Archive for April 2013

Zi Ultah Ke 3

Alhamdulillah, tanggal 28 April 2013 kemaren Zizi genap berumur 3 tahun. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai menunjukkan bakatnya dan sedang memasuki fase pertumbuhan anak yang sangat "rentan" kalo boleh dikatakan seperti itu.


Rentan yang aku maksud adalah saking mudahnya terpengaruh oleh sekitarnya dan budaya serta kebiasaan yang ada di sekelilingnya. 
memang pernah ada seorang "pakar keayahan" yang mengatakan bahwa pertumbuhan seorang anak  akan terbentuk ketika dia sudah mulai mengenal teman sebayanya, semisal di sekolah, dan akan sangat berpengaruh sekali apa yang menjadi keputusan orang tua untuk memilihkan sekolah mana yang tepat untuk si buah hatinya itu....

Bener memang apa yang dikatakan "pakar" itu, tapi menurutku perkembangan seorang anak akan sangat tercipta, terbentuk dan terpola justru mulai dia masih di rumah sendiri. Bagaimana orang tuanya membentuknyalah yang menjadi kunci utama.

oke, aku contohkan saja misalnya di rumah orang tua memanjakan anak maka di sekolahpun sifat manjanya akan terbawa dan sangat membutuhkan ketelatenan bagi gurunya untuk mengubahnya sedikit demi sedikit. dan satu lagi yang paling tidak aku suka adalah alasan seseorang yang memanjakan anaknya yaitu agar si anak tidak mengalami "kesusahan" atau "hidup prihatin" seperti yang pernah dirasakannya..... apa itu justru ga berarti malah akan membawa si anak menuju ke "kesusahan" dan "hidup prihatin" di masa depannya ketika sudah dituntut untuk mandiri ??? pikirkan baik-baik saudara.....

Kembali ke ulang tahun Zizi tanggal 28 kemaren, alhamdulillah pada hari itu semua hal bisa berjalan sesua rencana.bahkan om dan (calon) tantenya pun ikut berpartisipasi dengan membelikan sebuah kue ulang tahun....






bahagia rasanya melihat Zi dan semua keluarga berkumpul dan sekedar syukuran kecil dengan tidak lupa memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.


Terakhir aku hanya bisa bersujud dan memanjatkan berjuta doa kepada Illahi Robbi agar aku dan istriku mampu dan bisa mengantarkan anak kami, Zi, Almaira Zivanna Al Azis,  menjadi seseorang yang senantiasa Sholikhah, Sehat dan Sempurna Jasmani Rohani, Cerdas dan Tanggap terhadap sekitarnya, Bermanfaat bagi sesamanya, lingkungannya, agamanya, orang tuanya, bangsanya, negaranya, dan mampu membanggakan kami yang senantiasa akan selalu mendoakan keberhasilannya......... Amin

Foto lainnya bisa dilihat di Album Zi Edisi Ultah Ke 3
4.29.2013
Posted by ngatmow

Satrio Piningit adalah Konsep, bukan Ramalan

Berdasarkan fakta sejarah, Prabu Jayabaya adalah murid dari seorang ulama Islam yang bernama Maulana Ali Samsu Zein. Jadi sangat mustahil, seorang Jayabaya menjadi peramal masa depan, yang merupakan perbuatan terlarang di dalam ajaran Islam.


Apa yang diungkapkan, Jayabaya ratusan tahun yang silam, menurut pemahaman kami lebih berupa konsep kepemimpinan, daripada sebuah prediksi ramalan.

Konsep Pemimpinan Jayabaya dan bait-bait tutur Sunda, yang kemudian disempurnakan oleh Ranggowarsito, adalah bentuk kepemimpinan yang paling ideal, untuk masyarakat Nusantara.

Menurut Konsep ini, seorang Pemimpin Nusantara yang Ideal adalah seorang Satrio Piningit, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Raja berhati putih, keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekkah dan Tanah Jawa.

Konsep ini memberi gambaran, seorang pemimpin yang ideal adalah seorang yang berbudi luhur. Ia berasal dari keluarga Muslim, yang merupakan mayoritas masyarakat Nusantara dan memiliki ikatan kekeluargaan dengan masyarakat di tanah jawa.

Di dalam dirinya, selalu berpegang teguh kepada Syariat Islam, akan tetapi di sisi lain, menghormati budaya leluhur bangsa.

2. Tahta purba memunculkan wajahnya. Bergelar pangeran perang, bersenjata Trisula Weda, yaitu benar, lurus dan jujur.

Pemimpin Nusantara yang ideal, sebaiknya memiliki hubungan genealogy dengan Penguasa-Penguasa masa lalu, seperti Raja-Raja Sriwijaya (Melayu), Majapahit (Jawa), Pajajaran (Sunda) dan kerajaan-kerajaan Kuno Nusantara lainnya.

Namun keutamaan Silsilah bukan-lah hal utama. Seorang Pemimpin yang ideal, harus berani dalam menegakkan keadilan. Bertindak yang benar, bertingkah-laku yang lurus serta menjunjung tinggi kejujuran.

3. Kelihatan berpakaian kurang pantas, menjadi raja bagaikan Ulama (Pendeta) adil menjauhi harta.

Pemimpin yang ideal, seorang yang hidup bersahaja dan sederhana. Bersikap adil terhadap sesama, tanpa melihat status sosial seseorang.

Menghormati perbedaan agama dan keyakinan, tidak memaksakan kehendak, selalu bertindak berdasarkan ketentuan hukum dan perundang-undangan.

4.Berkasih sayang, sering menangis, merasakan banyak kekurangan, walaupun terbukti membuat sentosa.

Pemimpin ideal bukan mencari ketenaran atau jabatan. Kekuasaan baginya adalah amanah. Tidak merasa paling berjasa dan rendah hati.

Ia adalah orang yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya, daripada mementingkan kebutuhan diri pribadi dan keluarganya.

Di dalam sejarah Nusantara, kita mengenal beberapa Pemimpin yang memiliki karakter yang mendekati, konsep kepemimpinan ideal seperti di atas. di antaranya :


  1. Raden Fatah, pemimpin pertama Kesultanan Demak
  2. Sunan Giri, pendiri Khilafah Giri Kedaton
  3. Sunan Gunung Jati, pendiri Kesultanan Cirebon
  4. Pangeran Diponegoro, seorang ulama pemimpin perlawanan masyarakat Jawa, terhadap kaum penjajah.
  5. HOS Cokroaminoto, pendiri Syarikat Islam
  6. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah
  7. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama (NU)


Sejarah mencatat, ke-7 orang di atas, selama memimpin rakyat (pengikutnya), menjadi tokoh-tokoh yang sangat dihormati dan disegani.

Dan hal ini menjadi bukti, bahwa apa yang disampaikan Jayabaya, bait-bait tutur Sunda dan Ronggowarsito, bukan sekedar konsep di atas kertas. Akan tetapi, bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, dan hasilnya memberi bukti, bahwa konsep tersebut, merupakan bentuk dari kepemimpinan ideal bagi masyarakat di Nusantara.

Sumber : kanzunqalam

Posted by ngatmow
Tag :

Dede Sunandar, calon penerus generasi Sule ?

Bagi para penggemar tayangan Opera Van Java (OVJ) yang ditayangkan stasiun televisi Trans7, pasti sering menyaksikan sosok figuran yang kerap dijadikan obyek keusilan Sule, Parto, Azis Gagap maupun Andre Taulany. Siapakah gerangan dia?

Pemain "tambahan" OVJ tersebut bernama Dede Sunandar. Pemuda asal Ciamis kelahiran 19 September 1990 ini mampu menyedot perhatian para pemirsa Trans7. Namun tidak banyak yang tahu latarbelakang Dede OVJ ini. 
Dede membuka jati dirinya. "Saya cleaning service di Trans7. Sekarang masih sebagai cleaning service dan biasa membersihkan halaman di depan Trans7," ungkapnya tanpa malu-malu. 

Ketika ditanya kenapa bisa sering diajak main OVJ di beberapa episodenya, Dede menceritakan, awalnya dari sebuah kecelakaan. Pada suatu hari dia diajak oleh tim kreatif OVJ untuk ikut syuting.
"Waktu itu saya pas lagi bersih-bersih, namun tiba-tiba ada satu anggota tim kreatif OVJ memanggil saya dan meminta saya untuk segera ganti baju. Eh nggak tahunya malah saya disuruh ikut syuting bareng OVJ," ujar Dede. 



Ceritanya awalnya begini,ketika itu dua orang tim creative bernama Febri dan Kenit kebingungan karena Tukang Es Doger yang akan dijadikan figuran dalam episode tersebut tiba-tiba menghilang. Mau tidak mau mereka berdua terpaksa berimprovisasi mengakali ketidakhadiran Tukang Es Doger agar talent-talent OVJ bisa mempunyai bahan candaan.

Setelah lama mereka keliling studio untuk “memaksa” orang untuk menggantikan posisi tukang doger ternyata banyak dari crew yang tidak bisa, tiba-tiba muncul sosok Dede yang sedang bersih-bersih di sekitar Control Room dan Ruang Artis. Saat itulah Kenit dan Febri memaksa Dede untuk menggantikan Tukang Es Doger dan diiyakan oleh Dede.

Penampilan Dede perdana di OVJ adalah sebagai Tukang Es Doger awalnya tidak membuat creative OVJ berharap banyak. Sudah tampil saja membuat kedua creative ini merasa puas. Sehingga ketika Dede sukses me-kick balik serangan celaan Andre dengan celaan yang lebih aneh dan ajaib, sekaligus membuat seisi studio tertawa terbahak-bahak, merupakan anugrah yang tidak terhingga bagi tim Creative OVJ karena mereka baru saja menemukan sebentuk berlian yang belum terasah.

Bukan hanya tim produksi OVJ saja yang tertarik dengan bakat alami Dede, talent-talent OVJ seperti Sule, Parto dan Andre pun tertarik untuk memupuk bakat Dede. Apalagi usut punya usut, Dede ternyata sebelumnya tanpa dia sadari sering berlatih ngelawak bersama Komeng jika dia bertugas di program Wara Wiri. Bahkan Komeng pun pernah mengajak Dede untuk diasah bakat ngelawaknya, namun ditolak dengan alasan dia baru saja bekerja sebagai CS, tidak enak dengan teman-teman seperusahaannya. Akhirnya Dede pun menjadi “langganan” tampil di OVJ,

Namun yang amat dikagumi dari sosok Dede adalah kerendahan hati dan kepolosannya. Pernah suatu ketika dia dimarahi oleh atasannya  karena dia tidak datang untuk suatu acara, bahkan sampai dikira  sudah mulai berubah menjadi “sok artis”, ternyata beberapa hari kemudian dia menjelaskan bahwa alasannya tidak datang adalah karena Ibunya sakit dan dia tidak bisa mengabarkan karena tidak punya HP.

Selain itu jika dia bertemu dengan Tim Produksi OVJ, satu demi satu disalami dan dicium tangannya, bahkan sampai sekarang masih banyak orang yang suka bengong melihat cara dia menyapa kru yang lain. Bukan hanya itu, dia masih rajin bekerja menjadi CS bersama teman-teman sejawatnya tanpa pernah merasa sok artis. Bahkan tim kreatif sampai menjuluki dia dengan sebutan Dede CS alias Dede Cleaning Service, tetapi mendengar nama julukan tersebut dia tidak marah ataupun sakit hati. Di wajahnya selalu berhias senyum lebar yang kemudian berubah malu-malu jika disapa dan digoda . Dan satu hal lagi, dia masih tetap mau mengenakan seragam CS-nya tanpa sedikitpun rasa malu.

Bukan hanya itu, jika Dede ditanya bagaimana perasaannya tentang popularitas yang baru diraihnya. Ternyata dia menjawab bahwa tidak nyaman dimintai tanda tangan dan berfoto. Alasannya adalah tidak enak dengan teman-teman sekerjanya karena untuk melayani permintaan tanda tangan dan foto dia harus menghentikan pekerjaanya.
Dan ketika ditanya dikemanakan honor yang dia dapat dari pekerjaannya sekarang, dia menjawab uangnya dia berikan semua kepada Ibunya yang sekarang terbaring sakit akibat patah tulang belakang.
4.09.2013
Posted by ngatmow
Tag :

Sebuah Renungan : Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi setan

Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah saat Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali dilakoni. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah.
 
Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta?

Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid.

Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar.

Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan.

Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai amal ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di luar Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan itu sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring jamaah agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa.

Seperti apa peran ulama dalam hal ini?

Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu untuk pergi umrah saat Ramadan.

Bagaimana dengan teladan dari ulama?

Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi korban konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme.

Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan?

Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan.

Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya?

Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan ketenangan, tapi kesenangan.

Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu.

Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya.

Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi negara?

Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan

Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah.

Kenapa itu jarang terdengar?


Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan.

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi."

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja.

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan.

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur."

Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu gencar sekali.

Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin?

Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada program seperti itu.

Sumber : www.merdeka.com
4.05.2013
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow