Archive for Februari 2015

Gong Xi Fat Cai

Masih inget dalam ingatan saya sebuah penggalan kisah ketika masih berbaju putih biru. Waktu itu ada seorang teman karib yang  bermata sipit mengajak saya ke rumahnya di daerah Kampung Cina (bukan nama sebenarnya - saya lupa nama daerahnya, tapi yang jelas bukan itu nama daerahnya hehehe....). Awalnya saya sempat menolak juga dengan alasan bukan jam kosong dan tidak mau bolos sekolah (jyahahaha.....seingat saya lho, tapi kayaknya bukan begitu kejadian sebenarnya), namun karena ada kata kunci khusus yang diucapkan si Cui (sebut saja begitu), maka saya dan beberapa orang teman lainnya dengan semangat 45 segera berangkat menuju lokasi.

Berbekal kemampuan panjat dinding yang cukup mumpuni dan lari marathon 10 KM akhirnya sampai juga kami ke rumah si Cui yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.
Rumah keluarga Cui dari depan kelihatan biasa biasa saja. tidak ada yang istimewa, hanya ada satu gantungan berwarna merah yang mirip kertas pengusir vampire pada film horor cina tergantung di bawah lampion di depan pintu.

Cui dan keluarganya merupakan keluarga pedagang yang cukup sukses di daerah kami. Hampir seluruh bidang kehidupan yang bisa diperjual belikan mereka punya tokonya. Pakaian, bahan makanan, perminyakan, rumah makan, toko kelontong bahkan onderdil kendaraan mereka ada. Dan yang membuat saya takjub waktu itu adalah mereka semuanya memiliki satu kemiripan yang tingkat keakuratannya mencapai 80 persen. Matanya mirip semua.....

" Weh kok sepi cu ? katanya banyak makanan ?" tanyaku waktu itu
" Santai W, masuk aja dulu ... " jawabnya singkat sambil tersenyum....

Ketika pintu dibuka, saya dan teman teman yang lain dibuat takjub  dengan apa yang kami jumpai di dalam sana. Banyak ornamen berwarna merah dan emas hampir di seluruh penjuru rumah. Lampu, lilin, hiasan dinding, balon, bahkan makanan berwarna merah dan emas. Di ruang tengah ada satu meja besar terletak di pojok ruangan berisi aneka makanan yang membuat air liur saya meleleh dengan derasnya, sedangkan di seberangnya, di sudut ruangan yang lain ada sebuah tempat lemari dengan beberapa ornamen bertuliskan cina dan 3 batang sapu lidi (belakangan saya baru tahu bahwa lidi tersebut adalah hio) yang dibakar di depannya. Semua orang yang ada di rumah itupun mengenakan baju yang berwarna sama.Merah.
Aroma aneh pun tersebar di seluruh penjuru rumah.Namun dapat langsung diabaikan begitu sepiring besar nasi dan lauk pauk sudah berada di tangan.

Waktu itu saya sempat bertanya kepada Cui, " ada acara pa ini ? lagi punya hajat ?"
" Lagi Imlek W .... " jawabnya singkat sambil mengunyah makanan
" Owh..... " sahut saya dengan lagak sok tau tanpa mengerti arti ucapan si Cui sesungguhnya.... - end of flash back -


Ya, begitu kira kira apa yang terjadi pada keluarga keturunan Tionghoa pada waktu saya masih berpakaian putih biru dulu. Minoritas dan (kalau boleh dikatakan tertindas), oleh sistem yang berlaku. Padahal kalau didalami dan ditelaah lebih jauh, bukan seperti itu isi yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 yang notabene menjadi dasar negara kita, Indonesia. Iya nggak ?

Imlek, sebuah kata yang asing di telinga saya dan bahkan tidak saya mengerti artinya waktu itu, selalu dirayakan oleh keluarga si Cui secara pribadi dan hanya berbatas keluarga, juga orang dekat yang dipercaya saja. Dan itu terjadi karena keterbatasan dan segala batas aturan yang ada.

Namun sekarang semua itu sudah berubah 180 derajat semenjak tahun 2000 lalu waktu Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95. Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah ". Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi dan merayakan apa yang menjadi hari besar mereka. Termasuk Imlek itu.

Yup, seperti yang bisa dilihat sekarang ini, Perayaan Imlek alias  Perayaan Tahun Baru Cina digelar secara besar dan bahkan menjadi Hari Besar Nasional. Ditandai dengan merahnya angka tanggal di kalender. Dan itu sangat membantu saya untuk bisa bangun siang seperti hari ini hehehe.......

by the way,"xin nian gong xi, Gong Xi Xin Nian Zhu Da Jia Dou Kuai Le ........." ye....







2.19.2015
Posted by ngatmow

Agus Pulung Sasmito, Penggemar Geblek Wonosobo yang Jadi Profesor di Kanada

Profesor Agus Pulung Sasmito, ST, Ph.D. Begitu nama itu disebutkan di beberapa media massa nasional sebagai nama seorang pemuda berprestasi asal Indonesia yang mampu "menaklukkan" dunia internasional melalui keahliannya di bidang keselamatan penambangan bawah tanah dan sistem energi hidrogen. Seorang pemuda harapan bangsa yang digadang gadang akan mampu mengibarkan bendera merah putih di belahan bumi lainnya

Agus. Nama itu saja yang masih terlintas di benak saya. Seorang sahabat lama yang kesuksesannya sangat membanggakan dan selalu membuat saya sombong  ketika menceritakannya kepada siapapun yang bertanya tentang dia.
Dan memang benar bahwa Agus yang ada di media massa itu adalah salah seorang sahabat saya dulu yang terpisah karena kapasitas otak kami , dimana ternyata memang benar benar jauh berbeda. Bagi saya dan beberapa orang teman lainnya, sosok Profesor Sasmito (begitu dia biasa dipanggil disana) yang diperbincangkan di media massa nasional itu, masihlah tetap Agus sahabat kami si penggemar geblek. Sosok seorang teman yang sederhana dan selalu menjadi pengamin ide ide konyol yang terkadang menjurus gila oleh kawan kawannya.....halah.....



Sedikit cerita tentang profesor muda ini, Agus merupakan profesor termuda dan terbaru di Jurusan Teknik Pertambangan dan Material McGill University, Kanadan, yang dipercaya memegang kendali di laboratorium mine ventilation, energy, and environment di kampusnya. Dia merupakan satu-satunya ahli dalam bidang keselamatan penambangan bawah tanah dan sistem energi hidrogen di kampus tersebut lho. Sebagai  informasi, berbeda dengan di Indonesia, gelar profesor di McGill University bukanlah gelar akademik, melainkan gelar jabatan. Semua dosen peneliti di sana bergelar profesor, yang memiliki tugas menjadi dosen sekaligus peneliti. Selain sebagai seorang profesor, Agus membagi kegiatannya di kampus tersebut, yakni 60% meneliti, 20% mengajar, dan 20% melakukan kegiatan administratif kampus seperti mengikuti seminar dan kegiatan kampus lainnya. Dan yang perlu kita ketahui, Mc-Gill University, Kanada merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Kanada yang menduduki peringkat ke-21 dalam daftar perguruan tinggi terbaik dunia dan kedua di Kanada versi QS World University Rangkings 2013.

Pada bulan September 2013 yang lalu, sebelum Agus memutuskan untuk memilih hijrah ke Kanada dan menjadi Profesor, cowok yang masih lajang ini katanya sedang  mengajukan lamaran professorship di tiga universitas berbeda pada saat bersamaan, yakni di McGill University, Kanada; Khalifa University, Abu Dhabi; dan Aalto University, Finlandia (Dan hebatnya semuanya diterima lho), dia sempat pulang ke Wonosobo selama beberapa minggu. Dan Pada waktu yang cukup singkat itu, dia sempatkan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga besarnya, teman teman lamanya dan makanan kegemarannya, geblek. (yaitu salah satu makan khas Wonosobo yang terbuat dari pati singkong basah dan parutan kelapa, rasanya gurih dan nikmat jika di sajikan pada saat masih panas, teksturnya empuk seperti (cireng) makanan khas dari jawa barat, tetapi akan berubah keras dan alot jika sudah dingin).

Pada saat kami bertemu, dia sempat bercerita bahwa keputusan untuk memilih McGill University adalah lebih karena reputasi dan ranking kampusnya lebih bagus, lebih jelas, dan penelitian sangat dihargai. Padahal andai dia mau di Abu Dhabi, gaji yang besarnya tiga kali lipat sudah menantinya. (Dan tentu saja itu 75 kali lipat gaji saya disini) Wow.....
Dia juga sempat menuturkan bahwa di balik kesuksesannya itu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mulai dari waktu, keluarga bahkan kehidupan pribadinya yang hanya beberapa gelintir orang saja yang tahu. Menurut pengakuannya, tidak jarang dia juga merasa iri dengan teman sebayanya yang berada di Tanah Air, karena banyak diantara mereka sudah berkeluarga dan mapan dalam versinya masing masing.

Karir pemuda asli Kalibeber ini memang termasuk sangat luar biasa (apalagi kalau dibandingkan dengan saya hehehe....). Agus meraih gelar S-3 di National University of Singapore (NUS) jurusan Teknik Mesin melalui program direct PhD (langsung dari S-1 ke S-3, tanpa melalui S-2) setelah mendapatkan beasiswa dari ASEAN University Network (AUN/SEED-Net) NUS Research Scholarship. Atau dengan kata lain, tesis master yang ia ajukan langsung menjadi proposal PhD. Akhirnya pada Agustus 2010, ia bisa menyelesaikan studi dan mengumpulkan disertasi untuk di ujikan. Karena peraturan di NUS disertasi harus diuji oleh expert/professor dari luar Singapore, maka butuh waktu kurang lebih 8 bulan untuk menunggu jadwal ujian, dan akhirnya Maret 2011 ia secara resmi dinyatakan lulus ujian S3. Selama menunggu ujian S3, ia bekerja di Minerals Metals and Materials Technology Centre (M3TC) di NUS sebagai peneliti hingga awal tahun 2012. Kemudian pindah ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab untuk melanjutkan post-doctoral studi di Masdar Institute yang merupakan institusi yang fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan di bawah bimbingan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat. Dan terakhir terdampar di Kanada sampai saat ini.

Sebagai seorang teman, ada beberapa hal yang tidak akan terlupakan dari seorang Profesor Sasmito ini, dia selalu memberikan kami motivasi dan semangat, tentu saja tanpa meninggalkan logat Kalibeber medoknya yang sangat kental (dan katanya logat ini tidak akan pernah dihilangkannya meskipun jika kelak sudah lama menetap di luar negeri), juga selalu menjaga komunikasi dengan kami lewat jejaring sosial, aplikasi chatting, dan sebagainya jika dia sedang ada waktu luang. Gaya dan "perabotan" yang dikenakannya pun tidak pernah berubah selama di rumah. Kaos oblong, sweater, celana pendek jeans, dan sandal jepit, serta sepeda motor andalan kami sewaktu SMA dulu (maklum saya sering nebeng hehehe....) yang masih setia mengantarkannya kepusat kota. Sampai sampai karena pakaiannya itu dia ditolak masuk ke sebuah bank nasional oleh security ketika mengatakan akan membuat kartu premium (sebuah ironi ketika dalam masyarakat kita penampilan adalah segalanya).

Begitulah Agus, penulis 43 jurnal ilmiah internasional dan tiga buku tentang energi hidrogen dan ventilasi tambang bawah tanah tingkat dunia yang masih bermimpi suatu saat akan kembali ke tanah air dengan syarat kondisi di negeri ini sudah mendukung penelitian dan ilmu pengetahuan. Menurutnya apa yang perlu dia lakukan saat ini adalah berkonsentrasi untuk menimba ilmu lebih lanjut disana, sambil mengembangkan kariernya.

Ada satu pesan darinya yang disampaikan pada saya ketika kami duduk duduk di alun alun kota Wonosobo ketika itu...

"Jadi orang jangan takut untuk belajar nekat. Karena dari nekat dan tekad, semua hal yang bisa dicapai....tentu saja harus disertai doa dan restu orang tua.....oya satu lagi, turunkan berat badanmu W, ukuran tubuhmu sekarang 2 kali lipat ukuranmu dalam ingatanku dulu......"

Jyahahaha.....

Di beberapa media massa yang memuat artikel tentang dirinya, Agus juga tidak sungkan untuk berbagi tips meraih kesuksesan versinya,  pertama kesehatan fisik and mental harus dijaga, tidak boleh terlalu stres, kerja diseimbangkan dengan  dan refreshing, serta olah raga dan asupan nutrisi untuk tubuh supaya selalu fit.
Kedua kerja keras dan pantang menyerah, tak perlu kita minder atau merasa rendah diri  siapa sejatinya kita, ketika kita mempunyai mimpi yang kuat dan tekad yang kuat maka kita bisa menjadi apa yang kita inginkan. Ketiga, jangan pernah lupa akan kampung halaman dan keluarga kita.Karena bagaimanapun keluarga merupakan satu elemen terpenting dalam hidup seseorang yang sangat berharga....

Terus jaya di sana kawan, kami ikut bangga dan insyaalloh akan senantiasa mendoakan keberhasilanmu. Dan jangan lupa, aktifkan terus Whats*pp mu ....hehehhe......



2.15.2015
Posted by ngatmow
Tag :

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow