Tampilkan postingan dengan label berita duka. Tampilkan semua postingan

Bencana Longsor Situkung, Banjarnegara Berduka Lagi !

Banyak yang mengaitkan hujan dengan kenangan, asmara dan bahkan waktu bersantai untuk makan dan minum sesuatu yang menghangatkan badan. Namun bagi warga yang tinggal di dataran tinggi atau pegunungan, hujan apalagi sampai deras bukan lagi soal "romantisme" atau "mie rebus". Hujan deras yang mengguyur berjam-jam justru adalah alarm bahaya, dan semuanya harus dalam mode siaga.

 

Itulah yang terjadi, bencana tanah longsor besar terjadi pada Minggu sore, 16 November 2025, di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. Longsor ini terjadi akibat hujan deras yang berlangsung sepanjang hari, membuat tanah di bukit yang berada di atas pemukiman warga menjadi labil dan runtuh secara masif, menimbun puluhan rumah warga. Akibatnya 28 orang dinyatakan meninggal dan seribu lebih warga berada di pengungsian.


Banjarnegara berduka lagi.

 

Dari keterangan berbagai sumber, sebenernya ternyata alam udah ngasih kode, gaess. Sehari sebelum kejadian, tepatnya Sabtu, 15 November 2025, warga sudah mendeteksi adanya retakan tanah di area Gunung Jaran yang terletak di atas Dusun Situkung. Namun karena berada di tengah hutan dan banyaknya pohon di sekelilingnya sebagai pengikat tanah, hal ini dirasa tidak begitu membahayakan.

 

Pada hari Minggu (16 November 2025), hujan deras mengguyur Kecamatan Pandanarum tanpa ampun selama lebih dari 13 jam. Bayangin, tanah yang udah retak diguyur air segitu lamanya. Tekanan air pori di dalam tanah naik drastis, bikin tanah jadi bubur yang siap meluncur ke bawah. Dan pada pukul 15.45 WIB mimpi buruk itu terjadi. Sore itu, saat warga lagi istirahat dan sebagian keluar rumah karena hujan reda, tebing di atas Dusun Situkung runtuh. Rekaman video yang diambil warga pun mendadak viral di media sosial. Bencana mendadak itu berdampak parah pada permukiman, pertanian, dan peternakan, menyebabkan ratusan warga mengungsi, puluhan rumah rusak, ratusan ternak tertimbun, dan lahan pertanian serta irigasi hancur, dengan area terdampak mencapai sekitar 10 hektar dan luncuran material hingga 1 km.

 



Kepanikan massal melanda. Semua masyarakat berlarian masing masing mencari selamat, cerita kalau mereka nggak punya pilihan lain selain lari. Karena jalur biasa udah tertutup lumpur atau terlalu bahaya, ada sebagian warga yang lari masuk ke dalam hutan dan area kuburan desa buat nyelamatin diri. Kebayang nggak ? 

 

Mereka bertahan di sana sampai akhirnya ditemukan dan diidentifikasi oleh tim SAR beserta relawan pada malam harinya. Mereka baru bisa dievakuasi dalam kondisi shock berat, basah kuyup, dan penuh lumpur pada keesokan harinya melalui jalan hutan yang memutar dengan waktu tempuh mencapai 1,5 jam.  Respect setinggi-tingginya buat mental baja mereka.

 

Hari Senin, 17 November 2025 operasi evakuasi dimulai. Pandanarum mendadak kedatangan ratusan orang dari berbagai penjuru, jalanan macet, banyak orang dengan berbagai atribut tiba-tiba terlihat di sana. Mulai dari pasukan orange, semi orange, TNI berbaju hijau, TNI berwarna abu abu, orang-orang yang bersliweran membawa kamera dan alat perekam, drone terbang dimana mana. Sesuatu yang jarang terjadi di sana.

 






Sebagian tim BPBD, SAR dan relawan mulai memetakan area longsor, lainnya ada yang mulai melakukan pendataan masyarakat terdampak, ada juga yang bergerak menyisir hutan untuk mencari penduduk yang mengungsi disana.

Kantor Kecamatan Pandanarum berubah menjadi Posko Induk penanganan bencana, Dapur Umum, Gudang Logistik dan Media Center. Semua bergerak, bersinergi dan menyamakan tujuan, Penanganan Maksimal.

 

Satu hal yang menjadi kendala dalam proses pencarian korban adalah factor cuaca yang tidak bersahabat dan kontur tanah di sana yang memang "ngeri-ngeri sedap". Menurut PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), di daerah itu punya struktur geologi sesar dan jenis tanah pelapukan yang gampang banget rontok kalau kena air jenuh. Dan inilah yang menjadi penyebab luasnya area longsoran.

 

Sampai hari ke 4 (Rabu, 19 November 2025), pencarian korban masih belum bisa dilakukan secara maksimal. Meskipun sudah banyak pejabat yang datang dan memerintahkan untuk segera melakukan pencarian (bahkan dengan alat berat sekalipun), alam tetap tidak bisa dilawan. Kata teman teman BPBD, konyol rasanya kalau sampai terjadi tim penyelamat malah diselamatkan. Betul juga kan ?



 

Tapi diluar itu semua, tim non lapangan tetap bergerak tanpa henti. Terus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi Masyarakat terdampak, plus para petugas dan relawan di lapangan. Dapur umum tetap mengebul, pendataan logistic dan bantuan yang masuk dan keluar tetap dilakukan dengan cermat, perbaikan sarana dan prasarana termasuk transportasi, jalur evakuasi bahkan fasilitas medis dipercepat.

Hebat….





 

Kamis (20 November), Perlahan tapi pasti, korban-korban mulai ditemukan. Setelah melalui proses rekayasa cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pencarian besar besaran dimulai. Dengan melibatkan 18 alat berat (excavator) tim lapangan menyisir Lokasi terjadinya longsoran sesuai dengan data  yang sudah dibuat tim BPBD Banjarnegara.

 

Satu demi satu korban mulai ditemukan.

 





Ada satu hal yang unik dalam proses pencarian ini, muncul sosok “indigo” yang juga ikut dilibatkan dalam proses pencarian jenazah. Rival Altaf namanya. Di lapangan beberapa kali dia menunjukkan Lokasi diduga terdapat jenazah yang masih tertimbun tanah, dan hampir semuanya tepat.

 



Saking sulitnya medan dan banyaknya korban yang belum ketemu, operasi SAR yang harusnya 7 hari diperpanjang 3 hari lagi. Dan puncaknya adalah di hari terakhir atau hari ke-10, Selasa (25 November 2025), tim SAR gabungan berhasil menemukan lima korban yang semuanya berasal dari sektor A2 (sektor A Worksite 2). Kelima korban yang ditemukan berada di sektor A2 merupakan satu keluarga yang berdasarkan kesaksian kerabat korban, mereka terlihat berlari untuk menyelamatkan diri namun tidak berhasil dan terjatuh di sisi kanan jalan setapak depan rumah.

 

Dengan ditemukan jasad 5 orang ini, maka jumlah total korban longsor yang telah dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia mencapai 17 orang dan 11 orang tidak ditemukan.

 

Upacara penaburan bunga berjalan dengan haru, hampir semua orang yang hadir tidak kuasa menahan air mata. Ada perasaan haru, sedih, lega dan beragam perasaan yang bercampur menjadi satu seiring rintik hujan yang ikut turun seolah semesta turut berduka.

 


So,  Apa yang Bisa Kita Pelajari dari bencana ini ?

 

Bencana Situkung ini jadi tamparan keras buat kita semua soal lingkungan. Banyak hal yang perlu kita sadari dan pertimbangkan.

 

  1. Geografi Kita Rawan : Kita tinggal di Ring of Fire. Tanah di Banjarnegara emang subur, tapi juga rapuh.
  2. Pentingnya Mitigasi : Retakan tanah sehari sebelumnya itu warning. Ke depannya, sistem peringatan dini harus lebih kenceng lagi biar warga bisa evakuasi SEBELUM longsor kejadian, bukan SAAT kejadian.
  3. Solidaritas : Aku salut banget sama relawan. Dari yang masak di dapur umum sampai yang nyangkul lumpur, kalian pahlawan!

 

Yang terakhir,
kita semua harus peka dan peduli sama tanda alam !





11.29.2025
Posted by ngatmow

We will always love you mom.......

Innalillahi wainna ilaihi roji'un.......

Tepat jam 01.20 WIB tanggal 5 September 2016 ibu tercinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Setelah perjuangan panjang selama 6 tahun melawan Diabetes, dan 6 bulan terakhir keluar masuk Rumah Sakit, akhirnya sampai ibu ditakdirkan harus berpulang pada-Nya.

Hancur hati ini rasanya mengingat bahwa sebagai seorang anak saya belum bisa membahagiakan beliau, belum bisa memenuhi apa yang pernah dicita citakan beliau, belum bisa mengantar beliau piknik ke pantai Karangbolong lagi untuk sekedar ber melodi memory mengenang masa dulu, 
belum bisa menghantarkan beliau menunaikan ibadah haji yang sebenarnya tinggal menunggu satu tahun lagi........

Beberapa saat yang lalu, waktu beliau masih dirawat di PKU Muhammadiyah Wonosobo, sebenarnya saya seolah olah sudah diberi isyarat bahwa akan ditinggalkan utnuk selamanya. Salah satunya adalah dengan berbisik " ibu titip bapak ya...... adikmu tolong didampingi.......kasihan" 
Ada lagi pesan tersirat beliau waktu mengatakan ingin dekat dengan bu AR, salah satu sahabat karibnya yang sudah berpulang beberapa tahun yang lalu.
Deg......

Tapi semua itu ingin rasanya saya tepis dan buang jauh jauh dari dalam isi kepala.....

Sampai akhirnya berita itu datang........




Ibu,  pecah air mata yang tidak pernah menetes selama ini ketika  harus meletakkan ibu di pembaringan terakhir itu.....
ada rasa kehilangan yang tidak tertahankan yang bergejolak dalam dada ini........ namun itu harus segera dihilangkan bukan ? saya harus ikhlas. Harus merelakan ibu berpulang ke pemilik semua kehidupan di dunia ini.......





"ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA 'AAFIHI WA'FU 'ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI' MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A'IDZHU MIN 'ADZAABIL QABRI AU MIN 'ADZAABIN NAAR.

Artinya : "(Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)


Ibu, rasanya saya sudah tidak sanggup menulis apa apa lagi saat ini, layaknya ibu yang tetap menulis diary ketika sedang berjuang melawan sakit.......
Hanya doa yang bisa kami sebagai anakmu bisa panjatkan kepada Allah SWT, agar ibu beristirahat dengan tenang untuk menghadap-Nya, mendapat tempat yang terindah di sisi-Nya, mendapatkan penerangan di alam-Nya, serta mendapat anugerah khusnul khotimah dari-Nya.... Aminn.........

We will always love you Mom.......


Bersama ibu tahun 2013
Nikahan Anis - Santi (28/3/2016)



Mei 2016 - zizi ngumpet 

9.09.2016
Posted by ngatmow

AJI SANTOSO : Pelatih Jenius kesayangan Para Elit PSSI

Rasanya sedih dan tragis juga melihat nasib persepakbolaan di negeri ini. Semakin kacau dan balau yang sudah tidak bisa diceritakan lagi pada anak cucu kelak. Ambyar..... Bahkan saking muaknya saya, kalau di tivi lagi ada berita soal PSSI, mending ganti channel gosip yang lucunya lagi-lagi menyinggung soal badan sepakbola yang satu ini dari sisi para artis. Jupe misalnya yang bernazar mau telanjang di GBK.......hemmmm

Eitss... sudah sudah, jangan bicarakan dia. Nanti imajinasi jadi melayang kemana mana.
Kembali ke topik utama aja, keanehan PSSI sekarang ini yang sudah dalam posisi dibekukan Menpora dan dibanned oleh FIFA (yang lucunya juga lagi kena kasus suap......nah....).

Terakhir, baru beberapa hari yang lalu kita disuguhi pertandingan yang memilukan dimana timnas U23 kita dibantai 5-0 oleh Thailand. Busyet..... sebuah skor yang menyayat hati. Bahkan untuk menontonnya di TV pun saya (dan berjuta penduduk Indonesia lainnya) sampai harus menahan nafas ketika gawang kita begitu sering terancam oleh serangan dari lawan (yang sebenernya level permainannya sama - menurut saya....)


So, apa yang salah ? Menurut saya..... ya sekali lagi menurut saya, yang salah adalah pelatihnya. Mas Aji Santoso itu. Dengan materi yang "mengandung" pemain-pemain U19 didikan Indra Syafri, yang notabene selalu bermain bola dengan otak, pelatih yang dulu bermain sebagai andalan di sektor bek/sayap kiri itu nyatanya tidak mampu meracik formula yang pas untuk anak asuhnya.

Bisa dilihat bagaimana Evan Dimas dan Paulo Sitanggang bekerja keras pontang panting di lini tengah tanpa bisa diimbangi oleh bagian penyerangan serta pertahanan kita. Dimana pemain lain yang ada dilapangan waktu itu yang notabene bukan hasil didikan pelatih Bali United saat ini, Indra Sjafri ? Sungguh sangat sangat tidak padu dan tidak mutu. Entah apa yang ada di pikiran pelatih kesayangan almarhum PSSI ini.

Eits, Kenapa disebut sebagai kesayangan ?
Oke kita ikuti track recordnya yang saya ambil dari beberapa sumber terpercaya......

Kiprah cemerlang Aji Santoso sewaktu menjadi pemain menggiur para elit PSSI untuk menggandengnya melatih pasukan merah putih. Radar mengarah kepadanya ketika ia memulai karir kepelatihan professionalnya diakhir 2000-an. Arah menjadi caretaker tim nasional Indonesia seolah menunggu waktu. Itu terbukti saat ia ditunjuk menjadi asisten pelatih timnas U23 senior tahun 2011, kemudian menjadi pelatih Timnas Senior Sementara saat menutup laga Pra Piala Dunia 2014 (laga bertandang ke Bahrain tahun 2012), dan menjadi pelatih kepala Timnas U23 sejak 2014 sampai sekarang.

Dibawah tangan dingin dan kejeniusannya meramu permainan 11 pemain dilapangan, Timnas menjadi sangat disegani dikancah Asia Tenggara bahkan Asia! Tengoklah bagaimana track recordnya memperoleh kemenangan2 mengesankan dari tim tangguh macam Timor Leste, Kamboja, dan Brunei Darussalam diajang resmi, atau menghadapi Persigar Garut dan Tim Pra PON domestik diajang persahabatan. Mencetak gol diatas 3 biji bukan hal langka. Hal ini kian mengukuhkan dirinya sebagai pelatih yang apik dalam meramu strategi tim.

Well, sekalipun masih belum mendapatkan gelar juara di segala ajang yang ia lakoni sebagai pelatih, tapi setidaknya ada beberapa pertandingan yang patut kita kenang sebagai laga apik. Laga-laga ini adalah pengukuhan superioritas Timnas saat ditanganinya. Berikut catatan Harum tersebut saat dia melatih pasukan Merah putih :

1. Bahrain 10 - 0 Indonesia (Februari 2012 = Pra Piala Dunia 2014). Hasil akhir = Juru Kunci grup. (Aji Santoso hanya melatih di 1 laga terakhir saja)
2. Thailand (U23) 6 - 0 Indonesia (U23). September 2014 = Asian Games 2014
3. Indonesia (U23) 1 - 4 Korea Utara (U23). Sept 2014 = Asian Games 2014. Hasil Tournamen = Perempat Final
4. Indonesia (U23) 0 - 3 Syria (U23). Februari 2015 = Laga persahabatan sebagai Tuan Rumah)
5. Indonesia(U23) 0 - 4 Korea Selatan (U23). Maret 2015 = Kualifikasi AFC U23. Gagal lolos ke Putaran FInal AFC U23
6. Indonesia (U23) 2 - 4 (U23) Myanmar. Juni 2015 = Pertandingan pembuka SEA GAmes 2015.
7. Indonesia U23 0 - 5 Thailand U23. 12 Juni 2015 = Babak Semifinal SEA Games 2015.
8. Vietnam U23 5 - 0 Indonesia U23. 15 Juni 2015 = Perebutan Juara III SEA Games 2015.

Track Record diatas adalah bukti kesaktian Aji. Yang paling fenomenal adalah saat laga menghadapi Bahrain (Febr 2012) skor Bahrain 10 - 0 Indonesia. Ini adalah laga "Legend" dimana rekor baru tercipta sebagai torehan prestasi emas bangsa ini. Dunia Internasional berdecak kagum sembari angkat topi terhadap hasil ini. Permainan ngotot dengan aliran-aliran bola jelas antar pemain merupakan terapan strateginya. Dan ini sangat menghibur.

Masih mengenai catatan harum diatas, lihatlah bagaimana Indonesia begitu trengginas, banjir gol kegawang lawan dan begitu sukar kebobolan saat menghadapi tim elit dunia (macam Bahrain, Myanmar, dan Thailand) adalah bukti nyata kejeniusan Aji Santoso. Sepanjang 2 dekade terakhir, rentetan hasil ini sangat memuaskan bangsa. Sungguh Aji melesatkan harapan besar tentang kejayaan Sepakbola Indonesia untuk berjaya di kancah Internasional. Bila pelatih seperti dia terus dipelihara memegang tampuk kepelatihan utama, niscaya Gelar Piala Dunia 2022 bisa disandingkan dengan Gelar Piala Asia 2023. Atau jika ada sedikit keajaiban, TImnas Indonesia bisa menginvasi African Cup, EURO, dan American Cup. O betapa bahagianya kami se-Indonesia.

Bagaimana dengan insting dan pengetahuan umumnya tentang sepakbola? Jangan ditanya. Sempat dikaitkan dengan isu pemanggilan Lorenzo Pace, pemuda 19 tahun keturunan Indonesia-Italia, Aji ogah memanggilnya karena sepengetahuan Aji ; Pace hanyalah pemain cadangan di Primavera Lazio. Pace jarang menembus skuad utama ungkapnya. Aji begitu kukuh dengan pernyataannya sekalipun statistik Pace di transfermarkt.com dan soccerway berkata lain (di kedua situs kredibel ini : Pace adalah penghuni regular squad Lazio Primavera). Berbekal wawasan luas, tak heran ia sanggup menjayakan sepakbola Indonesia di 2 tahun belakangan.

Btw, Jupe bayar hutangnya beneran lho ,.......hahahahaha.............

#AjiSantosomundur #saveIndonesianFootball #callIndraSjafri #KillPSSI #goTimnas #goEvanDimas

Special Thanks to sancimelekete on Kaskus
6.16.2015
Posted by ngatmow

Memandang Longsor Dahsyat Jemblung dari Ketinggian Udara dan Satelit (Artikel Copas dari Ekliptika)

Beberapa hari pasca bencana longsor dahsyat yang meluluhlantakkan dusun Jemblung, desa Sampang Banjarnegara, bagaimana luasnya skala bencana tersebut mulai terkuak. Khususnya setelah dua tim yang berbeda melaksanakan pemotretan (pencitraan) di atas lokasi bencana. Pencitraan pertama dikerjakan oleh tim KataDesa (Banjarnegara) bekerjasama dengan BukaPeta (Jakarta) dengan menggunakan pesawat udara nir-awak (PUNA) atau drone tepat di atas lokasi longsor pada Rabu 17 Desember 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Kedua relawan lembaga nirlaba tersebut melakukan pemotretan udara (pencitraan aerial) selama tiga hari penuh hingga 20 Desember 2014 TU, yang menghasilkan sejumlah data dalam bentuk rekaman-rekaman foto dan video.

Sejumlah citra foto dan videonya telah dipublikasikan semenjak awal. Sementara pencitraan kedua dilaksanakan oleh tim respon cepat bencana LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) pada saat yang hampir sama. Memanfaatkan satelit penginderaan jauh Pleiades milik badan antariksa Perancis yang melintas jauh di atas lokasi bencana pada 16 Desember 2014 TU, tim LAPAN mencitra dan mengolah datanya dalam kanal cahaya tampak (visual) untuk kemudian memublikasikan hasilnya per 19 Desember 2014 TU. Hasil kerja dua tim yang berbeda tersebut saling melengkapi sehingga memberikan perspektif baru dalam upaya kita memahami bencana tanah longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini.

Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.
Gambar 1. Panorama dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) dan Gunung Telagalele pasca bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014. Dibuat dalam peta Google Earth yang dilapisi (overlay) citra satelit Pleiades dalam kanal cahaya tampak. Nampak lereng utara Gunung Telagalele yang longsor, dengan mahkota longsor di elevasi 1.060 meter dpl. Nampak pula lembah miring dimana dusun Jemblung semula berada, dengan ujung timur lembah 30 meter lebih tinggi dari ujung baratnya. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan LAPAN, 2014.

Citra aerial dan citra satelit tersebut menyajikan batas-batas longsor dan beberapa perspektif tiga dimensi sektor longsor tertentu. Tatkala batas-batas tersebut dimasukkan ke dalam program pemetaan seperti Google Earth, diperoleh bahwa longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 mencakup area seluas hampir 18 hektar. Dari area seluas itu sekitar 2,2 % di antaranya, yakni hampir 4.000 meter persegi, merupakan bagian yang tak terjamah aliran maupun timbunan tanah dalam bencana ini, yang mencakup sebuah rumah berdinding putih dan kebun jagung.

Dua Luncuran
Selamatnya rumah dan kebun jagung ini dari terjangan tanah longsor telah mengundang decak kagum. Banyak yang menyebutnya sebuah keajaiban. Cerita-cerita yang tersebar luas tak berkeruncingan di media sosial menuturkan rumah itu adalah milik kiai kampung yang rajin berdakwah kepada penduduk sekitar. Namun penelusuran lebih lanjut menunjukkan pemilik rumah tersebut adalah seorang petani yang tinggal bersama istri, anak, menantu dan cucunya. Meski rumah tersebut selamat dari terjangan tanah, namun tidak demikian dengan penguninya. Hanya sang menantu yang sedang hamil 9 bulan dan satu keponakannya yang luput dari maut meski sempat tertimbun tanah setebal 1 meter. Sementara petani, istri, anak dan seorang cucunya lagi menjadi korban bencana dahsyat ini.

Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.
Gambar 2. Citra satelit Pleiades lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 beserta lokasi luncuran tanah utama yang berskala besar dan dua luncuran tanah berskala kecil yang menduluinya. Sumber: LAPAN, 2014.

Citra aerial dipadukan dengan citra satelit menempatkan rumah dan kebun yang selamat itu dalam perspektif baru pada bencana longsor dahsyat ini. Dalam analisa sementara penulis, rumah dan kebun yang selamat beserta sepenggal tanah sempit di atasnya merupakan pembatas bagi sekurangnya dua kejadian luncuran tanah yang berbeda namun berlangsung dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan yang sebelah menyebelah. Yakni luncuran tanah sisi timur (arah Dieng) dan luncuran tanah sisi barat (arah Banjarnegara). Dua luncuran tanah ini ternyata senada dengan hasil analisis sementara BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) seperti yang dipaparkan Kepala Pusdatin (pusat data dan informasi) BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada 15 Desember 2014 TU lalu. Arah gerak kedua luncuran tanah tersebut pun terlihat berbeda. Namun pada akhirnya kedua luncuran tanah itu saling berkoalisi hingga menghasilkan kerusakan cukup besar dan luas.

Google Earth memperlihatkan dusun Jemblung secara topografis terletak di sebuah lembah berarah barat-timur yang dipagari dua buah gunung (bukit), masing-masing di sisi selatan dan utaranya. Bukit di sisi selatan dikenal sebagai Gunung Telagalele. Lembah ini tidak rata melainkan berhias sejumlah gundukan. Di sela-selanya mengalir sungai Petir, sebuah sungai kecil yang bermuara ke sungai Merawu. Sungai Merawu sendiri merupakan salah satu anak sungai utama dari sungai Serayu yang besar. Sehingga sungai Petir dan seluruh dusun Jemblung pada dasarnya merupakan bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Serayu.

Lembah dimana dusun Jemblung berada juga bukanlah lembah datar ataupun landai, karena ujung timurnya 30 meter lebih tinggi ketimbang ujung baratnya. Selain lebih rendah, ujung barat lembah dimana dusun Jemblung berada juga tepat bersisian dengan sungai Petir. Berbeda dengan ujung timurnya. Faktor ini yang nampaknya berperan penting terhadap aliran tanah pada bencana longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU.
Sebelum luncuran tanah terjadi, dusun Jemblung telah lebih dulu dikejutkan oleh dua peristiwa luncuran tanah dalam skala kecil yang mengambil lokasi di dusun Jemblung sebelah barat. Apakah masih berkaitan ataukah tidak, apakah salah satu atau kedua longsor kecil itu menyebabkan gangguan stabilitas lereng utara Gunung Telagalele ataukah tidak, yang jelas ia segera diikuti luncuran tanah yang jauh lebih besar. Luncuran tanah terakhir ini secara umum dapat dibedakan menjadi luncuran tanah sisi timur dan luncuran tanah sisi barat.

Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 3. Perkiraan batas luncuran tanah sisi timur dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 (garis kuning putus-putus) dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Selain batas luncuran tanah, beberapa ciri khas tanah longsor dapat dikenali khususnya dalam citra aerial. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Luncuran tanah sisi timur melaju tepat ke utara, menuju dusun Jemblung sebelah timur yang ada di kakinya. Namun volume tanah dalam luncuran tanah sisi timur ini mungkin lebih kecil ketimbang luncuran tanah sisi barat. Sehingga energinya pun mungkin lebih kecil yang membuatnya sebatas menimbuni jalan raya Banjarnegara-Dieng/Banjarnegara-Pekalongan dan bentang lahan di sisi selatannya. Ia tak sanggup ‘meloncat’ untuk menimbuni mayoritas rumah di dusun Jemblung sebelah timur yang ada di gundukan sisi utara jalan raya. Bahkan terdapat tanda-tanda benturan massa tanah longsoran ke gundukan dimana rumah-rumah dusun Jemblung sebelah timur berada. Benturan ini menyebabkan sebagian massa tanah longsor tersebut nampaknya terbelokkan ke arah barat, menurun menuju dusun Jemblung sebelah barat.

Hal itu berbeda dengan luncuran tanah sisi barat. Pada awalnya luncurannya mungkin kecil dengan arah ke utara-barat laut. Namun tumpukan material longsornya amat mendesak lereng yang lebih rendah. Sehingga lereng yang sudah labil itu pun turut runtuh, menghasilkan longsor dalam volume lebih besar juga dengan arah ke utara-barat laut. Hal yang sama berulang, tumpukan materialnya mendesak lereng yang lebih rendah lagi hingga turut longsor. Pada akhirnya luncuran tanah sisi barat membawa volume tanah yang lebih besar ketimbang sisi timur. Pun demikian energinya, sehingga daya gerusnya pun lebih besar. Massa tanah pun terdorong jauh tanpa terhenti meski telah menghantam dusun Jemblung sebelah barat dengan telak. Selain dari luncuran tanah sisi barat, dusun Jemblung sebelah barat juga diterjang sebagian kecil massa tanah dari longsoran tanah sisi timur yang tadi terbelokkan. Akibatnya dusun Jemblung sebelah barat pun dihapus dari peta, sebagian tertimbun tanah dan sebagian lagi tergerus. Massa tanah di sini pun meluncur jauh hingga memasuki sungai Petir untuk kemudian menghilir sejauh sekitar 150 meter. Sehingga selain di bekas dusun Jemblung sebelah barat, banyak jasad korban longsor yang ditemukan di sekitar sungai Petir.

Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 4. Perkiraan batas luncuran tanah sisi barat dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 dalam citra satelit Pleiades pada kanal cahaya tampak (kiri) dan citra aerial PUNA/drone (kanan). Kemungkinan terjadi tiga kali pergerakan tanah secara berantai, dari lereng yang lebih tinggi ke lereng yang lebih rendah dengan luasan kian membesar. Perkiraan batas masing pergerakan tanah diperlihatkan oleh garis kuning putus-putus, sementara arah masing-masing gerakan tanah oleh tanda panah. Sumber: LAPAN, 2014 & KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Hingga Minggu 21 Desember 2014 TU tengah hari, secara akumulatif tim telah menemukan 95 jenazah. Paling tidak 13 jasad lainnya masih belum ditemukan. Namun atas kesepakatan bersama warga dusun Jemblung, BNPB memutuskan untuk menghentikan proses pencarian jasad korban. Pertimbangannya adalah luasnya kawasan yang terkena longsor, tebalnya timbunan tanah, cuaca yang kurang menentu dan ancaman longsor susulan akibat keberadaan telaga baru di bawah mahkota longsor sisi barat. Fokus penanganan bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 kini dialihkan pada relokasi penduduk dari 35 KK (kepala keluarga) yang selamat, mencakup 32 KK yang rumahnya tertimbun longsor dan 3 KK yang rumahnya rusak berat. 21 KK sisanya tidak turut direlokasi karena seluruhnya menjadi korban bencana dahsyat ini.

Pelajaran
Selain bermanfaat memperkirakan bagaimana mekanisme sebuah bencana khususnya pada bencana yang berskala besar, penggunaan citra aerial dan/atau citra satelit memberikan pelajaran berharga dari Banjarnegara. Citra aerial dan/atau citra satelit sangat membantu dalam pencarian jasad korban. Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, citra aerial dan satelit membantu memberikan gambaran antara pra dan pasca bencana. Sehingga gambaran dimana rumah-rumah yang tertimbun/tergerus tanah longsor dapat segera diperoleh. Mengingat cuaca yang kurang mendukung dengan langit kerap mendung, satelit penginderaan jauh tak bisa secepatnya membantu apalagi jika bekerja pada kanal cahaya tampak. Sebab pandangan satelit ke lokasi bencana akan kerap terganggu oleh tutupan awan. Sebaliknya PUNA/drone tidak begitu terganggu karena ketinggian jelajahnya lebih rendah dibanding awan. Sepanjang tidak turun hujan deras, PUNA/drone dapat dioperasikan tepat di atas lokasi bencana.

Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 5. Panorama eks Dusun Jemblung sebelah barat yang telah lumat oleh timbunan tanah dan juga tergerus (atas) dan Dusun Jemblung sebelah timur dengan latar depan tebing tempat sebagian massa tanah dalam luncuran tanah sisi timur menubruk untuk kemudian berbelok arah (bawah). Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, sebelum tim KataDesa dan BukaPeta meluncurkan PUNA/drone-nya, sesungguhnya telah ada PUNA/drone lain yang terbang di atas lokasi bencana. Yakni dari tim respon cepat bencana UGM (Universitas Gadjah Mada) serta dari tim BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Hasil pencitraan aerial tim ini memang tidak dipublikasikan, namun nampaknya kemudian menjadi acuan bagi BNPB untuk menyusun bagan bencana longsor. Dengan bagan tersebut, maka dusun Jemblung yang terlanda bencana dibagi ke dalam sektor-sektor tertentu. Sehingga upaya tim relawan dalam pencarian jasad-jasad korban dapat dilakukan dengan lebih fokus.
Selain sangat membantu dalam pencarian jasad para korban dengan memetakan batas-batas kawasan yang terlanda bencana longsor, pelajaran berharga lainnya dari Banjarnegara adalah bahwa citra aerial yang diproduksi PUNA/drone juga membantu mengevaluasi bagaimana tutupan vegetasi (tumbuh-tumbuhan) di sebuah lereng. Juga bagaimana keadaan lereng tersebut, khususnya lereng yang telah menunjukkan gejala pendahuluan akan bencana tanah longsor dalam bentuk retak-retak tanah dalam beragam skala. Ini akan sangat membantu dalam menyiapkan kewaspadaan bagi masyarakat disekitarnya.

Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.
Gambar 6. Perkiraan arah gerakan tanah dalam bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Luncuran tanah sisi timur digambarkan dengan panah kuning, sementara luncuran tanah sisi barat dengan panah merah. Gabungan massa tanah kedua luncuran digambarkan dengan panah hitam, yang terus menerjang dusun Jemblung sebelah barat hingga memasuki sungai Petir. Sumber: KataDesa, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2014.

Takdir kebumian Banjarnegara khususnya kawasan Karangkobar-Merawu dengan batuan dasarnya yang rapuh membuat kejadian longsor di sini menjadi begitu banyak dan beberapa diantaranya unik. Dalam pandangan umum, tanah longsor bisa diminimalkan atau bahkan dielakkan jika lereng yang setengah terjal atau bahkan terjal ditanami dengan vegetasi (tumbuhan) berakar tunjang. Namun di sebagian Banjarnegara, hal tersebut tidak selalu berlaku. Dalam bencana longsor dahsyat Gunungraja (Sijeruk) 2006 misalnya, longsor berskala besar tetap terjadi meskipun lereng Bukit Pawinihan masih tertutup tumbuhan-tumbuhan tinggi yang relatif rapat dan berakar tunjang. Tebalnya tanah pelapukan membuat tumbuh-tumbuhan itu tak sempat mengakar kuat hingga ke lapisan batuan yang masih keras dibawahnya. Sehingga tatkala tanah pelapukan itu jenuh dengan air, longsor pun tetap terjadi.

Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.
Gambar 7. Tiga titik retak baru di Gunung Telagalele, desa Sampang (Banjarnegara), tak jauh dari lokasi longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014. Ketiga titik retak baru ini harus dicermati lebih lanjut ke depan sebagai titik-titik yang rawan longsor. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis Google Earth dan data dari KataDesa, 2014.

Pasca bencana longsor dahsyat Jemblung (Sampang) 2014 ini, beberapa titik retakan baru telah muncul di lereng Gunung Telagalele. Misalnya di teras SD Negeri 3 Sampang (dusun Tekik), di jalan desa ke dusun Gondang dan tepat di atas mahkota longsor Jemblung. Di luar Gunung Telagalele, retakan-retakan juga terdeteksi di dusun Slimpet desa Tlaga (kecamatan Punggelan) dan di desa Bandingan (kecamatan Sigaluh). Titik-titik retakan baru ini bisa jadi merupakan gejala pendahuluan tanah longsor yang akan datang.
Titik-titik ini perlu segera ditangani dengan jalan segera ditutup tanah hingga rata. Juga perlu untuk terus dipantau apakah ada tanda-tanda pendahuluan lainnya seperti mulai merosotnya lereng, mulai miringnya pepohonan/tiang listrik ataupun mulai menegangnya kabel listrik yang melintas di atas lokasi. Selain itu bagaimana skenario terburuk terkait besarnya luncuran tanah dan arahnya pun musti mulai dipikirkan. Dalam konteks inilah pencitraan aerial berbasis PUNA/drone menjadi penting peranannya untuk mengevaluasi status lereng tersebut. Apalagi dengan kemampuannya yang melebihi resolusi citra satelit penginderaan bumi dan ongkos operasionalnya yang relatif murah. Agar kelak korban tak lagi berjatuhan…

Special Regard to ekliptika.wordpress.com 
12.23.2014
Posted by ngatmow

Berita duka dari Jemblung

Berita duka kembali menghiasi layar kaca di seluruh negeri ini. Semua headline news tertuju ke Banjarnegara. Di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, tanah longsor tiba-tiba datang mengubur sekitar 40 rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 keluarga sekitar pukul 17.30 WIB. Jumlah warga Dusun Jemblung RT 05 RW 01 yang tertimpa longsor diperkirakan sekitar 108 orang, sedangkan warga lainnya berhasil menyelamatkan diri. Selain itu, sejumlah mobil yang sedang melintas di jalan Karangkobar-Banjarnegara turut tertimpa longsor. Sehingga jumlah pasti korban meninggal dalam bencana ini diperkirakan jauh diatas angka yang muncul di media massa.

Banyak korban selamat mengatakan bahwa musibah kali ini sangat aneh. Tanah longsoran bergerak seperti ombak yang bergulung dan berputar membentuk pusaran besar. Tanah seolah menjadi cair dan berwarna mengerikan dengan gemuruh suara yang sungguh dahsyat.

Karena itulah kemudian banyak versi cerita muncul di kemudian hari. Mulai dari yang bersifat ilmiah sampai cerita mistis yang melatarbelakanginya.
Kebanyakan dari korban selamat pada malam itu juga bergerak dengan alat seadanya untuk mencari korban selamat lain yang lokasinya tidak begitu jauh dari posisi mereka. Malam yang gelap itu semakin mencekam dengan teriakan manusia yang maminta pertolongan. Dan tangisan orang orang yang kehilangan sanak saudara, juga teriakan orang orang yang saling menguatkan satu sama lain ditengah himpitan tanah tanpa bisa saling menolong. Tragis....
   
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan beberapa penyebab terjadinya longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (15/12/2014 - Kompas)
"Dusun Jemblung di dalam peta merupakan daerah yang rawan longsor dengan intensitas sedang-tinggi," ujar Sutopo, dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jalan Juanda, Jakarta Pusat.

Sutopo mengatakan, pada dua hari menjelang terjadinya longsor, yaitu pada tanggal 10-11 Desember, wilayah di sekitar Dusun Jemblung, Banjarnegara, diguyur hujan yang cukup deras. Akibatnya, tanah di lokasi tersebut menjadi penuh dengan air. Kemudian, menurut Sutopo, materi penyusun bukit Telaga Lele, di Dusun Jemblung, merupakan endapan vulkanik tua sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan.

Selain itu, kemiringan lereng di bukit tersebut kurang dari 60 persen. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen. Sutopo juga mengatakan, penyebab longsor tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija, yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air."Budidaya pertanian yang tidak mengindahkan konservasi juga jadi penyebab. Kondisi tanah dan air di lokasi kejadian, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut," kata Sutopo.















 



Innalillahi wainna ilaihi roji'un.....
Hanya itu yang bisa kita ucapkan selain segera bertindak dengan segala kemampuan yang kita bisa untuk meringankan beban bagi saudara saudara kita yang terkena musibah disana.


Tidak lupa mari kita tundukkan kepala sejenak untuk berdoa, semoga mereka yang sedang tertimpa musibah diberikan kekuatan dan kesabaran, dan kita semua semoga diingatkan bahwa kita ini hanyalah makhluk-Nya yang tidak punya kekuatan apapun untuk berlaku sombong dan melupakan keberadaan-Nya


12.15.2014
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow