Archive for Februari 2025
Serah Terima Jabatan dan Seni Berbohong dengan Wajah Sedih
Pak Hendra, Kepala Bagian Umum yang sudah tiga tahun berkuasa — atau lebih tepatnya, bersemayam — di kantor itu, akhirnya dimutasi ke instansi lain. Kabar ini beredar lebih cepat dari informasi resmi apapun yang pernah disampaikan di kantor itu.
Reaksi pegawai terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang memang bersedih karena akan kehilangan sosok yang mereka anggap pimpinan yang baik. Jumlahnya sekitar tiga orang — Bu Eni yang memang setia pada siapapun atasan, Pak Dar yang tidak pernah terlalu mengerti siapa atasannya, dan seorang staf magang yang baru sebulan dan belum sempat merasakan era Pak Hendra secara penuh.
Acara serah terima jabatan atau sertijab diadakan di aula kantor. Semua pegawai hadir dengan seragam terbaik dan ekspresi yang sudah diset ke mode "khidmat dan terharu." Thomas sudah berlatih ekspresi ini di cermin pagi harinya — alis sedikit turun, sudut bibir netral, mata sesekali berkedip lebih lambat dari biasanya.
.....................
Pak Hendra naik podium untuk sambutan perpisahan. Pak Hendra yang sehari-harinya dikenal dengan tatapan tajam dan kemampuan istimewa dalam mengingat keterlambatan absen, tiba-tiba tampil dengan mata berkaca-kaca.
"Tiga tahun bersama kalian adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya mungkin tidak sempurna sebagai pemimpin—"
Nah ini yang baru, pikir Thomas.
"—tapi saya selalu berusaha yang terbaik untuk kemajuan kita bersama. Dan saya harap, apapun yang sudah kita lalui, kita bisa kenang sebagai perjalanan yang bermakna."
Thomas bertepuk tangan. Tepukan yang sungguh-sungguh, bukan karena berbohong, tapi karena dalam hatinya ada sesuatu yang dia sebut sebagai penghargaan atas konsistensi. Pak Hendra memang sering menyebalkan, tapi setidaknya konsisten dalam menyebalkannya. Itu, dalam dunia yang penuh ketidakpastian, adalah sesuatu.
Kemudian pejabat baru diperkenalkan. Pak Wahyu. Muda. Senyumnya terlalu ramah. Thomas sudah cukup lama jadi PNS untuk tahu bahwa senyum yang terlalu ramah di hari pertama adalah sinyal ambigu — bisa berarti baik hati, bisa berarti belum kelihatan aslinya.
Di sela-sela acara, Thomas berbisik ke Bowo:
"Yang baru kira-kira gimana ya?"
"Ya tau sendiri lah. Tiga bulan pertama pasti baik. Bulan keempat kita baru tau aslinya."
"Bagaimana kalau ternyata lebih parah dari Pak Hendra?"
"Ya kita nanti kangen Pak Hendra."
Thomas tertawa kecil, pelan, dengan mulut hampir tertutup — tertawa kantor, salah satu keahlian yang tidak tertulis di manapun tapi dikuasai semua orang.
Sertijab mengajarkan bahwa di kantor, orang yang tadinya kamu keluhkan setiap hari bisa tiba-tiba terasa berharga begitu pergi. Bukan karena dia berubah. Tapi karena kamu baru sadar bahwa setanmu yang lama, setidaknya, sudah kamu hafal kelemahannya.
