Posted by : ngatmow prawierow 8.16.2017

Pernah dengar soal salon foto ??
belum ??
wajar.......
jangan malu kisanak..... banyak temennya hehehe........

Di kalangan penggila fotografi, Salon Foto tentu sudah tidak asing lagi. Salon Foto Indonesia, ajang apresiasi insan fotografi yang dihelat oleh Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) ini selalu dinanti. Tahun 2017 ini, Salon Foto Indonesia (SFI) diadakan di Surakarta alias Solo, Jawa Tengah dan bertindak sebagai "tuan rumah" yaitu teman teman dari HSB (Himpunan Senifoto Begawan).

Sebenarnya, meskipun SFI ini mirip dengan sebuah kompetisi fotografi, namun saya pikir kurang tepat bila menyebut acara ini sebagai kompetisi foto. Sebab, sejak pertama kali diadakan pada 1973, tujuan SFI adalah ajang apresiasi foto melalui pameran yang telah melalui proses kurasi. Karena itu, jarang sekali terdapat hadiah berupa uang. Kalau pun ada, lebih untuk menarik minat para calon peserta. Jika dunia musik punya Grammy Award dan insan film punya Academy Award, maka fotografi Indonesia punya Salon Foto. Fotografer mengikuti SFI demi mendapat gelar atau pengakuan dari sesama kolega. Memperoleh serta menambah gelar dengan mengikuti SFI menjadi pencapaian tersendiri dari karier seorang fotografer.

Kalau kita perhatikan, beberapa fotografer memasang gelar khas fotografi di belakang namanya. Seperti misalnya Agatha Bunanta, salah seorang perempuan di Indonesia yang punya gelar fotografi terbanyak: Agatha Anne Bunanta, ARPS, EPSA, EFIAP/bronze, UPI Crown 4.

Mengutip dari artikel yang pernah ditulis oleh Arbain Rambey, gelar-gelar tersebut adalah pengakuan dari lembaga foto internasional terhadap kemampuan karya dan jerih payah sang fotografer. Saat para penggemar fotografi saling berkumpul dan bertukar kartu nama, gelar-gelar fotografi sangat berperan di sini. Dengan mengetahui gelar tersebut, setidaknya di antara sesama fotografer mengetahui posisi dan kemampuan si pemilik gelar.

Gelar-gelar fotografi tersebut diberikan oleh berbagai lembaga yang diakui kekuatannya di lingkungan fotografi. Untuk lingkup Indonesia, lembaga yang memiliki kekuatan untuk memberikan gelar fotografi adalah FPSI. Sedangkan di lingkup dunia, ada empat lembaga fotografi internasional, yaitu:
  • RPS (Royal Photographic Society) yang berkantor pusat di Bath, Inggirs
  • PSA (Photographic Society of America) yang berkantor pusat di Amerika Serikat
  • FIAP (Federation Internationale de l’art Photographique) yang berkantor pusat di Paris
  • UPI (United Photographic International) yang berkantor pusat di Yunani

Dalam lomba internasional, setiap foto yang diterima atau terpilih untuk pameran akan mendapatkan satu poin. Dan poin itu dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu yang bisa diajukan sebagai gelar fotografi.

Sedangkan pada SFI, fotografer yang karyanya menang akan mendapatkan medali serta poin tertentu. Jika sering juara, poin akan terakumulasi dan sang fotografer berhak atas gelar khusus A.FPSI, atau “Artist of FPSI.” Gelar A.FPSI sendiri ada lima, dari satu bintang hingga lima bintang. Syarat poin untuk mendapatkan tiap gelar tersebut adalah sebagai berikut:

30 poin untuk A.FPSI* (Artist of FPSI One Star)
60 poin untuk A.FPSI** (Artist of FPSI Two Stars)
90 poin untuk A.FPSI***(Artist of FPSI Three Stars)
120 poin untuk A.FPSI**** (Artist of FPSI Four Stars)
150 poin untuk A.FPSI***** (Artist of FPSI Five Stars)

Sedangkan untuk perolehan poin dihitung dengan cara:
  • Terpilih / Accepted = 1 Point
  • Penghargaan / Honorable Mention + 1 = 2 poin
  • Medali Perunggu / Bronze Medal + 2 = 3 poin Medali Perak / Silver Medal + 3 = 4 poin
  • Medali Emas / Gold Medal + 4 = 5 poin
  • Pasangan Terbaik / Best Set (4 Karya Foto Accepted) + 2 = 6 poin

“ Semakin banyak poin yang dicapai, gelar yang telah didapat pun akan terus meningkat Dan ini akan menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang fotografer ”


Sedikit ngobrol saja, pada penyelenggaraan SFI ke 37 tahun 2016 yang lalu, sebagian besar foto saya berstatus R alias Rejected alias Ditolak hehehehe...... itu yang membuat saya jadi sadar diri bahwa saya mah apatuh.... masih perlu banyak belajar lagi soal fotografi, belum layak untuk sombong sambil mengatakan bahwa saya ini sudah jago (kaya wong kae hahahaha......), dan bahkan mungkin saya juga belum layak untuk menenteng kamera de es el er dengan lensa panjang berwarna putih belang belang hehehe......

Dengan adanya SFI di negeri ini, setidaknya para fotografer (muda) bisa belajar dan menimba ilmu serta pengalaman dari para seniornya agar bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Yang jelas, satu hal yang kemudian dialtih secara ga langsung disini adalah mental fotografernya itu sendiri. Mental untuk bersaing, mental untuk menerima kekalahan dan mental apabila mendapatkan predikat A alias Accepted........ sehingga apabil ada seorang (yang mengaku) fotografer namun langsung down begitu menerima predikat R alias Rejected alias Ditolak........ monggo menjauh saja, ga usah susah payah mendaftar Salon Foto Indonesia........ Pliss.........



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow