Posted by : ngatmow prawierow 7.02.2013

Berjalan menuju awan. itulah yang mungkin terpikir pertama kali saat kita bergerak naik menuju puncak Dieng. Perjalanan menanjak yang terkadang sangat curam akan membuat pengendara yang belum terbiasa bergidik dan mungkin "ngeper" duluan.


Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.  Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Pemandangan selama perjalanan menuju Dieng. Indah luar biasa.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.




Dieng Culture Festival  (DCF) yang menjadi acara tahunan di Dataran tinggi Dieng dipuncaki dengan prosesi adat pemotongan rambut gimbal oleh pemangku adat dan sesepuh desa (seringkali ditambah juga oleh pejabat kab. Banjarnegara) di komplek Candi Arjuna.

komplek Candi Arjuna
Prosesi pemotongan rambut gimbal itu sendiri biasanya digelar setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa atau bulan Agustus adalah saat pelaksanaan Ruwatan. Namun, ruwatan tetap bisa dilaksanakan di luar waktu lazimnya. Tak jadi masalah kapanpun ruwatan dilakukan.
Tentu saja dengan menyesuaikan kemampuan keluarga yang meruwat anak gimbalnya.

Candri Sembadra
Jika keluarganya sendiri bisa memenuhi permintaan dan memiliki biaya menyelenggarakan, ruwatan secara mandiri bisa dilaksanakan. Namun, jelas ruwatan secara mandiri membutuhkan biaya besar. Harus menanggung segala biaya seremoni ruwatan. Saya bisa bayangkan pasti hanya keluarga ‘borjuis’ Dieng yang bisa melakukan ruwatan Anak Gimbal secara mandiri.

Maka, masyarakat Dieng lebih banyak memilih meruwat anak gimbalnya secara massal. Masyarakat ‘urunan’ gotong royong melakukan ruwatan. Biaya dan tenaga ruwatan ditanggung bersama. Tentunya, ruwatan secara massal ini juga akan lebih meriah. Ribuan masyarakat Dieng berbondong-bondong datang memenuhi lokasi. Bisa dikatakan, ruwatan massal sekaligus menjadi pesta rakyat Dataran Tinggi Dieng.

Sehingga dengan kata lain Ruwatan Anak Gimbal Dieng adalah berkah ekonomi bagi Dieng.

Candi Puntadewa

Acara pemotongan rambut gimbal diawali dengan arak-arakan (kirab) bocah gimbal yang akan diruwat dari rumah pemangku adat menuju komplek candi.  
Kirab berjalan dengan mengelilingi kawasan Dieng sebagai upaya napak tilas. Napak tilas ini menuju beberapa tempat, yaitu candi Dwarawati, komplek candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Bima, sendang Maerokotjo, telaga Balekambang, kawah Sikidang, komplek pertapaan Mandalasari, kali Kepek dan komplek pemakaman Dieng. Pada saat kirab berjalan, para anak gimbal akan dilempari beras kuning dan uang koin. 
Kirab lalu singgah ke Dharmasala untuk dilakukan jamasan Anak Gimbal di Sendang Sedayu. Tatkala memasuki sendang Sedayu, anak-anak gimbal berjalan dinaungi oleh Payung Robyong di bawah kain kafan panjang di sekitar sendang sambil diiringi musik Gongso. 


Di sana mereka akan didudukkan berjejer dengan ditemani orangtua dan barang-barang yang mereka minta sebagai syarat mau diruwat. sebagai informasi, apabila mereka mengajukan syarat tertentu maka mau tidak mau orang tua harus memenuhinya, sebab menurut kepercayaan yang ada jika permintaannya tidak terpenuhi maka rambut gimbalnya akan tumbuh lagi dan akan membawa malapetaka di kemudian hari.

Berat bagi orang tuanya dong ? 
tidak juga. sebab apa yang diminta adalah hal-hal kecil yang mungkin bagi kita justru akan membuat tersenyum mendengarnya. bayangkan saja, pada prosesi lalu seorang anak bahkan hanya meminta dibelikan "tempe gembus" saja. Sedangkan seorang anak lainnya hanya meminta dibelikan topi dari sebuah supermarket di Wonosobo.

kembali ke prosesi, setelah duduk berjejer mereka kemudian akan dijamas atau dibasuh dengan menggunakan kembang tujuh rupa (sapta warna) dan air dari Tuk Bimalukar, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido (Tuk Pitu). . Menurut kepercayaan warga setempat, hal ini merupakan sebuah perlambang penyucian dan pembersihan si anak dari segala bentuk bala dan hal negatif yang ada di tubuhnya.
Courtesy : YoGreat Imagine



Acara kemudian berpindah tempat dan berlanjut di Komplek Candi Arjuna dimana sudah disiapkan aneka sesaji pada meja beralas kain putih. Dan puncak acarapun dimulai. Dengan iringan lantunan tembang Jawa yang berisi pujian, pesan dan doa, pembawa acara dengan runtut mengantarkan proses pemotongan rambut ke 7 anak yang menjadi tokoh utama pada saat itu.

Satu persatu anak gimbal tersebut di bawa naik ke beranda Candi Puntadewa dimana Tokoh Adat Dieng Kulon, Mbah Naryono sudah berada di sana. Kemudian dengan taburan bunga setaman dan cipratan air suci, beberapa orang pejabat Pemkab. Banjarnegara melakukan proses pemotongan hingga bersih.  Pada kesempatan kali ini, nampak juga beberapa orang "asing" dari negara sahabat yaitu Dubes Slovakia (beserta putrinya) dan 
  

  
  

Bupati Banjarnegara melakukan pemotongan rambut gimbal

Courtesy : YoGreat Imagine

Courtesy : YoGreat Imagine
Setelah pencukuran, acara dilanjutkan dengan doa dan tasyakuran. Lalu, semua ‘uborampe’ prosesi dibagikan kepada para pengunjung. Konon ceritanya itu dapat membawa berkah pada yang membawanya.
Ritual terakhir dalam ruwatan anak gimbal adalah melarung potongan rambut. Larung dilakukan di tempat yang terdapat air yang mengalir ke pantai selatan Jawa. Lokasi larung rambut gimbal ini dilakukan di Sendang Sukorini, Kali Tulis. Biasanya juga dilakukan di Telaga Warna. Tempat-tempat itu memiliki hubungan dengan Samudera Hindia.  
  
Setelah selesai prosesi acara, saya iseng iseng menjelajah lokasi pesta rakyat Dieng bersama dua orang kawan, disana kami menemukan satu keluarga yang dua anaknya berambut gimbal. yup, ternyata masih ada anak berambut gimbal yang sudah "cukup besar" (kira-kira seumuran SD kelas 4 atau 5). Asli tanpa rekayasa.
Karena tertarik, kami minta ijin dulu kepada bapaknya yang hanya memperbolehkan mengambil foto anak sulungnya saja. 

Anak Gimbal Asli Dieng
Perhatikan saja ramainya pengunjung "bermoncong"  pada saat berlangsungnya Dieng Culture Festival 2013. ramai dan luar biasa.
Dan bisa dibayangkan betapa susahnya untuk bisa mendapatkan hasil foto yang sempurna dengan kamera "seadanya" dan hape andalan tentunya. Disitu saya harus berkompetisi dengan ratusan atau mungkin ribuan pasang mata pengunjung serta fotografer profesional atau sok profesional dengan piranti yang kadang tampak berlebihan : kamera canggih dengan moncong sangat panjang yang masih saja merangsek ke depan tanpa menyadari bahwa lensa tele yang mereka miliki bisa mengambil gambar dari jarak ratusan meter !
Bah !!  
   

Courtesy : YoGreat Imagine
Sedikit catatan saja, mungkin bagi sebagian orang menganggap ritual-ritual seperti ini sudah melenceng dari ajaran agama karena mempercayai hal-hal gaib atau sejenisnya. musyrik, syirik atau apalah.
Tapi ambil saja sisi positifnya. Ini salah satu kekayaan budaya Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain dan bisa menjadi alat untuk mendongkrak potensi pariwisata. Tentu saja efeknya adalah bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat dalam bidang kepariwisataan. Betul nggak ?
Dan itu tentu kembali lagi pada niat dasar pada masing-masing pribadi saja. mau menjurus ke arah syirik atau tidak.... monggo....

Tett.......Alarm pada jam tangan saya sudah berbunyi pertanda menunjukkan pukul 3 sore.  Mengingat dan menimbang bahwa perjalanan pulang cukup panjang dan berat maka saya pikir sudah waktunya untuk berpamitan pada negeri di atas awan ini. Cukup berat rasanya bahwa harus meninggalkan keindahan suasana pada waktu itu, juga berpisah dengan beberapa sahabat lama yang memang sudah belasan tahun berpisah.
Yoga YoGreat ArdiNugroho dan Bedy Soedarto Putra.
maybe next time we can hunt again bro.....



*special regard to YoGreat Imagine for very great photo on this article 

Comments
4 Comments

{ 4 komentar... read them below or Comment }

  1. mengagumkan.kombinasi foto, kalimat pengantarnya serta keindahan Dieng yang selalu menarik untuk dikulik.anda berhasil menggabungkannya menjadi sebuah kombinasi yang sempurna dan menggugah.Salut untuk anda dan Dieng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih bang rico. saya hanya mencoba menuangkan apa yang saya lihat, apa yang saya alami dan apa yang saya potret disini.dengan harapan bahwa hal tersebut bisa dialami juga oleh pembaca blog saya.
      terimakasih sudah berkunjung

      Hapus
  2. Mas Ngatmow, jenengan ternyata sangat berbakat jadi jurnalis. Atau memang wartawan? Yuk, terus semangat menulis dan memotret Banjarnegara. Semoga Banjarnegara kian berkibar di antara daerah-daerah lain di Indonesia mau pun di dunia......(Bude Binda)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ada kunjungane bu dhe....saya bukan wartawan kok, tuh diatas sudah saya tulis siapa saya hehehe.... dan terimakasih doanya bu dhe, semoga banjarnegara bisa semakin dikenal dan menjadi destinasi budaya baru di negeri ini.....

      Hapus

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow