Archive for 2022

Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana

Dieng membeku lagi !!

Yes, beberapa hari terakhir aplikasi stasiun cuaca dieng menunjukkan grafik penurunan suhu yang terus menerus. Sehingga puncaknya fenomena embun es ini terjadi Kamis (30/6/2022) kemarin, dengan berpusat di dalam kompleks Candi Arjuna, Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.


Embun es atau warga Dieng menyebut bun upas yang bisa membuat daun layu hingga tanaman mati kali ini lebih tebal dibandingkan yang sebelumnya karena suhu mencapai minus 1,25 derajat Celcius ! dan merupakan suhu paling rendah di tahun 2022 lho.

Dingin ? Jelasss

Menurut seorang kawan yang menjadi pecinta sejati Dataran Tinggi Dieng (hingga dijuluki sebagai Demang Dieng), Aryadi Darwanto, sebenarnya tanda-tanda kemunculan embun es di Dieng bisa diamati sebelumnya lho :

  1. Cuaca pagi sampai sore hari pada hari sebelumnya cerah. Dan cenderung "hangat" untuk ukuran cuaca di Dieng. 
  2. Pada malam harinya tidak ada angin, langit cerah. Jika ada angin suhu akan naik dan embun es tidak akan terbentuk. 
  3. Embun es bisa terbentuk kapan saja (malam hari) asal suhu udara sudah turun, sekitar 4'C
  4. Liat aplikasi Cuaca Dieng , jika pada sekitar jam 23.00 WIB sudah menunjukkan suhu udara 4'C dan terus turun, berarti proses pembentukan embun es sudah dimulai.
  5. Embun es dapat di lihat sampai pukul 07.30 di sekitar Candi Arjuna, Candi Setyaki Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.

Photo by. Aryadi Darwanto
Photo by. Aryadi Darwanto

Lebih lanjut, kalau kita menggali informasi dari sudut ilmu meteorologi, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau pada Juli -September. Dan beberapa faktor yang mungkin berperan terbentuknya embun beku yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian.

Bagi masyarakat Dieng sendiri, embun upas atau bun upas adalah embun racun. Fenomena ini ketika suhu menjadi sejuk, lantas turunlah embun-embun yang dingin lagi beku sehingga efeknya membuat tanaman mati tersiakan. Kerusakan tersebut tidak dapat dihindari jika embun beku tiba lebih awal sebelum masa panen. 

Tapi, bagi wisatawan dan para pemburu konten, turunnya bun upas ini adalah sesuatu yang sangat spesial. tentu saja karena sangat jarang terjadi di negeri khatulistiwa yang cenderung beriklim hangat ini. Jadi, meskipun sangat dingin, masih saja kondisi ini diserbu ribuan pendatang yang hanya pengen mengabadikan "salju" dan kemudian memamerkannya di media sosial mereka......

Bikin macet tentu saja ... DAMN !!!

By the way,  kalau kalian mau berkunjung ke Dieng pas dingin dinginya kayak gini, berikut sedikit tips untuk persiapan ya :
1. Pakai baju yang tebal dan jangan lupa jaket.
saat fenomena embun upas terjadi, suhu udara cenderung lebih dingin, oleh karena itu sangat disarankan kalian memakai baju tebal, seperti jaket.  Jaket tidak harus memakai jaket gunung, tapi yang penting jangan jaket wool atau jeans.  Demi mengurangi rasa dingin saat melihat embun upas, kalian juga bisa memakai sarung tangan, kaus kaki, dan topi kupluk (yang menutup sampai telinga) agar hangat.
2. Makan dan minum hidangan yang hangat.
Memakan hidangan yang hangat (terutama karbohidrat) saat suhu udara berada di posisi minus bisa membuat tubuh terasa lebih baik. Cocok juga untuk mengganti sumber panas yang hilang karena udara dingin, sukur membawa sendiri bekal yang hangat.  Jikapun tak sempat membawa makanan hangat, bisa juga membelinya di warung yang ada di dekat tempat melihat embun upas. Tapi hati hati lho, makanan dan minuman disana akan terasa jauh lebih dingin daripada suhu aslinya, sehingga kalau terburu buru dan tanpa strategi mulut dan lidah akan terbakar dan baru terasa ketika kita sudah turun gunung nantinya.
3. Datang dini hari
Karena proses pembekuan sering terjadi mulai dini hari, maka ada baiknya kalau datang ke Dieng (selain yang menginap lho ...) sekitar jam 3 - 5 pagi. Alasannya adalah agar sempat "ketemu" bun upas itu. Sebab biasanya "salju" tidak akan bertahan lama. Ketika matahari sudah mulai terbit dan bersinar terang pada pukul 05.30 WIB, butiran es yang muncul akan segera mencair dan hilang.
4. Datang di bulan Juli - September
Pada bulan Juli - September yang masih masuk dalam musim kemarau,  sebab pada musim kemarau semua hal yang dibutuhkan untuk terbentuknya bun upas terjadi. So, agendakan ke Dieng untuk tahun depan ya 
5. Terus Bergerak 
Udara dingin dan cuaca ekstrem di alam bebas seperti yang terjadi di Dieng memang terasa membuat tubuh sulit bergerak – atau setidaknya membuat tubuh malas untuk bergerak banyak. Padahal hal ini adalah salah satu jalan menuju ke hipotermia. Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit serta gejala mematikan itu – pastikan kalian tetap bergerak atau bahkan memperbanyak gerak tubuh dan mencoba membiasakan diri dengan udara yang sedingin itu. 
6. Pantau terus perkembangan suhu Dieng dengan teknologi
Semakin berkembangnya teknologi juga sangat membantu kita untuk memantau perkembangan suhu dan kondisi cuaca di Dieng. Salah satunya dengan menggunakan Aplikasi Cuaca Dieng yang bisa diunduh di Apps Store 
 






8.01.2022
Posted by ngatmow

Denda yang Lebih Mahal dari Pajaknya

Pajak kendaraan Thomas Fatah: Rp 87.000. 

Ia terlambat dua hari membayar — karena sistem online-nya error, dan kantor Samsat-nya... sudah kita tahu ceritanya.


Dendanya: Rp 215.000.


Thomas membaca struk itu tiga kali untuk memastikan ia tidak salah baca. Kemudian membaliknya. Kemudian menerawangnya ke cahaya. Angkanya tetap sama.

"Pak, ini dendanya lebih mahal dari pajaknya."

"Iya, Mas. Dua hari telat, bunga-nya numpuk."

"Bunga dua hari itu seratus dua puluh delapan ribu?"

"Ada komponen administrasinya juga, Mas."

"Administrasi apa?"


Petugas mulai menjelaskan. Ada denda keterlambatan. Ada biaya administrasi keterlambatan. Ada biaya pemrosesan denda keterlambatan. Dan ada — ini yang paling mengesankan — biaya penerbitan surat keterangan bahwa denda sudah dibayar.

"Biaya surat keterangan denda itu buat apa, Pak?"

"Buat bukti bahwa dendanya sudah lunas, Mas."

"Tapi kalau pajaknya sudah lunas, kan ada STNK-nya sebagai bukti?"

"Iya, tapi tetap perlu surat keterangan dendanya juga."

"Untuk apa?"


Petugas berhenti sebentar. Ia tampak benar-benar memikirkan pertanyaan itu — mungkin untuk pertama kalinya.

"Prosedurnya begitu, Mas."


Thomas membayar. Total: Rp 215.000. Untuk kendaraan yang pajaknya cuma Rp 87.000. Untuk keterlambatan dua hari. Dua hari yang dihabiskan bukan untuk berfoya-foya, melainkan untuk menunggu sistem online pulih dan kantor tidak tutup lebih awal.


Di parkiran, Thomas duduk sebentar di atas motornya yang sudah lunas pajaknya — bersama dendanya, bersama biaya administrasi dendanya, bersama biaya surat keterangan bahwa dendanya sudah dibayar.

Motor itu tidak terlihat lebih baik dari kemarin. Tidak lebih kinclong. Tidak lebih nyaman dikendarai.

Tapi setidaknya, sekarang resmi.

7.07.2022
Posted by ngatmow

Surat yang Membutuhkan Surat untuk Meminta Surat

Ini adalah puncak dari segala puncak. Everest-nya birokrasi. Kisah yang Thomas Fatah ceritakan berulang-ulang di warung kopi, di kantin kantor, di mana saja ada orang yang mau mendengar — bukan dengan marah, tapi dengan tawa yang sudah matang, tawa orang yang sudah berdamai dengan realita.

Ceritanya bermula sederhana: Thomas perlu Surat Keterangan Penghasilan untuk melengkapi berkas KPR rumah.

Ia datang ke kelurahan.


"Minta surat keterangan penghasilan, Pak."

"Ada surat pengantar dari RT?"



Thomas balik ke RT. Minta surat pengantar. Pak Ketua RT bilang: "Ada, tapi harus ada dulu surat permohonan tertulis dari kamu ke RT."

Thomas menulis surat permohonan ke RT. Pak Ketua RT menerimanya, menandatanganinya, memberi stempel RT yang gambarnya sedikit miring.


Balik ke kelurahan. Surat pengantar diserahkan.

"Oke. Sekarang minta surat keterangan penghasilannya perlu dilampiri slip gaji atau bukti penghasilan."

"Saya tidak punya slip gaji, Pak. Saya wiraswasta."

"Kalau wiraswasta, perlu surat keterangan usaha."

"Dari mana?"

"Dari kelurahan."


Thomas menatap petugas kelurahan di depannya.

"Pak... saya sekarang di kelurahan. Minta surat keterangan penghasilan. Tapi untuk bikin surat keterangan penghasilan, saya perlu surat keterangan usaha. Dari kelurahan. Ini kelurahan yang sama?"

"Iya."

"Jadi saya perlu surat dari sini... untuk minta surat dari sini?"

"Beda loketnya, Mas. Surat keterangan usaha di loket dua. Ini loket satu."


Thomas berpindah ke loket dua. Minta surat keterangan usaha.

"Ada surat pengantar dari RT?"

Thomas mengeluarkan surat pengantar RT yang tadi. Sudah ada. Aman.

"Ini untuk surat keterangan penghasilan, Pak. Bisa untuk keterangan usaha juga?"


Petugas loket dua membaca surat itu. Mengerutkan dahi.

"Ini tertulisnya 'pengantar permohonan surat keterangan penghasilan', Mas. Kalau untuk keterangan usaha, suratnya harus spesifik menyebut keterangan usaha."


Thomas kembali ke RT. Pak Ketua RT sudah tidak ada di rumah — ada kondangan. Istrinya bilang Pak Ketua baru pulang malam.

Thomas pulang. Menunggu malam. Malam itu mendatangi Pak Ketua RT yang masih pakai baju batik kondangan. Minta surat pengantar baru yang menyebut keterangan usaha.

Pak Ketua RT menandatanganinya sambil melepas jas.


Keesokan harinya, Thomas ke kelurahan lagi. Loket dua. Surat keterangan usaha terbit.

Balik ke loket satu. Serahkan surat keterangan usaha untuk melengkapi permohonan surat keterangan penghasilan.

"Oke, Mas. Besok bisa diambil."


Thomas mengambil napas dalam. "Jadi bisa, Pak?"

"Bisa. Tapi nanti keterangan penghasilannya perlu dilegalisir dulu di kecamatan sebelum bisa dilampirkan ke berkas KPR."


Thomas hening selama delapan detik penuh.

"Di kecamatan... perlu apa lagi, Pak?"

Petugas itu membuka buku panduannya. Membacanya. Kemudian menutupnya.

"Surat pengantar dari kelurahan."


Thomas duduk di bangku tunggu loket. Menatap langit-langit. Ada satu cicak di sudut langit-langit yang menatap balik.

Mereka berdua diam cukup lama.

"Kamu juga bingung, kan?" tanya Thomas ke cicak itu.

Cicak tidak menjawab. Tapi ekornya bergerak sedikit — mungkin anggukan, mungkin bukan.


Empat belas hari, enam perjalanan, empat surat, tiga loket berbeda, dan dua instansi kemudian — Thomas Fatah akhirnya menyerahkan berkas KPR-nya yang lengkap.

Seminggu setelahnya, bank menolak pengajuannya.

Bukan karena berkas tidak lengkap.

Karena penghasilannya tidak memenuhi syarat minimum.


Thomas menerima surat penolakan itu, membacanya, melipatnya rapi, dan menyimpannya di laci mejanya — di sebelah tiket antrean A-047 yang tidak pernah dipanggil.

Ia menyeduh kopi.

Kemudian tertawa.


Bukan tawa pahit. Bukan tawa sinis. Tapi tawa seseorang yang sudah cukup banyak melewati hal-hal seperti ini hingga ia tahu: ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya satu babak lagi dalam kehidupan yang — mau tidak mau, suka tidak suka — tetap harus dijalani.

Dengan sabar. Dengan humor. Dan kalau bisa, dengan bekal nasi yang cukup.

2.26.2022
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow