Archive for Mei 2017

Jepin Ratamba, menjaga tetap eksis walau semakin terkikis

Do you know about a Banjarnegara traditional martial art called Jepin Broxy ?
Tanya seorang kawan asal Denmark pada saya beberapa waktu yang lalu. 
What the f*ck that .......saya ga tahu babar blas .......apa itu Jepin........
Malu saya sebagai warga Banjarnegara .......

So, pada hari itu juga saya browsing sana sini dan bertanya kepada teman teman pemerhati budaya yang ada di Banjarnegara tentang apa itu Jepin dan dimana Jepin itu ada........
hasilnya ? check this out man....... 


Kesenian Jepin mungkin tidak begitu familiar di telinga kita (apalagi bagi yang sok hidup di daerah kota......macam saya.....hehehe....), padahal kesenian ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah mengakar dalam hidup masyarakat lho.
Diangkat dari kata Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi di seluruh antero negeri ini.

Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.

Di Banjarnegara, ada beberapa daerah yang menjadi kantong kantong pelestari kebudayaan Jepin ini. Diantaranya adalah Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran. Khusus untuk Kecamatan Pejawaran sendiri ada beberapa desa dengan beberapa variasi yang khas dan tidak bisa digabungkan satu sama lain. Misalnya Jepin Desa Giritirta yang cenderung halus dan lembut, serta Jepin desa Ratamba yang cenderung keras dan "galak".

Dan berhubung saya tertarik dengan Jepin Ratamba, maka saya segerakan untuk on the way ke sana .....halah.....


Ratamba adalah sebuah desa dengan kontur permukaan yang asik. Bagaimana tidak, desa ini terdiri dari beberapa bukit dengan susunan rumah penduduk yang seolah bertingkat karena mengikuti permukaan tanah. Untuk menuju ke desa inipun dibutuhkan perjuangan yang cukup lumayan mengingat sepanjang 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pejawaran (dan plis jangan tanya berapa kilo jarak pusat kecamatan ini dari pusat kota Banjarnegara) kita harus melewati mantan jalan beraspal halus... nanjak pula......

Menurut sesepuh desa sekaligus sesepuh kesenian ini, Mbah Muhyono, Kesenian Jepin Ratamba (kalau boleh saya sebut demikian), ini agak lain dari yang lain karena pada awalnya merupakan pengembangan dari ilmu kanuragan bernama Rodad dan Cimoi, dan karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang yang berada di Banjarnegara pada waktu itu maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin yang bisa diartikan sebagai Dijajah Jepang .... lho ??

Oleh karena itulah kesenian ini tumbuh sejak jaman Jepang dan berlangsung sampai sekarang. Kata Mbah Mulyono, dulu kesenian ini diciptakan bertujuan untuk memancing dan menggelorakan semangat juang masyarakat. Gerakan olah kanuragan yang menciptakan gerakan tegas seirama tabuhan beritme dinamis yang berasal dari jedur dan terbang, lengkaplah sudah seni rakyat jepin menjadi gandrungan warga. Busana yang dipakai oleh pemain mirip busana kejawen silat serba hitam serta ikat kepala dari kain batik sebagai penegas gerakan kepala. Juga tiupan peluit yang melengking sebagai tanda dimulainya satu jurus tertentu yang menambah ke"gaharan" kesenian yang satu ini.

Jepin Ratamba memang lain dari yang lain kisanak, dari keterangan ketua Kesenian Jepin Ratamba, Walnoto, pada umumnya Kesenian Jepin memiliki 23 jurus namun untuk Jepin Ratamba terdapat 38 Jurus. Hanya saja dari 67 orang pelaku yang sekarang masih aktif rata rata hanya menguasai 2/3 nya saja karena disamping faktor usia yang belum matang, juga karena beratnya latihan yang harus dijalani untuk bisa menguasai jurus pamungkasnya itu.
Ada yang menarik mengenai jumlah jurus ini. Setelah diamati, ditelusuri dan kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan hehehe....... ternyata memang ada banyak jurus tambahan yang berdasar pada jurus jurus Karate. Weh ... karate ???
Yes..... ilmu kanuragan asal Jepang...... (dan inilah yang menjadikan Jepin Ratamba memiliki gerakan yang cenderung keras dan "galak").

Selain jumlah jurus yang lebih banyak dan gerakan yang cenderung keras, Jepin Ratamba memiliki keunikan lain. Mereka tidak ragu untuk bermain api. Baik itu menyembur api, melompati api dan bahkan makan bara api !! 


Busyet.... 
itu yang bikin saya tertarik setengah mati dengan kesenian yang satu ini......

Salah satu tokoh pemuda Ratamba yang juga menjadi senior di Kesenian Jepin, Sohib, mengatakan bahwa dalam Jepin Ratamba semua batasan manusia seolah terlewati. Seorang pemain jepin akan memiliki kemampuan yang luar biasa istimewa dan bahkan diluar akal manusia apabila dia sudah menguasai semua jurusnya, atau apabila dia sudah bisa bersatu dengan "endangnya"

What ?? endang ??
Endang disini bukan berarti mbak endang atau bu endang man...... endang dimaksud adalah roh halus atau jin tertentu yang bersedia untuk merasuk ke dalam jasad manusia yang mengundangnya. Dan biasanya sih mereka setia, dalam artian satu endang untuk satu orang saja........

Dan seperti kesenian kesenian lain di seluruh penjuru dunia, satu hal yang menjadi permasalahan bagi Jepin Ratamba adalah regenerasinya. Kini semakin banyak pemuda yang mengalihkan "dunia"nya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Semakin miris memang bahwa di satu sisi kesenian wajib dilestarikan, di sisi lain kebutuhan hidup sekarang memang semakin menusuk tulang. Sehingga pada akhirnya memang kesenian tradisional seperti ini hanya bergantung pada mereka mereka yang sanggup mengembannya meski jumlahnya tak semenjana........



Bocah Bajang, Rambut Gembel Asli Dieng

Di abad modern ini, rambut gimbal digandrungi oleh kalangan muda seiring dengan semakin populernya lagu lagu berirama reggeae. Rambut gimbal yang mendunia ini sangat lazim kita temui di komunitas komunitas uye di semua sudut bumi. Tapi tahukah anda bahwa tidak semua rambut gimbal itu adalah asli ?

Suwer man..... berani di cium mbak luna deh kalo saya ngawur ...... mungkin 80% gimbal yang biasa kita temui adalah gimbal sambungan alias aspal......

Dan tahu tidak bahwa gimbal asli ada di Dieng, Banjarnegara ? Nggak percaya ? monggo cari saja bocah bocah bajang di sana ....

Di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, mereka diistimewakan. Yes....anak-anak itu adalah kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Berambut gimbal atau gembel dan kemudian disebut sebagai anak bajang.

Awalnya rambut gimbal ini tumbuh sedikit demi sedikit, anak kecil yang kadang umurnya masih delapan bulan sudah mengalami sakit panas yang tinggi yang tidak sembuh sembuh hingga berminggu minggu. Setelah anak sembuh sudah mulai ada segumpal rambut yang terlihat mencolok di kepala si anak. Ada beberapa jenis gimbal yang terkenal di Dieng, mulai gimbal keris yang seperti rambut di kepang, gimbal sanggul yang bentuknya seperti sanggul, gimbal pari yang seperti helai padi yang sudah tua, juga ada gimbal wedus atau gimbal kambing, bentuknya seperti bulu domba. Salah satu syarat yang harus di penuhi sebelum rambut gimbal ini di potong adalah dengan memberikan permintaan si anak tentang apa apa yang di minta. Orang tua yang memiliki anak berambut gimbal mesti memperlakukan si anak dengan istimewa. Apa pun yang diminta sang anak akan dikabulkan. Jika tidak, orang tua mereka percaya petaka akan datang.

Syifa Muasyaroh atau yang biasa dipanggil Syifa salah satunya, bocah cantik berusia 5,5 tahun ini memiliki rambut gimbal pari yang cukup merata di seluruh permukaan rambutnya. Kepada orang tuanya Suhatno (31 tahun) dan Hatinem (29), dia hanya meminta sebuah sepeda kecil yang nantinya bisa digunakan untuk berangkat ke sekolah. Untuk diketahui saja, permintaannya ini sangat masuk akal mengingat bahwa jarak dari rumah ke sekolahnya yang berada di Desa Beji Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara memang cukup jauh, 2 kilometer, dan harus ditempuhnya dengan berjalan kaki setiap hari. Sangat berat untuk seorang bocah PAUD lho kisanak.


Mitos lain tentang anak bajang juga hidup di antara warga yang mendiami dataran tinggi yang membentang di dua kabupaten di Jawa Tengah yakni Banjarnegara dan Wonosobo. Konon, rambut gimbal sudah ada di Dieng sejak ratusan tahun silam. Mereka adalah titisan Kiai Kaladete yang dianggap sebagai orang yang pertama kali membuka desa tersebut. Diceritakan, Kiai Kaladete bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur. Kelak, keturunannya akan mempunyai ciri seperti dirinya. Itu pertanda akan membawa kemakmuran bagi desa yang ditinggalinya.

Lhah.... bagaimana cara menghilangkannya ?
Satu satunya cara untuk menghilangkan rambut gembel yang melekat pada bocah bajang adalah dengan melakukan ritual ruwatan (Menurut Wikipedia, ruwatan dapat diartikan sebagai ritual khusus dan bertujuan untuk membersihkan diri). Acara ruwatan ini bisa dilakukan secara mandiri (perseorangan) atau dengan pelaksanaan secara bersama sama yang tentu saja menghemat biaya #ehh (inilah yang kemudian mendasari lahirnya Festival Budaya Dieng alias Dieng Culture Festival setiap tahunnya).


Ruwatan potong rambut juga dipercaya sebagai penanda berakhirnya masa titipan anak dari sang Ratu. Mbah Naryono (Alm) adalah sesepuh spiritual sekaligus juru kunci kawasan Dataran Tinggi Dieng. Itulah sebabnya, sebagai orang yang ditokohkan, dulu Mbah Naryono wajib melakukan perjalanan spiritual ke beberapa lokasi sehari sebelum acara ruwatan digelar. Di Tuk Bimo Lukar, tempat yang diyakini sumber mata air Sungai Serayu, misalnya. Di tempat ini, mbah naryono didampingi asistennya mengawali ritual dengan memberitahu kepada Sang Bahurekso, Pangeran Bimo, jika esok akan diadakan ruwatan potong rambut.

Perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, Mbah Naryono bersama asistennya mendatangi puncak Gunung Kendil. Di tempat ini, Mbah Naryono menghaturkan caos dahar (persembahan) kepada roh leluhur Kiai Temenggung Kaladete dan istrinya Nyai Larascinde. Mbah Naryono memohon agar acara ruwatan dijauhkan dari gangguan jin dan setan. Akhirnya, ritual sebelum ruwatan berakhir di Pertapaan Mandalasari Gua Semar. Di tempat yang akan menjadi lokasi puncak ruwatan ini, Mbah Naryono bersemedi.

Esok paginya, ruwatan cukur rambut gembel digelar. Segala sesaji dibawa untuk diberikan kepada leluhur sebagai bakti para anak cucu yang mendiami Dataran Tinggi Dieng. Di pelataran komplek candi Arjuna, digelar seni tradisional tari topeng, sebuah pertunjukan yang disuguhkan untuk menyenangkan para penguasa jagat mistik. Sedangkan anak anak yang akan diruwat dinaikkan ke kereta kuda untuk diarak menuju lokasi itu. Tak ketinggalan, beberapa syarat permintaan sang anak gembel juga diarak diikuti barisan pembawa saji.

Sesampainya di lokasi komplek candi, arak-arakan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Anak-anak gembel yang akan diruwat digendong orang tuanya menuju pelataran. Setelah sampai di tempat yang dituju, prosesi puncak dimulai. Satu per satu rambut gimbal yang bertengger di kepala anak digunting para sesepuh desa yang memiliki kemampuan spiritual. Berdasarkan kepercayaan di sana, rambut gembel tak akan pernah tumbuh lagi setelah diruwat. Namun, jika permintaan sang anak tidak dipenuhi orang tuanya, rambut gimbal akan tumbuh lagi.
Potongan-potongan rambut tersebut lantas dibawa ke pinggir Telaga Warna untuk dilarungkan ke tengah telaga. Potongan rambut anak bajang yang dipersonifikasikan sebagai rambut gembel itu dikembalikan kepada pemiliknya, sang penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul.


Sekedar informasi, Mbah Naryono sudah berpulang pada hari Sabtu jam 03.00 WIB dini hari tanggal 8 Oktober 2016, dan sekarang tugas tugasnya akan dilanjutkan oleh 3 orang sesepuh lain yaitu Mbah Sumar, Mbah Suyanto, dan Mbah Reswanto.

Kembali ke Syifa, Kedua orang tua Syifa sebenarnya sudah mendaftarkan anak sulungnya ini pada panitia Dieng Culture Festival untuk ikut menjadi salah satu peserta ruwat massal potong gembel beberapa waktu yang lalu, hanya saja Syifa ternyata masuk dalam daftar antrian dan harus menunggu pelaksanaan ruwatan massal beberapa waktu lagi. Akhirnya merekapun harus bersabar menunggu "jatah" pelaksanaan ruwatan massal yeng digelar seiring DCF berikutnya. Hal ini mengingat bahwa pelaksanaan ruwatan massal biaya yang dikeluarkan hanya sedikit sedangkan pada sebuah pelaksanaan ruwat perseorangan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Padahal kedua orang tua Syifa merupakan warga sederhana dan merasa tidak mampu untuk mencukupi semua kebutuhan untuk itu.

Nah......
ada yang mau membantu ? atau sekedar mengulurkan tangan agar ruwatan rambut Syifa bisa segera terealisasi ?

Please contact me soon.......

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow