Archive for 2019

Festival Rawa Pusung Jilid II : Banyak perbaikan sih, tapi ........

Festival Rawapusung kembali digelar gaess....

Event tahunan yang baru dua kali diselenggarakan secara besar di Desa Beji Kecamatan Pejawaran kali ini berlangsung selama tiga hari hari, yaitu hari Jumat sampai Minggu 20-22 September 2019 kemarin dan berhasil memukau ribuan pengunjung di sana lho. Suwer.......


Beda dengan tahun kemaren yang acaranya padat banget pada hari sabtu dan minggunya, tahun ini rangkaian acara agak sedikit diperlonggar gaes.....
Prosesi baritan dan wayang ruwat plus pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar pada hari jumat. Hari sabtu dikhususkan untuk pementasan kesenian warga plus kuda lumping dan kesenian Jepin sedangkan  hari Minggunya hanya untuk fokus pada puncak acara yaitu pemotongan rambut gimbal si anak bajang. Sekedar informasi, kalau tahun sebelumnya ada tiga anak bajang yang dipotong rambutnya, kali ini hanya ada dua bocah yang ikut yaitu Nadia Ulfa (5 th) dari Desa Babadan Kecamatan Pagentan dan Syifa Muasafah (9 th) dari Dusun Genting, Desa Beji.

Masih seperti tahun sebelumnya, rangkaian prosesi puncak yaitu cukuran rambut gembel diawali dengan cara proses pengambilan air di Rawapusung dimana air tersebut akan digunakan untuk  upacara jamasan si anak bajang. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi warga yang berpakaian adat Jawa lengkap dengan menggunakan kendi dan batang batang bambu.

Setelah upacara jamasan, sekitar pukul 11.00 WIB, prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. Syifa dan Nadia diarak menggunakan tandu mengelilingi desa dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir untuk menuju Embung Rawapusung, tempat pelaksanaan pemotongan rambut.

Nah, pas proses arak arakan ini ada beberapa hal yang kayaknya perlu jadi bahan evaluasi gaes.
saking antusiasmenya warga, mereka menggerombol di kanan kiri jalan desa plus ikut dalam rombongan. tapi ..... mereka ga pakai kostum adat gaes........
jadi hasil jepretan foto untuk acara ini bisa dipastikan ambyar......... kan fak banget...............
hehehe.............

Selanjutnya, pada saat sudah ada di lokasi pemotongan, ga ada koordinasi antara pembawa acara sama korlap yang ada di sana. hasilnya, sambutan yang awalnya hanya ada dua yaitu kades dan bupati dalam pelaksanaannya jadi empat, ketua panitia dilanjut kades, camat dan bupati.....
DAMN !!
Bosen gaes.......

Panas juga .... polll........

Emang sih dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, menyampaikan beberapa hal yang bikin adem dan girang warga setempat, salah satunya adalah mengucapkan rasa bangganya bahwa desa Beji mampu menyelenggarakan event yang cukup besar seperti itu. Bupati bahkan berharap agar bisa menjadi inspirasi bagi desa desa lainnya dan bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
"Yang jelas saya salut, event ini sangat bagus dan kreatif," kata Bupati.

Selain itu yang paling ditunggu warga adalah statement Bupati untuk membangun infrastruktur menuju ke desa yang notabene terpencil ini pada anggaran pemerintah tahun depan dan tentu saja hal ini disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengunjung yang hadir.
"Tahun 2020 nanti dari Beji sampai Kecamatan Pagentan via Tegaljeruk akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar,"

Wow  ya ??

hemm............

Hihihihi..........

Nah hal yang paling krodit (dan paling mengecewakan saya pribadi) dari pelaksanaan Festival Rawapusung tahun ini adalah pada prosesi intinya. Pas prosesi ini panitia (dalam hal ini entah siapa yang ikut ngatur di deket MC) mempersilahkan seluruh anggota rombongan pejabat untuk ikut ke tengah embung (lokasi pemotongan)...... padahal kecuali bupati, yang lain kan ga berkepentingan.......
umpel umpelan alias penuh sesak gaes.

DAN FOTONYA AMBYAR tentu saja........

Sedikit curhat sih, sebenarnya kalau mau sebuah acara terpublikasi dengan sukses berkompromilah dengan para fotografer yang ada dilokasi ........ tapi hal itu kayaknya emang nggak (atau bahkan sama sekali TIDAK) dipahami oleh panitia kegiatan budaya semacam ini yang rata rata adalah kaum kesepuhan ..... orang tua....... hahahaha
Pada umumnya mereka akan mementingkan bagaimana caranya "menyenangkan" dan "menghormati" tamu penting (apalagi pejabat) yang hadir tanpa memperhatikan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih penting........

Sebagai contoh, di festival kemarin beberapa orang pejabat dengan pakaian non adat plus topi dipersilahkan untuk menemani pak camat (yang menggunakan baju adat lengkap dengan blangkon) memotong rambut salah satu anak bajang....... lha ini kan 100% bikin keki para fotografer yang berjejer di lokasi.........

Hasil fotonya ?


aSudahlah........

By the way, diluar hal hal tadi pada peyelenggaraan kali ini banyak perubahan positif kok. banyak perbaikan perbaikan di segala sisi. Mulai dari penataan lokasi, inovasi acara sampai dengan acara "klangenan" para fotografer, Jepin.......
Beda dengan tahun kemarin, pementasan jepin kali ini  lebih asik dan fun. Para pemain yang mengalami trans alias kesurupan pun bermain api lebih asik..... dan yang pasti hasil foto teman teman fotografer jadi memuaskan........


Seperti tahun tahun sebelumya yang perlu dipublikasi lebih lanjut gaes, satu hal yang unik dalam penyelenggaraan Festival Rawapusung ini, penduduk desa Beji menyediakan rumah mereka sebagai hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, seniman dan wisatawan secara cuma cuma termasuk fasilitas konsumsi selama mereka menginap lengkap dengan segala keramahan khas pedesaan ala mereka.....



Menarik bukan ?
Semoga tahun depan festival ini masih ada dan digelar dengan semakin baik ya gaes...... biar kesenian dan kebudayaan di desa ini tetap lestari, nggak pernah mati ........


DCF X tahun 2019 ini ...... Super !!!

Pagelaran Dieng Culture Festival (DFC) memang selalu sukses menarik animo pengunjung yang besar setiap tahunnya. Tidak terkecuali pada tahun ini, DCF X 2019 alias Dieng Culture Festival ke 10 Tahun 2019, pun masih dipadati pengunjung yang berniat mendinginkan badan dan merasakan sensasi AC super besar bernama Dieng..........


Ramai dan penuh sesak ? Pasti......
Berisik dan penuh debu ? jelas .......

Mungkin ada yang berpikir ngapain sih berdesakan, kedinginan dan kena debu bertubi tubi seperti itu di Dieng ? kok ya mau ........

Hehehe...... jawabannya pasti beragam kisanak.
dan jawaban tiap orang bisa beragam pastinya ...........

Kalo bagi saya pribadi sih Dieng selalu ga ada matinya. Selalu ada hal yang berbeda di setiap gelaran Dieng Culture Festival setiap tahunnya. Rasa penasaran selalu muncul menjelang pagelan akbar itu. selalu muncul pertanyaan, seperti apa ya suasananya ? bagaimana ya acaranya ? siapa ya bintang tamu misteriusnya ? paginya muncul salju (bun upas) lagi nggak ya ? dan beragam pertanyaan lain yang seolah mewajibkan saya untuk berangkat kesana (selain karena tugas pastinya).

Ada yang menarik dan berbeda pada gelaran DCF X kali ini. Mulai dari awal pembukaan sampai dengan akhir penutupan rangkaian acara bisa kita temui pasukan kebersihan di setiap sudut Dieng. Mereka ber 750 ini menamakan diri sebagai Relawan Jaga Dieng Bersih . Relawan (yang ternyata sebenernya sudah ada sejak DCF IX tahun lalu namun dengan jumlah yang jauh lebih sedikit) ini dengan sigap memunguti setiap sampah yang mereka temui di sudut sudut area masing masing atau dalam bahasa kerennya patroli sampah dengan tidak lupa mengingatkan kepada setiap orang yang ditemui untuk tidak membuang sampah (dan bahkan puntung rokok) sembarangan.

Salut ........

Hal lain yang menarik dari DCF X adalah penjagaan area Festival yang sangat ketat dan rute area festival yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan tersendiri bagi pengunjung "resmi". Pengamanan super ketat ini bisa dilihat di beberapa pintu masuk yang dijaga oleh panitia berseragam dan Satpol PP sehingga pengunjung yang bisa masuk hanya yang sudah memiliki ID Card khusus. Selain itu kali ini mereka ga segan segan untuk menolak siapapun pengunjung (bahkan yang mengaku pers sekalipun) untuk melewati mereka masuk ke gerbang area festival selama 24 jam !! 
Hanya saja, patut disayangkan bahwa harga tiket untuk memperoleh status "resmi" tersebut masih sangat mahal. dan bagi saya itu masih tidak masuk akal ....... kalau saya dalam posisi sebagai pengunjung biasa seperti lainnya......hehehe.

Pelaksanaan DCF yang ke sepuluh ini secara keseluruhan acaranya masih hampir sama dengan tahun tahun sebelumnya. Luar biasa di malam hari, namun ambyar di siang harinya..... ambyar disini dalam artian acara acara yang digelar masih ga begitu menarik. paling hanya  diskusi kopi di salah satu panggung saja yang dapat animo plus dari pengunjung. Lainnya nihil sodara sodara.
Nah hal ini menyangkut juga adanya beberapa pertanyaan dari pengunjung yang rata rata sempat kebingungan terkait stage utama. Soalnya kali ini panggungnya ga hanya satu atau dua, tapi ada empat !!! 

ya .......empat panggung dengan acara yang berbeda dan sama sama menggunakan sound yang sama super kerasnya......... fak banget kan ???
krodit sangat nyata jelas terjadi pada sore hari pada hari sabtu tanggal 3 agustus 2019. Pengunjung yang mulai membludak dibuat bingung dengan 4 panggung yang menampilkan hal berbeda. ada yang band pelajar, ada yang ngobrol kopi, ada yang perhelatan kesenian khas dieng, ada juga yang kosong melompong. Dan parahnya, sejam kemudian ke empat panggung itu bergantian kosongnya..... nah lho.......

Di setiap helatan akbar DCF, Satu hal yang paling ditunggu segenap manusia yang rela berdesakan pada malam harinyaadalah pagelaran Senandung Negeri di Atas Awan yang selalu fenomenal.  Dan itu terbukti pada malam hariitu. Pergerakan wisatawan yang sangat masif disertai dengan tingginya antusiasme mereka, mengakibatkan terulang kembalinya hal hal yang rutin terjadi setiap penyelenggaraan DCF.

  1. Macet parah (di ruas jalan antara Museum Kailasa sampai dengan Pertigaan Terminal yang biasanya hanya ditempung 2 menit malam itu harus ditempuh paling tidak 30 menit untuk sepeda motor dan 1 jam kalo pake mobil)
  2. Pengunjung saling berdesakan (nah kesempatan ini digunakan sebagai alibi oleh para pengunjung mesum untuk menyenggol lawan jenis)
  3. Serta banyaknya pengunjung yang jatuh sakit dan pingsan mendadak karena kedinginan  (maklum suhu udara berkisar antara 8 - 10 derajat celcius saja) dan sulitnya bernafas. Khusus untuk kasus terakhir hal yang patut diacungi jempol adalah kinerja tim kesehatan, relawan, teman teman RAPI serta panitia yang sangat sigap.


Di malam terakhir ini, ada dua hal yang menarik bagi saya. Pertama, antusiasme pengunjung yang sangat luar biasa direspon dengan performa memikat para penampil. Djaduk Ferianto dan Kua Etnika melempar banyak hits. Beberapa lagunya, yaitu Jawa Dwipa dan Swarna Dwipa. Aksi om Djaduk Ferianto ini lalu ditutup lagu Sewu Kuto milik Didi Kempot dengan aransemen yang mengalami perubahan mengikuti gaya om Djaduk bersama Kua Etnikanya.

Performa tidak kalah memikat ditampilkan Secret Guest Star malam itu, Isyana Sarasvati.
Damn.........
Kalau saja saya tahu penampil rahasianya dia, pasti saya mendekat ke stage. dan dengan berbekal kartu sakti 1000 pintu, pasti bela belain selfi sama doi...... ga capek capek naik gunung malam itu cuman buat motret stage dari kejauhan..........
Sembilan hits dengan dibuka pake lagu ‘Kau’  disusul lagu ‘Sekali Lagi’ dan ‘Tetap Dalam Jiwa’ sayup sayup mengalun merdu sampai telinga saya di atas gunung di seberang stage. Dan yang lebih ngeselin lagi adalah ditampilkan juga lagu ‘A Whole New World’ yang notabenenya aku paling suka..........koor oleh oleh kurang lebih 100 ribu pengunjung di depan panggung pula.......... #&%@*

skip ...............dari pada sakit hati ingetnya....... hahaha..................

Hal kedua yang bagi saya yang menarik malam itu adalah naiknya ribuan lampion ke udara. Biasa sih sebenernya, namun kabar bahwa pelepasan lampion diiringi dengan menyanyikan lagu "Tanah airku" bareng bareng itu adalah yang terakhir, membuat momen kali ini berbeda. Syahdu, menakjubkan, luar biasa namun sedih juga ..... apalagi saya nontonnya dari atas bukit di seberang panggung persis.......

tak bisa diungkapkan dengan kata kata ..............



Kabar bahwa Festival Lampion pada malam hari itu sebagai festival terakhir kemudian diklarifikasi dalam  akun Twitter resmi Panitia Dieng Culture Festival, @FestivalDieng, dimana disitu diunggah sebuah video para peserta Dieng Culture Festival 2019 ketika bersama-sama melepas lampion. Bersama video tersebut, panitia juga menuliskan ucapan terima kasih atas antusias peserta Dieng Culture Festival serta keterangan bahwa festival lampion pada Dieng Culture Festival 2019 adalah yang terakhir di event tahunan itu.
"Terima kasih Indonesia. Ini adalah tahun terakhir Dieng Culture Festival dengan Lampion. Tahun depan kita tidak akan menggunakan lampion lagi. Terima kasih yang telah mendukung kami. Kalian yang terbaik dan sampai jumpa di @jazzatasawan 2020" 

Berarti tahun depan sepi dong ?
Belum tentu sih, mungkin akan ada inovasi lain lagi yang akan jadi kejutan buat wisatawan dan pengunjung DCF. Kita tunggu saja........

Hari berikutnya, rangkaian upacara puncak Dieng Culture Festival digelar tanpa ada perubahan yang berarti dari tahun tahun sebelumnya. Diawali dengan kirab bocah bajang, upacara jamasan sampai dengan pemotongan rambut di komplek candi Arjuna, masih persis sama. Hanya saja kali ini penjagaan lebih ketat dan pengunjung juga lebih tertib mengikuti jalannya proses.

Namun ada beberapa hal yang mungkin perlu dicermati, dikoreksi ataupun disikapi lebih lanjut. Ketika proses pemotongan rambut, karena jumlah anaknya yang banyak serta "hanya seperti itu saja", pengunjung yang sudah kepanasan akhirnya bubar jalan. Parahnya lagi ketika mereka adalah grup wisatawan dalam bentuk rombongan, mereka tanpa ragu dan tanpa memperdulikan sakralnya prosesi malah justru melakukan foto keluarga sambil teriak teriak gak jelas. Damn..............

Semoga mereka baca tulisan ini gaes ........

Nah selesai upacara cukuran rambut gembel, selanjutnya dilakukan larungan alias menghanyutkan potongan rambut tersebut ke sungai. Kalau biasanya di telaga warna, tahun ini dilakukan di Telaga Balekambang. Menurut Mbah Manto, pemangku adat Dieng, Telaga Balekambang sebenarnya lebih tepat dibandingkan dengan Telaga Warna sebagai tempat pelarungan. Sebab Telaga ini langsung berhubungan dengan sungai Serayu yang mengarah ke Laut Selatan.

By the way, kalo menurut saya sih sama saja. Sebab sama sama susah buat motretnya.....kalau di telaga warna terlalu jauh jaraknya, kalau di balekambang ga ada tempatnya, sebab hampir seluruh areanya diselimuti gulma dan lain lain yang tentu saja ga bisa diinjak dan digunakan sebagai tempat motret hehehe..............

After all, secara keseluruhan sih penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke sepuluh (DCF X) kali ini menurut saya sangat baik. Banyak perubahan yang terjadi dan mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Juga sudah dipersiapkannya proses proses antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi dalam pelaksanaannya.
Yang jelas, semoga di tahun depan panitia penyelenggara, pokdarwis, warga masyarakat serta pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara bisa bekerjasama lebih nyata dan intensif agar Dieng Culture Festival XI 2020 bisa lebih wow lagi, tanpa macet lagi, tanpa kendala .......... dan tentu saja harga tiketnya lebih murah dari yang sudah sudah hahahaha.....................










Curug Sikopel..... tragis

Curug Sikopel. Begitu nama yang tertera di papan daftar destinasi wisata Kabupaten Banjarnegara. Airnya besar dan merupakan salah satu air terjun yang cukup tinggi di kelasnya dengan landscape alam di sekitarnya terlihat sangat indah. Dan begitu pertama kali melihat fotonya, rasa penasaran itu seketika muncul layaknya perasaan orang jatuh cinta ...... halah .......

Photo Credit : AndriKharisma
Sekedar cerita sodara sodara, Curug Sikopel ini berada di Desa Babadan Kecamatan Pagentan, atau kurang lebih 30 kilometer dan 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Banjarnegara. Jauh ya ? emang jauh sih, tapi kalau selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan dan sambil membayangkan keindahan air terjun setinggi 70 meter itu insyaalloh ga bakal kerasa jauh deh ..........suwer.....

Dan itulah yang juga terjadi pada saya ..... hehehe......
Dengan sejuta harapan akan menemukan kepuasan saya mencari waktu senggang untuk bisa meluncur ke lokasi dengan sejuta bayangan indah.

Tapi .....

Sesampainya di lokasi parkir wisata, saya kaget sekaligus kecewa dengan apa yang saya lihat dan rasakan. Seketika saya langsung menjadi ilang feeling sodara sodara. Ambyarrrrr........

Kenapa ? sebab begitu masuk lokasi parkir kita akan menjumpai sebuah tanah lapang yang berukuran (mungkin) hampir sebesar lapangan voli dengan rumput yang tumbuh tinggi hampir selutut orang dewasa. Dan artinya lokasi ini tidak pernah dirawat dan dibersihkan oleh siapapun.......


Lanjut ke gerbang masuk, uang yang sudah dipersiapkan untuk tiket masuk sebesar Rp. 2000,- ternyata tetap utuh dan tidak terpakai. Sebab gerbangnya tanpa penjaga dan sudah berbentuk mengerikan. Semacam bangunan tidak terpakai selama belasan tahun hehehe.......  Harus diakui, memang sebenarnya masih ada sisa sisa bekas taman yang dibuat sebelumnya. Namun karena tingginya rumput liar, taman itu lenyap...... ya lenyap sodara sodara......


Hanya berselang kurang lebih 20 langkah dari gerbang masuk, kita akan menemukan sebuah peninggalan papan nama penanda yang sudah mulai hilang,dilanjutkan dengan jalan beton yang semula mulus lambat laun berubah wujud menjadi jalan tanah yang licin dan sudah mulai terkikis air hujan ..... lho .........dan seketika itulah keinginan saya untuk turun ke bawah (area sekitar air terjun) menghilang........

Balik kanan lalu pulang......

Eh sempat motret sebentar ding. Pas pake lensa wide 15-45 sih hasilnya memuaskan, curugnya bisa dikatakan bagus dan berkarakter. Tapi pas pake tele 70-200 mm, tumpukan sampah di sekeliling lokasi air terjun sangat mengganggu pemandangan..........

So d*mn that  right ?


Ada banyak pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya..... kok nggak ada yang merawat lokasi itu ya ? yang bertanggung jawab siapa sih sebenernya ? apa nggak ada koordinasi yang baik antara dinas dengan warga sekitar ? dan pertanyaan pertanyaan yang lain yang ngga akan cukup kalau dituliskan disini .......pokoknya faakkkk .............

Terlepas dari itu semua di tengah era informasi yang begitu cepat ini, sudah seharusnya pihak pihak yang berkepentingan baik aktif maupun pasif ikut memikirkan "kelangsungan hidup" dan kelestarian tempat wisata alam semacam ini. Kita nggak bisa dong nyalahin pemerintah (dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) yang mengampu satu kabupaten dengan segala "pernak pernik permasalahannya". Mereka sudah terlalu sibuk man ...... jangan lagi beralasan pemerintah nggak memperhatikan kalian...... coba tanya pada diri masing masing, sudah semaksimal apa kalian bantu pemerintah disini ?? apa apaan itu ?? 

Mikir ......


Mungkin, ada baiknya kalau yang berperan aktif disini adalah warga masyarakat atau pokdarwis atau bahkan relawan setempat semampunya (tanpa mengharapkan hasil dulu tentunya) menata lagi, mempertahankannya dan kemudian mempromosikan lewat dunia maya biar tanpa biaya.

Kenapa dunia maya ? ya jelas dong..... sekarang lagi jamannya gitu. 
Semakin kita gencar promosi, baik itu mengunggah foto foto terbaru, ngadain event juga disana, atau bahkan mengadakan lomba foto dengan menggandeng jagoan jagoan fotografi landscape yang jumlahnya banyak di banjarmegara ini, maka akan semakin naik lagi "rating" Curug Sikopel ini. Efeknya kemudian adalah wisatawan dateng lagi dan pengelolaan tempat ini hidup lagi........ dan terakhir warga sekitar akan dapat penghasilan lagi...... manis bukan ?

Yang jelas sih, sudah saatnya kita jangan saling menyalahkan pihak lain demi mencari kebenaran soal itu (dan tentu saja berlaku untuk permasalahan yang lainnya). Sikap bijak, keikhlasan dan perilaku ringan tangan kitalah yang akan menentukan posisi kita dimata orang lain. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Curug Sikopel (dan lokasi lokasi wisata lainnya) dimana sedang mengalami kondisi "sekarat" ..... 

Mari kita selamatkan mereka dengan cara yang kita bisa ....... plus keikhlasan dan sikap bijak kita masing masing pastinya .......... 



Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow