Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Tembakau Lembutan Bansari, eksistensi tradisi asli tembakau Temanggung

Kalau ngomongin Temanggung, pasti banyak orang langsung kepikiran sama tembakau. 

Yup, kabupaten di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini memang udah terkenal sebagai “surga tembakau”. Aroma khasnya bisa bikin siapa aja yang nyium langsung kebawa suasana pegunungan yang adem dan asri. Tapi, ternyata bukan cuma soal kualitas tembakaunya aja yang bikin Temanggung terkenal. Ada juga tradisi unik yang masih dijaga sampai sekarang, salah satunya adalah tembakau lembutan dari Desa Bansari.


Mungkin banyak yang masih asing sama istilah “lembutan”. 

Jadi gini, lembutan itu sebenarnya salah satu cara atau proses pengolahan tembakau tradisional khas Bansari. Proses ini udah turun-temurun dari leluhur dan dipercaya bisa bikin rasa serta aroma tembakau jadi lebih mantap. Anak muda sekarang mungkin lebih sering lihat tembakau jadi rokok atau cerutu, tapi sebelum itu, ada proses panjang dan penuh makna di baliknya. Dan yang paling asik, tradisi ini bukan cuma sekadar urusan produksi, tapi juga punya nilai sosial, budaya, bahkan spiritual yang kental.




Tembakau lembutan bisa dibilang adalah “signature style” orang Bansari dalam mengolah tembakau. Setelah dipanen, daun tembakau nggak langsung dijemur atau diolah kayak biasanya. Mereka punya teknik khusus : daun tembakau ditumpuk dengan cara tertentu, dibiarkan dalam keadaan agak lembab, lalu melalui proses fermentasi alami. Proses ini bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung kondisi cuaca dan kelembapan.


Kata “lembutan” sendiri diambil dari kata “lembut”, yang menggambarkan tekstur daun tembakau setelah melalui proses ini. Hasil akhirnya, tembakau punya aroma yang lebih dalam, lebih legit, dan punya karakter kuat khas Temanggung yang nggak bisa ditiru daerah lain.


Buat warga Bansari, lembutan bukan sekadar urusan dagang. Ibaratnya, lembutan itu udah kayak ritual budaya. Proses nglembut tembakau biasanya dilakukan bareng-bareng, gotong royong, dan penuh kebersamaan. Bayangin aja, satu keluarga atau bahkan satu kampung bisa ikut bantu ngerjain, mulai dari nyusun daun, ngawasin kelembapan, sampai ngecek kapan waktunya dibuka.


Di momen kayak gini, biasanya suasana jadi rame. Obrolan ngalor-ngidul, cerita masa lalu, sampe candaan receh khas orang kampung bikin pekerjaan yang capek jadi terasa ringan. Jadi, ada semacam nilai kebersamaan dan silaturahmi yang tumbuh dari tradisi ini.


Nggak berhenti di situ, banyak juga yang percaya kalau nglembut itu harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh rasa syukur. Ada semacam doa-doa kecil yang dipanjatkan supaya hasilnya bagus. Kalau tembakau lembutan jadi berkualitas, otomatis harga jualnya naik, dan itu berarti rejeki buat banyak keluarga.




Kenapa tembakau lembutan Bansari begitu istimewa? Lokasi geografis punya peran besar. Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, pas banget di lereng Gunung Sumbing. Cuaca sejuk, tanah subur, dan kabut yang hampir tiap hari nyelimutin desa bikin tembakau di sini punya cita rasa unik.


Bayangin aja, tiap pagi petani berangkat ke ladang dengan pemandangan sunrise di atas gumpalan awan yang menghampar sangat luas plus pucuk pucuk gunung (Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Telomoyo) yang berdiri gagah di kejauhan. Sambil jalan, mereka bisa lihat hamparan kebun tembakau yang luas, daunnya hijau mengkilap, basah kena embun. Suasana kayak gini yang bikin tembakau Bansari punya cerita dan daya tarik tersendiri.


Di era sekarang, banyak anak muda desa yang lebih tertarik merantau ke kota daripada melanjutkan tradisi leluhur. Tapi, ada juga lho generasi muda Bansari yang tetap bangga sama warisan ini. Mereka mulai bikin konten di media sosial tentang proses nglembut, bahkan ada yang bikin vlog atau TikTok biar orang luar tahu kalau tembakau Bansari itu bukan hal biasa.


Selain itu, beberapa komunitas anak muda di Bansari juga udah mikirin gimana caranya biar lembutan tetap eksis tapi nggak ketinggalan zaman. Misalnya, ada yang coba bikin branding tembakau lembutan dengan kemasan modern, atau ikut pameran produk pertanian. Jadi, warisan budaya tetap jalan, tapi bisa juga masuk pasar global.




Kalau dilihat sepintas, lembutan mungkin cuma soal cara ngolah tembakau. Tapi  juga identitas, jati diri, sekaligus kebanggaan masyarakat Bansari. Bayangin kalau tradisi ini hilang, berarti hilang juga satu cerita penting dari budaya Temanggung.

Apalagi, di tengah arus globalisasi, orang makin mudah ninggalin hal-hal tradisional. Nah, justru lembutan ini bisa jadi salah satu daya tarik wisata budaya. Bayangin aja kalau ada paket wisata “Belajar Nglembut di Bansari” — turis bisa langsung ikut prosesnya, dengerin cerita dari petani, sampai ngerasain suasana asli desa pegunungan. Seru banget kan?


Tradisi tembakau lembutan di Bansari bukan cuma tentang cara mengolah daun tembakau, tapi juga tentang cara hidup, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakatnya. Dari proses sederhana ini, lahirlah produk berkualitas yang udah terkenal sampai luar negeri.


Dan yang paling penting, lembutan jadi pengingat buat kita semua bahwa warisan leluhur nggak boleh dianggap sepele. Di balik aroma wangi tembakau, ada kerja keras, doa, dan cerita panjang yang bikin Bansari layak disebut sebagai salah satu pusat budaya tembakau paling keren di Indonesia.




Jadi, kalau suatu saat kamu main ke Temanggung, jangan cuma hunting kopi atau wisata gunung aja. Sempetin mampir ke Bansari, ngobrol sama petani, dan ngerasain langsung bagaimana tradisi lembutan bikin tembakau jadi “hidup”. Siapa tahu, kamu pulang-pulang nggak cuma bawa oleh-oleh tembakau, tapi juga bawa cerita dan pengalaman yang nggak bakal terlupa.

10.06.2025
Posted by ngatmow

Dieng Culture Festival XIV 2024, Back to The Journey

Dieng Culture Festival kembali digelar dengan mengusung tema Back to The Journey, acara budaya tahunan yang ditunggu tunggu (karena tahun 2023 ga ada) ini akhirnya dilaksanakan di Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng, Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 23-25 Agustus 2024 yang lalu.



Wait.....Dieng kulon ? Banjarnegara ?


Yes. Sekedar menjelaskan saja, KWDT Dieng terutama lokasi utama tempat adanya Candi dan Telaga itu terbagi menjadi 2 wilayah. Desa Dieng Kulon masuk wilayah Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Desa Dieng Wetan yang masuk wilayah Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Namun karena akses yang lebih mudah dan jarak yang lebih dekat dengan pusat kota, Dieng lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Dieng Wonosobo (56,6 km via Kejajar vs 26 km via Karangkobar)...... meskipun faktanya sebagian besar wilayah di pusat wisata Dieng masuk desa Dieng Kulon. gitu .......


Kembali ke DCF ya .....


Dieng Culture Festival XIV tahun 2024 ini sesuai temanya memang mengusung konsep yang agak sedikit berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini ada lebih banyak acara diluar acara inti seperti Upacara Ruwat Rambut Gembel, Jazz Atas Awan, Senandung Atas Awan, Festival Lentera dan Lampion, seperti Kontes Domba Batur, Gebyar Damar Kurung, Sendratari Anak Gembel, Pertunjukan Seni Tradisional & Festival Caping Gunung, Festival Kopi Pegunungan Dieng, Festival kuliner dan bazar produk kreatif/UKM serta Dieng Bersholawat. Komplit.....


Khusus Kontes Domba Batur, acara ini sebenarnya sudah diselenggarakan sejah DCF sebelumnya. Namun ada yang berbeda kali ini yaitu adanya beberapa ekor domba batur yang diletakkan di luar kandang dan langsung bisa disentuh  dan diberi makan oleh pengunjung. Sesuatu yang sangat menarik terutama bagi pengunjung anak anak dan pengunjung yang berasal dari luar kota. Apalagi domba batur adalah domba langka di Indonesia yang mungkin tidak akan dijumpai di daerah lain.




Seperti biasa, dari semua acara tersebut yang paling ditunggu pengunjung (baik yang beli tiket maupun nggak beli) adalah pertunjukan Jazz Atas Awan dimana selalu menghadirkan konser musik dari sejumlah musisi ternama Indonesia dan menampilkan lagu lagu andalannya di tengah suhu dingin Dieng.




Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini, musisi Tanah Air yang tampil pada konser Jazz Atas Awan antara lain Danilla Riyadi, Parade Hujan, ditutup oleh  Pradikta Wicaksono. Penampilan mereka cukup sukses menghibur pengunjung meskipun banyak juga yang kecewa karena penyusunannya terkesan anti klimaks. Namun kekecewaan itu menjadi hilang ketika kode pelepasan lampion sudah dikumandangkan oleh pembawa acara. 


Dengan aba aba dari MC di panggung ribuan lampion beraneka warna dilepas ke udara untuk kemudian menghias langit dengan warna merah, hijau dan oranye,  pemandangan cantik di atas langit Dieng itu seperti biasanya selalu berhasil memukau sekitar 6000 pasang mata yang sedang menikmati suasana. Sebagai informasi, lampion DCF berbentuk unik karena cenderung bulat (berbeda dengan lampion Borobudur yang cenderung kotak memanjang) dan lampion tersebut tidak bisa terbang terlalu tinggi alias tidak dirancang bisa bertahan lama di udara. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu lintasan penerbangan dan merusak lingkungan.




Asik, syahdu dan jelas meninggalkan kesan mendalam di setiap momennya.

itulah Dieng Culture Festival yang selalu tidak akan membosankan .......


By the way, kalo dari pengamatan pribadi, penyelenggaraan secara umum DCF kali ini relatif jauh lebih baik dan tertata dari penyelenggaran sebelumnya. Terlihat dari penukaran tiket, tata kelola venue, jalur pengunjung dan tamu undangan, kantong kantong parkir, kebersihan dan sebagainya..... 


Oke.... kita ceritain satu persatu ya.


Ticketing area dan sekretariat panitia


Kali ini tempat penukaran tiket dan sekretariat panitia sudah lebih tertata dan rapi. Bahkan bisa dikatakan paling baik, karena disamping mudah ditemukan (ada di jalur masuk ke komplek Pendopo Soeharto Withlam dan parkiran candi arjuna), juga alur penukaran tiketnya sudah dipersiapkan dengan baik, dilayani banyak panitia dan voulentir, juga tepat berada di depan sekretariat yang menggunakan aula putih (bangunan yang merupakan gedung serba guna ini juga baru jadi lho gaes.....), lengkap dengan fasilitas kamar mandinya dan tempat yang luas untuk semua kegiatan kesekretariatan).


Sekretariat juga merupakan gedung serba guna dimana ruangannya cukup luas dengan fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Bahkan masih ada space untuk tempat istirahat panitia serta volunteer bahkan agen biro wisata yang kecapekan karena padatnya acara.


Jalur Pengunjung dan Tamu Undangan dan Tata kelola Venue


Untuk yang satu ini, harus diakui bahwa gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini yang paling de best. Sebab semuanya direncanakan dengan matang dan berdasar pada pengalaman penyelenggaraan sebelumnya. 


Bagaimana tidak ? pada tahun ini jalur pengunjung dan jalur tamu undangan dibuat sedemikian rapi dan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang selalu membuat tamu VVIP pun kurang merasa nyaman. 


Jalur tersebut dibuat melewati semua venue yang disediakan oleh panitia. Mulai dari masuk komplek candi arjuna, kemudian melewati jalur candi setyaki, venue pojok UMKM Banjarnegara, venue eKraf Banjarnegara baru kemudian masuk ke venue utama tempat digelarnya Jazz Atas Awan. Apik.


Selain itu, jalur pejalan kaki pengunjung dibuat semenarik mungkin dengan berbagai ornamen festival yang khas Dieng lengkap dengan pencahayaan dan tata lampu yang estetik. Bahkan ada juga spot pameran foto dan logo penyelenggaraan DCF dari waktu ke waktu, yang membuat pengunjung seakan dibawa kembali kepada memori Dieng Culture Festival yang sudah berlalu.




Kebersihan dan Kantong Parkir


Yes.....


indikator yang terakhir ini menjadi satu hal yang sangat jelas terlihat bedanya pada gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini. Kemacetan yang selalu menjadi "momok" pengunjung setiap tahun ternyata sangat berkurang karena pengelolaan kantong kantong parkir yang sangat efektif. Banyak kantong parkir disediakan oleh panitia bekerjasama dengan masyarakat Dieng yang mampu menampung ratusan kendaraan pengunjung sekaligus mengurangi parkir di pinggir/bahu jalan yang selalu menjadi "penyakit" pada tahun tahun sebelumnya.  


Terkait dengan parkir, permasalahan kebersihan yang biasanya juga menjadi "cacat" di setiap kantong parkir dan sudut sudut Dieng juga ikut terselesaikan. Khusus kebersihan, kali ini banyak sekali volunteer persampahan (hebatnya mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia lho) yang dengan sigapnya menjaga kebersihan. 


Hebat









Pesta Ondol di Festival Kuduran Budaya Wanayasa

Pernah dengar Festival Kuduran Budaya Wanayasa ?
Masing asing ?


Banyak temennya kisanak …..




Festival Kuduran Budaya merupakan pesta rakyat buah dari kreatifitas seniman muda Wanayasa dan sekitarnya, yang mana Wanayasa sendiri merupakan salah satu daerah di bagian utara kabupaten Banjarnegara yang berupa pegunungan dan memiliki komoditas utama dari bidang pertanian.


Masih asing ?


Kalau kalian tahu Dieng kan ?


Nah Wanayasa ini merupakan wilayah pendukung Dieng, berada di jalur Pekalongan – Dieng via Kalibening. Kalau dihitung dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari Dieng menuju ke arah Pekalongan.


Masih belum tahu ?
monggo pake aplikasi Google maps aja ….. hehehe …..


Lanjut ya,

Jadi gini ….. saking eratnya hubungan masyarakat di daerah ini dengan salah satu komoditas pertanian yaitu singkong, mereka sampai menjadikannya perlambang kemakmuran dan kerukunan. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya pesta rakyat dengan bahan baku utama singkong pada setiap panen rayanya.


Kegiatan pesta rakyat ini menjadikan ondol sebagai objek utamanya. Ondol sendiri merupakan jajanan tradisional yang dibuat dengan bahan utama singkong (di beberapa lokasi, jajanan ini disebut juga ondol-ondol atau bola-bola singkong karena bentuknya yang memang bulat seperti bola).


Menurut mas mas panitia yang mau dimintai keterangan, Kuduran Budaya punya sejarah dan kandungan semangat yaitu suatu momentum dimana dulu Lurah mengajak semua wargannya untuk bersama-sama gotong royong dan bahu-membahu membangun desa, menghidupkan desa, atau menjadikan desa sebagai sumber yang memenuhi kehidupan jiwa dan kultural warganya.


Oke skip …….


Kita Kembali ke Festival Ondol ……


Pada Festival Kuduran Budaya tahun 2023 ini, acara diawali dengan kegiatan memanen-cabut (mbedul) umbi singkong (tela) yang diselenggarakan di Desa Wanayasa, tepatnya di Lapangan Desa Wanayasa setelah di tahun-tahun sebelumnya sempat dilakukan di Desa Dawuhan dan Desa Tempuran. Alasannya Ondol sebagai jajanan desa ingin dimaknai dan dilekati dengan nilai-nilai positif oleh kelompok yang menggagas dan mengadakan festival seni budaya lokal ini Seniman Muda Wanayasa (Sendawa) sebagai ajang kerukunan Masyarakat antar desa di wilayah Wanayasa.


Acara utama Kuduran Budaya adalah Bentang Ondol 1.000 meter.  Ondol adalah jajanan bulat sebesar bakso terbuat dari singkong dan rasanya asin gurih. Biasa disajikan atau dijual dengan ditusuk seperti sate, dan untuk satu sindik bambu terdiri atas 17 ondol. Menurut Panitia, angka 17 tersebut bermakna 17 desa di Kecamatan Wanayasa dan 17 rakaat sholat dalam sehari


Selain bentang Ondol 1.000 meter, Kuduran Budaya tahun ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan yakni Wedding Vaganza, Peragaan Busana Pengantin, penampilan Musik, Lomba Mewarnai, Sedekah Nada, dan Seribu Plendungan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, (23/09/2023) dan kegiatan mBedul Tela, Goreng Ondol, Arak Ondol, Bentang Ondol Sewu Meter, dan Tumpengan yang berlangsung di hari Minggu (24/09/2023)


Yang menarik dari festival ini adalah kekompakan masyarakat Wanayasa dan sekitarnya yang luar biasa. bayangkan saja, ribuan orang terlibat langsung dalam acara ini. Tua muda, laki laki perempuan, semua bekerjasama demi kesuksesan acara. 


Di salah satu gang desa, puluhan ibu ibu berjejer membentuk kelompok masing masing dengan tugas yang berbeda. Ada yang mengolah ketela, ada yang membentuknya menjadi bulat, ada yang menggoreng, ada yang menusuknya menjadi sate ondol, ada juga yang kemudian menyusunnya menjadi gunungan ondol. 


Di jalan raya bapak bapak dan pemuda menyiapkan karnaval mengarak gunungan ondol keliling desa yang  kemudian akan berakhir di Lapangan desa Wanayasa. Disana, ribuan masyarakat sudah berkumpul untuk acara puncak festival ini. 


Acara puncaknya apa ?


Tonton aja langsung deh di festival kuduran wanayasa tahun depan .... 


Karena acara ini terlalu sayang untuk dilewatkan dan terlalu indah unutk diceritakan tanpa terlibat sendiri didalamnya ........ hehehe .......








 

 

Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana

Dieng membeku lagi !!

Yes, beberapa hari terakhir aplikasi stasiun cuaca dieng menunjukkan grafik penurunan suhu yang terus menerus. Sehingga puncaknya fenomena embun es ini terjadi Kamis (30/6/2022) kemarin, dengan berpusat di dalam kompleks Candi Arjuna, Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.


Embun es atau warga Dieng menyebut bun upas yang bisa membuat daun layu hingga tanaman mati kali ini lebih tebal dibandingkan yang sebelumnya karena suhu mencapai minus 1,25 derajat Celcius ! dan merupakan suhu paling rendah di tahun 2022 lho.

Dingin ? Jelasss

Menurut seorang kawan yang menjadi pecinta sejati Dataran Tinggi Dieng (hingga dijuluki sebagai Demang Dieng), Aryadi Darwanto, sebenarnya tanda-tanda kemunculan embun es di Dieng bisa diamati sebelumnya lho :

  1. Cuaca pagi sampai sore hari pada hari sebelumnya cerah. Dan cenderung "hangat" untuk ukuran cuaca di Dieng. 
  2. Pada malam harinya tidak ada angin, langit cerah. Jika ada angin suhu akan naik dan embun es tidak akan terbentuk. 
  3. Embun es bisa terbentuk kapan saja (malam hari) asal suhu udara sudah turun, sekitar 4'C
  4. Liat aplikasi Cuaca Dieng , jika pada sekitar jam 23.00 WIB sudah menunjukkan suhu udara 4'C dan terus turun, berarti proses pembentukan embun es sudah dimulai.
  5. Embun es dapat di lihat sampai pukul 07.30 di sekitar Candi Arjuna, Candi Setyaki Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.

Photo by. Aryadi Darwanto
Photo by. Aryadi Darwanto

Lebih lanjut, kalau kita menggali informasi dari sudut ilmu meteorologi, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau pada Juli -September. Dan beberapa faktor yang mungkin berperan terbentuknya embun beku yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian.

Bagi masyarakat Dieng sendiri, embun upas atau bun upas adalah embun racun. Fenomena ini ketika suhu menjadi sejuk, lantas turunlah embun-embun yang dingin lagi beku sehingga efeknya membuat tanaman mati tersiakan. Kerusakan tersebut tidak dapat dihindari jika embun beku tiba lebih awal sebelum masa panen. 

Tapi, bagi wisatawan dan para pemburu konten, turunnya bun upas ini adalah sesuatu yang sangat spesial. tentu saja karena sangat jarang terjadi di negeri khatulistiwa yang cenderung beriklim hangat ini. Jadi, meskipun sangat dingin, masih saja kondisi ini diserbu ribuan pendatang yang hanya pengen mengabadikan "salju" dan kemudian memamerkannya di media sosial mereka......

Bikin macet tentu saja ... DAMN !!!

By the way,  kalau kalian mau berkunjung ke Dieng pas dingin dinginya kayak gini, berikut sedikit tips untuk persiapan ya :
1. Pakai baju yang tebal dan jangan lupa jaket.
saat fenomena embun upas terjadi, suhu udara cenderung lebih dingin, oleh karena itu sangat disarankan kalian memakai baju tebal, seperti jaket.  Jaket tidak harus memakai jaket gunung, tapi yang penting jangan jaket wool atau jeans.  Demi mengurangi rasa dingin saat melihat embun upas, kalian juga bisa memakai sarung tangan, kaus kaki, dan topi kupluk (yang menutup sampai telinga) agar hangat.
2. Makan dan minum hidangan yang hangat.
Memakan hidangan yang hangat (terutama karbohidrat) saat suhu udara berada di posisi minus bisa membuat tubuh terasa lebih baik. Cocok juga untuk mengganti sumber panas yang hilang karena udara dingin, sukur membawa sendiri bekal yang hangat.  Jikapun tak sempat membawa makanan hangat, bisa juga membelinya di warung yang ada di dekat tempat melihat embun upas. Tapi hati hati lho, makanan dan minuman disana akan terasa jauh lebih dingin daripada suhu aslinya, sehingga kalau terburu buru dan tanpa strategi mulut dan lidah akan terbakar dan baru terasa ketika kita sudah turun gunung nantinya.
3. Datang dini hari
Karena proses pembekuan sering terjadi mulai dini hari, maka ada baiknya kalau datang ke Dieng (selain yang menginap lho ...) sekitar jam 3 - 5 pagi. Alasannya adalah agar sempat "ketemu" bun upas itu. Sebab biasanya "salju" tidak akan bertahan lama. Ketika matahari sudah mulai terbit dan bersinar terang pada pukul 05.30 WIB, butiran es yang muncul akan segera mencair dan hilang.
4. Datang di bulan Juli - September
Pada bulan Juli - September yang masih masuk dalam musim kemarau,  sebab pada musim kemarau semua hal yang dibutuhkan untuk terbentuknya bun upas terjadi. So, agendakan ke Dieng untuk tahun depan ya 
5. Terus Bergerak 
Udara dingin dan cuaca ekstrem di alam bebas seperti yang terjadi di Dieng memang terasa membuat tubuh sulit bergerak – atau setidaknya membuat tubuh malas untuk bergerak banyak. Padahal hal ini adalah salah satu jalan menuju ke hipotermia. Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit serta gejala mematikan itu – pastikan kalian tetap bergerak atau bahkan memperbanyak gerak tubuh dan mencoba membiasakan diri dengan udara yang sedingin itu. 
6. Pantau terus perkembangan suhu Dieng dengan teknologi
Semakin berkembangnya teknologi juga sangat membantu kita untuk memantau perkembangan suhu dan kondisi cuaca di Dieng. Salah satunya dengan menggunakan Aplikasi Cuaca Dieng yang bisa diunduh di Apps Store 
 






8.01.2022
Posted by ngatmow

Naik Gunung Prau (lagi)

Setelah sekian lama pasif dan seakan mendekati pensiun, akhirnya saya kembali lagi memberanikan diri untuk menggendong tas ransel berjalan nanjak beberapa jam dengan menahan dingin khas naik gunung.

Yes ........saya naik gunung gaesss.....

Dan kali ini kembali ke gunung prau lagi.........
Sebab selain saya pikir bahwa naik gunung isi masih ramah sama pendaki uzur, ramah kepada dengkul kaki, juga Gunung Prau memang selalu ngangenin...... Sekali kita naik, perasaan pingin naik ke sini akan seterusnya menghantui jiwa raga dan pikiran.....halah......


Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim). 

Jalur Dwarawati menurut saya yang berbodi bulat ini ga begitu berat (sebab memang dari awal sudah request dipilihkan alternatif jalur pendakian yang ramah mbah mbah......... hahahaha........) dan secara otomatis akan terasa sangat tidak menantang alias mudah banget buat yang berbodi slim dan ringan. Secara jarak tempuh sih memang cukup lumayan, dari posisi start di sebelah Candi kita akan berjalan nanjak sejauh kurang lebih 2 kilometer dengan kondisi jalan yang banyak "bonus" alias cukup landai dan tidak begitu menguras  tenaga. 

Tapi jangan terlalu percaya pada saya semudah itu kisanak ........ sebab saya sendiri mengalami kondisi 10ss alias 10 steps stop aliasnya lagi setiap sepuluh langkah saya berhenti untuk mengatur nafas ....... hehehehe.....

Menurut info yang beredar luas, waktu tempuh untuk mencapai puncak Prau melalui jalur ini adalah 2-3 jam saja (itu pun sudah dihitung perjalanan orang orang berkelebihan macam saya). sementara untuk jalur pendakian via Patak Banteng jauh lebih cepat namun dengan tingkat kesulitan dan trekking yang lebih berat pula. 

Tapi kedua jalur ini beda puncak lho sodara sodara .......

lho kok ?

Yes...... Gunung Prau punya 2 puncak utama dengan pemandangan yang sama sama menawan dan sulit terlupakan. halah.....
Jalur pendakian via Dieng punya puncak sendiri dengan view ke arah selatan dan barat (sangat bagus untuk memotret sunset), sedangkan Jalur pendakian via Patak Banteng punya puncak dengan view menghadap Timur persis ke arah deretan gunung eksotis seperti Sindoro, Sumbing, Kembang bahkan Merbabu dan Lawu. Spot Sunrise dong....... Yes....betul sekali.......


Bisa dilihat di peta, jarak dari Puncak 1 dan Puncak dua sekitar 1,45 kilometer, dengan trek sangat landai bahkan cenderung datar  dan waktu tempuh yang dibutuhkan pun hanya sekitar 45 - 60 menit. Sebab kita akan berjalan di sebuah padang rumput yang dinamakan Telaga wurung (Telaga Gagal). 

Lokasi ini sangat asik sodara sodara..... bayangin aja, kita berada di sebuah padang rumput yang luas dengan bukit penuh rumput berembun es ga begitu tinggi mengapit di sisi kanan dan kiri...... sunyi, sepi dan syahdu..... tapi juga ngeri ..........apalagi kalau ditambah berimajinasi hihihi............. 

saya saja sampai membayangkan kalau tempat ini digunakan untuk shooting film kolosal dimana perang besar terjadi dan komandan dari kedua pihak hanya memandang pasukan mereka saling bantai dari kedua bukit yang mengapitnya..... amazing pokoknya......

Pas perjalanan turun, setelah Pos 3 dan puncak menara, ada satu tempat yang sangat khas dengan Gunung Prau dan menjadi favorit para pendaki. Yaitu lokasi dimana hutan Cemara dengan akar pohon  muncul di permukaan tanah dan membentuk tekstur sangat menarik karena saling mengikat satu sama lain di permukaan tanah, lengkap dengan lumut khas ketinggiannya. 
(Kalo di jalur ini) tempat itu dinamakan "Akar Cinta"

Kenapa akar cinta?
Menurut Mas Demang Dieng, Aryadi, tempat itu dinamakan akar cinta karena akar akar di lokasi itu saling terjalin satu sama lain dan lokasinya yang menyajikan pemandangan yang sangat indah. Cocok untuk bercinta....... ehhh.........

By The Way,  sesuai dengan rumus para pendaki, waktu tempuh untuk turun adalah 1/3 dari waktu tempuh untuk naik, perjalanan turun lewat jalur ini hanya 1 jam saja sodara sodara.......
Cepet ya ? padahal jalannya pelan pelan dan menyesuaikan dengan kondisi badan. Bulat........ takut jatuh dan menggelinding turun hehehe......

Pengen nyoba kan ? Sok atuh..... kapan mau naik ke sini ?
Tapi mohon sabar ya ..... nunggu pandeminya bubar..... hehehe......







6.21.2020
Posted by ngatmow

Secuil keindahan surga di Pacitan, bernama Pantai Klayar

Sebelumnya pernah ada yang tanya apa nama salah satu pantai tercantik di pesisir selatan Jawa timur khususnya di Pacitan? 

Pernah ?
Kalo kamu menjawab pantai klayar, maka yang ada di pikiran kita sama man......
Yes. Pantai klayar.......


Pantai Klayar adalah menu wajib bagi para traveler untuk disinggahi di Kabupaten Pacitan. Selain menawarkan panorama alam yang mengagumkan, pantai ini dikenal karena keunikannya. Saking uniknya, ada beberapa ciri khas yang hanya ada di sini dan nggak akan ditemukan di pantai pantai yang lain dimanapun gaes.......

Ada karang raksasa menyerupai Sphinx di Mesir, air mancur yang dapat mengeluarkan bunyi seperti seruling (yang kemudian disebut warga setempat sebagai Seruling Samudra), hamparan pasirnya yang khas, dimulai dari warna yang agak putih pada bagian paling tepi, pasir tersebut kemudian bertransisi menjadi agak kecokelatan setelah mendekati air laut. Gradasi warna tersebut akan sangat jelas dari arah atas, apalagi kalau kita lihat dari pesawat atau kalau kita menggunakan drone. 
Bagus ? Pasti.....

Bukan itu saja gaes.... Dibalut warna laut yang biru serta gulungan ombak pantainya yang cukup besar (karena Pantai Klayar ini merupakan salah satu dari gugusan Pantai Laut Selatan) yang tentu saja  menyimpan sejuta keindahan dan misteri, pantai ini mampu membuat setiap pengunjung terpesona dan bahkan belakangan banyak yang mengatakan pantai ini berkelas dunia lho...... 

And i agree about that.....
halah.........


Konon kabarnya, Keberadaan Pantai Klayar tidak lepas dari kisah masyarakat setempat. Ada dua versi yang mengungkapkan asal-usul nama Klayar. Versi pertama menyebutkan bahwa dahulu kala ada sebuah perahu yang diterjang ombak besar dan terdampar di pantai ini. Perahu yang terombang-ambing ombak sebelum terdampar disebut glayar yang lama-kelamaan berubah menjadi klayar. Dari situlah nama Klayar diambil. Versi kedua mengungkapkan, dulunya pantai ini seringkali dikunjungi penduduk untuk berjalan-jalan, baik di pagi hari maupun sore hari. Klayar berasal dari bahasa Jawa, yaitu klayar-kluyur yang artinya berjalan- jalan. Lama kelamaan, kata itu lebih disingkatkan menjadi klayar untuk mempermudah penyebutan.

Jadi pengen kesana kan?

Lokasi pantai klayar ini sendiri di Desa Kalak Kecamatan Donorejo atau Sekitar 35 km dari sebelah barat Kota Pacitan Jawa Timur. Untuk masuk kesini rute perjalanan melewati jalan sempit, banyak tikungan dan harus hati-hati. Bagi traveler yang menggunakan mobil pribadi sebaiknya kesehatan mobil diperhatikan dulu biar lebih optimal terutama di bagian kaki dan rem. sementara untuk kalian yang menggunakan sepeda motor dan datang bersama pasangan........ selamat, ada banyak tikungan mesra disini. akan banyak adegan mengerem dan akan terasa empuk di punggung.......ehhh.......

Ada dua rute utama traveler untuk bisa sampai ke pantai super menarik ini gaes..........

1. Pengunjung dari Yogyakarta bisa lewat Wonosari Sehabis berwisata di Yogyakarta dan ingin melanjutkan ke Pantai Klayar di Pacitan, kamu bisa melewati Wonosari atau Gunungkidul. Sampai di dua daerah itu, kamu bisa ambil arah lurus ke timur menuju daerah Pathuk. Selanjutnya, arahkan ke Pracimantoro dan lalu ke Giribelah. Kemudian, kamu akan melewati daerah Punung. Sampai di Punung kamu akan menemui papan penunjuk arah ke Pantai Klayar. 

2. Pengunjung dari Kota Pacitan bisa lewat jalur bus Solo-Pacitan Jika kamu datang dari arah kota Pacitan, perjalanan akan terasa lebih singkat. Kamu hanya perlu mengikuti jalur bus Solo-Pacitan. Selanjutnya kamu akan menemui pertigaan Dadapan lalu belok kiri ke arah desa Candi. Sampai di sana, arahkan kendaraanmu ke kanan, lalu lurus saja mengikuti jalan. Kamu akan menemukan pertigaan dengan petunjuk yang mengarahkan ke Pantai Klayar. Jarak yang ditempuh dari kota Pacitan ke pantai ini sekitar 35 kilometer atau 2 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi mengingat rutenya yang berkelok kelok dan naik turun

Penginapan ? ada......
bahkan ada juga yang tepat berada di pinggir pantai. by the way, untuk penginapan yang satu ini kita bisa pesan beberapa hari sebelumnya langsung ke the boss, Mr. Anggris (untuk CP bisa kontak saya dulu hehehe) ..... soal harga pasti aman dan nyaman di kantong kok hehehe.........

So, kapan mau ke klayar ?
buruan lho sebelum ambyar karena viral.......
12.20.2019
Posted by ngatmow

Baritan Dieng Kulon, warisan budaya yang semakin tidak terlirik dan mulai terlupakan

Pernah mendengar istilah Baritan gaes ?
Belum ?

Wajar........ kaum milenial........
eh nggak ding, kaum kolonial juga ada yang belum kok hehhe.........

Baritan adalah sebuah tradisi dalam budaya masyarakat Jawa yang sudah dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun baru Islam. Tradisi baritan ini adalah sebuah upacara adat yang tidak lain adalah  berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Tentunya hal ini diawali dari kepercayaan masyarakat terkait ritual tradisi baritan yang dilakukan untuk mencegah bencana alam yang mungkin akan terjadi. Dan biasanya tradisi ini sangat erat dengan peristiwa sejarah yang dialami warga setempat secara berkala.



Sebuah pendapat berbeda dari para pelaku baritan (yang bermata pencaharian sebagai petani) mengatakan bahwa baritan berasal dari kata 'buBAR ngaRIT  SelameTan', yang artinya adalah acara syukuran setelah selesai menyabit rumput/padi. namun ada sebagian masyarakat yang lain yang mengkonfirmasi bahwa bahkan kata itu tidak lagi diketahui asalnya. Masyarakat hanya tahu bahwa nama kegiatan ritual itu adalah Baritan, tanpa mempertanyakan lebih lanjut. 

Seperti di daerah Indramayu, konon Baritan itu ada hubungannya dengan kata dalam bahasa Sunda "buritan" yang berarti waktu sehabis maghrib, mengacu pada waktu pelaksanaan, sedangkan di Jawa Tengah sebelah barat, baritan itu berasal dari kata 'barit ' yang berarti tikus. Hal ini berhubungan dengan maksud kegiatan ritual masyarakat agraris untuk menghindarkan diri dari serangan tikus. 

Di sisi lain,  secara religi bagi masyarakat  yang melaksanakannya, tradisi Baritan adalah apresiasi rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan karunia Nya. Harapannya, dengan upacara ini secara tidak langsung masyarakat juga diingatkan agar intropeksi diri atas tingkah lakunya juga menjaga kepedulian atas sesamanya. Jadi sebenernya manusia disuruh menjaga kodratnya kembali sebagai makhluk sosial. gitu sodara sodara......

Meskipun tradisi baritan ini sudah mulai ditinggalkan, namun di pulau Jawa sendiri masih ada beberapa daerah yang secara rutin menggelarnya, bahkan secara besar besaran. Pemalang, Blitar, Banyuwangi, Wonosobo dan Dieng adalah beberapa contohnya.

Wait......Dieng ?

Yes....... Bener sekali.

Ada tradisi ini di Dieng dan sekitarnya sodara sodara...... 
Ga pernah denger? Sama ...... hehehe......

Mbah Sumanto
Tradisi Baritan di Dieng memang tidak terekspos seperti halnya tradisi pemotongan rambut gembel yang memang sudah dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah festival berskala nasional, namun tradisi ini masih tetap terjaga dan digelar oleh sebagian masyarakat Dieng (khususnya Desa Dieng Kulon) setiap tahun pada bulan Sura (penanggalan Jawa). Penjaga tradisi ini adalah 7 orang sesepuh desa yang dipimpin oleh mbah Sumanto (menggantikan Mbah Naryono yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu). 

Menurut Mbah Manto, panggilan akrab beliau, Baritan di Dieng Kulon berasal dari kata "mbubarake Peri lan Setan" (membubarkan peri dan setan). Dan sesuai dengan makna kepanjangannya itu Baritan di Dieng lebih menjadi sebuah upacara / ritual yang ditujukan agar masyarakat desa Dieng Kulon terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.

Begitu kira kira gaes......
Lanjut ya ........

Upacara Baritan Dieng terdiri dari berbagai rangkaian acara yang dipimpin langsung oleh para sesepuh desa. Rangakaian Baritan meliputi ziarah makam leluhur, kirab, penyembelihan wedhus kendhit (kambing putih dengan bulu berwarna hitam yang melingkar sempurna di bagian badan, atau sebaliknya) berjenis kelamin jantan.

Ada beberapa hal yang menarik dari pelaksanaan tradisi Baritan di Dieng ini ;
  • Penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dan kepala tepat di titik tengah desa oleh sesepuh desa, dan anehnya apabila digali lagi tulang belulang kaki dan kepala pada proses baritan tahun sebelumnya ga pernah ada....... padahal secara logika harusnya masih kan..........
  • Dilakukan semacam doa bersama dan grebeg makanan di 7 perempatan desa Dieng Kulon
  • Selamatan berupa acara makan bersama yang dilakukan oleh semua warga desa bertempat di kediaman salah seorang sesepuh desa dengan menu utama daging wedhus kendhit yang sudah disembelih pada pagi harinya. Dan sebagai informasi, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir......... wow kan.......
  • Disediakan 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan.
Mulai tertarik ?
Oke.........
Jadi ceritanya begini, satu persatu ya...........


Prosesi baritan diawali pada malam hari dimana 8 orang sesepuh desa Dieng Kulon melakukan ritual lampahan. Lampahan dimaksud adalah melakukan perjalan mengelilingi desa tepat pada sepertiga malam terakhir (kurang lebih dimulai jam 2 pagi...... ga terbayang deh dinginnya kaya apa.......)

Kemudian paginya, mereka bertujuh akan melakukan penyembelihan seekor kambing khusus yang disebut sebagai wedhus kendhit tadi. Kepala dan ke empat kakinya akan ditanam di 4 penjuru desa sebagai simbol benteng luar desa, kemudian kepala ditanam tepat di titik tengah desa sebagai simbol kewibaan desa. Dagingnya dikelola oleh kaum perempuan untuk dimasak dan diolah sedemikian rupa menjadi masakan yang akan disajikan dan dibagikan kepada seluruh masyarakat desa Dieng Kulon.

Proses penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dilakukan secara bersama sama oleh 7 orang sesepuh desa Dieng Kulon dengan diiringi oleh warga dan berbagai macam kesenian desa seperti Barongsai, embeg dan jepin. Titik startnya adalah rumah yang akan digunakan sebagai tempat dilaksanakannya selamatan. 

Sebelum perjalanan dimulai, akan dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama (Islam) dengan dilanjutkan pemukulan gong sebagai tanda start. Dalam proses jalan, warga masyarakat yang mengikuti akan melantunkan kidung yang berisi puji pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dan itu dilakukan sampai ke titik titik penanaman 


Sesampainya di perempatan, rombongan akan berhenti untuk menggelar doa bersama lagi. Doa dilakukan bersama warga yang berkerumun mengelilingi meja berisi makanan (biasanya tumpeng dan aneka perlengkapannya), kopi teh serta jajan pasar. Doa yang dipimpin oleh seorang pemuka agama ini diakhiri dengan Grebegan panganan alias rebutan makanan oleh warga yang ada di sekitarnya. Bahkan saking asiknya, warga sampai tidak sadar bahwa rombongan sudah beranjak meninggalkan lokasi itu menuju ke perempatan selanjutnya hingga sampai pada titik penanaman kaki dan kepala wedhus kendhit selesai.

Rame ? jelas......

Singkat cerita, setelah semua prosesi dilakukan maka acara terakhir adalah kembali berkumpul di titik start untuk melakukan selamatan. Seperti tradisi baritan di tempat lain, selamatan di Dieng Kulon juga diselenggarakan dengan mengumpulkan seluruh warga desa untuk melakukan doa bersama kemudian makan bersama dan terakhir adalah pagelaran kesenian desa selama sau hari penuh.

Istimewanya gaes, makanan yang disajikan adalah 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan. dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir. Ga percaya ? buktikan sendiri deh......


Tertarik ?
Tunggu bulan Sura pada penanggalan Jawa, nanti kita kesana bareng ...... oke ?

 

 

 

Festival Rawa Pusung Jilid II : Banyak perbaikan sih, tapi ........

Festival Rawapusung kembali digelar gaess....

Event tahunan yang baru dua kali diselenggarakan secara besar di Desa Beji Kecamatan Pejawaran kali ini berlangsung selama tiga hari hari, yaitu hari Jumat sampai Minggu 20-22 September 2019 kemarin dan berhasil memukau ribuan pengunjung di sana lho. Suwer.......


Beda dengan tahun kemaren yang acaranya padat banget pada hari sabtu dan minggunya, tahun ini rangkaian acara agak sedikit diperlonggar gaes.....
Prosesi baritan dan wayang ruwat plus pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar pada hari jumat. Hari sabtu dikhususkan untuk pementasan kesenian warga plus kuda lumping dan kesenian Jepin sedangkan  hari Minggunya hanya untuk fokus pada puncak acara yaitu pemotongan rambut gimbal si anak bajang. Sekedar informasi, kalau tahun sebelumnya ada tiga anak bajang yang dipotong rambutnya, kali ini hanya ada dua bocah yang ikut yaitu Nadia Ulfa (5 th) dari Desa Babadan Kecamatan Pagentan dan Syifa Muasafah (9 th) dari Dusun Genting, Desa Beji.

Masih seperti tahun sebelumnya, rangkaian prosesi puncak yaitu cukuran rambut gembel diawali dengan cara proses pengambilan air di Rawapusung dimana air tersebut akan digunakan untuk  upacara jamasan si anak bajang. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi warga yang berpakaian adat Jawa lengkap dengan menggunakan kendi dan batang batang bambu.

Setelah upacara jamasan, sekitar pukul 11.00 WIB, prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. Syifa dan Nadia diarak menggunakan tandu mengelilingi desa dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir untuk menuju Embung Rawapusung, tempat pelaksanaan pemotongan rambut.

Nah, pas proses arak arakan ini ada beberapa hal yang kayaknya perlu jadi bahan evaluasi gaes.
saking antusiasmenya warga, mereka menggerombol di kanan kiri jalan desa plus ikut dalam rombongan. tapi ..... mereka ga pakai kostum adat gaes........
jadi hasil jepretan foto untuk acara ini bisa dipastikan ambyar......... kan fak banget...............
hehehe.............

Selanjutnya, pada saat sudah ada di lokasi pemotongan, ga ada koordinasi antara pembawa acara sama korlap yang ada di sana. hasilnya, sambutan yang awalnya hanya ada dua yaitu kades dan bupati dalam pelaksanaannya jadi empat, ketua panitia dilanjut kades, camat dan bupati.....
DAMN !!
Bosen gaes.......

Panas juga .... polll........

Emang sih dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, menyampaikan beberapa hal yang bikin adem dan girang warga setempat, salah satunya adalah mengucapkan rasa bangganya bahwa desa Beji mampu menyelenggarakan event yang cukup besar seperti itu. Bupati bahkan berharap agar bisa menjadi inspirasi bagi desa desa lainnya dan bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
"Yang jelas saya salut, event ini sangat bagus dan kreatif," kata Bupati.

Selain itu yang paling ditunggu warga adalah statement Bupati untuk membangun infrastruktur menuju ke desa yang notabene terpencil ini pada anggaran pemerintah tahun depan dan tentu saja hal ini disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengunjung yang hadir.
"Tahun 2020 nanti dari Beji sampai Kecamatan Pagentan via Tegaljeruk akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar,"

Wow  ya ??

hemm............

Hihihihi..........

Nah hal yang paling krodit (dan paling mengecewakan saya pribadi) dari pelaksanaan Festival Rawapusung tahun ini adalah pada prosesi intinya. Pas prosesi ini panitia (dalam hal ini entah siapa yang ikut ngatur di deket MC) mempersilahkan seluruh anggota rombongan pejabat untuk ikut ke tengah embung (lokasi pemotongan)...... padahal kecuali bupati, yang lain kan ga berkepentingan.......
umpel umpelan alias penuh sesak gaes.

DAN FOTONYA AMBYAR tentu saja........

Sedikit curhat sih, sebenarnya kalau mau sebuah acara terpublikasi dengan sukses berkompromilah dengan para fotografer yang ada dilokasi ........ tapi hal itu kayaknya emang nggak (atau bahkan sama sekali TIDAK) dipahami oleh panitia kegiatan budaya semacam ini yang rata rata adalah kaum kesepuhan ..... orang tua....... hahahaha
Pada umumnya mereka akan mementingkan bagaimana caranya "menyenangkan" dan "menghormati" tamu penting (apalagi pejabat) yang hadir tanpa memperhatikan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih penting........

Sebagai contoh, di festival kemarin beberapa orang pejabat dengan pakaian non adat plus topi dipersilahkan untuk menemani pak camat (yang menggunakan baju adat lengkap dengan blangkon) memotong rambut salah satu anak bajang....... lha ini kan 100% bikin keki para fotografer yang berjejer di lokasi.........

Hasil fotonya ?


aSudahlah........

By the way, diluar hal hal tadi pada peyelenggaraan kali ini banyak perubahan positif kok. banyak perbaikan perbaikan di segala sisi. Mulai dari penataan lokasi, inovasi acara sampai dengan acara "klangenan" para fotografer, Jepin.......
Beda dengan tahun kemarin, pementasan jepin kali ini  lebih asik dan fun. Para pemain yang mengalami trans alias kesurupan pun bermain api lebih asik..... dan yang pasti hasil foto teman teman fotografer jadi memuaskan........


Seperti tahun tahun sebelumya yang perlu dipublikasi lebih lanjut gaes, satu hal yang unik dalam penyelenggaraan Festival Rawapusung ini, penduduk desa Beji menyediakan rumah mereka sebagai hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, seniman dan wisatawan secara cuma cuma termasuk fasilitas konsumsi selama mereka menginap lengkap dengan segala keramahan khas pedesaan ala mereka.....



Menarik bukan ?
Semoga tahun depan festival ini masih ada dan digelar dengan semakin baik ya gaes...... biar kesenian dan kebudayaan di desa ini tetap lestari, nggak pernah mati ........


Festival Mandi Lumpur Kalilunjar, perwujudan cinta terhadap bumi

Pernah membayangkan badan kita penuh lumpur dengan perasaan riang gembira dan syahdu ? 
atau pernah nggak merasakan sensasi mandi lumpur rame rame bareng orang satu desa ?

Belum ? 
Sama. Lagian kalau dipikir pikir ngapain juga ? dan mana ada tempat begituan ?
eits jangan salah pikir dulu bos.......... maksudnya tempat yang ngadain mandi lumpur rame rame itu......... bukan yang anu......... hehehe .........

Nah perlu dan wajib diketahui kalo di Banjarnegara ada tempat yang menggelar sebuah acara Mandi Lumpur bareng bareng sama orang sekampung lho .....

Lokasi tepatnya yaitu di Desa Kalilunjar Kecamatan Banjarmangu. Kalo dari alun alun kota sekitar 20-30 menit perjalanan ke arah utara mengikuti jalur Jalan Provinsi dari Banjarnegara menuju ke Dieng via Karangkobar. Nggak jauh sih, tapi untuk yang mau menuju ke lokasi diharapkan agak lebih hati hati karena banyak sekali tikungan "mesra"nya. Maklum jalan pegunungan dimana kita harus mendaki gunung lewati lembah macam film kartun di tv  itu hihihi..........

Namanya yang unik, langka dan tidak umum di negeri kita membuat penasaran level dewa bagi saya. Dalam kepala saya, bayangan awalnya sih akan seperti Festival Lumpur Boryeong yang digelar di Pantai Daecheon (pantai terbesar di pesisir barat Korea), atau Festival Holy di Islamabad India yang lumpurnya bercampur warna warni indah sekali.

Tapi, ternyata kali ini tidak sama sodara sodara.
Sangat berbeda. Ada filosofi yang sangat mendalam dan tujuan yang sangat mulia dibalik pelaksanaannya.

Jadi begini, Festival Mandi Lumpur di desa Kalilunjar merupakan kegiatan yang selalu digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi setiap tahun. Menurut Kepala Desa setempat, Slamet Raharjo, alasan menggunakan lumpur adalah berawal dari filosofi bahwa lumpur adalah unsur alam yang selalu bersinggungan dengan manusia terutama petani di desa mereka. Dan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kecintaan terhadap alam itulah acara ini digelar secara besar besaran.


Sebenarnya, proses pelaksanaan festival ini cukup sederhana lho sodara sodara. Pada hari H, paginya  warga desa kalilunjar berbondong bondong menuju ke lapangan kecil di bawah Gunung Lawe (sebuah bukit batu utuh yang tinggi menjulang dengan pepohonan tumbuh subur di sekelilingnya) dimana terdapat sebuah kolam berdiameter sekitar 20 meter yang berbentuk lingkaran. Namun untuk peringatan Hari Bumi kali ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk hati dan dipersiapkan menjadi penuh lumpur.

Sekitar jam 9 pagi, Kades Kalilunjar, berdiri di atas mobil bak terbuka yang sudah diparkir di pinggir tebing, tepat di atas kolam, untuk memberikan sambutan dan memulai acara. Dalam orasinya, dia mengingatkan warga masyarakat bahwa kegiatan ini murni sebagai kegiatan budaya dan jangan dikaitkan dengan hal hal yang berbau syirik. Selain itu dia menekankan bahwa inti dari kegiatan festival adalah menggeliatkan kembali kecintaan masyarakat terhadap bumi dan isinya serta meningkatkan  persatuan, kesatuan, kerukunan dan rasa kekeluargaan dalam masyarakat Desa Kalilunjar. 

Setelah diadakan doa bersama, Slamet memberikan aba-aba agar warga memasuki kolam lumpur. Dengan komando dari kepala desa itu, warga secara serentak masuk dan mengambil posisi seperti bersujud di dalam lumpur sebagai perwujudan wujud rasa syukur mereka sambil saling bergandengan tangan. Hal ini konon katanya adalah sebagai bentuk perwujudan kerukunan, persatuan dan kesuatuan antar warga seperti apa yang dikatakan pak kades di dalam sambutannya tadi.

Syahdu 
itulah yang terjadi.
entah mengapa semua orang yang hadir mendadak diam, terlarut dalam lantunan puji pujian dari pengeras suara..

Tiba tiba, seorang sesepuh desa yang berada di atas mobil bersama pak kades melemparkan segenggam uang koin ketengah kerumunan warga di dalam kolam lumpur itu. 

Dan.......
ambyar sodara sodara........
Sekitar 500 orang yang ada disitu langsung berlompatan dan saling berebut koin. Sambil tertawa bahagia mereka sudah tidak memperdulikan lagi bila seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur (dan keringat tentunya hehehe....). Laki laki dan perempuan dari berbagai usia ikut dalam keriuhan suasana. 
Mereka rela harus jatuh bangun dan mandi lumpur berdesakan hanya untuk mendapatkan uang koin tersebut. Sementara dari atas mobil Kepala Desa dan beberapa orang Sesepuh desa bergantian menebar kepingan kepingan uang koin itu sampai habis tak bersisa. 


Menariknya, ternyata diantara uang koin yang diperebutkan warga ternyata ada beberapa yang bertanda khusus untuk mendapatkan door prize yang sudah dipersiapkan desa seperti TV, Rice Cooker dan setrika listrik.
Menarik kan ?

Seru ..........

Oya,  uang koin yang diperebutkan warga dalam kegiatan ini merupakan uang yang telah didoakan oleh sesepuh desa. Meski nominalnya tidak banyak, namun warga percaya bahwa uang koin tersebut bisa mendatangkan berkah lho....... 

Selesai berlumpur ria, selanjutnya ratusan warga tersebut beranjak dari kolam untuk berkumpul dan membentuk sebuah barisan panjang di jalan raya dengan masing masing membawa beberapa batang bibit pohon. Ada 3 jenis pohon yang dibawa yaitu pohon Mahoni, pohon durian dan pucuk merah. 

Salah satu tokoh pemuda desa Kalilunjar, Jojo, mengatakan bahwa Pohon Mahoni dipilih karena merupakan jenis kayu keras yang bisa menjadi investasi jangka panjang masyarakat, juga digunakan sebagai tanaman konservasi mengingat bahwa Desa Kalilunjar memiliki kontur tanah berbukit dan berada di tebing yang secara otomatis akan rawan longsor, sementara di bagian bawah desa membentang Sungai Merawu yang terus mengikis bantaran sungai yang dilaluinya. Ngeri.............

Untuk bibit Pohon Durian, dia menuturkan bahwa jenis pohon ini dipilih karena selain bisa digunakan sebagai pohon konservasi juga memiliki nilai ekonomis tinggi mengingat bahwa buah durian sangat digemari masyarakat Kalilunjar dan bahkan Banjarnegara. Terakhir, Pohon pucuk merah yang notabene adalah tanaman hias juga dipilih oleh masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah untuk ditanam sebagai tanaman penghias bahu jalan di sepanjang wilayah desa Kalilunjar. Selain indah, juga sebagai salah satu langkah awal program Desa Seribu Bunga yang menjadi cita cita ibu ibu PKK desa.


Barisan itu kemudian berjalan kaki menuju kantor balai desa yang berjarak sekitar 2 kilometer. Sepanjang perjalanan dilakukan penanaman pohon pucuk merah tersebut pada tempat tempat yang sudah ditentukan. Hebatnya lagi, sambil jalan mereka juga secara sukarela mengambili sampah sampah yang ditemukan dan mengumpulkannya untuk kemudian dibakar setelah sampai di Balai desa.
Selanjutnya mereka bersama sama melakukan gerakan penanaman pohon mahoni dan durian yang sudah dipersiapkan di sepanjang bantaran sungai Merawu yang masuk wilayah desa Kalilunjar.

Meskipun melelahkan dan memakan waktu dari pagi hingga sore hari, warga masyarakat mengaku merasa sangat puas. Bahkan pada umumnya mereka mengharapkan bahwa kegiatan semacam ini harus dilestarikan dan dijaga eksistensinya, karena selain sebagai hiburan, juga memiliki tujuan yang sangat mulia dan berjangka panjang.

" Ini adalah wujud nyata kepedulian kami terhadap bumi, karena kami sebagai petani harus mencintai dan merawat bumi sepenuh hati. Begitu juga seharusnya dengan anda semua ”  tutup Slamet Raharjo 

4.30.2019
Posted by ngatmow

Curug Sikopel..... tragis

Curug Sikopel. Begitu nama yang tertera di papan daftar destinasi wisata Kabupaten Banjarnegara. Airnya besar dan merupakan salah satu air terjun yang cukup tinggi di kelasnya dengan landscape alam di sekitarnya terlihat sangat indah. Dan begitu pertama kali melihat fotonya, rasa penasaran itu seketika muncul layaknya perasaan orang jatuh cinta ...... halah .......

Photo Credit : AndriKharisma
Sekedar cerita sodara sodara, Curug Sikopel ini berada di Desa Babadan Kecamatan Pagentan, atau kurang lebih 30 kilometer dan 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Banjarnegara. Jauh ya ? emang jauh sih, tapi kalau selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan dan sambil membayangkan keindahan air terjun setinggi 70 meter itu insyaalloh ga bakal kerasa jauh deh ..........suwer.....

Dan itulah yang juga terjadi pada saya ..... hehehe......
Dengan sejuta harapan akan menemukan kepuasan saya mencari waktu senggang untuk bisa meluncur ke lokasi dengan sejuta bayangan indah.

Tapi .....

Sesampainya di lokasi parkir wisata, saya kaget sekaligus kecewa dengan apa yang saya lihat dan rasakan. Seketika saya langsung menjadi ilang feeling sodara sodara. Ambyarrrrr........

Kenapa ? sebab begitu masuk lokasi parkir kita akan menjumpai sebuah tanah lapang yang berukuran (mungkin) hampir sebesar lapangan voli dengan rumput yang tumbuh tinggi hampir selutut orang dewasa. Dan artinya lokasi ini tidak pernah dirawat dan dibersihkan oleh siapapun.......


Lanjut ke gerbang masuk, uang yang sudah dipersiapkan untuk tiket masuk sebesar Rp. 2000,- ternyata tetap utuh dan tidak terpakai. Sebab gerbangnya tanpa penjaga dan sudah berbentuk mengerikan. Semacam bangunan tidak terpakai selama belasan tahun hehehe.......  Harus diakui, memang sebenarnya masih ada sisa sisa bekas taman yang dibuat sebelumnya. Namun karena tingginya rumput liar, taman itu lenyap...... ya lenyap sodara sodara......


Hanya berselang kurang lebih 20 langkah dari gerbang masuk, kita akan menemukan sebuah peninggalan papan nama penanda yang sudah mulai hilang,dilanjutkan dengan jalan beton yang semula mulus lambat laun berubah wujud menjadi jalan tanah yang licin dan sudah mulai terkikis air hujan ..... lho .........dan seketika itulah keinginan saya untuk turun ke bawah (area sekitar air terjun) menghilang........

Balik kanan lalu pulang......

Eh sempat motret sebentar ding. Pas pake lensa wide 15-45 sih hasilnya memuaskan, curugnya bisa dikatakan bagus dan berkarakter. Tapi pas pake tele 70-200 mm, tumpukan sampah di sekeliling lokasi air terjun sangat mengganggu pemandangan..........

So d*mn that  right ?


Ada banyak pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya..... kok nggak ada yang merawat lokasi itu ya ? yang bertanggung jawab siapa sih sebenernya ? apa nggak ada koordinasi yang baik antara dinas dengan warga sekitar ? dan pertanyaan pertanyaan yang lain yang ngga akan cukup kalau dituliskan disini .......pokoknya faakkkk .............

Terlepas dari itu semua di tengah era informasi yang begitu cepat ini, sudah seharusnya pihak pihak yang berkepentingan baik aktif maupun pasif ikut memikirkan "kelangsungan hidup" dan kelestarian tempat wisata alam semacam ini. Kita nggak bisa dong nyalahin pemerintah (dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) yang mengampu satu kabupaten dengan segala "pernak pernik permasalahannya". Mereka sudah terlalu sibuk man ...... jangan lagi beralasan pemerintah nggak memperhatikan kalian...... coba tanya pada diri masing masing, sudah semaksimal apa kalian bantu pemerintah disini ?? apa apaan itu ?? 

Mikir ......


Mungkin, ada baiknya kalau yang berperan aktif disini adalah warga masyarakat atau pokdarwis atau bahkan relawan setempat semampunya (tanpa mengharapkan hasil dulu tentunya) menata lagi, mempertahankannya dan kemudian mempromosikan lewat dunia maya biar tanpa biaya.

Kenapa dunia maya ? ya jelas dong..... sekarang lagi jamannya gitu. 
Semakin kita gencar promosi, baik itu mengunggah foto foto terbaru, ngadain event juga disana, atau bahkan mengadakan lomba foto dengan menggandeng jagoan jagoan fotografi landscape yang jumlahnya banyak di banjarmegara ini, maka akan semakin naik lagi "rating" Curug Sikopel ini. Efeknya kemudian adalah wisatawan dateng lagi dan pengelolaan tempat ini hidup lagi........ dan terakhir warga sekitar akan dapat penghasilan lagi...... manis bukan ?

Yang jelas sih, sudah saatnya kita jangan saling menyalahkan pihak lain demi mencari kebenaran soal itu (dan tentu saja berlaku untuk permasalahan yang lainnya). Sikap bijak, keikhlasan dan perilaku ringan tangan kitalah yang akan menentukan posisi kita dimata orang lain. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Curug Sikopel (dan lokasi lokasi wisata lainnya) dimana sedang mengalami kondisi "sekarat" ..... 

Mari kita selamatkan mereka dengan cara yang kita bisa ....... plus keikhlasan dan sikap bijak kita masing masing pastinya .......... 



Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow