Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Gitaris Fingerstyle kelas dunia asli Indonesia : Alip_Ba_Ta_
Apa yang ada di pikiran kita kalau denger kata Youtuber ?


Pasti macem macem......mungkin ada yang langsung keinget Ferdian Paleka yang kemarin sempat menghebohkan jagad maya dengan pank sampahnya, atau inget nyanyi nyanyi asik diiringi gitar akustik plus suara khasnya mas Felix Irwan dari Yogyakarta, Cap Tikus dari timur sana yang selalu bikin tiktok reaction, Estechmedia yang selalu membahas teknologi terbaru, atau bebeb Adella Wulandari si embak ayu Semarangan yang berlogat jawa medok dan suka mengumpat, atau mungkin ada juga yang ingetnya Gamer Kimi Hime yang selalu bisa bikin seger mata karena semangka !!!
eh.....
Nah sekarang kalau ditanya, pernah denger nama Alip_ba_ta ?
Belum ?
Hemm.... Lalu apa gunanya kalian bukain Youtube tiap hari kisanak ? ngintipin si Berli sama konten absurd macam MV yang sukanya bikin tegang si Joni.....??? hahahaha.....
Btw, wajar sih kalau bagi sebagian orang yang memiliki "minat" yang lain di dunia Youtube kalau ga kenal nama Alip Ba Ta. Sebab dia sama sekali beda dengan artis artis Youtube lainnya. Padahal dia saat ini menjadi salah satu gitaris yang disegani se antero jagad raya lho......
For Your Info gan, Alief Gustakhiyat atau lebih dikenal dengan nama Alip Ba Ta (pake P bukan F ya.....), saat ini harum sampai ke mancanegara karena kepiawaiannya gitar akustik dengan teknik fingerstyle. Bahkan musisi sekelas Brian May, gitaris band legendaris Queen, sampai dibuat kepincut lho..... belum termasuk Sandi Sandoro, Tantri Kotak, Addie MS, Dewa Budjana, Fun Two, Alexandr Misko, Igor Presnyakov alias Uncle Igor, hingga gitaris Avenged Sevenfold, Synyster Gates ...... padahal profesi aslinya sangat jauh dari dunia musik, karena dia adalah seorang operator forklift (sebuah alat atau kendaraan yang digunakan untuk mengangkat beban-beban berat) di daerah Cakung Jakarta Timur !!!
sangar !!
Semua genre musik, dari rock sampai dengan gending jawi pernah dimainkan cowok asli Ponorogo ini sejak membuat channel YouTube pada 27 Januari 2018 lalu. Dan uniknya dia ga pernah berkata sepatah katapun. Baik menyapa penontonnya, minta orang untuk nonton atau like and share, ataupun mengemis subscribe layaknya Youtuber lain (kecuali tukang tato andalan Hendric Shinigami hehehe....). Ga pernah......
"Yang saya tonjolkan itu cara saya bermain gitar," ungkap Mas Alip dalam wawancaranya dengan Tribunjakarta.com. Malahan, ia berkelakar punya ide lebih ekstrem lagi agar penonton benar-benar fokus mendengar petikan gitarnya.
"Saya punya niat malahan hitamkan seluruh video saya. Jadi kalau perlu enggak kelihatan semuanya,"
Keren ya.....
Eh ada ding sodara sodara ......suara pemuda 31 Tahun ini pernah muncul lho dalam video cover lagu nya System fo a down yang berjudul Toxity. Dia nyanyi !! Sebuah momen yang langka. Bahkan saking langkanya, banyak video reaction followernya yang sampai ga percaya......bahkan ada yang nangis saking bagusnya !!!
Kalau kita perhatikan dalam setiap karya karyanya, lagi lagi kita akan menemukan keunikan dari seorang Alip_ba_ta_
Apa itu?
Lokasi tentu saja. “studio” tempat rekaman adalah kontrakannya yang terkesan sederhana tanpa alat canggih dan pencahayaan yang bagus, plus tempelan dinding poster pengenalan huruf dan angka untuk anak anak. Juga topi dan celana pendek yang selalu dia kenakan dengan asbak dan segelas kopi yang nggak pernah absen di sampingnya.
Dan yang paling unik adalah..... Seringkali dia menyisipkan sebatang rokok menyala di ujung gitar yang (mungkin) digunakannya untuk membuktikan bahwa video video nya adalah langsung, nggak melalui proses editing yang kebangetan (bahkan kayaknya nggak kena edit sama sekali lho..... Perhatikan aja asapnya) kaya youtuber lain yang full editing hihihi.......
Sekedar info, akun YouTube Alip_ba_ta_ pernah mengalami banned dari pihak YouTube sendiri akibat adanya claim dari pihak sebuah media data musik. Usut punya usut ternyata di sana ada akun yang mengatasnamakan Alif_ba_ta_ (pake F) dan menjual rekaman suara beberapa hasil karya mas Alif_ba_ta_.
Saat itulah komunitas Alipers bergerak. Bahkan beberapa akun YouTube penggemar Alip_ba_ta_ juga ikut melaporkan dan mengklarifikasi hal tersebut hingga akhirnya pihak YouTube bersedia membuka kembali channel Alip_ba_ta_
Keren kan ?
Ini membuktikan lho bahwa untuk menjadi seorang youtuber dengan banyak follower nggak harus bikin konten prank, konten sampah, atau bahkan jual diri dengan menjual bodi saja........ Tapi dengan cara yang lebih elegan dan lebih berfaedah yaitu pake SKILL alias keahlian....... Titik......
Ada sebuah cerita menarik (lagi) soal mas mas satu ini.
Adalah seorang pengguna YouTube bernama Nenza Leoni yang menulis komentar di bawah ini pada video mas Alip_ba_ta_ berjudul “Yiruma – River Flows in You”

Tak disangka beberapa saat kemudian mas Alip_ba_ta_ memberikan respon dengan mengupload video khusus memainkan lagu “Kiss The Rain” sesuai request tersebut.
Bahkan seperti untuk menunjukkan bahwa lagu itu khusus untuk Nenza Leoni, dia mengenakan topi yang sama ketika mas Alip_ba_ta_ memainkan lagu River Flows In You.
Sontak saja warganet yang mengetahui “story” di balik dimainkannya lagu itu membanjir komentar video itu dengan pujian.
Tak sedikit yang mengaku menangis melihat kesungguhan mas Alip_ba_ta_ memenuhi permintaan gadis cilik tersebut.
Perlu beberapa hari setelah video itu diupload sampai Neza Leoni menulis komentar di video Kiss The Rain

Istimewa kan......???
Jepin Ratamba, menjaga tetap eksis walau semakin terkikis
Do you know about a Banjarnegara traditional martial art called Jepin Broxy ?
Tanya seorang kawan asal Denmark pada saya beberapa waktu yang lalu.
What the f*ck that .......saya ga tahu babar blas .......apa itu Jepin........
Malu saya sebagai warga Banjarnegara .......
So, pada hari itu juga saya browsing sana sini dan bertanya kepada teman teman pemerhati budaya yang ada di Banjarnegara tentang apa itu Jepin dan dimana Jepin itu ada........
hasilnya ? check this out man.......
Kesenian Jepin mungkin tidak begitu familiar di telinga kita (apalagi bagi yang sok hidup di daerah kota......macam saya.....hehehe....), padahal kesenian ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah mengakar dalam hidup masyarakat lho.
Diangkat dari kata Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi di seluruh antero negeri ini.
Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.
Di Banjarnegara, ada beberapa daerah yang menjadi kantong kantong pelestari kebudayaan Jepin ini. Diantaranya adalah Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran. Khusus untuk Kecamatan Pejawaran sendiri ada beberapa desa dengan beberapa variasi yang khas dan tidak bisa digabungkan satu sama lain. Misalnya Jepin Desa Giritirta yang cenderung halus dan lembut, serta Jepin desa Ratamba yang cenderung keras dan "galak".
Dan berhubung saya tertarik dengan Jepin Ratamba, maka saya segerakan untuk on the way ke sana .....halah.....
Ratamba adalah sebuah desa dengan kontur permukaan yang asik. Bagaimana tidak, desa ini terdiri dari beberapa bukit dengan susunan rumah penduduk yang seolah bertingkat karena mengikuti permukaan tanah. Untuk menuju ke desa inipun dibutuhkan perjuangan yang cukup lumayan mengingat sepanjang 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pejawaran (dan plis jangan tanya berapa kilo jarak pusat kecamatan ini dari pusat kota Banjarnegara) kita harus melewati mantan jalan beraspal halus... nanjak pula......
Menurut sesepuh desa sekaligus sesepuh kesenian ini, Mbah Muhyono, Kesenian Jepin Ratamba (kalau boleh saya sebut demikian), ini agak lain dari yang lain karena pada awalnya merupakan pengembangan dari ilmu kanuragan bernama Rodad dan Cimoi, dan karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang yang berada di Banjarnegara pada waktu itu maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin yang bisa diartikan sebagai Dijajah Jepang .... lho ??
Oleh karena itulah kesenian ini tumbuh sejak jaman Jepang dan berlangsung sampai sekarang. Kata Mbah Mulyono, dulu kesenian ini diciptakan bertujuan untuk memancing dan menggelorakan semangat juang masyarakat. Gerakan olah kanuragan yang menciptakan gerakan tegas seirama tabuhan beritme dinamis yang berasal dari jedur dan terbang, lengkaplah sudah seni rakyat jepin menjadi gandrungan warga. Busana yang dipakai oleh pemain mirip busana kejawen silat serba hitam serta ikat kepala dari kain batik sebagai penegas gerakan kepala. Juga tiupan peluit yang melengking sebagai tanda dimulainya satu jurus tertentu yang menambah ke"gaharan" kesenian yang satu ini.
Jepin Ratamba memang lain dari yang lain kisanak, dari keterangan ketua Kesenian Jepin Ratamba, Walnoto, pada umumnya Kesenian Jepin memiliki 23 jurus namun untuk Jepin Ratamba terdapat 38 Jurus. Hanya saja dari 67 orang pelaku yang sekarang masih aktif rata rata hanya menguasai 2/3 nya saja karena disamping faktor usia yang belum matang, juga karena beratnya latihan yang harus dijalani untuk bisa menguasai jurus pamungkasnya itu.
Ada yang menarik mengenai jumlah jurus ini. Setelah diamati, ditelusuri dan kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan hehehe....... ternyata memang ada banyak jurus tambahan yang berdasar pada jurus jurus Karate. Weh ... karate ???
Yes..... ilmu kanuragan asal Jepang...... (dan inilah yang menjadikan Jepin Ratamba memiliki gerakan yang cenderung keras dan "galak").
Selain jumlah jurus yang lebih banyak dan gerakan yang cenderung keras, Jepin Ratamba memiliki keunikan lain. Mereka tidak ragu untuk bermain api. Baik itu menyembur api, melompati api dan bahkan makan bara api !!
Busyet....
itu yang bikin saya tertarik setengah mati dengan kesenian yang satu ini......
Salah satu tokoh pemuda Ratamba yang juga menjadi senior di Kesenian Jepin, Sohib, mengatakan bahwa dalam Jepin Ratamba semua batasan manusia seolah terlewati. Seorang pemain jepin akan memiliki kemampuan yang luar biasa istimewa dan bahkan diluar akal manusia apabila dia sudah menguasai semua jurusnya, atau apabila dia sudah bisa bersatu dengan "endangnya".
What ?? endang ??
Endang disini bukan berarti mbak endang atau bu endang man...... endang dimaksud adalah roh halus atau jin tertentu yang bersedia untuk merasuk ke dalam jasad manusia yang mengundangnya. Dan biasanya sih mereka setia, dalam artian satu endang untuk satu orang saja........
Dan seperti kesenian kesenian lain di seluruh penjuru dunia, satu hal yang menjadi permasalahan bagi Jepin Ratamba adalah regenerasinya. Kini semakin banyak pemuda yang mengalihkan "dunia"nya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Semakin miris memang bahwa di satu sisi kesenian wajib dilestarikan, di sisi lain kebutuhan hidup sekarang memang semakin menusuk tulang. Sehingga pada akhirnya memang kesenian tradisional seperti ini hanya bergantung pada mereka mereka yang sanggup mengembannya meski jumlahnya tak semenjana........
5.30.2017
Posted by ngatmow
Kuntulan Semangkung, tradisi yang terasing di negeri sendiri
Slamet Sampurna Pemimpin Kita, Republik Indonesia Negara Kita
Kita Menghormat Dengan Bersama sama, Tahun Empat Puluh Lima Kita Merdeka
Kuntulan Ini Kuntulan Itu, Pelajar Yang Masih Baru
Kuntullah Ini dari Semangkung.........
Begitu kira kira syair lagu pengiring tarian silat sebagai awal dimulainya kesenian Kuntulan, bergemuruh menggema di dinding dinding bukit yang mengelilingi dusun Semangkung, desa Mlaya, Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara pagi itu. Sebuah syair lagu penuh makna dan sarat akan kebanggaan berbangsa dan bertanah air Indonesia, serta penghormatan yang luar biasa kepada pemimpin pemimpinnya.
Agak miris juga sebenarnya mengingat bahwa di tempat seperti ini rasa patriotisme dan perasaan hormat kepada pimpinan tertanam jauh lebih dahsyat daripada perasaan yang sama yang ada di dalam jiwa masyarakat yang mengaku orang kota.....
Damn.....
By the way, tenang..........kali ini kita bukan mau membicarakan soal rasa patriotisme masyarakat Semangkung itu kok. Kali ini mari kita mengupas lebih lanjut soal kesenian Kuntulan yang di gelar di pagi itu.......
Kuntulan ?? Apa itu ??
Kuntulan atau kali ini disebut sebagai Kuntulan Semangkung, adalah sebuah kesenian tradisional khas masyarakat dusun Semangkung yang sudah diwariskan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Menurut cerita masyarakat setempat, Warsito (63 tahun), Kuntulan berasal dari kata Kuntul yang merupakan singkatan dari kata rukun, kumpul dan betul. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan apa yang selama ini menjadi anggapan masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya (yang tahu budaya ini tentu saja......) yang menyangka bahwa kuntulan ini berasal dari ilmu beladiri Konto (yang berasal dari Kabupaten Kebumen).
"Gerakan gerakan silat yang kemudian nampak menjadi sebuah tarian dalam Kuntulan itu dasarnya bukan gerakan bela diri Konto, namun dari beladiri SH yang dibawa oleh Eyang Pernajaya selaku pencetus kesenian ini" begitu tambahnya. Entah SH apa yang dimaksud oleh salah satu dari tiga generasi awal kesenian Kuntulan Semangkung yang masih hidup tersebut.
Berbeda dengan Kuntulan Banyuwangi dan Kuntulan Brebes yang menggunakan peralatan gamelan dan para muda mudi sebagai pemainnya, Kuntulan Semangkung mempunyai beberapa ciri yang unik sebagai pembeda. Pertama, instrumen pengiringnya adalah alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh para sesepuh dusun. Dalam hal ini ada filosofi yang sangat menarik. Para sesepuh yang memainkan alat musik dimaknakan sebagai bahwa mereka berfungsi sebagai pengantar yang muda dalam menjalani kehidupan, dan sebagai pengawas gerakan tarian yang dimaknai juga sebagai mereka ikut mengawasi semua perilaku dan tata cara kehidupan generasi penerusnya agar tidak menyimpang dan berbuat keliru.
Ciri kedua dalam pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung adalah keseluruhan pemainnya laki laki. Menurut Mbah Tohari (83 tahun) selaku ketua Paguyuban Kesenian Kuntulan Bukit Indah Kencana Semangkung, alasan mengapa hanya laki laki yang memainkannya adalah pemain Kuntulan harus selalu dalam kondisi konsentrasi tinggi serta memiliki jiwa raga yang kuat sehingga mampu melindungi keluarganya dari segala macam gangguan, dan kedua hal tersebut lebih mudah dicapai oleh kaum laki laki.
Ciri khas yang terakhir, dalam kesenian Kuntulan Semangkung ini TIDAK MENGGUNAKAN MAGIC seperti halnya kesenian tradisional yang lain. Walaupun kemudian mempertunjukkan beragam atraksi yang luar biasa, seperti Jaran Terbang, Mowot Kawat, Gigit Meja dan sebagainya, semuanya dilakukan dengan mengandalkan keterampilan dan hasil latihan selama bertahun tahun.
Oh my god.......
Ya itu mungkin apa yang akan Katty Perry katakan secara spontan apabila menonton langsung pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung ini. Bagaimana tidak, dalam atraksi Mowot Kawat akan ada seseorang diatas seutas kawat besi yang duduk di atas sebuah kursi kayu dan hanya mengandalkan keseimbangan semata. Kemudian pada atraksi Jaran Terbang, akan ada 3 atau lebih orang dewasa yang akan saling mengkaitkan tangan dan kaki mereka dengan bertumpu pada satu orang yang tetap berdiri dengan kedua kakinya dan membentuk seperti pesawat terbang dengan seorang bocah duduk dengan tenang di pucuk formasi. Istimewa.....
Ada lagi atraksi Gigit meja, dimana seorang penari akan menggigit sebuah meja di bagian ujungnya dan kemudian akan ada seorang anak yang kemudian akan duduk di atasnya. Selama beberapa menit mereka akan melakukan tarian tarian yang menyerupai gerakan silat sambil mengelilingi arena dan mengulungkan sebuah wadah untuk saweran penonton.
Dalam atraksi bolang baling, para penari akan berhadapan berpasangan untuk kemudian melakukan gerakan meroda. Tidak gampang untuk melakukan gerakan ini karena dilakukan secara couple dengan saling mengkaitkan tangan dan kaki mereka untuk kemudian berjumpalitan layaknya roda yang sedang berjalan.
Ada satu atraksi yang menurut saya agak ajaib, yaitu atraksi Bandan ( dari kata bandanan yang artinya diikat). Dalam atraksi ini dari 25 anggota, hanya Pak Warsito seorang yang sudah mahir dan menguasainya. Atraksi ini bisa dibilang berbahaya lho karena di awal atraksi, Pak Warsito akan diikat dengan tali pada seluruh tubuhnya (dengan tangan diikat ke belakang) untuk kemudian diletakkan di sebuah tempat tertentu dengan di pasangi golok super tajam pada bagian leher, perut serta kaki sedemikian dekat dengan kulit sehingga akan sulit untuk bergerak sekalipun. Setelah posisinya siap, tubuh terikat Pak Warsito akan ditutup dengan terpal selama 2 - 3 menit. Dan........ ajaib...... Ketika dibuka, tubuh itu sudah terbebas dari tali dan golok tajam tanpa satupun luka menggores kulitnya.
Shit....
Saya jadi sangat terharu disini.
Ya, di sebuah dusun yang sangat sangat jauh dari kebisingan kota, dan bahkan seolah olah tidak muncul di peta kota Banjarnegara sekalipun, sebuah tempat yang masih sangat luar biasa asri, damai, juga mempesona. Dusun dimana di setiap bibir masyarakatnya tersungging sebuah senyuman hangat dan sapaan bersahabat. Dusun dimana kami diterima dan disambut dengan sangat sangat dan sangat istimewa oleh pak Tarji selaku Kepala Dusun dan keluarganya, dusun dimana kami bisa minum air mandi kami yang sangat jernih dan murni asli pegunungan tidak seperti iklan air mineral di televisi.........
Semangkung
Betah ?? PASTINYA........ sebab sangat berat rasanya beranjak pergi dari tempat seperti ini........
Tabe dan Hormat Kita Semua
Kepada Bapak bapak dan Saudara
Yang Ada di Sini Selamanya Datang
Sebentar Lagi Kita Akan Mulai.......
Kita Menghormat Dengan Bersama sama, Tahun Empat Puluh Lima Kita Merdeka
Kuntulan Ini Kuntulan Itu, Pelajar Yang Masih Baru
Kuntullah Ini dari Semangkung.........
Begitu kira kira syair lagu pengiring tarian silat sebagai awal dimulainya kesenian Kuntulan, bergemuruh menggema di dinding dinding bukit yang mengelilingi dusun Semangkung, desa Mlaya, Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara pagi itu. Sebuah syair lagu penuh makna dan sarat akan kebanggaan berbangsa dan bertanah air Indonesia, serta penghormatan yang luar biasa kepada pemimpin pemimpinnya.
Agak miris juga sebenarnya mengingat bahwa di tempat seperti ini rasa patriotisme dan perasaan hormat kepada pimpinan tertanam jauh lebih dahsyat daripada perasaan yang sama yang ada di dalam jiwa masyarakat yang mengaku orang kota.....
Damn.....
By the way, tenang..........kali ini kita bukan mau membicarakan soal rasa patriotisme masyarakat Semangkung itu kok. Kali ini mari kita mengupas lebih lanjut soal kesenian Kuntulan yang di gelar di pagi itu.......
Kuntulan ?? Apa itu ??
Kuntulan atau kali ini disebut sebagai Kuntulan Semangkung, adalah sebuah kesenian tradisional khas masyarakat dusun Semangkung yang sudah diwariskan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Menurut cerita masyarakat setempat, Warsito (63 tahun), Kuntulan berasal dari kata Kuntul yang merupakan singkatan dari kata rukun, kumpul dan betul. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan apa yang selama ini menjadi anggapan masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya (yang tahu budaya ini tentu saja......) yang menyangka bahwa kuntulan ini berasal dari ilmu beladiri Konto (yang berasal dari Kabupaten Kebumen).
"Gerakan gerakan silat yang kemudian nampak menjadi sebuah tarian dalam Kuntulan itu dasarnya bukan gerakan bela diri Konto, namun dari beladiri SH yang dibawa oleh Eyang Pernajaya selaku pencetus kesenian ini" begitu tambahnya. Entah SH apa yang dimaksud oleh salah satu dari tiga generasi awal kesenian Kuntulan Semangkung yang masih hidup tersebut.
Berbeda dengan Kuntulan Banyuwangi dan Kuntulan Brebes yang menggunakan peralatan gamelan dan para muda mudi sebagai pemainnya, Kuntulan Semangkung mempunyai beberapa ciri yang unik sebagai pembeda. Pertama, instrumen pengiringnya adalah alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh para sesepuh dusun. Dalam hal ini ada filosofi yang sangat menarik. Para sesepuh yang memainkan alat musik dimaknakan sebagai bahwa mereka berfungsi sebagai pengantar yang muda dalam menjalani kehidupan, dan sebagai pengawas gerakan tarian yang dimaknai juga sebagai mereka ikut mengawasi semua perilaku dan tata cara kehidupan generasi penerusnya agar tidak menyimpang dan berbuat keliru.
Ciri kedua dalam pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung adalah keseluruhan pemainnya laki laki. Menurut Mbah Tohari (83 tahun) selaku ketua Paguyuban Kesenian Kuntulan Bukit Indah Kencana Semangkung, alasan mengapa hanya laki laki yang memainkannya adalah pemain Kuntulan harus selalu dalam kondisi konsentrasi tinggi serta memiliki jiwa raga yang kuat sehingga mampu melindungi keluarganya dari segala macam gangguan, dan kedua hal tersebut lebih mudah dicapai oleh kaum laki laki.
Ciri khas yang terakhir, dalam kesenian Kuntulan Semangkung ini TIDAK MENGGUNAKAN MAGIC seperti halnya kesenian tradisional yang lain. Walaupun kemudian mempertunjukkan beragam atraksi yang luar biasa, seperti Jaran Terbang, Mowot Kawat, Gigit Meja dan sebagainya, semuanya dilakukan dengan mengandalkan keterampilan dan hasil latihan selama bertahun tahun.
Oh my god.......
Ya itu mungkin apa yang akan Katty Perry katakan secara spontan apabila menonton langsung pertunjukan kesenian Kuntulan Semangkung ini. Bagaimana tidak, dalam atraksi Mowot Kawat akan ada seseorang diatas seutas kawat besi yang duduk di atas sebuah kursi kayu dan hanya mengandalkan keseimbangan semata. Kemudian pada atraksi Jaran Terbang, akan ada 3 atau lebih orang dewasa yang akan saling mengkaitkan tangan dan kaki mereka dengan bertumpu pada satu orang yang tetap berdiri dengan kedua kakinya dan membentuk seperti pesawat terbang dengan seorang bocah duduk dengan tenang di pucuk formasi. Istimewa.....
![]() |
| Jaran Terbang |
![]() |
| Mowot Kawat |
Ada lagi atraksi Gigit meja, dimana seorang penari akan menggigit sebuah meja di bagian ujungnya dan kemudian akan ada seorang anak yang kemudian akan duduk di atasnya. Selama beberapa menit mereka akan melakukan tarian tarian yang menyerupai gerakan silat sambil mengelilingi arena dan mengulungkan sebuah wadah untuk saweran penonton.
![]() |
| Gigit Meja |
Ada satu atraksi yang menurut saya agak ajaib, yaitu atraksi Bandan ( dari kata bandanan yang artinya diikat). Dalam atraksi ini dari 25 anggota, hanya Pak Warsito seorang yang sudah mahir dan menguasainya. Atraksi ini bisa dibilang berbahaya lho karena di awal atraksi, Pak Warsito akan diikat dengan tali pada seluruh tubuhnya (dengan tangan diikat ke belakang) untuk kemudian diletakkan di sebuah tempat tertentu dengan di pasangi golok super tajam pada bagian leher, perut serta kaki sedemikian dekat dengan kulit sehingga akan sulit untuk bergerak sekalipun. Setelah posisinya siap, tubuh terikat Pak Warsito akan ditutup dengan terpal selama 2 - 3 menit. Dan........ ajaib...... Ketika dibuka, tubuh itu sudah terbebas dari tali dan golok tajam tanpa satupun luka menggores kulitnya.
Shit....
Saya jadi sangat terharu disini.
Ya, di sebuah dusun yang sangat sangat jauh dari kebisingan kota, dan bahkan seolah olah tidak muncul di peta kota Banjarnegara sekalipun, sebuah tempat yang masih sangat luar biasa asri, damai, juga mempesona. Dusun dimana di setiap bibir masyarakatnya tersungging sebuah senyuman hangat dan sapaan bersahabat. Dusun dimana kami diterima dan disambut dengan sangat sangat dan sangat istimewa oleh pak Tarji selaku Kepala Dusun dan keluarganya, dusun dimana kami bisa minum air mandi kami yang sangat jernih dan murni asli pegunungan tidak seperti iklan air mineral di televisi.........
Semangkung
Betah ?? PASTINYA........ sebab sangat berat rasanya beranjak pergi dari tempat seperti ini........
Tabe dan Hormat Kita Semua
Kepada Bapak bapak dan Saudara
Yang Ada di Sini Selamanya Datang
Sebentar Lagi Kita Akan Mulai.......
1.25.2017
Posted by ngatmow
Adi Nur Cahyono, dari MathCity Map (MCM) sampai Pokemon GO
Akhir akhir ini dunia sedang heboh dengan fenomena Pokemon GO. Hampir setiap menit kita disuguhi berita-berita yang berkaitan dengannya. Mulai dari aspek positif, negatif, review, sampai pada cara meng-hack dan trik-trik dalam mengakali permainan ini. dan memang Pokemon GO ini merupakan terobosan baru dalam cara bermain game. Jika selama ini games diasosiasikan sebagai permainan indoor, maka Pokemon GO melabrak stereotipe itu. Para player atau disebut Pokemon Trainer harus keluar ruangan untuk berburu Pokemon. Adanya feature ini ternyata disambut baik. Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah kita hanya menjadi pasar saja? Mampukah kita mengembangkan game-game seru (dan juga mendidik) yang bisa menyamai dan melebihi Pokemon GO?
Ternyata ada game menarik yang sedang dikembangkan, bahkan lebih bernuansa pendidikan. Game ini dikenal dengan MathCity Map (MCM). Cara memainkannya kurang lebih sama. Player dengan menggunakan smartphone dan terkoneksi dengan GPS dapat menginstal aplikasi MCM (dapat diunduh di sini , di sini dan Google Play). Selanjutnya, player akan diminta untuk menelusuri jalan-jalan sesuai peta untuk menemukan suatu post. Kemudian di post tersebut, player akan mendapat task untuk memecahkan problem matematika yang berhubungan dengan tempat, bangunan atau benda disekitarnya. Misalnya, di lokasi post ada sebuah kolam besar, maka player diminta untuk menghitung berapa botol air (volume 1500mL) yang diperlukan untuk mengisi kolam. Jika belum mampu menjawab, maka player dapat membuka fitur bantuan (hint) untuk memperoleh informasi tambahan.
Pertanyaannya pun dirancang agar player dapat memecahkan task dengan strateginya sendiri. Misalnya untuk mengukur volume kolam maka perlu mengukur diameter kolam. Bagaimana mengukur diameter kolam besar yang berisi air hanya dengan penggaris?
Games ini dirancang agar player dapat merasakan pengalaman memecahkan matematika di tempat dan situsi yang riil. Jadi, matematika tidak bersifat abstract dan persoalan matematika dapat ditemui di tempat-tempat umum entah sekolah, pasar, taman atau tempat lainnya. Pelajar pun antusias karena belajar matematika tidak hanya di kelas. MCM ini merupakan proyek riset dari Goethe-Universität Frankfurt a.M., dimana salah satu pengembangnya adalah Adi Nur Cahyono, seorang dosen muda di Universitas Negeri Semarang.
Siapakah Adi Nur Cahyono ini ? Dia adalah seorang pemuda kelahiran sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Banjarnegara, 34 Tahun Silam. Kecintaannya kepada Matematika dan dunia pendidikan membawanya berkelana untuk mengajar baik di kota kelahiran maupun di perantauan. SMA Kartini Semarang (2005-2007), SMA N 1 Banjarnegara RSBI dan UPBJJ Universitas Terbuka (2007-2008), IKIP PGRI Semarang (2008) dan Universitas Negeri Semarang (2009 - sekarang) sempat menjadi pelabuhannya dalam ber-Matematika.
Seingat saya, dulu pada tahun 2014, bapak satu anak ini pernah memposting sebuah foto di akun Facebook dan instagramnya dimana dia sedang mempresentasikan dua buah peta yang terpampang pada dua buah smartphone. Ketika itu saya berkomentar dengan sedikit olokan bahwa dia sedang mempresentasikan hasil jalan jalan dan kegiatan memotretnya di Jerman (dan pada waktu itu saya sama sekali belum ngeh apalagi terpikirkan bahwa itu adalah sebuah aplikasi untuk smartphone yang sekarang ternyata sangat wow sekali).
Dan sebagai seorang pemuda yang kekinian, dalam kegiatan kesehariannya bapak yang sayang anak ini juga ternyata sudah memiliki aplikasi Pokemon GO juga di dalam smartphonenya. Sehingga kegiatan melipirnya ketika sedang mengantar sang buah hati ke Kindergarten alias TK di Frankfurt sana juga diselingi mencari Pokemon kamana mana.
Sekedar info, saat ini peta untuk aplikasi MathCity Map (MCM) sudah tersedia untuk seluruh dunia, tapi tasks baru tersedia untuk kota Frankfurt dan Semarang. Sementara untuk kota-kota lain masih menunggu kolaborasi dari kota/ negara lain utk bekerjasama. Apakah ada yang tertarik untuk mengisi task di kota Anda? halo para pengembang aplikasi ?
Saya pun membayangkan kalau game ini tidak hanya untuk matematika, tapi bisa terintegrasi untuk bidang lain, entah sejarah, budaya, ekonomi, fisika, kimia, dan bidang lainnya. Tapi namanya akan berubah jadi seperti apa ya ? ada ide ?
*Disadur dari sumber tulisan asli : http://www.kompasiana.com/yousufkurniawan dengan sedikit penambahan
Ternyata ada game menarik yang sedang dikembangkan, bahkan lebih bernuansa pendidikan. Game ini dikenal dengan MathCity Map (MCM). Cara memainkannya kurang lebih sama. Player dengan menggunakan smartphone dan terkoneksi dengan GPS dapat menginstal aplikasi MCM (dapat diunduh di sini , di sini dan Google Play). Selanjutnya, player akan diminta untuk menelusuri jalan-jalan sesuai peta untuk menemukan suatu post. Kemudian di post tersebut, player akan mendapat task untuk memecahkan problem matematika yang berhubungan dengan tempat, bangunan atau benda disekitarnya. Misalnya, di lokasi post ada sebuah kolam besar, maka player diminta untuk menghitung berapa botol air (volume 1500mL) yang diperlukan untuk mengisi kolam. Jika belum mampu menjawab, maka player dapat membuka fitur bantuan (hint) untuk memperoleh informasi tambahan.
Pertanyaannya pun dirancang agar player dapat memecahkan task dengan strateginya sendiri. Misalnya untuk mengukur volume kolam maka perlu mengukur diameter kolam. Bagaimana mengukur diameter kolam besar yang berisi air hanya dengan penggaris?
Games ini dirancang agar player dapat merasakan pengalaman memecahkan matematika di tempat dan situsi yang riil. Jadi, matematika tidak bersifat abstract dan persoalan matematika dapat ditemui di tempat-tempat umum entah sekolah, pasar, taman atau tempat lainnya. Pelajar pun antusias karena belajar matematika tidak hanya di kelas. MCM ini merupakan proyek riset dari Goethe-Universität Frankfurt a.M., dimana salah satu pengembangnya adalah Adi Nur Cahyono, seorang dosen muda di Universitas Negeri Semarang.
Siapakah Adi Nur Cahyono ini ? Dia adalah seorang pemuda kelahiran sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Banjarnegara, 34 Tahun Silam. Kecintaannya kepada Matematika dan dunia pendidikan membawanya berkelana untuk mengajar baik di kota kelahiran maupun di perantauan. SMA Kartini Semarang (2005-2007), SMA N 1 Banjarnegara RSBI dan UPBJJ Universitas Terbuka (2007-2008), IKIP PGRI Semarang (2008) dan Universitas Negeri Semarang (2009 - sekarang) sempat menjadi pelabuhannya dalam ber-Matematika.
![]() |
| foto by Adi Nur Cahyono |
Dan sebagai seorang pemuda yang kekinian, dalam kegiatan kesehariannya bapak yang sayang anak ini juga ternyata sudah memiliki aplikasi Pokemon GO juga di dalam smartphonenya. Sehingga kegiatan melipirnya ketika sedang mengantar sang buah hati ke Kindergarten alias TK di Frankfurt sana juga diselingi mencari Pokemon kamana mana.
![]() |
| foto by Adi Nur Cahyono |
Saya pun membayangkan kalau game ini tidak hanya untuk matematika, tapi bisa terintegrasi untuk bidang lain, entah sejarah, budaya, ekonomi, fisika, kimia, dan bidang lainnya. Tapi namanya akan berubah jadi seperti apa ya ? ada ide ?
*Disadur dari sumber tulisan asli : http://www.kompasiana.com/yousufkurniawan dengan sedikit penambahan
Coretan Cak Nun : Pamangku Buwono Mamayu Bawono
Kembali lagi saya browsing ke website pribadi salah satu tokoh idola saya, Cak Nun, dan saya menemukan satu dari banyak tulisan yang mungkin adalah jawaban atas kegundahan beberapa orang kawan saya beberapa waktu terakhir ini. Apa itu ? tidak lain adalah wacana perubahan PNS menjadi ASN ...... Pegawai Negeri Sipil menjadi Aparat Sipil Negara....... serupa tapi tidak sama...........
mari kita simak.......
Pada suatu hari nanti, kepanjangan idiom PNS bukan lagi Pegawai Negeri Sipil, melainkan Pegawai Negara Sipil. Lebih tepatnya Pegawai Sipil Negara (PSN). Kalau memakai tata bahasa Jawa: Pegawai Sipil-nya Negara.
Dan apabila bangsa kita sudah menjadi lebih dewasa, diperjelas menjadi Pegawai Sipil Rakyat (PSR). Atau lebih tajam tapi halus: Abdi Rakyat (AR). Kalau terang-terangan: Pelayan Rakyat (PR) atau Buruh Rakyat (BR).
Kenapa tidak lagi Pegawai Negeri Sipil? Karena kata ‘Negeri’ digunakan dalam budaya, bersifat cair, sastrawi dan romantik, jenis rasa-katanya berada di ranah budaya yang lembut, untuk lagu, puisi atau retorika kultural. Sedangkan ‘Negara’ bersifat ‘padat’, definitif dan denotatif, sehingga jelas aplikasi, formula dan perwujudannya dalam urusan birokrasi dan administrasi.
Cobalah nyanyikan lagu wajib ‘Padamu Negeri’ dengan mengganti kata ‘Negeri’ dengan ‘Negara’ dan rasakan langsung atau perlahan-lahan.
Lingkup pemahaman atau identifikasi Pegawai(nya) Negeri hampir tak berpagar, tidak ada ‘galengan’nya, tidak menentu tata aturannya, sangat relatif regulasinya. Kosakata ‘Negeri’ tidak bisa menjadi fondasi hukum dan tata kepegawaian. ‘Negeri’ bukan bahasa hukum. Ia bahasa budaya, bahasa estetika.
Tetapi kalau Pegawai Negara, langsung menjelaskan bahwa pegawai mengabdi kepada Negara dengan Undang-undangnya yang padat. Pegawai bukan mengabdi dan patuh kepada Kepala Kantornya, kepada Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden. Semua ‘padatan’ dari Lurah hingga Presiden itu beserta semua Pegawai Negara, bersama-sama mengabdi kepada Undang-undang Negara, sebagai salah satu perwujudan pengabdian mereka kepada Rakyat.
Dengan prinsip itu maka Presiden hingga Lurah bukan ‘atasan’nya Pegawai Negara, karena mereka berposisi sama di depan Undang-undang dan Hukum. Bahwa ada pembagian kewajiban dan hak yang tidak sama, ada tatanan hirarchi kewenangan yang berbeda, itu pada hakekatnya tidak berstruktur vertikal, melainkan merupakan putaran dinamis “division of labour”.
Rakyat membangun ‘Rumah’ yang bernama Negara beserta tata aturannya (konstitusi, hukum dan tata-kelola atau birokrasi). Di dalam rumah itu PNS, PSN, PSR, AR, PR atau BR adalah sekumpulan buruh(nya) rakyat yang digaji, disediakan fasilitas-fasilitas dan dijamin hidupnya hingga meninggal dunia sebatas kemampuan rakyat. Para petugas atau buruh yang digaji rakyat itu sementara ini menyebut dirinya Pemerintah.
Gedung-gedung perkantoran, misalnya, yang digunakan untuk bekerja oleh Camat, rumah dinas Bupati, mobil dinas Gubernur, fasilitas-fasilitas Presiden dan Menteri dan semua perangkat yang dipakai oleh Pemerintah, bukanlah milik Pemerintah, melainkan merupakan bagian dari fasilitas Negara yang seluruhnya dimiliki oleh rakyat.
Pada suatu hari bangsa kita akan mulai memahami pilah-pilah antara Rakyat, Negara dan Pemerintah. Sampai hari ini kita masih belum benar-benar beradab, karena membiarkan posisi rancu antara Negara dengan Pemerintah. Defacto kepegawaian bangsa ini adalah “Pegawai Sipil Pemerintah”, sehingga konsentrasi ketaatan mereka adalah kepada ‘atasan’ dalam struktur kepemerintahan. Bukan ketaatan kepada Undang-undang Negara, apalagi pengabdian kepada Juragan Agung yang bernama Rakyat.
Nanti akan ada hari di mana mereka bertransformasi menjadi Pegawai Sipil Negara, yang prinsip kewajibannya adalah menjalani pelayanan atau pengabdian kepada Rakyat. Transformasi kesadaran juga akan berlangsung pada pemahaman untuk membedakan antara Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah, antara Lembaga Negara dengan Lembaga Pemerintah, asset Negara dan asset Pemerintah, bahkan Kas Negara dengan Kas Pemerintah. Umpamanya Badan Usaha Milik Negara tidak menyetorkan penghasilannya kepada Kas Lembaga Negara, bukan kepada Kementerian Keuangan di jajaran Pemerintah.
Sederhananya bangsa ini akan menyadari beda antara Keluarga dengan Rumahtangga, antara Kepala Keluarga dengan Kepala Rumahtangga, termasuk antara Almari Kas Negara dengan Laci Kas Rumahtangga, juga antara Bendahara dengan Kasir.
Minimal bangsa ini nanti akan belajar kepada Tri Bhuwana Tungga Dewi pemikir dan pengarif kebesaran Majapahit, kepada Hayam Wuruk dan Gadjah Mada, dalam hal tata kelola kesejahteraan Rakyat juragan mereka.
Pilihan kata ‘Pemerintah’ itu sendiri durhaka dan potensi dosa horisontal-vertikalnya sangat besar. Mereka suatu kelompok dari hamparan Rakyat yang dipilih untuk menjadi pelayan, yang digaji, difasilitasi dan dijamin hidupnya. Tidak ada jenis logika apapun di dunia dan akherat yang bisa menerima dan melegalisir bahwa mereka berhak memerintah. Masyarakat warung kopipun tahu bahwa yang memerintah adalah yang menggaji, dan yang diperintah adalah yang digaji.
Bangsa ini masih terbalik-balik tata letak saraf-saraf di otaknya. Rakyat mengangkat orang yang dibayar paling mahal dan diumumkan sebagai RI-1, bahkan dikhayalkan sebagai ‘orang besar’, dikerumuni dengan membungkuk-bungkuk, ditahayulkan sebagai ‘Satria Piningit’ dan diharapkan sebagai ‘Ratu Adil’. Padahal dia adalah TKI-1.
Orang besar ditanggungjawabi bayarannya oleh Allah karena totalitas iman dan pengabdiannya. Satria Piningit disutradarai oleh Tuhan ada tidaknya, hadir tidaknya, serta kapan waktunya. Ratu Adil adalah setiap manusia yang memfokuskan hidupnya melakoni apa saja di jalur Keadilan.
Dulu VOC membikin lembaga ‘Pangreh Praja’ dan ‘Pamong Praja’. Yang pertama ditugasi mengurus segala hal di rumahtangga Kraton. Yang kedua diperintah untuk mengurusi segala hal yang menyangkut kehidupan ‘Kawula’ atau (sampai semodern ini tidak ada kata yang mendekati kebenaran prinsipilnya kecuali) ‘Rakyat’.
Bangsa ini dihina dan menghina dirinya sendiri dengan menerima sebutan ‘Rakyat’. Rakyat adalah kumpulan manusia yang memegang atau memiliki kedaulatan dan menyepakati suatu sistem dan lembaga kepemimpinan (ra’iyat = kepemimpinan). Bangsa kita mau disebut dan rela menyebut dirinya Rakyat padahal mereka tidak berkedaulatan dan hampir selalu ditipu-daya atau minimal disogok untuk soal-soal kepemimpinan.
Masyarakat (syarika, syirkah) adalah sekumpulan manusia yang memiliki tradisi dan mekanisme untuk berserikat, sehingga memiliki landasan untuk menerapkan pola kepemimpinan. Ummat (umm = Ibu) adalah manusia-manusia yang berhimpun atas dasar seper-Ibu-an nilai. Bangsa Indonesia dilecehkan dan melecehkan dirinya dengan disebut dan menyebut dirinya dengan kata yang bertentangan dengan fakta kehidupan mereka.
Kata ‘Bangsa’ juga sudah kita bakukan sehingga taka da kemungkinan kata lain untuk menggunakannya. Karena secara internasional pemaknaan kata ‘Bangsa’ maupun ‘Negara’ selalu diombang-ambingkan oleh terutama kepentingan kapitalisme dan egosentrisme kelompok-kelompok besar yang berkuasa dalam skala global. Bertanyalah kepada anak-anakmu yang kuliah di Universitas apa definisi pasti tentang Negara dan Bangsa. Konfirmasikan kepada mereka apakah masih berlaku pengertian ‘Negara Bangsa’, bagaimana perubahan atau pembalikan pemahaman tentang Bangsa dan Negara? Atau apakah ‘Negara’mu ini defacto benar-benar Negara sebagaimana yang diajarkan oleh Dosen-dosen mereka?
Kita rela ditipu-daya untuk mengkerdilkan diri sendiri dengan meyakini bahwa Jawa adalah Suku, sebagaimana Bugis, Batak, Minang dll, kemudian kita dibodohi bahwa ‘Suku-suku’ itu terkumpul menjadi Bangsa Indonesia. Padahal kita adalah Kumpulan Bangsa-Bangsa, United Nations of Nusantara, dengan segala macam persyaratan terpenuhi untuk itu.
Di tengah posisi colonialized itu para pemuda malah bersumpah “Berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Dan sejak itu bahasa-bahasa Bangsa-bangsa seantero Nusantara yang sudah membangun Peradaban besar berabad-abad lamanya, kita yakini harus kita tinggalkan, kita sekunderkan, kita marginalkan. Padahal yang disebut Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu Pasar yang dipakai oleh kaum pedagang regional di Batavia. Punyakah kaum cendekiawan metoda untuk mengukur sebagerapa besar defisit sejarah, kebudayaan dan peradaban yang kita tanggung?
Kita berpikir bahwa kita sedang mengembangkan keberadaban kita dengan mempersatukan bahasa. Kita diajari untuk menuduh bahwa, umpamanya, sistem bahasa Ngoko, Kromo Madyo dan Kromo Inggil adalah hirarkhi feodalisme. Padahal kekayaan Peradaban batin dan keberbudayaan yang tercermin oleh pijakan-pijakan “roso” yang melahirkan tiga dimensi bahasa komunikasi itu – dilunturkan dan dimusnahkan dari jiwa semua Bangsa-bangsa Nusantara, untuk membuat kita semua menjadi manusia sempit yang berdialektika hanya berdasarkan posisi Subyek-Obyek-Predikat.
Kita berpolitik, berdagang, bergaul, bahkan beragama dalam posisi pragmatis untuk secara naluriah selalu meletakkan diri kita sebagai Subyek, dan orang lain siapa saja sebagai Obyek atau Predikat yang kita peralat. Struktur dialektika sosial Subyek-Obyek-Predikat sangat membukakan pintu untuk eksploitasi, penindasan, pemanfaatan dan manipulasi.
Demikianlah cara kita bergaul sehari-hari. Demikianlah budaya politik kita. Demikianlah incaran-incaran kapitalisme kita. Bahkan demikianlah perilaku kita dalam menjalankan Agama. Karakter utama kita dewasa ini adalah mengobyekkan dan memperalat siapa saja dan apa saja, termasuk kekuasaan birokrasi, hak rakyat dan kekayaannya. Salah satu kata paling popular dalam kehidupan sehari-hari adalah “ngobyek”.
Bangsa-bangsa yang men-suku-kan dirinya ini juga tidak belajar apa gerangan yang dinamakan Negara, sehingga mereka meyakini dan mengikhlasi sesuatu yang bukan Negara sebagai (dianggap) Negara. Mereka juga mencurangi makna kata, memanipulasi arti, menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, namun mereka meneruskan aspirasi penjajahnya dulu dalam berbagai hal yang menyangkut Tata Negara. Bahkan yang sudah dipalsukan itu dimelencengkan lagi: misalnya idiom Pamong Praja digunakan dengan bangga dalam penyempitan yang bernama Satuan Polisi Pamong Praja, yang tugasnya justru sangat ‘padat’ dan jauh dari kearifan kata ke-Pamong-an. Kekayaan makna batin, budaya dan keindahan “bebrayan’ yang dikandung oleh kata “Pamong”, kita aniaya menjadi palu kekuasaan, bahkan dengan watak kekerasan.
Alih-alih menumbuhkan kesadaran untuk coba-coba belajar apa gerangan ‘Pamong’ di dalam tradisi leluhur mereka sendiri, yang kemudian dimanipulir oleh kaum penjajah. Pamong, Pamomong, suatu prinsip pengabdian yang total dan bahkan ekstrem – meskipun para Pengabdi Rakyat atau Pegawai Negara Rakyat tidak dituntut untuk mengabdi sejauh itu.
‘Pamomong Bayi’ itu cakrawala pengabdian yang memacu kesadaran dan perasaan betapa tak terbatasnya keindahan mengabdi. Bagaikan Ibu yang momong bayi, yang ikhlas melakukan apa saja untuk bayinya. Tidak jijik kepada kotorannya, melindungi bayi lebih dari melindungi dirinya sendiri. Bahkan seorang Ibu Pamomong rela kehilangan apapun, hartanya, rumahnya, bahkan kedua bola matanya – asalkan tidak kehilangan bayinya.
Betapa pula jauhnya cakrawala prinsip tentang pengabdian itu dengan kenyataan ‘pengabdian’ para Pamong Praja Nusantara abad-21 atau dengan ‘cuaca mental’ para Pegawai Sipil Negara. Sedangkan dimensi kwantitatif Negara-Negeri Negara-Pemerintah saja masih terus batal dan najis secara ilmu kata dan makna. Apalagi dimensi kwalitatif makna-maknanya.
Padahal bangsa ini sudah 70 tahun berguru kepada Demokrasi: bahwa Rakyat adalah pemilik Tanah Air beserta isinya. Yang elementer dari ilmu Sekolah Dasar itupun masih belum lulus. Bahkan sebagian dari mereka sengaja merekayasa dan menciptakan suatu sistem kependidikan sosial, melalui berbagai macam perangkat dan institusi informasi, yang menghalangi jangan sampai bangsa ini lulus Ilmu Demokrasi.
Jangankan lagi meningkat ke smester berikutnya mempelajari Ilmu Demokrasi Semar, yang usia keilmuannya jauh lebih tua dan jauh lebih matang serta komplit disbanding Demokrasi Import yang mereka pelajari.
Demokrasi yang dipakai sekarang hanya menyangkut Subyek manusia, sementara Alam, Bumi dan kandungannya adalah Obyek atau Predikat alias Perangkat yang diperalat. Demokrasi Leluhur Bangsa-bangsa Nusantara memperlakukan Alam dan isinya sebagai partner pembangunan, sebagai Subyek dan sebagai sesama makhluk hidup, bahkan sebagai sahabat karib, sebagai kekasih yang disayangi.
Demokrasi Import meletakkan Presiden di titik paling puncak, dan rakyat di tataran paling bawah. Demokrasi Semar meletakkan Dewa yang berkwalitas tertinggi satu titik dan maqam dengan Rakyat. Demokrasi Improt gambarnya garis vertikal, Demokrasi Semar gambarnya garis siklikal atau bulatan. Demokrasi Leluhur dan Demokrasi Semar bersikap ilmiah, logis, memenuhi nalar akal, dan jernih jujur terhadap fakta kosmologis maupun teologis bahwa Kehidupan ini Bulatan.
Akan tetapi insyaAllah di masa depan yang dekat, para pelaku Demokrasi akan mulai mengenal Tuhan Yang Maha Tunggal (bukan Esa: sebab Esa atau Isa atau Isang atau Ika ada Dua atau Dwi atau Dalawang-nya da nada Tiga atau Tri atau Telu atau Tatlu-nya). Maka skala kesadarannya meluas dan meningkat: Tanah Air beserta isinya adalah milik Tuhan yang dipinjamkan sampai batas waktu yang Ia tentukan kepada makhluk-Nya, hamba-Nya, manusia-Nya, rakyat-Nya.
Tuhan yang membikin dan pemilik tunggal seluruh alam semesta beserta isi dan penghuninya, sehingga Ia berhak membatalkan ciptaan-Nya itu sekarang juga, berwenang mutlak untuk menyusun tradisi hukum ciptaan dan perilaku alam semesta, berwenang membuat gempa, gunung meletus, berwenang meluapkan air samudera, berhak membiarkan masyarakat manusia hancur, berhak tidak memperdulikan sebuah Negara runtuh, berhak menolong atau tidak menolong bangsa dari keruntuhannya, serta berhak membunuh semua binatang serta memusnahkan ummat manusia sebagian atau seluruhnya kapan saja Dia mau.
Alam semesta atau jagat raya disebut oleh peradaban, epistemologi dan filologi Jawa dengan ‘Bawono’, sedangkan makhluk hidup yang menghuninya dinamakan ‘Buwono’. Para Hamengkubawono, yang ditugasi mengelola Bawono adalah makhluk-makhluk ekstra-dimensi dari sudut pandang alam-kemanusiaan, para staf atau Malaikat yang berdimensi mengetahui manusia namun tak diketahui oleh manusia kecuali yang mengolah batin dan kelembutan jiwanya. Sementara Hamengkubuwono yang dimandati mengurusi Buwono, yakni isi dan penghuni alam semesta, khususnya bumi, disebut Khalifatullah, yang dalam hal ini dikhususkan untuk makhluk manusia.
Bahasa gampangnya: Hamengkubawono adalah Malaikat, yang berarti-harafiah rentang birokrasi Allah. Sedangkan Hamengkubuwono adalah Manusia, yang Allah menjulukinya sebagai Khalifah. Para Khalifah manusia dengan para Malaikat bekerja sama “mamayu hayuning bawono”.
Sedangkan para Pegawai Sipil Negara adalah Pangeran-pangeran Mangkubumi. Mereka diangkat dan difasilitasi oleh Rakyat untuk ‘memangku bumi’, mengelolanya menjadi kesejahteraan bagi para Majikannya serta dengan sendirinya bagi mereka sendiri. Di dalam ‘roso’ manusia Nusantara, Tanah Air disebut Ibu Pertiwi, bukan Bapak Pertowo. Pusat pengelolaan birokrasi penyejahteraan rakyat disebut Ibukota, bukan Bapakkota.
Tanah atau Bumi itu wanita. Manusia pengolahnya lelaki. Sawah itu wanita, petani lelaki yang mencangkuli dan menanaminya sehingga tumbuh ‘bayi’ kesejahteraan. Ibu Pertiwi adalah wanita, Pegawai Sipil Negara adalah lelaki ‘buruh tani’ yang mengolahnya. Simbolnya adalah Pangeran Lelaki yang me-mangku bumi. Peradaban dan kebudayaan Bangsa-bangsa Nusantara tidak mengizinkan lelaki memangku lelaki atau wanita memangku wanita.
Peristiwa memangku adalah peristiwa cinta dan kasih sayang. Yang memangku tidak menguasai yang dipangku. Yang dipangku tidak diperintah dan ditindas oleh yang memangku. Memangku adalah tindakan pengabdian, kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan. Juga jangan lupa: kenikmatan.
Berlangsung dinamika pangku-memangku. Tanah Air memangku penghuninya. Di konteks lain Khalifatullah memangku Tanah Airnya. Rakyat menjunjung, memangku dan ‘ndulang’ atau memberi makan minum kepada Pegawai Sipil Negara. Pada dimensi lain Pegawai Sipil Negara memangku Rakyat yang menghidupinya. Pegawai Militer Negara menjaga ketenteraman pangku-memangku itu.
Kalau Pegawai Negara atau Abdi Rakyat tidak sanggup mengalami dan menemukan betapa nikmatnya pangku-memangku dengan Rakyat, apalagi kalau potensi kenikmatan itu hilang dari jiwa mereka karena ditutupi oleh ‘ideologi’ “ingin dapat duit lebih banyak dan lebih banyak dan lebih banyaaaaaak lagi” – tak ada gunanya ia meneruskan pekerjaan yang menyiksanya itu. Karena sudah pasti cara paling effektif untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya adalah merampok. Kalau sekedar berdagang, uang datang sangat lamban, bahkan mungkin bangkrut.
Akhirul-kalam, para Khalifah di Bumi Nusantara, banyak yang mengidap tiga penyakit gila: kekayaan, popularitas dan kebesaran. Mereka meletakkan tiga hal itu sebagai substansi primer hidup mereka, hingga dijadikan tujuan dalam melakukan pekerjaan apapun. Karena tiga penyakit gila itu dianggap ‘nilai pokok’ kehidupan, maka mereka memilih orang popular dijadikan pemimpin atau pejabat, dengan membuang prinsip dan parameter substansian kepemimpinan. Mereka melakukan pencitraan untuk memalsukan kekerdilannya menjadi seolah-olah kebesaran. Dan mereka mendaki kursi jabatan dengan bekal kekayaan, baik dari miliknya sendiri atau dari konsorsium sponsornya. Maka seluruh masyarakat tak bisa menginjak rem proses sejarahnya untuk terperosok menuju jurang Pralaya, Tahlukah atau Penghancuran.
Padahal hakekatnya tiga hal itu adalah bonus, hadiah, ‘pahala’, bahkan ‘resiko’. Mereka tidak mampu membedakan mana jalan mana tujuan, mana sebab mana akibat, mana isi mana bentuk, mana keris mana warangka.
Mereka menjalani hidup dengan salah niat. Beribadah tidak untuk Tuhan, tapi untuk memperoleh sorga. Padahal kalau mencari Tuhan, diperolehnyalah sorga.
Hidup adalah mematuhi skenario Tuhan, menyesuaikan diri dengan hukum alam, mematuhi Matematika yang suci (5 x 3 selalu = 15, dan tidak bisa berubah meskipun disogok seberapa milyar rupiahpun, serta tetap 15 meskipun Kaisar atau seratus batalyon tentara manapun memerintahkannya untuk menjadi 17 atau 13). Bekerja jujur, menegakkan akal sehat dan kecerdasan, menikmati kewajiban dan tangguh untuk tidak terlalu gatal terhadap Hak, membuat semua yang lain merasa aman dan nyaman, membangun kepercayaan – maka kemasyhuran, kebesaran dan kekayaan akan menjadi akibat otomatis dari itu semua. Bahkan barang siapa memfokuskan hidupnya untuk mengejar kekayaan, ia tidak akan pernah mengetahui apa sejatinya kekayaan. Bahkan nanti di usia pensiunnya ia mengerti telah ditipu oleh apa yang sepanjang hidup dikejar-kejarnya. ***
Yogya 14 Mei 2015.
*copas total dari CakNun.com ..... maturnuwun Cak .......... #sungkem
![]() |
| courtesy : Mbah Google |
Dan apabila bangsa kita sudah menjadi lebih dewasa, diperjelas menjadi Pegawai Sipil Rakyat (PSR). Atau lebih tajam tapi halus: Abdi Rakyat (AR). Kalau terang-terangan: Pelayan Rakyat (PR) atau Buruh Rakyat (BR).
Kenapa tidak lagi Pegawai Negeri Sipil? Karena kata ‘Negeri’ digunakan dalam budaya, bersifat cair, sastrawi dan romantik, jenis rasa-katanya berada di ranah budaya yang lembut, untuk lagu, puisi atau retorika kultural. Sedangkan ‘Negara’ bersifat ‘padat’, definitif dan denotatif, sehingga jelas aplikasi, formula dan perwujudannya dalam urusan birokrasi dan administrasi.
Cobalah nyanyikan lagu wajib ‘Padamu Negeri’ dengan mengganti kata ‘Negeri’ dengan ‘Negara’ dan rasakan langsung atau perlahan-lahan.
Lingkup pemahaman atau identifikasi Pegawai(nya) Negeri hampir tak berpagar, tidak ada ‘galengan’nya, tidak menentu tata aturannya, sangat relatif regulasinya. Kosakata ‘Negeri’ tidak bisa menjadi fondasi hukum dan tata kepegawaian. ‘Negeri’ bukan bahasa hukum. Ia bahasa budaya, bahasa estetika.
Tetapi kalau Pegawai Negara, langsung menjelaskan bahwa pegawai mengabdi kepada Negara dengan Undang-undangnya yang padat. Pegawai bukan mengabdi dan patuh kepada Kepala Kantornya, kepada Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden. Semua ‘padatan’ dari Lurah hingga Presiden itu beserta semua Pegawai Negara, bersama-sama mengabdi kepada Undang-undang Negara, sebagai salah satu perwujudan pengabdian mereka kepada Rakyat.
Dengan prinsip itu maka Presiden hingga Lurah bukan ‘atasan’nya Pegawai Negara, karena mereka berposisi sama di depan Undang-undang dan Hukum. Bahwa ada pembagian kewajiban dan hak yang tidak sama, ada tatanan hirarchi kewenangan yang berbeda, itu pada hakekatnya tidak berstruktur vertikal, melainkan merupakan putaran dinamis “division of labour”.
Rakyat membangun ‘Rumah’ yang bernama Negara beserta tata aturannya (konstitusi, hukum dan tata-kelola atau birokrasi). Di dalam rumah itu PNS, PSN, PSR, AR, PR atau BR adalah sekumpulan buruh(nya) rakyat yang digaji, disediakan fasilitas-fasilitas dan dijamin hidupnya hingga meninggal dunia sebatas kemampuan rakyat. Para petugas atau buruh yang digaji rakyat itu sementara ini menyebut dirinya Pemerintah.
Gedung-gedung perkantoran, misalnya, yang digunakan untuk bekerja oleh Camat, rumah dinas Bupati, mobil dinas Gubernur, fasilitas-fasilitas Presiden dan Menteri dan semua perangkat yang dipakai oleh Pemerintah, bukanlah milik Pemerintah, melainkan merupakan bagian dari fasilitas Negara yang seluruhnya dimiliki oleh rakyat.
Pada suatu hari bangsa kita akan mulai memahami pilah-pilah antara Rakyat, Negara dan Pemerintah. Sampai hari ini kita masih belum benar-benar beradab, karena membiarkan posisi rancu antara Negara dengan Pemerintah. Defacto kepegawaian bangsa ini adalah “Pegawai Sipil Pemerintah”, sehingga konsentrasi ketaatan mereka adalah kepada ‘atasan’ dalam struktur kepemerintahan. Bukan ketaatan kepada Undang-undang Negara, apalagi pengabdian kepada Juragan Agung yang bernama Rakyat.
Nanti akan ada hari di mana mereka bertransformasi menjadi Pegawai Sipil Negara, yang prinsip kewajibannya adalah menjalani pelayanan atau pengabdian kepada Rakyat. Transformasi kesadaran juga akan berlangsung pada pemahaman untuk membedakan antara Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah, antara Lembaga Negara dengan Lembaga Pemerintah, asset Negara dan asset Pemerintah, bahkan Kas Negara dengan Kas Pemerintah. Umpamanya Badan Usaha Milik Negara tidak menyetorkan penghasilannya kepada Kas Lembaga Negara, bukan kepada Kementerian Keuangan di jajaran Pemerintah.
Sederhananya bangsa ini akan menyadari beda antara Keluarga dengan Rumahtangga, antara Kepala Keluarga dengan Kepala Rumahtangga, termasuk antara Almari Kas Negara dengan Laci Kas Rumahtangga, juga antara Bendahara dengan Kasir.
Minimal bangsa ini nanti akan belajar kepada Tri Bhuwana Tungga Dewi pemikir dan pengarif kebesaran Majapahit, kepada Hayam Wuruk dan Gadjah Mada, dalam hal tata kelola kesejahteraan Rakyat juragan mereka.
Pilihan kata ‘Pemerintah’ itu sendiri durhaka dan potensi dosa horisontal-vertikalnya sangat besar. Mereka suatu kelompok dari hamparan Rakyat yang dipilih untuk menjadi pelayan, yang digaji, difasilitasi dan dijamin hidupnya. Tidak ada jenis logika apapun di dunia dan akherat yang bisa menerima dan melegalisir bahwa mereka berhak memerintah. Masyarakat warung kopipun tahu bahwa yang memerintah adalah yang menggaji, dan yang diperintah adalah yang digaji.
Bangsa ini masih terbalik-balik tata letak saraf-saraf di otaknya. Rakyat mengangkat orang yang dibayar paling mahal dan diumumkan sebagai RI-1, bahkan dikhayalkan sebagai ‘orang besar’, dikerumuni dengan membungkuk-bungkuk, ditahayulkan sebagai ‘Satria Piningit’ dan diharapkan sebagai ‘Ratu Adil’. Padahal dia adalah TKI-1.
Orang besar ditanggungjawabi bayarannya oleh Allah karena totalitas iman dan pengabdiannya. Satria Piningit disutradarai oleh Tuhan ada tidaknya, hadir tidaknya, serta kapan waktunya. Ratu Adil adalah setiap manusia yang memfokuskan hidupnya melakoni apa saja di jalur Keadilan.
Dulu VOC membikin lembaga ‘Pangreh Praja’ dan ‘Pamong Praja’. Yang pertama ditugasi mengurus segala hal di rumahtangga Kraton. Yang kedua diperintah untuk mengurusi segala hal yang menyangkut kehidupan ‘Kawula’ atau (sampai semodern ini tidak ada kata yang mendekati kebenaran prinsipilnya kecuali) ‘Rakyat’.
Bangsa ini dihina dan menghina dirinya sendiri dengan menerima sebutan ‘Rakyat’. Rakyat adalah kumpulan manusia yang memegang atau memiliki kedaulatan dan menyepakati suatu sistem dan lembaga kepemimpinan (ra’iyat = kepemimpinan). Bangsa kita mau disebut dan rela menyebut dirinya Rakyat padahal mereka tidak berkedaulatan dan hampir selalu ditipu-daya atau minimal disogok untuk soal-soal kepemimpinan.
Masyarakat (syarika, syirkah) adalah sekumpulan manusia yang memiliki tradisi dan mekanisme untuk berserikat, sehingga memiliki landasan untuk menerapkan pola kepemimpinan. Ummat (umm = Ibu) adalah manusia-manusia yang berhimpun atas dasar seper-Ibu-an nilai. Bangsa Indonesia dilecehkan dan melecehkan dirinya dengan disebut dan menyebut dirinya dengan kata yang bertentangan dengan fakta kehidupan mereka.
Kata ‘Bangsa’ juga sudah kita bakukan sehingga taka da kemungkinan kata lain untuk menggunakannya. Karena secara internasional pemaknaan kata ‘Bangsa’ maupun ‘Negara’ selalu diombang-ambingkan oleh terutama kepentingan kapitalisme dan egosentrisme kelompok-kelompok besar yang berkuasa dalam skala global. Bertanyalah kepada anak-anakmu yang kuliah di Universitas apa definisi pasti tentang Negara dan Bangsa. Konfirmasikan kepada mereka apakah masih berlaku pengertian ‘Negara Bangsa’, bagaimana perubahan atau pembalikan pemahaman tentang Bangsa dan Negara? Atau apakah ‘Negara’mu ini defacto benar-benar Negara sebagaimana yang diajarkan oleh Dosen-dosen mereka?
Kita rela ditipu-daya untuk mengkerdilkan diri sendiri dengan meyakini bahwa Jawa adalah Suku, sebagaimana Bugis, Batak, Minang dll, kemudian kita dibodohi bahwa ‘Suku-suku’ itu terkumpul menjadi Bangsa Indonesia. Padahal kita adalah Kumpulan Bangsa-Bangsa, United Nations of Nusantara, dengan segala macam persyaratan terpenuhi untuk itu.
Di tengah posisi colonialized itu para pemuda malah bersumpah “Berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Dan sejak itu bahasa-bahasa Bangsa-bangsa seantero Nusantara yang sudah membangun Peradaban besar berabad-abad lamanya, kita yakini harus kita tinggalkan, kita sekunderkan, kita marginalkan. Padahal yang disebut Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu Pasar yang dipakai oleh kaum pedagang regional di Batavia. Punyakah kaum cendekiawan metoda untuk mengukur sebagerapa besar defisit sejarah, kebudayaan dan peradaban yang kita tanggung?
Kita berpikir bahwa kita sedang mengembangkan keberadaban kita dengan mempersatukan bahasa. Kita diajari untuk menuduh bahwa, umpamanya, sistem bahasa Ngoko, Kromo Madyo dan Kromo Inggil adalah hirarkhi feodalisme. Padahal kekayaan Peradaban batin dan keberbudayaan yang tercermin oleh pijakan-pijakan “roso” yang melahirkan tiga dimensi bahasa komunikasi itu – dilunturkan dan dimusnahkan dari jiwa semua Bangsa-bangsa Nusantara, untuk membuat kita semua menjadi manusia sempit yang berdialektika hanya berdasarkan posisi Subyek-Obyek-Predikat.
Kita berpolitik, berdagang, bergaul, bahkan beragama dalam posisi pragmatis untuk secara naluriah selalu meletakkan diri kita sebagai Subyek, dan orang lain siapa saja sebagai Obyek atau Predikat yang kita peralat. Struktur dialektika sosial Subyek-Obyek-Predikat sangat membukakan pintu untuk eksploitasi, penindasan, pemanfaatan dan manipulasi.
Demikianlah cara kita bergaul sehari-hari. Demikianlah budaya politik kita. Demikianlah incaran-incaran kapitalisme kita. Bahkan demikianlah perilaku kita dalam menjalankan Agama. Karakter utama kita dewasa ini adalah mengobyekkan dan memperalat siapa saja dan apa saja, termasuk kekuasaan birokrasi, hak rakyat dan kekayaannya. Salah satu kata paling popular dalam kehidupan sehari-hari adalah “ngobyek”.
Bangsa-bangsa yang men-suku-kan dirinya ini juga tidak belajar apa gerangan yang dinamakan Negara, sehingga mereka meyakini dan mengikhlasi sesuatu yang bukan Negara sebagai (dianggap) Negara. Mereka juga mencurangi makna kata, memanipulasi arti, menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, namun mereka meneruskan aspirasi penjajahnya dulu dalam berbagai hal yang menyangkut Tata Negara. Bahkan yang sudah dipalsukan itu dimelencengkan lagi: misalnya idiom Pamong Praja digunakan dengan bangga dalam penyempitan yang bernama Satuan Polisi Pamong Praja, yang tugasnya justru sangat ‘padat’ dan jauh dari kearifan kata ke-Pamong-an. Kekayaan makna batin, budaya dan keindahan “bebrayan’ yang dikandung oleh kata “Pamong”, kita aniaya menjadi palu kekuasaan, bahkan dengan watak kekerasan.
Alih-alih menumbuhkan kesadaran untuk coba-coba belajar apa gerangan ‘Pamong’ di dalam tradisi leluhur mereka sendiri, yang kemudian dimanipulir oleh kaum penjajah. Pamong, Pamomong, suatu prinsip pengabdian yang total dan bahkan ekstrem – meskipun para Pengabdi Rakyat atau Pegawai Negara Rakyat tidak dituntut untuk mengabdi sejauh itu.
‘Pamomong Bayi’ itu cakrawala pengabdian yang memacu kesadaran dan perasaan betapa tak terbatasnya keindahan mengabdi. Bagaikan Ibu yang momong bayi, yang ikhlas melakukan apa saja untuk bayinya. Tidak jijik kepada kotorannya, melindungi bayi lebih dari melindungi dirinya sendiri. Bahkan seorang Ibu Pamomong rela kehilangan apapun, hartanya, rumahnya, bahkan kedua bola matanya – asalkan tidak kehilangan bayinya.
Betapa pula jauhnya cakrawala prinsip tentang pengabdian itu dengan kenyataan ‘pengabdian’ para Pamong Praja Nusantara abad-21 atau dengan ‘cuaca mental’ para Pegawai Sipil Negara. Sedangkan dimensi kwantitatif Negara-Negeri Negara-Pemerintah saja masih terus batal dan najis secara ilmu kata dan makna. Apalagi dimensi kwalitatif makna-maknanya.
Padahal bangsa ini sudah 70 tahun berguru kepada Demokrasi: bahwa Rakyat adalah pemilik Tanah Air beserta isinya. Yang elementer dari ilmu Sekolah Dasar itupun masih belum lulus. Bahkan sebagian dari mereka sengaja merekayasa dan menciptakan suatu sistem kependidikan sosial, melalui berbagai macam perangkat dan institusi informasi, yang menghalangi jangan sampai bangsa ini lulus Ilmu Demokrasi.
Jangankan lagi meningkat ke smester berikutnya mempelajari Ilmu Demokrasi Semar, yang usia keilmuannya jauh lebih tua dan jauh lebih matang serta komplit disbanding Demokrasi Import yang mereka pelajari.
Demokrasi yang dipakai sekarang hanya menyangkut Subyek manusia, sementara Alam, Bumi dan kandungannya adalah Obyek atau Predikat alias Perangkat yang diperalat. Demokrasi Leluhur Bangsa-bangsa Nusantara memperlakukan Alam dan isinya sebagai partner pembangunan, sebagai Subyek dan sebagai sesama makhluk hidup, bahkan sebagai sahabat karib, sebagai kekasih yang disayangi.
Demokrasi Import meletakkan Presiden di titik paling puncak, dan rakyat di tataran paling bawah. Demokrasi Semar meletakkan Dewa yang berkwalitas tertinggi satu titik dan maqam dengan Rakyat. Demokrasi Improt gambarnya garis vertikal, Demokrasi Semar gambarnya garis siklikal atau bulatan. Demokrasi Leluhur dan Demokrasi Semar bersikap ilmiah, logis, memenuhi nalar akal, dan jernih jujur terhadap fakta kosmologis maupun teologis bahwa Kehidupan ini Bulatan.
Akan tetapi insyaAllah di masa depan yang dekat, para pelaku Demokrasi akan mulai mengenal Tuhan Yang Maha Tunggal (bukan Esa: sebab Esa atau Isa atau Isang atau Ika ada Dua atau Dwi atau Dalawang-nya da nada Tiga atau Tri atau Telu atau Tatlu-nya). Maka skala kesadarannya meluas dan meningkat: Tanah Air beserta isinya adalah milik Tuhan yang dipinjamkan sampai batas waktu yang Ia tentukan kepada makhluk-Nya, hamba-Nya, manusia-Nya, rakyat-Nya.
Tuhan yang membikin dan pemilik tunggal seluruh alam semesta beserta isi dan penghuninya, sehingga Ia berhak membatalkan ciptaan-Nya itu sekarang juga, berwenang mutlak untuk menyusun tradisi hukum ciptaan dan perilaku alam semesta, berwenang membuat gempa, gunung meletus, berwenang meluapkan air samudera, berhak membiarkan masyarakat manusia hancur, berhak tidak memperdulikan sebuah Negara runtuh, berhak menolong atau tidak menolong bangsa dari keruntuhannya, serta berhak membunuh semua binatang serta memusnahkan ummat manusia sebagian atau seluruhnya kapan saja Dia mau.
Alam semesta atau jagat raya disebut oleh peradaban, epistemologi dan filologi Jawa dengan ‘Bawono’, sedangkan makhluk hidup yang menghuninya dinamakan ‘Buwono’. Para Hamengkubawono, yang ditugasi mengelola Bawono adalah makhluk-makhluk ekstra-dimensi dari sudut pandang alam-kemanusiaan, para staf atau Malaikat yang berdimensi mengetahui manusia namun tak diketahui oleh manusia kecuali yang mengolah batin dan kelembutan jiwanya. Sementara Hamengkubuwono yang dimandati mengurusi Buwono, yakni isi dan penghuni alam semesta, khususnya bumi, disebut Khalifatullah, yang dalam hal ini dikhususkan untuk makhluk manusia.
Bahasa gampangnya: Hamengkubawono adalah Malaikat, yang berarti-harafiah rentang birokrasi Allah. Sedangkan Hamengkubuwono adalah Manusia, yang Allah menjulukinya sebagai Khalifah. Para Khalifah manusia dengan para Malaikat bekerja sama “mamayu hayuning bawono”.
Sedangkan para Pegawai Sipil Negara adalah Pangeran-pangeran Mangkubumi. Mereka diangkat dan difasilitasi oleh Rakyat untuk ‘memangku bumi’, mengelolanya menjadi kesejahteraan bagi para Majikannya serta dengan sendirinya bagi mereka sendiri. Di dalam ‘roso’ manusia Nusantara, Tanah Air disebut Ibu Pertiwi, bukan Bapak Pertowo. Pusat pengelolaan birokrasi penyejahteraan rakyat disebut Ibukota, bukan Bapakkota.
Tanah atau Bumi itu wanita. Manusia pengolahnya lelaki. Sawah itu wanita, petani lelaki yang mencangkuli dan menanaminya sehingga tumbuh ‘bayi’ kesejahteraan. Ibu Pertiwi adalah wanita, Pegawai Sipil Negara adalah lelaki ‘buruh tani’ yang mengolahnya. Simbolnya adalah Pangeran Lelaki yang me-mangku bumi. Peradaban dan kebudayaan Bangsa-bangsa Nusantara tidak mengizinkan lelaki memangku lelaki atau wanita memangku wanita.
Peristiwa memangku adalah peristiwa cinta dan kasih sayang. Yang memangku tidak menguasai yang dipangku. Yang dipangku tidak diperintah dan ditindas oleh yang memangku. Memangku adalah tindakan pengabdian, kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan. Juga jangan lupa: kenikmatan.
Berlangsung dinamika pangku-memangku. Tanah Air memangku penghuninya. Di konteks lain Khalifatullah memangku Tanah Airnya. Rakyat menjunjung, memangku dan ‘ndulang’ atau memberi makan minum kepada Pegawai Sipil Negara. Pada dimensi lain Pegawai Sipil Negara memangku Rakyat yang menghidupinya. Pegawai Militer Negara menjaga ketenteraman pangku-memangku itu.
Kalau Pegawai Negara atau Abdi Rakyat tidak sanggup mengalami dan menemukan betapa nikmatnya pangku-memangku dengan Rakyat, apalagi kalau potensi kenikmatan itu hilang dari jiwa mereka karena ditutupi oleh ‘ideologi’ “ingin dapat duit lebih banyak dan lebih banyak dan lebih banyaaaaaak lagi” – tak ada gunanya ia meneruskan pekerjaan yang menyiksanya itu. Karena sudah pasti cara paling effektif untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya adalah merampok. Kalau sekedar berdagang, uang datang sangat lamban, bahkan mungkin bangkrut.
Akhirul-kalam, para Khalifah di Bumi Nusantara, banyak yang mengidap tiga penyakit gila: kekayaan, popularitas dan kebesaran. Mereka meletakkan tiga hal itu sebagai substansi primer hidup mereka, hingga dijadikan tujuan dalam melakukan pekerjaan apapun. Karena tiga penyakit gila itu dianggap ‘nilai pokok’ kehidupan, maka mereka memilih orang popular dijadikan pemimpin atau pejabat, dengan membuang prinsip dan parameter substansian kepemimpinan. Mereka melakukan pencitraan untuk memalsukan kekerdilannya menjadi seolah-olah kebesaran. Dan mereka mendaki kursi jabatan dengan bekal kekayaan, baik dari miliknya sendiri atau dari konsorsium sponsornya. Maka seluruh masyarakat tak bisa menginjak rem proses sejarahnya untuk terperosok menuju jurang Pralaya, Tahlukah atau Penghancuran.
Padahal hakekatnya tiga hal itu adalah bonus, hadiah, ‘pahala’, bahkan ‘resiko’. Mereka tidak mampu membedakan mana jalan mana tujuan, mana sebab mana akibat, mana isi mana bentuk, mana keris mana warangka.
Mereka menjalani hidup dengan salah niat. Beribadah tidak untuk Tuhan, tapi untuk memperoleh sorga. Padahal kalau mencari Tuhan, diperolehnyalah sorga.
Hidup adalah mematuhi skenario Tuhan, menyesuaikan diri dengan hukum alam, mematuhi Matematika yang suci (5 x 3 selalu = 15, dan tidak bisa berubah meskipun disogok seberapa milyar rupiahpun, serta tetap 15 meskipun Kaisar atau seratus batalyon tentara manapun memerintahkannya untuk menjadi 17 atau 13). Bekerja jujur, menegakkan akal sehat dan kecerdasan, menikmati kewajiban dan tangguh untuk tidak terlalu gatal terhadap Hak, membuat semua yang lain merasa aman dan nyaman, membangun kepercayaan – maka kemasyhuran, kebesaran dan kekayaan akan menjadi akibat otomatis dari itu semua. Bahkan barang siapa memfokuskan hidupnya untuk mengejar kekayaan, ia tidak akan pernah mengetahui apa sejatinya kekayaan. Bahkan nanti di usia pensiunnya ia mengerti telah ditipu oleh apa yang sepanjang hidup dikejar-kejarnya. ***
Yogya 14 Mei 2015.
*copas total dari CakNun.com ..... maturnuwun Cak .......... #sungkem
Santrendelik, pesantren pop kontemporer yang anak muda banget
Pesantren. Adalah sebuah kata yang cukup serem bagi saya dalam beberapa tahun terakhir. Kenapa ? sebab saya pernah mengalami kisah yang cukup tragis soal ini beberapa tahun yang lalu waktu masih sekolah di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang. Sepele sih, tapi itu kemudian menjadi salah satu "catatan buruk" yang insyaalloh takkan terlupakan di sela sela otak dan relung hati .....halah
Sedikit cerita aja, dulu saya sempat ditolak masuk ke sebuah ruangan tempat dilaksanakannya pesantren mahasiswa hanya gara gara beberapa hari sebelumnya ribut dengan salah seorang anggotanya waktu itu, seorang bocah berpakaian ala santri lengkap dengan jenggot kambingnya dan titik hitam di jidat yang lebarnya kaya habis kena bola golf yang dilempar pake alat pelontar bola tenis.........gara-garanya ? cuman masalah kaos bertuliskan tahanan Polsek dan celana jeans bolong bolong......... ah sudahlah........
Bagaimana bisa ? yup bukan Santrendelik namanya kalau pengajiannya dilakukan dengan kaku, bahkan mencekam. Yang terjadi di pesantren ini adalah kebalikan dari semua asumsi, anggapan dan apa yang ada di angan angan anak muda seperti saya (meskipun saya juga sudah tidak bisa dibilang muda banget lagi hehehe....). ya itu tadi yang sudag saya sebutkan di awal..... hangat, akrab, tidak nampak adanya gap antara tua dan muda, tidak nampak adanya gap antara yang sudah berilmu agama tinggi dan masih "cethek" alias dangkal sedangkal dangkalnya, tidak ada proses doktrinisasi yang kerap muncul di pengajian pengajian bergaya tua.........#eh
Jangan bayangkan jika datang kesana akan bertemu dengan santriwan santriwati yang berpakaian surban, jubah dan jilbab serba putih dengan membawa kitab yang tebal tebal.... yang akan dijumpai disana adalah pemuda pemudi dengan pakaian khas anak muda, yang tidak jarang masih menyertakan pula segala aksesoris mereka seperti kalung, tindik, tato, bahkan rambut mohawk dan gimbal. Pengguna celana jeans belel dengan lubang disana sini dan bahkan celana kolor pendek yang dipakai sore hari untuk bermain bola pun ada...... Asap rokok dan aroma kopi, wedang jahe dan teh juga bercampur dengan riuhnya kehangatan suasana yang hangat dan nyaman bahkan ketika tausiah berlangsung (yang bergaya khas anak muda masa kini, Stand Up Comedy) dan acara berakhir dengan doa bersama.
Menurut salah satu pendiri yang sekarang juga menjabat sebagai ketua yayasan Santrendelik, Mas Ihwan (yang dulunya saya kenal sebagai Kang Penyut yang penuh ide gila hahahaha.......), Pesantren ini berawal dari tobatnya dia yang juga senior saya di Imbara (Ikatan Mahasiswa Banjarnegara - UNNES) dan seorang rekan pengusaha muda lainnya, Mas Agung, setelah usaha mereka mengalami kebangkrutan.
" Idenya adalah Kami memadukan antara diskusi, seni dan budaya sebagai unsur pendukung dakwah sesuai dengan trend kekinian.... dan insyaallah dalam 15 tahun, dengan perencanaan matang Santrendelik akan menjadi jaringan pesantren kontemporer terbesar di Indonesia. " Kata Pemuda asli Banjarnegara yang bernama lengkap Ikhwan Saifullah itu.
Sedikit cerita aja, dulu saya sempat ditolak masuk ke sebuah ruangan tempat dilaksanakannya pesantren mahasiswa hanya gara gara beberapa hari sebelumnya ribut dengan salah seorang anggotanya waktu itu, seorang bocah berpakaian ala santri lengkap dengan jenggot kambingnya dan titik hitam di jidat yang lebarnya kaya habis kena bola golf yang dilempar pake alat pelontar bola tenis.........gara-garanya ? cuman masalah kaos bertuliskan tahanan Polsek dan celana jeans bolong bolong......... ah sudahlah........
Tapi trauma itu mendadak hilang setelah saya memenuhi undangan nongkrong seorang sahabat, Andri.
Nongkrong ?
Nongkrong ?
Yes sodara-sodara. Nongkrong, ngopi, ngebul dan ngobrol sana sini penuh canda, ngobrol asik, konser akustik dari grup musik biasa saja, tapi kemudian ada tausiah dari seorang ustadz......tausiah nan ringan namun menusuk hati nurani oleh Ustadz Riyadh Ahmad Al Hafidz yang pada waktu itu pakai setelan kemeja putih, jeans putih, sepatu kets putih dan tanpa embel embel ke kiaian seperti surban, jubah dan sebagainya yang bikin serem saya (apalagi setan) yang melihatnya ...... Cocok banget sama kepinginan hati yang kadang pengen ngaji tapi sudah terlanjur dipandang miring sama jamaah lain selama ini hahahaha........
![]() |
| Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz memberikan tausiah Foto oleh Andy Kusworo |
![]() |
| Foto by Nokia N8 |
![]() |
| Suasana pengajian dari panggungFoto oleh Andy Kusworo |
Singkat cerita, setelah mereka bertemu dengan seorang ustadz muda berkharisma, Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz, muncullah ide membentuk sebuah kajian agama sambil nongkrong di cafe yang lambat laun berubah menjadi pesantren Santrendelik, Kampung Tobat itu.
" Idenya adalah Kami memadukan antara diskusi, seni dan budaya sebagai unsur pendukung dakwah sesuai dengan trend kekinian.... dan insyaallah dalam 15 tahun, dengan perencanaan matang Santrendelik akan menjadi jaringan pesantren kontemporer terbesar di Indonesia. " Kata Pemuda asli Banjarnegara yang bernama lengkap Ikhwan Saifullah itu.
Dengan berjalannya waktu, Kampung Tobat yang bergenre pop kontemporer, berkonsep "anak muda banget" dan "anti diskriminasi" ini kemudian bisa berkembang dengan baik. Bahkan sampai mempunyai bidang usaha mandiri yang dinamakan Bank Kambing Santrendelik (BKS) (diresmikan oleh Dahlan Iskan tanggal 2 November 2014) dan sedang membangun sebuah masjid yang akan dinamakan Masjid 1000 pintu tobat dan rencananya bisa menampung 400 tobaters (sebutan untuk santri di pesantren ini).
Sebagai informasi, tobaters mempunyai beberapa kegiatan rutin di pesantren yang letaknya cukup tersebunyi di sudut kota Semarang namun bisa ditempuh selama 10 menit dari Simpang Lima ini. Diantaranya adalah kajian rutin setiap minggu , kitab hikam, fi bayti rosul, Pengajian Ngapak (ini terjadi karena banyak santrinya berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya yang notabene berbahasa ngapak), pesugihan syariah Santrendelikpreneurship, Klub Malam Santrendelik (yang merupakan kegiatan tahajud bersama setiap malam) dan yang terakhir adalah Bank Kambing Santrendelik (BKS) .
Selidik punya selidik, ternyata Ide bank kambing berasal dari Dahlan Iskan yang ingin memasyarakatkan bank ternak. Konsep itu diaplikasikan pada kambing karena harganya stabil dan tidak kenal inflasi serta merupakan hewan gembalaan semua Nabi.
“Sistem bank kambing sudah kami buat sesederhana mungkin sehingga bisa diduplikasi di semua tempat. Maka Santrendelik bisa jadi pesantren franchise yang bisa dibuka di mana saja,” kata Ustad Riyadh.
Dahlan Iskan memberi penghargaan tinggi pada berdirinya Santrendelik yang disebutnya pesantren go public karena sahamnya milik masyarakat. Untuk memperbesar penghasilan pesantren, ia mengusulkan agar di bawah Jati ditanami Porang. Bahan baku tepung ini bernilai ekonomi sangat tinggi.
“Kalau tanaman lain paling banter menghasilkan dua juta rupiah pertahun, tapi Porang bisa lima puluh juta rupiah setahun,” katanya waktu berkunjung ke Santrendelik beberapa waktu yang lalu.
Dan pada akhirnya, enggan rasanya bagi saya untuk meninggalkan lokasi pesantren ini. Walaupun sebentar dan baru pertama kali datang, banyak hal yang seolah baru saya temukan setelah sekian lama saya cari, sebuah pesantren yang meluruskan orang-orang seperti kami, kaum terpinggirkan oleh mereka yang mengaku ahli agama..............
Good job, good idea, good action and congratulation........ Santrendelik, Kampung Tobat
Penasaran ?
Silahkan cek aja www.santrendelik.org atau via Facebook, Twitter, Instagram , You Tube dan Google +
Spesial thanks to Fotografer, Andy Kusworo, for some great picture to create this article
Sebagai informasi, tobaters mempunyai beberapa kegiatan rutin di pesantren yang letaknya cukup tersebunyi di sudut kota Semarang namun bisa ditempuh selama 10 menit dari Simpang Lima ini. Diantaranya adalah kajian rutin setiap minggu , kitab hikam, fi bayti rosul, Pengajian Ngapak (ini terjadi karena banyak santrinya berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya yang notabene berbahasa ngapak), pesugihan syariah Santrendelikpreneurship, Klub Malam Santrendelik (yang merupakan kegiatan tahajud bersama setiap malam) dan yang terakhir adalah Bank Kambing Santrendelik (BKS) .
Selidik punya selidik, ternyata Ide bank kambing berasal dari Dahlan Iskan yang ingin memasyarakatkan bank ternak. Konsep itu diaplikasikan pada kambing karena harganya stabil dan tidak kenal inflasi serta merupakan hewan gembalaan semua Nabi.
“Sistem bank kambing sudah kami buat sesederhana mungkin sehingga bisa diduplikasi di semua tempat. Maka Santrendelik bisa jadi pesantren franchise yang bisa dibuka di mana saja,” kata Ustad Riyadh.
![]() |
| Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz Foto oleh Andy Kusworo |
“Kalau tanaman lain paling banter menghasilkan dua juta rupiah pertahun, tapi Porang bisa lima puluh juta rupiah setahun,” katanya waktu berkunjung ke Santrendelik beberapa waktu yang lalu.
![]() |
Suasana dari belakang santri
Foto oleh Andy Kusworo
|
Good job, good idea, good action and congratulation........ Santrendelik, Kampung Tobat
![]() |
| Ki - Ka : Andre, Nanang, Ust. Riyadh, saya, Kang Nur, Kang Ihwan |
Penasaran ?
Silahkan cek aja www.santrendelik.org atau via Facebook, Twitter, Instagram , You Tube dan Google +
Spesial thanks to Fotografer, Andy Kusworo, for some great picture to create this article
Cak Nun : Nyicil Simpati Kepada Setan
Ada satu tulisan esainya Cak Nun tahun 2012 atau tepatnya tertanggal 7 Desember 2012 lalu yang sangat sangat dan sangat "masuk" dan "kena" banget sama apa yang saya tonton di tivi sore tadi. Atau 2 tahun lebih setelah tulisan itu dibuat.
Cak Nun ?
Ya. Emha Ainun Najib. Seorang budayawan, seorang seniman, intelektual muslim, dan kolomnis super nyentrik yang tidak mau disebut sebagai seorang kiai, tokoh agama apalagi ustadz, walaupun dengan pengetahuan agama yang sangat mendalam dan super mumpuni (menurut saya yang seorang "cethekan" ini).
Sedikit tentang Cak Nun, beliau adalah (mungkin)satu satunya tokoh intelektual muslim di negeri ini yang beraliran moderat yang tidak condong kepada organisasi apapun, beliau dekat dengan semua golongan islam bahkan dengan non muslim karena sifat keterbukaannya juga sifat kearifannya terhadap semua golongan, dan yang terpenting adalah beliau tidak fanatik mazab sehingga punya pemikiran lebih luas dan "mrantasi".
Salah satu hal yang membuat saya pribadi semakin kagum terhadap beliau adalah, dalam setiap berceramah beliau jarang sekali (atau bahkan tidak pernah) mau memakai pakaian ala ustadz (seperti mereka yang di tivi tivi itu), paling hanya memakai setelan hem atau kaos. Hal ini adalah karena Cak Nun hanya pingin dianggap sebagai orang biasa. Dan perlu diketahui bahwa beliau tidak pernah menganggap komunitas ceramahnya adalah pengajian, tetapi hanyalah forum umat islam yang sedang bersama sama berusaha memecahkan masalah-masalah yg terjadi pada mereka.
Langsung saja, setelah berusaha mencarinya lagi, berikut copas tulisan yang saya temukan dari laman pribadi Cak Nun, www.caknun.com tanpa mengurangi apalagi menambahi sedikitpun....hanya sebagai bahan perenungan terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan, bangsa dan negara kita saat ini :
Tulisan ini saya bikin dengan mencuri waktu di sela-sela forum, menyelinap beberapa momentum untuk bisa menulis. Kerja saya seperti Setan: berupaya pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi dan nilainya ke pori-pori kejiwaan manusia. Dan untuk manusia di jaman ini, hal yang dilakukan Setan semacam itu bukan pekerjaan sulit, karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan apapun terhadap penetrasi Setan.
Juga karena manusia sudah semakin tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali Setan, sehingga tidak pernah secara sadar atau instinktif mengetahui apakah ia sedang dipengaruhi oleh Setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi oleh Setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil keputusan sebenarnya adalah Setan di dalam dirinya.
Tentu saja Setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau jasadiyah. Ia lebih merupakan enerji, atau gelombang. Sedemikian rupa manusia harus mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya, psiche-nya, roh atau rohaninya.
Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia, adalah makhluk sosial, adalah warganegara Indonesia, adalah bagian dari masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah Ulama, anggota Parlemen, pejabat, aktivis Ornop, golongan intelektual atau apapun. Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku dan elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial.
Kita, pada konteks tertentu, dan itu sangtat serius dan merupakan mainstream: mungkin sekali adalah boneka-bonekanya Setan. Kita hanya robot yang diremot oleh kehendak Setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan Setan.
Anda mungkin menganggap saya main-main retorika. Tidak. Ini sungguh-sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolahan dan universitas, sebab penelitian-penelitian di wilayah itu tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, Malaikat, Iblis, Jin dlsb — yang sesungguhnya merupakan wujud nyata sehari-hari kehidupan kita.
Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba. Mainan kita namanya Negara, demokrasi, Pemilu, clean governance, pengajian, tausiyah, mau’idhah hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan dan sinetron…. Semua itu tidak benar-benar kita pahami bahwa bukanlah kita subyek utamanya.
Tentu ini semua harus sangat panjang ditelusuri, dianalisis, dipaparkan dan disosialisasikan. Tulisan ini sekedar membukakan pintu agar manusia mulai mempelajari Setan, sebagai salah satu metoda paling pragmatis dan efektif untuk mengenali dirinya. Sebab hanya dengan benar-benar mengenali dirinya maka manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat Negara, sistem sosial atau apapun.
Anda semua semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar teve, di halaman koran, di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu dan di manapun.
Tolong jangan membantah dulu sebelum mempelajari Setan, dalam segala wilayah, konteks dan skala. Pelajari setan untuk individumu, untuk keluargamu, untuk keselamatan anak-anakmu tahun-tahun yang akan datang, untuk masyarakat dan bangsamu. Tuhan bilang “Mereka melakukan tipu daya, dan Aku juga…. Aku kasih waktu sejenak kepada mereka….”
Jatah untuk menyembuhkan diri bagi bangsa kita sudah berlalu. Ramadlan dan Idul Fitri sudah kita lalui tanpa makna apa-apa. Metabolisme zaman sudah tiba di putaran di mana kita memerlukan jangka waktu yang akan jauh lebih lama lagi untuk bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita semua sebagai bangsa. Segala sesuatu sudah kita jalani, kita junjung, tanpa melahirkan paradigma baru apapun di bidang apapun. Indonesia sudah “mati”. Tahun 2008-2015 akan semakin terpecah, semakin tertipu daya, semakin lapar dan panas, semakin stress dan deppressed, karena kita sendiri sudah terbiasa menipu daya diri kita sendiri.
Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan….”
Di dalam Kitab Suci ada disebutkan: “Dan ketika dikatakan kepada Malaikat: Bersujudlah kepada Adam, maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai…”
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis….”
Sumber : www.caknun.com dan Mbah Google
Cak Nun ?
Ya. Emha Ainun Najib. Seorang budayawan, seorang seniman, intelektual muslim, dan kolomnis super nyentrik yang tidak mau disebut sebagai seorang kiai, tokoh agama apalagi ustadz, walaupun dengan pengetahuan agama yang sangat mendalam dan super mumpuni (menurut saya yang seorang "cethekan" ini).
Sedikit tentang Cak Nun, beliau adalah (mungkin)satu satunya tokoh intelektual muslim di negeri ini yang beraliran moderat yang tidak condong kepada organisasi apapun, beliau dekat dengan semua golongan islam bahkan dengan non muslim karena sifat keterbukaannya juga sifat kearifannya terhadap semua golongan, dan yang terpenting adalah beliau tidak fanatik mazab sehingga punya pemikiran lebih luas dan "mrantasi".
Salah satu hal yang membuat saya pribadi semakin kagum terhadap beliau adalah, dalam setiap berceramah beliau jarang sekali (atau bahkan tidak pernah) mau memakai pakaian ala ustadz (seperti mereka yang di tivi tivi itu), paling hanya memakai setelan hem atau kaos. Hal ini adalah karena Cak Nun hanya pingin dianggap sebagai orang biasa. Dan perlu diketahui bahwa beliau tidak pernah menganggap komunitas ceramahnya adalah pengajian, tetapi hanyalah forum umat islam yang sedang bersama sama berusaha memecahkan masalah-masalah yg terjadi pada mereka.
Langsung saja, setelah berusaha mencarinya lagi, berikut copas tulisan yang saya temukan dari laman pribadi Cak Nun, www.caknun.com tanpa mengurangi apalagi menambahi sedikitpun....hanya sebagai bahan perenungan terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan, bangsa dan negara kita saat ini :
Tulisan ini saya bikin dengan mencuri waktu di sela-sela forum, menyelinap beberapa momentum untuk bisa menulis. Kerja saya seperti Setan: berupaya pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi dan nilainya ke pori-pori kejiwaan manusia. Dan untuk manusia di jaman ini, hal yang dilakukan Setan semacam itu bukan pekerjaan sulit, karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan apapun terhadap penetrasi Setan.
Juga karena manusia sudah semakin tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali Setan, sehingga tidak pernah secara sadar atau instinktif mengetahui apakah ia sedang dipengaruhi oleh Setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi oleh Setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil keputusan sebenarnya adalah Setan di dalam dirinya.
Tentu saja Setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau jasadiyah. Ia lebih merupakan enerji, atau gelombang. Sedemikian rupa manusia harus mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya, psiche-nya, roh atau rohaninya.
Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia, adalah makhluk sosial, adalah warganegara Indonesia, adalah bagian dari masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah Ulama, anggota Parlemen, pejabat, aktivis Ornop, golongan intelektual atau apapun. Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku dan elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial.
Kita, pada konteks tertentu, dan itu sangtat serius dan merupakan mainstream: mungkin sekali adalah boneka-bonekanya Setan. Kita hanya robot yang diremot oleh kehendak Setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan Setan.
Anda mungkin menganggap saya main-main retorika. Tidak. Ini sungguh-sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolahan dan universitas, sebab penelitian-penelitian di wilayah itu tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, Malaikat, Iblis, Jin dlsb — yang sesungguhnya merupakan wujud nyata sehari-hari kehidupan kita.
Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba. Mainan kita namanya Negara, demokrasi, Pemilu, clean governance, pengajian, tausiyah, mau’idhah hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan dan sinetron…. Semua itu tidak benar-benar kita pahami bahwa bukanlah kita subyek utamanya.
Tentu ini semua harus sangat panjang ditelusuri, dianalisis, dipaparkan dan disosialisasikan. Tulisan ini sekedar membukakan pintu agar manusia mulai mempelajari Setan, sebagai salah satu metoda paling pragmatis dan efektif untuk mengenali dirinya. Sebab hanya dengan benar-benar mengenali dirinya maka manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat Negara, sistem sosial atau apapun.
Anda semua semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar teve, di halaman koran, di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu dan di manapun.
Tolong jangan membantah dulu sebelum mempelajari Setan, dalam segala wilayah, konteks dan skala. Pelajari setan untuk individumu, untuk keluargamu, untuk keselamatan anak-anakmu tahun-tahun yang akan datang, untuk masyarakat dan bangsamu. Tuhan bilang “Mereka melakukan tipu daya, dan Aku juga…. Aku kasih waktu sejenak kepada mereka….”
Jatah untuk menyembuhkan diri bagi bangsa kita sudah berlalu. Ramadlan dan Idul Fitri sudah kita lalui tanpa makna apa-apa. Metabolisme zaman sudah tiba di putaran di mana kita memerlukan jangka waktu yang akan jauh lebih lama lagi untuk bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita semua sebagai bangsa. Segala sesuatu sudah kita jalani, kita junjung, tanpa melahirkan paradigma baru apapun di bidang apapun. Indonesia sudah “mati”. Tahun 2008-2015 akan semakin terpecah, semakin tertipu daya, semakin lapar dan panas, semakin stress dan deppressed, karena kita sendiri sudah terbiasa menipu daya diri kita sendiri.
Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan….”
Di dalam Kitab Suci ada disebutkan: “Dan ketika dikatakan kepada Malaikat: Bersujudlah kepada Adam, maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai…”
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis….”
Sumber : www.caknun.com dan Mbah Google
Gong Xi Fat Cai
Masih inget dalam ingatan saya sebuah penggalan kisah ketika masih berbaju putih biru. Waktu itu ada seorang teman karib yang bermata sipit mengajak saya ke rumahnya di daerah Kampung Cina (bukan nama sebenarnya - saya lupa nama daerahnya, tapi yang jelas bukan itu nama daerahnya hehehe....). Awalnya saya sempat menolak juga dengan alasan bukan jam kosong dan tidak mau bolos sekolah (jyahahaha.....seingat saya lho, tapi kayaknya bukan begitu kejadian sebenarnya), namun karena ada kata kunci khusus yang diucapkan si Cui (sebut saja begitu), maka saya dan beberapa orang teman lainnya dengan semangat 45 segera berangkat menuju lokasi.
Berbekal kemampuan panjat dinding yang cukup mumpuni dan lari marathon 10 KM akhirnya sampai juga kami ke rumah si Cui yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.
Rumah keluarga Cui dari depan kelihatan biasa biasa saja. tidak ada yang istimewa, hanya ada satu gantungan berwarna merah yang mirip kertas pengusir vampire pada film horor cina tergantung di bawah lampion di depan pintu.
Cui dan keluarganya merupakan keluarga pedagang yang cukup sukses di daerah kami. Hampir seluruh bidang kehidupan yang bisa diperjual belikan mereka punya tokonya. Pakaian, bahan makanan, perminyakan, rumah makan, toko kelontong bahkan onderdil kendaraan mereka ada. Dan yang membuat saya takjub waktu itu adalah mereka semuanya memiliki satu kemiripan yang tingkat keakuratannya mencapai 80 persen. Matanya mirip semua.....
" Weh kok sepi cu ? katanya banyak makanan ?" tanyaku waktu itu
" Santai W, masuk aja dulu ... " jawabnya singkat sambil tersenyum....
Ketika pintu dibuka, saya dan teman teman yang lain dibuat takjub dengan apa yang kami jumpai di dalam sana. Banyak ornamen berwarna merah dan emas hampir di seluruh penjuru rumah. Lampu, lilin, hiasan dinding, balon, bahkan makanan berwarna merah dan emas. Di ruang tengah ada satu meja besar terletak di pojok ruangan berisi aneka makanan yang membuat air liur saya meleleh dengan derasnya, sedangkan di seberangnya, di sudut ruangan yang lain ada sebuah tempat lemari dengan beberapa ornamen bertuliskan cina dan 3 batang sapu lidi (belakangan saya baru tahu bahwa lidi tersebut adalah hio) yang dibakar di depannya. Semua orang yang ada di rumah itupun mengenakan baju yang berwarna sama.Merah.
Aroma aneh pun tersebar di seluruh penjuru rumah.Namun dapat langsung diabaikan begitu sepiring besar nasi dan lauk pauk sudah berada di tangan.
Waktu itu saya sempat bertanya kepada Cui, " ada acara pa ini ? lagi punya hajat ?"
" Lagi Imlek W .... " jawabnya singkat sambil mengunyah makanan
" Owh..... " sahut saya dengan lagak sok tau tanpa mengerti arti ucapan si Cui sesungguhnya.... - end of flash back -
Ya, begitu kira kira apa yang terjadi pada keluarga keturunan Tionghoa pada waktu saya masih berpakaian putih biru dulu. Minoritas dan (kalau boleh dikatakan tertindas), oleh sistem yang berlaku. Padahal kalau didalami dan ditelaah lebih jauh, bukan seperti itu isi yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 yang notabene menjadi dasar negara kita, Indonesia. Iya nggak ?
Imlek, sebuah kata yang asing di telinga saya dan bahkan tidak saya mengerti artinya waktu itu, selalu dirayakan oleh keluarga si Cui secara pribadi dan hanya berbatas keluarga, juga orang dekat yang dipercaya saja. Dan itu terjadi karena keterbatasan dan segala batas aturan yang ada.
Namun sekarang semua itu sudah berubah 180 derajat semenjak tahun 2000 lalu waktu Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95. Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah ". Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi dan merayakan apa yang menjadi hari besar mereka. Termasuk Imlek itu.
Yup, seperti yang bisa dilihat sekarang ini, Perayaan Imlek alias Perayaan Tahun Baru Cina digelar secara besar dan bahkan menjadi Hari Besar Nasional. Ditandai dengan merahnya angka tanggal di kalender. Dan itu sangat membantu saya untuk bisa bangun siang seperti hari ini hehehe.......
by the way,"xin nian gong xi, Gong Xi Xin Nian Zhu Da Jia Dou Kuai Le ........." ye....
Berbekal kemampuan panjat dinding yang cukup mumpuni dan lari marathon 10 KM akhirnya sampai juga kami ke rumah si Cui yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.
Rumah keluarga Cui dari depan kelihatan biasa biasa saja. tidak ada yang istimewa, hanya ada satu gantungan berwarna merah yang mirip kertas pengusir vampire pada film horor cina tergantung di bawah lampion di depan pintu.
Cui dan keluarganya merupakan keluarga pedagang yang cukup sukses di daerah kami. Hampir seluruh bidang kehidupan yang bisa diperjual belikan mereka punya tokonya. Pakaian, bahan makanan, perminyakan, rumah makan, toko kelontong bahkan onderdil kendaraan mereka ada. Dan yang membuat saya takjub waktu itu adalah mereka semuanya memiliki satu kemiripan yang tingkat keakuratannya mencapai 80 persen. Matanya mirip semua.....
" Weh kok sepi cu ? katanya banyak makanan ?" tanyaku waktu itu
" Santai W, masuk aja dulu ... " jawabnya singkat sambil tersenyum....
Ketika pintu dibuka, saya dan teman teman yang lain dibuat takjub dengan apa yang kami jumpai di dalam sana. Banyak ornamen berwarna merah dan emas hampir di seluruh penjuru rumah. Lampu, lilin, hiasan dinding, balon, bahkan makanan berwarna merah dan emas. Di ruang tengah ada satu meja besar terletak di pojok ruangan berisi aneka makanan yang membuat air liur saya meleleh dengan derasnya, sedangkan di seberangnya, di sudut ruangan yang lain ada sebuah tempat lemari dengan beberapa ornamen bertuliskan cina dan 3 batang sapu lidi (belakangan saya baru tahu bahwa lidi tersebut adalah hio) yang dibakar di depannya. Semua orang yang ada di rumah itupun mengenakan baju yang berwarna sama.Merah.
Aroma aneh pun tersebar di seluruh penjuru rumah.Namun dapat langsung diabaikan begitu sepiring besar nasi dan lauk pauk sudah berada di tangan.
Waktu itu saya sempat bertanya kepada Cui, " ada acara pa ini ? lagi punya hajat ?"
" Lagi Imlek W .... " jawabnya singkat sambil mengunyah makanan
" Owh..... " sahut saya dengan lagak sok tau tanpa mengerti arti ucapan si Cui sesungguhnya.... - end of flash back -
Ya, begitu kira kira apa yang terjadi pada keluarga keturunan Tionghoa pada waktu saya masih berpakaian putih biru dulu. Minoritas dan (kalau boleh dikatakan tertindas), oleh sistem yang berlaku. Padahal kalau didalami dan ditelaah lebih jauh, bukan seperti itu isi yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 yang notabene menjadi dasar negara kita, Indonesia. Iya nggak ?
Imlek, sebuah kata yang asing di telinga saya dan bahkan tidak saya mengerti artinya waktu itu, selalu dirayakan oleh keluarga si Cui secara pribadi dan hanya berbatas keluarga, juga orang dekat yang dipercaya saja. Dan itu terjadi karena keterbatasan dan segala batas aturan yang ada.
Namun sekarang semua itu sudah berubah 180 derajat semenjak tahun 2000 lalu waktu Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95. Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah ". Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi dan merayakan apa yang menjadi hari besar mereka. Termasuk Imlek itu.
Yup, seperti yang bisa dilihat sekarang ini, Perayaan Imlek alias Perayaan Tahun Baru Cina digelar secara besar dan bahkan menjadi Hari Besar Nasional. Ditandai dengan merahnya angka tanggal di kalender. Dan itu sangat membantu saya untuk bisa bangun siang seperti hari ini hehehe.......
by the way,"xin nian gong xi, Gong Xi Xin Nian Zhu Da Jia Dou Kuai Le ........." ye....
Charity Hunt KPFB : Fotografer Peduli Bencana
Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) pada hari Sabtu yang lalu, tanggal 20 Desember 2014, menggelar sebuah acara amal bertajuk "Penggalangan Dana Fotografer Peduli Bencana" bertempat di sebagian ruas jalan Dipayuda Banjarnegara.
Acara penggalangan dana dengan tema "Berbuat nyata untuk sesama" ini adalah sebagai wujud kepedulian Komunitas Fotografer yang ada di Banjarnegara dan sekitarnya atas musibah yang terjadi di wilayah Banjarnegara, terutama yang menimpa Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.
Peserta acara sendiri datang dari para penghobi dan menggemar fotografi di Banjarnegara dan juga komunitas fotografer dari luar kota, seperti Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan daerah lainnya. Dalam hunting ini, pantia mendatangkan delapan model dari Inggil Production Banjarnegara, dan Embun Pagi Akustika sebagai pengisi acara.
Sebagai informasi, pada acara yang digelar selama hampir 3 jam ini, donasi yang terkumpul mencapai Rp. 12.480.600,-. Donasi tersebut berasal dari sumbangan on the spot peserta dan donasi lintas komunitas yang berkenan hadir seperti Formulasi (Forum Multimedia Edukasi), SFCI (Suzuki Forsa Community Indonesia), HPPW (Himpunan Penggemar Photo Wonosobo), Pengusaha Kampus Jateng. Juga donasi via transfer melalui rekening panitia seperti dari KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel), Jurnalis Peduli Banjarnegara dan personal yang turut merasakan keprihatinan korban bencana.
Tidak hanya itu, dukungan juga datang dari Kompo Motor Banjarnegara, Candradimuka Jeep Comunity, Dapoer Central, Entik Cafe, Warkopenyong Cafe, dan Fabian Salon.
“Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak, termasuk yang dengan ikhlas menyediakan properti untuk kepentingan hunting bareng ini,” Ujar Renda Sabita Noris selaku ketua panitia.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Posko Bantuan Logistik Pemda Banjarnegara pada hari Senin tanggal 22 Desember 2014 pukul 10.30 WIB dengan diterima oleh Kabag. Kesra Setda Banjarnegara, Drs. Wahyono, MM.
Acara penggalangan dana dengan tema "Berbuat nyata untuk sesama" ini adalah sebagai wujud kepedulian Komunitas Fotografer yang ada di Banjarnegara dan sekitarnya atas musibah yang terjadi di wilayah Banjarnegara, terutama yang menimpa Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.
Peserta acara sendiri datang dari para penghobi dan menggemar fotografi di Banjarnegara dan juga komunitas fotografer dari luar kota, seperti Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan daerah lainnya. Dalam hunting ini, pantia mendatangkan delapan model dari Inggil Production Banjarnegara, dan Embun Pagi Akustika sebagai pengisi acara.
Sebagai informasi, pada acara yang digelar selama hampir 3 jam ini, donasi yang terkumpul mencapai Rp. 12.480.600,-. Donasi tersebut berasal dari sumbangan on the spot peserta dan donasi lintas komunitas yang berkenan hadir seperti Formulasi (Forum Multimedia Edukasi), SFCI (Suzuki Forsa Community Indonesia), HPPW (Himpunan Penggemar Photo Wonosobo), Pengusaha Kampus Jateng. Juga donasi via transfer melalui rekening panitia seperti dari KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel), Jurnalis Peduli Banjarnegara dan personal yang turut merasakan keprihatinan korban bencana.
Tidak hanya itu, dukungan juga datang dari Kompo Motor Banjarnegara, Candradimuka Jeep Comunity, Dapoer Central, Entik Cafe, Warkopenyong Cafe, dan Fabian Salon.
“Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak, termasuk yang dengan ikhlas menyediakan properti untuk kepentingan hunting bareng ini,” Ujar Renda Sabita Noris selaku ketua panitia.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Posko Bantuan Logistik Pemda Banjarnegara pada hari Senin tanggal 22 Desember 2014 pukul 10.30 WIB dengan diterima oleh Kabag. Kesra Setda Banjarnegara, Drs. Wahyono, MM.
![]() |
| Bersama Mas Ahlis dari Pengusaha kampus Jateng |
![]() |
| Bersama Mas Eko Prem dari HPPW |
![]() |
| Donasi dari SFCI |
![]() |
| Penyerahan Donasi Kepada Posko Bantuan Logistik Pemda Banjarnegara |































