Posted by : ngatmow prawierow 8.22.2015

Dieng Culture Festival ke VI baru saja berakhir pada tanggal 2 Agustus yang lalu. Dalam pagelaran akbar tahunan  warga Dieng tersebut seperti biasa dilaksanakan beberapa rangkaian acara yang terangkum dalam 3 hari 2 malam pelaksanaan Festival.

Banyak hal yang terjadi dan masih tersisa di segenap sudut otak saya soal jalannya Festival. Mulai dari sudah mulai membaiknya penataan parkir di Dieng, dinginnya suhu udara di sana waktu itu, pendatang yang kurang persiapan, sampai penataan tempat untuk pers yang menurut saya kurang memadai.

Oke satu satu................

Dulu dalam sebuah artikel saya sempat menulis bahwa penataan parkir di Dieng sangat semrawut dan tidak bersahabat bagi pengendara kendaraan roda 4. Nah pada DCF VI kali  ini saya melihat perubahan yang cukup signifikan soal itu. Parkir kendaraan roda 4 sudah semakin tertata dan cukup banyak tempat tersedia. Bahkan tidak jarang  tempat parkir tersebut secara sukarela disediakan oleh masyarakat setempat, tentu saja tidak gratis dan harus dengan tarif tertentu pemirsa..........Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda 4 ........(itu di parkiran yang terdekat dengan posisi saya......ga tahu kalau parkiran lainnya lho)

Selanjutnya soal pengaturan arus lalu lintas, setelah kesemrawutan yang luar biasa pada DCF V  yang lalu, nampaknya pokdarwis (kelompok Sadar Wisata) setempat dan panitia lebih serius dalam mempersiapkan satu hal yang urgent ini. sebab arus lalu lintas sudah diatur menjadi satu arah di jalur museum kailasa dan komplek pintu masuk Suharto Witlem. Meski masih saja ada oknum oknum penyakitan yang nekat melawan arus namun hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup signifikan seperti tahun lalu. Dan menurut saya hal ini menjadi sebuah prestasi yang cukup bagus untuk standar pelaksanaan event budaya tahunan ini.

Dalam pelaksanaan Dieng Culture Festival VI tahun 2015 ini, ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Entah kalo pengunjung yang lain (terutama yang berasal dari daerah lain), Suhu Dieng pada Sabtu 1 Agustus 2015 itu mencapai -3 sampai -5 derajat Celcius !!! banyak pendatang yang merasakan kedinginan luar biasa ketika malam sudah menjelang. Apalagi pas jam 22.00 ke atas. Hal ini menyebabkan munculnya kabut super dingin yang membawa butiran es (yang kerap disebut sebagai bun upas oleh masyarakat sekitar) pada pukul 1 dini hari. Kedinginan yang amat sangat tersebut sempat membuat saya dan kawan kawan KPFB (Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) khawatir dengan sahabat-sahabat yang datang dari jauh seperti Kang Barokah, Puji, Budi, Aip, Dayu dan beberapa orang lainnya  yang sejak ba'da isya sudah mengeluh mengalami kedinginan yang cukup hebat.


Ada satu hal yang cukup menarik dan perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara DCF di tahun tahun mendatang terkait kondisi udara yang sangat dingin di Dieng ini. Saking dinginnya udara, banyak terlihat sleeping bag double yang bergerak gerak dengan teratur disertai suara suara lenguhan dan desahan halus di sudut sudut Dieng. Entah apa itu saya tidak tahu dengan pasti ............... namun yang jelas pada pagi harinya patugas kebersihan mengeluh menemukan banyak sekali "pengaman" bekas tercecer di setiap sudut Dieng ....... dan tentu saja hal ini bagi saya sungguh merusak kesakralan dan kemurnian cagar budaya ini.

Bagaimana dengan saya ? setelah serangkaian acara yang cukup melelahkan di sore harinya, malam itu bersama Mas Safir dan kawan kawan  KPFB  lumayan mendapatkan pengalaman yang menarik. Mulai dari berhasil memotret sepuasnya momen-momen pelepasan 2000 lampion, tarian api sampai tidur di tenda orang dan bak truk kebersihan dengan beralaskan matras tipis, berlarian menuju museum kailasa jam setengah  empat pagi demi mengikuti pak Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, mengantarkan tamu tamunya menuju puncak gunung Pangonan, stress karena tiba tiba ada memory card yang ngadat dan minta format ulang, dan masih banyak lagi kejadian menarik lainnya yang dibutuhkan sangat banyak kata untuk menceritakannya satu per satu hehehe..........

skip...........

Pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015, pada saat puncak acara, yaitu ritual pemotongan rambut gimbal, ada satu hal yang menurut saya menarik sekaligus memprihatinkan. Apakah  itu ?
Sejak dimulainya acara, pengunjung saya lihat hanya menunggu untuk memotret anak bajang yang waktu itu berjumlah 10 orang. Setelah Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, memotong rambut gembel dan menunjukkannya ke pengunjung (yang tentu saja dengan semena mena memotretnya), banyak yang kemudian beranjak meninggalkan lokasi. Entah kemana. Yang jelas begitu pemotong ke 3, pengunjung yang semula duduk rapi berhamburan keluar arena.

Berdasarkan penuturan beberapa orang wisatawan yang kami temui, salah satunya adalah Rico dan Ema dari Bandung, mereka cukup bosen dengan pelaksanaan acara ritual puncak (pemotongan rambut gimbal) yang memang berjalan dengan lambat dan tanpa variasi. Juga soal panasnya matahari yang sangat terik waktu itu. Dan meskipun pada DCF VI ini Presiden Djancuker, Sujiwo Tejo, pun ikut memotong rambut gembel bocah bajang, namun hal tersebut bukan sesuatu hal yang menahan mereka beranjak dari lokasi.

Secara keseluruhan rangkaian acara, ada beberapa hal pada DCF VI yang memang lebih baik pelaksanaannya dibandingkan tahun sebelumnya. Namun saya pribadi mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dipikirkan dan disiapkan untuk pelaksanaan di masa yang akan datang.......

Pertama, menurut saya pemisahann waktu pelaksanaan antara Pagelaran Jazz Atas Awan, Pelepasan ribuan Lampion ke udara dan pesta "Kembang Api" sangat mengurangi "keajaiban malam" di Dieng. tidak seperti tahun lalu yang sangat meriah dan berkesan, DCF tahun ini menurut saya masih terasa agak kurang greget dan mempesona.



Kedua, kembang api yang diterbangkan bukan standar festival. Kurang segalanya. Kurang besar, kurang banyak, kurang bagus, dan sebagainya. Juga kurang ajar saya tidak mendapatkan foto bagus di momen ini hehehehe......... masih soal kembang api, ada satu orang fotografer yang juga mengabadikan momen ini mengatakan bahwa kembang api yang dinyalakan masih kelas "kembang api mainan" dan lelucon saja. Entah karena dia kecewa tidak mendapatkan foto bagus untuk momen ini (seperti saya) ataukah karena memang kembang api yang meletus di udara tidak sesuai dengan espektasinya akibat pengaruh iklan yang mengatakan bahwa ada pesta kembang api di Dieng (yang tentu saja akan memunculkan sebuah anggapan bahwa kembang apinya sama seperti yang di kota kota besar ketika tahun baru tiba). Entahlah..............

Ketiga, mungkin jajaran pokdarwis selaku panitia pelaksana perlu memikirkan sebuah event tambahan sebagai variasi lain rangkaian DCF mendatang seperti Sendratari akbar, pemotongan rambut secara bersamaan oleh beberapa orang sekaligus sebagai bentuk percepatan prosesi, mengundang idola publik  untuk ikut dalam prosesi (seperti kota sebelah yang mendatangkan grup musik SLANK), dan bermacam macam agenda lain yang perlu dibahas lebih lanjut di kemudian hari.

Keempat, mungkin sudah saatnya kedua kota pemilik Dieng (Banjarnegara dan Wonosobo) berkolaborasi dengan melupakan ego masing-masing untuk mempersiapkan DCF berikutnya sehingga acara tersebut bisa berlangsung lebih meriah, lebih tertata dan lebih sakral lagi. Tentu saja dengan memunculkan variasi lain yang bisa menjamin bahwa acara tersebut tidak membosankan dan semrawut.

Terakhir, masih berkaitan dengan poin sebelumnya, melihat jumlah pengunjung antara tahun ini dan tahun 2014 lalu, nampaknya jumlah pengunjung yang menghadiri DCF VI ini menurun drastis. Tidak sebanyak DCF V yang lalu. Bisa dibayangkan andai saja variasi dan inovasi baru tidak muncul, akan berapa banyak jumlah pengunjung pada DCF VII tahun 2016 nanti ?

Ah sudahlah.....semoga apa yang menjadi catatan ini tahun depan sudah teratasi dengan baik. dan semoga mas mas dan mbak mbak panitia DCF semakin solid dan kompak dalam menjalankan tugasnya sehingga pagelaran akbar tahunan yang mengangkat budaya lokal seperti ini tidak semakin pudar dan ditinggalkan pengunjungnya..........................

Berikut sedikit oleh oleh dari Dieng waktu itu ........





Beauty Night at Dieng ..........................










Ketemu kawan, sahabat, guru dan bala kurawa.............itu satu point paling membahagiakan di event semacam ini ..........









Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow