Posted by : ngatmow prawierow 10.15.2013

Thomas termangu menatap pemandangan di luar jendela yang seolah sedang berlari saling mendahului. Matanya nampak sayu dan memerah. Jelas sekali guratan kelelahan yang luar biasa disana.  Jaket hitam yang dipakainya dalam perjalanan panjang kali ini juga sudah kelihatan kotor. sangat tidak pantas untuk jaket kantor seperti itu.

Di dalam kereta kelas ekonomi AC itu dia  duduk berdampingan dengan seorang bapak berumur setengah abad lebih. Jaket lusuh berwarna hijau army yang dikenakannya semakin menampakkan kesan "tua" pemiliknya. Keriput sudah penuh di seluruh penjuru kulitnya. Namun tatapan matanya sungguh luar biasa. Ada sebuah ketegasan, misterius dan tajam. Bukan orang sembarangan.

Thomas tersenyum dan mengangguk pada saat tatapan mereka bertemu. Sebuah kesopanan yang sudah mulai luntur pada diri anak muda belakangan ini. Sambil membenarkan letak bantal duduknya dia iseng bertanya pada bapak tersebut..

" Mau ke mana pak ? "
" Oh ke Surabaya nak, lha anak sendiri mau kemana ?" jawab bapak itu
" Saya mau pulang ke Purwokerto pak." jawab Thomas
" lha dari mana to mas ? "
" Dari Jakarta pak urusan dinas "
" weh dinas to, pemerintah mesti....wong naiknya kereta ekonomi... " celetuk bapak itu sambil tersenyum.
" nggak papa mas tenang aja mas, guyon....saya juga dulunya orang pemerintahan kok.tapi sudah pensiun 15 tahun yang lalu." lanjut bapak itu cepat setelah melihat raut muka Thomas yang berubah agak kecut.
" i..iya pak. "
" pemda mana nak "
" pemda negeri pak"
" oh, sana to.saya dulu tahun 85 pernah meninjau lokasi disana itu. di daerah Dieng kalau tidak salah.yang dinginnya luar biasa " tampak wajah bapak tua itu berbinar seolah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang
" daerah itu memang sangat dingin pak.airnya saja sebanding dengan air es dari kulkas "
" wah bener nak, dulu saya disana seminggu saja langsung meriang hehe...oya kenalken, saya Mulyono, panggil saja pak Mul"
" Thomas pak " sahut Thomas singkat sambil menyambut jabatan tangan bapak tua itu yang ternyata bernama Mulyono.
" ngomong-ngomong pak Mul ini mau pergi ke mana pak ? sendirian saja ?"
" saya juga mau pulang kok nak Thomas, ke Surabaya. Sendirian saja wong saya ke Jakartanya juga sendiri kok. sudah biasa " jawab pak Mul.
" kalau boleh tahu, di Jakarta bapak bekerja atau kunjungan lain pak ? "
" saya itu di Jakarta ngajar kok nak. Ngajar orang-orang tua "
" heh ? orang tua ?" tanya Thomas yang kelihatan mulai penasaran dengan lelaki di sampingnya ini.
" iya nak, ngajar petugas-petugas di sekolah bea cukai negara."
" wah berarti bapak dosen dong ? "
" dosen kan sama saja dengan pengajar to nak, tugasnya ya mulang, mengajar..." jawab pak Mul tersenyum penuh misteri.

dan perbincanganpun berlanjut sampai setengah jam berikutnya hingga pak Mulyono merasa mengantuk dan berpamitan untuk memejamkan mata.

Di dalam benaknya Thomas merasa masih banyak hal yang misterius dari bapak ini, dari kecerdasannya, dari tata bahasanya, dari sorot matanya, semua nampak bahwa dia bukan hanya seorang lelaki tua seperti lainnya. Dia Berbeda.

" nggak tidur nak Thomas ?" tanya pak Mul tiba-tiba, membuyarkan lamunan Thomas
" eh, enggak pak. tidak bisa tidur saya "
" nak Thomas ini masih muda, masih banyak yang bisa dikerjakan selain melamun lho. Misalnya sambil duduk nak Thomas bisa membaca buku atau internet di handphone.sekalian belajar dan menambah wawasan kan ?"
" hehe iya pak, oya pak kalau boleh tahu sebelum pensiun bapak dinas dimana pak ?"
" wah sebenarnya saya sungkan ceritanya nak, tapi nggak papa lah. biar memotivasi nak Thomas "

Dan pak Mul pun bercerita tentang dirinya. Bahwa dia adalah pensiunan kepala bea dan cukai di sebuah provinsi di negara ini yang memilih pensiun dini karena merasa tidak sesuai lagi antara hati nuraninya dengan apa yang ada dihadapannya dan apa yang harus dilakukannya demi alasan dinas.

" saya merasa di lingkungan kerja sudah tidak ada lagi hati nurani pada saat itu. Makanya saya memilih untuk pensiun dini saja dan alih profesi menjadi pengajar "


Thomas tertegun. Dia diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Ada seseorang yang sangat langka di negeri ini duduk disampingnya. Ya, seseorang yang menggunakan hatinya untuk bekerja dan mengambil keputusan hidup.

" Lengsering ratu, adeging pandhito " Bagitu pak Mul bergumam.
" bagaimana pak " tanya Thomas yang semakin penasaran
Lengsering ratu, adeging pandhito   bisa diartikan sebagai meninggalkan sebuah kekuasaan dan alih wujud menjadi pandhito atau dalam bahasa sekarang ini guru. ya pengajar itu nak... kalimat itu harus diperhatikan dan diamalkan lho. andaikan semua manusia di negeri ini bisa dengan legowo menjalankannya, niscaya negara ini nggak akan begini nasibnya " jelas pak Mul sambil bersungut-sungut.

" ada beberapa kalimat yang diajarkan almarhum kakek saya dulu yang kemudian menjadi pegangan saya nak Thomas.

Eling kudu tansah semende marang pepesten.

Eling kudu tansah pasrah ing Allah.
Eling kudu rumangsa mung dadi titah.
Eling kudu rumangsa saderma nglakoni.
Eling kudu tansah sabar narima. Narimo ing pandum.
Eling kudu tansah lila legawa, bisa gawe seneng atine liyan.
Eling kudu mulat salira/tepa slira.
Eling kudu welas asih ing sapada - pada, nguwongke wong.
Eling kudu bisa ngregani marang liyan, sumanak lan sumadulur.
Eling kudu ngerti lan tansah nganggo tata krama, tata susila, unggah ungguh, tata basa.
Eling kudu tata, tangguh, tanggap, tanggon, alon - alon waton klakon.
Eling kudu taberi, nastiti, ngati - ati, tlaten.
Eling kudu tansah ngugemi janji, ora mencla - mencle.
Eling kudu seneng tetulung, seneng dedana marang kang merlokake.
Eling aja nganti lali marang Gusti Allahe.
Eling aja gawe seriking liyan.
Eling aja kumentus, umuk, keminter, arep menange dewe.
Eling aja dumeh, sumakeyan, adigang, adigung, adiguna.
Eling aja nguthuh, mbeguguk nguta waton, srakah, dremba, kemaruk, aluamah, ngangah angah, ngaji mumpung.
Eling aja gampangan, gumunan, bingungan, gampang gumuyu.
Eling aja ngaya, ngangsa, nggresula.
Eling aja kurang ajar, dahwen, juweh, drengki, srei, jahil metakil.
Eling aja ma lima, madat, main, madon, mangan, maling.
Eling aja nganti kliwatan seneng, kliwatan susah utawa samubarang kang kliwat wates.
Eling aja gawe kapitunaning liyan, clemer, colong jupuk, laku juti, ngapusi.
Eling aja grusa - grusu, aja briga brigi, ngawur.
Eling aja dadi tukang goroh, cidra janji, ngapusi, mlincur.
Eling sing sapa ngapusi bakal kaweleh.
Eling wong urip bakal mati.
Eling sing sapa nandur bakal ngunduh. 
Eling sing sapa salah mesti bakal seleh, sing goroh growah.
Eling sing becik bakal ketitik sing ala ketara.
Eling wong urip kudu samad sinamadan.
Eling jer basuki mawa beya.


Kalimat kalimat yang mungkin sudah tidak lagi dikenal generasi nak Thomas dan apalagi anak sekolah jaman sekarang. sungguh membuat saya prihatin sekali "

Thomas sekali lagi tertegun dan tak bisa berkata-kata. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Mulyono begitu indah namun tajam dan mengiris sanubarinya.Sebuah rentetan kalimat yang sebenarnya sangat ampuh merubah negeri ini apabila para pemimpin dan pembesarnya menerapkannya dengan sepenuh hati dan tanpa ada maksud-maksud tertentu di belakangnya. Tidak akan ada lagi wakil Tuhan di Mahkamah yang katanya Agung yang justru menggunakan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi, tidak akan ada lagi seseorang atau bahkan sekelompok tikus lapar yang berjas rapi berlabelkan wakil masyarakat yang katanya terhormat dan selalu minta dihormati.....

Tidak terasa 5 jam perjalanan kereta ekonomi itu sudah berlalu. Masinis sudah membunyikan peluit bahwa kereta sebentar lagi akan berhenti di stasiun berikutnya. Stasiun Purwokerto.

Thomas beringsut menata barang bawaannya dan kemudian berpamitan kepada pak Mulyono. Sambil berjalan berlahan masih jelas berbekas di ingatannya apa yang dikatakan lelaki tua itu di akhir pertemuan.

" ingat nak,  Sabda pandhita ratu, tan keno wola wali ....ucapan nak Thomas sebagai seorang buruh negeri, seorang pemimpin, jangan pernah berubah ubah alias mencla mencle.karena itu akan merugikan nak Thomas di kemudian hari....jangan tiru mereka yang sudah berada di atas dan menjadi pesohor negeri. Karena masa depan negeri ada pada jiwa-jiwa luhur pemuda macam nak Thomas ini...."








Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow