Archive for Februari 2026

Pelajaran dari Sebuah Pesta Perpisahan

Pak Suharto — bukan itu Pak Suharto Presiden lho ya, tapi Pak Suharto staf senior Bagian Perencanaan yang sudah 32 tahun mengabdi dan terkenal dengan kebiasaannya membawa bekal nasi dari rumah setiap hari tanpa pengecualian — akhirnya akan pensiun.


Kantor mengadakan acara perpisahan kecil. Kecil dalam artian yang sesungguhnya: nasi kotak yang dipesan dari catering langganan, teh manis dari dispenser yang sudah lama minta dikalibrasi, dan kue tart dengan tulisan "SELAMAT PURNA TUGAS, PAK SUHARTO" yang ejaannya benar tapi hiasannya agak miring.


Thomas duduk di baris belakang, memperhatikan Pak Suharto yang berdiri di depan dengan ekspresi yang sulit dibaca — campuran haru, lega, dan sesuatu yang lain yang tidak punya nama tepat dalam bahasa Indonesia maupun Jawa.


Pak Suharto bicara.


"Tiga puluh dua tahun itu... kalau dipikir-pikir, cepet. Saya masuk sini umur 27. Rambut masih hitam. Sekarang, ya lihatlah sendiri."


Tawa kecil. Pak Suharto tersenyum.


"Saya pernah ada di posisi kalian — muda, bingung mau jadi apa, ngerasa kerjaan ini nggak cukup buat mimpi yang besar-besar. Saya dulu juga punya mimpi besar. Mau jadi pengusaha, mau bikin perusahaan sendiri, mau ini mau itu."


Thomas mendengarkan lebih seksama sekarang.


"Tapi ya sudahlah. Hidup membawa saya ke sini. Dan di sini saya nemu hal-hal yang nggak saya rencanakan tapi ternyata saya butuhkan — teman-teman yang jadi saudara, rutinitas yang bikin saya disiplin, dan rasa bahwa apa yang saya kerjakan — meski kecil, meski nggak glamor — itu nyata dan berguna."


Pak Suharto berhenti sebentar. Matanya sedikit merah.


"Satu hal yang mau saya sampaikan ke yang masih muda-muda: jangan terlalu sibuk mengukur hidupmu dengan penggaris orang lain. Tiga puluh dua tahun saya di sini, dan saya tidak menyesal. Bukan karena saya tidak pernah bisa jadi pengusaha — tapi karena saya memilih untuk hadir sepenuhnya di tempat yang saya berada."


........

Setelah acara selesai, Thomas membantu membereskan kursi. Pak Suharto sudah dikelilingi rekan-rekan yang antri foto. Thomas menunggu sampai kerumunan agak sepi, lalu menghampiri.


"Selamat pensiun, Pak."


"Makasih, Tom. Kamu gimana? Masih betah?"


"Masih belajar betah, Pak."


Pak Suharto tertawa kecil. "Bagus. Belajar betah itu beda sama pasrah. Yang satu aktif, yang satu pasif. Kamu yang pertama ya."


Thomas mengangguk. Kata-kata itu sederhana tapi menancap di suatu tempat dalam dadanya yang sudah lama kosong dan mencari isian.


Di perjalanan pulang, Lady Punky berjalan mulus — hari yang langka. Langit sore berwarna oranye, dan Thomas mengendarai vespanya tanpa tergesa, membiarkan angin sore mengelap keringah hari yang panjang.


Dia masih PNS kelas rendahan. Gajinya masih segitu. Meja kerjanya masih sama. Mesin fingerprintnya masih kadang-kadang tidak mengenalinya.


Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Thomas Fatah tidak merasa kecil.


Dia merasa seperti seseorang yang sedang belajar — dan itu, katanya pada dirinya sendiri sambil memarkir Lady Punky di depan kos, sudah lebih dari cukup untuk hari ini.


Tiga puluh dua tahun. Satu bekal nasi dari rumah setiap hari. Tidak ada yang tahu nama Pak Suharto di luar kantornya. Tapi di dalam kantornya, tidak ada yang tidak mengenalnya. Kadang itulah yang disebut cukup — bukan karena tidak mau lebih, tapi karena tahu apa yang benar-benar penting.

2.26.2026
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow