnya berhasil menyelamatkan diri. Selain itu, sejumlah mobil yang sedang melintas di jalan Karangkobar-Banjarnegara turut tertimpa longsor. Sehingga jumlah pasti korban meninggal dalam bencana ini diperkirakan jauh diatas angka yang muncul di media massa.

Banyak korban selamat mengatakan bahwa musibah kali ini sangat aneh. Tanah longsoran bergerak seperti ombak yang bergulung dan berputar membentuk pusaran besar. Tanah seolah menjadi cair dan berwarna mengerikan dengan gemuruh suara yang sungguh dahsyat.

Karena itulah kemudian banyak versi cerita muncul di kemudian hari. Mulai dari yang bersifat ilmiah sampai cerita mistis yang melatarbelakanginya.
Kebanyakan dari korban selamat pada malam itu juga bergerak dengan alat seadanya untuk mencari korban selamat lain yang lokasinya tidak begitu jauh dari posisi mereka. Malam yang gelap itu semakin mencekam dengan teriakan manusia yang maminta pertolongan. Dan tangisan orang orang yang kehilangan sanak saudara, juga teriakan orang orang yang saling menguatkan satu sama lain ditengah himpitan tanah tanpa bisa saling menolong. Tragis....
   
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan beberapa penyebab terjadinya longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (15/12/2014 - Kompas)
"Dusun Jemblung di dalam peta merupakan daerah yang rawan longsor dengan intensitas sedang-tinggi," ujar Sutopo, dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jalan Juanda, Jakarta Pusat.

Sutopo mengatakan, pada dua hari menjelang terjadinya longsor, yaitu pada tanggal 10-11 Desember, wilayah di sekitar Dusun Jemblung, Banjarnegara, diguyur hujan yang cukup deras. Akibatnya, tanah di lokasi tersebut menjadi penuh dengan air. Kemudian, menurut Sutopo, materi penyusun bukit Telaga Lele, di Dusun Jemblung, merupakan endapan vulkanik tua sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan.

Selain itu, kemiringan lereng di bukit tersebut kurang dari 60 persen. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen. Sutopo juga mengatakan, penyebab longsor tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija, yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air."Budidaya pertanian yang tidak mengindahkan konservasi juga jadi penyebab. Kondisi tanah dan air di lokasi kejadian, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut," kata Sutopo.















 



Innalillahi wainna ilaihi roji'un.....
Hanya itu yang bisa kita ucapkan selain segera bertindak dengan segala kemampuan yang kita bisa untuk meringankan beban bagi saudara saudara kita yang terkena musibah disana.


Tidak lupa mari kita tundukkan kepala sejenak untuk berdoa, semoga mereka yang sedang tertimpa musibah diberikan kekuatan dan kesabaran, dan kita semua semoga diingatkan bahwa kita ini hanyalah makhluk-Nya yang tidak punya kekuatan apapun untuk berlaku sombong dan melupakan keberadaan-Nya


12.15.2014
Posted by ngatmow

Anies Baswedan, Guru Anak-anak Muda Indonesia

Ditengah carut marutnya dunia politik di negeri ini, lambat laun kita sebagai masyarakat kecil akhirnya bisa melihat mana petinggi-petinggi bangsa yang hanya "omong tok" dan mana yang benar benar mau bekerja demi bangsa ini.

Nama Anies Baswedan tidak asing lagi di telinga para generasi muda. Ide dan pemikirannya yang cerda membawa angin segar bagi perubahan bangsa.

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 ini menorehkan tinta emas sebagai intelektual muda nasional namun berprestasi global. Hal ini dimulai sejak Anies menjadi peserta AFS, Intercultural Programs yakni program pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika, tahun 1987. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh intelektual muda Indonesia.

Anies berhasil masuk dalam daftar 100 intelektual Publik Dunia oleh Majalah Foreign Policy. Anies tercantum di majalah terbitan Amerika ini pada edisi April 2008. Dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang tercantum namanya pada majalah tersebut.

Pria yang dikenal ramah dan murah senyum ini berhasil mensejajarkan namanya bersama para intelektual muda kelas dunia di antaranya Al Gore (aktivis lingkungan/mantan Wakil Presiden AS), Francis Fukuyama (ilmuwan AS), Lee KuanYew (menteri mentor Singapura) hingga pemenang Nobel perdamaian asal Bangladesh Muhammad Yunus. Hanya ini saja? Tentu tidak.

Selain itu, pada April 2010 pria bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan ini juga terpilih sebagai salah satu dari 20 tokoh yang akan membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight. Majalah terbitan Jepang ini menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia, salah satunya adalah nama Anies yang disematkan berdampingan dengan 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen serta Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi.

Siapa sesungguhnya sosok cerdas yang sudah mendunia ini? Anies Baswedan berasal dari keluarga sederhana, masa kecil Anies dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Lahir dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid keduanya merupakan dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Sebagai informasi, Anies muda bukanlah seorang bintang di kelasnya. Sejak kecil Anies malah tidak pernah juara kelas, tetapi bakat kepemimpinannya sudah terlihat, saat kecil dia selalu proaktif terhadap berbagai hal dibanding teman-teman seusianya.

Anies juga membentuk perkumpulan anak-anak muda di kampungnya yang diberi nama ‘Kelabang’ (Klub Anak Berkembang) pada usia yang relatif masih sangat muda yakni umur 7 tahun. Bayangkan saja, di usia yang pada umumnya anak sedang asyiknya bermain kelereng dia justru sudah memikirkan sesuatu pemikiran yang besar.

Anies boleh saja menjadi sosok intelektual di masa kini, namun tahukah Anda, selain menjadi anak yang aktif, Anies ternyata gemar adu jotos dengan teman-teman sebayanya.

"Semua orang saya anggap sak tinju. Ditonjokin (dipukul) semua..." ucap suami dari Fery Farhati Ganis, S.Psi. M.Sc, mengenang masa kecilnya. "Saya merasa terinspirasi Muhammad Ali," ungkap Anies, menyebut idolanya petinju legendaris berkulit hitam asal Amerika Serikat itu.

Lantaran gemar meninju teman-teman sebayanya, baik di sekolah atau di lingkungan rumahnya di Yogyakarta, berulangkali ia pun dipanggil kepala sekolah. “Saat kelas 1 dan 2 sekolah dasar, saya memang agak punya masalah," ucap ayah dari empat orang anak ini.

Namun demikian, siapa sangka, kegemarannya bertinju itu kelak mengantarnya gemar membaca buku, dan mengenal tokoh-tokoh nasional dan dunia, serta belakangan membuatnya akrab dengan istilah dan makna inspirasi.

Beranjak remaja, Anies tumbuh menjadi seorang yang hebat dan berprestasi. Saat SMP, dia dipercaya menjadi Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat di sekolahnya SMP Negeri 5 Yogya. Anies selalu dipercaya oleh guru-gurunya untuk tampil mewakili sekolahnya kala itu. Hal yang lebih menakjubkan lagi ketika Anies duduk di bangku SMA Negeri 2 Yogya, Anies yang baru duduk di kelas satu sudah dipercaya menjadi ketua OSIS SMA se-Indonesia, hal yang sangat jarang terjadi di setiap sekolah di seluruh penjuru negeri ini.

Anies mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs di Indonesia yang diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Anies terpaksa menjalani masa SMA selama 4 tahun pada (1985-1989).

Jiwa aktivis mengalir begitu deras dalam sekujur tubuh Anies. Dia tumbuh menjadi pemuda aktif. Lulus dari SMA dia lalu melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi UGM di tahun 1989, Anies aktif di gerakan mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM.

Setelah meraih gelar sarjananya tahun 1995, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Berkat prestasi-prestasinya yang sangat gemilang, sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.

Tak hanya sampai di situ, 10 tahun kemudian Anies kembali melanjutkan pendidikan doktoralnya menggunakan jalur beasiswa di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat dan dapat menyelesaikan disertasinya dengan sangat baik.



Setelah menyelesaikan studinya, ia pun langsung pulang ke Indonesia, kiprahnya di Jakarta begitu hebat. Selain berprofesi sebagai intelektual, Anies selalu mengisi kegiatan-kegiatan seminar pendidikan, keagamaan dan kebangsaan.

Tak ayal melihat kiprahnya yang demikian hebat, dua tahun kepulangannya Anies langsung terpilih sebagai rektor Universitas Paramadina, sebuah universitas yang dibangun dengan modal warisan intelektual dan nama besar almarhum Nurcholis Madjid yang mendunia. Saat itu usianya baru menginjak 38 tahun, ia pun dianugerahkan sebagai Rektor Termuda di Indonesia.

Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan.

“Kami tidak berencana menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, tapi kami berencana mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia. Problem yang ada di bangsa ini luar biasa banyak. Tidak bisa kita berharap satu orang menyesaikan every single detail,” ujar Anies.

Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies pun mendirikan gerakan pendidikan baru yaitu Indonesia Mengajar. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang berada di pelosok Indonesia.


Lewat program Indonesia Mengajar, Anies mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di dunia kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan menggantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama.

Ini pembuktian bahwa Anies ingin membangun Indonesia dengan langkah sederhana yang konkrit namun memberi terang setelah kegelapan. Tak salah jika ia dijuluki sebagai sang guru bangsa. Bangga? Tentu saja!


Sumber : Sooperboy.com
12.08.2014
Posted by ngatmow
Tag :

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow