Archive for Januari 2017

Kuntulan Semangkung, tradisi yang terasing di negeri sendiri

Slamet Sampurna Pemimpin Kita, Republik Indonesia Negara Kita
Kita Menghormat Dengan Bersama sama, Tahun Empat Puluh Lima Kita Merdeka
Kuntulan Ini Kuntulan Itu, Pelajar Yang Masih Baru
Kuntullah Ini dari Semangkung.........

Begitu kira kira syair lagu pengiring tarian silat sebagai awal dimulainya kesenian Kuntulan, bergemuruh menggema di dinding dinding bukit yang mengelilingi dusun Semangkung, desa Mlaya, Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara pagi itu. Sebuah syair lagu penuh makna dan sarat akan kebanggaan berbangsa dan bertanah air Indonesia, serta penghormatan yang luar biasa kepada pemimpin pemimpinnya.

Agak miris juga sebenarnya mengingat bahwa di tempat seperti ini rasa patriotisme dan perasaan hormat kepada pimpinan tertanam jauh lebih dahsyat daripada perasaan yang sama yang ada di dalam jiwa masyarakat yang mengaku orang kota.....

Damn.....

By the way, tenang..........kali ini kita bukan mau membicarakan soal rasa patriotisme masyarakat Semangkung itu kok. Kali ini mari kita mengupas lebih lanjut soal kesenian Kuntulan yang di gelar di pagi itu.......

Kuntulan ?? Apa itu ??

Kuntulan atau kali ini disebut  sebagai Kuntulan Semangkung, adalah sebuah kesenian tradisional khas masyarakat dusun Semangkung yang sudah diwariskan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Menurut cerita masyarakat setempat, Warsito (63 tahun), Kuntulan berasal dari kata Kuntul yang merupakan singkatan dari kata rukun, kumpul dan betul. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan apa yang selama ini menjadi anggapan masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya (yang tahu budaya ini tentu saja......) yang menyangka bahwa kuntulan ini berasal dari ilmu beladiri Konto (yang berasal dari Kabupaten Kebumen).


"Gerakan gerakan silat yang kemudian nampak menjadi sebuah tarian dalam Kuntulan itu dasarnya bukan gerakan bela diri Konto, namun dari beladiri SH yang dibawa oleh Eyang Pernajaya selaku pencetus kesenian ini" begitu tambahnya. Entah SH apa yang dimaksud oleh salah satu dari tiga generasi awal kesenian Kuntulan Semangkung yang masih hidup tersebut.

Berbeda dengan Kuntulan Banyuwangi dan Kuntulan Brebes yang menggunakan peralatan gamelan dan para muda mudi sebagai pemainnya, Kuntulan Semangkung mempunyai beberapa ciri yang unik sebagai pembeda. Pertama, instrumen pengiringnya adalah alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh para sesepuh dusun. Dalam hal ini ada filosofi yang sangat menarik. Para sesepuh yang memainkan alat musik dimaknakan sebagai bahwa mereka berfungsi sebagai pengantar yang muda dalam menjalani kehidupan, dan sebagai pengawas gerakan tarian yang dimaknai juga sebagai mereka ikut mengawasi semua perilaku dan tata cara kehidupan generasi penerusnya agar tidak menyimpang dan berbuat keliru.

Ciri kedua dalam pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung adalah keseluruhan pemainnya laki laki. Menurut Mbah Tohari (83 tahun) selaku ketua Paguyuban Kesenian Kuntulan Bukit Indah Kencana Semangkung, alasan mengapa  hanya laki laki yang memainkannya adalah pemain Kuntulan harus selalu dalam kondisi konsentrasi tinggi serta memiliki jiwa raga yang kuat sehingga mampu melindungi keluarganya dari segala macam gangguan, dan kedua hal tersebut lebih mudah dicapai oleh kaum laki laki.

Ciri khas yang terakhir, dalam kesenian Kuntulan Semangkung ini TIDAK MENGGUNAKAN MAGIC seperti halnya kesenian tradisional yang lain. Walaupun kemudian mempertunjukkan beragam atraksi yang luar biasa, seperti Jaran Terbang, Mowot Kawat, Gigit Meja dan sebagainya, semuanya dilakukan dengan mengandalkan keterampilan dan hasil latihan selama bertahun tahun.

Oh my god.......
Ya itu mungkin apa yang akan Katty Perry katakan secara spontan apabila menonton langsung pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung ini. Bagaimana tidak, dalam atraksi Mowot Kawat akan ada seseorang diatas seutas kawat besi yang duduk di atas sebuah kursi kayu dan hanya mengandalkan keseimbangan semata. Kemudian pada atraksi Jaran Terbang, akan ada 3 atau lebih orang dewasa yang akan saling mengkaitkan tangan dan kaki mereka dengan bertumpu pada satu orang yang tetap berdiri dengan kedua kakinya dan membentuk seperti pesawat terbang dengan seorang bocah duduk dengan tenang di pucuk formasi. Istimewa.....

Jaran Terbang

Mowot Kawat

Ada lagi atraksi Gigit meja, dimana seorang penari akan menggigit sebuah meja di bagian ujungnya dan kemudian akan ada seorang anak yang kemudian akan duduk di atasnya. Selama beberapa menit mereka akan melakukan tarian tarian yang menyerupai gerakan silat sambil mengelilingi arena dan mengulungkan sebuah wadah untuk saweran penonton.

Gigit Meja
Dalam atraksi bolang baling, para penari akan berhadapan berpasangan untuk kemudian melakukan gerakan meroda. Tidak gampang untuk melakukan gerakan ini karena dilakukan secara couple dengan saling mengkaitkan tangan dan kaki mereka untuk kemudian berjumpalitan layaknya roda yang sedang berjalan.

Ada satu atraksi yang menurut saya agak ajaib, yaitu atraksi Bandan ( dari kata bandanan yang artinya diikat). Dalam atraksi ini dari 25 anggota, hanya Pak Warsito seorang yang sudah mahir dan menguasainya. Atraksi ini bisa dibilang berbahaya lho karena di awal atraksi, Pak Warsito akan diikat dengan tali pada seluruh tubuhnya (dengan tangan diikat ke belakang) untuk kemudian diletakkan di sebuah tempat tertentu dengan di pasangi golok super tajam pada bagian leher, perut serta kaki sedemikian dekat dengan kulit sehingga akan sulit untuk bergerak sekalipun. Setelah posisinya siap, tubuh terikat Pak Warsito akan ditutup dengan terpal selama 2 - 3 menit. Dan........ ajaib...... Ketika dibuka, tubuh itu sudah terbebas dari tali dan golok tajam tanpa satupun luka menggores kulitnya.

Shit.... 
Saya jadi sangat terharu disini.

Ya, di sebuah dusun yang sangat sangat jauh dari kebisingan kota, dan bahkan seolah olah tidak muncul di peta kota Banjarnegara sekalipun, sebuah tempat yang masih sangat luar biasa asri, damai, juga mempesona. Dusun dimana di setiap bibir masyarakatnya tersungging sebuah senyuman hangat dan sapaan bersahabat. Dusun dimana kami diterima dan disambut dengan sangat sangat dan sangat istimewa oleh pak Tarji selaku Kepala Dusun dan keluarganya, dusun dimana kami bisa minum air mandi kami yang sangat jernih dan murni asli pegunungan tidak seperti iklan air mineral di televisi.........

Semangkung

Betah ?? PASTINYA........ sebab sangat berat rasanya beranjak pergi dari tempat seperti ini........


Tabe dan Hormat Kita Semua
Kepada Bapak bapak dan Saudara
Yang Ada di Sini Selamanya Datang
Sebentar Lagi Kita Akan Mulai.......

Bebenah meja hari ini

Surat itu datang tidak diundang kisanak, tiba tida dianter sama Mak List ke ruangan saya dan menyerahkannya beserta selembar kertas putih berisi kolom kolom untuk ditandatangani. Tapi itu kemarin siang.........bukan sekarang .....

Hari ini, berawal jam setengah delapan pagi seragam kerja harian saya sudah berubah wujud jadi jenis baju  yang paling saya anti untuk memakainya, batik warna coklat lengan panjang...... pinjaman pula......
eits.... bukan masalah anti sama batiknya lho ya, tapi sama lengan panjangnya itu. Sumuk alias gerah....... sebuah hal yang pasti akan diamini oleh orang orang dengan berat badan di atas rata rata seperti saya.....

Dan.....
kejadian itupun terjadi.....


Saya ikut jadi salah satu peserta dalam acara "kekabupatenan" itu. Dan tentu saja setelah selesai acara dapat satu stop map ukuran folio yang bertuliskan nama, nip (halah), posisi lama, dan posisi baru.
What ?
Yes, benar sodara sodara, saya dapat amanah baru untuk menduduki sebuah kursi baru di ruangan yang baru di tempat yang baru pula. Kecamatan Pejawaran.

Kecamatan yang terletak hampir paling ujung atas kota ini. sebagai seorang pemegang amanah baru yang babar blas saya nggak tahu dan blank soal tugas tugas nya sampai detik ini.

Gembira ? Nggak tahu  deh apa yang sedang saya rasakan saat ini. Karena promosi ? iya jelas saya syukuri. karena lepas dari akuntansi ? nyatanya saat ini saya sedang mengalami kegalauan dan nyaris berujung sedih yang menusuk hati ...halah ......

Pastinya beberapa hari atau bulan atau mungkin tahun ke depan, saya akan akan merindukan ruangan akuntansi yang lembab, semrawut, penuh dengan kalkulator, komputer, kertas, bau menyan, bau tikus, bau rokok, bau ciu #ehh





Dan tentu saja akan menjadi sebuah kerinduan yang luar biasa adalah kebersamaan dan persaudaraan dalam keluarga besar akuntansi ...... Pak Riyanto (selamat karena dilantik menjadi Kabid Perbendaharaan), Pak Handono (selamat karena promosi dan sudah dilantik juga jadi Kabid Akuntansi), Mbak Ning (selamat karena dilantik juga jadi kasie Pencatatan Pendapatan), Tomo, Pipit, Tyas, Anggi, Wiwin, Ayu dan Mas Prapto.....  Semoga tali silaturahmi ini akan tetap terjaga tanpa pernah putus selamanya.....

Maaf atas segala khilaf, tutur kata dan kelakuan bengal saya selama berada diantara kalian semua. Terimakasih atas semua kesabaran, bimbingan dan persaudaraan selam ini........
Dan malam ini, malam terakhir bagi saya diruangan ini........
mohon pamit.....




1.12.2017
Posted by ngatmow

Sebuah pelajaran tentang HOAX

Rame !! itu yang lagi saya perhatikan di jagad dunia maya negeri ini beberapa waktu terakhir. Hampir semua manusia yang merasa pandai saling berlomba untuk memberikan pendapat, opini dan bahkan analisa soal sesuatu yang mungkin mereka sendiri nggak tau apa itu....

Kerusuhan, caci maki, hujatan, perngawuran, perdobolan, perzinaan #ehh..........
dan yang paling santer tidak lain dan tidak bukan adalah isu SARA yang tentu saja merebak kemana mana bahkan sampai kehati sanubari mereka, sehingga sudah tidak ada (tahu) lagi batasan mana yang benar dan mana yang salah.....
Yang penting anu.................

Hemmm.... mungkin manusia yang sudah merasa pinter itu merasa bahwa karena punya banyak teman yang sesudut pandang menjadikan mereka golongan yang paling bener dan segala tuntutannya HARUS TERLAKSANA meskipun dengan berbagai cara. Damn ...............

Saking tertutupnya mata hati mereka, bahkan sampai menjudge orang yang bergerombol, yang tidak mereka kenal, bahkan tidak berpakaian seperti mereka, sebagai lawan......... Masyaalloh ...........
Seperti yang lagi anget ini ......


Mungkin bagi kita yang sudah sangat biasa membaca berita berita macam itu akan menganggap biasa dan tidak akan begitu menanggapinya. Tapi apa jadinya jika salah seorang dari mereka (yang ternyata bukan orang orang yang dituduhkan si pembuat status dan ternyata adalah serombongan wartawan yang sedang beristirahat ketika meliput sidang kasus anu) mengetahui status ini dan kemudian menanggapinya?

KISRUH .........
Jelas ................

Bagaimana tanggapan kawan kawan pewarta foto kemudian dalam menanggapi status itu ? Simak saja kisanak ..........

"Surat terbuka untuk Eko Prasetia"
Selamat sore mas Eko Prasetia. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan jasmani, rohani dan kesehatan berfikir kepada anda.

Sore ini kami mendapati sebuah foto yang anda unggah di halaman Facebook melalui akun anda tanggal 3 Januari 2017. Sebuah foto yang sengaja anda ambil menggunakan telepon pintar untuk memotret kami yang tengah menunggu proses persidangan berlangsung. Foto itu anda lengkapi dengan keterangan foto sebagi berikut "Tim cyber/buzzer penista agama yang malu dan takut ketahuan tampangnya untuk dipublikasikan, turut hadir dipersidangan hari ini. Udah seperti PSK asal China kelakuan mereka, pake tutupin muka segala".

Kami berusaha memaafkan dan memaklumi kata-kata kotor anda yang sudah menghakimi kami, melecehkan profesi kami, menyakiti perasaan kami. Baiklah, mungkin anda tidak kenal kami, anda juga tidak mengerti pekerjaan kami. Anda juga tidak merasakan kelelahan kami. Mungkin anda terlalu sibuk mengikuti kata hati anda yang sedang dibalut kebencian yang sangat. Anda juga mungkin terlalu sibuk mengais kemarahan untuk anda umbar ke jagat maya. Sehingga anda buta dan leluasa menghakimi kami seperti apa kehendak hati anda.

Mas Eko, anda dengan sadar dan sengaja mengangkat telepon anda dan mengarahkan kameranya kepada kami. Anda sadar betul kami ini wartawan, oleh karenanya anda memang sengaja memotret kami.

Mas Eko, kami ini awak media, kami adalah jurnalis foto yang setiap hari bekerja mengabadikan peristiwa dengan kamera. Tugas kami menyampaikan berita melalui gambar.

Kedatangan kami ke persidangan adalah murni karena tugas jurnalistik. Terlepas dari siapa yang sedang berperkara dalam persidangan, sejauh itu suatu peristiwa penting yang layak diketahui masyarakat luas. Dipastikan kami akan ada dan hadir mengabadikan peristiwa tersebut dimana dan kapan pun itu. Anda mungkin tidak pernah tau bagaimana kesulitan kami. Ya karena kami tidak mau mengeluh, kami bekerja karena kami mencintai profesi kami.

Mas Eko yang kami hormati, perkataan anda yang mengatakan kami tim cyber/buzzer penista agama sangat merendahkan profesi kami. Anda menyamakan profesi kami sama dengan PSK. Sebegitu kronis kebencian anda hingga menyebarkan fitnah dan menyerang kami. Sehat mas Eko? Kami mendoakan anda selalu dalam keadaan sehat mental dan fisik.

Ingin sekali kami marah, melaporkan anda ke Polisi dan melihat anda duduk di kursi pesakitan lalu kami arahkan semua kamera kami menyoroti wajah anda. Lalu kami sebarkan fotonya dengan kata-kata yang sama seperti kata-kata kotor yang anda lemparkan kepada kami. "Inilah penyebar fitnah menutupi wajahnya seperti PSK asal China karena malu diberitakan di media masa dan diunggah media sosial".
Bagaimana perasaan anda mas Eko? Jika anda tidak tersinggung, kami ragu anda punya nurani. Sebaiknya ada segera berkonsultasi dengan psikolog terdekat.
Mas Eko profesi kami dilindungi Undang-undang pers. Langkah dan gerak kami dipagari kode etik jurnalistik. Kami tidak bergerak sebebas pikiran dan hati anda. Sebagai jurnalis, kami punya tanggungjawab sosial yang besar. Terlebih masyarakat sekarang begitu kritis dan cerdas. Kami dituntut sangat berhati-hati menyampaikan informasi.
Kami ini adalah garda terdepan dalam industri media, kami bukan pembuat kebijakan, kami juga bukan pengambil keputusan, kami tidak memiliki kekuatan membuat suatu sikap keberpihakan.
Mas Eko kami hanya ingin melihat sikap kesatria anda sebagai seorang laki-laki. Kami ingin melihat keberanian anda untuk bertanggungjawab atas semua perbuatan dan ucapan anda yang sudah melukai kami.
Kami tidak ingin menodai hati kami dengan kebencian, kami tidak ingin mengotori pikirian kami dengan amarah.
Kami serahkan semua persoalan ini kepada pihak yang berkompeten untuk diselesaikan.
Semoga Tuhan memaafkan kita semua. Amin
Pewarta Foto Indonesia

Adem, berwibawa, tenang namun pasti dengan satu tujuan............ Dibawa ke ranah hukum.......
Selanjutnya apa yang terjadi sodara sodara ?
beliau langsung mewek, merengek dengan membuat sebuah status lagi


hahahaha ...... saya kira padahal dia sudah sakti mandraguna, ga takut hukum negara, bolone akeh poll ...... ternyata hanya seorang has# biasa .......hahahaha.............



Kapokmu kapan hehehe ..........

Pengen tahu seperti apa orangnya ? ga perlu repot repot cari akunnya di media sosial bro, sudah dihapus. Mungkin untuk menenangkan pikiran atau untuk menghilangkan jejak walau sebenarnya sudah terlambat.......hanya sebuah foto yang menampakkan wajahnya beliau hasil dari screenshoot rekan rekan PFI



Mari doakan saja semoga semua pihak mendapatkan yang terbaik saja. Dan beliau lekas diterima di sisi-Nya ........

Sebenarnya, awal kisah pagi tadi saya nggak begitu tertarik untuk membuat tulisan ini, namun sebagai warga negara yang baik dan merasa bahwa hal semacam ini sangat perlu untuk diangkat sebagai sebuah tulisan ringan. Gatel saya untuk berkomentar dan menga*ukan mereka mereka yang berpikiran picik semacam itu.

Saya sendiri kok lama lama merasa sangat kasihan sama mereka yang hatinya selalu dipenuhi kebencian kepada satu orang (yang pada akhirnya merembet kemana mana), padahal dalam agama mereka sendiri sudah dijelaskan bahwa tidak boleh memendam dendam, kebencian dan harus memaafkan kalau sudah dimintakan maaf. dan sekarang pada akhirnya mereka sendiri hanya bisa melihat keburukan orang lain saja tanpa bisa melihat kekurangan (dan bahkan pelecehan yang dilakukan mereka kepada agamanya sendiri) yang dilakukan teman teman mereka dengan berbagai cara.

sungguh kasihan bahwa mereka lupa bahwa dalam agama mereka sendiri sudah diajarkan bahwa harus saling menghormati keyakinan orang lain.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
(QS. Al Kafirun : 6)
 " Untukmu Agamamu... dan untukku agamaku... "

Yang jika kita artikan secara bodonan adalah bahwa dalam beragama tidak ada toleransi. Alias tidak boleh saling singgung menyinggung, mencampuradukkan ajaran agama, Penting untuk dicermati, toleransi tidak boleh dimaknai sebagai upaya mencampuradukkan keyakinan, ritual ibadah, tradisi dan simbol-simbol antar agama-agama. Karena itu berarti menghancurkan sendi-sendi agama. Toleransi hendaknya dilandaskan pada pengakuan terhadap keberagaman (pluralitas), bukan dibasiskan pada pengakuan ideologi semua agama adalah sama dan benar (pluralisme). Alright ???

Namun, toleransi antar umat beragama wajib hukumnya. Jadi plis perhatikan kata yang dicetak tebal ..........ANTAR..........

 Allah Ta’ala berfirman

 لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
(QS. Al-Mumtahanah : 8)
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Selain itu ada juga dalam Al Qur'an :

 “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah : 8)

“Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah : 7)

Dari dalil Qur’an tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa: Toleransi antar umat beragama itu wajib selama memang saling menghormati. ya kan ??

Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haq bil bathil, mencampuradukan antara hak dan batil, suatu sikap yang sangat terlarang dila-kukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah tole-ransi padahal itu merupakan sikap sinkretis yang dilarang oleh Islam.
Sementara itu tidak ada paksaan untuk menyinggung dan mengangkat isu-isu agama. Jika pun suatu saat berdiskusi tentang masalah sensitif ini, jangan sampai memaksakan bahwa agama Islamlah yang paling benar. Karena tidak ada paksaan dalam agama.

“Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam agama Islam, karena telah jelas antara petunjuk dari kesesatan. Maka barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Alloh sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan pernah putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh : 256)

“Berilah peringatan, karena engkau ( Muhammad ) hanyalah seorang pemberi peringatan, engkau bukan orang yang memaksa mereka.” (QS. Al-Ghosyiyah : 21 -22)

Nah lho..............
Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang sedang "in" di tivi tivi...... mereka yang seharusnya menjadi panutan umat justru malah menjadi yang paling keras dalam meneriakkan kebencian. Mereka yang (sayangnya) mempunyai banyak pengikut adalah mereka yang paling lantang meneriakkan kata kata tidak pantas yang pada akhirnya diikuti oleh pengikutnya itu....

Masyaalloh .........

Saya hanya bisa beristighfar dan mengelus dada saja  (dada sendiri sodara sodara bukan punya Luna Maya lho.....) sambil nyeruput segelas kopi dan berdoa agar ini bukan lah awal dari akhir peradaban bangsa ini ...............


1.11.2017
Posted by ngatmow

#sebuahcatatan, Diengku kini tak asik lagi

Dieng..... siapa sih yang sekarang ga kenal sama tempat eksotis yang satu ini. Dari mulai sunrise di Sikunir yang konon salah satu yang terbaik di Asia, Dieng Culture Festival alias DCF yang jadi agenda tahunan para traveler se Indonesia untuk berdingin dingin ria hanya demi menonton Bocah bajang yang dipotong rambut gembelnya dengan ritual adat, kawah kawah yang langsung bisa digunakan untuk merebus telur, telaga warna yang ternyata warnanya hanya hijau dan putih (padahal konon dulunya merah, putih, ijo, biru, ungu, de el el), juga padang savana di puncak Pangonan yang syahdu sesyahdu syahrini .....

Komplek Candi Arjuna dan Desa Dieng Wetan
Yes, hampir semua orang akan menyebutkan semua itu dan akan bercerita bahwa banyak pengalaman baru yang dialaminya ketika mengunjungi Dieng, terutama soal suhunya yang luar biasa dingin. Namun dari sekian banyak manusia yang menceritakan tentang keindahannya, pasti ada satu atau dua orang yang akan secara kritis mengomentari soal minusnya Dieng sekarang ini.

What ? minus ?

Yes. Dieng sekarang sudah berubah sodara sodara. Bahkan menurut saya lebih banyak minusnya dibandingkan perubahan positifnya. Suwer....
Beberapa hari yang lalu, saya ceritanya piknik ke sana, pakai helm, jaket tebal. sarung tangan, tutup muka, trus naek bis ke Dieng hehehe.... Dengan rute Banjarnegara-Karangkobar-Batur-Dieng jarak yang ditempuh kurang lebih 150 menit alias 2 setengah jam mendaki gunung melewati lembah dengan pemandangan yang sangat indah. Bahkan lebih indah dari rute ke Dieng dari kota sebelah.

Apa yang saya peroleh dari perjalanan kali ini adalah sebuah keprihatinan yang luar biasa. Sebagai seorang pengelana (halah) dan pengabadi segala sesuatu melalui gambar, ada banyak hal yang kemudian menjadi pertanyaan dalam pikiran dan otak ini. salah satunya adalah mengapa Dieng menjadi seperti ini ?

Okeh, saya jelaskan dari awal kenapa saya kemudian hanya mengumpat dalam hati soal ini....

Pertama,
Jalan menuju Dieng dengan rute Banjarnegara-Karangkobar-Batur-Dieng adalah jalan dengan track yang lumayan lebih "ringan" dibanding rute kota sebelah. Tanjakannya tidak begitu menyiksa mesin kendaraan, rute yang hampir sama (hanya saja lebih banyak kebon dan track jalan desanya), serta pemandangan yang menurut saya lebih asri dibanding sebelah (bedanya disebelah memandang gunung Sindoro langsung dari sampingnya, sementara di sini Gunung Slamet - itupun dari kejauhan).

Sayangnya, rute ini seolah nggak pernah diurus, seolah nggak pernah dilewati oleh pejabat daerah, dan bahkan rute ini punya banyak titik rawan longsor. Lah.....
terbukti diantara Batur - Dieng saja ada sekitar 5 titik dimana tanah longsor dengan skala kecil yang menutupi sebagian jalan sehingga lumpur ada dimana mana.
Selanjutnya di Diengnya sendiri ruas jalan dari terminal shuttel menuju ke Musium Kailasa (yang notabenenya dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara) sebagian tertutup oleh tanah, sehingga selain menyulitkan pengendara sepeda motor (terbukti dengan seringnya pengunjung yang terjatuh di "kubangan" itu) juga menyebabkan kondisi kendaraan sangat kotor sekali.

Lokasi Longsor di Paweden Kecamatan Banjarmangu

Akses masuk Komplek Dieng via Banjarnegara (Pintu barat)
Pertanyaanya ? siapa yang kemudian harus dituntut untuk bertanggungjawab ?
Seperti kemarin, ada seorang ibu yang saya tolong karena sepeda motornya terjatuh di lokasi itu menanyakan kepada saya dengan logat Pekalongannya yang kental.
" mas, kene iki nggone mbanjar po ? jane niat ngrumat Dieng ora si ? nek ra niat mbok ben merdeka dewe ...... "
( mas disini ini punya banjarnegara ya ? Niat merawat Dieng nggak sih ? kalo nggak niat biarkan merdeka sendiri saja lah )

Jlebh..................

Kedua, 
Selain permasalahan akses jalan yang dimana mana penuh lumpur dan berlubang, satu hal yang perlu diperhatikan sekali oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara adalah kurangnya ruas jalan yang hanya itu itu saja. Hal ini menjadi satu kendala serius manakala Dieng sedang ada "hajatan" seperti DCF ataupun tahun baru dan lebaran tiba. Macet total, layaknya kota besar.
bahkan untuk bisa keluar dari sana butuh waktu berjam jam dibandingkan dengan hari biasa yang hanya butuh waktu nggak sampai 15 menit.

What the f#ck that ......

Mungkin yang perlu dilakukan adalah dengan menambah jumlah ruas jalan sebegai pemecah arus, menambah lapangan parkir dan juga menerapkan jalan satu arah di daerah Musium Kailasa sampai dengan pertigaan Kawah Sikidang. hal ini mungkin akan mempengaruhi jarak tempuh warga Dieng Kulon yang notabenenya ada di jalur tersebut. Namun dengan pendekatan dan sosialisasi yang baik, tentunya mereka akan memahami juga. apalagi jika ada ruas jalan baru yang menuju ke dese mereka. Iya kan ??

Ketiga,
Dieng sekarang penuh dengan sampah men ...... dimana mana ada tumpukan sampah yang belum atau mungkin lupa untuk disingkirkan. Sampah yang menggunung itu menurut seorang tukang parkir yang saya temui memang dibiarkan untuk kemudian dibakar kalau malam tiba. Selain sebagai penghangat badan juga biar bersih.



Pertanyaanya,
Apa nggak risih lihat tumpukan sampah itu di siang hari bro bukannya baunya juga sangat tidak sedap ? pengunjung juga datang ke Dieng dan menikmati piknikannya pada siang hari kan bukan malamnya ? lha uteknya masnya njur dimana ?

Dan jawabannya adalah ................. " lah gimana lagi mas, sudah biasa ........ "

Kan A*u sekali kakak .......


Keempat,
Lokasi kawah Sikidang sekarang bagaikan pasar malam yang kumuh. kok bisa ??
Bagaimana tidak, semenjak pintu masuk lokasi sampai dengan ujung kawah bahkan sampai puncak bukit di atas kawah .... ADA PEDAGANGNYA !!

Damn !!!

Selain itu hampir di setiap ruang kosong bermunculan pojok pojok foto bertuliskan DIENG, EDELWEIS, LOVE, dan muncul gorila gorila raksasa yang menemani patung Rangda yang dulunya hanya ada di Bali....... kesasar ?? entahlah

Yang jelas, di sekitar lokasi itu bermunculan pula papan papan kayu bertuliskan
" Foto sendiri Rp sekian, kamera segini Rp sekian, foto borongan Rp sekian dan seterusnya"
bayangkan saja dari kurang lebih 200 meter jarak yang harus ditempuh antara pintu masuk sampai ujung kawah, terdapat sekitar 17 tulisan dieng dengan berbagai bentuk dan ukuran (sebagian besar berukuran jumbo), ada 2 patung gorila besar, 1 patung panda besar bermata merah, 1 patung rangda, serta puluhan pojok selfi berbentuk hati dan sebagainya, termasuk Jeep mogok di tengah tanah lapang yang tentu aja ga nyambung banget sama Kawah Sikidang.
Fak banget kan?

Kotor, risih, dan membosankan. itu !!!





Dari hasil ngobrol dengan beberapa orang penduduk sekitar yang kebetulan ada di tempat itu, sebenarnya mereka juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Muak.
Namun demi sesuap nasi apalah daya. Mereka juga berharap seandainya pemerintah benar benar mau ikut campur tangan dengan merelokasi, menata kemudian memberikan pengarahan serta membuatkan jalur khusus pedagang, mereka akan dengan senang hati menerimanya.
Serius lho .....

Selain itu, mereka juga merasa kasihan dengan lingkungan yang semula bersih, indah dan alami, sekarang berubah menjadi tempat favorit jamaah selfiyah melakukan kegiatannya hampir di setiap sudut lokasi.

Kelima,
Masih di lokasi sekitar kawah sikidang, sekarang banyak ditemukan burung hantu yang dipajang dan digunakan sebagai properti foto selfi. Lha ini uteknya dimana ??
Setahu saya, burung hantu kan aktifitasnya di malam hari dan mereka akan lebih bahagia bila tidak ada rantai atau tali yang melilit salah satu kakinya. Lha ini yang terjadi semuanya dibalik. Mereka dipaksa untuk tetap terjaga di siang hari bolong tentu saja dengan satu kaki terikat di ranting/pohon tempat pojok selfi itu.


apa nggak kasihan ?
perikehewanannya dimana lik ?

Disaat burung lain macam murray, lovebird, bahkan pleci dan emprit sedang dielus elus, bahkan dimandikan dan disuapi, burung hantu di sana malah sedang di peras keringatnya hanya demi sesuap nasi (katanya) si pemilik.........

Dimana kalian para pecinta binatang ? greenpeace ? Persatuan Pecinta Burung ?
kok diam saja ?
hemmm...............

Sebenernya masih banyak hal yang pingin saya tulis disini sebagai bentuk rasa keprihatinan terhadap Dieng. namun tida bijak rasanya memaksa jari jemari untuk menulis lagi dengan rasa kantuk yang luar biasa di pelupuk mata.

Yang jelas, masih banyak PR bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sebagai pengelola Dieng yang sejatinya masih sangat mungkin untuk dieksplore lebih luas lagi.

  • Mulai dari pintu gerbang selamat datang yang seharusnya terlihat gahar dan terawat rapi, setidaknya plis jangan hanya memikirkan pendapatannya saja. Tapi juga aspek kecil semacam ini perlu diperhatikan juga lho. Masa tulsan selamat datang Dieng kita kalah besar dari tulisan Dieng kota tetangga yang notabenenya hanya punya sepersekian persen dari Dieng itu sendiri, atau bahkan minimal jangan sampai tulisannya kalah besar dan mencolok bila dibandingkan tulisan promo warung dan homestay yang semakin menjamur di sekitarnya
  • Jangan hanya karena sudah menyediakan fasilitas kamar mandi air hangat di sekitar Kawah Sikidang trus jadi nggak memikirkan relokasi pedagang yang ada di sekitarnya.
  • Jangan hanya memikirkan keuntungan yang diperoleh dari komplek Candi dan Kawah Sikidang saja, tanpa memikirkan bagaimana caranya menghubungkan Komplek Pemandian air panas D'Qiano yang letaknya sangat jauh dari pusat candi agar mudah dijangkau dan menjadi destinasi utama juga bagi pengunjung Dieng.
  • Jangan lupakan juga telaga Dringo, duplikat Ranukumbolo, yang juga ada di Dieng, namun diakui sebagai destinasi wisata kota tetangga (apa tidak sakit tuh ?). Dan coba sekali sekali ajak pejabat yang berwenang untuk merasakan bagaimana sulitnya menuju telaga nan indah itu.
  • Lihatlah sekitar komplek wisata, apakah sudah layak disebut sebagai lokasi tujuan wisata favorit ? bandingkan dengan Destinasi wisata di kota lain yang mirip. Colek saja deh kota kota sebelah yang punya destinasi wisata serupa. Pengelolaannya ?  Jauh.......................
  • Atau mungkin pemerintah perlu mulai membuka diri untuk mau bekerjasama dengan pihak swasta demi pengelolaan destinasi wisata Banjarnegara agar menjadi lebih baik dan profesional, tidak sekedarnya, apa adanya dan sekenanya seperti sekarang ini . Sehingga secara tidak langsung pendapatan daerah akan meningkat dan kesejahteraan juga akan ikut meningkat pula.
Saya bukan seorang profesional di bidang ini, namun sebagai seorang pecinta lingkungan dan pengabadi segala sesuatu melalui gambar, rasanya tidak terima hati ini kalau lokasi "nglayap" favorit saya berubah menjadi semakin mengenaskan.

Ah sudahlah, sekarang mari kita kembali menikmati indahnya Dieng dari sudut mata seorang pencari gambar amatir macam saya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan renungan. Salam

Dini hari dalam balutan bun upas


Komplek Candi Arjuna ketika bun upas tiba

Komplek Kawah Sikidang (tahun 2013)



Puncak pangonan (foto by Arif Moko)

D'Qiano waterboom










Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow