Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tembakau Lembutan Bansari, eksistensi tradisi asli tembakau Temanggung
Kalau ngomongin Temanggung, pasti banyak orang langsung kepikiran sama tembakau.
Yup, kabupaten di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini memang udah terkenal sebagai “surga tembakau”. Aroma khasnya bisa bikin siapa aja yang nyium langsung kebawa suasana pegunungan yang adem dan asri. Tapi, ternyata bukan cuma soal kualitas tembakaunya aja yang bikin Temanggung terkenal. Ada juga tradisi unik yang masih dijaga sampai sekarang, salah satunya adalah tembakau lembutan dari Desa Bansari.
Mungkin banyak yang masih asing sama istilah “lembutan”.
Jadi gini, lembutan itu sebenarnya salah satu cara atau proses pengolahan tembakau tradisional khas Bansari. Proses ini udah turun-temurun dari leluhur dan dipercaya bisa bikin rasa serta aroma tembakau jadi lebih mantap. Anak muda sekarang mungkin lebih sering lihat tembakau jadi rokok atau cerutu, tapi sebelum itu, ada proses panjang dan penuh makna di baliknya. Dan yang paling asik, tradisi ini bukan cuma sekadar urusan produksi, tapi juga punya nilai sosial, budaya, bahkan spiritual yang kental.
Tembakau lembutan bisa dibilang adalah “signature style” orang Bansari dalam mengolah tembakau. Setelah dipanen, daun tembakau nggak langsung dijemur atau diolah kayak biasanya. Mereka punya teknik khusus : daun tembakau ditumpuk dengan cara tertentu, dibiarkan dalam keadaan agak lembab, lalu melalui proses fermentasi alami. Proses ini bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung kondisi cuaca dan kelembapan.
Kata “lembutan” sendiri diambil dari kata “lembut”, yang menggambarkan tekstur daun tembakau setelah melalui proses ini. Hasil akhirnya, tembakau punya aroma yang lebih dalam, lebih legit, dan punya karakter kuat khas Temanggung yang nggak bisa ditiru daerah lain.
Buat warga Bansari, lembutan bukan sekadar urusan dagang. Ibaratnya, lembutan itu udah kayak ritual budaya. Proses nglembut tembakau biasanya dilakukan bareng-bareng, gotong royong, dan penuh kebersamaan. Bayangin aja, satu keluarga atau bahkan satu kampung bisa ikut bantu ngerjain, mulai dari nyusun daun, ngawasin kelembapan, sampai ngecek kapan waktunya dibuka.
Di momen kayak gini, biasanya suasana jadi rame. Obrolan ngalor-ngidul, cerita masa lalu, sampe candaan receh khas orang kampung bikin pekerjaan yang capek jadi terasa ringan. Jadi, ada semacam nilai kebersamaan dan silaturahmi yang tumbuh dari tradisi ini.
Nggak berhenti di situ, banyak juga yang percaya kalau nglembut itu harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh rasa syukur. Ada semacam doa-doa kecil yang dipanjatkan supaya hasilnya bagus. Kalau tembakau lembutan jadi berkualitas, otomatis harga jualnya naik, dan itu berarti rejeki buat banyak keluarga.
Kenapa tembakau lembutan Bansari begitu istimewa? Lokasi geografis punya peran besar. Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, pas banget di lereng Gunung Sumbing. Cuaca sejuk, tanah subur, dan kabut yang hampir tiap hari nyelimutin desa bikin tembakau di sini punya cita rasa unik.
Bayangin aja, tiap pagi petani berangkat ke ladang dengan pemandangan sunrise di atas gumpalan awan yang menghampar sangat luas plus pucuk pucuk gunung (Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Telomoyo) yang berdiri gagah di kejauhan. Sambil jalan, mereka bisa lihat hamparan kebun tembakau yang luas, daunnya hijau mengkilap, basah kena embun. Suasana kayak gini yang bikin tembakau Bansari punya cerita dan daya tarik tersendiri.
Di era sekarang, banyak anak muda desa yang lebih tertarik merantau ke kota daripada melanjutkan tradisi leluhur. Tapi, ada juga lho generasi muda Bansari yang tetap bangga sama warisan ini. Mereka mulai bikin konten di media sosial tentang proses nglembut, bahkan ada yang bikin vlog atau TikTok biar orang luar tahu kalau tembakau Bansari itu bukan hal biasa.
Selain itu, beberapa komunitas anak muda di Bansari juga udah mikirin gimana caranya biar lembutan tetap eksis tapi nggak ketinggalan zaman. Misalnya, ada yang coba bikin branding tembakau lembutan dengan kemasan modern, atau ikut pameran produk pertanian. Jadi, warisan budaya tetap jalan, tapi bisa juga masuk pasar global.
Kalau dilihat sepintas, lembutan mungkin cuma soal cara ngolah tembakau. Tapi juga identitas, jati diri, sekaligus kebanggaan masyarakat Bansari. Bayangin kalau tradisi ini hilang, berarti hilang juga satu cerita penting dari budaya Temanggung.
Apalagi, di tengah arus globalisasi, orang makin mudah ninggalin hal-hal tradisional. Nah, justru lembutan ini bisa jadi salah satu daya tarik wisata budaya. Bayangin aja kalau ada paket wisata “Belajar Nglembut di Bansari” — turis bisa langsung ikut prosesnya, dengerin cerita dari petani, sampai ngerasain suasana asli desa pegunungan. Seru banget kan?
Tradisi tembakau lembutan di Bansari bukan cuma tentang cara mengolah daun tembakau, tapi juga tentang cara hidup, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakatnya. Dari proses sederhana ini, lahirlah produk berkualitas yang udah terkenal sampai luar negeri.
Dan yang paling penting, lembutan jadi pengingat buat kita semua bahwa warisan leluhur nggak boleh dianggap sepele. Di balik aroma wangi tembakau, ada kerja keras, doa, dan cerita panjang yang bikin Bansari layak disebut sebagai salah satu pusat budaya tembakau paling keren di Indonesia.
Jadi, kalau suatu saat kamu main ke Temanggung, jangan cuma hunting kopi atau wisata gunung aja. Sempetin mampir ke Bansari, ngobrol sama petani, dan ngerasain langsung bagaimana tradisi lembutan bikin tembakau jadi “hidup”. Siapa tahu, kamu pulang-pulang nggak cuma bawa oleh-oleh tembakau, tapi juga bawa cerita dan pengalaman yang nggak bakal terlupa.
Dieng Culture Festival XIV 2024, Back to The Journey
Dieng Culture Festival kembali digelar dengan mengusung tema Back to The Journey, acara budaya tahunan yang ditunggu tunggu (karena tahun 2023 ga ada) ini akhirnya dilaksanakan di Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng, Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 23-25 Agustus 2024 yang lalu.
Wait.....Dieng kulon ? Banjarnegara ?
Yes. Sekedar menjelaskan saja, KWDT Dieng terutama lokasi utama tempat adanya Candi dan Telaga itu terbagi menjadi 2 wilayah. Desa Dieng Kulon masuk wilayah Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Desa Dieng Wetan yang masuk wilayah Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Namun karena akses yang lebih mudah dan jarak yang lebih dekat dengan pusat kota, Dieng lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Dieng Wonosobo (56,6 km via Kejajar vs 26 km via Karangkobar)...... meskipun faktanya sebagian besar wilayah di pusat wisata Dieng masuk desa Dieng Kulon. gitu .......
Kembali ke DCF ya .....
Dieng Culture Festival XIV tahun 2024 ini sesuai temanya memang mengusung konsep yang agak sedikit berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini ada lebih banyak acara diluar acara inti seperti Upacara Ruwat Rambut Gembel, Jazz Atas Awan, Senandung Atas Awan, Festival Lentera dan Lampion, seperti Kontes Domba Batur, Gebyar Damar Kurung, Sendratari Anak Gembel, Pertunjukan Seni Tradisional & Festival Caping Gunung, Festival Kopi Pegunungan Dieng, Festival kuliner dan bazar produk kreatif/UKM serta Dieng Bersholawat. Komplit.....
Khusus Kontes Domba Batur, acara ini sebenarnya sudah diselenggarakan sejah DCF sebelumnya. Namun ada yang berbeda kali ini yaitu adanya beberapa ekor domba batur yang diletakkan di luar kandang dan langsung bisa disentuh dan diberi makan oleh pengunjung. Sesuatu yang sangat menarik terutama bagi pengunjung anak anak dan pengunjung yang berasal dari luar kota. Apalagi domba batur adalah domba langka di Indonesia yang mungkin tidak akan dijumpai di daerah lain.
Seperti biasa, dari semua acara tersebut yang paling ditunggu pengunjung (baik yang beli tiket maupun nggak beli) adalah pertunjukan Jazz Atas Awan dimana selalu menghadirkan konser musik dari sejumlah musisi ternama Indonesia dan menampilkan lagu lagu andalannya di tengah suhu dingin Dieng.
Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini, musisi Tanah Air yang tampil pada konser Jazz Atas Awan antara lain Danilla Riyadi, Parade Hujan, ditutup oleh Pradikta Wicaksono. Penampilan mereka cukup sukses menghibur pengunjung meskipun banyak juga yang kecewa karena penyusunannya terkesan anti klimaks. Namun kekecewaan itu menjadi hilang ketika kode pelepasan lampion sudah dikumandangkan oleh pembawa acara.
Dengan aba aba dari MC di panggung ribuan lampion beraneka warna dilepas ke udara untuk kemudian menghias langit dengan warna merah, hijau dan oranye, pemandangan cantik di atas langit Dieng itu seperti biasanya selalu berhasil memukau sekitar 6000 pasang mata yang sedang menikmati suasana. Sebagai informasi, lampion DCF berbentuk unik karena cenderung bulat (berbeda dengan lampion Borobudur yang cenderung kotak memanjang) dan lampion tersebut tidak bisa terbang terlalu tinggi alias tidak dirancang bisa bertahan lama di udara. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu lintasan penerbangan dan merusak lingkungan.
Asik, syahdu dan jelas meninggalkan kesan mendalam di setiap momennya.
itulah Dieng Culture Festival yang selalu tidak akan membosankan .......
By the way, kalo dari pengamatan pribadi, penyelenggaraan secara umum DCF kali ini relatif jauh lebih baik dan tertata dari penyelenggaran sebelumnya. Terlihat dari penukaran tiket, tata kelola venue, jalur pengunjung dan tamu undangan, kantong kantong parkir, kebersihan dan sebagainya.....
Oke.... kita ceritain satu persatu ya.
Ticketing area dan sekretariat panitia
Kali ini tempat penukaran tiket dan sekretariat panitia sudah lebih tertata dan rapi. Bahkan bisa dikatakan paling baik, karena disamping mudah ditemukan (ada di jalur masuk ke komplek Pendopo Soeharto Withlam dan parkiran candi arjuna), juga alur penukaran tiketnya sudah dipersiapkan dengan baik, dilayani banyak panitia dan voulentir, juga tepat berada di depan sekretariat yang menggunakan aula putih (bangunan yang merupakan gedung serba guna ini juga baru jadi lho gaes.....), lengkap dengan fasilitas kamar mandinya dan tempat yang luas untuk semua kegiatan kesekretariatan).
Sekretariat juga merupakan gedung serba guna dimana ruangannya cukup luas dengan fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Bahkan masih ada space untuk tempat istirahat panitia serta volunteer bahkan agen biro wisata yang kecapekan karena padatnya acara.
Jalur Pengunjung dan Tamu Undangan dan Tata kelola Venue
Untuk yang satu ini, harus diakui bahwa gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini yang paling de best. Sebab semuanya direncanakan dengan matang dan berdasar pada pengalaman penyelenggaraan sebelumnya.
Bagaimana tidak ? pada tahun ini jalur pengunjung dan jalur tamu undangan dibuat sedemikian rapi dan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang selalu membuat tamu VVIP pun kurang merasa nyaman.
Jalur tersebut dibuat melewati semua venue yang disediakan oleh panitia. Mulai dari masuk komplek candi arjuna, kemudian melewati jalur candi setyaki, venue pojok UMKM Banjarnegara, venue eKraf Banjarnegara baru kemudian masuk ke venue utama tempat digelarnya Jazz Atas Awan. Apik.
Selain itu, jalur pejalan kaki pengunjung dibuat semenarik mungkin dengan berbagai ornamen festival yang khas Dieng lengkap dengan pencahayaan dan tata lampu yang estetik. Bahkan ada juga spot pameran foto dan logo penyelenggaraan DCF dari waktu ke waktu, yang membuat pengunjung seakan dibawa kembali kepada memori Dieng Culture Festival yang sudah berlalu.
Kebersihan dan Kantong Parkir
Yes.....
indikator yang terakhir ini menjadi satu hal yang sangat jelas terlihat bedanya pada gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini. Kemacetan yang selalu menjadi "momok" pengunjung setiap tahun ternyata sangat berkurang karena pengelolaan kantong kantong parkir yang sangat efektif. Banyak kantong parkir disediakan oleh panitia bekerjasama dengan masyarakat Dieng yang mampu menampung ratusan kendaraan pengunjung sekaligus mengurangi parkir di pinggir/bahu jalan yang selalu menjadi "penyakit" pada tahun tahun sebelumnya.
Terkait dengan parkir, permasalahan kebersihan yang biasanya juga menjadi "cacat" di setiap kantong parkir dan sudut sudut Dieng juga ikut terselesaikan. Khusus kebersihan, kali ini banyak sekali volunteer persampahan (hebatnya mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia lho) yang dengan sigapnya menjaga kebersihan.
Hebat
Pesta Ondol di Festival Kuduran Budaya Wanayasa
Pernah dengar Festival Kuduran Budaya Wanayasa ?
Masing asing ?
Banyak temennya kisanak …..
Festival Kuduran Budaya merupakan pesta rakyat buah dari
kreatifitas seniman muda Wanayasa dan sekitarnya, yang mana Wanayasa sendiri
merupakan salah satu daerah di bagian utara kabupaten Banjarnegara yang berupa
pegunungan dan memiliki komoditas utama dari bidang pertanian.
Masih asing ?
Kalau kalian tahu Dieng kan ?
Nah Wanayasa ini merupakan wilayah pendukung Dieng, berada
di jalur Pekalongan – Dieng via Kalibening. Kalau dihitung dengan waktu tempuh
sekitar 20 menit dari Dieng menuju ke arah Pekalongan.
Masih belum tahu ?
monggo pake aplikasi Google maps aja ….. hehehe …..
Lanjut ya,
Jadi gini ….. saking eratnya hubungan masyarakat di daerah
ini dengan salah satu komoditas pertanian yaitu singkong, mereka sampai menjadikannya
perlambang kemakmuran dan kerukunan. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya pesta
rakyat dengan bahan baku utama singkong pada setiap panen rayanya.
Menurut mas mas panitia yang mau dimintai keterangan,
Kuduran Budaya punya sejarah dan kandungan semangat yaitu suatu momentum dimana
dulu Lurah mengajak semua wargannya untuk bersama-sama gotong royong dan
bahu-membahu membangun desa, menghidupkan desa, atau menjadikan desa sebagai
sumber yang memenuhi kehidupan jiwa dan kultural warganya.
Oke skip …….
Kita Kembali ke Festival Ondol ……
Pada Festival Kuduran Budaya tahun 2023 ini, acara diawali
dengan kegiatan memanen-cabut (mbedul) umbi singkong (tela) yang
diselenggarakan di Desa Wanayasa, tepatnya di Lapangan Desa Wanayasa setelah di
tahun-tahun sebelumnya sempat dilakukan di Desa Dawuhan dan Desa Tempuran.
Alasannya Ondol sebagai jajanan desa ingin dimaknai dan dilekati dengan
nilai-nilai positif oleh kelompok yang menggagas dan mengadakan festival seni
budaya lokal ini Seniman Muda Wanayasa (Sendawa) sebagai ajang
kerukunan Masyarakat antar desa di wilayah Wanayasa.
Acara utama Kuduran Budaya adalah Bentang Ondol
1.000 meter. Ondol adalah jajanan bulat sebesar bakso terbuat dari
singkong dan rasanya asin gurih. Biasa disajikan atau dijual dengan ditusuk
seperti sate, dan untuk satu sindik bambu terdiri atas 17 ondol. Menurut
Panitia, angka 17 tersebut bermakna 17 desa di Kecamatan Wanayasa dan 17 rakaat
sholat dalam sehari
Selain bentang Ondol 1.000 meter, Kuduran Budaya tahun ini
juga diramaikan dengan berbagai kegiatan yakni Wedding Vaganza, Peragaan Busana
Pengantin, penampilan Musik, Lomba Mewarnai, Sedekah Nada, dan Seribu Plendungan
yang dilaksanakan pada hari Sabtu, (23/09/2023) dan kegiatan mBedul Tela,
Goreng Ondol, Arak Ondol, Bentang Ondol Sewu Meter, dan Tumpengan yang
berlangsung di hari Minggu (24/09/2023)
Yang menarik dari festival ini adalah kekompakan masyarakat Wanayasa dan sekitarnya yang luar biasa. bayangkan saja, ribuan orang terlibat langsung dalam acara ini. Tua muda, laki laki perempuan, semua bekerjasama demi kesuksesan acara.
Di salah satu gang desa, puluhan ibu ibu berjejer membentuk kelompok masing masing dengan tugas yang berbeda. Ada yang mengolah ketela, ada yang membentuknya menjadi bulat, ada yang menggoreng, ada yang menusuknya menjadi sate ondol, ada juga yang kemudian menyusunnya menjadi gunungan ondol.
Di jalan raya bapak bapak dan pemuda menyiapkan karnaval mengarak gunungan ondol keliling desa yang kemudian akan berakhir di Lapangan desa Wanayasa. Disana, ribuan masyarakat sudah berkumpul untuk acara puncak festival ini.
Acara puncaknya apa ?
Tonton aja langsung deh di festival kuduran wanayasa tahun depan ....
Karena acara ini terlalu sayang untuk dilewatkan dan terlalu indah unutk diceritakan tanpa terlibat sendiri didalamnya ........ hehehe .......
Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana
Dieng membeku lagi !!
Yes, beberapa hari terakhir aplikasi stasiun cuaca dieng menunjukkan grafik penurunan suhu yang terus menerus. Sehingga puncaknya fenomena embun es ini terjadi Kamis (30/6/2022) kemarin, dengan berpusat di dalam kompleks Candi Arjuna, Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.
Embun es atau warga Dieng menyebut bun upas yang bisa membuat daun layu hingga tanaman mati kali ini lebih tebal dibandingkan yang sebelumnya karena suhu mencapai minus 1,25 derajat Celcius ! dan merupakan suhu paling rendah di tahun 2022 lho.
Dingin ? Jelasss
Menurut seorang kawan yang menjadi pecinta sejati Dataran Tinggi Dieng (hingga dijuluki sebagai Demang Dieng), Aryadi Darwanto, sebenarnya tanda-tanda kemunculan embun es di Dieng bisa diamati sebelumnya lho :
- Cuaca pagi sampai sore hari pada hari sebelumnya cerah. Dan cenderung "hangat" untuk ukuran cuaca di Dieng.
- Pada malam harinya tidak ada angin, langit cerah. Jika ada angin suhu akan naik dan embun es tidak akan terbentuk.
- Embun es bisa terbentuk kapan saja (malam hari) asal suhu udara sudah turun, sekitar 4'C
- Liat aplikasi Cuaca Dieng , jika pada sekitar jam 23.00 WIB sudah menunjukkan suhu udara 4'C dan terus turun, berarti proses pembentukan embun es sudah dimulai.
- Embun es dapat di lihat sampai pukul 07.30 di sekitar Candi Arjuna, Candi Setyaki Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.
![]() |
| Photo by. Aryadi Darwanto |
saat fenomena embun upas terjadi, suhu udara cenderung lebih dingin, oleh karena itu sangat disarankan kalian memakai baju tebal, seperti jaket. Jaket tidak harus memakai jaket gunung, tapi yang penting jangan jaket wool atau jeans. Demi mengurangi rasa dingin saat melihat embun upas, kalian juga bisa memakai sarung tangan, kaus kaki, dan topi kupluk (yang menutup sampai telinga) agar hangat.
Memakan hidangan yang hangat (terutama karbohidrat) saat suhu udara berada di posisi minus bisa membuat tubuh terasa lebih baik. Cocok juga untuk mengganti sumber panas yang hilang karena udara dingin, sukur membawa sendiri bekal yang hangat. Jikapun tak sempat membawa makanan hangat, bisa juga membelinya di warung yang ada di dekat tempat melihat embun upas. Tapi hati hati lho, makanan dan minuman disana akan terasa jauh lebih dingin daripada suhu aslinya, sehingga kalau terburu buru dan tanpa strategi mulut dan lidah akan terbakar dan baru terasa ketika kita sudah turun gunung nantinya.
Karena proses pembekuan sering terjadi mulai dini hari, maka ada baiknya kalau datang ke Dieng (selain yang menginap lho ...) sekitar jam 3 - 5 pagi. Alasannya adalah agar sempat "ketemu" bun upas itu. Sebab biasanya "salju" tidak akan bertahan lama. Ketika matahari sudah mulai terbit dan bersinar terang pada pukul 05.30 WIB, butiran es yang muncul akan segera mencair dan hilang.
Pada bulan Juli - September yang masih masuk dalam musim kemarau, sebab pada musim kemarau semua hal yang dibutuhkan untuk terbentuknya bun upas terjadi. So, agendakan ke Dieng untuk tahun depan ya
Udara dingin dan cuaca ekstrem di alam bebas seperti yang terjadi di Dieng memang terasa membuat tubuh sulit bergerak – atau setidaknya membuat tubuh malas untuk bergerak banyak. Padahal hal ini adalah salah satu jalan menuju ke hipotermia. Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit serta gejala mematikan itu – pastikan kalian tetap bergerak atau bahkan memperbanyak gerak tubuh dan mencoba membiasakan diri dengan udara yang sedingin itu.
Semakin berkembangnya teknologi juga sangat membantu kita untuk memantau perkembangan suhu dan kondisi cuaca di Dieng. Salah satunya dengan menggunakan Aplikasi Cuaca Dieng yang bisa diunduh di Apps Store
Naik Gunung Prau (lagi)
Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim).
Secuil keindahan surga di Pacitan, bernama Pantai Klayar
halah.........
Konon kabarnya, Keberadaan Pantai Klayar tidak lepas dari kisah masyarakat setempat. Ada dua versi yang mengungkapkan asal-usul nama Klayar. Versi pertama menyebutkan bahwa dahulu kala ada sebuah perahu yang diterjang ombak besar dan terdampar di pantai ini. Perahu yang terombang-ambing ombak sebelum terdampar disebut glayar yang lama-kelamaan berubah menjadi klayar. Dari situlah nama Klayar diambil. Versi kedua mengungkapkan, dulunya pantai ini seringkali dikunjungi penduduk untuk berjalan-jalan, baik di pagi hari maupun sore hari. Klayar berasal dari bahasa Jawa, yaitu klayar-kluyur yang artinya berjalan- jalan. Lama kelamaan, kata itu lebih disingkatkan menjadi klayar untuk mempermudah penyebutan.
Baritan Dieng Kulon, warisan budaya yang semakin tidak terlirik dan mulai terlupakan
Belum ?
Wajar........ kaum milenial........

Wait......Dieng ?
Yes....... Bener sekali.
- Penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dan kepala tepat di titik tengah desa oleh sesepuh desa, dan anehnya apabila digali lagi tulang belulang kaki dan kepala pada proses baritan tahun sebelumnya ga pernah ada....... padahal secara logika harusnya masih kan..........
- Dilakukan semacam doa bersama dan grebeg makanan di 7 perempatan desa Dieng Kulon
- Selamatan berupa acara makan bersama yang dilakukan oleh semua warga desa bertempat di kediaman salah seorang sesepuh desa dengan menu utama daging wedhus kendhit yang sudah disembelih pada pagi harinya. Dan sebagai informasi, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir......... wow kan.......
- Disediakan 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan.
Festival Rawa Pusung Jilid II : Banyak perbaikan sih, tapi ........
Event tahunan yang baru dua kali diselenggarakan secara besar di Desa Beji Kecamatan Pejawaran kali ini berlangsung selama tiga hari hari, yaitu hari Jumat sampai Minggu 20-22 September 2019 kemarin dan berhasil memukau ribuan pengunjung di sana lho. Suwer.......
Beda dengan tahun kemaren yang acaranya padat banget pada hari sabtu dan minggunya, tahun ini rangkaian acara agak sedikit diperlonggar gaes.....
Prosesi baritan dan wayang ruwat plus pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar pada hari jumat. Hari sabtu dikhususkan untuk pementasan kesenian warga plus kuda lumping dan kesenian Jepin sedangkan hari Minggunya hanya untuk fokus pada puncak acara yaitu pemotongan rambut gimbal si anak bajang. Sekedar informasi, kalau tahun sebelumnya ada tiga anak bajang yang dipotong rambutnya, kali ini hanya ada dua bocah yang ikut yaitu Nadia Ulfa (5 th) dari Desa Babadan Kecamatan Pagentan dan Syifa Muasafah (9 th) dari Dusun Genting, Desa Beji.
Masih seperti tahun sebelumnya, rangkaian prosesi puncak yaitu cukuran rambut gembel diawali dengan cara proses pengambilan air di Rawapusung dimana air tersebut akan digunakan untuk upacara jamasan si anak bajang. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi warga yang berpakaian adat Jawa lengkap dengan menggunakan kendi dan batang batang bambu.
Setelah upacara jamasan, sekitar pukul 11.00 WIB, prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. Syifa dan Nadia diarak menggunakan tandu mengelilingi desa dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir untuk menuju Embung Rawapusung, tempat pelaksanaan pemotongan rambut.
Nah, pas proses arak arakan ini ada beberapa hal yang kayaknya perlu jadi bahan evaluasi gaes.
saking antusiasmenya warga, mereka menggerombol di kanan kiri jalan desa plus ikut dalam rombongan. tapi ..... mereka ga pakai kostum adat gaes........
jadi hasil jepretan foto untuk acara ini bisa dipastikan ambyar......... kan fak banget...............
hehehe.............
Selanjutnya, pada saat sudah ada di lokasi pemotongan, ga ada koordinasi antara pembawa acara sama korlap yang ada di sana. hasilnya, sambutan yang awalnya hanya ada dua yaitu kades dan bupati dalam pelaksanaannya jadi empat, ketua panitia dilanjut kades, camat dan bupati.....
DAMN !!
Bosen gaes.......
Panas juga .... polll........
Emang sih dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, menyampaikan beberapa hal yang bikin adem dan girang warga setempat, salah satunya adalah mengucapkan rasa bangganya bahwa desa Beji mampu menyelenggarakan event yang cukup besar seperti itu. Bupati bahkan berharap agar bisa menjadi inspirasi bagi desa desa lainnya dan bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
"Yang jelas saya salut, event ini sangat bagus dan kreatif," kata Bupati.
Selain itu yang paling ditunggu warga adalah statement Bupati untuk membangun infrastruktur menuju ke desa yang notabene terpencil ini pada anggaran pemerintah tahun depan dan tentu saja hal ini disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengunjung yang hadir.
"Tahun 2020 nanti dari Beji sampai Kecamatan Pagentan via Tegaljeruk akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar,"
Wow ya ??
hemm............
Hihihihi..........
Nah hal yang paling krodit (dan paling mengecewakan saya pribadi) dari pelaksanaan Festival Rawapusung tahun ini adalah pada prosesi intinya. Pas prosesi ini panitia (dalam hal ini entah siapa yang ikut ngatur di deket MC) mempersilahkan seluruh anggota rombongan pejabat untuk ikut ke tengah embung (lokasi pemotongan)...... padahal kecuali bupati, yang lain kan ga berkepentingan.......
umpel umpelan alias penuh sesak gaes.
DAN FOTONYA AMBYAR tentu saja........
Sedikit curhat sih, sebenarnya kalau mau sebuah acara terpublikasi dengan sukses berkompromilah dengan para fotografer yang ada dilokasi ........ tapi hal itu kayaknya emang nggak (atau bahkan sama sekali TIDAK) dipahami oleh panitia kegiatan budaya semacam ini yang rata rata adalah kaum kesepuhan ..... orang tua....... hahahaha
Pada umumnya mereka akan mementingkan bagaimana caranya "menyenangkan" dan "menghormati" tamu penting (apalagi pejabat) yang hadir tanpa memperhatikan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih penting........
Sebagai contoh, di festival kemarin beberapa orang pejabat dengan pakaian non adat plus topi dipersilahkan untuk menemani pak camat (yang menggunakan baju adat lengkap dengan blangkon) memotong rambut salah satu anak bajang....... lha ini kan 100% bikin keki para fotografer yang berjejer di lokasi.........
Hasil fotonya ?
aSudahlah........
By the way, diluar hal hal tadi pada peyelenggaraan kali ini banyak perubahan positif kok. banyak perbaikan perbaikan di segala sisi. Mulai dari penataan lokasi, inovasi acara sampai dengan acara "klangenan" para fotografer, Jepin.......
Beda dengan tahun kemarin, pementasan jepin kali ini lebih asik dan fun. Para pemain yang mengalami trans alias kesurupan pun bermain api lebih asik..... dan yang pasti hasil foto teman teman fotografer jadi memuaskan........
Menarik bukan ?
Semoga tahun depan festival ini masih ada dan digelar dengan semakin baik ya gaes...... biar kesenian dan kebudayaan di desa ini tetap lestari, nggak pernah mati ........
Festival Mandi Lumpur Kalilunjar, perwujudan cinta terhadap bumi
Curug Sikopel..... tragis
![]() |
| Photo Credit : AndriKharisma |

Mungkin, ada baiknya kalau yang berperan aktif disini adalah warga masyarakat atau pokdarwis atau bahkan relawan setempat semampunya (tanpa mengharapkan hasil dulu tentunya) menata lagi, mempertahankannya dan kemudian mempromosikan lewat dunia maya biar tanpa biaya.

















%20copy.jpg)




















