Tampilkan postingan dengan label internetan. Tampilkan semua postingan
Workslop, berantakannya dunia kerja akibat AI
Pernah dengar istilah workslop?
Ini bukan typo dari workshop kok gaes, tapi sebuah istilah baru yang lagi ramai dibahas gara-gara maraknya penggunaan kecerdasan buatan alias AI.
Apa itu ?
Workslop merujuk pada kondisi di mana banyak pekerjaan jadi campur aduk, aneh, atau terasa “sloppy” karena hasilnya kebanyakan diproduksi sama AI tanpa filter kualitas yang jelas. Jadi kebayang kan, kalau dulu kita bisa bedain mana karya manusia dan mana yang asal-asalan, sekarang batasnya makin kabur.
Kenapa bisa terjadi sih ? Jelas Fenomena ini lahir karena AI makin gampang diakses.
Bagaimana nggak coba, kalian mau bikin artikel? Tinggal ketik prompt. Desain logo? Sekali klik jadi. Bikin apikasi atau website, tinggal tuangin ide jadi sebuah kalimat trus tekan enter, done. Video, musik, bahkan suara orang pun bisa direkayasa. Hasilnya, konten membanjiri internet dengan kecepatan luar biasa.
Dari satu sisi, ini keren banget—semua orang jadi bisa “berkarya” tanpa harus punya skill teknis. Tapi di sisi lain, lautan konten ini bikin kualitas jadi campur aduk. Ada yang bener-bener niat, ada juga yang cuma sekadar upload demi eksis. Nah, tumpukan konten campur-campur inilah yang disebut workslop.
![]() |
AI sekarang tuh ibarat mie instan. Praktis, murah, gampang dibuat, bisa langsung kenyang. Semua orang bisa bikin sesuatu dalam hitungan menit. Bayangin feed media sosial sekarang seperti tulisan, gambar, dan video yang kita lihat setiap hari sebagian besar mungkin udah disentuh atau bahkan dibuat full sama AI. Nggak perlu kursus bertahun-tahun atau punya skill spesial dulu.
Keren? Banget. Tapi masalahnya, kalau semua orang bikin konten dengan cara yang sama, hasilnya jadi kayak banjir—airnya banyak, tapi keruh.
Kadang kita nemu artikel yang keliatan rapi tapi isinya datar, atau gambar yang wow tapi pas diperhatiin ada jari tangan yang jumlahnya aneh. Ini bikin kita sebagai konsumen jadi harus punya “radar” lebih tajam buat milih mana yang layak dinikmati dan mana yang cuma “sampah digital”. Ada gambar super realistis yang bikin takjub, ada juga yang bikin ngakak karena aneh. Ada tulisan yang keliatan profesional tapi ternyata muter-muter tanpa isi. Di situlah workslop terjadi, hasil kerja yang serba cepat tapi belum tentu berkualitas.
Bahkan sebuah "karya" AI bisa merusak kondusifitas negara seperti yang beberapa waktu lalu terjadi di negara kita. Tepatnya ketika hasil olah digital AI menjadi fitnah bagi seorang menteri, yang kemudian menjadi salah satu poin penyulut demo besar-besaran, sampai berakibat jatuhnya korban jiwa dan mundurnya sang menteri.
Serem ? jelas....
Nah, pertanyaan pentingnya, workslop ini sebenernya masalah atau kesempatan?
Jawabannya : bisa dua-duanya. Kalau cuma jadi penonton, ya kita bakal kewalahan milih mana yang bener-bener bagus dan mana yang cuma sampah digital. Tapi kalau kita jadi pemain, justru ada peluang gede di sini.
AI itu cuma alat. Sama kayak gitar, pensil, atau kamera. Yang bikin hasilnya bernilai itu bukan alatnya, tapi siapa yang pakai. Kalau asal-asalan, ya hasilnya juga asal. Tapi kalau dipaduin sama kreativitas manusia, bisa jadi karya keren yang nggak kepikiran sebelumnya.
![]() |
| #hanyaContohsaja |
Ini bagian yang paling menarik, AI udah jadi sumber penghasilan buat banyak orang. Nggak cuma buat perusahaan besar, tapi juga anak muda biasa yang kreatif. Contohnya :
-
Side hustle cepat : bikin artikel, desain logo, atau edit video buat klien. Dengan bantuan AI, waktu pengerjaan jadi lebih singkat, hasilnya tetap oke.
-
Konten kreator : bikin channel YouTube dengan AI voice, bikin podcast pakai suara sintetis, atau produksi konten harian tanpa harus repot. bahkan mengaransemen ulang lagu lama pake gaya kita (misal lagu pop mellow diubah jadi gothic rock bahkan reggeae)
-
Digital product : bikin e-book, template desain, atau bahkan kursus mini berbasis AI, terus dijual di marketplace.
-
Bisnis utama : ada juga yang full-time kerjaan utamanya pakai AI. Misalnya, jadi konsultan AI buat bisnis kecil, bikin aplikasi sederhana, atau jadi kreator yang rutin jual karya digital.
Inspiratif banget kan? Dulu butuh modal gede buat mulai bisnis kreatif, sekarang dengan laptop dan koneksi internet aja udah bisa jadi mesin uang.
Meski AI bisa bikin segalanya jadi cepat, ada satu hal yang belum bisa dia tiru dengan sempurna, rasa manusia. Storytelling, emosi, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai unik itu cuma bisa lahir dari orang asli. Itulah kenapa karya yang bener-bener ngena biasanya tetap ada sentuhan manusianya.
Jadi kuncinya adalah jangan cuma ngandelin AI buat semua hal. Pakai dia sebagai alat bantu, tapi tetap kasih warna pribadi di setiap karya. Biar nggak tenggelam di lautan workslop, kita harus jadi navigatornya.
Kalau dipikir-pikir, workslop memang bikin dunia kerja kelihatan agak berantakan. Tapi justru di balik “kekacauan” ini ada peluang emas. Siapa pun bisa belajar, bikin karya, bahkan dapet penghasilan dari AI. Pertanyaannya tinggal: mau sekadar jadi penumpang di tengah banjir konten, atau jadi kapten kapal yang ngarahin ke jalannya sendiri?
AI udah ada di sini, nggak mungkin balik lagi. Tinggal kita yang milih ikut hanyut sama workslop, atau justru manfaatin buat bikin karya yang beda, punya nilai, dan bikin hidup lebih seru.
Contoh lain editan AI yang berbahaya, terutama buat saya. Tapi disclaimer dulu yaa..... semua foto sudah diutak atik pake bantuan GeminiAI. bisa dibuktikan adanya tanda air khas GeminiAI di pojok kiri bawah setiap foto.
Gitaris Fingerstyle kelas dunia asli Indonesia : Alip_Ba_Ta_
Adalah seorang pengguna YouTube bernama Nenza Leoni yang menulis komentar di bawah ini pada video mas Alip_ba_ta_ berjudul “Yiruma – River Flows in You”

Bahkan seperti untuk menunjukkan bahwa lagu itu khusus untuk Nenza Leoni, dia mengenakan topi yang sama ketika mas Alip_ba_ta_ memainkan lagu River Flows In You.
Sontak saja warganet yang mengetahui “story” di balik dimainkannya lagu itu membanjir komentar video itu dengan pujian.
Tak sedikit yang mengaku menangis melihat kesungguhan mas Alip_ba_ta_ memenuhi permintaan gadis cilik tersebut.
Perlu beberapa hari setelah video itu diupload sampai Neza Leoni menulis komentar di video Kiss The Rain

ngakak via #SaveHajiLulung
Mungkin ada sebagian pihak yang merasa dilecehkan disitu, namun saya pribadi kok merasa kalau semua itu adalah murni hasil kreatifitas dan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap tayangan berita di tivi yang hampir setiap waktu sedang menyiarkan sebuah "sinetron politik tingkat tinggi " yang tentu saja (sangat) memuakkan dan tidak pantas.
Sindiran dan (kalo boleh dikatakan) caci maki masyarakat merupakan penyaluran aspirasinya setelah dikecewakan oleh orang yang seharusnya bisa menjadi contoh dan panutan.......
Ah Sudahlah,
Nggak usah ikut mikirin hal yang tambah bikin eneg itu...mending ngakak lihat hasil karya temen teman di sosial media yang aneh aneh dan lucu........#SaveHajiLulung

Simak deh hasil scrinsut yang berikut ini :
Lanjut..................
And after that ...............
#Sumber gambar : Kaskus, Google dan Screenshot sendiri
Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.
Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.
Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.
Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.
”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.
”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.
”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.
so, jangan takut untuk dicap nggak punya status sosial karena ga keliatan selalu bekerja dan berseragam, karena sesungguhnya rejeki sudah diatur oleh Nya asalkan kita mau berusaha mencari jalannya.....ya to ?
Sumber : JPNN
Image Duel ala Pixoto.com
Foto yang dipilih oleh user dianggap sebagai pemenang (win), dan foto yang tidak dipilih dianggap kalah (lose). Pada halaman profile pemilik foto, di setiap foto yang diupload, tertera akumulasi nilai (image score) dan angka win-lose hasil dari duel yang telah dilewati oleh foto tersebut.
Ada satu hal dari Pixoto.com yang saya anggap paling menarik yaitu Pixoto juga memberikan Award Best of Week untuk 20% foto yang berada di peringkat teratas dari setiap kategori. Demikian pula untuk pemberian Award Best of Month. Menariknya pada setiap tahun, Pixoto memilih Best of Photographer pada setiap kategori. Penilaian semua berdasarkan perolehan ImageScore yang diperoleh sebuah foto. Dan, setiap minggunya Pixoto menyediakan hadiah lebih dari US $2,000 untuk foto-foto terbaik.wow......
Demikian pula, foto yang bernilai tinggi, jika masih diinginkan untuk terus tampil pada imageduel untuk meraih award mingguan, user dapat menebusnya dengan 10 credit, dengan mengklik menu DuelBoost.
Credit dapat pula diperoleh dengan menginvite teman untuk bergabung dengan pixoto. Jika, seorang teman bergabung di pixoto atas referensi user, maka user akan mendapat 250 credit.
"Xiao Tian" Si Hacker Cantik dari China
David Drummond, Senior Vice President, Corporate Development and Chief Legal Officer Google menyebutkan, pihaknya mendapati adanya "serangan yang sangat canggih" yang berasal dari China terhadap infrastuktur Google.
"Serangan-serangan ini membuat kami memutuskan untuk meninjau kelayakan operasi bisnis kami di China," ujar Drummond di blog resmi Google, 12 Januari 2010.
Mungkin kita akan membayangkan bahwa tipikal seorang hacker adalah remaja yang beranjak dewasa, dengan penampilan seadanya atau bahkan kalau tidak dibilang buruk rupa, dengan kacamata tebal, perokok berat, rambut acak-acakan tak terawat dan jarang mandi karena menghabiskan sebagian besar hidupnya di depankomputer.
Ternyata tidak begitu dengan Xiao Tian. Walaupun menyebutkan ia sering begadang dan sesekali merokok, tetapi penampilannya sangat apik. Sepintas, melihat penampilannya, Anda mungkin tak akan menyangka bahwa ia merupakan pimpinan dari kelompok hacker yang anggotanya mencapai lebih dari 2.200 orang hacker wanita.
Scott Henderson, seorang pensiunan tentara AS yang merupakan pengamat dan penulis The Dark Visitor: Inside the World of Chinese Hackers pernah menyebutkan pada DNA India. "Aspek Unik dari hacker China adalah rasa nasionalisme dan kolektivitas. Ini kontras dengan stereotip hacker barat yang umumnya mandiri dan bekerja secara individual di ruang bawah tanah tempat tinggal mereka," ucapnya.
Namun, belakangan, kecenderungan yang terjadi adalah "tentara cyber" tersebut terpecah-pecah dan membentuk kriminal kapitalis dan mulai meninggalkan rasa nasionalisme mereka.
Meski demikian, Henderson menyebutkan, suatu saat jika ada konflik yang melibatkan China, hacker tentu akan memobilisasi kelompok mereka dan terlibat dalam perang dunia maya. Dan jika saatnya tiba, "jenderal" Xiao Tian mungkin akan menjadi salah satu pemimpin pasukan tentara China tersebut.
Sumber :
Kaskus itu ....
Mengintip sejenak perjalanan Kaskus bisa memberi kita pelajaran bagaimana membangun massa yang masif dan menjadi besar.
Sejarah Kaskus
Berdiri pada 6 November 1999, Kaskus yang berarti ‘Kasak Kusuk’ didirikan oleh Andrew Darwis, Ronald Stephanus dan Budi Dharmawan dengan modal US$ 7.
Perjalanan hidup Kaskus tidak sepenuhnya mulus. Di awal kemunculan, Kaskus kesulitan menggaet anggota, rata-rata jumlah anggota baru adalah tiga per minggu. Namun seiring pekembangan internet, Kaskus menjadi perusahaan profesional di bawah bendera PT Darta Media Indonesia. Melalui forum jual beli, Kaskus mampu mencetak pertumbuhan pendapatan iklan hingga 100%.
Berapa Pendapatan Kaskus?
Pendapatan Kaskus dari pemasukan iklan juga semakin meningkat pesat. Dulu perusahaan sulit meyakinkan pengiklan untuk beriklan. Tapi kini keadaan tersebut berbeda 180 derajat. Pemasukan iklan ke perusahaan mengalir deras. Banyak brand-brand besar yang akhirnya percaya untuk memasang iklan dihalaman web Kaskus. “Yang pasti prosentase nya terus meningkat dari tahun 2009 hingga sekarang. Kenaikan bisa lebih dari 100% per tahun,” klaim Andrew.
Karena terus tumbuh, Kaskus pun mendapat banyak tawaran yang menggiurkan. Diantaranya tawaran untuk bergabung menjadi keluarga Yahoo dan Google. Dua raksasa dunia maya tersebut tertarik untuk meminang Kaskus.
Google berani membeli Kaskus seharga US$ 50 juta atau setara dengan Rp 475 miliar. Meski mengaku senang, Andrew dan rekan enggan menerima tawaran menarik tersebut. “Bukannya enggan menerima tawaran tersebut, hanya saja bila melakukan kerjasama kami menginginkan ada kesamaan visi dan misi yang nantinya akan membawa Kaskus ke arah yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
Mengapa berhasil?
“Tidak ada langkah khusus yang dilakukan Kaskus karena kami tumbuh dengan sendirinya melalui Kaskuser (nama panggilan bagi anggota forum Kaskus),” kata CEO Kaskus, Andrew Darwis. Salah satu cara menarik anggota baru adalah melakukan penambahan fitur, membuka forum baru bila ada permintaan serta peningkatan jumlah server.
Keberhasilan Kaskus sebagai forum komunitas terbesar di tanah air bisa dilihat dari beberapa indikator. Pertama, jumlah anggota. Hingga saat ini anggota Kaskus mencapai hampir 4 juta orang yang berasal dari dalam dan luar negeri . Tahun 2008 ke 2009 pertumbuhannya mencapai lebih dari 150% dan peningkatan tersebut juga memberi indikasi bahwa akses ke internet semakin membaik dan berkembang
Kedua, jumlah page view. Per bulan Agustus 2011 totalnya mencapai 838 juta atau setara 20 juta setiap hari. Kaskus juga sudah mempunyai lebih dari 408 juta posting. Dari sekian banyak konten dalam kaskus.co.id, konten Jual Beli dan Lounge lah yang menjadi favorit dan banyak dikunjungi oleh Kaskuser.
“Untuk jumlah transaksi tidak bisa diketahui secara nominal pastinya karena semua transaksi dilakukan antara Kaskuser secara langsung, baik melalui COD (cash on delivery), transfer antar rekening ataupun jasa rekening bersama dimana pihak Kaskus tidak terlibat langsung dalam transaksi jual beli. Kami hanya sebatas sebagai penyedia wadah melakukan jual beli barang,” jelas penyandang gelar Master Computer Science, Univeristas Seattle, Amerika Serikat yang lahir pada 20 Juli 1979 ini.
Besarnya Kaskus tak luput dari loyalitas anggota yang bersedia berbagi informasi meski tidak dibayar sepeser pun. Anggota merasa mendapatkan manfaat dari anggota yang loyal, akhirnya berbalik menjadi anggota loyal yang berusaha memberikan kontribusi ke Kaskus yang akhirnya merekrut anggota baru yang berpotensi menjadi anggota loyal baru.
Menurut Andrew, siklus dari mulut ke mulut yang membuat Kaskus semakin bertumbuh besar dan bergerak agresif. Ini yang menjadi keunikan Kaskus, orang datang ke Kaskus untuk mencari sesuatu entah itu informasi atau barang.
Kaskus selalu berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan anggota dan terus mengajak Kaskuser untuk membuat thread yang bermutu. “Kaskus ibarat sebuah negara yang terdiri dari 4 juta anggota, diisi dari berbagain macam orang dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda tersebut dan semuanya bisa terpuaskan,” jelas Andrew menganalogikan.
Terlihat di atas, Kaskus awalnya juga mengalami kesulitan menambah anggota. Ketekunan untuk terus bertahan menjadi kunci pertama. Mengikuti saran anggota dengan menambah fitur-fitur baru disertai penambahan fasilitas server jadi kunci kedua.
Istilah "lapak" yang biasa digunakan oleh kaskuser juga menjadi gambaran bahwa Kaskus adalah komunitas, atau pasar dunia maya yang menyediakan lahan pada setiap orang yang bergabung untuk menjual, membeli, juga bersuara apa saja sehingga merasa jadi bagian - ikut memiliki - Kaskus. Walau tanpa dibayar. Keterbukaan yang tidak berpihak memungkinkan kaskuser menjadi loyal dan merasa ikut memiliki.
Sumber : kaskus.co.id






















.jpg)

























