Archive for Agustus 2013

Festival Serayu Banjarnegara 2013 edisi Parak Iwak

Masih di seputar Festival Serayu Banjarnegara 2013 yang berlangsung beberapa hari yang lalu sodara-sodara.... Acara selajutnya yang kayaknya perlu diulas disini adalah Pesta Parak Iwak alias menangkap ikan secara massal.

Rangkaian Pesta Parak Iwak diawali dengan prosesi pengambilan Ulam Sari Tirta Nyawiji sehari sebelumnya dari 7 sumber air di pegunungan Dieng, yaitu telaga Balekambang, telaga Merdada, telaga Pengilon, telaga Warna, telaga Cebong dan sendang Sedayu. Ikan-ikan dari sumber air tadi selanjurnya dikirab melintasi Kecamatan Batur - Wanayasa - Karangkobar - Banjarmangu dan berakhir di Kutayasa Madukara, selanjutnya ditabur di sungai Serayu.

Asal tahu saja, pada saat pelaksanaannya Wisatawan dan warga dari berbagai pelosok Banjarnegara bahkan kota tetangga (seperti Kabupaten Wonosobo, Purbalingga, Banyumas, Pekalongan dan lainnya) sudah memadati lokasi parak iwak di sekitar jembatan Singamerta, Kecamatan Sigaluh sejak pukul 7.00 pagi, padahal kegiatan parak iwak baru dimulai sekitar pukul 11.00, karena menunggu kedatangan Menteri Kelautan dan Perikanan.



Nah disini ada satu hal yang menjadi perhatian khusus saya pribadi, kesabaran. Yup....
Kesabaran manusia memang berbeda beda panjangnya. Dan apa yang terjadi sungguh jauh diluar perkiraan panitia, pengunjung yang sudah tidak sabar langsung turun ke sungai untuk melakukan parak iwak meski acara belum dimulai.
8.31.2013
Posted by ngatmow

Pesta Rakyat di Festival Serayu Banjarnegara 2013

Marem alias puas.
Satu kata yang menggambarkan perasaanku. Sebab pada pagelaran akbar Festival Serayu Banjarnegara yang digelar sejak tanggal 24 - 31 Agustus tahun 2013 ini aku bebas pegang kamera dan jepret sana jepret sini dengan berlagak sok fotografer pro. Padahal..... hadew.....jauh....hehehe

Tapi lain daripada itu acara yang digelar dengan megah ini memang luar biasa. Dari sisi animo masyarakatnya, dari sisi pertunjukannya, dari sisi unsur pemdanya, dari sisi lain-lain pendukungnya bahkan dari sisi pengaturan anggarannya.

Adalah sebuah pemandangan tidak biasa jika di kota sekecil ini tiba-tiba banyak sekali sosok tidak dikenal dengan menenteng "senjata" berupa kamera (kebanyakan bermoncong super panjang), mobil-mobil plat luar daerah dengan bertuliskan nama televisi atau surat kabar ternama, dan masih banyak lagi hal aneh lainnya seperti wajah wajah "pertapa" yang baru turun gunung hehehe....

Meskipun masih banyak nada sumbang di pinggir arena laga, tapi inti dari apa yang dikatakan sebagai pesta rakyat ini setidaknya bisa sedikit tercapai. Ya.... memaremkan masyarakat Banjarnegara yang memang butuh hiburan semacam ini.

"... hiburan yang sekaligus mengingatkan kita kembali akan jati diri kita sebagai orang Indonesia, yaitu budaya...." kata pak gubernur baru Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam pidato pembukaan beberapa hari yang lalu.

Merdeka

Merdeka !!!

Itu yang diucapkan orang-orang pas upacara kemerin tanggal 17 Agustus dalam rangka peringatan ke 68 Kemerdekaan Republik Indonesia yang insyaalloh kita cintai bersama ini.

Bahkan sang pembina upacara mengulanginya kembali sampai beberapa kali hanya karena ada peserta upacara yang kurang lantang menirukan ucapannya. Tidak lupa plus sebuah sindiran singkat di tengah tengah amanat. busyet deh ....

Benarkah kita sudah benar-benar merdeka ?

Monggo kita renungkan sejenak kisanak.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat "berbincang" dengan seorang teman di komunitas foto, apa yang dimaksud dengan merdeka itu.
Waktu itu aku menulis sebuah status di akun jejaring sosialku seperti ini

apa artinya kata merdeka jika masih ada penjajah dalam rupa yang berbeda di negeri ini...."

beberapa menit kemudian, om John Leo berkomentar


"MERDEKA ............. dalam pengertian lain Bung Ngatmow Prawierow............. merdeka saat ini dalam pengertian bebas dalam melakukan korupsi, kejahatan, dan bebas dalam artian semau gue ga perduli dengan orang lain"

Setelah itu bang Surya Sudirja juga berkomentar


"berati itu kemerdekaan hanya bagi " M-E-R-E-K-A" ................"

Ada juga mas Arif Kurniawan yang menulis

" hanya bisa menghargai perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan, tapi sebetulnya setengah dari rakyat indonesia belum menikmati apa yang dinamakan kemerdekaan "

Nah sampai di situ saya kemudian mengambil sebuah kesimpulan (meskipun versi pribadi yang tidak jelas kebenarannya hehe) bahwa sudah menjadi sebuah ke"lumrahan" dan kemirisan bersama bahwa apa yang kita pekikkan dengan nada kemenangan justru menjadi sebuah nada sumbang dengan jeritan perasaan bagi masyarakat kelas bawah seperti saya sekarang ini.

Sebenarnya apa sih yang terjadi ?
Entahlah.

Jika kita nonton berita di TV setiap hari, maka yang akan kita jumpai adalah berita korupsi, pembunuhan, tawuran, dan aksi kriminalitas yang lain.

Bosan ? pasti.

entah apapun itu yang jelas terjadinya "ketegangan" di urat nadi masyarakat adalah karena kebosanan terhadap para pemimpinnya, wakil mereka dan pihak yang berwajib yang semakin hari semakin berani dan tanpa tedeng aling-aling menunjukan kesuperannya. demi satu tujuan pribadi mengorbankan kepentingan jutaan orang yang lain.

Yang terjadi di negeri ini sudah bisa dikatakan sebagai masa terburuk bagi hati nurani. Bagaimana tidak, sekarang ini bahkan sesama manusia sudah saling "makan". Ada sebagian golongan yang mengatasnamakan agama tega menginjak-injak sesamanya tanpa menggunakan ajaran yang sudah dituntunkan oleh agamanya itu, ada juga golongan manusia yang doyan makan apa yang seharusnya digunakan untuk kepentingan warganya, ada juga segerombolan orang berseragam yang tega menarik pungutan (walaupun liar tapi resmi) yang tidak tanggung tanggung jumlahnya kepada warga yang diduga melanggar apa yang katanya tata tertib di jalan (yang katanya lagi) adalah daerah kekuasaan mereka.

Apakah itu yang namanya mengisi kemerdekaan ?
bah.....

Sedikit obrolan dengan seorang tukang becak di deket kantor sore tadi juga semakin membuat miris hati ini. Keluh kesah mereka yang selama ini kurang "menjadi perhatian" penguasa serasa begitu dalam. getir.

"10 penumpang sehari saja sudah untung mas " kata salah satu dari mereka.
" lha wong barang (produksi) Jepang semakin (men)njajah disini koh mas .... "

weh.... bener juga ya? di jalan raya saja negeri kita semakin terjajah oleh bangsa lain. kenapa terjajah ? karena bangsa ini digunakan sebagai "target" bisnis dan "target" kepentingan mereka tanpa adanya imbal balik yang sepadan....yah minimal adanya perhatian khusus lah pada para "elemen pendukung" mereka disini.....

Sebuah penjajahan dalam wujud yang berbeda kan....?

Yang jelas apalah artinya kita berkeluh kesah kalau tidak ada yang akan mendengarkannya. mending  kita ambil satu langkah kecil dimulai dari sekarang untuk membuat perbedaan yang sangat besar di masa yang akan datang. Perbedaan yang akan membawa perubahan di lingkungan, di masyarakat atau bahkan di negeri yang katanya kita cintai ini.

dan satu hal yang pasti, kemerdekaan itu akan benar-benar kita raih apabila kita mau bersyukur atas apa yang kita punya, apa yang kita terima dan apa yang kita rasakan. karena bagaimanapun kemerdekaan setiap manusia adalah berbeda dan hanya masing masing pribadilah yang bisa merasakannya......

" menurut bapak-bapak, merdeka itu apa sih ? apakah negera kita sudah benar-benar merdeka? "

" merdeka itu ya adil dan makmur mas, tapi saya ya tidak tahu seperti apa rasanya lha wong belum pernah merasakan kok....... " 

" yang penting kalau lagi tujuh belasan kayak gini becak saya laris buat karnaval mas....pokoknya merdeka lah ...hahahaha...."

MERDEKA !!! 


Lebaran, mudik, dan cultural shock

Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir bathin atas segala khilaf baik yang sengaja maupun tidak sengaja.....

itulah inti empat ratus tujuh puluh enam sms yang masuk ke hape ku karena saat ini adalah saatnya Lebaran.... alias hari Raya idul fitri bagi warga muslim di seluruh dunia...

Jika ditinjau dari diskripsi umum, Lebaran merupakan nama lain dari hari raya umat islam, baik hari raya Idul Fitri maupun Hari raya Idul Adha yang dirayakan setiap tahun setelah sebelumnya mereka melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan atau bulan-bulan lainnya. Moment dimana biasanya digunakan untuk saling bersilaturahmi, saling berkunjung, saling bermaaf maafan, menyambung tali persaudaraan, dan banyak hal positif lainnya.

Ada dua hal yang sebenernya cukup menggelitik untuk kata Lebaran ini. 

Biasanya Lebaran selalu disertai dengan kata Liburan. Ya, cek saja destinasi wisata di seluruh penjuru negeri. Yang namanya tempat wisata pasti full dan poll. Full pengunjung dan poll sumpeknya hehe.... Sudah menjadi semacam adat dan kebiasaan di negeri ini bahwa yang namanya Lebaran pasti libur panjang, nah inilah yang kemudian digunakan oleh banyak orang untuk berwisata sejenak melepas penat pekerjaan... Bisa dimaklumi lah...
Poll karena pada saat seperti ini kota akan susah sekali menemukan tempat parkir motor sekalipun apalagi mobil.... baik itu di pasar, pusat perbelanjaan, tempat wisata, masjid, bahkan rumah makan...kalopun ada tarifnya akan sangat mahal dan berlipat lipat dari harga normal.

itu baru tempat parkir. nah kalo segelas air putih kemasan yang ada di terminal atau stasiun atau tempat wisata ?? sama saja !!

Kembali ke kata Lebaran. Lebaran bisa juga menjadi satu kata bermakna ganda yaitu "Lebar"an dengan kata dasar Lebar alias selesai (Bahasa Jawa). Kenapa selesai?
Karena banyak hal yang kemudian menyebabkan sebagian orang bener bener selesai. Baik itu selesai keuangannya alias bangkrut, selesai otaknya alias gila, selesai mukanya alias hilang urat malunya, bahkan selesai hidupnya alias meninggal.....

Ya, semua itu biasanya terjadi pada saat satu aktifitas rutin lainnya yang menyertai Lebaran. Mudik Lebaran.... sebuah kegiatan "wajib" bagi sebagian muslim untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sebab dengan dalih silaturahmi mereka akan menghalalkan rutinitas mudik ini bahkan dengan jalan apapun.  

Dari hasil pengamatan di lapangan (jyah...) ada beberapa hal yang selalu muncul berbarengan dengan fenomena lebaran dalam masyarakat di negeri ini. Fenomena yang tentu saja bersifat "negatif" alias kemudian berpotensi justru merusak keindahan moment lebaran itu sendiri....

Budaya konsumerisme dan boros

Saat musim lebaran secara berbondong-bondong masyarakat kita berkunjung ke pusat perbelanjaan dengan dalih membeli oleh oleh untuk sanak saudara. hal ini tentu saja menyebabkan tingginya permintaan sehingga harga barang otomatis melambung tinggi. 
meski begitu, budaya belanja yang berlebihan tersebut tidak menjadi suatu pertanyaan bagi masyarakat kita. Kenapa ? Karena hal ini sudah semacam menjadi "kebiasaan" umum masyarakat dan  biasanya berujung pada pembelotan niat yang awalnya ibadah menjadi ingin pamer kemewahan terhadap orang-orang dikampung halaman.

Disisi lain, bagi sebagian pedagang, momentum ini terkadang menumbuhkan formulasi serakah efektif karena menjadikan kesempatan ini sebagai momen untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menaikkan harga setinggi-tingginya, sehingga secara tidak langsung bisa jadi telah menzholimi hak orang lain khususnya fakir miskin.

Persaingan kekayaan dan sikap pamer kesuksesan,

Lebaran bisa mengundang kecemburuan sosial dan iri hati para keluarga dikampung. Pulangnya pemudik yang berlebaran dikampung dengan memamerkan kemewahan misalnya membawa mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, alat-alat elektronik yang canggih, bisa menimbulkan guncangan budaya “cultural shock”, dimana orang-orang kampung atau desa kemudian meniru dan mengikuti gaya hidup si pemudik, 
Biasanya hal semacam ini menjadikan si peniru tersebut kemudian menghalalkan segala cara misalnya dengan berhutang atau menjual harta benda seperti tanah hanya untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesoris kemewahan.

Satu hal yang kemudian menjadi "lucu" adalah ketika ada seorang peniru yang memaksakan apa yang ditirunya meskipun amat sangat tidak cocok dipakai di "negeri asalnya". Lihat saja sekarang banyak sekali ABG yang mengenakan pakaian warna warni tanpa menghiraukan "warna asli"  mereka sendiri. Norak, norak dan norak kan ??

Urbanisasi,
 
Mudik lebaran juga bisa menyebabkan meningkatnya urbanisasi. Terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota. 
Meski sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dan undang-undang untuk melakukan sesuai yang diinginkannya, namun  apa yang terjadi di negeri ini bukanlah sesuatu yang "wajar" dan sangatlah tidak sehat karena meliputi pekerjaan-pekerjaan yang non-skill yang semestinya hal tersebut bisa ditampung dan diberdayakan di daerah. 
Karena itu, sejak zaman Orde Baru dikatakan bahwa kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar adalah kampung besar yang perilaku penduduknya (sebagai warga kosmopolitan tidak berbeda jauh dengan keadaban dari kampung halaman dalam soal kebersihan, kedisiplinan berlalu lintas, dan berbagai life style lainnya).


Macet dan Lakalantas dimana-mana,

Mudik selalu menyebabkan kemacetan nasional dan kesemerawutan massal sehingga berdampak pada banyaknya kematian yang disebabkan buruknya sarana transportasi dan manajemen perhubungan yang berakibat terjadinya kecelakaan. 

Untuk hal yang satu ini, sudah tidak dapat dipungkiri bahwa dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya maka semakin tinggi pula tingkat kemacetan yang akan terjadi apalagi bila ditambah dengan tidak adanya peningkatan jumlah dan fasilitas jalan raya yang dipergunakan.

Hampir setiap hari apabila musim lebaran seperti ini, tayangan berita di tv menyiarkan terjadinya kecelakaan kendaraan pemudik baik kecelakaan ringan maupun kecelakaan berat yang tidak jarang sampai merenggut korban jiwa.

Apakah kita semua sebagai pemudik tidak ngeri dengan hal semacam ini ?


Peningkatan jumlah pasien di puskesmas dan rumah sakit, 

Dari sisi kesehatan biasanya bukan hanya suka cita yang didapat, tetapi juga  menyisakan duka dan penyakit. Data menunjukkan bahwa banyak terjadi kematian pasca lebaran, hal ini disebabkan karena banyaknya mengkonsumsi makanan secara berlebihan tanpa kontrol yang baik selama lebaran.

Cek saja di puskesmas atau rumah sakit terdekat... pasti akan ditemukan pasien-pasien yang menderita sakit justru pada saat saat setelah lebaran. Sehingga penyakit ini seolah olah sudah menjadi "tradisi tersendiri" . Diare.


Wohh....
yang jelas ada baiknya kita sebagai warga yang "sadar diri" untuk memanfaatkan momen ini untuk bener bener bersilaturahmi, saling memaafkan dan menata diri pribadi untuk menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang esok hari....


dan terakhir, kami dan segenap keluarga brock7.ltd mengucapkan 


Selamat Idul Fitri 1434 H
minal aidzin wal faizin
mohon maaf lahir dan bathin


8.15.2013
Posted by ngatmow

Kinahrejo, Surga yang sedang berbenah

Masih ingat mbah Maridjan ? yup, seorang tokoh yang dianggap sentral dalam lakon "Meletusnya Gunung Merapi tahun 2010" yang lalu. Juru Kunci Gunung Merapi yang gemar minum teh hangat dicampur gula jawa serta camilan seperti klanting, marning, dan peyek ini mendadak muncul menjadi headline surat kabar dan media massa sejagad Indonesia semenjak kejadian "ajaib" pada saat terjadinya letusan di tahun itu, berbarengan dengan dahsyatnya pemberitaan tentang luluh lantaknya dusun dimana ia tinggal. Dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Jogjakarta, yang hanya berjarak 4 kilometer dari mulut kawah Merapi, gunung paling aktif di dunia yang berada di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan DIY. Dan menjadi dusun yang pertama kali akan terkena dampak erupsi bila gunung tersebut "batuk".

Dok. Mbah Dharmo - KoFiPon

Mbah Maridjan memang sudah meninggal, dusun Kinahrejopun sempat rata dengan tanah dan kisah pilu sempat menggema dimana-mana. Namun sekarang, itu semua sudah mulai dilupakan. Masyarakat mulai bangkit lagi menata roda kehidupannya. Kicauan burung kembali terdengar dan Bunga kembali bermekaran di dusun Kinahrejo. Disini alam menampakkan wujud aslinya. Bukit-bukit kecil dengan cekungannya yang curam terlihat jelas. Sejauh mata memandang, birunya langit, hijaunya tunas-tunas pohon dan tanah kecoklatan bercampur warna abu-abu sisa lava dahulu seolah mengajak kita untuk mensyukuri hidup dan menyadari betapa besar kekuasaan-Nya. Tak ada lagi penghalang pandangan, pohon-pohon besar yang telah tumbang memberikan pesona tersendiri yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Benar-benar sebuah pemandangan yang kontras apabila menilik bahwa di sela-selanya tampak jelas sisa-sisa pohon yang tumbang atau meranggas dan bekas-bekas rumah yang telah luluh lantak terpanggang awan panas kala itu.Tapi disitulah letak keindahan dan eksotismenya. Sungguh luar biasa.

Untuk menuju ke lokasi ini, apabila kita datang dari arah Yogyakarta bisa menjangkaunya dengan menggunakan sepeda motor dan jeep. Dalam perjalanan ditemukan 2 buah loket masuk yang dikelola oleh masyarakat. Harga per tiket berkisar antara Rp. 3.000 - Rp. 5.000 / orang, sudah termasuk parkir. Memang sih banyaknya pengunjung yang menggunakan kendaraan memberi keuntungan lain bagi masyarakat. Parkir kendaraan menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan. Tidak mengherankan ada banyak pilihan tempat parkir di dusun ini yang di sisi lain memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan yang datang.

Nah kalau ingin naik ke bekas rumah Mbah Maridjan, pengunjung harus sedikit "berkeringat" dengan berjalan kaki. Tapi kalau tidak mau bersusah payah, ada penyewaan motor dengan biaya Rp. 20.000 sampai dengan Rp. 40.000 (khusus motor trail) per setengah jam, atau dengan menyewa jeep seharga Rp. 50.000 untuk durasi waktu yang sama.

Oya satu lagi, jika sudah sampai di sini jangan takut kita akan mengalami kelaparan lho, sebab di areal parkiran dan sepanjang jalan menuju rumah Mbah Maridjan terdapat rumah-rumah sederhana yang menjajakan makanan dan minuman serta souvenir untuk kenang-kenangan. Makanan yang tersaji pun cukup beragam. Mulai dari camilan ringan, jajan pasar sampai nasi rames dengan harga "bersahabat" pun ada. Disamping beragam minuman hangat siap saji tentunya.


Dok. Mbah Dharmo - KoFiPon
Bagi pecinta fotografi, kawasan erupsi dan dusun Kinahrejo merupakan daerah yang sangat indah untuk diabadikan. Banyak spot-spot yang menakjubkan dan memberikan sebuah kemewahan karya, baik itu foto landscape, panorama, human interest bahkan makro sekalipun. inilah yang kemudian menjadi penyedot utama para penggila fotografi, sehingga jika berkunjung kesini tak jarang  akan kita jumpai banyak komunitas-komunitas foto yang sedang menggelar hunting bersama bahkan lomba antar sesama anggotanya.


ya sebuah surga wisata yang tak akan terlupakan....



8.02.2013
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow