Tampilkan postingan dengan label pojok foto. Tampilkan semua postingan

Naik Gunung Prau (lagi)

Setelah sekian lama pasif dan seakan mendekati pensiun, akhirnya saya kembali lagi memberanikan diri untuk menggendong tas ransel berjalan nanjak beberapa jam dengan menahan dingin khas naik gunung.

Yes ........saya naik gunung gaesss.....

Dan kali ini kembali ke gunung prau lagi.........
Sebab selain saya pikir bahwa naik gunung isi masih ramah sama pendaki uzur, ramah kepada dengkul kaki, juga Gunung Prau memang selalu ngangenin...... Sekali kita naik, perasaan pingin naik ke sini akan seterusnya menghantui jiwa raga dan pikiran.....halah......


Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim). 

Jalur Dwarawati menurut saya yang berbodi bulat ini ga begitu berat (sebab memang dari awal sudah request dipilihkan alternatif jalur pendakian yang ramah mbah mbah......... hahahaha........) dan secara otomatis akan terasa sangat tidak menantang alias mudah banget buat yang berbodi slim dan ringan. Secara jarak tempuh sih memang cukup lumayan, dari posisi start di sebelah Candi kita akan berjalan nanjak sejauh kurang lebih 2 kilometer dengan kondisi jalan yang banyak "bonus" alias cukup landai dan tidak begitu menguras  tenaga. 

Tapi jangan terlalu percaya pada saya semudah itu kisanak ........ sebab saya sendiri mengalami kondisi 10ss alias 10 steps stop aliasnya lagi setiap sepuluh langkah saya berhenti untuk mengatur nafas ....... hehehehe.....

Menurut info yang beredar luas, waktu tempuh untuk mencapai puncak Prau melalui jalur ini adalah 2-3 jam saja (itu pun sudah dihitung perjalanan orang orang berkelebihan macam saya). sementara untuk jalur pendakian via Patak Banteng jauh lebih cepat namun dengan tingkat kesulitan dan trekking yang lebih berat pula. 

Tapi kedua jalur ini beda puncak lho sodara sodara .......

lho kok ?

Yes...... Gunung Prau punya 2 puncak utama dengan pemandangan yang sama sama menawan dan sulit terlupakan. halah.....
Jalur pendakian via Dieng punya puncak sendiri dengan view ke arah selatan dan barat (sangat bagus untuk memotret sunset), sedangkan Jalur pendakian via Patak Banteng punya puncak dengan view menghadap Timur persis ke arah deretan gunung eksotis seperti Sindoro, Sumbing, Kembang bahkan Merbabu dan Lawu. Spot Sunrise dong....... Yes....betul sekali.......


Bisa dilihat di peta, jarak dari Puncak 1 dan Puncak dua sekitar 1,45 kilometer, dengan trek sangat landai bahkan cenderung datar  dan waktu tempuh yang dibutuhkan pun hanya sekitar 45 - 60 menit. Sebab kita akan berjalan di sebuah padang rumput yang dinamakan Telaga wurung (Telaga Gagal). 

Lokasi ini sangat asik sodara sodara..... bayangin aja, kita berada di sebuah padang rumput yang luas dengan bukit penuh rumput berembun es ga begitu tinggi mengapit di sisi kanan dan kiri...... sunyi, sepi dan syahdu..... tapi juga ngeri ..........apalagi kalau ditambah berimajinasi hihihi............. 

saya saja sampai membayangkan kalau tempat ini digunakan untuk shooting film kolosal dimana perang besar terjadi dan komandan dari kedua pihak hanya memandang pasukan mereka saling bantai dari kedua bukit yang mengapitnya..... amazing pokoknya......

Pas perjalanan turun, setelah Pos 3 dan puncak menara, ada satu tempat yang sangat khas dengan Gunung Prau dan menjadi favorit para pendaki. Yaitu lokasi dimana hutan Cemara dengan akar pohon  muncul di permukaan tanah dan membentuk tekstur sangat menarik karena saling mengikat satu sama lain di permukaan tanah, lengkap dengan lumut khas ketinggiannya. 
(Kalo di jalur ini) tempat itu dinamakan "Akar Cinta"

Kenapa akar cinta?
Menurut Mas Demang Dieng, Aryadi, tempat itu dinamakan akar cinta karena akar akar di lokasi itu saling terjalin satu sama lain dan lokasinya yang menyajikan pemandangan yang sangat indah. Cocok untuk bercinta....... ehhh.........

By The Way,  sesuai dengan rumus para pendaki, waktu tempuh untuk turun adalah 1/3 dari waktu tempuh untuk naik, perjalanan turun lewat jalur ini hanya 1 jam saja sodara sodara.......
Cepet ya ? padahal jalannya pelan pelan dan menyesuaikan dengan kondisi badan. Bulat........ takut jatuh dan menggelinding turun hehehe......

Pengen nyoba kan ? Sok atuh..... kapan mau naik ke sini ?
Tapi mohon sabar ya ..... nunggu pandeminya bubar..... hehehe......







6.21.2020
Posted by ngatmow

Secuil keindahan surga di Pacitan, bernama Pantai Klayar

Sebelumnya pernah ada yang tanya apa nama salah satu pantai tercantik di pesisir selatan Jawa timur khususnya di Pacitan? 

Pernah ?
Kalo kamu menjawab pantai klayar, maka yang ada di pikiran kita sama man......
Yes. Pantai klayar.......


Pantai Klayar adalah menu wajib bagi para traveler untuk disinggahi di Kabupaten Pacitan. Selain menawarkan panorama alam yang mengagumkan, pantai ini dikenal karena keunikannya. Saking uniknya, ada beberapa ciri khas yang hanya ada di sini dan nggak akan ditemukan di pantai pantai yang lain dimanapun gaes.......

Ada karang raksasa menyerupai Sphinx di Mesir, air mancur yang dapat mengeluarkan bunyi seperti seruling (yang kemudian disebut warga setempat sebagai Seruling Samudra), hamparan pasirnya yang khas, dimulai dari warna yang agak putih pada bagian paling tepi, pasir tersebut kemudian bertransisi menjadi agak kecokelatan setelah mendekati air laut. Gradasi warna tersebut akan sangat jelas dari arah atas, apalagi kalau kita lihat dari pesawat atau kalau kita menggunakan drone. 
Bagus ? Pasti.....

Bukan itu saja gaes.... Dibalut warna laut yang biru serta gulungan ombak pantainya yang cukup besar (karena Pantai Klayar ini merupakan salah satu dari gugusan Pantai Laut Selatan) yang tentu saja  menyimpan sejuta keindahan dan misteri, pantai ini mampu membuat setiap pengunjung terpesona dan bahkan belakangan banyak yang mengatakan pantai ini berkelas dunia lho...... 

And i agree about that.....
halah.........


Konon kabarnya, Keberadaan Pantai Klayar tidak lepas dari kisah masyarakat setempat. Ada dua versi yang mengungkapkan asal-usul nama Klayar. Versi pertama menyebutkan bahwa dahulu kala ada sebuah perahu yang diterjang ombak besar dan terdampar di pantai ini. Perahu yang terombang-ambing ombak sebelum terdampar disebut glayar yang lama-kelamaan berubah menjadi klayar. Dari situlah nama Klayar diambil. Versi kedua mengungkapkan, dulunya pantai ini seringkali dikunjungi penduduk untuk berjalan-jalan, baik di pagi hari maupun sore hari. Klayar berasal dari bahasa Jawa, yaitu klayar-kluyur yang artinya berjalan- jalan. Lama kelamaan, kata itu lebih disingkatkan menjadi klayar untuk mempermudah penyebutan.

Jadi pengen kesana kan?

Lokasi pantai klayar ini sendiri di Desa Kalak Kecamatan Donorejo atau Sekitar 35 km dari sebelah barat Kota Pacitan Jawa Timur. Untuk masuk kesini rute perjalanan melewati jalan sempit, banyak tikungan dan harus hati-hati. Bagi traveler yang menggunakan mobil pribadi sebaiknya kesehatan mobil diperhatikan dulu biar lebih optimal terutama di bagian kaki dan rem. sementara untuk kalian yang menggunakan sepeda motor dan datang bersama pasangan........ selamat, ada banyak tikungan mesra disini. akan banyak adegan mengerem dan akan terasa empuk di punggung.......ehhh.......

Ada dua rute utama traveler untuk bisa sampai ke pantai super menarik ini gaes..........

1. Pengunjung dari Yogyakarta bisa lewat Wonosari Sehabis berwisata di Yogyakarta dan ingin melanjutkan ke Pantai Klayar di Pacitan, kamu bisa melewati Wonosari atau Gunungkidul. Sampai di dua daerah itu, kamu bisa ambil arah lurus ke timur menuju daerah Pathuk. Selanjutnya, arahkan ke Pracimantoro dan lalu ke Giribelah. Kemudian, kamu akan melewati daerah Punung. Sampai di Punung kamu akan menemui papan penunjuk arah ke Pantai Klayar. 

2. Pengunjung dari Kota Pacitan bisa lewat jalur bus Solo-Pacitan Jika kamu datang dari arah kota Pacitan, perjalanan akan terasa lebih singkat. Kamu hanya perlu mengikuti jalur bus Solo-Pacitan. Selanjutnya kamu akan menemui pertigaan Dadapan lalu belok kiri ke arah desa Candi. Sampai di sana, arahkan kendaraanmu ke kanan, lalu lurus saja mengikuti jalan. Kamu akan menemukan pertigaan dengan petunjuk yang mengarahkan ke Pantai Klayar. Jarak yang ditempuh dari kota Pacitan ke pantai ini sekitar 35 kilometer atau 2 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi mengingat rutenya yang berkelok kelok dan naik turun

Penginapan ? ada......
bahkan ada juga yang tepat berada di pinggir pantai. by the way, untuk penginapan yang satu ini kita bisa pesan beberapa hari sebelumnya langsung ke the boss, Mr. Anggris (untuk CP bisa kontak saya dulu hehehe) ..... soal harga pasti aman dan nyaman di kantong kok hehehe.........

So, kapan mau ke klayar ?
buruan lho sebelum ambyar karena viral.......
12.20.2019
Posted by ngatmow

Festival Rawa Pusung Jilid II : Banyak perbaikan sih, tapi ........

Festival Rawapusung kembali digelar gaess....

Event tahunan yang baru dua kali diselenggarakan secara besar di Desa Beji Kecamatan Pejawaran kali ini berlangsung selama tiga hari hari, yaitu hari Jumat sampai Minggu 20-22 September 2019 kemarin dan berhasil memukau ribuan pengunjung di sana lho. Suwer.......


Beda dengan tahun kemaren yang acaranya padat banget pada hari sabtu dan minggunya, tahun ini rangkaian acara agak sedikit diperlonggar gaes.....
Prosesi baritan dan wayang ruwat plus pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar pada hari jumat. Hari sabtu dikhususkan untuk pementasan kesenian warga plus kuda lumping dan kesenian Jepin sedangkan  hari Minggunya hanya untuk fokus pada puncak acara yaitu pemotongan rambut gimbal si anak bajang. Sekedar informasi, kalau tahun sebelumnya ada tiga anak bajang yang dipotong rambutnya, kali ini hanya ada dua bocah yang ikut yaitu Nadia Ulfa (5 th) dari Desa Babadan Kecamatan Pagentan dan Syifa Muasafah (9 th) dari Dusun Genting, Desa Beji.

Masih seperti tahun sebelumnya, rangkaian prosesi puncak yaitu cukuran rambut gembel diawali dengan cara proses pengambilan air di Rawapusung dimana air tersebut akan digunakan untuk  upacara jamasan si anak bajang. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi warga yang berpakaian adat Jawa lengkap dengan menggunakan kendi dan batang batang bambu.

Setelah upacara jamasan, sekitar pukul 11.00 WIB, prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. Syifa dan Nadia diarak menggunakan tandu mengelilingi desa dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir untuk menuju Embung Rawapusung, tempat pelaksanaan pemotongan rambut.

Nah, pas proses arak arakan ini ada beberapa hal yang kayaknya perlu jadi bahan evaluasi gaes.
saking antusiasmenya warga, mereka menggerombol di kanan kiri jalan desa plus ikut dalam rombongan. tapi ..... mereka ga pakai kostum adat gaes........
jadi hasil jepretan foto untuk acara ini bisa dipastikan ambyar......... kan fak banget...............
hehehe.............

Selanjutnya, pada saat sudah ada di lokasi pemotongan, ga ada koordinasi antara pembawa acara sama korlap yang ada di sana. hasilnya, sambutan yang awalnya hanya ada dua yaitu kades dan bupati dalam pelaksanaannya jadi empat, ketua panitia dilanjut kades, camat dan bupati.....
DAMN !!
Bosen gaes.......

Panas juga .... polll........

Emang sih dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, menyampaikan beberapa hal yang bikin adem dan girang warga setempat, salah satunya adalah mengucapkan rasa bangganya bahwa desa Beji mampu menyelenggarakan event yang cukup besar seperti itu. Bupati bahkan berharap agar bisa menjadi inspirasi bagi desa desa lainnya dan bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
"Yang jelas saya salut, event ini sangat bagus dan kreatif," kata Bupati.

Selain itu yang paling ditunggu warga adalah statement Bupati untuk membangun infrastruktur menuju ke desa yang notabene terpencil ini pada anggaran pemerintah tahun depan dan tentu saja hal ini disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengunjung yang hadir.
"Tahun 2020 nanti dari Beji sampai Kecamatan Pagentan via Tegaljeruk akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar,"

Wow  ya ??

hemm............

Hihihihi..........

Nah hal yang paling krodit (dan paling mengecewakan saya pribadi) dari pelaksanaan Festival Rawapusung tahun ini adalah pada prosesi intinya. Pas prosesi ini panitia (dalam hal ini entah siapa yang ikut ngatur di deket MC) mempersilahkan seluruh anggota rombongan pejabat untuk ikut ke tengah embung (lokasi pemotongan)...... padahal kecuali bupati, yang lain kan ga berkepentingan.......
umpel umpelan alias penuh sesak gaes.

DAN FOTONYA AMBYAR tentu saja........

Sedikit curhat sih, sebenarnya kalau mau sebuah acara terpublikasi dengan sukses berkompromilah dengan para fotografer yang ada dilokasi ........ tapi hal itu kayaknya emang nggak (atau bahkan sama sekali TIDAK) dipahami oleh panitia kegiatan budaya semacam ini yang rata rata adalah kaum kesepuhan ..... orang tua....... hahahaha
Pada umumnya mereka akan mementingkan bagaimana caranya "menyenangkan" dan "menghormati" tamu penting (apalagi pejabat) yang hadir tanpa memperhatikan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih penting........

Sebagai contoh, di festival kemarin beberapa orang pejabat dengan pakaian non adat plus topi dipersilahkan untuk menemani pak camat (yang menggunakan baju adat lengkap dengan blangkon) memotong rambut salah satu anak bajang....... lha ini kan 100% bikin keki para fotografer yang berjejer di lokasi.........

Hasil fotonya ?


aSudahlah........

By the way, diluar hal hal tadi pada peyelenggaraan kali ini banyak perubahan positif kok. banyak perbaikan perbaikan di segala sisi. Mulai dari penataan lokasi, inovasi acara sampai dengan acara "klangenan" para fotografer, Jepin.......
Beda dengan tahun kemarin, pementasan jepin kali ini  lebih asik dan fun. Para pemain yang mengalami trans alias kesurupan pun bermain api lebih asik..... dan yang pasti hasil foto teman teman fotografer jadi memuaskan........


Seperti tahun tahun sebelumya yang perlu dipublikasi lebih lanjut gaes, satu hal yang unik dalam penyelenggaraan Festival Rawapusung ini, penduduk desa Beji menyediakan rumah mereka sebagai hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, seniman dan wisatawan secara cuma cuma termasuk fasilitas konsumsi selama mereka menginap lengkap dengan segala keramahan khas pedesaan ala mereka.....



Menarik bukan ?
Semoga tahun depan festival ini masih ada dan digelar dengan semakin baik ya gaes...... biar kesenian dan kebudayaan di desa ini tetap lestari, nggak pernah mati ........


DCF X tahun 2019 ini ...... Super !!!

Pagelaran Dieng Culture Festival (DFC) memang selalu sukses menarik animo pengunjung yang besar setiap tahunnya. Tidak terkecuali pada tahun ini, DCF X 2019 alias Dieng Culture Festival ke 10 Tahun 2019, pun masih dipadati pengunjung yang berniat mendinginkan badan dan merasakan sensasi AC super besar bernama Dieng..........


Ramai dan penuh sesak ? Pasti......
Berisik dan penuh debu ? jelas .......

Mungkin ada yang berpikir ngapain sih berdesakan, kedinginan dan kena debu bertubi tubi seperti itu di Dieng ? kok ya mau ........

Hehehe...... jawabannya pasti beragam kisanak.
dan jawaban tiap orang bisa beragam pastinya ...........

Kalo bagi saya pribadi sih Dieng selalu ga ada matinya. Selalu ada hal yang berbeda di setiap gelaran Dieng Culture Festival setiap tahunnya. Rasa penasaran selalu muncul menjelang pagelan akbar itu. selalu muncul pertanyaan, seperti apa ya suasananya ? bagaimana ya acaranya ? siapa ya bintang tamu misteriusnya ? paginya muncul salju (bun upas) lagi nggak ya ? dan beragam pertanyaan lain yang seolah mewajibkan saya untuk berangkat kesana (selain karena tugas pastinya).

Ada yang menarik dan berbeda pada gelaran DCF X kali ini. Mulai dari awal pembukaan sampai dengan akhir penutupan rangkaian acara bisa kita temui pasukan kebersihan di setiap sudut Dieng. Mereka ber 750 ini menamakan diri sebagai Relawan Jaga Dieng Bersih . Relawan (yang ternyata sebenernya sudah ada sejak DCF IX tahun lalu namun dengan jumlah yang jauh lebih sedikit) ini dengan sigap memunguti setiap sampah yang mereka temui di sudut sudut area masing masing atau dalam bahasa kerennya patroli sampah dengan tidak lupa mengingatkan kepada setiap orang yang ditemui untuk tidak membuang sampah (dan bahkan puntung rokok) sembarangan.

Salut ........

Hal lain yang menarik dari DCF X adalah penjagaan area Festival yang sangat ketat dan rute area festival yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan tersendiri bagi pengunjung "resmi". Pengamanan super ketat ini bisa dilihat di beberapa pintu masuk yang dijaga oleh panitia berseragam dan Satpol PP sehingga pengunjung yang bisa masuk hanya yang sudah memiliki ID Card khusus. Selain itu kali ini mereka ga segan segan untuk menolak siapapun pengunjung (bahkan yang mengaku pers sekalipun) untuk melewati mereka masuk ke gerbang area festival selama 24 jam !! 
Hanya saja, patut disayangkan bahwa harga tiket untuk memperoleh status "resmi" tersebut masih sangat mahal. dan bagi saya itu masih tidak masuk akal ....... kalau saya dalam posisi sebagai pengunjung biasa seperti lainnya......hehehe.

Pelaksanaan DCF yang ke sepuluh ini secara keseluruhan acaranya masih hampir sama dengan tahun tahun sebelumnya. Luar biasa di malam hari, namun ambyar di siang harinya..... ambyar disini dalam artian acara acara yang digelar masih ga begitu menarik. paling hanya  diskusi kopi di salah satu panggung saja yang dapat animo plus dari pengunjung. Lainnya nihil sodara sodara.
Nah hal ini menyangkut juga adanya beberapa pertanyaan dari pengunjung yang rata rata sempat kebingungan terkait stage utama. Soalnya kali ini panggungnya ga hanya satu atau dua, tapi ada empat !!! 

ya .......empat panggung dengan acara yang berbeda dan sama sama menggunakan sound yang sama super kerasnya......... fak banget kan ???
krodit sangat nyata jelas terjadi pada sore hari pada hari sabtu tanggal 3 agustus 2019. Pengunjung yang mulai membludak dibuat bingung dengan 4 panggung yang menampilkan hal berbeda. ada yang band pelajar, ada yang ngobrol kopi, ada yang perhelatan kesenian khas dieng, ada juga yang kosong melompong. Dan parahnya, sejam kemudian ke empat panggung itu bergantian kosongnya..... nah lho.......

Di setiap helatan akbar DCF, Satu hal yang paling ditunggu segenap manusia yang rela berdesakan pada malam harinyaadalah pagelaran Senandung Negeri di Atas Awan yang selalu fenomenal.  Dan itu terbukti pada malam hariitu. Pergerakan wisatawan yang sangat masif disertai dengan tingginya antusiasme mereka, mengakibatkan terulang kembalinya hal hal yang rutin terjadi setiap penyelenggaraan DCF.

  1. Macet parah (di ruas jalan antara Museum Kailasa sampai dengan Pertigaan Terminal yang biasanya hanya ditempung 2 menit malam itu harus ditempuh paling tidak 30 menit untuk sepeda motor dan 1 jam kalo pake mobil)
  2. Pengunjung saling berdesakan (nah kesempatan ini digunakan sebagai alibi oleh para pengunjung mesum untuk menyenggol lawan jenis)
  3. Serta banyaknya pengunjung yang jatuh sakit dan pingsan mendadak karena kedinginan  (maklum suhu udara berkisar antara 8 - 10 derajat celcius saja) dan sulitnya bernafas. Khusus untuk kasus terakhir hal yang patut diacungi jempol adalah kinerja tim kesehatan, relawan, teman teman RAPI serta panitia yang sangat sigap.


Di malam terakhir ini, ada dua hal yang menarik bagi saya. Pertama, antusiasme pengunjung yang sangat luar biasa direspon dengan performa memikat para penampil. Djaduk Ferianto dan Kua Etnika melempar banyak hits. Beberapa lagunya, yaitu Jawa Dwipa dan Swarna Dwipa. Aksi om Djaduk Ferianto ini lalu ditutup lagu Sewu Kuto milik Didi Kempot dengan aransemen yang mengalami perubahan mengikuti gaya om Djaduk bersama Kua Etnikanya.

Performa tidak kalah memikat ditampilkan Secret Guest Star malam itu, Isyana Sarasvati.
Damn.........
Kalau saja saya tahu penampil rahasianya dia, pasti saya mendekat ke stage. dan dengan berbekal kartu sakti 1000 pintu, pasti bela belain selfi sama doi...... ga capek capek naik gunung malam itu cuman buat motret stage dari kejauhan..........
Sembilan hits dengan dibuka pake lagu ‘Kau’  disusul lagu ‘Sekali Lagi’ dan ‘Tetap Dalam Jiwa’ sayup sayup mengalun merdu sampai telinga saya di atas gunung di seberang stage. Dan yang lebih ngeselin lagi adalah ditampilkan juga lagu ‘A Whole New World’ yang notabenenya aku paling suka..........koor oleh oleh kurang lebih 100 ribu pengunjung di depan panggung pula.......... #&%@*

skip ...............dari pada sakit hati ingetnya....... hahaha..................

Hal kedua yang bagi saya yang menarik malam itu adalah naiknya ribuan lampion ke udara. Biasa sih sebenernya, namun kabar bahwa pelepasan lampion diiringi dengan menyanyikan lagu "Tanah airku" bareng bareng itu adalah yang terakhir, membuat momen kali ini berbeda. Syahdu, menakjubkan, luar biasa namun sedih juga ..... apalagi saya nontonnya dari atas bukit di seberang panggung persis.......

tak bisa diungkapkan dengan kata kata ..............



Kabar bahwa Festival Lampion pada malam hari itu sebagai festival terakhir kemudian diklarifikasi dalam  akun Twitter resmi Panitia Dieng Culture Festival, @FestivalDieng, dimana disitu diunggah sebuah video para peserta Dieng Culture Festival 2019 ketika bersama-sama melepas lampion. Bersama video tersebut, panitia juga menuliskan ucapan terima kasih atas antusias peserta Dieng Culture Festival serta keterangan bahwa festival lampion pada Dieng Culture Festival 2019 adalah yang terakhir di event tahunan itu.
"Terima kasih Indonesia. Ini adalah tahun terakhir Dieng Culture Festival dengan Lampion. Tahun depan kita tidak akan menggunakan lampion lagi. Terima kasih yang telah mendukung kami. Kalian yang terbaik dan sampai jumpa di @jazzatasawan 2020" 

Berarti tahun depan sepi dong ?
Belum tentu sih, mungkin akan ada inovasi lain lagi yang akan jadi kejutan buat wisatawan dan pengunjung DCF. Kita tunggu saja........

Hari berikutnya, rangkaian upacara puncak Dieng Culture Festival digelar tanpa ada perubahan yang berarti dari tahun tahun sebelumnya. Diawali dengan kirab bocah bajang, upacara jamasan sampai dengan pemotongan rambut di komplek candi Arjuna, masih persis sama. Hanya saja kali ini penjagaan lebih ketat dan pengunjung juga lebih tertib mengikuti jalannya proses.

Namun ada beberapa hal yang mungkin perlu dicermati, dikoreksi ataupun disikapi lebih lanjut. Ketika proses pemotongan rambut, karena jumlah anaknya yang banyak serta "hanya seperti itu saja", pengunjung yang sudah kepanasan akhirnya bubar jalan. Parahnya lagi ketika mereka adalah grup wisatawan dalam bentuk rombongan, mereka tanpa ragu dan tanpa memperdulikan sakralnya prosesi malah justru melakukan foto keluarga sambil teriak teriak gak jelas. Damn..............

Semoga mereka baca tulisan ini gaes ........

Nah selesai upacara cukuran rambut gembel, selanjutnya dilakukan larungan alias menghanyutkan potongan rambut tersebut ke sungai. Kalau biasanya di telaga warna, tahun ini dilakukan di Telaga Balekambang. Menurut Mbah Manto, pemangku adat Dieng, Telaga Balekambang sebenarnya lebih tepat dibandingkan dengan Telaga Warna sebagai tempat pelarungan. Sebab Telaga ini langsung berhubungan dengan sungai Serayu yang mengarah ke Laut Selatan.

By the way, kalo menurut saya sih sama saja. Sebab sama sama susah buat motretnya.....kalau di telaga warna terlalu jauh jaraknya, kalau di balekambang ga ada tempatnya, sebab hampir seluruh areanya diselimuti gulma dan lain lain yang tentu saja ga bisa diinjak dan digunakan sebagai tempat motret hehehe..............

After all, secara keseluruhan sih penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke sepuluh (DCF X) kali ini menurut saya sangat baik. Banyak perubahan yang terjadi dan mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Juga sudah dipersiapkannya proses proses antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi dalam pelaksanaannya.
Yang jelas, semoga di tahun depan panitia penyelenggara, pokdarwis, warga masyarakat serta pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara bisa bekerjasama lebih nyata dan intensif agar Dieng Culture Festival XI 2020 bisa lebih wow lagi, tanpa macet lagi, tanpa kendala .......... dan tentu saja harga tiketnya lebih murah dari yang sudah sudah hahahaha.....................










Curug Sikopel..... tragis

Curug Sikopel. Begitu nama yang tertera di papan daftar destinasi wisata Kabupaten Banjarnegara. Airnya besar dan merupakan salah satu air terjun yang cukup tinggi di kelasnya dengan landscape alam di sekitarnya terlihat sangat indah. Dan begitu pertama kali melihat fotonya, rasa penasaran itu seketika muncul layaknya perasaan orang jatuh cinta ...... halah .......

Photo Credit : AndriKharisma
Sekedar cerita sodara sodara, Curug Sikopel ini berada di Desa Babadan Kecamatan Pagentan, atau kurang lebih 30 kilometer dan 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Banjarnegara. Jauh ya ? emang jauh sih, tapi kalau selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan dan sambil membayangkan keindahan air terjun setinggi 70 meter itu insyaalloh ga bakal kerasa jauh deh ..........suwer.....

Dan itulah yang juga terjadi pada saya ..... hehehe......
Dengan sejuta harapan akan menemukan kepuasan saya mencari waktu senggang untuk bisa meluncur ke lokasi dengan sejuta bayangan indah.

Tapi .....

Sesampainya di lokasi parkir wisata, saya kaget sekaligus kecewa dengan apa yang saya lihat dan rasakan. Seketika saya langsung menjadi ilang feeling sodara sodara. Ambyarrrrr........

Kenapa ? sebab begitu masuk lokasi parkir kita akan menjumpai sebuah tanah lapang yang berukuran (mungkin) hampir sebesar lapangan voli dengan rumput yang tumbuh tinggi hampir selutut orang dewasa. Dan artinya lokasi ini tidak pernah dirawat dan dibersihkan oleh siapapun.......


Lanjut ke gerbang masuk, uang yang sudah dipersiapkan untuk tiket masuk sebesar Rp. 2000,- ternyata tetap utuh dan tidak terpakai. Sebab gerbangnya tanpa penjaga dan sudah berbentuk mengerikan. Semacam bangunan tidak terpakai selama belasan tahun hehehe.......  Harus diakui, memang sebenarnya masih ada sisa sisa bekas taman yang dibuat sebelumnya. Namun karena tingginya rumput liar, taman itu lenyap...... ya lenyap sodara sodara......


Hanya berselang kurang lebih 20 langkah dari gerbang masuk, kita akan menemukan sebuah peninggalan papan nama penanda yang sudah mulai hilang,dilanjutkan dengan jalan beton yang semula mulus lambat laun berubah wujud menjadi jalan tanah yang licin dan sudah mulai terkikis air hujan ..... lho .........dan seketika itulah keinginan saya untuk turun ke bawah (area sekitar air terjun) menghilang........

Balik kanan lalu pulang......

Eh sempat motret sebentar ding. Pas pake lensa wide 15-45 sih hasilnya memuaskan, curugnya bisa dikatakan bagus dan berkarakter. Tapi pas pake tele 70-200 mm, tumpukan sampah di sekeliling lokasi air terjun sangat mengganggu pemandangan..........

So d*mn that  right ?


Ada banyak pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya..... kok nggak ada yang merawat lokasi itu ya ? yang bertanggung jawab siapa sih sebenernya ? apa nggak ada koordinasi yang baik antara dinas dengan warga sekitar ? dan pertanyaan pertanyaan yang lain yang ngga akan cukup kalau dituliskan disini .......pokoknya faakkkk .............

Terlepas dari itu semua di tengah era informasi yang begitu cepat ini, sudah seharusnya pihak pihak yang berkepentingan baik aktif maupun pasif ikut memikirkan "kelangsungan hidup" dan kelestarian tempat wisata alam semacam ini. Kita nggak bisa dong nyalahin pemerintah (dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) yang mengampu satu kabupaten dengan segala "pernak pernik permasalahannya". Mereka sudah terlalu sibuk man ...... jangan lagi beralasan pemerintah nggak memperhatikan kalian...... coba tanya pada diri masing masing, sudah semaksimal apa kalian bantu pemerintah disini ?? apa apaan itu ?? 

Mikir ......


Mungkin, ada baiknya kalau yang berperan aktif disini adalah warga masyarakat atau pokdarwis atau bahkan relawan setempat semampunya (tanpa mengharapkan hasil dulu tentunya) menata lagi, mempertahankannya dan kemudian mempromosikan lewat dunia maya biar tanpa biaya.

Kenapa dunia maya ? ya jelas dong..... sekarang lagi jamannya gitu. 
Semakin kita gencar promosi, baik itu mengunggah foto foto terbaru, ngadain event juga disana, atau bahkan mengadakan lomba foto dengan menggandeng jagoan jagoan fotografi landscape yang jumlahnya banyak di banjarmegara ini, maka akan semakin naik lagi "rating" Curug Sikopel ini. Efeknya kemudian adalah wisatawan dateng lagi dan pengelolaan tempat ini hidup lagi........ dan terakhir warga sekitar akan dapat penghasilan lagi...... manis bukan ?

Yang jelas sih, sudah saatnya kita jangan saling menyalahkan pihak lain demi mencari kebenaran soal itu (dan tentu saja berlaku untuk permasalahan yang lainnya). Sikap bijak, keikhlasan dan perilaku ringan tangan kitalah yang akan menentukan posisi kita dimata orang lain. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Curug Sikopel (dan lokasi lokasi wisata lainnya) dimana sedang mengalami kondisi "sekarat" ..... 

Mari kita selamatkan mereka dengan cara yang kita bisa ....... plus keikhlasan dan sikap bijak kita masing masing pastinya .......... 



Karimunjawa dan cerita jatuh hati padanya

Pernah bermimpi piknik naik perahu besar selama lebih dari sejam untuk kemudian berbaring di pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih dan angin yang sepoi sepoi serta background pemandangan yang sempurna buat selfi ....... tapi dengan biaya yang ga akan nguras isi dompet (yang emang pas pasan) ini ?
Ngimpi ?

Hahaha bukan ngimpi gaess.......
Kita bisa kok kayak gitu, jalan jalan tanpa nguras kantong dalam dalam. Caranya ?
Rubah rencana travelingmu (kalau punya hehehe.....) ke Kepulauan Karimunjawa ......

Karimunjawa ?

Yes...... Kalo bahasa ndesonya saya, Karimunjawa Island ......


Karimunjawa merupakan kepulauan yang terletak di Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Laut Jawa, 83 km sebelah Utara Jepara. Karimunjawa pada dasarnya terdiri dari 27 pulau namun tidak semuanya berpenghuni hanya ada 5 pulau saja yang ada orangnya. Dan biasanya hanya pulau utama saja yang dijadikan destinasi tujuan wisata pokok karena hanya disanalah fasilitas (cukup) lengkap bagi wisatawan sudah tersedia.

Karimunjawa memiliki 76 jenis terumbu karang dan 562 jenis ikan hias lho gaes, sehingga tidak salah apabila kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Hal lain yang bisa dinikmati disini adalah hutan mangrove nya yang aduhai serta tempat trekking yang tepat untuk observasi burung. Burung beneran lho ya ..... bukan yang lain hehehe ..........

Konon, kata Karimunjawa berasal dari bahasa jawa " kremun kremun saking tanah jawi" yang kurang lebihnya berarti sesuatu yang samar apabila dilihat dari tanah jawa..........begitu .......

The Carribbean of Java, mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutnya. Disamping karena pasir putihnya, perairannya yang bening, tenang, dan keindahannya yang eksotis, pulau ini bisa membuat kita gagal move on dan selalu pengen balik ke sini lagi...... dijamin.....

Emmm ...... dan itu terjadi pada saya ........ hehehe ...........

Berangkat dari Banjarnegara hari Jumat malam sekitar jam 01.00 alias Sabtu dini hari dengan menggunakan minibus, rombongan kami sampai di pelabuhan penyeberangan di Jepara jam 7.00 alias 6 jam perjalanan (dipotong sholat Shubuh sebentar di Masjid Agung Demak).

Kenapa berangkat sepagi itu ?
Begini gaess, untuk menyeberang ke Karimunjawa hanya ada 2 kapal jenis feri, yaitu Express Bahari dan Siginjai. Keduanya hanya memiliki 1 jadwal keberangkatan tiap hari. Jadi kalau ketinggalan, terpaksa menunggu keesokan harinya. Ini juga menjadi satu faktor penentu berhasil tidaknya kita menyeberang pada hari itu, sebab tiket harus dibeli sendiri on the spot karena belum ada sistem online booking sehingga harus antre dari subuh jika tidak mau kehabisan. Untuk itulah makanya kami menggunakan jasa biro perjalanan, tour and travel. ..... Aman.......

Oya, sebenernya bisa sih kalau kita pengen ke Karimun tanpa harus ke Jepara lebih dulu. Alternatifnya yaitu berangkat dari Semarang (lebih baik pergi di hari Sabtu atau Kamis karena hanya terdapat 1 kapal saja yang berangkat dari Semarang yaitu KMC Kartini). Selain itu ada juga pesawat Cessna yang berangkat dari Semarang di hari Kamis dan Jumat langsung menuju Bandara Dewadaru yang ada di Karimun sana.

Skip ......

Adegan selanjutnya adalah sebelum masuk kapal kami sempat beristirahat di sekitar pelabuhan sambil beristirahat sembari menikmati hembusan angin laut yang semilir asik, dan kemudian bertambah asik lagi ketika di salah satu sudut warung terlihat ciptaan Tuhan yang istimewa dengan rambut lurus sebahu (lebih dikit.....) dijepit pake jepitan rambut warna pink dan membawa sebuah tas traveling warna orange bertuliskan Indonesia off-road eXpedition sedang minum teh sambil ngobrol cantik bersama seorang temannya........hihihi .........menarik.

Tepat pukul 10 pagi, kami masuk kapal cepat dan membelah lautan selama 2 jam perjalanan tanpa sempat merasakan goyangan ombak karena air laut....... sebab rasa capek perjalanan darat mengharuskan kami untuk memejamkan mata. Seketika.......

Dan .......

Tiba tiba kami berhamburan keluar dari kapal bagai seorang bocah disuruh main hujan hujanan. Pemandangan nan indah terhampar di depan mata kami. Air laut yang bening, pasir yang putih serta langit yang membiru seolah menyambut kami di Karimunjawa ....... pokoknya ...... wow


Setelah beristirahat di homestay, kami naik perahu wisata yang sudah dibooking oleh biro wisata kami. Perahu yang hanya muat sekitar 15-20 orang itu dengan cepat membawa kami menuju objek wisata khas Karimunjawa. Bermain di pasir putih Pulau Geleang yang luas dan menakjubkan..... dilanjut snorkling di tengah laut sekitaran Pulau Menjangan Kecil......... dan main air di pantai Tanjung Gelam sambil menikmati sunset yang menyayat hati ...... ehh.......


Sekedar tips sodara sodara, untuk bisa puas menikmati traveling di Karimunjawa yang mengharuskan kita mengunjungi pulau pulau kecil di sekitarnya (ada 27 pulau kecil dengan hanya 5 pulau saja yang berpenghuni), kita bisa menyewa perahu motor dengan tarif sekitar 400–600 ribu. Satu perahu motor bisa mengangkut penumpang maksimal 20 orang. Cocok kalo datang berombongan seperti kami. Kalau kebetulan bepergian dalam grup kecil 2-3 orang dan ingin mengunjungi pulau-pulau kecil sekaligus snorkeling, bisa juga kok kita bisa mengikuti tur yang disediakan oleh penduduk lokal. Biasanya sih kita akan digabung dengan kelompok tur lain (sekaligus kesempatan cari cari pandangan seger lain..... hihihi.....). Tarif berkeliling pulau-pulau dengan perahu, snorkeling, plus makan siang bisa kita dapatkan dengan tarif sekitar 150-200 ribu per orang namun lebih jelasnya, silahkan tanya ke pengelola penginapan tempat bermalam, siapa tahu bisa dapat harga yang lebih murah ....jangan lupa nego lho ya!).


Tips berikutnya adalah ketika kita berda di Karimunjawa, JANGAN MAGER apalagi BAPER.......
Sebab banyak sekali tempat menarik di sekitaran pemukiman penduduk yang sayang untuk kita lewatkan begitu saja.

Contoh kecil nih..... Taman Alon alon Karimun.......
Mungkin yang dimaksud alun alun kali ya, tapi berhubung tulisannya kaya gitu ya, gitu deh......hehehe......
Malam hari pas sudah tidak ada acara paketan dari biro perjalanan ada baiknya kita menunjungi tempat ini gaes...... sebuah tanah lapang seukuran separo lapangan bola (kalau di jawa) dimana disitu ternyata adalah surganya makan seafood ....... yes. seafood......
Kepiting, udang, cumi, kakap, sampai kerang semuanya ada. Pengunjung diberi kesempatan untuk memilih dalam keadaan segar, kemudian pedagang akan langsung mengolahnya sesuai permintaan.....
Enak ? pastinya kisanak...... bahkan saya makan kerang sampai satu nampan full hahahaha......... 
it's my favourite seafood ............

Habis makan seafood, pengunjung akan dimanjakan oleh aneka oleh oleh khas laut seperti kering ikan, terasi, ebi, dan sebagainya. Kita bisa juga membeli oleh oleh berupa beragam jenis pakaian bertuliskan Karimunjawa island yang tentu saja peletakannya masyaalloh noraknya..... hahhaha........

Skip.......

Pagi hari, ada satu spot sunrise yang cukup menarik dan sedang dalam proses penataan oleh penduduk setempat yaitu Pantai Bobi. Nggak tahu deh kenapa dinamakan itu, boyo bingung mungkin, atau apapun itu. Yang jelas untuk sampai ke pantai ini memakan waktu hampir 30 menit dari area pemukiman dan home stay, atau sekitar 5-10 menit dengan menggunakan sepeda motor. 

Pantai Bobi ini adalah sebuah pantai berpasir putih yang terletak di tengah tengah pepohonan di dalam hutan. Airnya sangat bening, pantainya bersih, dan viewnya sangat istimewa. Apalagi ditambah dengan momen tak terduga bisa ketemu sama pemilik tas orange di hari sebelumnya...... hemmm.....
And then, perpaduan warna hijau dari pepohonan, putih dari pasir, biru dari langit, orange dari matahari terbit dan syahdu dari senyumannya itu ........pokoknya indah banget........ rasanya ga pengen beranjak meninggalkannya deh. Suwer ......


Menjelang siang biasanya pengunjung akan diarahkan ke bukit love. Katanya sih belum ke Karimun  kalau belom foto sama patung prasasti bertuliskan KARIMUNJAWA disitu. Juga ada prasasti bertuliskan LOVE  yang cocok untuk ber alay alay sebentar......

Tapi ..... kunjungan ke lokasi ini nggak bisa berlangsung lama karena rombongan biasanya harus segera berkemas dan menuju ke pelabuhan. Dimana pada jam 11 siang sudah ditunggu kapal cepat untuk kembali menuju kehidupan sebenarnya lagi di pulau jawa .......

yang jelas, akan ada banyak sekali cerita, kenangan dan romansa yang melekat di isi kepala kita meskipun hanya beberapa saat di Karimunjawa. So, mari agendakan kesana lagi gaes, eksplore lebih banyak surga yang ada, nikmati lebih banyak hidangan malamnya sambil kita jaga kebersihan lautnya agar tetap bening, tetap indah dan tetap cantik mempesona seperti dia ......... ehh ..........


12.12.2018
Posted by ngatmow

Sam Poo Kong, monumen lintas agama pemersatu bangsa

Jalan jalan ke Semarang rasanya ngga akan lengkap kalau kita nggak mampir ke daerah Simongan gan. Hanya beberapa menit saja kok dari Tugu Muda dan Lawang Sewunya (kalau lewat RSUD Dr. Karyadi lho ya) menuju ke arah Jalur keluar Kota Semarang ke arah barat (Kendal, Batang, dan seterusnya sampai ke Jakarta)

Lha emang di sana ada apa sih ?

Disana ada sebuah klenteng yang ikonik dan punya nilai historis sangat menarik,...... Klenteng Sam Poo Kong ...... pernah dengar ?

Belum ?
hahaha ........ berarti anda kudet dan kurang piknik kisanak .........

Klenteng ini sudah sangat terkenal kok, lintas daerah, lintas agama, lintas budaya bahkan lintas negara lho ........


Kalo kita berkunjung kesini, nuansa Cina jaman kekaisaran jaman dahulu sangat kental terasa man. Seperti umumnya bangunan kelenteng, Kuil Sam Poo Kong ini didominasi warna merah yang tidak saja menghiasi kelentengnya, tetapi juga pohon pohon menuju pintu masuk.

Kalo kita berkeliling di dalamnya, ada beberapa bangunan berarsitektur khas Cina yang berdiri dengan megah mengelilingi sebuah tanah lapang. Juga sebuah patung perunggu seorang Laksamana Cheng Ho yang berukuran 10,6 meter berdiri dengan sangat gagah.

Siapa sih Laksamana Cheng Ho itu ?

Begini gaes, dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma. Begitu kira kira .....

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tionghoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Kembali ke komplek Klenteng ya ........

Bangunan inti dari kelenteng Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.

Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari dan pintu masuknya dijaga oleh petugas keamanan. Hanya yang bermaksud sembahyang saja yang diijinkan masuk sedangkan wisatawan yang ingin melihat lihat bisa melakukan dari balik pagar.

Sejak Renovasi besar besaran tahun 2002 dan selesai 2005, yang menelah biaya 20 miliar, Sam Poo Kong menarik perhatian lebih banyak orang untuk berkunjung. Di halaman yang cukup luas di depan kelenteng, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho, yang cukup menarik untuk dinikmati. Di sinilah atraksi atraksi kesenian berupa tari tarian, barongsai atau bentuk kesenian lain digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China.


Setiap bulan ke-6 hari ke-29 Imlek, dilakukan arak-arakan menggotong duplikat patung Laksamana Cheng Ho, yang dikenal dengan sebutan Sam Poo Tay Djien, dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong. Arak-arakan ini dimaknai sebagai peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Hari hari besar lainnya yang dirayakan di sini termasuk di antaranya Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Kedatangan turis asing, terutama dari China, menunjukkan bahwa Sam Poo Kong dikenal luas di dunia. Berdasarkan uang sedekah yang ditinggalkan pengunjung, Kuil Gedung Batu ini juga sering dikunjungi turis turis asing dari Amerika, Rusia, Brazil dan negara negara lain.

Nah kapan nih mau berkunjung ke sini ?
Jangan lupa, siapkan catatan dan kamera ya..... karena banyak sekali yang bisa diabadikan disini dalam bentuk tulisan maupun foto gaess....

*dari berbagai sumber -- foto koleksi pribadi*
11.20.2018
Posted by ngatmow

Festival Payung Indonesia V di Borobudur

Pernah mengunjungi sebuah pagelaran seni tingkat nasional yang banyak payungnya ? 
Pernah dengar soal Festival Payung Indonesia ?

Festival Payung Indonesia adalah sebuah Event yang masuk Calendar of Event Kementerian Pariwisata dimana dihadiri oleh beragam payung Nusantara dan mempertemukan perajin payung, seniman, pekerja seni dan komunitas kreatif untuk melestarikan payung tradisional Indonesia. Selain itu mengeksplorasi tradisi payung Indonesia hingga batas terjauhnya dengan melibatkan partisipasi beragam masyarakat.


Gelaran Festival Payung Indonesia ke V pada tahun 2018 ini digelar di tempat asalnya, ibu segala payung yakni Borobudur. Dengan dipusatkan di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur Magelang pada 7-9 September 2018 Festival Payung Indonesia 2018 kali ini mengambil tema "Lalitavistara". Yaitu penggambaran cerita payung pada salah satu relief di Candi Borobudur. Tepatnya yang merayakan payung sebagai penanda kelahiran, berbagai tahap kehidupan, keagungan dan kematian. Payung menjadi simbol sekaligus penanda dalam siklus kehidupan dan perekat keberagaman. Di samping itu Candi Borobudur sendiri merupakan simbol inspiratif, Sebuah tempat yang pas untuk mencari inspirasi baru dan diharapkan menjadi pemersatu beragam latar belakang agama, politik, sosial, dan budaya yang ada di Indonesia.

Festival Payung Indonesia 2018 Borobudur ini dibuka oleh Arak-Arakan Payung Nusantara yang mengelilingi Borobudur, menapaki kembali jalan purba yang dilalui para peziarah dunia bersama masyarakat sekitar. Selanjutnya digelar pentas tari dan musik,workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint, dan pameran payung lontar. Selama tiga hari berbagai ragam tradisi payung dari pelosok tanah air, seperti Jepara, Banyumas, Tasikmalaya, Tegal, Kendal, Malang dan Juwiring (Klaten), Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya ditampilkan. Selain seni payung, beragam grup tari, musik, fashion dan komunitas kreatif dari Lumajang, Padang, Makassar, Banjarbaru (Kalsel), Bengkulu, Lampung Utara, Sumba Timur, Bali, Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga dipamerkan di venue. Tidak ketinggalan para perancang busana muda negeri ini juga ikut berpartisipasi dengan memamerkan karya karya mereka.

Partisipan festival tidak hanya dari dalam negeri lho gaes....... Ada juga pertisipan dari Jepang, India, Pakistan dan Thailand. Khususon untuk delegasi Thailand kabarnya memang sudah rutin hadir setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Provinsi Chiang Mai, Thailand) sudah melakukan hubungan sister-festival sejak 2016. Visinya pun sama. Yaitu menuju Asian Umbrella Community. 

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur. Malam hari pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Di puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).


Pada Festival Payung Indonesia di Borobudur kali ini, bisa dikatakan adalah sebagai festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukan bagi masyarakat kreatif. Komunitas lokal dilibatkan sejak dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan dan menyambut pengunjung dengan terbuka. Kemeriahan juga diselenggarakan di lima Balkondes (Balai Perekonomian Desa) yang tersebar di Wanurejo, Ngadiharjo, Borobudur, Karangrejo dan Bumiharjo. 

Puas ?
Tentu saja kisanak. Pagelaran yang istimewa ini secara tidak langsung membuka mata kita bahwa sebenarnya kekayaan bangsa ini seolah tidak ada habisnya. Hanya satu hal saja " Payung ", ternyata beragam hal bisa ditemukan dan membuat mata kita takjub. Bahkan setelah diabadikan menjadi sebuah foto pun pagelaran ini masih terasa ke "gebyar"annya.......so amazing

So, mau datang pada Festival Payung Indonesia ke VI tahun 2019 depan ?
yuk gaes .........


Efek samping mlipir ke sini kalo versi saya sih bisa begini .........
Bisa ketemu sama kakak rusuh idolah  ........ Donni L Anggoro

9.12.2018
Posted by ngatmow

Sejenak di MAJT, Masjid Agung Jawa Tengah

Sudah lama sebenernya pingin piknik ke suatu tempat yang nggak kaya biasanya, kalo biasanya saya perginya ke gunung, sawah, waduk, lapangan, dan sebagainya yang berbau bau alam, suatu ketika tuh pinginnya ke tempat yang beda gaes........Kota.....

Yes....... kota besar yang banyak anunya ...... ehhh

Jangan salah sangka dulu, jangan ngeres dulu kisanak.....
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........

Singkat cerita, Pucuk dicinta ulampun tiba sodara sodara, mungkin karena nasib lagi mujur atau mungkin sudah dituliskan dalam catatan hidup  saya oleh Nya, beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan menyambang kota kenangan (jaman masih bujangan), Semarang. eitss.......Jangan kira saya cuman sekedar mlipir dan jalan jalan ga jelas lho sodara sodara, ini tugas dinas lho ..... resmi dan halal  hehehe......

Hal pertama yang ada di kepala saya selama di perjalanan menuju kota itu adalah niat untuk motret di beberapa tempat (yang sedari jaman masih ganteng dulu menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar) yaitu Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Poo Kong, Tugu Muda plus Gedung Lawang Sewunya, serta Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal sebagai Vihara Buddhagaya Watugong.

skip........

Singkat cerita, setelah semua beban tugas terselesaikan maka saya langsung pesen ojek online (sopir kantor saya tinggal di suatu tempat yang bisa menjamin kebahagiaannya lahir dan bathin........ you know abaout that ? aw aw aw .....) untuk menuju target saya yang paling jauh dulu. Masjid Agung Jawa Tengah alias MAJT.
Masjid yang terletak di Jl. Gajah Raya No. 128 Sambirejo, Gayamsari Semarang ini ga jauh dari Simpang Lima lho. Ga sampai setengah jam dari Mall Ciputra kalo naik sepeda motor atau 
  • 4 Km dari pusat Kota Semarang melalui Jl. Semarang-Purwodadi (dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 15 menit) 
  • 4 Km dari Stasiun Tawang melalui Jl. Citarum (15 menit) 
  • 8 Km dari Bandara Ahmad Yani melalui Jl. Jendral Sudirman (24 menit) 
(perkiraan waktu tempuh menggunakan sepeda motor dan tanpa kendala lho ya)

Tapi.......  sangat tidak direkomendasikan untuk ke lokasi pada saat sore hari sebab jalan ke masjid ini pasti macet parah. menyebalkan..... and i hate it........


Apa sih yang bikin masjid ini menarik ?

Yang pertama, sebagai seorang muslim saya insyaalloh punya ikatan bathin yang kuat terhadap masjid. Karena bagi seorang muslim, masjid adalah rumah dan tempat untuk kembali (terserah mau ditafsirkan bagaimana ya......bebas). Selain itu  ada satu hal lagi yang muncul tiba tiba dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya pingin menjalankan Sholat Maghrib di masjid ini gaes....... suwer......

Yang kedua, masjid ini merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia lho. Luas lahannya saja mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk (untuk shalat) 7.669 meter persegi dengan rancangan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. So, sangat menarik untuk dipotret dan dipamerkan di halaman instagram kan ? hehehe ......

FYI, Masjid Agung yang luar biasa ini ceritanya dulu diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang disebut sebagai Menara Al Husna atau Al Husna Tower.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter ini pada bagian dasarnya terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dan di lantai 19 digunakan untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Dan tahu nggak gaes, pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha lho......



Di bagian depan masjid, Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di bagian gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Masih ada lagi kisanak, di sini ada Al Qur’an raksasa yang merupakan tulisan tangan karya H. Hayatuddin, yaitu seorang penulis kaligrafi dari Wonosobo dan ada juga replika bedug raksasa yang dibuat oleh santri dari Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.

Mantab kan ???

Alraight, setelah beberapa waktu mengambil gambar adzan Maghrib pun berkumandang. Merinding gaess....... langit memunculkan semburat merah kebiruan dengan kombinasi sinar lampu yang luar biasa indah. Suasana yang khikmad serta alunan ayat suci Al Quran yang mengalun syahdu membuat hati ini serasa mau runtuh...... Bahkan seluruh raga ini seolah tidak mau diajak untuk beranjak pergi setelah jamaah shalat Maghrib selesai ........

Sebuah pengalaman spiritual yang tidak terbayangkan........
Subhanalloh .......



Dan suatu saat nanti saya akan kesini lagi...... pasti !!

Festival Dewi Gita, memulai sebuah tradisi ....

" Monggo pak .... " kata seorang wanita setengah baya berbaju jawa lama sambil menenteng sebuah bendho alias pisau besar mirip parang yang bentuknya seperti ibu hamil....... membesar di bagian tengah hehehe........
" Nggih bu..... badhe tindak pundi ? " jawabku singkat
" badhe teng curug pak, nderek jamasan gaman ... " sahut ibu ibu itu sambil mempercepat langkahnya  menyusuri jalan setapak yang naik turun khas pegunungan di depan kami.

Ibu itu nggak sendiri sodara sodara, dia bersama puluhan orang lainnya sedang bersama sama menuju ke arah Curug (Air Terjun) Genting di Desa Giritirta, sebab di sana sedang berlangsung Upacara Jamasan Gaman yang merupakan salah satu rangkaian dari Festival Dewi Gita (Desa Wisata Giritirta). Festival desa yang baru pertama kali diselenggarakan dengan inisiasi dari Tim KKN UGM di desa Giritirta.


For your infornation Guys, Desa Giritirta sebenarnya pada tahun 2015 memang sudah didapuk sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Banjarnegara. Keren sih, tapi pada kenyataannya tidak ada kegiatan apapun yang menunjang istilah " desa wisata " itu sendiri, dan bahkan sebagian besar warganya justru tidak tahu bahwa desa mereka adalah sebuah desa wisata. Aneh kan ?

Saya dan penduduk secara beriringan menuju ke lokasi kurang lebih selama sepuluh menit dari pusat desa. Sesampainya disana ternyata sudah menunggu  delapan orang laki laki yang dituakan di desa dengan berpakaian hitam dan kain putih diikatkan pada bagian pinggang. Masing masing dari mereka membawa sebuah alat pertanian seperti golok, celurit, cangkul dan lain sebagainya. Juga puluhan warga masyarakat baik tua muda, pria dan wanita yang menenteng peralatan pertaniannya masing masing. Tujuannya sama, Jamasan Gaman atau Mencuci Senjata.........

What ? Senjata ?
Tenang sodara sodara, senjata yang dimaksud disini adalah senjata yang digunakan untuk bertani, bukan senjata yang digunakan untuk berperang dan melukai orang lain (meskipun sebenernya perlatan pertanian pun bisa digunakan juga untuk itu kan hehehe......) dan bukan juga alat alat lain yang berkaitan sama mistis seperti keris, tombak dan sebagainya........ kalo kata orang sih takut menjurus ke hal hal syirik ..........

Bukan ..... bukan seperti itu kok .......

Rangkaian prosesi Jamasan Gaman ini diawali dengan sambutan Kepala Desa, Mister M. Yusuf, yang menegaskan bahwa acara ini (mencuci alat pertanian secara bersama sama di bawah air terjun Genting) adalah sebuah simbol yang bertujuan untuk mengajak warga agar lebih guyub rukun, tulung tinulung, bangga serta mau merawat lokasi wisata seperti Curug Genting yang ada di desa mereka itu. Selain itu diharapkan bahwa warga masyarakat di kemudian hari ikut menjaga aliran sungai yang mengalir di sepanjang desa agar tidak mengalami kerusakan dan tercemar.

Pada kesempatan itu, Camat Pejawaran juga berkenan untuk ikut mencuci dan mengasah sebilah parang milik Mbah Bambang yang merupakan tokoh dan sesepuh desa. Dengan diikuti oleh warga masyarakat yang hadir di lokasi, beliau nyemplung ke kali dan mencuci gaman bersama sama. Dalam kesempatan itu beliau berpesan agar kegiatan semacam ini dilestarikan dan dilanjutkan di tahun tahun berikutnya sebagai magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke desa Giritirta, karena bagaimanapun Tradisi dan Lokasi untuk hal tersebut sudah sangat mendukung. Hanya tinggal pengembangannya saja.

Setelah selesai proses pencucian, acara selanjutnya adalah mengarak (bukan arak yang itu lho gaess hihihi....) Gaman tersebut menuju ke pusat kegiatan Festival Dewi Gita di lapangan sebelah balai desa. Dengan diiringi oleh tabuhan musik kentongan dan lenggak lenggok tarian para penari Dewi Gita, arak arakan itu berjalan kurang lebih 1 kilometer dengan disaksikan oleh ratusan warga yang berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan desa.

Sesampai di lapangan, dilakukan acara serah terima dari rombongan pembawa tadi kepada pemuda desa sebagai perlambang sebuah harapan akan kontinuitas pertanian secara turun temurun di Desa Giritirta, dan sekaligus sebagai simbol ajakan para orang tua jepada generasi muda untuk tetap bercocok tanam.

Setelah rangkaian itu selesai barulah beragam kesenian tradisional dimulai. Ada Jepin, Kuda Lumping, Tari Dewi Gita sampai Organ Tunggal bergantian menghibur masyarakat sambil menunggu proses penjurian gunungan hasil bumi.


Sekitar jam 2 siang, penjurian gunungan hasil bumipun selesai. Dan dengan didahului bunyi Gong, massa pun ambyar sodara sodara .......... semuanya menyerbu ke arah gunungan. Saling berebut, saling sikut namun semuanya sambil tertawa bahagia. Karena mereka sadar bahwa pesta ini untuk mereka.... yes Festival Dewi Gita ini tidak lain dan tidak bukan untuk masyarakat seluruhnya.....Bukan untuk segelintir orang saja...... apalagi cuma untuk Kepala Desa saja hehehehe......

" Tahun ngajeng wonten malih bilih pak, seneng jane nek wonten rame rame kados niki "

" Ngenjang kulo tek nderek njamas pacul lah teng curug.Bismillah sareng sareng sederek ...... "

" Saya sama teman teman pemuda siap menyelenggarakan tahun depan mas...... dengan syarat ******************** sensor **********************, mohon dibantu ya ...... "

" Niku jamasane wonten malih pak ? tek mendet arit riyin "  


Menarik dan syahdu lho sodara sodara, sumpah..... bisa dibuktikan dari testimono testimoni tadi. Dan saya sepakat soal itu. Hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi lagi oleh panitia desa untuk pelaksanaan tahun tahun berikutnya.....
Pertama, Prosesi di lokasi Curug Genting masih perlu ditata lagi baik dari segi waktu pelaksanaan maupun ubo rampenya, lokasi pencucian juga perlu dipersiapkan sebelumnya agar tidak terjadi krodit dan kebingungan peserta, selain itu warga yang datang juga perlu ditambah jumlah. bayangkan saja apabila mereka mengenakan baju tradisional  .......... pasti epik sekali kan ???......

By the way, secara keseluruhan acara sih menurut saya festival yang pertama kali dilaksanakan ini bisa dikatakan cukup berhasil sebab semua rangkaian acara bisa terlewati dengan baik dan tidak ada permasalahan yang berarti. Pameran hasil kerajinan dan industri rumah tangga yang juga digelarpun mendapat respon positif dari tamu undangan dan segenap warga masyarakat.
Harapannya sih semoga kegiatan ini bisa berlanjut di tahun tahun mendatang dengan lebih meriah, lebih tertata, lebih terorganisir dan lebih baik lagi......

So berani mengagendakan tanggal 8 bulan 8 di tahun depan untuk berkunjung di sini???
why not?? rugi besar lho..... hihihi........











Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow