Tampilkan postingan dengan label Special Movie. Tampilkan semua postingan

Escape from the Outland, film yang bikin merasa harus bersyukur dan ikhlas hidup di negeri ini

Kadang ada film yang selesai ditonton terus langsung hilang dari ingatan. Keluar bioskop, makan bakso, pulang, selesai. Tapi ada juga film yang bikin kita diem beberapa menit sambil mikir, "busettt, ternyata hidupku selama ini receh banget ya."


Nah Buatku, film Tiongkok gila berjudul Escape from the Outland ini masuk kategori kedua.


Film produksi tahun 2025 ini bercerita tentang sekelompok orang sipil yang terjebak di tengah konflik bersenjata di sebuah negara Afrika yang sedang kacau balau. Ada jurnalis, dokter, teknisi, dan beberapa orang biasa lain yang mendadak harus belajar satu hal penting, bertahan hidup. Realistis banget karena cerita ini terinspirasi dari pengalaman nyata para sandera yang pernah mengalami kejadian serupa.


Yang bikin menarik, tokoh-tokohnya bukan tipe manusia overpowered ala film aksi kebanyakan. Mereka bukan mantan agen rahasia, bukan juga jago berantem level dewa. Mereka cuma orang biasa yang salah tempat di waktu yang salah pula, APES lah. Dan justru itu yang bikin semuanya terasa lebih dekat dan lebih ngena.


Awal ekspektasi nonton sih sederhana. Paling ya film perang biasa dengan ledakan sana sini dan orang lari-larian, terus ada satu tokoh utama yang plot armornya lebih kuat daripada sinyal WiFi kantor saat jam istirahat.

Ternyata aku salah kisanak....


Sepanjang film, perasaanku campur aduk. Kadang tegang, Kadang kesel, Kadang pengin ngomel ke layar karena keputusan tokohnya yang kadang absurd.

Tapi lebih sering lagi aku cuma bisa mikir, "gila sih, manusia ternyata bisa bertahan sejauh ini kalau keadaan memaksa."


Visualnya juga cakep. Beberapa adegan perang dan gurunnya benar-benar luas dan megah. Bukan sekadar pamer ledakan atau efek keren, tapi lebih ke menunjukkan betapa kecilnya manusia ketika berhadapan dengan kekacauan yang lebih besar dari dirinya sendiri.


Yang paling bikin aku kepikiran justru bukan adegan aksinya,  tapi orang-orang biasa di dalam cerita itu. Mereka cuma pengin pulang. Cuma pengin makan dengan tenang. Cuma pengin keluarga mereka baik-baik saja.

Sesederhana itu.

Tapi di beberapa tempat di dunia, ternyata keinginan sesederhana itu pun bisa menjadi kemewahan.


Agak ngeri memang.


Sebagai generasi yang kadang stres karena internet lemot, notifikasi kerjaan nggak berhenti, atau konten favorit nggak masuk FYP, film ini seperti tamparan halus. Reminder bahwa ada orang-orang yang definisi "hari baiknya" adalah berhasil selamat sampai besok pagi.

Berat ya... hehehe.... 


Yang menarik dari Escape from the Outland adalah bagaimana film ini tidak sibuk menggurui penonton. Ia tidak berdiri di depan sambil berkata, "Hei manusia, kalian harus begini dan begitu."

Tidak.


Film ini cuma menunjukkan kenyataan. Dan kenyataan itu kadang lebih keras daripada ceramah panjang dua jam tanpa jeda makan gorengan yang memaksaku untuk teringat pada satu hal.


Dalam hidup ini, ternyata rumah bukan cuma bangunan.

Rumah adalah tempat di mana kita bisa rebahan tanpa rasa takut.

Tapi buat sebagian orang di belahan dunia lain, itu semua adalah kemewahan yang luar biasa.


Bingung kisanak? Sama.

Saya juga.


Karena semakin dewasa, semakin terasa bahwa kebahagiaan itu sering datang dari sesuatu yang justru tidak kita sadari keberadaannya, 

Udara yang tenang, Langit yang tidak dipenuhi asap perang, Perjalanan pulang yang membosankan.


Tapi untungnya film ini nggak sepenuhnya gelap. Di tengah kekacauan, masih ada rasa kemanusiaan, solidaritas, dan harapan yang bikin kita tetap betah mengikuti ceritanya sampai akhir.


Kalau boleh jujur, setelah selesai nonton film ini aku malah jadi bersyukur, ternyata problem hidupku hari ini cuma seputar revisi pekerjaan, bensin yang naik, dan grup keluarga yang tiba-tiba ramai karena debat resep opor.

Masih aman... Masih sangat aman.


Dan mungkin, itu memang salah satu fungsi film seperti Escape from the Outland ini. Bukan sekadar hiburan. Tapi pengingat bahwa damai itu mahal, dan sering kali baru terasa berharganya ketika kita melihat bagaimana rasanya hidup tanpa damai sama sekali.




Mungkin kalau dibuat sinopsis singkatnya begini kali ya :


Film ini mengikuti kisah Ma Xiao, seorang jurnalis asal Tiongkok yang bekerja di sebuah negara Afrika yang sedang dilanda perang saudara. Bersama istrinya, Pan Wenjia, seorang dokter sukarelawan, dan insinyur Miao Feng, mereka menjalankan misi kemanusiaan serta perbaikan infrastruktur komunikasi di daerah tersebut.


Situasi berubah drastis ketika konflik bersenjata meletus secara tiba-tiba. Mereka diculik oleh kelompok ekstremis dan dijadikan sandera bersama seorang pengusaha Tionghoa bernama Zhou Weijie. Selama 105 hari penyanderaan, para tokoh harus bertahan dari kekerasan, ancaman tebusan, kelaparan, dan ketidakpastian sambil mencari kesempatan untuk melarikan diri.


Ma Xiao awalnya hidup berdampingan dengan penduduk lokal dan membantu kegiatan pertanian di desa. Hal ini memperlihatkan hubungan kemanusiaan yang terjalin di tengah kondisi politik yang tidak stabil.

Ketika perang pecah, warga sipil dan orang asing menjadi sasaran penculikan untuk memperoleh uang tebusan. Para sandera dipaksa menghadapi perlakuan brutal dan harus mengandalkan kecerdasan, solidaritas, serta harapan untuk tetap hidup.


Menurutku beberapa tema utama yang diangkat film ini antara lain:

  • Nilai kemanusiaan di tengah perang.
  • Makna rumah dan kerinduan untuk pulang dengan selamat.
  • Ketahanan mental manusia ketika menghadapi situasi ekstrem.
  • Dampak konflik terhadap masyarakat sipil yang tidak bersalah

Kesimpulan setelah nonton film ini versi aku ya : 

Escape from the Outland bukan sekadar film aksi atau perang, melainkan kisah tentang manusia biasa yang berjuang mempertahankan harapan di tengah kekacauan. Dengan latar konflik yang keras dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman nyata para korban penyanderaan,

 

Film ini mengingatkan kita bahwa kedamaian, keluarga, dan kesempatan untuk pulang ke rumah adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya sangat berharga.
7.02.2026
Posted by ngatmow

Civil War, satu lagi film menarik tentang Jurnalis

“Every time I survived a war zone, I thought I was sending a warning home : Don’t do this,”


Kalimat yang disampaikan oleh Lee (diperankan oleh Kirsten Dunst) ini menurutku adalah inti dari film ini; Civil War

Kekerasan tidak lagi terjadi di negara lain di belahan dunia lain. Kekerasan terjadi di rumah, di antara tetangga. Ngeri kan ? 


Terus ada lagi kalimat yang masuk juga :


" What kind of American are you? "


"orang Amerika macam apa kamu?" 

Pertanyaan menusuk yang dilontarkan oleh seorang warga di jalan ini adalah kutipan dari film, tetapi menurutku sangat relate dan tidak terlalu mengada-ada jika pertanyaan ini ditanyakan dalam kehidupan nyata. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika saat ini adalah negara yang terpecah belah dan terpolarisasi, dan ketegangan tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. 


Civil War adalah film tentang perang distopia yang dirilis pada tahun 2024. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Alex Garland. Jalan cerita film ini mengikuti tim jurnalis yang melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat selama perang saudara antara pemerintah federal yang otoriter dan beberapa faksi regional. Beberapa scene dari film berdurasi 1 jam 49 menit ini juga cukup mengerikan jika dijabarkan. Salah satunya lewat suspense nonstop sepanjang durasi film, yang mana ini menjadi salah satu ciri khas dari Garland, yang memang ahli dalam mengusung elemen suspense serta thriller yang tinggi. Sutradara Alex Garland selalu menjadi pembuat film yang provokatif, dan dalam Civil War ia mengeksplorasi mimpi buruk distopia yang membayangkan skenario terburuk bagi negara tersebut. Suram dan sulit ditonton, Civil War  adalah kisah peringatan yang tak henti-hentinya.



Btw apa itu distopia ?


Distopia (dari kata Yunani δυσ- dan τόπος, alternatifnya cacotopia,[1] kakotopia, atau anti-utopia) merupakan suatu komunitas atau masyarakat yang tidak didambakan atau terkesan menakutkan.[2][3] Istilah ini diterjemahkan sebagai "tempat yang tidak baik". Distopia sering kali dicirikan dengan dehumanisasi,[2] pemerintahan totaliter, bencana lingkungan,[3] atau karakteristik lainnya sehubungan dengan kemerosotan nilai secara dahsyat dalam masyarakat. Masyarakat distopis ditampilkan dalam banyak subgenre karya fiksi dan sering kali digunakan untuk menarik perhatian terhadap isu-isu dunia nyata mengenai masyarakat, lingkungan, politik, ekonomi, agama, psikologi, etika, ilmu, dan/atau teknologi, yang jika tidak ditangani dapat berpotensi menyebabkan suatu kondisi seperti distopia.


Itulah yang bakal kamu temukan pada cerita film Civil War. Walau ceritanya diambil dari sudut pandang jurnalis perang, konflik yang ditampilkan film ini tetap terasa sangat intens dan membuat penonton bisa melihat kekacauan perang dari sudut pandang yang berbeda. Scoring filmnya benar-benar juara, sampai mampu membuat penonton seperti berada langsung di medan perang.




Civil War bukanlah film yang memerlukan deduksi cerdas untuk menguraikan pesan atau tema yang dimaksudkan. Alih-alih sindiran halus untuk memancing pikiran, film ini mencengkeram bahu penonton dan mengguncang mereka dengan hebat, membombardir mereka dengan visual yang mengejutkan dan momen-momen yang mengganggu. Ceritanya fiksi, tetapi jelas dimaksudkan untuk dikaitkan dengan kenyataan. Selama momen pembukaan film, ada beberapa klip pendek tentang apa yang saya yakini sebagai kerusuhan dan kekerasan di dunia nyata. Dengan menyertakan visual tersebut, film ini seolah menunjukkan bahwa Amerika sedang berada di bibir jurang yang siap untuk jatuh entah kapan waktunya.



Civil War hadir sebagai pembuktian bahwa film distopia ternyata juga bisa mengangkat konflik yang realistis dan dekat dengan kehidupan nyata. Kondisi dunia dan teknologi yang diperlihatkan pun masih benar-benar sesuai dengan keadaan dunia saat ini. Bahkan karena dari sudut pandang jurnalis perang, kita bisa melihat efek kekacauan akibat perang yang begitu depresif. Bagaimana enggak? Jurnalis perang harus tetap menjalankan tugas mereka walau ada kekacauan dan kematian di depan mata mereka. Layaknya tentara, jurnalis perang bahkan harus mempunyai naluri dan strategi sendiri ketika terjun di medan perang.


Civil War memperlihatkan bagaimana jadinya jika Amerika Serikat mengalami Perang Saudara kedua akibat pemerintah yang otoriter. Alhasil, Amerika Serikat terbagi dalam empat faksi dan presiden menjadi musuh besar untuk sebagian masyarakat Amerika Serikat. Menariknya walau mengangkat konflik tentang Perang Saudara, kisah Civil War diceritakan lewat perspektif sekumpulan jurnalis perang yang nekat mempertaruhkan nyawa mereka untuk bisa mengabadikan momen peperangan tersebut.


Poin menarik lainnya adalah film ini juga dikemas dengan konsep road trip yang dilakukan para jurnalis dalam mengejar berita yang mereka inginkan. Enggak hanya satu medan perang, penonton bahkan diajak untuk menyaksikan kekacauan beberapa medan perang sekaligus, ditambah dengan konflik internal yang terjadi di antara kelompok jurnalis perang yang kisahnya kita ikuti. Bahkan, ada satu momen yang mana para jurnalis terjebak dalam situasi bahaya yang benar-benar memacu adrenalin saat menontonnya. 

Seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya, Civil War menampilkan sekumpulan jurnalis perang yang pergi ke Washington DC untuk mewawancarai presiden. Nah, sekumpulan jurnalis tersebut terdiri dari empat orang, di antaranya Lee Smith yang diperankan Kirsten Dunst, Joel yang diperankan Wagner Moura, Jessie Cullen yang diperankan oleh Cailee Spaeny, dan Sammy yang diperankan oleh Stephen McKinley HendersonKeempat aktor yang memerankan karakter tersebut berhasil menciptakan chemistry yang sangat baik, sehingga penampilan mereka benar-benar saling melengkapi. Apalagi, masing-masing karakter hadir dengan karakteristik yang berbeda-beda. 



Enggak hanya para pemeran utamanya, aktor-aktor pendukung lainnya juga tampil enggak kalah memukau walau kebanyakan dari mereka tampil cukup singkat di filmnya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, para jurnalis mengunjungi beberapa medan perang selama perjalanan mereka ke Washington DC. Selama mampir, mereka dipertemukan dengan beberapa karakter yang diperankan dengan sangat baik oleh aktornya.

Civil War bahkan menampilkan satu adegan yang mana para jurnalis perang berada di suatu basecamp tentara. Pada momen tersebut, film ini hanya menampilkan suara kegaduhan yang memberikan efek imersif kepada penonton seakan berada langsung di lokasi tersebut. Nuansa perangnya pun semakin terasa realistis dengan desain produksi yang benar-benar berhasil menampilkan kekacauan perang.


Setelah tayang secara global, film ini meraih banyak nominasi, seperti Best Picture, Best Director, Best Actress, Best Screenplay, dan lainnya. Nominasi tersebut diberikan pada ajang penghargaan Astra Midseason Movie Awards, Golden Trailer Awards, dan Location Managers Guild International Awards lho ...... keren kan ?

Berdasarkan situs IMDb, Civil War juga mendapat rating cukup baik, yakni 7,1/10 dari 156K pengulas. Sementara pada laman Rotten Tomatoes, film ini mendapat rating 81 persen dari Tomatometer dan 70 persen dari penonton.


Penasaran ?
Gass .......




4.28.2024
Posted by ngatmow

The Physician, film bagus tapi ..............

Sudah sejak lama Timur Tengah menjadi sasaran subjek yang menarik untuk diceritakan, banyak syair–syair maupun lukisan–lukisan tentang kawasan tersebut lahir dari seniman Barat. Semenjak munculnya media perfilman di kalangan Amerika dan Eropa, Timur Tengah semakin terekspos dan eksotisme daerah itu tersebar ke seluruh dunia. Pada bagian ini peneliti merasa penting untuk menyajikan beberapa contoh film-film yang mengandung unsur orientalisme. 

Di wilayah Timur Tengah kita bisa dapatkan Film Aladdin (1992), sebuah film kartun produksi Disney Film yang mengkisahkan percintaan antara pemuda miskin (Aladdin) dengan putri raja (Jasmine). Penggambaran Timur Tengah sebagai daerah yang irrasional terlihat manakala perjuangan Aladdin dalam mendapatkan cinta Jasmine dibantu dengan sosok jin. Pengenalan singkat tentang Timur Tengah digambarkan dengan pemandangan gurun, unta–unta dan penyembur api yang menghibur beberapa orang di pinggir jalan serta pertunjukkan ular kobra yang menari dengan seruling. Sementara keadaan sosial di daerah ini digambarkan sebagai kekerasan dan konflik adalah hal yang biasa. Pedang merupakan simbol yang melekat dengan Timur Tengah. Sosok yang kejam ditampilkan dengan orang kulit berwarna, mental pedagang Arab yang serakah dan penguasa/raja/sultan diwakilkan dengan sosok yang gendut, kekanak-kanakan, dan naif.

Bahkan boleh dipercaya atau tidak, Karya sinematografi barat tentang seorang tokoh di Timur Tengah selalu merupakan tafsiran alias pemahaman tanpa kajian mendalam saja. Sebab terkadang ceritanya tak melulu sealur dengan buku-buku yang dianggap otoritatif tentang tokoh tersebut. Sebagai contoh adalah gambaran tentang seorang ilmuwan muslim abad 11, Ibnu Sina (Avicenna),  dalam film The Physician ( produksi tahun 2013), yang setidaknya merefleksikan tafsir atas kehidupan sang tabib dari Isfahan, serta konteks dimana ia hidup. Dan yang pasti, banyak sekuel yang memang menunjukkan tidak akuratnya sejarah dalam film semi historic ini.

Film The Physician merupakan film berjenis petualangan/drama/sejarah yang dirilis pada 25 Desember 2013. Film ini berasal dari Jerman yang diadaptasi dari novel bestseller karya Noah Gordon dengan judul Der Medicus (1999). Situs betafilm mencatat bahwa novel tersebut laku hingga 21 juta kopi diseluruh dunia (The Physician, n.d.). Novel tersebut berhasil menarik minat masyarakat Eropa dan selalu habis terjual terutama di Jerman dan Spanyol dan dinominasikan sebagai "Ten Most Loved Books of All Time" dalam Madrid Book Fair (Noah Gordon awards and honors, n.d.)

Disutradarai oleh Philipp Stölzl, seorang berkebangsaan Jerman. Film berbahasa Inggris yang berdurasi 150 menit ini mendapatkan pendapatan besar dengan hasil perjualan box office mencapai 57,284,237 juta Dollar, serta menyabet Gambar 6 Poster film The Physician (Sumber: imdb.com) 39 penghargaan Bogey Award dari jumlah penonton yang mampu menarik 1 juta pengunjung dalam waktu 10 hari. Film ini juga mendapatkan 5 nominasi emas dalam German Film Award 2014 sebagai sinematografi terbaik, desain produksi terbaik, desain kostum terbaik, tata rias terbaik, dan tata suara terbaik. 

Produksi film The Physician berlangsung selama empat bulan antara Juni 2012 hingga September 2012 dan menghabiskan biaya hingga 36 juta Dollar. Lokasi produksi dilakukan di Maroko dan Jerman serta menggunakan studio MMC Studios, Cologne di North Rhine-Westphalia yang berbasis di Jerman untuk memberi sentuhan kemegahan kota Isfahan dan landscape Timur Tengah dengan setting abad ke-11. Bercerita ketika Eropa masih mengalami zaman kegelapan (dark ages), belum ada ahli medis, sementara para pengobat abad ke-11 pada saat itu disebut sebagai tukang cukur (barber), mereka mempromosikan diri mereka dapat menangani kelainan yang ada dipermukaan seperti mengobati kutil, mencabut gigi, reposisi tulang, amputasi, bekam dengan lintah dan menjadikan kencing Kuda sebagai tonik. 

Disamping itu hiduplah Robert Cole (Tom Payne) yang sudah lama akrab dengan kemiskinan karena ditinggal mati oleh ayahnya, sementara ibunya mengidap penyakit serius pada perut (Thypus) dan kemudian meninggal dunia pada saat ia masih kecil karena tidak memperoleh pertolongan yang layak. Menyaksikan itu, Robert Cole memutuskan untuk mencari penyebab & cara menyembuhkan penyakit tersebut serta bertekad untuk mencegah kematian. Ia kemudian memohon kepada seorang tukang cukur (Stellan Skarsgård) untuk ikut berkeliling bersama 40 pedatinya berkelana dari kota ke kota membantunya menjajakan obat. Rob pun diasuh olehnya dan menjadi asisten dalam melakukan segala tindakan pengobatan didalam kamar pedati. Namun pekerjaan sebagai barber tersebut ditentang oleh Gereja karena dituduh menggunakan ilmu hitam. Ajaran Gereja menilai bahwa hanya dengan kuasa Tuhan penyakit dapat disembuhkan, walaupun pihak Gereja tidak mampu memberikan solusi dan pengobatan. 

Ketika Rob tumbuh dewasa, penglihatan ayah angkatnya mengalami gangguan. Ia kemudian mengantarkan sang barber tersebut untuk melakukan operasi katarak kepada para tabib Yahudi. Robert pun merasa takjub melihat kecanggihan alat operasi yang digunakan dan mencari informasi berasal dari mana pengetahuan ilmu medis itu. Sejak dini Robert memang menunjukkan minatnya yang tinggi terhadap dunia pengobatan. Tabib Yahudi itu kemudian menyarankan ia untuk pergi ke suatu daerah yang amat jauh dari London, yaitu Isfahan. 

Dalam film ini kita bisa melihat bagaimana peradaban Timur Tengah tergambar dalam dialog berikut :
 
Tabib : “tabib terbaik sedunia mengajarkanku disana, Ibnu Sina, tak seorang pun di dunia yang sebanding dengan kebijaksanaannya, ia dapat menyembuhkan segala macam penyakit”. 
Rob : “Berapa lama untuk sampai kesana?”. 
Tabib : “Lebih dari setahun. Kau harus pergi ke pantai Selatan Inggris, menyebrangi selat melalui Prancis dan naik kapal berlayar mengelilingi pantai Barat Afrika, kemudian sampai ke Mesir. Disana.. kau akan dibunuh”. 
Rob : “Kenapa?”. 
Tabib : “Permulaan dunia Muslim. Arabia dan Persia. Orang Kristen dilarang untuk pergi kesana. Mereka hanya mentolerir orang Yahudi. Maaf, kau percaya pada Tuhan yang salah”.

Menyadari dokter terbaik bernama Ibnu Sina berada dibelahan dunia lain dan penuh risiko, ia tetap bertekad pergi kesana dan menganggap inilah satusatunya cara untuk mempelajari ilmu medis. Sesampainya di Mesir Robert Cole melakukan sunat secara mandiri agar bisa bergabung dan diterima komunitas Yahudi, kemudian menukar namanya menjadi Jesse bin Benjamin. 

Dalam perjalanan menuju Isfahan bersama dengan rombongan iringan unta, Robert Cole bertemu dengan Rebecca (Emma Rigby), seorang wanita Yahudi yang menarik hatinya. Namun mereka menghadapi badai gurun yang dahsyat hingga mereka terpisah dan sebagian besar diantaranya mati terkubur pasir. 

Saat Rob tiba di Ishafan, Persia. Ia terkesima melihat penataan kota yang amat maju, menara-menaranya menjulang tinggi, Arsitektur yang begitu megah dengan dinding-dinding gedung berhiaskan kaligrafi yang indah. Ishafan digambarkan bermandikan cahaya, bertabur kembang api dan aktivitas kota yang disesaki oleh perdagangan dan perniagaan. Saat itu pula Ia bertemu iring-iringan khalifah Shah (Olivier Martinez) melintas bersama tentaranya. khalifah digambarkan sosok yang gagah, pemberani, petarung buas di medan perang, otoriter terhadap kedudukannya namun amat menghargai toleransi kebebasan beragama dan menjunjung ilmu pengetahuan. 

Dengan penampilan lusuh dan tidak membawa barang berharga, Rob Cole sempat ditolak secara kasar oleh pihak Madrasah, Davout Hosein (Fahri Ogun) untuk berguru kepada Ibnu Sina hingga ia tersungkur dan tidak sadarkan diri ditengah kerumunan warga Isfahan. Penolakan tersebut cenderung rasis karena ungkapan kasar yang diberikan ketua Madrasah kepada Robert Cole mengatakan bahwa ia tidak mau menerima seorang Yahudi yang bau, miskin dan penipu. Hal tersebut seolah menampilkan bahwa ketika Muslim berkuasa memiliki sikap yang bengis. 

Dengan nasib baik yang dimilikinya, Robert Cole ditolong oleh Ibnu Sina dan diobati luka–lukanya. Ia kemudian diterima untuk belajar di madrasah tanpa syarat dan memiliki dua orang sahabat, seorang Yahudi bernama Mirdin (Michael Marcus), dan seorang Muslim pemalas bernama Karim (Elyas M‘barek). Ada satu adegan dimana saya sempat berpikir agak keras dengan segala keterbatasan otak. yaitu adegan dimana Rob menanyakan apa yang digunakan oleh Ibnu Sina untuk mengobatinya.
“Dengan salep getah Poppy [opium/papaver somniferum],” kata Ibnu Sina. 

But wait...... jaman itu disana sudah ada opium ???  emmm.........


Dengan kepolosan dan rasa keingintahuannya yang sangat tinggi itulah Robert Cole kemudian berkembang menjadi murid teladan Ibnu Sina yang cepat tanggap bersemangat dalam belajar dibanding murid yang lain. Selain ilmu pengobatan, ia juga mempelajari Filsafat dan Astronomi. Kepribadian Ibnu Sina yang bijak dan selalu berpikiran optimis diceritakan dengan bagaimana ia berpesan kepada para mahasiswanya untuk selalu memperlakukan pasien dengan baik. 
Sebagai informasi saja, di Madrasah milik Ibnu Sina terdapat perpustakaan yang menghimpun warisan kekayaan ilmu kedokteran dari Yunani kuno. Fakultas kedokteran tersebut diisi oleh beragam pelajar dari mancanegara, ras maupun agama. Ruang pembelajaran juga terintegrasi dengan ruang perawatan pasien sebagaimana model rumah sakit modern. Fasilitas lainnya yaitu terdapat gudang penyimpanan obat dan alat medis, hingga pendingin untuk membuat es. Film ini menggambarkan secara jujur bahwa bahasa pengantar ilmiah di dunia pengetahuan pada saat itu menggunakan bahasa Arab. Terlihat dari kitab–kitab dan gulungan yang dipelajari oleh murid–murid Ibnu Sina menggunakan bahasa Arab sebagai lingua franca.

Banyak pelajaran moral yang dipelajari Rob dari Ibnu Sina, Ibnu Sina tak hanya mengajarkan soal teknis pengobatan dan kedokteran. Lebih dari itu, ia juga membekali murid-muridnya tentang etika penyembuhan. Kata Ibnu Sina, “untuk mengobati suatu penyakit, perlakukan dengan baik orang yang menderita.” Oleh sebab itulah pada saat setiap akan memulai pengobatan terhadap pasien-pasiennya, Ibnu Sina selalu mengatakan, 

“namaku Ibnu Sina… Dengan izinmu, aku akan merawatmu.”

Kisah film ini juga dibumbui perseteruan antara suku bani Seljuk yang hidup nomaden dan liar dipadang gurun. Mereka bersekutu dengan para Mullah atau sekelompok Islam fanatik “yang kaku” dalam memahami agama untuk melawan Kekhilafahan Shah yang dianggap terlalu liberal. Pemimpin Bani Seljuk tersebut mengirim “bom biologis” berupa penderita penyakit pes (pada waktu itu diceritakan disebut sebagai black death)  ke kota Isfahan sebagai balasan atas kematian puteranya yang dipenggal oleh Shah. Wabah tersebut menyebabkan kegemparan dan kematian bagi kota Ishafan. Ibnu Sina meminta evakuasi seluruh penduduk, namun Shah menolaknya. 

Ibnu Sina memutuskan bersama mahasiswanya bereksperimen mencari pengobatan terhadap wabah yang terjadi meski resiko yang dihadapi mereka adalah kematian. Mereka disibukkan merawat banyaknya pasien yang tak kunjung henti. Seluruh bagian kota dipenuhi penyakit dan banyak warga mengisolir diri dengan menembok pintu rumahnya atau pergi meninggalkan kota Ishafan.  

Kalau dipikir lagi, ini mirip dengan kita yang sedang berjuang melawan Covid19 lho....... #dirumahsaja hehehe................

Adegan akhir melawan wabah tersebut, kerja kerasnya menemukan jawaban bahwa penularan wabah dapat diputus dengan membasmi vektor penyakit yakni tikus. 

Selain bumbu politik, film ini juga diselingi tarikan antara dogma agama dan ilmu pengetahuan. Ini tersaji misalnya dalam kasus otopsi mayat. Diantara pasien Ibnu Sina ada seorang penganut Zoroaster bernama Qasim yang kebetulan dirawat Rob. 
Sekedar informasi, Filosofi agama Zoroaster berbeda dengan agama Samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) tentang kebangkitan. Qasim berwasiat pada Rob apabila ia mati, ia meminta tubuhnya diletakkan di atas menara agar bisa dimakan burung pemakan bangkai. Dengan demikian jiwanya terbebas. 

“Ketika aku pergi, bawa tubuhku ke meneara dan biarkan dimakan burung… Penganut Zoroaster meninggalkan tubuh mereka ke burung bangkai. Mereka membersihkan jiwa kita dari materi tetap,”
 
Kesempatan emas itu tak disia-siakan Robert Cole, segera ia membawa jenazah Qasim dan membelahnya secara diam–diam di gudang penyimpanan obat untuk mempelajari organ dalam yang ada di dada dan rongga perut. Rob melukis organ-organ itu sebagaimana gambar ilustrasi anatomi manusia sekarang ini.  

Rupanya, apa yang dilakukan oleh Jesse diketahui Davout yang sedari awal memang tidak suka terhadap Jesse termasuk Ibnu Sina. Keduanya ditangkap dengan tuduhan melakukan pencurian mayat sebagai obyek penelitian, Ibnu Sina juga terseret ke dalam penjara dan keduanya dijatuhi hukuman mati. Dikisahkan pada era tersebut bahwa perilaku membedah tubuh manusia adalah pelanggaran tingkat tinggi dalam agama. Dalam masa penahanan, Ibnu Sina dan Robert Cole berdiskusi tentang apa yang sebenarnya ada didalam rongga tubuh manusia. Robert Cole kemudian menceritakan dan bahkan mengajarkan Ibnu Sina tentang pencernaan dan sirkulasi darah. 

Disaat yang sama Shah mengalami sakit perut kronis ketika dinasti Kekhilafahan yang ia pimpin dikepung dalam perang oleh para Mullah didalam kotanya dan Bani Seljuk dari luar. Untuk mengembalikan kondisinya, ia menggagalkan eksekusi mati yang dibuat para Mullah kepada Robert Cole beserta Ibnu Sina dan membawanya ke istana untuk melakukan operasi pengangkatan usus buntu dari dalam perutnya. Robert Cole dibantu Ibnu Sina beserta Mirdin berhasil melakukan operasi pertama kali dalam sejarah. 

Film kemudian ditutup dengan kekalahan Khalifah Shah melawan para Mullah yang bersekutu dengan Bani Seljuk, seluruh rakyat Isfahan mengungsi dan seluruh isi perpustakaan milik Ibnu Sina hancur terbakar karena perang. Pada akhir adegan Ibnu Sina mengalami putus asa melihat kehancuran tersebut dan mengakhiri hidupnya dengan minum racun. Sebelum kematiannya ia mewariskan kitab terpenting dalam ilmu medis (mungkin kitab itulah cikal bakal Buku The Cannon Of Medicine  yang kemudian menjadi buku kedokteran pertama dunia) kepada murid kesayangannya Robert Cole untuk dipelajari, koreksi kesalahannya, dan sebarluaskan pengetahuan tersebut ke dunia ketika ia bawa pulang ke London.

The End

---------------------------------------------------------------------



Sedikit membahas film yang sebenernya sangat menarik ini, ada dua sikap yang bisa diambil. 
Pertama, apologetik. Kedua, kritis

Apologetik disini  dalam artian mencoba untuk bertahan bahwa perlu koreksi total karena tidak sesuai dengan “sejarah resmi,” sementara yang kritis dimaksudkan mengambil moral cerita yang dihadirkan sembari mencari rujukan lain sebagai opini alternatif.

oke mari kita bahas ............


Ibnu Sina atau Abu ‘Ali al-Husain ibn ‘Abd-Allah ibn Hasan ibn ‘Ali ibn Sina, lahir pada 23 Agustus 980 atau Safar, 370 H di sebuah wilayah dekat Bukhara yang disebut Kharmaithan atau Afshana. Kini, wilayah tersebut masuk dalam administrasi Negara Uzbekistan. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kedokteran di Iran. Ayah Ibnu Sina, seorang pimpinan lokal di Afshana tidak terlampau jelas asalnya Arab, Turki atau Persia. Ibunya, Setareh, adalah orang Persia.

Pembentukan keilmuan Ibnu Sina dimulai ketika keluarganya pindah ke Bukhara. Ia belajar tak hanya tentang agama, tapi juga filsafat, aritmetika dan geometri. Ali Abdullah Nateli, seorang yang sangat memahami filsafat, suatu hari datang ke Bukhara. Ayah Ibnu Sina mengajaknya ke rumah mereka dan meminta Nateli mengajari Ibnu Sina.

Bersama Natelli, Ibnu Sina belajar logika dasar untuk membaca Eisagoge karyanya Porphyry, Euclid, dan Almagest-nya Ptolemeus. Selain itu, karya Plato dan Aristoteles juga ia lahap. Pikiran-pikiran Peripatetik dan Stoik dalam tulisan Ibnu Sina banyak berasal dari sumber ini. Dari sini, Ibnu Sina mulai merambah ilmu kedokteran. Kehidupan Ibnu Sina di Bukhara berlangsung hingga 999. Ia kemudian meninggalkan Bukhara menuju Gorganj dan tinggal disana hingga 1012. Dari Gorganj ia pindah ke Jorjan (1013), Ray (1015), Hamadan (1024) dan Isfahan (1037). Di Isfahan inilah Ibnu Sina bekerja dan kerap mendapat pujian dari Ad-Daula. Dalam perjalanan ke Hamadan, Ibnu Sina meninggal dan dimakamkan disana pada Juni atau Juli tahun 1037 dalam usia 58 tahun.

Biografi ini sekaligus membedakannya dengan cerita dalam The Physician. Di film itu, Ibnu Sina digambarkan meninggal di madrasahnya dengan cara meminum racun setelah kekuasaan Seljuk menguasai Persia. Cerita tentang posisi Ibnu Sina dalam pemerintahan Ad-Daulah dari Dinasti Ali Buyeh juga agak sedikit berbeda dengan yang tersaji di buku sejarah. Dalam film digambarkan Ibnu Sina dan istana itu agak sedikit berjarak, tapi dalam buku sejarah, Ibnu Sina adalah bagian integral dari istana.

Nah lho..........

Oke lanjut ...........

Saya mencoba untuk tidak bersikap apologetik dan mencari “kuasa pengetahuan” dalam film ini. Meski harus diakui, media film banyak digunakan untuk menunjukan superioritas sebuah kelompok atas golongan lainnya. 

Terlepas dari akurasi penggambaran cerita yang tak sebangun dengan narasi sejarahnya, ada beberapa hal ingin saya amini dari The Physician. 

Pertama, film ini dengan cukup terbuka menunjukkan bahwa peradaban Islam mengalami zaman keemasannya serta seorang Ibnu Sina yang berkontribusi besar dalam dunia kedokteran dunia. Disamping itu film ini tidak terjebak dalam bias barat yang selalu menganggap bahwa dunia timur sebagai bangsa yang tenggelam dalam kegelapan, kebodohan, keterbelakangan dan secara jujur justru menceritakan bahwa dunia baratlah yang pada saat itu sedang mengalami masa suram.

“The Arabs contributed a high sense of mission; the Persians their culture and sense of history; the Christian Syriacs their linguistic versatility; the Harranians their Hellenistic heritage and the Indians their ancient lore.”

Kedua, kejayaan peradaban Islam tak lepas dari keterbukaan dalam menerima produk kebudayaan lain. Bacaan Ibnu Sina yang kuat terhadap karya pemikir Yunani, menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya era emas peradaban Islam. Itu diperkuat dengan harmoni yang muncul diantara pemeluk agama yang berbeda. Pemikiran berkembang pesat. Karena pikiran cemerlang itulah peradaban menjadi maju. Iran, meminjam istilahnya Axworthy (2008), menjadi “empire of the mind.

Ketiga, perselingkuhan antara agama dan politik kerap menjatuhkan wibawa kelompok agama itu sendiri. Di bagian akhir, ada adegan dimana pemimpin Mullah bersimpuh di hadapan tentara Seljuk sebagai bukti penerimaan mereka terhadap pemimpin baru. Itu sekaligus menggambarkan betapa klaim keagamaan yang digunakan untuk maksud politik malah menggiring munculnya despotisme baru. Dan jujur saja, bukankah itu juga sedang terjadi sekarang ini ?

Ah entahlah.....
yang jelas, secara sinematografi film ini menarik namun dengan isi cerita di dalamnya yang perlu dicerna berkali kali lagi.  


*dari berbagai sumber
6.01.2020
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow