Posted by : ngatmow prawierow 7.14.2012

Malam itu Thomas Fatah sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya yang bulat hanya bisa bergelintingan kesana kemari di tempat tidur reotnya sehingga menimbulkan suara gemercit yang berisik.

Perutnya berbunyi lagi pertanda protes kepada tuannya kenapa sampai selarut ini belum diisi sama sekali. 

Disaat yang mulai kritis, tiba-tiba terdengar suara yang sangat akrab di telinga Thaomas.... ting.....ting.....
ting.....

"Bagus.... itu dia yang aku tunggu" soraknya bersemangat sambil baranjak bangun dari pembaringan.

Gerobag Mie ayam yang berwarna biru muda itu sebenarnya biasa-biasa saja.tapi entah kenapa banyak sekali warga di perumahan tempat Thomas tinggal menyukainya dan bahkan rela menunggu selama berjam-jam demi menikmati semangkok mie ayam hangat.

"Jan..... nggak ngerti ditunggu ya pak Tamyis?" seru Thomas kepada lelaki setengah baya penjual mie ayam itu.
"Waduh sori mas bos, dari tadi saya ngetem di perempatan gang nangka. Alhamdulillah banyak yang beli. Gimana nih ? pesen berapa?" jawab lelaki yang dipanggil pak Tamzis itu.
"owh..... ya dong pesen semangkok dulu. Seperti biasa ya, kering ga pakai kuah"
" Oke siap mas bos...." sahut pak Tamzis sambil dengan cekatannya menyiapkan semangkok mie ayam pesanan Thomas.

Sudah beberapa bulan terakhir Thomas memang sering sekali makan malam mie ayam buatan pak Tamzis. Disamping rasanya enak, orangnya pun sangat ramah dan enak dijadikan teman ngobrol. Wawasannya sangat luas bahkan mungkin nggak kalah dengan Thomas sendiri yang notabene adalah seorang pegawai negeri.
Dan selama itu pula Thomas menyimpan sebuah tanda tanya besar terkait kebiasaan yang dilakukan penjual mie ayam langganannya ini setiap kali dia membayar. Pak Tamzis selalu memisahkan uang yang diterimanya. Ada empat tempat dimana lelaki itu menyimpan uang hasil jualannya. Laci, kaleng, kotak kayu dan dompet.


"Pak maaf nih mau tanya, selama ini saya perhatikan kalau terima bayaran mie ayam mesti uangnya dipisah-pisah, kenapa sih pak ?" tanya Thomas nekad bertanya.
"Owh anu mas bos, saya cuma  ingin memisahkan hasil yang saya dapat untuk tujuan dan cita-cita saya kok. Yah maklum lah mas bos, orang kecil seperti saya kalau nggak begini ya kapan bisa maju ?"
"Lha emangnya apa cita-cita sampeyan pak?" tanya Thomas tambah penasaran.
"Jadi begini mas bos, tujuan sayamenyimpan di beda tempat salah satunya memang untuk keamanan saya. Jadi kalau ketemu dengan orang jahat kan paling saya kasih dari satu tempat penyimpanan saya masih punya tiga tempat lagi.....iya to ?"
"Hem bener juga ya, lha selain itu tujuannya apa pak?"
"Kalau itu sih sebenarnya demi menabung saja mas bos. Menabungnya adalah untuk 4 kepentingan besar saya. Satu kepentingan hidup sehari-hari, dua untuk kepentingan masa depan anak saya, tiga untuk kepentingan akhirat saya dan yang terakhir untuk kepentingan ibadah saya mas"
"Maksudnya pak ?"
 "Begini mas bos, seperti yang sampeyan lihat uang hasil jualan emang saya pisah ke empat tempat dengan porsi yang berbeda.
- Laci, dengan jumlah yang paling sedikit adalah untuk tabungan pendidikan cucu saya kelak mas. Biaya pendidikan sekarang sudah semakin mahal. Dan tentu saja akan menjadi berlipat ganda sepuluh tahun lagi. Sekarang cucu saya masih berumur 2 tahun. senagkan bapaknya sendiri masih bekerja serabutan di luar kota. harapan saya semoga besok pada saat cucu saya memasuki usia sekolah, saya sudah punya cukup uang untuk membantu biayanya.
- Kaleng, jumlahnya agak lebih banyak dari yang saya masukkan laci. Tujuannya adalah untuk tabungan sodaqoh atau sedekah saya mas. Kata pak ustadz kalau kita mau bersedekah meskipun kita juga dalam keadaan susah insyaalloh rejeki kita akan lancar dan akan selalu mendapatkan bantuan yang tidak terduga dari Allah SWT
- Dompet, kalau yang ini memang jumlahnya lumayan banyak, yaitu untuk keperluan hidup sehari-hari mas. Selain itu kalau saya tidak mengalokasikannya dalam jumlah besar bagaimana saya bisa belanja buat dagang besok sore ?"


Sejenak lelaki setengah baya itu terdiam. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang mengalami kelelahan yang luar biasa. Namun dengan senyumannya dia berusaha menutupi kelelahan itu dan mengalihkannya entah kemana.
"Lha yang terakhir pak? kan baru tiga tempat itu ?" tanya Thomas semakin penasaran.
"Hehehe....kalau yang terakhir saya sebenarnya malu mas bos. Malunya adalah seperti tidak mungkin tapi itu adalah cita-cita kuat saya yang saya akan berusaha dengan sekuat hati untuk bisa mewujudkannya."
"Apa itu pak ?
"Kotak kayu itu adalah usaha saya untuk bisa memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci mas bos. Sya pengen haji. Meskipun entah kapan bisa terpenuhi dan cukup dananya, yang penting saya akan terus berusaha ke situ mas. Harapan saya sih tahun depan saya sudah bisa mendaftar haji.....insyaalloh....."

Degg ..... Thomas terdiam seribu bahasa mendengar jawaban penjual mie ayam itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang terkadang dipandangnya dengan sebelah mata itu ternyata mempunyai kebesaran hati dan cita-cita yang sangat luar biasa. 180 derajat dengan para anggota yang terhormat yang setip hari ditemuinya di kantor.

"Kenapa mas bos ? kok jadi diam? " tanya lelaki setengah baa itu kepada Thomas yang sedang takjub.
"Ah enggak pak, saya hanya kagum sama bapak. Bahkan hal seperti itu belum saya pikirkan sama sekali. Bapak hebat. "
"Bukan seperti itu mas, saya hanya berusaha bersikap realistis saja dengan keadaan yang saya alami. Saya hanya berharap dan berusaha selalu optimis bahwa Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik untuk ummatnya yang mau berusaha, berusaha, dan berusaha. "


Dan Thomas pun terdiam seribu bahasa.
Pikirannya melayang jauh entah kemana sampai akhirnya dia sadar bahwa dia sudah merenung di dalam kamarnya, diatas pembaringan reotnya sampai adzan subuh berkumandang hari ini………..


Comments
1 Comments

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. inspiratif dan menyentuh sekali...sungguh menampar muka saya mas..

    BalasHapus

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow