Posted by : ngatmow prawierow 7.26.2012

Ironi.....
Tragedi....
Penderitaan.....
Pesta pora.....

Berawal dari membaca artikel berjudul " Negeri SBY, Memalukan (marah) krisis tempe" tulisan saudara Amaludin pada Kompasiana, hampir aku seharian berada di depan layar monitor membaca berita-berita teraktual surat kabar elektronik di internet tentang negeri ini, Indonesia

Sumpah aku semakin nggak ngerti dengan negeri ini. Negeri yang sebenarnya aku cintai namun lambat laun semakin membuatku muak dan benci. Kenapa tidak ? lihat saja di setiap pelosok dan disetiap sisi hidup kita sekarang ini penuh dengan kemunafikan, kebodohan, kebohongan, kebencian dan bahkan keserakahan.

Ada beberapa hal yang mendasari aku untuk mengungkapkan perasaanku seperti diatas tadi, muak..... dan itu antara lain berada di sekitar kita setpia harinya... Apa saja ? 

  • Hampir Semua orang tentu saja setuju bahwa apa yang disebut sebagai wakil para rakyat adalah justru musuh dalam selimut terbesar rakyat kecil..... bukan dari sisi tugas dan kewajibannya sebagai mana mestinya, melainkan dari tingkah polah dan kelakuan mereka yang seperti babi (menurutku tikus jauh lebih keren dibandingkan dengan babi....)
  • Hampir Semua orang setuju bahwa di negeri ini yang menyebabkan timbulnya perpecahan dan pengkotakan masyarakat adalah justru Partai Politik yang tumbuh subur dan menjamur dengan slogan bohongnya "Selalu mengedepankan, mendorong dan memperjuangkan kepentingan rakyat....".
  • Hampir Semua orang setuju bahwa terjadi kemunduran dan stagnasi di segala bidang kehidupan di negeri ini. Dan semua itu umumnya terjadi karena adanya kemunduran rasa patriotisme terhadap negara dan majunya fanatisme lokal tanpa ada inisiatif apapun dari si pemilik negeri untuk mencarikan jalan keluarnya
  • Hampir semua orang setuju bahwa pemerintahan di jaman ini adalah pemerintahan abal-abal. Maksudnya pemerintahan yang tidak serius memenuhi kewajibannya sebagai pengayom masyarakat tetapi lebih mementingkan pencitraan dan  angka tertulis diatas kertas mengenai pembangunan dan kemajuan bangsa (padahal pada kenyataannya angka-angka tersebut sangatlah jauh berbeda dengan kondisi masyarakat di dunia nyata).

Ah.......Entahlah mau seperti apa bangsa ini kelak andai saja semua manusia yang bertugas menjaganya bertambah "pintar" saling menjatuhkan, saling menghina dan saling menyalahkan.

Ada satu kasus yang belum lama terjadi namun menjadi paling "memalukan" menurutku soal bangsa ini  adalah pada saat penentuan awal puasa Ramadhan ini....
bagaimana tidak, puasa Ramadhan sudah beberapa tahun terakhir selalu terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan ormas Islam tertentu. Pada pelaksanaan sidang isbat yang seharusnya menjadi "musyawarah besar" untuk menentukan awal puasa malah terjadi perang mulut dan adu gengsi antar mereka yang mengaku sebagai ulama dan tokoh agama.
Bahkan yang lebih lucu lagi adalah ada seorang pakar ilmu falak dari salah satu ormas yang mrndukung pemerintah itu malah justru menentang hasil isbat dan mempertanyakan hasil sidang isbat tersebut. Mbah Munir (beliau biasa disapa) menyesalkan mengapa dalam pengamatan rukyat hilal ada salah satu jemaah di Cakung yang sempat melihat hilal bahkan disumpah tidak dijadikan bahan dan dasar untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1433 H.
"Politik dan gengsi. Mengapa sudah melihat bulan saat rukyat hilal ditolak yang di Cakung? Apakah itu sudah betul? Nabi tidak begitu caranya. Nabi ada orang kafir tahu tanggal, nabi saya tahu tanggal dan melihat hilal. Nabi langsung ngomong; Wes sesuk bodho(Ya sudah besok lebaran). Saya orang NU sama dengan Muhammadiyah wes biar. Sehingga tanggalan saya dan santri saya 1 Ramadan jatuh 20 Juli dan hari ini saya sudah puasa," jelasnya.

............ Dan yang jelas aku sendiri kemudian memutuskan ikut berpuasa pada tanggal 21 Juli atau mengikuti keputusan sidang isbat itu ( apakah dosa atau tidak biarlah nanti Allah SWT yang memutuskannya). Menurutku mbok ya mereka itu jangan saling adu gengsi dan menonjolkan diri bahwa mereka paling pintar. malu sama tetangga nggak sih ???

.......Berhenti sejenak.......

Melihat berita di media massa sebenarnya sudah menjadi kewajiban bawah sadar di setiap harinya. Banyak informasi teraktual yang dapat kita terima dan menambah wawasan. Tapi apa yang kita peroleh sekarang ? semakin banyak televisi yang beritanya tidak berimbang. Banyak pemberitaan yang membela pihak tertentu dan seolah ingin membentuk opini publik pemirsanya. Lihat saja salah satu tokoh top di salah satu saluran televisi swasta nasional sekelas Bang Karni Ilyas merasakan galau dengan tempatnya bekerja sekarang, apalagi ada tawaran lebih menarik di stasiun tetangga.

Di luar internal Bang Karni dengan TV tempatnya berkarya, banyak isu yang beredar bahwa di situ Bang Karni sudah tidak lagi memiliki kebebasan dalam mengeluarkan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat luas karena adanya intervensi dari salah satu parpol besar milik keluarga taipan di negeri ini. Entah benar atau tidak tapi jika memang hal itu benar maka kita semua sudah selayaknya untuk memakluminya. Dan kita semua sadar bahwa memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan apabila berkaitan dengan "mereka".
Berikut cuplikan seorang penulis pada Kompasiana.com

"Celakanya sisi berita yang dibelanya adalah sisi berita yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya di masyarakat, melawan Legal Formal, adalah adagium utama Karni Ilyas untuk tidak dilanggar, Karni tidak pernah mau melawan keadaan yang sebenarnya, Karni justru mengedepankan kesahihan berita membuka selip2 berita yang melawan berita2 karena pencitraan "

Dan yang terbaru adalah soal hilangnya kedelai dari pasar-pasar kita. Coba bayangkan dan renungkan.... bukankah kita adalah negara dengan begitu banyak lahan pertanian dan jutaan penduduk yang bergantung kepadanya ???
Asal tahu saja, saat ini Indonesia sudah menjadi negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Setiap tahun, jumlah kedelai yang diekspor ke Indonesia sebanyak 1.600 ton. Dari jumlah itu, sekitar 70-80 persen digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe di Jakarta. Sebagian besar kedelai yang diimpor berasal dari Kanada, Argentina dan Brasil.
Padahal dulu Indonesia merupakan produsen kedelai ketiga terbesar dunia (pada tahun 1960an), hanya kalah oleh Amerika Serikat dan China. Kini, hanya Amerika Serikat yang bisa bertahan. Dan posisi Indonesia telah digeser oleh Argentina, Paraguay, Kanada, dan Bolivia. China kini di peringkat keempat. Indonesia dengan produksi tahunan di bawah 1 juta ton tidak berada dalam kelompok sepuluh besar. Amerika Serikat dan Brasil, semakin kuat setelah Argentina masuk menjadi produsen utama kedelai. Sementara Asia, yang ditopang oleh China dan India, hanya mampu memproduksi sepertujuh dari produksi negara-negara di Amerika.

Kini tempe dan tahu menghilang dari pasar tradisional maupun super market kelas menengah atas, Kementerian pertanian maupun Menteri Perekonomian kalang kabut bagaikan kehilangan handuk sehabis mandi, Mentan dan Menko Perekonomian menuding kekeringan yang terjadi di AS, menjadi biang kerok kelangkaan ini, padahal sejatinya Bean atau kacang kedelai adalah jenis dagangan stock future  trading (perdagangan komoditi berjangka), dalam hal ini tentu sekitar enam bulan lalu, para tengkulak sudah mengantisipasi permintaan ini, sehubungan dengan meningkatnya pasar permintaan di Indonesia, saat memasuki hari besar keagamaan.

Kesalahan Pemerintah Indonesia dalam kondisi seperti ini adalah membiarkan secara sengaja komoditas ini diombang ambingkan oleh pasar ( floading market) kondisi ini sangat kontra sekali dengan gandum (wheat), justru tidak mengalami guncangan pasar, karena penguasa dan pengusaha sangat melindungi Importir jalur import, distribusi maupun tengkulak produk ini, karena mereka ini adalah mafia resmi penyalur gandum di Indonesia, dengan demikian proses import hingga pendistribusian produk ini tidak akan pernah mengalami hambatan karena kekuatan besar non government rules selalu berperan dibelakang bisnis gandum ini, padahal kedua jenis produk pertanian ini mayoritas di Import dari Amerika Serikat.

Lalu apa jadinya negeri ini kala tempe yang katanya....sekali lagi katanya ....adalah warisan budaya bangsa kita yang kita lindungi (bahkan ketika diklaim oleh negeri Jiran menjadikan kita siap berperang terhadap mereka) hilang dari permukaan... Salahkan jika kemudian negeri sebelah mengklaimnya kembali dengan alasan yang sebenarnya "lucu" ini ?

.......entahlah........


Oya ada beberapa hal lagi yang sumpah membuatku semakin muak dengan negeri ini, nggak lain dan nggak bukan adalah kelakuan warga masyarakatnya.
Oke, mulai dari yang kecil dulu :
Kita semua setiap hari akan menemui kelakuan bocah tanggung alias ABG alias Ababil yang nggak ngerti tempat dan waktu. Bayangkan saja, jaman sekarang banyak sekali anak usia ABG yang meniru artis idolanya dari Korea tanpa memandang dan berpikir dimana dia berada... sebagai contoh misalnya saya pernah menemukan beberapa orang gadis usia SMA berjalan-jalan di objek wisata Dieng berpakaian entah apa namanya, berambut pirang  (ada yang merah juga), memakai gelang warna-warni, dan sebagainya serta mengenakan hot pants. ... Hotpant di Dieng ? apa nggak salah tuh ? disana kan daerah terdingin di Jawa Tengah sini karena lokasinya yang memang paling tinggi (bahkan awanpun seakan berada dibawah kita) .....

Di kalangan musisi :
Tidak diragukan lagi bahwa di dunia ini Indonesia punya banyak sekali plagiator...(kalo boleh dibilah demikian) yang nggak tanggung-tanggung dalam "karyanya" (silahkan baca juga "Sang Plagiator")
Contoh yang paling hot adalah Lagu Cinta Satu Malam yang di rilis tahun 2009 hampir 100% sama persis dengan sebuah lagu barat, hanya saja genre mereka yang berbeda. Lainnya ? Astagfirullohal'adzim......
Tidak percaya ?? sekarang mari kita cek disini... 

Dunia olah raga yang seharusnya menjadi tonggak berdirinya sportifitas dan kejujuran, justru menjadi sampah yang paling memuakkan dan menyesakkan dada, sekarang apakah ada bidang olah raga  dimana kita berada di puncak dunia layaknya Bulutangkis jaman Susi Susanti dan Alan Budikusuma dulu ???
Jawabannya NOL besar saudara......

Sepakbola yang seharusnya kita dengan 250 juta penduduk bisa menyusun satu tim nasional yang hebat (bahkan bisa lebih hebat dari Juara Eropa 2012 Spanyol) justru hancur karena perpecahan di tubuh PSSI sendiri. Mau apa lagi sih sekarang ?

Mungkin ada beberapa orang yang tetap berusaha untuk optimis bahwa negeri ini masih bisa diperbaiki. Tapi apakah mereka akan tetap terus bertahan andaikata semua elemen di lingkungannya dia yang seharusnya turut membantu justru sama sekali tidak mendukung dan malah berusaha menjatuhkannya demi segepok uang kertas ?
Apakah mereka bisa bertahan dengan hantaman dari kanan dan kiri yang berupa tekanan, ancaman, dan intervensi dari pihak-pihak berkuasa yang mana memiliki akses penting pada hal-hal yang akan mereka kritisi ??

BULLSHIT !!!

Semoga saja negeri ini hancur sekalian dengan menyisakan orang-orang yang berpikiran jernih dan berhati mulia........

Comments
1 Comments

{ 1 komentar... read them below or add one }

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow