Archive for November 2016

Kolopaking, sepenggal sejarah Banjarnegara

Nama Kolopaking ini otomatis mengingatkan beberapa kawan kepada artis yang dulu pernah terkenal, Novia Kolopaking. Apakah ada hubungannya? Sebagai trah, Kolopaking sering disangka sebuah marga yang berasal dari wilayah Indonesia Timur, padahal nama ini bila dirunut ceritanya, akan muncul pada cerita sejarah Kebumen di Jawa tengah.

Pada masa Amangkurat I memerintah di Mataram, seorang bangsawan dari Madura, Trunojoyo, melakukan pemberontakan (1677) dan berhasil membuat Amangkurat I menyingkir ke Cirebon. Dalam perjalanan ini, Amangkurat I dibawa oleh penguasa setempat yang bernama Ngabehi Kertowongso untuk singgah di Panjer (sekarang Kebumen). Rupanya Kertowongso masih mengakui Amangkurat I sebagai raja Mataram yang sah, bahkan ketika melihat sang raja yang tampak kelelahan dan menderita sakit karena keracunan, Kertowongso mencarikan air kelapa untuk penawar racun. Sayang buah kelapa yang dapat ditemukan saat itu hanya yang kulitnya sudah kering (kelapa aking) saja. Air kelapa diminumkan dan tak berapa lama berhasil membuat kondisi tubuh Amangkurat I membaik. Kertowongso kemudian digelari Tumenggung Kolopaking I dan menjadi awal trah Kolopaking.
Raden Toemenggoeng Soemitro Kolopaking Poerbonegoro van Bandjarnegara met Raden Ajoe 1930 KITLV

Walaupun awalnya trah Kolopaking berkuasa di wilayah Kebumen (sebelumnya disebut Panjer), namun pada masa Perang Diponegoro, terjadi perseteruan dengan Adipati Arungbinang yang didukung oleh VOC. Dukungan Kolopaking terhadap Diponegoro harus ditebusnya dengan menyingkir ke wilayah Banjarnegara.

Di Banjarnegara, dinasti Kolopaking tetap berperan terutama melalui salah satu keturunannya, yaitu Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yang menjadi bupati dari tahun 1927-1945. Nama Soemitro Kolopaking saat ini diabadikan sebagai nama stadion di Parakancanggah, Banjarnegara. Soemitro Kolopaking memiliki istri bernama Anna Lasmanah.

Semasa suaminya menjabat sebagai bupati di Banjarnegara, Lasmanah berkeinginan kuat membangun sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Upayanya diwujudkan tahun 1940 dengan mendirikan rumah sakit bersalin yang diberi nama Boedi Rahajoe pada tanggal 31 Agustus 1940.

Dana untuk pembangunan rumah sakit ini didapatkan dengan cara patungan yang disebut Gerakan Satoe Sen, setiap keluarga menyumbang masing-masing 1 sen. Kekurangannya sekitar 40.000 Gulden didapatkan dari sumbangan Bupati Banjarnegara. Lahan untuk pembangunan adalah pekarangan rumah milik H. Noor di Desa Kutabanjarnegara. Hasil rintisannya ini kelak menjadi RSUD Banjarnegara dan setahun lalu diubah namanya menjadi RSUD Hj. Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking (2013).

Ibu Hj. Lasmanah Kolopaking (1902-1965) yang dipajang di sebuah restoran di Jl. Taman Cibeunying Selatan Foto: Ariyono Wahyu


Soemitro Kolopaking

Soemitro dilahirkan di Papringan, Banyumas pada 14 Juni 1887. Buku Harry Poeze, “Di Negeri Penjajah”, menyebutkan bahwa Soemitro menentang kehendak ayahnya dengan bersekolah di HBS Batavia. Lalu pada usia 19 tahun (1906) pergi ke melanjutkan belajar ke Eropa menggunakan kapal sebagai penumpang kelas 4 dengan uang hanya f.15. Di Eropa, Soemitro banyak bepergian demi mencari tambahan biaya sekolah. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja sebagai perawat domba di Leiden. Ia juga pernah pergi ke Jerman (1908) untuk bekerja menjadi buruh tambang batubara.

Kembali ke Hindia Belanda, Soemitro bekerja di pabrik teh dan kina Pandjang Estate di Pangrango, kemudian mengikuti pendidikan komisaris polisi di Batavia. Setelah pendidikan inilah Soemitro mendapatkan tugas sebagai Gewestelijk Leider der Veldpolitie untuk Keresidenan Priangan yang berkedudukan di Bandung (1922). Inilah pertama kalinya orang pribumi mendapatkan pangkat dan jabatan setinggi itu dalam dinas kepolisian Hindia Belanda.

Parta Kutang

Pada masa jabatannya ini terjadi peristiwa yang cukup legendaris di Bandung. Pada tahun 1920-an, Oranjeplein (Taman Pramuka) adalah batas timur Kota Bandung. Kawasan ini dirancang oleh Ir. D.H. Ton sebagai kawasan elite dengan rumah-rumah besar berpekarangan luas untuk taman. Kawasan permukiman ini dinamai Kapitein Hill. Letaknya yang di pinggir kota membuat kawasan ini bersuasana tenang dan nyaman ditinggali.

Tetapi itu tidak berarti tidak ada gangguan sama sekali. Suatu hari di bulan Desember 1922, diberitakan seekor macan tutul dari Gunung Manglayang berkeliaran di sebuah rumah di sebelah timur Jl. Supratman sekarang. Macan tutul sepanjang dua meter itu akhirnya mati ditembak, lalu bangkainya dipamerkan kepada masyarakat.

Bukan itu saja peristiwa yang terjadi di sekitar Kapitein Hill. Pada tahun 1922 itu juga ada kejadian yang cukup bikin heboh warga Bandung, sebuah rumah milik seorang Preangerplanter ditemukan terbuka lebar semua pintu dan jendelanya , sepertinya baru kemasukan maling. Anehnya, tak ada barang yang hilang. Juga tak ditemukan jejak-jejak pembongkaran paksa. Sama tidak tidak ada jejak kecuali sebuah pahat besi yang tergeletak di atas meja tulis pemilik rumah.

Satu minggu kemudian, peristiwa yang sama terjadi lagi. Kali ini di sebuah bank di Alun-alun Bandung. Seluruh pintu dan dan jendela ditemukan dalam keadaan terbuka lebar, begitu juga dengan lemari besi. Anehnya, lagi-lagi tak ada barang yang hilang. Namun sebilah pahat besi tampak tergeletak di dalam lemari besi. Pembobol rumah yang misterius ini lantas dijuluki polisi sebagai De Beitelaar (Si Pahat).

Saat Soemitro melakukan pemeriksaan, disadarinya bahwa ada latar ilmu gaib dalam peristiwa ini. Soemitro pun menggunakan panduan Primbon Maling untuk menangkap pembobol misterius ini. Dengan mempelajari hari, pasaran, dan waktu kejadian, dapat diduga arah kedatangan sang maling. Rencana disusun. Sejumlah anak buahnya ditugaskan berjaga di wilayah timur kota pada hari yang diperkirakan akan jadi hari kedatangan kembali De Beitelaar. Benar saja, sang maling dengan mudah dapat ditangkap.

Akhirnya diketahui, De Beitelaar ini bernama Parta, tinggal di lereng gunung sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Bandung. Ternyata Parta adalah seorang petani kaya yang memiliki sawah, kebun, kolam ikan, ternak, dan sejumlah pembantu rumah tangga. Lantas untuk apa ia membobol rumah orang?

Benar dugaan Komisaris I Soemitro Kolopaking, ada ilmu gaib di balik kasus ini. Rupanya Parta memiliki ilmu turun temurun dalam hal bobol-membobol. Dengan ilmunya ini tak ada gembok yang tak dapat dibukanya, tak ada pintu besi yang dapat menghalanginya. Ternyata Parta hanya ingin menguji ilmunya bila didengarnya ada sesuatu yang tak dapat dibongkar. Sistem pengamanan baru akan selalu menimbulkan keinginan kuat baginya untuk mencoba ilmunya.

Kalaupun ada kasus Parta benar-benar maling, maka hasil curiannya tak pernah diambilnya barang sedikit pun. Semua selalu dibagikannya kepada warga desa yang miskin. Setiap kali melakukan aksinya, Parta selalu hanya memakai singlet dari kain belacu, sehingga orang kampungnya memberikan julukan “Parta Kutang”.

Parta Kutang lalu diadili di Landraad dan mendapatkan hukuman dua tahun penjara serta kewajiban perawatan dokter secara rutin karena dianggap memiliki kelainan jiwa. Selama dalam penjara, Parta Kutang selalu mendapatkan kunjungan dari Komisaris I Soemitro Kolopaking. Bahkan Komisaris ini juga datang berkunjung ke keluarga Parta di lereng gunung.

Sebebas dari penjara, Parta Kutang menyerahkan anaknya kepada Soemitro Kolopaking untuk dididik menjadi orang baik. Soemitro menyekolahkan anak Parta ke sekolah pelayaran di Zeevaartschool Makassar hingga berhasil lulus. Kejadian naas kemudian menimpa keluarga Parta Kutang. Pasangan suami istri Parta Kutang tewas tertimpa pohon saat angin puyuh melanda desa mereka. Sedangkan anaknya yang sudah menjadi mualim di kapal pemburu torpedo Belanda (Torpedo jager) tewas saat kapalnya dibom Jepang di Laut Banda pada tahun 1942.

Free Mason

Di Bandung Soemitro juga berkenalan dengan teosofi dan Freemasonry. Pada tahun 1927 menjabat sebagai Bupati Banjarnegara hingga tahun 1945, kemudia menjadi Residen Pekalongan. Masih di tahun 1945, Soemitro terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tahun 1951 Soemitro Kolopaking ditunjuk untuk menjadi Menteri Pertahanan RI namun menolaknya dan digantikan oleh Sewaka.

Kemudian Soemitro lebih aktif bergiat dalam komunitas Free Mason. Sebelumnya Soemitro pernah mendirikan dan memimpin loji Serajoedal di Purwokerto yang beroperasi sampai 1942. Pada tahun 1955 Soemitro mendirikan loji Purwo-Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, loji Bhakti di Semarang, loji Dharma di Bandung, dan puncaknya masih pada tahun yang sama, ia mendirikan Tarekat Mason Indonesia serta diangkat menjadi Suhu Agung pertamanya.

sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/…/dari-lasmanah-di-tama…/
11.13.2016
Posted by ngatmow

CPMI VIII 2016 Yogyakarta, catatan manis meski menangis

Canon Photo Marathon Indonesia (CPMI) kembali digelar tahun ini (2016). Dari 3 kota penyelenggara, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta, hanya di kota ke dua saya berani berangkat. Kenapa ? sebab hanya Yogyakarta lah yang paling istimewa......halah........
Bukan ding, karena kota ini yang paling dekat jaraknya dengan tanah dimana saya berpijak saat ini. Banjarnegara.........

Sebanyak 1800 lebih kepala bertopi merah khas Canon hari itu tanggal 30 Oktober 2016 memenuhi hall Hartono Mall untuk sekedar piknik sambil ikut meramaikan pagelaran yang bisa dikatakan Lebarannya fotografer lomba. Kenapa ? sebab para penggila lomba kumpul semua di sini. Dari yang langganan juara tingkat nasional sampai para juara lomba foto tingkat rt ada semua (kecuali yang absen tentunya).....

Rame.......
Minder.......??
Pasti, apalagi yang pemalu seperti saya, begitu ketemu sama senior senior seketika itu juga bawaannya jadi gemeteran, perut mual, lemes dan lapar dahaga.....hehehe.......

Back to CPMI VIII 2016 Yogyakarta,
pada kesempatan yang berbahagia itu ada 3 tema yang ditentukan oleh panitia. Bhineka Tunggal Ika, Generasi Penerus dan Senja di Yogyakarta. Mendengar tema tema semacam itu saja banyak peserta yang langsung mengeluh dan mengeluarkan kebun binatang dari mulutnya. Untung saja saya pinter, jadi begitu mendengar tema disebutkan pikiran saya langsung melayang menembus awan. Gelap......
Maklum, saya pinternya hanya mencari alasan saja. Bukan yang lain hehehe......

Tema I : Bhineka Tunggal Ika

Buset........ mau motret apa coba kira kira kalau temanya seperti itu ? Dan dengan sejam perenungan sambil jalan kesana kemari bareng adek lanang, saya motret 2 objek.



Dari kedua foto itu, foto pertama yang saya submitkan ke mbak mbak cantik penunggu laptop submiter, hasilnya ? foto kedua (tapi milik orang lain yang sangat mirip) lah yang masuk sebagai finalis..................

Tema II : Penerasi Penerus

Untuk tema ini sebenarnya saya banyak ide "gila" didalam kepala. namun karena geblegnya saya, begitu ponsel berdering dan ada suara diseberang sana yang menanyakan kabar............ide itu ambyarrrrrr................... ilang semua.
Hasilnya, dengan kepanikan tingkat tinggi, dan dengan diiringi lagunya Marsmello yang Alone, saya sukses motret sekenanya.



Ada 2 foto yang jadi pilihan saya, tapi yang akhirnya di masukkan ke mbak mbak submiter #ehhhh ..... foto yang kedua. Hasilnya ? zonk lagi....... dan ada foto mirip foto pertama yang lagi lagi jadi finalis. Damn............

Tema III : Senja di Yogyakarta

Nah ini....... tema ini sebenernya sudah saya perkirakan sebelumnya (bisa dibuktikan dengan request saya kepada adek lanang - Ajru untuk bawa kendaraan roda 2 ke lokasi). Tapi yang kemudian bikin kaget adalah waktu yang diberikan hanya 45 menit. Sedangkan menurut perkiraan saya, untuk mencapai spot tertentu dari lokasi membutuhkan waktu kurang lebih sejam........shit !!!

But the show must go on, Adek lanang mengendarai motor menuju Tugu Jogja sudah luar biasa cepet dan nekat (menurit saya), tapi di tengah perjalanan kami dilewati dua sepeda motor dengan pengendara yang juga memakai atribut CPMI ke arah yang sama, sambil cekikikan. Cewek pula ....... !!! kan sakit tuh.....

Akhirnya, karena merasa ragu dengan tujuan awal, maka kami ganti tujuan dan mengambil foto ini


Dan ketika pengumuman juara untuk tema terakhir ini tidak lain dan tidak bukan adalah foto TUGU JOGJA !!!! Bisa dibayangkan betapa sikaknya ?
Ekstremly Damned pokoknya .................

Bay the way, meskipun masih belum berhasil menjadi juara pada gelaran tahun ini, ada banyak hal yang kemudian menjadi pelajaran buat saya pribadi sebagai penggemar lomba semacam CPMI ini....
  1. Berdoa dulu, cuci tangan dan kaki, gosok gigi........
  2. Dalam lomba jangan mudah panik, tetap fokus......
  3. Jangan lupa makan dulu biar tidak panik dan bingungan.
  4. Gunakan pikiran liar ketika mencari objek tema. Kenapa ? sebab bagi yang sudah terlalu banyak referensi gambar di otak secara otomatis akan terpaku pada "contoh" yang sudah ada, dan bahkan sering takut alias tidak berani berimprovisasi.
  5. Pede yang tidak kepedean....... pastinya
  6. Jangan menyinggung,  memotret, menyentuh, memegang apalagi meraba hal hal yang tidak semestinya. seperti contoh foto saya untuk tema 3, saya ga habis pikir kenapa waktu itu saya motret itu ? kan itu instansi diluar penyelenggaraan CPMI dan bukan tugu jogja.....bukan pula angkringan dan foto Hartono Mall ....... 

Memang sih ga ada gunanya memalukan diri sendiri karena nggak bissa lolos ke Jepang sebagai hadiah juara umum CPMI VIII itu. Temennya banyak banget kok.......1800 orang lebih lho, kurang satu......pak insinyur yang akhirnya jadi jawara.......
Yang jelas, saya jadi ketemu kawan kawan lama yang sangat sangat sult ditemui

Rombongan KPFB goes to CPMI VIII

Kloter KoFiPon at CPMI VIII

Sama senior StreetPhotography, Wa Baldy Patikraja
So, semoga tahun depan pada pagelaran Canon Photo Marathon Indonesia IX yang entah dimana saya bisa berangkat dan bisa membawa pulang hadiahnya. Sukur sukur bisa membawa satu tiket perjalanan piknik ke luar negeri..... Amin.......
Sekarang, sambil diiringi In the name of love nya Martin Garrix & Bebe Rexha, mari kita ngopi sodara sodara......................

11.08.2016
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow