Posted by : ngatmow prawierow 9.12.2011

Hari ini aku pengen ngobrol soal Timnas kita (bahasan yang terpaksa aku tulis lagi setelah sekian kalinya mencacimaki). ini berawal dari membuka sebuah surat kabar yang sedang mengulas tentang Konyolnya timnas kita, aku kemudian buka internet dan membuka webnya Mas Bepe.

Sebelum beranjak ke tulisannya Mas Bepe, aku mau sedikit berkomentar soal timnas kita. Jujur saja, menurutku kenapa sepakbola indonesia bisa nggak maju seperti sekarang ini adalah karena terlalu cengeng dan suka cuci tangan. Kita lihat saja persepakbolaan negeri tua kita, Jepang. Disana pelatih sekolah aja kalau pemainnya salah jangankan dibentak atau disalahkan bisa bisa kursi jadi sepatu buat ngelempar,  tapi herannya nggak ada tuh yang namanya ngambek. Dan kenapa pula  kalau timnas mereka kalah maupun menang mereka pasti nangis ? itu semua adalah karena dia sebegitu bangganya dia bisa berbuat untuk  negaranya tercinta atau menangis karena mereka tidak bisa membawa kepercayaan dari seluruh warga Jepang. bahkan jika kita melihat di kalangan politik sampai ada pejabat yang rela mengundurkan diri jika (baru) dinyatakan tersangkut kasus korupsi (bahkan kalau sampai terbukti mereka rela untuk melakukan harakiri)


Tapi entahlah. Mungkin juga pendapatku ini salah soal mentalitas timnas kita. yang pasti secara pribadi aku merindukan gaya permainan Timnas kita saat dilatih Alfred Riedl. Meskipun hasilnya adalah sama saja (sama kalahnya), tapi gaya permainan yang disuguhkan jauh berbeda. sangat menghibur, atraktif, variatif, mengesankan dan pemain penuh daya juang.


Sekarang kembali ke blog Mas Bepe. Dalam tulisannya, Bepe curhat soal bagaimana sejatinya kejadian yang menyebabkan muncul isu bahwa sekarang ini ada 7 pemain yang akan memboikot timnas kita jika masih dilatih oleh Mr. Wim Rijsbergen.

Berikut sedikit tulisannya :

Jadi jika ada berita yg beredar bahwasanya pertemuan saya dengan Alfred Riedl lah yg menyebabkan 7 pemain tidak bersedia dipanggil timnas jika Wim Rijsbergen masih menangani timnas, jelas sebuah kesalahan besar. Sedekar untuk di ketahui, jika 7 pemain yg menyatakan tidak bersedia bermain di bawah Wim tersebut, menyampaikannya kepada management timnas sesaat setelah pertandingan selesai, atau pada kisaran pukul 24:00 WIB tgl 6 September. Sedang saya sendiri baru mengetaui berita tersebut dari Manager tim nasional Ferry Kodrat, saat beliau memanggil saya kekamarnya pada pukul 02:00 pagi hari tgl 7 September. Jadi logikanya bagaimana mungkin pertemuan sore itu tgl 7 September dapat mempengaruhi keputusan yg sudah dibuat tadi malam tgl 6 September, sangat tidak mungkin bukan.

Sejujurnya hal yg membuat pemain sangat kecewa kepada Wim Rijsbergen adalah komentar beliau sesaat setelah pertandingan, yg terkesan melempar segala kesalahan kepada pemain. Saya yakin semua pemain kecewa dengan komentar tersebut, akan tetapi sejauh ini hanya 7 pemain yg menyampaikan keberatan untuk bermain di bawah asuhan Wim di tim nasional..

Pertemuan saya, Firman, Markus, Wolfgang dan Alfred sendiri lebih kepada ucapan perpisahan dalam kapasitas sebagai sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Dan apakah ada yg salah mengenai hal tersebut, saya rasa tidak. Jika dilihat dari waktu pertemuannya, mungkin memang sedikit kurang tepat, akan tetapi pada kenyataannya hanya pada hari itu saya mempunyai kesempatan untuk dapat bertemu dengan Alfred. Jika saya tidak melakukannya sore itu, mungkin saya tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada Alfred Riedl..

Di tengah keheranan saya akan terlalu dibesar-besarkannya masalah ini, sempat terlintas di benah saya. Jika saja waktu itu saya bertemu dengan pelatih lain seperti Rahmad Darmawan misalnya. Apakah mereka juga akan berpikir jika pemain berniat curhat dan lebih suka jika dilatih oleh pak RD, yg notabene sukses dan sangat berpengaruh dalam mendampingi Wim Risjbergen, dalam 2 partai awal melawan Turkmenistan. Atau jangan-jangan pertemuan saya dengan alfred riedl tersebut menjadi sebuah masalah, karena sosok Alfred yg sekarang membuat PSSI harus berurusan dengan FIFA karena masalah pelanggaran kontrak kerja..??

Mari kita fokus pada permasalahan dan jangan berpikir terlalu sempit saudara-saudara. Sekali lagi permasalahan yg sebenarnya adalah komentar Wim Risjbergen setelah pertandingan yg terkesan melimpahkan segala kesalahan kepada pemain, bukan masalah pemain bertemu siapa setelah pertandingan tersebut. Toh pertemuan itu sendiri sejatinya dilakukan disaat pemain sudah keluar dari pemusatan latihan, itu artinya setiap pemain bebas dan berhak bertemu dengan siapapun serta membahas masalah apapun..


Oke, sekarang kita tinggalkan mas Bepe. Kita beralih ke Tuan-tuan besar yang lagi nongkrong di PSSI.
Sebenarnya apa sih yang mereka harapkan dan inginkan dengan menjadi pengurus PSSI ? mungkin dulu mereka (sebagaimana yang lainnya) berkampanye bahwa tujuan utamanya adalah memajukan persepakbolaan bangsa ini. tapi apa yang terjadi ????

DOBOL KURO..... (bohong besar dalam bahasa ngapak banyumasan)

sebuah realita bahwa segala sendi urat nadi persepakbolaan negeri ini sudah jadi komoditas politik... yg ada cuma kepentingan-kepentingan politik, kepentingan golongan saja yang dikedepankan dan bahkan kepentingan perut pribadi masing-masing saja yang diutamakan.

ada satu usulan untuk PSSI yang sekarang (katanya) berwajah baru dan segar agar bisa lebih baik dari pendahulunya harusnya lihat, dengar dan rasakan...

LIHAT  :
1. Lihat kondisi sekitar,,,
2. Lihat metode2 dari kpengurusan lama, ambil yg baik, buang yg buruk,,

DENGAR :
1. Dengarkan Aspirasi Rakyat yg mencintai persepakbolaan Indonesia
2. Dengarkan saran dan kritik dan cacian sekalipun sbg cambuk utk perbaikan diri ke Depan

RASAKAN :
1. Rasakan bila Anda pada posisi PELATIH
2. Rasakan bila Anda pada posisi PEMAIN
3. Rasakan bila Anda pada posisi SUPPORTER

Dan satu hal yang patut kita ingat bersama :

Bangsa kita selalu dengan bangga mengatakan jika kita adalah bangsa yg ramah, penuh sopan santun serta menjungjung tinggi adat ketimuran. Saya menjadi sangsi, apakah sekarang ini kita masih cukup ramah dan sopan sebagai sebuah bangsa ? atau kita sudah mulai melupakan budaya arif yg sudah turun temurun dari nenek moyang kita tersebut ?
Mari kita tanyakan kepada hati kecil kita masing-masing...

Comments
2 Comments

{ 2 komentar... read them below or Comment }

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow