Tampilkan postingan dengan label explore Banjarnegara. Tampilkan semua postingan
DCF XV 2025, Sederhana dan Full Budaya
Ada yang berbeda dari
penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke XV tahun 2025 ini. Kali ini panggung
yang dibangun panitia tidak se "nyeni" tahun tahun sebelumnya, malah
lebih seperti panggung konser biasa. Tapi itulah menariknya DCF tahun ini.
Jujur, setelah sempat
"puasa" dan simpang siur kabar karena proyek penataan kawasan di
tahun sebelumnya, kembalinya DCF di Agustus 2025 kemarin itu rasanya kayak
ketemu mantan yang udah glow up. Ada rasa kangen, ada rasa penasaran,
tapi pas ketemu... ada juga rasa "lho, kok kamu berubah?".
Begini ceritanya ...
Masih mengusung
tema "Back to The Culture" seperti tahun sebelumnya,
DCF ke-15 yang digelar pada 23-24 Agustus 2025 lalu benar-benar mengajak kita
kembali ke akarnya. Lokasinya masih sama, di Dataran Tinggi Dieng, Desa
Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Hanya saja kali ini ada 4 venue yang
sama sama dilabeli "utama". Yaitu Venue Pandawa, Venue
Gatotkaca, Venue Arjuna dan Venue Komplek Candi Arjuna.
Kedengarannya berat dan
serius ya? Tapi kenyataannya, tema ini bener-bener ngubah wajah DCF yang selama
ini kita kenal.
Menurut mas mas panitia yang sempat ngobrol, hal ini
dimaksudkan agar terjadi pemerataan hiburan dan bisa mengakomodir banyaknya
kesenian yang ditampilkan pada momen itu. Sebut saja tari Ndolalak, Tari
Lengger Patak Banteng, Keroncong, Kubro Siswo, dan Kethoprak Conthong, juga
Tari Rampak Yakso, Reog Bimolukar, Kesenian Jepin, dan lain sebagainya yang
tampil menghibur masyarakat Dieng dan pengunjung tanpa harus memikirkan untuk
membeli tiket.
By the way, berikut sedikit pendapatku (dari sudut pandang pribadi tentunya) tentang hal hal yang ada di seputaran Dieng Culture Festival XV tahun 2025 yang lalu :
YANG BIKIN JATUH CINTA
(PLUSNYA)
1. Wajah Baru Dieng yang Lebih "Glowing"
Harus diakui, absennya
DCF di tahun sebelumnya demi proyek penataan kawasan itu worth it. Wajah
kawasan Candi Arjuna sekarang jauh lebih rapi. Trotoar lebih manusiawi buat
pejalan kaki (meskipun tetep aja penuh sesak pas acara), dan penataan venue
terasa lebih terkonsep. Nggak ada lagi tuh kesan kumuh yang terlalu parah di
area utama.
2. "Symphony Dieng" yang Bikin Merinding
Oke, ini poin yang tricky.
Banyak yang sedih karena format musiknya berubah (nanti kita bahas di poin
minus), tapi harus diakui, konsep Symphony Dieng kemarin itu magis
banget. Mendengar alunan lagu dari Nugie, Tiara Andini, Monita Tahalea dan orkestra
dari Gamelan Orkestra Prawiratama dari Yogyakarta di tengah suhu 5 derajat
celcius, dibalut kabut tipis, itu rasanya... ethereal. Mewah!
Aransemen musik yang
megah, lighting yang cetar membahana berpadu sama mistisnya suasana dataran tinggi bikin bulu kuduk berdiri
(bukan cuma karena dingin, ya!). Ini ngasih experience baru yang lebih
"mahal" dan kontemplatif dibanding sekadar loncat-loncat nonton
konser biasa.
3. Ritual Rambut Gimbal yang Lebih Sakral
Sesuai temanya, "Back to The
Culture", prosesi pencukuran rambut gimbal tahun ini terasa lebih khidmat.
Panitia sepertinya bener-bener mau balikin "roh" acara ini ke
akarnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya ritual ini kadang "ketutup"
sama hingar-bingar panggung musik, kemarin sorotannya bener-bener penuh ke
adik-adik rambut gimbal.
Melihat prosesi jamasan
sampai pelarungan, rasanya kita jadi diingetin lagi kalau DCF itu bukan cuma
soal hura-hura, tapi soal doa dan tradisi leluhur yang harus dijaga. Respect!
4. Pesta Lampion yang Nggak Pernah Gagal
Mau dikata cliché, mau dibilang mainstream,
momen pelepasan lampion itu tetap jadi juara. Titik. Ribuan cahaya kuning naik
pelan-pelan ke langit gelap, diiringi musik syahdu (dan ribuan story
Instagram yang di-upload bersamaan), itu tetap momen terbaik buat healing.
Romantisnya dapet, harunya dapet. Biarpun tangan beku megangin lampion, hati
rasanya anget banget.
YANG BIKIN GARUK KEPALA (MINUSNYA)
1. Tata panggung yang kok gitu ?
DCF tuh selalu identic dengan tata
panggung yang wah. Beberapa tahun terakhir panggung utama di setting sedemikian
rupa megah, nyeni dan ga pernah gagal membuat takjub, lengkap dengan setting
lampu, audio sampai asap buatannya, memanjakan tukang foto seperti kita kita.
Tahun ini, panggung
yang dibuat terkesan biasa saja dan (sori) kayak panggung dangdutan. Ga ada arsitektur
nyeninya. Dalam pikiran baikku ini mungkin karena mengusung konsep sederhana
itu tadi.
Tapi, bukankah nyeni juga
bisa dalam bentuk yang sederhana ?
Ah sudahlah ……
2. Durasi yang "Diskon" (Cuma 2 Hari !)
Biasanya kita
dimanjain sama acara 3 hari (Jumat-Minggu), tapi DCF 2025 kemarin dipadetin
jadi cuma 2 hari (Sabtu-Minggu). Efeknya? Rushed banget! Jadwal jadi
super padat. Baru nafas dikit abis nonton kirab, udah harus lari ngejar open
gate panggung musik.
Rasanya jadi kurang
puas buat explore objek wisata lain di sekitar Dieng. Mau ke Sikunir
ngejar sunrise jadi ragu karena takut telat balik buat acara inti.
Padahal kita udah jauh-jauh ke sana, pengennya sih slow living, eh malah
jadi rushing hour.
3. Ke Mana Perginya "Jazz Atas Awan"?
Ini nih yang jadi perdebatan panas
di tongkrongan traveler. Tahun 2025 ini, branding ikonik
"Jazz Atas Awan" yang santai, jazzy, dan membumi itu rasanya
agak "hilang" atau berubah drastis jadi format orkestra/simfoni tadi.
Buat penikmat lama DCF,
ada rasa kehilangan. Kita kangen duduk lesehan di rumput kering, dengerin
musisi jazz indie atau pop populer yang bikin kita nyanyi bareng santai
sambil nyeruput purwaceng. Format baru kemarin memang keren, tapi rasanya jadi
agak terlalu "formal" dan kaku. Kurang chill gitu lho, Genks.
Banyak yang bilang, "DCF tanpa Jazz Atas Awan itu kayak makan mie ongklok
tanpa sate sapi, enak tapi ada yang kurang.".
4. Masalah Sampah (Lagi dan Lagi)
Katanya "Back to Culture", yang harusnya
juga berarti mencintai alam. Tapi sedih banget pas bubaran acara lampion atau
konser, sampah plastik bekas jas hujan sekali pakai dan botol minum masih
berserakan.
Meskipun panitia udah
teriak-teriak soal "Aksi Dieng Bersih" dan nyediain tong sampah,
kesadaran kita sebagai pengunjung kayaknya masih perlu "direvolusi".
Malu dong sama lampionnya yang udah terbang cantik, masa ninggalin jejak kotor
di bawahnya?
SO, APAKAH DCF BERIKUTNYA MASIH LAYAK DITUNGGU?
Absolutely, YES.
Meskipun ada beberapa
perubahan format di tahun 2025 yang bikin kaget (terutama soal musik dan
durasi), Dieng Culture Festival tetap punya magisnya sendiri. Atmosfer
"Negeri di Atas Awan" itu nggak bisa diduplikasi di tempat lain.
Dinginnya, kabutnya, keramahan warga lokalnya, dan kentang goreng Dieng-nya
(ini penting!) selalu bikin rindu.
DCF 2025 mungkin adalah
masa transisi. Panitia dan warga lokal lagi nyari format terbaik buat
nyeimbangin antara pariwisata massal dan pelestarian budaya yang sakral.
Buat kamu yang kemarin
belum sempat ke sana, nabung deh buat tahun depan. Siapin fisik, siapin mental
buat macet, dan yang paling penting: turunkan ekspektasi soal konser hura-hura,
tapi naikkan ekspektasi buat pengalaman budaya yang menyentuh jiwa.
Sampai ketemu di Dieng
(semoga) tahun depan, dengan jaket yang lebih tebal dan hati yang lebih siap
jatuh cinta lagi!
Salam dari ketinggian
2.093 mdpl.
Dawet Ayu Banjarnegara, minuman khas yang jadi Warisan Budaya Tak benda Indonesia
Kakang kakang pada plesir (maring endi yayi)
Tuku dawet, dawete banjarnegara
Seger adem legi (apa iya)
Dawet ayu, dawete banjarnegara
Begitu sepenggal bait dari lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” yang konon diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono (dan disebut-sebut sebagai asal sejarah nama dawet ayu) untuk kemudian dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.
Wajar kalau nama Dawet Ayu kemudian di identikkan dengan Banjarnegara karena dalam lirik lagu ini memang disebutkan beberapa kali kata 'Dawet Banjarnegara'. Dalam liriknya lagu ini berkisah tentang percakapan sederhana antara adik dan kakak soal rencana pergi bepergian piknik kemana saja yang penting jangan lupa membeli dawet banjarnegara yang segar, dingin dan manis. Begitu ......
Dalam masyarakat Banjarnegara sendiri, asal muasal penamaan Dawet Ayu memang ada beberapa versi. Selain versi tersebut, ada pula versi Ahmad Tohari (dan setelah melalui penelusuran yang intensif ternyata versi Tohari ini mirip dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu) yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20. Generasi ketiga penjual es dawet ini terkenal dengan parasnya yang cantik. Dari sini mulailah orang menyebutnya sebagai es dawete wong ayu yang artinya es dawet racikan wanita cantik.
Ada juga cerita dari mulut ke mulut yang beredar di masyarakat Banjarnegara bahwa popularitas dawet Banjarnegara ini adalah berkat jasa dan dorongan mantan Presiden Soeharto saat meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica pada 1989. Disebutkan saat itu Presiden Soeharto disuguhi minuman khas Banjarnegara yakni dawet oleh ibu ibu cantik, dan kemudian Pak Harto bilang minuman ini seterusnya disebut saja dawet ayu agar semakin terkenal ke seluruh Indonesia.
Pak Harto juga menganjurkan supaya hiasan ukiran sosok Semar dan Gareng terpampang di angkringan dawet ayu. Semar Gareng atau disingkat mareng dalam bahasa Jawa artinya, musim kemarau.
“Jadi simbolnya nanti berupa Mareng, Semar dan Gareng yang menjadi penanda ajakan untuk menghilangkan rasa dahaga (kering, mareng atau kemarau) dengan meminum dawet ayu" begitu dikisahkan.
Btw, lupakan soal nama...... ingatlah soal rasa ...... halah ......
Dawet Ayu sendiri sebenarnya merupakan minuman yang unik. Keunikan es dawet ayu Banjarnegara terletak pada cita rasanya yang khas. Santan kelapa yang digunakan beraroma gurih dan tidak amis. Gula arennya juga berkualitas tinggi, memberikan rasa manis yang legit tanpa rasa pahit. Selain itu, dawetnya terbuat dari tepung beras yang diolah secara tradisional, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan lembut.
Selain cita rasanya, es dawet ayu Banjarnegara juga memiliki penampilan yang cantik. Warna hijau dari dawet dan putih dari santan berpadu harmonis, menciptakan tampilan yang menggoda. Ditambah es serut yang dingin dan serutan gula aren, es dawet ayu Banjarnegara menjadi sajian yang memanjakan mata dan lidah.
Menggoda ?
Pasti dong.......
Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara juga nggak main main lho. Dawet Ayu Banjarnegara ditetapkan sebagai ‘Minuman Tradisional Terpopuler’ dan meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 sekaligus sebagai minuman terfavorit pilihan masyarakat Indonesia pada ajang yang sama pada tahun 2021.
Pada tahun ini Dawet Ayu Banjarnegara telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2024. Sertifikat penetapan tersebut diserahterimakan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara dalam kegiatan Apresiasi Warisan Budaya Indonesia (AWBI) Tahun 2024 pada hari Sabtu (16/11).
Keren kan ?
Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara diharapkan kemudian menjadi kebanggaan dan sebuah komitmen bagi masyarakat Banjarnegara untuk terus berupaya melestarikan minuman khasnya tersebut. Selain itu juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
So, kita sebagai generasi terkini siap untuk mengemban tugas itu ?
Harus lah ....
karena kalau bukan kita, siapa lagi ??
Dieng Culture Festival XIV 2024, Back to The Journey
Dieng Culture Festival kembali digelar dengan mengusung tema Back to The Journey, acara budaya tahunan yang ditunggu tunggu (karena tahun 2023 ga ada) ini akhirnya dilaksanakan di Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng, Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 23-25 Agustus 2024 yang lalu.
Wait.....Dieng kulon ? Banjarnegara ?
Yes. Sekedar menjelaskan saja, KWDT Dieng terutama lokasi utama tempat adanya Candi dan Telaga itu terbagi menjadi 2 wilayah. Desa Dieng Kulon masuk wilayah Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Desa Dieng Wetan yang masuk wilayah Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Namun karena akses yang lebih mudah dan jarak yang lebih dekat dengan pusat kota, Dieng lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Dieng Wonosobo (56,6 km via Kejajar vs 26 km via Karangkobar)...... meskipun faktanya sebagian besar wilayah di pusat wisata Dieng masuk desa Dieng Kulon. gitu .......
Kembali ke DCF ya .....
Dieng Culture Festival XIV tahun 2024 ini sesuai temanya memang mengusung konsep yang agak sedikit berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini ada lebih banyak acara diluar acara inti seperti Upacara Ruwat Rambut Gembel, Jazz Atas Awan, Senandung Atas Awan, Festival Lentera dan Lampion, seperti Kontes Domba Batur, Gebyar Damar Kurung, Sendratari Anak Gembel, Pertunjukan Seni Tradisional & Festival Caping Gunung, Festival Kopi Pegunungan Dieng, Festival kuliner dan bazar produk kreatif/UKM serta Dieng Bersholawat. Komplit.....
Khusus Kontes Domba Batur, acara ini sebenarnya sudah diselenggarakan sejah DCF sebelumnya. Namun ada yang berbeda kali ini yaitu adanya beberapa ekor domba batur yang diletakkan di luar kandang dan langsung bisa disentuh dan diberi makan oleh pengunjung. Sesuatu yang sangat menarik terutama bagi pengunjung anak anak dan pengunjung yang berasal dari luar kota. Apalagi domba batur adalah domba langka di Indonesia yang mungkin tidak akan dijumpai di daerah lain.
Seperti biasa, dari semua acara tersebut yang paling ditunggu pengunjung (baik yang beli tiket maupun nggak beli) adalah pertunjukan Jazz Atas Awan dimana selalu menghadirkan konser musik dari sejumlah musisi ternama Indonesia dan menampilkan lagu lagu andalannya di tengah suhu dingin Dieng.
Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini, musisi Tanah Air yang tampil pada konser Jazz Atas Awan antara lain Danilla Riyadi, Parade Hujan, ditutup oleh Pradikta Wicaksono. Penampilan mereka cukup sukses menghibur pengunjung meskipun banyak juga yang kecewa karena penyusunannya terkesan anti klimaks. Namun kekecewaan itu menjadi hilang ketika kode pelepasan lampion sudah dikumandangkan oleh pembawa acara.
Dengan aba aba dari MC di panggung ribuan lampion beraneka warna dilepas ke udara untuk kemudian menghias langit dengan warna merah, hijau dan oranye, pemandangan cantik di atas langit Dieng itu seperti biasanya selalu berhasil memukau sekitar 6000 pasang mata yang sedang menikmati suasana. Sebagai informasi, lampion DCF berbentuk unik karena cenderung bulat (berbeda dengan lampion Borobudur yang cenderung kotak memanjang) dan lampion tersebut tidak bisa terbang terlalu tinggi alias tidak dirancang bisa bertahan lama di udara. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu lintasan penerbangan dan merusak lingkungan.
Asik, syahdu dan jelas meninggalkan kesan mendalam di setiap momennya.
itulah Dieng Culture Festival yang selalu tidak akan membosankan .......
By the way, kalo dari pengamatan pribadi, penyelenggaraan secara umum DCF kali ini relatif jauh lebih baik dan tertata dari penyelenggaran sebelumnya. Terlihat dari penukaran tiket, tata kelola venue, jalur pengunjung dan tamu undangan, kantong kantong parkir, kebersihan dan sebagainya.....
Oke.... kita ceritain satu persatu ya.
Ticketing area dan sekretariat panitia
Kali ini tempat penukaran tiket dan sekretariat panitia sudah lebih tertata dan rapi. Bahkan bisa dikatakan paling baik, karena disamping mudah ditemukan (ada di jalur masuk ke komplek Pendopo Soeharto Withlam dan parkiran candi arjuna), juga alur penukaran tiketnya sudah dipersiapkan dengan baik, dilayani banyak panitia dan voulentir, juga tepat berada di depan sekretariat yang menggunakan aula putih (bangunan yang merupakan gedung serba guna ini juga baru jadi lho gaes.....), lengkap dengan fasilitas kamar mandinya dan tempat yang luas untuk semua kegiatan kesekretariatan).
Sekretariat juga merupakan gedung serba guna dimana ruangannya cukup luas dengan fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Bahkan masih ada space untuk tempat istirahat panitia serta volunteer bahkan agen biro wisata yang kecapekan karena padatnya acara.
Jalur Pengunjung dan Tamu Undangan dan Tata kelola Venue
Untuk yang satu ini, harus diakui bahwa gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini yang paling de best. Sebab semuanya direncanakan dengan matang dan berdasar pada pengalaman penyelenggaraan sebelumnya.
Bagaimana tidak ? pada tahun ini jalur pengunjung dan jalur tamu undangan dibuat sedemikian rapi dan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang selalu membuat tamu VVIP pun kurang merasa nyaman.
Jalur tersebut dibuat melewati semua venue yang disediakan oleh panitia. Mulai dari masuk komplek candi arjuna, kemudian melewati jalur candi setyaki, venue pojok UMKM Banjarnegara, venue eKraf Banjarnegara baru kemudian masuk ke venue utama tempat digelarnya Jazz Atas Awan. Apik.
Selain itu, jalur pejalan kaki pengunjung dibuat semenarik mungkin dengan berbagai ornamen festival yang khas Dieng lengkap dengan pencahayaan dan tata lampu yang estetik. Bahkan ada juga spot pameran foto dan logo penyelenggaraan DCF dari waktu ke waktu, yang membuat pengunjung seakan dibawa kembali kepada memori Dieng Culture Festival yang sudah berlalu.
Kebersihan dan Kantong Parkir
Yes.....
indikator yang terakhir ini menjadi satu hal yang sangat jelas terlihat bedanya pada gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini. Kemacetan yang selalu menjadi "momok" pengunjung setiap tahun ternyata sangat berkurang karena pengelolaan kantong kantong parkir yang sangat efektif. Banyak kantong parkir disediakan oleh panitia bekerjasama dengan masyarakat Dieng yang mampu menampung ratusan kendaraan pengunjung sekaligus mengurangi parkir di pinggir/bahu jalan yang selalu menjadi "penyakit" pada tahun tahun sebelumnya.
Terkait dengan parkir, permasalahan kebersihan yang biasanya juga menjadi "cacat" di setiap kantong parkir dan sudut sudut Dieng juga ikut terselesaikan. Khusus kebersihan, kali ini banyak sekali volunteer persampahan (hebatnya mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia lho) yang dengan sigapnya menjaga kebersihan.
Hebat
Pesta Ondol di Festival Kuduran Budaya Wanayasa
Pernah dengar Festival Kuduran Budaya Wanayasa ?
Masing asing ?
Banyak temennya kisanak …..
Festival Kuduran Budaya merupakan pesta rakyat buah dari
kreatifitas seniman muda Wanayasa dan sekitarnya, yang mana Wanayasa sendiri
merupakan salah satu daerah di bagian utara kabupaten Banjarnegara yang berupa
pegunungan dan memiliki komoditas utama dari bidang pertanian.
Masih asing ?
Kalau kalian tahu Dieng kan ?
Nah Wanayasa ini merupakan wilayah pendukung Dieng, berada
di jalur Pekalongan – Dieng via Kalibening. Kalau dihitung dengan waktu tempuh
sekitar 20 menit dari Dieng menuju ke arah Pekalongan.
Masih belum tahu ?
monggo pake aplikasi Google maps aja ….. hehehe …..
Lanjut ya,
Jadi gini ….. saking eratnya hubungan masyarakat di daerah
ini dengan salah satu komoditas pertanian yaitu singkong, mereka sampai menjadikannya
perlambang kemakmuran dan kerukunan. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya pesta
rakyat dengan bahan baku utama singkong pada setiap panen rayanya.
Menurut mas mas panitia yang mau dimintai keterangan,
Kuduran Budaya punya sejarah dan kandungan semangat yaitu suatu momentum dimana
dulu Lurah mengajak semua wargannya untuk bersama-sama gotong royong dan
bahu-membahu membangun desa, menghidupkan desa, atau menjadikan desa sebagai
sumber yang memenuhi kehidupan jiwa dan kultural warganya.
Oke skip …….
Kita Kembali ke Festival Ondol ……
Pada Festival Kuduran Budaya tahun 2023 ini, acara diawali
dengan kegiatan memanen-cabut (mbedul) umbi singkong (tela) yang
diselenggarakan di Desa Wanayasa, tepatnya di Lapangan Desa Wanayasa setelah di
tahun-tahun sebelumnya sempat dilakukan di Desa Dawuhan dan Desa Tempuran.
Alasannya Ondol sebagai jajanan desa ingin dimaknai dan dilekati dengan
nilai-nilai positif oleh kelompok yang menggagas dan mengadakan festival seni
budaya lokal ini Seniman Muda Wanayasa (Sendawa) sebagai ajang
kerukunan Masyarakat antar desa di wilayah Wanayasa.
Acara utama Kuduran Budaya adalah Bentang Ondol
1.000 meter. Ondol adalah jajanan bulat sebesar bakso terbuat dari
singkong dan rasanya asin gurih. Biasa disajikan atau dijual dengan ditusuk
seperti sate, dan untuk satu sindik bambu terdiri atas 17 ondol. Menurut
Panitia, angka 17 tersebut bermakna 17 desa di Kecamatan Wanayasa dan 17 rakaat
sholat dalam sehari
Selain bentang Ondol 1.000 meter, Kuduran Budaya tahun ini
juga diramaikan dengan berbagai kegiatan yakni Wedding Vaganza, Peragaan Busana
Pengantin, penampilan Musik, Lomba Mewarnai, Sedekah Nada, dan Seribu Plendungan
yang dilaksanakan pada hari Sabtu, (23/09/2023) dan kegiatan mBedul Tela,
Goreng Ondol, Arak Ondol, Bentang Ondol Sewu Meter, dan Tumpengan yang
berlangsung di hari Minggu (24/09/2023)
Yang menarik dari festival ini adalah kekompakan masyarakat Wanayasa dan sekitarnya yang luar biasa. bayangkan saja, ribuan orang terlibat langsung dalam acara ini. Tua muda, laki laki perempuan, semua bekerjasama demi kesuksesan acara.
Di salah satu gang desa, puluhan ibu ibu berjejer membentuk kelompok masing masing dengan tugas yang berbeda. Ada yang mengolah ketela, ada yang membentuknya menjadi bulat, ada yang menggoreng, ada yang menusuknya menjadi sate ondol, ada juga yang kemudian menyusunnya menjadi gunungan ondol.
Di jalan raya bapak bapak dan pemuda menyiapkan karnaval mengarak gunungan ondol keliling desa yang kemudian akan berakhir di Lapangan desa Wanayasa. Disana, ribuan masyarakat sudah berkumpul untuk acara puncak festival ini.
Acara puncaknya apa ?
Tonton aja langsung deh di festival kuduran wanayasa tahun depan ....
Karena acara ini terlalu sayang untuk dilewatkan dan terlalu indah unutk diceritakan tanpa terlibat sendiri didalamnya ........ hehehe .......
Mbok Brendung, boneka cantik penuh magis pemanggil hujan
![]() |
| Foto by Toha Trend - KPFB |
![]() |
| Foto by Toha Trend - KPFB |
Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana
Dieng membeku lagi !!
Yes, beberapa hari terakhir aplikasi stasiun cuaca dieng menunjukkan grafik penurunan suhu yang terus menerus. Sehingga puncaknya fenomena embun es ini terjadi Kamis (30/6/2022) kemarin, dengan berpusat di dalam kompleks Candi Arjuna, Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.
Embun es atau warga Dieng menyebut bun upas yang bisa membuat daun layu hingga tanaman mati kali ini lebih tebal dibandingkan yang sebelumnya karena suhu mencapai minus 1,25 derajat Celcius ! dan merupakan suhu paling rendah di tahun 2022 lho.
Dingin ? Jelasss
Menurut seorang kawan yang menjadi pecinta sejati Dataran Tinggi Dieng (hingga dijuluki sebagai Demang Dieng), Aryadi Darwanto, sebenarnya tanda-tanda kemunculan embun es di Dieng bisa diamati sebelumnya lho :
- Cuaca pagi sampai sore hari pada hari sebelumnya cerah. Dan cenderung "hangat" untuk ukuran cuaca di Dieng.
- Pada malam harinya tidak ada angin, langit cerah. Jika ada angin suhu akan naik dan embun es tidak akan terbentuk.
- Embun es bisa terbentuk kapan saja (malam hari) asal suhu udara sudah turun, sekitar 4'C
- Liat aplikasi Cuaca Dieng , jika pada sekitar jam 23.00 WIB sudah menunjukkan suhu udara 4'C dan terus turun, berarti proses pembentukan embun es sudah dimulai.
- Embun es dapat di lihat sampai pukul 07.30 di sekitar Candi Arjuna, Candi Setyaki Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.
![]() |
| Photo by. Aryadi Darwanto |
saat fenomena embun upas terjadi, suhu udara cenderung lebih dingin, oleh karena itu sangat disarankan kalian memakai baju tebal, seperti jaket. Jaket tidak harus memakai jaket gunung, tapi yang penting jangan jaket wool atau jeans. Demi mengurangi rasa dingin saat melihat embun upas, kalian juga bisa memakai sarung tangan, kaus kaki, dan topi kupluk (yang menutup sampai telinga) agar hangat.
Memakan hidangan yang hangat (terutama karbohidrat) saat suhu udara berada di posisi minus bisa membuat tubuh terasa lebih baik. Cocok juga untuk mengganti sumber panas yang hilang karena udara dingin, sukur membawa sendiri bekal yang hangat. Jikapun tak sempat membawa makanan hangat, bisa juga membelinya di warung yang ada di dekat tempat melihat embun upas. Tapi hati hati lho, makanan dan minuman disana akan terasa jauh lebih dingin daripada suhu aslinya, sehingga kalau terburu buru dan tanpa strategi mulut dan lidah akan terbakar dan baru terasa ketika kita sudah turun gunung nantinya.
Karena proses pembekuan sering terjadi mulai dini hari, maka ada baiknya kalau datang ke Dieng (selain yang menginap lho ...) sekitar jam 3 - 5 pagi. Alasannya adalah agar sempat "ketemu" bun upas itu. Sebab biasanya "salju" tidak akan bertahan lama. Ketika matahari sudah mulai terbit dan bersinar terang pada pukul 05.30 WIB, butiran es yang muncul akan segera mencair dan hilang.
Pada bulan Juli - September yang masih masuk dalam musim kemarau, sebab pada musim kemarau semua hal yang dibutuhkan untuk terbentuknya bun upas terjadi. So, agendakan ke Dieng untuk tahun depan ya
Udara dingin dan cuaca ekstrem di alam bebas seperti yang terjadi di Dieng memang terasa membuat tubuh sulit bergerak – atau setidaknya membuat tubuh malas untuk bergerak banyak. Padahal hal ini adalah salah satu jalan menuju ke hipotermia. Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit serta gejala mematikan itu – pastikan kalian tetap bergerak atau bahkan memperbanyak gerak tubuh dan mencoba membiasakan diri dengan udara yang sedingin itu.
Semakin berkembangnya teknologi juga sangat membantu kita untuk memantau perkembangan suhu dan kondisi cuaca di Dieng. Salah satunya dengan menggunakan Aplikasi Cuaca Dieng yang bisa diunduh di Apps Store
Baritan Dieng Kulon, warisan budaya yang semakin tidak terlirik dan mulai terlupakan
Belum ?
Wajar........ kaum milenial........

Wait......Dieng ?
Yes....... Bener sekali.
- Penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dan kepala tepat di titik tengah desa oleh sesepuh desa, dan anehnya apabila digali lagi tulang belulang kaki dan kepala pada proses baritan tahun sebelumnya ga pernah ada....... padahal secara logika harusnya masih kan..........
- Dilakukan semacam doa bersama dan grebeg makanan di 7 perempatan desa Dieng Kulon
- Selamatan berupa acara makan bersama yang dilakukan oleh semua warga desa bertempat di kediaman salah seorang sesepuh desa dengan menu utama daging wedhus kendhit yang sudah disembelih pada pagi harinya. Dan sebagai informasi, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir......... wow kan.......
- Disediakan 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan.
Festival Rawa Pusung Jilid II : Banyak perbaikan sih, tapi ........
Event tahunan yang baru dua kali diselenggarakan secara besar di Desa Beji Kecamatan Pejawaran kali ini berlangsung selama tiga hari hari, yaitu hari Jumat sampai Minggu 20-22 September 2019 kemarin dan berhasil memukau ribuan pengunjung di sana lho. Suwer.......
Beda dengan tahun kemaren yang acaranya padat banget pada hari sabtu dan minggunya, tahun ini rangkaian acara agak sedikit diperlonggar gaes.....
Prosesi baritan dan wayang ruwat plus pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar pada hari jumat. Hari sabtu dikhususkan untuk pementasan kesenian warga plus kuda lumping dan kesenian Jepin sedangkan hari Minggunya hanya untuk fokus pada puncak acara yaitu pemotongan rambut gimbal si anak bajang. Sekedar informasi, kalau tahun sebelumnya ada tiga anak bajang yang dipotong rambutnya, kali ini hanya ada dua bocah yang ikut yaitu Nadia Ulfa (5 th) dari Desa Babadan Kecamatan Pagentan dan Syifa Muasafah (9 th) dari Dusun Genting, Desa Beji.
Masih seperti tahun sebelumnya, rangkaian prosesi puncak yaitu cukuran rambut gembel diawali dengan cara proses pengambilan air di Rawapusung dimana air tersebut akan digunakan untuk upacara jamasan si anak bajang. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi warga yang berpakaian adat Jawa lengkap dengan menggunakan kendi dan batang batang bambu.
Setelah upacara jamasan, sekitar pukul 11.00 WIB, prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. Syifa dan Nadia diarak menggunakan tandu mengelilingi desa dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir untuk menuju Embung Rawapusung, tempat pelaksanaan pemotongan rambut.
Nah, pas proses arak arakan ini ada beberapa hal yang kayaknya perlu jadi bahan evaluasi gaes.
saking antusiasmenya warga, mereka menggerombol di kanan kiri jalan desa plus ikut dalam rombongan. tapi ..... mereka ga pakai kostum adat gaes........
jadi hasil jepretan foto untuk acara ini bisa dipastikan ambyar......... kan fak banget...............
hehehe.............
Selanjutnya, pada saat sudah ada di lokasi pemotongan, ga ada koordinasi antara pembawa acara sama korlap yang ada di sana. hasilnya, sambutan yang awalnya hanya ada dua yaitu kades dan bupati dalam pelaksanaannya jadi empat, ketua panitia dilanjut kades, camat dan bupati.....
DAMN !!
Bosen gaes.......
Panas juga .... polll........
Emang sih dalam sambutannya, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, menyampaikan beberapa hal yang bikin adem dan girang warga setempat, salah satunya adalah mengucapkan rasa bangganya bahwa desa Beji mampu menyelenggarakan event yang cukup besar seperti itu. Bupati bahkan berharap agar bisa menjadi inspirasi bagi desa desa lainnya dan bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.
"Yang jelas saya salut, event ini sangat bagus dan kreatif," kata Bupati.
Selain itu yang paling ditunggu warga adalah statement Bupati untuk membangun infrastruktur menuju ke desa yang notabene terpencil ini pada anggaran pemerintah tahun depan dan tentu saja hal ini disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengunjung yang hadir.
"Tahun 2020 nanti dari Beji sampai Kecamatan Pagentan via Tegaljeruk akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar,"
Wow ya ??
hemm............
Hihihihi..........
Nah hal yang paling krodit (dan paling mengecewakan saya pribadi) dari pelaksanaan Festival Rawapusung tahun ini adalah pada prosesi intinya. Pas prosesi ini panitia (dalam hal ini entah siapa yang ikut ngatur di deket MC) mempersilahkan seluruh anggota rombongan pejabat untuk ikut ke tengah embung (lokasi pemotongan)...... padahal kecuali bupati, yang lain kan ga berkepentingan.......
umpel umpelan alias penuh sesak gaes.
DAN FOTONYA AMBYAR tentu saja........
Sedikit curhat sih, sebenarnya kalau mau sebuah acara terpublikasi dengan sukses berkompromilah dengan para fotografer yang ada dilokasi ........ tapi hal itu kayaknya emang nggak (atau bahkan sama sekali TIDAK) dipahami oleh panitia kegiatan budaya semacam ini yang rata rata adalah kaum kesepuhan ..... orang tua....... hahahaha
Pada umumnya mereka akan mementingkan bagaimana caranya "menyenangkan" dan "menghormati" tamu penting (apalagi pejabat) yang hadir tanpa memperhatikan sisi lain yang sebenarnya jauh lebih penting........
Sebagai contoh, di festival kemarin beberapa orang pejabat dengan pakaian non adat plus topi dipersilahkan untuk menemani pak camat (yang menggunakan baju adat lengkap dengan blangkon) memotong rambut salah satu anak bajang....... lha ini kan 100% bikin keki para fotografer yang berjejer di lokasi.........
Hasil fotonya ?
aSudahlah........
By the way, diluar hal hal tadi pada peyelenggaraan kali ini banyak perubahan positif kok. banyak perbaikan perbaikan di segala sisi. Mulai dari penataan lokasi, inovasi acara sampai dengan acara "klangenan" para fotografer, Jepin.......
Beda dengan tahun kemarin, pementasan jepin kali ini lebih asik dan fun. Para pemain yang mengalami trans alias kesurupan pun bermain api lebih asik..... dan yang pasti hasil foto teman teman fotografer jadi memuaskan........
Menarik bukan ?
Semoga tahun depan festival ini masih ada dan digelar dengan semakin baik ya gaes...... biar kesenian dan kebudayaan di desa ini tetap lestari, nggak pernah mati ........



























%20copy.jpg)








