Archive for Februari 2022

Surat yang Membutuhkan Surat untuk Meminta Surat

Ini adalah puncak dari segala puncak. Everest-nya birokrasi. Kisah yang Thomas Fatah ceritakan berulang-ulang di warung kopi, di kantin kantor, di mana saja ada orang yang mau mendengar — bukan dengan marah, tapi dengan tawa yang sudah matang, tawa orang yang sudah berdamai dengan realita.

Ceritanya bermula sederhana: Thomas perlu Surat Keterangan Penghasilan untuk melengkapi berkas KPR rumah.

Ia datang ke kelurahan.


"Minta surat keterangan penghasilan, Pak."

"Ada surat pengantar dari RT?"



Thomas balik ke RT. Minta surat pengantar. Pak Ketua RT bilang: "Ada, tapi harus ada dulu surat permohonan tertulis dari kamu ke RT."

Thomas menulis surat permohonan ke RT. Pak Ketua RT menerimanya, menandatanganinya, memberi stempel RT yang gambarnya sedikit miring.


Balik ke kelurahan. Surat pengantar diserahkan.

"Oke. Sekarang minta surat keterangan penghasilannya perlu dilampiri slip gaji atau bukti penghasilan."

"Saya tidak punya slip gaji, Pak. Saya wiraswasta."

"Kalau wiraswasta, perlu surat keterangan usaha."

"Dari mana?"

"Dari kelurahan."


Thomas menatap petugas kelurahan di depannya.

"Pak... saya sekarang di kelurahan. Minta surat keterangan penghasilan. Tapi untuk bikin surat keterangan penghasilan, saya perlu surat keterangan usaha. Dari kelurahan. Ini kelurahan yang sama?"

"Iya."

"Jadi saya perlu surat dari sini... untuk minta surat dari sini?"

"Beda loketnya, Mas. Surat keterangan usaha di loket dua. Ini loket satu."


Thomas berpindah ke loket dua. Minta surat keterangan usaha.

"Ada surat pengantar dari RT?"

Thomas mengeluarkan surat pengantar RT yang tadi. Sudah ada. Aman.

"Ini untuk surat keterangan penghasilan, Pak. Bisa untuk keterangan usaha juga?"


Petugas loket dua membaca surat itu. Mengerutkan dahi.

"Ini tertulisnya 'pengantar permohonan surat keterangan penghasilan', Mas. Kalau untuk keterangan usaha, suratnya harus spesifik menyebut keterangan usaha."


Thomas kembali ke RT. Pak Ketua RT sudah tidak ada di rumah — ada kondangan. Istrinya bilang Pak Ketua baru pulang malam.

Thomas pulang. Menunggu malam. Malam itu mendatangi Pak Ketua RT yang masih pakai baju batik kondangan. Minta surat pengantar baru yang menyebut keterangan usaha.

Pak Ketua RT menandatanganinya sambil melepas jas.


Keesokan harinya, Thomas ke kelurahan lagi. Loket dua. Surat keterangan usaha terbit.

Balik ke loket satu. Serahkan surat keterangan usaha untuk melengkapi permohonan surat keterangan penghasilan.

"Oke, Mas. Besok bisa diambil."


Thomas mengambil napas dalam. "Jadi bisa, Pak?"

"Bisa. Tapi nanti keterangan penghasilannya perlu dilegalisir dulu di kecamatan sebelum bisa dilampirkan ke berkas KPR."


Thomas hening selama delapan detik penuh.

"Di kecamatan... perlu apa lagi, Pak?"

Petugas itu membuka buku panduannya. Membacanya. Kemudian menutupnya.

"Surat pengantar dari kelurahan."


Thomas duduk di bangku tunggu loket. Menatap langit-langit. Ada satu cicak di sudut langit-langit yang menatap balik.

Mereka berdua diam cukup lama.

"Kamu juga bingung, kan?" tanya Thomas ke cicak itu.

Cicak tidak menjawab. Tapi ekornya bergerak sedikit — mungkin anggukan, mungkin bukan.


Empat belas hari, enam perjalanan, empat surat, tiga loket berbeda, dan dua instansi kemudian — Thomas Fatah akhirnya menyerahkan berkas KPR-nya yang lengkap.

Seminggu setelahnya, bank menolak pengajuannya.

Bukan karena berkas tidak lengkap.

Karena penghasilannya tidak memenuhi syarat minimum.


Thomas menerima surat penolakan itu, membacanya, melipatnya rapi, dan menyimpannya di laci mejanya — di sebelah tiket antrean A-047 yang tidak pernah dipanggil.

Ia menyeduh kopi.

Kemudian tertawa.


Bukan tawa pahit. Bukan tawa sinis. Tapi tawa seseorang yang sudah cukup banyak melewati hal-hal seperti ini hingga ia tahu: ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya satu babak lagi dalam kehidupan yang — mau tidak mau, suka tidak suka — tetap harus dijalani.

Dengan sabar. Dengan humor. Dan kalau bisa, dengan bekal nasi yang cukup.

2.26.2022
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow