Archive for Februari 2014

Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie

Di negeri ini beberapa waktu yang lalu, Warga keturunan Tionghoa sering mendapatkan perlakuan diskrimatif karena ras dan ciri fisik mereka yang berbeda. Memang sih hal semacam ini tidak hanya terjadi disini saja, namun juga negara-negara lain yang menjadi tujuan imigrasi nenek moyang mereka dari Tiongkok Daratan yang berlayar mengarungi samudera beratus-ratus tahun yang lalu. Di Indonesia sendiri, bangsa Tiongkok pertama kali menjalin hubungan dengan pribumi lewat perdagangan. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak dari mereka yang menikahi warga pribumi dan mendapatkan keturunan sehingga akhirnya menetap di Tanah Air.

Meskipun sudah membaur dan menetap, terkadang sebagian warga yang mengaku sebagai keturunan "lokal" dan "pribumi" masih tetap sering melupakan atau bahkan sengaja lupa akan keberadaan mereka. Bahkan apabila mereka telah berjasa besar sekalipun. Nah inilah yang kemudian menjadi satu permasalahan yang muncul dalam benak generasi penerus bangsa ini.

Sebagai contoh saja adalah sebuah pertanyaan Kata siapa etnis minoritas di negeri ini tidak berjasa dan hanya berpangku tangan saja ketika jaman perjuangan kemerdekaan dulu ? Pertanyaan ini sungguh keliru dan sangat menunjukkan apa yang sudah disebut di awal tadi.

Kenapa ?

Ceritanya begini,

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah nama yang sangat menarik perhatian saya dari sebuah Tabloid elektronik. Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie.

Siapa dia ?

Di kalangan masyarakat umum, bahkan termasuk warga Tionghoa sendiri, nama John Lie kurang dikenal. Masyarakat umum pasti lebih mengenal Laksamana YOS Sudarso atau laksamanam Muda Maeda atau lebih kenal lagi dengan nama Laksamana Cheng Hoo, (panglima Muslim dari armada Tiongkok yang masuk ke Indonesia dan namanya dijadikan nama sebuah klenteng besar di Semarang, Jawa Tengah).
Namun, di kalangan pelaut, terutama TNI Angkatan Laut, nama Laksamana John Lie sudah tidak asing lagi. Bahkan, sebelum ditetapkan sebagai pahlawan nasional pun, John Lie sudah dianggap sebagai salah satu teladan, panutan bahkan role model bagi pelaut-pelaut muda tanah air.

John Lie lahir dengan nama lahir Lie Tjeng Tjoan di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911, dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Leluhur John diketahui berasal dari daerah Fuzhou dan Xiamen, China yang pada abad ke 18 berlayar sampai ke tanah Minahasa. Walaupun John dilahirkan dari keluarga yang beragama Budha namun John sendiri dikenal sebagai penganut Kristen yang taat. Perkenalannya dengan agama Kristen terjadi saat dia bersekolah di Christelijke Lagere School, Manado.


Awalnya, John Lie bekerja sebagai mualim kapal niaga milik Belanda, kemudian bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), sebelum diterima di Angkatan Laut RI. Semula dia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini John berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi Sekutu. Atas jasanya itu, John dinaikkan pangkatnya menjadi mayor.

Sejak itu John Lie memperlihatkan kemampuannya sebagai pelaut dan patriot sejati. Pada awal kemerdekaan, 1947, John ditugaskan mengamankan pelayaran kapal-kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri.
Di antaranya, mengawal kapal pengangkut karet 800 ton untuk diserahkan kepada Utoyo Ramelan, kepala perwakilan RI di Singapura. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata-senjata itu diserahkan kepada pejabat di Sumatera seperti bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.

Ingat, meski sudah merdeka pada 17 Agustus 1945, pasukan Belanda yang didukung Sekutu masih bercokol di Indonesia. Setelah Jepang kalah, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Perjuangan John Lie dan kawan-kawan di kapal tidak ringan mengingat kapal-kapal AL Belanda rajin patroli. Belum lagi harus menghadapi gelombang samudra yang besar untuk ukuran kapal mereka yang belum secanggih saat ini.

Dalam operasi ini, John Lie mengemudikan kapal kecil cepat bernama The Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit John Lie melakukan 15 kali operasi 'penyelundupan'. Hingga suatu ketika dia sedang membawa 18 drum minyak kelapa sawit, John sempat ditangkap perwira Inggris dan diadili di Singapura. Di pengadilan Singapura, John dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum.

Cerita lain adalah saat membawa senjata semiotomatis dari Johor (Malaysia) ke Sumatera, kapal John dihadang pesawat patroli Belanda. John Lie pada saat itu mengatakan bahwa kapalnya sedang kandas.Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap, mengarahkan senjata ke The Outlaw. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan The Outlaw tanpa insiden.

Jiwa patriotisme, cinta tanah air, membela negara, tak hanya diperlihatkan Laksamana Muda John Lie lewat kata-kata, tapi perbuatan. Sejak bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada awal kemerdekaan, sebagian besar hidup John Lie dibaktikan kepada negara dan bangsanya di lautan.

Karena itu, John Lie tidak suka dengan istilah 'pribumi' dan 'nonpribumi' yang dinilai hanya menyudutkan orang Tionghoa di Indonesia. Istilah 'nonpribumi' ada era Orde Baru selalu merujuk pada orang Tionghoa. Dan konotasinya selalu jelek. Nah, John Lie ini punya pandangan sendiri tentang pribumi dan nonpribumi.

"Siapakah orang pribumi dan nonpribumi itu? Orang pribumi adalah orang-orang yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan nonpribumi adalah adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk kita dari belakang," kata John Lie seperti dikutip Mayor (P) Salim, komandan KRI Untung Suropati,dalam sebuah artikelnya.


Menurut John, orang yang tidak mementingkan atau membela nasib bangsa Indonesia--apa pun latar belakang suku, ras, etnis, agama--adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa. "Jadi, soal pribumi dan nonpribumi bukannya dilihat dari suku bangsa dan keturunan, melainkan dari sudut pandang kepentingan siapa yang mereka bela," tegasnya.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Laksamana Muda John Lie, menurut Mayor (P) Salim, terlibat aktif dalam sejumlah operasi penumpasan pemberontakan di dalam negeri seperti Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan PRRI/Permesta. Aksi separatis ini sangat mengganggu keutuhan Republik Indonesia yang usianya masih sangat hijau.

Pada 1 Mei 1950 Menteri Panglima AL Raden Soebijakto memerintahkan kapal perang AL untuk melaksanakan blokade di perairan Ambon. John Lie menjadi komandan kapal–kapal korvet RI Rajawali. Kemudian KRI Pati Unus dikomandani Kapten S Gino, KRI Hang Tuah dipimpin Mayor Simanjuntak. Pendaratan di Pulau Buru dilaksanakan pada 13 Juli 1950.

TNI AL mengerahkan kekuatan eskader-eskader di bawah komando Mayor Pelaut John Lie, dilanjutkan dengan pendaratan di Pulau Seram dan Pulau Piru. Melalui tiga titik pendaratan ini, yang dibantu kekuatan gabungan TNI, pasukan RMS pun terdesak. Pada 15 November 1950, operasi pembersihan RMS di Ambon dan sekitarnya selesai.

Pemberontakan DI/TII kali pertama muncul di Jawa Barat pada 1949 di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Namun, pengaruh DI meluas hingga ke Aceh pada 1950 dipimpin oleh Teuku Daud Beureuh dan di Sulawesi Selatan pada 1953 di bawah pimpinan Abdul Qahhar Mudzakkar. Untuk menumpas pemberontakan tersebut, Presiden Soekarno memerintahkan operasi militer dan operasi pemulihan keamanan yang melibatkan seluruh elemen pertahanan, termasuk TNI AL.

Nah, kapal TNI AL menggelar operasi patroli pantai dipimpin oleh Mayor (P) John Lie. Pada 1958 pemerintah juga menggelar operasi untuk menumpas Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera dan Perjuangan Semesta (Permesta) di Sulawesi. Operasi gabungan TNI ini dikomandani Kolonel Ahmad Yani, dengan wakil komandan Letkol (P) John Lie dan Letkol (U) Wiriadinata.

Dalam operasi ini TNI AL membentuk Amphibious Task Force-17 (ATF-17) yang dipimpin Letkol (P) John Lie, dan melibatkan KRI Gajah Mada, KRI Banteng, KRI Pati Unus, KRI Cepu, KRI Sawega, dan KRI Baumasepe, serta satu batalyon KKO (Marinir). Kapal-kapal melakukan bombardemen sekitar kota Padang dan kemudian mengadakan operasi pendaratan pasukan KKO.

Setelah operasi Permesta 1958-1959, John Lie dikirim ke India selama setahun untuk tugas belajar di Defence Service Staff College, Wellington. Pada 1960, John Lie diangkat menjadi anggota DPR Gotong Royong dari unsur TNI AL. Kemudian, pada 1960–1966 John Lie menjabat kepala inspektur pengangkatan kerangka kapal di seluruh Indonesia. Sebelumnya, pada 5 Oktober 1961 Presiden Soekarno menganugerahkan tanda jasa kepahlawanan kepadanya.


Kesibukannya dalam perjuangan membuat beliau baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma. Beliau meninggal dunia karena stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.




"Adanya pahlawan nasional dari etnis Tionghoa justru sangat penting bagi masyarakat Indonesia keseluruhan yang bisa melihat bahwa etnis Tionghoa itu sama dengan etnis lain, yakni sama-sama berjuang untuk kemerdekaan bangsa,"  

(Dr Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)) 



Sumber : wikipedia dan mbah google
2.13.2014
Posted by ngatmow
Tag :

Perbedaan Kampanye di Jepang dengan Indonesia

Sebentar lagi pemilihan umum di negeri kita sodara sodara. Banyak hal yang bisa kita perhatikan dan ambil pelajaran dari proses demokrasi yang "katanya" sudah berdasarkan asas LUBER ini.

Masih ingat asas ini ?
Asas Langsung Umum Bebas dan Rahasia yang dulu pernah diajarkan pada saya jauh sebelum reformasi, ketika saya masih berseragam putih dan merah.

Sebenernya kalau kita mau berkata jujur, mungkin saat ini hanya tinggal segelintir orang saja yang minimal "mau" mengingatnya dan mengamalkannya. paradigma masyarakat kita sudah jauh berubah dan bergeser terlalu jauh (maaf kalo salah - hanya opini saya saja). Dimana bukan lagi kepentingan jangka panjang untuk bersama yang diutamakan, namun kepentingan jangka pendek dan kepentingan segelintir orang saja yang dikedepankan.

Mungkin kita harus berkaca kepada negeri tetangga yang juga "saudara dari timur" kita, Jepang, dalam hal berdemokrasi dan berpolitik. Sebagai contoh, mulai dari cara berkampanye para politikus di Jepang yang sangat jauh berbeda dibanding politikus di Indonesia. Entah kenapa, mungkin karena sadar sumber daya alam melimpah, kampanye di Indonesia jauh lebih glamour dibanding kampanye di Jepang. Jauh lebih royal, kampanye di Indonesia meliputi: Iklan di televisi hampir tiap jam, di surat kabar sebesar monster, radio, spanduk, poster hampir tiap perempatan jalan dengan merusak lingkungan (pohon-pohon), baliho sebesar lapangan futsal, rapat-rapat umum yang mengundang puluhan ribu orang (tentu ada imbalannya), dan sebagainya.


Sementara para politikus Jepang berkampanye dengan sangat sederhana. penyampaiannya cukup dengan menggunakan pengeras suara portable di pinggir2 jalan, atau perempatan jalan, tidak ada special place, apalagi dangdut-an yang penyanyinya adalah artis ibu kota dan berdandan super sexy pula hehehe....

Mereka berbicara panjang lebar, entah ada yang mendengarkan atau tidak, dan selalu melambaikan tangan kepada siapa saja yang lewat. Sepertinya hanya omong saja, tetapi LIHAT lah buktinya … semua tertata rapi & memberi kebaikan kepada rakyatnya. mulai dari pengelolaan sampah, tata ruang kota, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan lain-lain ….. terutama pembinaan mental warganyayang tentu saja harus kita akui amat sangat jauh berbeda dengan mental masyarakat kita kebanyakan.

Kalau dipikir-pikir, sebenernya cara kampanye seperti yang dilakukan para politikus di negeri ini sangatlah mubadzir. bagaimana tidak, kita lihat saja pada saat pelaksanaan kampanye atau apapun yang berhubungan dengan masyarakat banyak, yang muncul untuk "mendukung" atau lebih tepatnya "menonton" adalah anak-anak kecil di bawah umur yang tentu saja belum menjadi pemilih. mereka pada dasarnya lebih tertarik pada "tontonan" sebagai hiburan dari pada penyampaian visi misi sang politikus. Mubah kan....

Sama seperti di Indonesia, para calon anggota parlemen juga melakukan kampanye terbuka. Mereka berorasi, menyampaikan visi, misi dan program-programnya kepada masyarakat secara langsung. Hanya bedanya, para calon anggota parlemen ini tidak melakukan arak-arakan dan pengumpulan massa secara terkoordinasi. Biasanya, seorang calon hanya berorasi melalui TOA di mobil yang sedang berjalan. Sambil mobil jalan, dia akan berorasi sambil melambai-lambaikan tangan. Kalau dia capek, orasi akan digantikan oleh tape, tetapi dia bersama beberapa kawannya akan tetap melambai-lambaikan tangan dari mobil.  Dan satu hal yang sangat perlu dicatat, yang ikutan kampanye biasanya hanya satu mobil saja. Jadi, tidak ada mobil yang mendampingi calon anggota parlemen ini untuk melakukan kampanye.mereka tidak membawa ‘pasukan tim sukses’ yang banyak, cukup 3-5 orang saja, biasanya anggota keluarganya atau bahkan ada yang seorang diri.

Bagaimana dengan spanduk dan baliho? hampir tidak ada spanduk dan baliho di tempel atau di tempatkan dipinggir-pinggir jalan Jepang.alat kampanye yang umum adalah poster dan brosur. sebagai alat kampanye, poster para calon anggota parlemen ditempel di sudut-sudut jalan atau dibangunan-bangunan tertentu. tapi, beda dengan yang ada di Indonesia, penempelan poster yang mereka lakukan cukup rapi dan teratur. Poster yang ditempel juga dengan jumlah terbatas, akhirnya tidak merusak pemandangan. Brosur biasanya dibagikan saat ada seorang calon anggota parlemen ber-orasi di jalan-jalan. Sebagian calon anggota parlemen memasukkan brosur mereka ke kotak-kotak surat rumah.

Lha kalo di negara kita ? bah....
lihat saja kondisi jalan kita sekarang ini. berbagai macam gambar dan tulisan bertebaran dengan bebas dan tidak beraturan. Yang justru menimbulkan kesan kotor dan kumuh di sepanjang jalan. Itupun kalau gambar yang ditampilkan adalah gambar yang "bener", lha kalau gambarnya "mengundang" ?? 







Satu lagi fenomena pemilihan di negeri ini. semua sudah faham dan mahfum kalau untuk pemilihan kades saja para calon menyediakan paling sedikit menyediakan sekitar Rp.400Juta. Padahal kalau di banding dengan gajinya paling hanya mendapatkan sekitar Rp.105Juta per tahun.jadi dalam masa Jabatan 5 tahun Jumlah yang di Peroleh sekitar Rp.525Juta. nah itulah...... lagi lagi alasan kekuasaanlah yang menjadi tujuan utama dan tentu saja hal tersebut tak bisa di ukur dengan uang seberapapun nilainya.

Asal tahu saja sodara-sodara, di negara kita (dari berbagai sumber terpercaya) perkiraan untuk penyelenggaraan sebuah pesta demokrasi bisa menghabisakan 167 T ! hebat kan ??

Coba kita bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu?

  1. Bisa bangun 36 jembatan Suramadu. Rakyat akan sangat senang dengan banyaknya jembatan sebaik jembatan ini dan tidak akan ada lagi cerita jembatan ambruk, jalan berlubang, dan sebagainya.
  2. Bisa bangun 27 stadion sekelas stadion termegah di dunia yaitu Yokohama Stadium
  3. Bisa membangun 2000 Km jalan tol. Hmm jakarta - surabaya bisa nyambung dengan tol nih dengan uang ini.
  4. Bisa bangun 1,8 Juta rumah murah untuk rakyat miskin, nah yang ini enak nih bisa ngurangin gelandangan.
  5. Bisa bangun 1500 RSUD sekelas RSUD Bojonegoro yang megah
  6. Bisa Bangun 165.000 buah bangunan sekolah dasar permanen. Yang ini juga mantab dijamin gak ada gedung sekolah yg roboh lagi.
  7. AU kita bisa makin kuat dengan tambahan 20 armada Sukhoi Su 27. Dijamin tetangga sebelah hanya bisa melongo.
  8. Bisa beli 165 juta Ton beras...untuk dibagikan pada rakyat miskin di seluruh pojok negeri.
Itu semua belum termasuk berapa rupiah yang pada akhirnya mengalir dari dan kemana mana yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Hemm, susah kan ? apa ya yang membuat peraturan soal pemilu di negeri ini tidak mikir sampai ke situ ya ? apa mereka nggak memperhitungkan juga efek akhirnya ? apa mereka tidak menerapkan apa yang katanya mereka sudah pelajari pada saat melakukan studi banding ke Jepang untuk melihat sistem demokrasi di sana ?

Entahlah....

Harapan kita semua sih semoga kedepannya para politikus di Indonesia tidak gengsi untuk melirik cara kampanye di negara lain yang jauh lebih baik. Semoga kedepannya Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi dalam cara berpolitiknya, selain tidak menghamburkan dana & ramah lingkungan, tentunya lebih bisa memberi contoh mental yang baik kepada masyarakat.

yang jelas jangan sampai kita sebagai warga negara yang sehat dan berakal menggunakan semboyan seperti ini :



Sumber : kaskus.co.id


2.10.2014
Posted by ngatmow

Peringatan serius buat photoshoper

Peringatan serius buat yang suka ngutak atik foto (terutama foto para model) untuk kemudian mempublikasikannya ke media massa. Kebebasan para pengutak atik dan photoshoper akan semakin dibatasi. Hal itu jelas diulas pada sebuah artikel pada detik.com .....


Membuat tubuh model dan selebriti jadi lebih langsing dengan Photoshop bisa mendatangkan masalah hukum bagi pelakunya. Setidaknya itu aturan yang diterapkan pemerintah Israel dan baru diloloskan pada 2013 lalu. Aturan yang pertamakali diserukan oleh fotografer fashion Adi Barkan ini ternyata banjir dukungan di Australia. Sejumlah kalangan bahkan mengimbau Negeri Kangguru itu untuk melakukan tindakan serupa.

Aturan tersebut berbunyi, foto yang telah diubah dengan program komputer Photoshop harus dilengkapi peringatan jelas dan model busana harus memiliki indeks massa tubuh minimum 18,5. Di luar itu, tindakan tersebut akan dianggap melanggar hukum.

Hukum yang diberi nama 'hukum Photoshop' ini dibuat sebagai reaksi terhadap berbagai masalah yang timbul karena pandangan negatif terhadap tubuh sendiri yang dapat berujung anoreksia. Gambaran tubuh model atau selebriti yang sempurna di majalah maupun iklan, disinyalir jadi salah satu pemicu maraknya kasus anoreksia dan rendahnya kepercayaan diri di kalangan remaja.

Penerbit buku Mia Freedman di Australia, berpendapat bahwa 'hukum Photoshop' yang diterapkan Israel adalah ide yang brilian. Juga persyaratan indeks massa tubuh minimum untuk model dinilainya sangat menarik.

"Aturan seperti itu di industri modelling, mungkin, yah, akan membuat banyak model 'turun' dari panggung catwalk dan pemotretan majalah. Tapi itu bisa sangat, sangat membantu. Karena Anda tidak akan tahu seseorang sehat atau tidak hanya dengan melihatnya dari luar," ujar Mia, seperti dikutip dari ABC Australia.

Pandangan negatif terhadap tubuh sendiri memang kerap menjangkiti wanita di seluruh dunia, termasuk Australia. Akibatnya bermacam-macam. Mulai dari rendah diri, diet yang berbahaya bagi kesehatan, depresi, hingga anoreksia dan bulimia.

Tahun 2009, pemerintah Australia mendirikan kelompok penasihat nasional untuk menyikapi masalah ini. Mereka sempat membuat tata tertib industri media, fashion dan iklan. Isi tata tertib itu diantaranya terwakilinya keberagaman, tidak menggunakan Photoshop untuk mengubah bentuk tubuh di foto, dan model harus memiliki berat badan sehat.

Namun, menurut Mia yang juga ketua kelompok tersebut, tata tertib itu gagal karena Photoshop tetap banyak digunakan. Ia pun meminta diterapkannya peraturan yang lebih ketat.

Di luar Israel dan Australia, urusan meng-edit dengan Photoshop ini memang kerap menimbulkan pro & kontra. Contoh paling jelas dan baru adalah Lena Dunham yang tampil untuk cover majalah dan fashion spread Vogue Amerika edisi Februari 2014. Dalam foto hasil jepretan Anne Leibovitz tersebut, tubuh Lena yang berisi jadi terlihat lebih ramping. Penampilan Lena dalam majalah yang kerap dijuluki 'fashion bible' itu pun mengundang kontroversi.

Situs Jezebel menawarkan uang USD 10.000 atau sekitar Rp 122 juta bagi siapa saja yang mau mem-posting foto bintang serial 'Girls' itu sebelum di-retouch di Photoshop. Akibatnya, banyak pihak yang terpancing dan mendesak untuk merilis foto Lena yang tidak di-Photoshop ke publik. Lena pun menanggapi reaksi itu dengan santai.

"Majalah fashion seperti sebuah fantasi yang indah. Vogue bukanlah tempat dimana kita melihat wanita yang realistis, tapi tempat melihat baju-baju bagus dan tempat indah dan sebuah pelarian. Menurut saya jika semua itu bisa merefleksikan diri saya, dan saya bisa memakai gaun Prada yang indah dan dikelilingi pria tampan serta anjing yang bagus, apa masalahnya?" urai Lena.

Jika Lena merespon hasil foto editannya dengan 'kalem', tidak dengan Nicki Minaj. Rapper berusia 31 tahun itu justru marah saat melihat dirinya terlihat terlalu sempurna karena Photoshop. Melalui akun Instagramnya Nicki melayangkan protes pada majalah ESPN yang melakukan banyak Photoshop pada fotonya. Nicki mengungkapkan kemarahannya dengan menampilkan foto sampul majalah ESPN bergambar dirinya dan Kobe Bryant.

"When retouching goes wrong," begitu tulisnya pada caption foto.

Nah lho....
kalo sudah begini repot juga kan...semoga saja tidak diterapkan di negeri kita yang terkenal sebagai negara peniru ini. Dan semoga saja bagi mereka-mereka yang punya bakat dan menyalurkannya dengan jalan semacam ini segera bertobat...hehehe
2.04.2014
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow