Posted by : ngatmow 6.21.2020

Setelah sekian lama pasif dan seakan mendekati pensiun, akhirnya saya kembali lagi memberanikan diri untuk menggendong tas ransel berjalan nanjak beberapa jam dengan menahan dingin khas naik gunung.


Yes ........saya naik gunung gaesss.....

Dan kali ini kembali ke gunung prau lagi.........
Sebab selain saya pikir bahwa naik gunung isi masih ramah sama pendaki uzur, ramah kepada dengkul kaki, juga Gunung Prau memang selalu ngangenin...... Sekali kita naik, perasaan pingin naik ke sini akan seterusnya menghantui jiwa raga dan pikiran.....halah......


Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim). 

Jalur Dwarawati menurut saya yang berbodi bulat ini ga begitu berat (sebab memang dari awal sudah request dipilihkan alternatif jalur pendakian yang ramah mbah mbah......... hahahaha........) dan secara otomatis akan terasa sangat tidak menantang alias mudah banget buat yang berbodi slim dan ringan. Secara jarak tempuh sih memang cukup lumayan, dari posisi start di sebelah Candi kita akan berjalan nanjak sejauh kurang lebih 2 kilometer dengan kondisi jalan yang banyak "bonus" alias cukup landai dan tidak begitu menguras  tenaga. 

Tapi jangan terlalu percaya pada saya semudah itu kisanak ........ sebab saya sendiri mengalami kondisi 10ss alias 10 steps stop aliasnya lagi setiap sepuluh langkah saya berhenti untuk mengatur nafas ....... hehehehe.....

Menurut info yang beredar luas, waktu tempuh untuk mencapai puncak Prau melalui jalur ini adalah 2-3 jam saja (itu pun sudah dihitung perjalanan orang orang berkelebihan macam saya). sementara untuk jalur pendakian via Patak Banteng jauh lebih cepat namun dengan tingkat kesulitan dan trekking yang lebih berat pula. 

Tapi kedua jalur ini beda puncak lho sodara sodara .......

lho kok ?

Yes...... Gunung Prau punya 2 puncak utama dengan pemandangan yang sama sama menawan dan sulit terlupakan. halah.....
Jalur pendakian via Dieng punya puncak sendiri dengan view ke arah selatan dan barat (sangat bagus untuk memotret sunset), sedangkan Jalur pendakian via Patak Banteng punya puncak dengan view menghadap Timur persis ke arah deretan gunung eksotis seperti Sindoro, Sumbing, Kembang bahkan Merbabu dan Lawu. Spot Sunrise dong....... Yes....betul sekali.......


Bisa dilihat di peta, jarak dari Puncak 1 dan Puncak dua sekitar 1,45 kilometer, dengan trek sangat landai bahkan cenderung datar  dan waktu tempuh yang dibutuhkan pun hanya sekitar 45 - 60 menit. Sebab kita akan berjalan di sebuah padang rumput yang dinamakan Telaga wurung (Telaga Gagal). 

Lokasi ini sangat asik sodara sodara..... bayangin aja, kita berada di sebuah padang rumput yang luas dengan bukit penuh rumput berembun es ga begitu tinggi mengapit di sisi kanan dan kiri...... sunyi, sepi dan syahdu..... tapi juga ngeri ..........apalagi kalau ditambah berimajinasi hihihi............. 

saya saja sampai membayangkan kalau tempat ini digunakan untuk shooting film kolosal dimana perang besar terjadi dan komandan dari kedua pihak hanya memandang pasukan mereka saling bantai dari kedua bukit yang mengapitnya..... amazing pokoknya......

Pas perjalanan turun, setelah Pos 3 dan puncak menara, ada satu tempat yang sangat khas dengan Gunung Prau dan menjadi favorit para pendaki. Yaitu lokasi dimana hutan Cemara dengan akar pohon  muncul di permukaan tanah dan membentuk tekstur sangat menarik karena saling mengikat satu sama lain di permukaan tanah, lengkap dengan lumut khas ketinggiannya. 
(Kalo di jalur ini) tempat itu dinamakan "Akar Cinta"

Kenapa akar cinta?
Menurut Mas Demang Dieng, Aryadi, tempat itu dinamakan akar cinta karena akar akar di lokasi itu saling terjalin satu sama lain dan lokasinya yang menyajikan pemandangan yang sangat indah. Cocok untuk bercinta....... ehhh.........

By The Way,  sesuai dengan rumus para pendaki, waktu tempuh untuk turun adalah 1/3 dari waktu tempuh untuk naik, perjalanan turun lewat jalur ini hanya 1 jam saja sodara sodara.......
Cepet ya ? padahal jalannya pelan pelan dan menyesuaikan dengan kondisi badan. Bulat........ takut jatuh dan menggelinding turun hehehe......

Pengen nyoba kan ? Sok atuh..... kapan mau naik ke sini ?
Tapi mohon sabar ya ..... nunggu pandeminya bubar..... hehehe......







Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Instagram

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow