Posted by : ngatmow prawierow 3.13.2014

Dulu kita mudah mengatakan kamera interchangeable-lens sebagai kamera DSLR, tetapi sekarang tidak bisa. Mengapa? Ya karena kamera yang bisa diganti lensanya tidak saja jenis DSLR, tetapi juga kamera jenis baru yang dinamakan mirrorless. Apa itu mirrorless? Artikel yang merujuk dari Tomsguide.com ini sedikit banyak akan membahasnya.

Jika Anda ingin naik kelas dari kamera smartphone atau point-and-shoot (kamera kompak) ke kamera yang lensanya dapat diganti-ganti, Anda memiliki dua pilihan utama: kamera DSLR atau kamera mirrorless. Kedua jenis kamera tersebut pada dasarnya melakukan hal yang sama, tetapi masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan yang nanti akan mempengaruhi keputusan dalam membelinya.


Apa itu DSLR dan Mirrorless ?

Kamera SLR (Single lens reflex) merupakan jenis kamera yang telah ada selama lebih dari seratus tahun. Seperti pendahulunya yang berbasis film, DSLR (Digital SLR) masih menggunakan cermin untuk memantulkan cahaya dari lensa ke viewfinder (jendela bidik) sehingga kita akan melihat persis apa yang dilihat kamera secara optikal. Bila kita mengambil gambar, cermin tersebut akan naik dengan cepat, shutter (rana) di depan sensor gambar terbuka, dan cahaya akan mengenai sensor sehingga bisa dilakukan pengambilan gambar. Setelah itu cermin dengan cepat akan kembali ke posisi semula untuk menampilkan objek di viewfinder.
Sedangkan kamera mirrorless, seperti namanya, tidak perlu cermin. Cahaya akan melewati lensa dan langsung jatuh tepat ke sensor gambar, seperti dalam kamera kompak dan smartphone. Gambar obyek akan ditampilkan pada layar LCD atau elektronik vewfinder setelah itu baru menekan tombol shutter dan gambar/foto tersimpan.
Jadi kamera mana yang harus Anda pilih? Berikut daftar pertimbangan yang bisa digunakan untuk menentukan pilihan kamera yang tepat.

Ukuran dan Berat

Badan kamera DSLR secara umum relatif lebih besar, karena mereka harus memiliki ruang untuk cermin dan mekanisme shutter. Tetapi kondisi terakhir DSLR sudah cukup kecil, yang terkecil dan teringan yang tersedia adalah Canon EOS 100D, yang beratnya sekitar 600gram, dengan lensa zoom kit terpasang. Tetapi harganya sepertinya agak mahal untuk kamera entri-level (pemula). Sebuah model yang lebih ekonomis, Canon EOS 700D dengan berat 710 gram. Sebuah model dengan level di atasnya lagi seperti Nikon D7100 hampir dua kali lebih berat yaitu 1,2 kg atau lebih, tergantung pada lensa yang digunakan.
Sementara kamera mirrorless tidak memiliki cermin dan mekanik shutter, sehingga bodi kamera mirrorless bisa lebih kecil dari DSLR, dan memiliki konstruksi yang sederhana. Sebuah kamera mirrorless khas seperti Olympus PEN-EPL5 beratnya hanya kurang dari 450 gram termasuk lensa. Sementara kamera mirrorless terkecil Panasonic Lumix GM1 hanya seberat 204 gram dan berukuran persis kamera kompak sehingga benar-benar bisa dikantongi.
Disini Anda harus mengetahui kebutuhan, apakah bisa menerima beban yang lebih berat, karena biasanya setelah sekian lama orang akan malas membawa kamera yang berat. Atau justru ingin kamera yang mudah dibawa kemana saja tanpa khawatir membebani.

Kemampuan dan Akurasi Fokus

Kamera DSLR menggunakan mekanisme cermin untuk mengalihkan cahaya ke sensor khusus yang digunakan dalam proses yang disebut Phase Detect Auto Focus (PDAF). Sensor mengukur konvergensi dari dua berkas cahaya untuk dengan cepat mengkondisikan lensa ke dalam fokus.
Sementara karena tidak memiliki cermin, kebanyakan kamera mirrorless harus menggunakan teknik yang relatif lebih lambat, yang disebut Contrast Detect Auto Focus (CDAF) – metode yang sama yang digunakan oleh kamera point-and-shoot dan kamera di smartphone. Sensor gambar menangkap satu bagian kecil dari gambar yg di sedang dibidik, melakukan tes seberapa tajam itu, dan kemudian refokus lensa dan tes lagi sampai mendapatkan fokus yang paling tepat. Deteksi kontras sangat lambat dalam cahaya rendah dan dengan subyek bergerak, karena gerakan objek yang cepat membingungkan kamera.
Tetapi Kamera mirrorless terbaru, seperti Olympus OM-D EM-1, memiliki prosesor yang lebih cepat yang dapat mendeteksi kontras lebih cepat, sehingga mereka bisa fokus secepat DSLR, meski untuk foto sport CDAF belum bisa menyamai PDAF. Bahkan model kamera mirrorless yang baru akhir-akhir ini memiliki teknologi yang menggunakan satu sensor untuk menggabungkan kedua teknik auto fokus PDAF dan CDAF. Tapi masih belum jelas seberapa baik model-model baru tersebut dibanding DSLR.

Kualitas Viewfinder

Sisi positif dari viewfinder DSLR adalah bahwa Anda dapat melihat gambar secara optikal langsung, biasanya lebih jernih, responsif dan lebih cerah dibandingkan elektronik. Sementara kamera mirrorless harus menangkap preview gambar pada layar LCD dan atau elektronik viewfinder (EVF). Untuk LCD kadang di siang hari yang cerah agak susah untuk dilihat. Tetapi EFV generasi sekarang sudah jauh baik, responsif, cerah dan keuntungannya adalah preview gambar yang tampil sama dengan yang akan disimpan nantinya dan banyak informasi yang bisa ditampilkan seperti historgram.
Tidak semua kamera mirrorless memiliki EVF, hanya sebagian di kelas high-end seperti Panasonic GX7, Panasonic GH3, Fujifilm X-E1, X-Pro1, Sony NEX-7, Sony A-7 dan A-7R. Semakin lama diyakini teknologi EVF akan semakin baik, sehingga akan mampu menyamai kejernihan optical viewfinder dengan ukuran dan kebutuhan ruang yang jauh lebih kecil.

Image Stabilization

Semua kamera modern memasukkan fitur stabilisasi gambar, di mana akan mengurangi blur pada foto (umumnya pada kecepatan rana lambat) yang disebabkan tangan yang bergoyang saat memegang kamera. Baik kamera DSLR maupun mirrorless, melakukan ini dengan teknik menggeser sebagian kecil bagian dari optik lensa, teknik lainnya adalah menggeser sensor gambar utama.
Beberapa kamera mirrorless dapat menggeser kedua elemen lensa dan sensor gambar – kombinasi yang dapat lebih efektif daripada salah satu dari metode ini saja. Yang paling baru dalam teknologi ini adalah 5-Azis Image stabilization yang ditanam Olympus pertama kali di OM-D E-M5, yang memperhitungkan pergerakan sensor pada sumbu Z selain X dan Y. Hasilnya hingga 2 stop lebih baik saat menggunakan tangan.

Kualitas Gambar

Kamera mirrorless awalnya menawarkan gambar berkualitas lebih rendah daripada DSLR, dengan lebih banyak noise (graininess) dan warna yang lebih buruk, karena generasi pertama menggunakan sensor gambar yang lebih kecil yang menangkap cahaya kurang. Namun produsen kamera mirrorless telah menemukan cara untuk mengurangi noise, menggunakan sensor yang lebih baik (dan juga lebih besar) dan prosesor gambar yang lebih baik, dan sekarang tidak ada perbedaan nyata dalam kualitas gambar dalam kebanyakan model konsumer.
DSLR high-end menggunakan sensor yang sangat besar yang disebut “full frame” sensor yang telah memberikan mereka keunggulan high end. Baru-baru ini Sony mengenalkan kamera mirrorless dengan sensor full-frame, yaitu A7 dan A7R, hal ini menjadi langkah penting dalam menutup kesenjangan kualitas dan bahkan kinerja antara DSLR dan mirrorless.

Gambar dan Video Playback

Ketika datang untuk menampilkan gambar yang baru saja ditangkap, kedua jenis kamera dapat menggunakan layar LCD atau output HDMI ke televisi Anda. Meskipun body kamera mirrorless lebih kecil, sebagian besar memiliki ukuran layar LCD yang sama yaitu 3-inch, yang umum ditemukan di DSLR.

Lensa dan Aksesoris

Jika Anda ingin membeli kamera dengan lensa dapat dipertukarkan, artinya Anda membeli ekosistem seluruh lensa, dan juga aksesoris lainnya yang cocok. Anda tidak dapat menggunakan lensa Micro Four Thirds (MFT) pada body kamera DSLR body. Jadi, ketika memilih kamera, perlu mempertimbangkan berbagai lensa yang tersedia untuk sistem.
Memilih DSLR memberi akses ke sejumlah besar jenis lensa – dari sejumlah produsen – mulai dari yang murah hingga untuk profesional dan mahal. Sebaliknya, kebanyakan model mirrorless hanya memiliki sedikit pilihan lensa dari produsen kamera. Satu-satunya lensa untuk kamera Sony Alpha NEX berasal dari Sony itu sendiri, misalnya. Namun, Sony baru saja mengumumkan lima lensa baru untuk kamera mirrorless full-frame baru, yang sangat memperluas jangkauan lensa yang tersedia.
Sistem mirrorless dari produsen seperti Pentax (Q kamera) dan Samsung (seri NX) memiliki lensa paling sedikit, karena perusahaan-perusahaan ini memilih untuk membuat sistem mirrorless sendiri-sendiri. Sistem Micro Four Thirds memiliki pilihan terluas karena mereka adalah pionir dan dibentuk oleh beberapa perusahaan – Olympus dan Panasonic membuat kamera, dan lensa dibuat oleh Olympus, Panasonic, Sigma, Tamron dan lain-lain.
Anda dapat membeli adapter untuk menggunakan lensa DSLR pada kamera mirrorless. Tapi akan mengubah zoom (focal length) berdasarkan crop factor, dan juga akan menonaktifkan fitur seperti autofocus.

Kesimpulan (versi rumorkamera)

Jadi, kamera jenis apa yang terbaik secara keseluruhan, kamera DSLR atau mirrorless? Tidak ada. Semua benar-benar tergantung pada prioritas Anda. Jika kualitas gambar atas dan kecepatan yang paling penting bagi Anda, misalnya untuk sport, terlepas dari berat body, memilih DSLR untuk kinerja yang unggul dan dukungan luas jenis lensa.
Tapi secara umum kamera mirrorless memiliki pilihan lensa yang lebih dari cukup untuk kebanyakan situasi pemotretan, dan kecepatan fokus yang sudah sangat baik. Oleh karena itu, kamera mirrorless adalah pilihan terbaik jika Anda ingin membawa kamera kemana-mana dan tidak ingin terbebani sepanjang jalan.

Kesimpulan (versi brock7)

seperti kata pepatah “the man behind of the gun” dan sebuah jargon dari satu Komunitas Fotografi Ponsel, "Bukan masalah kameranya, tapi siapa di belakang kamera itu yang mengambil gambar" ..... apapun alatnya sebenarnya bukan sebuah masalah besar, hanya saja memang harus memperhatikan teknik dan skill individu si pemegang kamera. Jika memang berorientasi pada gengsi (ini juga sebenarnya sudah tidak perlu dijelaskan lagi - namun masih tertanam sebagai "mindset" anak-anak muda yang baru belajar memotret ), kamera DSLR yang berat dan besar itu boleh lebih menjadi pilihan.
Sama juga dengan apabila orientasinya pada harga atau budget, sebagian orang lebih memilih pada kamera Mirrorless. Padahal persepsi ini sebenarnya juga tidak tepat mengingat bahwa banyak sekali kamera mirrorless yang harganya justru jauh lebih mahal daripada kamera DSLR.

Yang jelas, janganlah alasan alat menjadi satu penghalang dalam belajar fotografi, karena fotografi menggunakan ponsel pun sudah sangat membumi akhir-aknhir ini. Bahkan sudah banyak pembuktian dari anggota komunitas fotografi ponsel yang hasil karyanya bahkan sudah bisa mengalahkan karya foto DSLR maupun Mirrorless....... 






Sumber : rumorkamera.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow