Archive for September 2015

siapakah dalang G30S PKI yang sebenarnya ?

Sudah lama nggak menengok forum sebelah dimana saya banyak belajar menulis, iseng iseng baca soal sejarah (itung itung mumpung pas tanggal 30 September yang "katanya" hari bersejarah bagi bangsa ini. Nah disitu saya nemu sebuah tulisan yang menarik, bahkan sangat menarik bagi saya, yaitu tulisan mas Andi Firmansyah yang menulis soal siapa dalang G30S/PKI sebenarnya.

Yup, sebuah gerakan pemberontakan di masa lalu (bahkan sebelum saya direncanakan oleh orang tua saya. Namun berdasarkan pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah dan Pengetahuan Bangsa) yang saya terima di SD dulu, kemudian berlanjut jaman putih biru dan abu abu) yang sempat sangat mengancam stabilitas nasional dan kemerdekaan bangsa ini. Yang ternyata dibalik itu semua, ada satu rahasia besar yang sampai saat ini belum terungkap jawabannya.


Ada banyak versi yang menggambarkan siapa-siapa saja dalang dibalik peristiwa G30S/PKI. Ada yang mengatakan Presiden Sukarno, PKI, CIA bahkan pahlawan yang menumpas gerakan tersebut pun dikatakan bagian dari dalang tersebut, yaitu Presiden Suharto. Sebenarnya sangat sulit sekali menguraikan misteri Gerakan 30 September/PKI tersebut karena semua pihak yang dikatakan sebagai dalang punya kepentingan masing-masing terhadap gerakan tersebut. Untuk itu saya akan uraikan sedikit kisah peristiwa tersebut berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca tentang G 30 S/PKI agar gampang kita untuk menganalisa Siapa sebenarnya dalang dari peristiwa tersebut.
Buku- buku tersebut adalah:
· Coen Holtzapel, Plot TNI AD – Barat Di Balik Tragedi’65, Tapol ;MIK; Solidamor, Jakarta, 2000
· A.C.A Dake, The Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking 1959-1965
· Tahun yang Tak Pernah berakhir, Memahami Pengalaman Korban 65, Elsam;ISSI;Tim Relawan untuk Kemanusiaan,Jakarta, 2004
· Tatik S. Hafidz, The War on Terror and the Future of Indonesian Democracy, IDSS,2004
· Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965, Hasta Mitra, Jakarta,2000
· Kerstin Beise, Apakah Soekarno Terlibat G30S?, ombak, Yogyakarta,2004
· Harsutejo, G30S Sejarah yang Digelapkan, Hasta Mitra, Jakarta, 2003

Pemicu G30 S adalah adanya isu atau rumor tentang Dewan Jendral. Isu ini menimbulkan reaksi tidak hanya para dedengkot PKI tapi juga Presiden Sukarno. Untuk mengantisipasi adanya isu Dewan Jendral yang akan mengadakan Kudeta pada 5 Oktober 1965, maka Presiden sukarno melaui orang-orangnya membentuk apa yang disebut Dewan Revolusi. Mulanya gerakan ini hendak diberi nama Dewan Militer tapi tidak jadi karena ditentang oleh salah seorang dalang dari gerakan tersebut yaitu Syam Kamaruzzaman, wakil Aidit di Biro Khusus yang dulunya ketua Partai Serikat Buruh Pelabuhan. Untuk mendahului gerakan Dewan Jendral tersebut maka Dewan Revolusi memandang penting untuk melakukan gerakan dalam upaya menyelamatkan kedudukan presiden sekaligus masa depan PKI. Maka atas saran dari D.N Aidit, Presiden Sukarno memerintahkan Men/Pangau laksamana Omar Dani untuk menyelesaikan masalah ini secara damai. Oleh Omar Dani karena ini gerakan tertutup maka garis komando harus dibuat terputus-putus mirip gerakan terorisme.

Disinilah factor yang membuat G30S diselimuti oleh misteri yang akan saya jelaskan kemudian. Omar Dani lantas mengutus orang kepercayaannya, Brigjen Suparjo, yang waktu itu Pangkopur Kalimantan Timur untuk balik ke Jakarta dan menjalankan misi ini. Untuk menjalankan misi ini agar garis komando menjadi terputus, maka Brigjen Suparjo mengangkat Mayor Sujono ( Komandan Resimen Pertahanan Pangkalan, Indoktrinator KONTRAR, orang yang melatih sukarelawan dan sukarelawati sebanyak 1000 orang sebagai cikal bakal angkatan ke 5), Kolonel A. Latief (Komandan Brigif I) dan letkol Untung ( Komandan Yon I Tjakrabirawa).
Untuk melaksanakan misi ini mereka mempersiapkan beberapa pasuka seperti: - Brigif I - Yon I Tjakrabirawa - Yon Raiders 454 Diponegoro - Yon Raiders 530 Brawijaya Untuk itu mereka menggunakan: - Penas sebagai Cenko (Central Komando) - Kenderaan-kenderaan Depo Angkutan - Senjata yang ada di gudang AURI Gerakan ini dibagi kepada tiga satuan tugas yaitu:
 - Pasopati dibawah Lettu Dul Arif
 - Bimasakti dibawah Kapten Suradi
 - Pringgodani dibawah Mayor Sujono dan Mayor Gatot Sukrisno
Tujuan dari gerakan ini adalah menculik para jendral yang nantinya akan dihadapkan kepada Presiden Sukarno yang telah berada di Bandara Halim PerdanaKusuma untuk dimintai keterangan berkisar isu Dewan Jendral.

Tapi ternyata pelaksanaan tak sejalan dengan perencanaan. Ditengah misi, ketujuh jendral yang diculik malah dibantai dan tak pernah dihadapkan sama sekali dengan Presiden Sukarno. Tindakan ini tentunya mengundang amarah dari Presiden Sukarno. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya yang bisa dilakukan Presiden Sukarno adalah menyingkir ke Madiun untuk menghindari konflik dengan Angkatan Darat yang salah satu Jendralnya berhasil lolos dari penculikan. Seterusnya mungkin telah banyak kita ketahui, dimana Angkatan Darat kemudian menguasai keadaan dan berusaha menumpas habis PKI bahkan sampai ke anak cucunya kelak. Yang menarik untuk di analisa dan dibahas adalah intrik dibalik peristiwa tersebut.

Benarkah Adanya Dewan Jendral? 
Benar(Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965, Hasta Mitra, Jakarta,2000). Tapi masih dalam bentuk wacana. Setelah gagal dengan PRRI/Permesta dan Peristiwa Cikini, CIA mendekati Ahmad Yani yang waktu itu sedang tugas belajar di Amerika untuk membentuk apa yang disebut Dewan Jendral dalam upaya melakukan kudeta. Ahmad yani pernah mengutarakan ide CIA ini kepada para sohibnya di Angkatan Darat, namun urung dibentuk karena mereka sendiri masih pro dan kontra terhadap ide tersebut.

Mengapa Presiden Sukarno tidak bereaksi?
Presiden Sukarno bereaksi tapi tidak dengan cara mengutus para anggota CPM untuk memanggil para jendral yang diindikasi terlibat dalam Dewan jendral tersebut karena apabila tidak terbukti maka itu akan mempermalukan Presiden sendiri dan tentunya makin menanamkan sikap antipati Angkatan Darat terhadap Presiden Sukarno. Untuk itulah G30S dibuat. Maksudnya agar Presiden dapat menginterogasi para jendral tersebut dan menanyakan kebenaran isu tersebut walaupun pada pelaksanaannya menjadi berbeda.

Mengapa Presiden Sukarno mengutus Laksamana Omar Dani untuk melaksanakan misi tersebut? 
Presiden Sukarno tidak pernah mengutus siapapun untuk memulai misi ini. Hanya presiden pernah berkeinginan untuk mengkonfirmasi tentang isu tersebut. Misi tersebut adalah murni idenya D.N Aidit yang disampaikan kepada Presiden dan Presiden Sukarno setuju dengan ide tersebut dan meminta Laksamana Omar Dani untuk membantu gerakan tersebut. Sebagai loyalis dan orang dekat presiden, tentunya laksamana Omar Dani tak dapat menampik tugas yang diembankan Presiden kepadanya.

Siapakah otak dari gerakan tersebut? 
Syam Kamaruzzaman. Syam yang mengatur strategi dan melaporkan kepada D.N Aidit. Itulah mengapa dilapangan peran Aidit tidak nampak sekali. Dalam gerakan tersebut ada beberapa nama yang sangat berperan sekali yaitu dari pihak sipil Syam kamaruzzaman, Pono dan Bono sedangkan dari pihak militer Mayor Sujono, Kol. Latif dan Letkol. Untung.

Pada akhirnya baru ketahuan bahwa Syam ternyata Double Agent. Syam ternyata juga adalah agen CIA. Jadi dalam hal ini Aidit telah menjadi korban anak buahnya sendiri. Tak disangka dalam tubuh PKI sendiri ada infiltrasi yang dilakukan oleh CIA seperti juga di Angkatan Darat.
Lantas apa peran Brigjen Suparjo? Brigjen Suparjo adalah bawahan langsung Laksamana Omar Dani. Tak ada yang tahu apa peran Brigjen Suparjo dalam misi ini. Tapi kalau melihat pergerakan pasukan yang hamper satu divisi, secara militer, tak mungkin hanya dipimpin oleh perwira menengah seperti Kol. Latif dan Letkol. Untung. Mungkin disitulah peran brigjen Suparjo.

Adakah keterlibatan PKI pada peristiwa tersebut? 
Secara organisatoris tidak ada. Hanya oknum yang bermain disitu melalui yang disebut Biro Khusus. Biro Khusus sendiri hasil bentukan D. N Aidit sebagai ketua partai dimana Ketua Biro Khusus itu adalah Syam dan wakilnya Pono. Itulah mengapa gerakan tersebut tidak berhasil karena tidak didukung oleh seluruh simpatisan partai. Biro Khusus sendiri mempunyai kedudukan paling tinggi dalam intern partai. Kedudukan yang sama sekali ditentang oleh banyak simpatisan PKI sendiri.

Adakah Keterlibatan Suharto dalam Hal ini?
Dari beberapa bukti – bukti yang pada akhirnya terungkap didapat bahwa sebagai agen CIA, Syam ternyata punya hubungan dekat dengan orang-orang Angkatan Darat termasuk Suharto. Itulah mengapa banyak pengamat mengatakan bahwa dalang yang sesungguhnya dari peristiwa ini adalah Amerika melalui CIA dengan tujuan menyingkirkan PKI dengan haluan komunisnya dan Presiden Sukarno yang dianggap paling berbahaya dengan pemikirannya ketimbang Kruschev ataupun Mao. Gerakan ini memang sengaja dirancang untuk gagal. Agar lebih mudah memprovokasi rakyat Indonesia, maka disusunlah scenario berdarah tersebut.

SKENARIO BERDARAH VERSI CIA 
Syam diupayakan agar menjadi orang kepercayaan Aidit. Kemudian Syam melontarkan isyu Dewan Jendral yang waktu itu masih wacana. Presiden merasa terancam. Aidit panik dan mencoba berdiskusi dengan orang kepercayaannya sekaligus orang yang menurut Aidit banyak tahu tentang Dewan Jendral tersebut siapa lagi kalau bukan Syam Kamaruzzaman. Syam merasa pancingannya mengena lantas menelorkan ide G 30 S. Aidit setuju begitu juga Presiden Sukarno. Syam mengambil alih pimpinan karena merasa memiliki ide dan tahu banyak tentang strateginya. Syam minta bantuan militer yang akhirnya dijawab Presiden Sukarno dengan meminta Laksamana Omar Dani yang mengaturnya. Syam lantas menyusun para perwira yang pantas untuk memimpin eksekusi.

Untuk itu Syam meminta saran Suharto. Lantas Suharto memilih orang – orang dekatnya yang menurutnya dapat dipercaya yaitu Kol. Latief dan Letkol. Untung. Padahal ada banyak perwira yang lebih mampu ketimbang mereka berdua. Untuk Kol. Latief misalnya, padahal masih ada Mayor Sigit yang mampu memimpin satu batalyon tapi tidak dipilih. Sedangkan untuk Letkol. Untung, masih ada Maulwi Saelan yang lebih pantas memimpin pasukan Tjakrabirawa. Jawabannya karena Kol. Latief dan Letkol. Untung mempunyai hubungan dekat dengan Suharto. Kol. Latief adalah bekas anak buah Suharto dan masih sering berhubungan baik secara formal maupun non formal. Bahkan malam tanggal 30 September 1965 Kol. Latief melapor pada Suharto bahwa malam tersebut dia akan bergerak bersama Letkol. Untung. Tapi Suharto sama sekali tidak melarang gerakan tersebut.

Ada apa dengan Suharto? Yang pasti Suharto dipersiapkan CIA untuk menunggu langkah selanjutnya. Keberadaan Letkol. Untung di Tjakrabirawa juga mengindikasikan bakal ada gerakan terselubung karena Letkol. Untung baru saja di mutasi di Yon I Tjakrabirawa yaitu pada bulan Mei. Keberadaan mereka berdua sudah jelas untuk mempermudah koordinasi agar Suharto tahu posisi lawan yang hendak ditumpas. Satu yang menarik lagi yaitu daftar orang-orang yang di culik dimana Mayjen Suprapto(Deputi II Men/Pangad)dan Mayjen Haryono(Deputi III Men/Pangad) masuk dalam daftar penculikan sedangkan Deputi I Men/Pangad mengapa tidak masuk daftar? Karena posisi itu ditempati oleh Suharto. Cuma yang jadi pertanyaan, apakah Suharto tahu kalau rencana penculikan itu berubah menjadi pembantaian? Itu yang masih menjadi tanda tanya. Kalau seandainya Suharto tahu bahwa rencana itu akan dibelokkan, berarti secara tidak langsung Suharto terlibat dalam pembunuhan rekan-rekan seperjuangannya sendiri. Selanjutnya setelah malam kejadian, maka Suharto pun bergerak dengan menggunakan pasukan RPKAD melakukan serangan ke Halim Perdanakusuma, itupun karena dia sudah tahu bagaimana kekuatan lawan yang bakal dihadapinya.


Jadi kalau berdasarkan analisa saya, siapa dalang G 30 S/PKI? Dia tak lain dan tak bukan adalah bangsa yang tak pernah senang melihat Negara lain mandiri, maunya terus bergantung kepada mereka, dialah Uncle Sam…

ah entahlah...............

Tulisan asli : kompasiana.com : siapakah dalang g30s pki yang sebenarnya ? by : andi firmansyah 
Sumber Gambar : Mbah Google
9.30.2015
Posted by ngatmow

Mengulas Festival Serayu Banjarnegara 2015 dari sisi tukang foto abal abal macam saya

Dalam Festival Serayu Banjarnegara 2015, ada beberapa acara yang menjadi sub-event dalam kegiatan "besar" warga Banjarnegara ini. Diantaranya adalah Banjar Banjir Dawet, Parade Budaya, Pesta Parak Iwak, Banjarnegara Expo, Kongres Sungai Indonesia, aneka lomba pelajar yang bertema Sungai Serayu, sampai Banjarnegara Night Carnival yang baru pertama kali diadakan pada tanggal 29 Agustus 2015 yang lalu.


Secara keseluruhan acara yang berlangsung hampir selama bulan Agustus ini sanggup menarik animo masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya untuk ikut "berpesta". Masyarakat juga secara tidak langsung diajak untuk semakin menyayangi Sungai Serayu yang membentang di sepanjang Kabupaten Banjarnegara dari ujung timur hingga ujung Barat dimana kemudian berlanjut melewati Banyumas dan berakhir di Cilacap (Laut Selatan). Bahkan, selama pelaksanaan Festival Serayu tahun 2015 ini, masyarakat (terutama pedagang) mengaku merasakan peningkatan pendapatan mereka dengan cukup signifikan.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa sebenarnya dengan adanya kegiatan wisata dan event berskala nasional yang digelar di Banjarnegara mampu ikut mendorong laju perekonomian warga masyarakatnya. Dan ini berarti pemerintah harus lebih tanggap, lebih jeli dan mau untuk peduli dengan mengusahakan diadakannya kegiatan semacam ini atau kegiatan berskala besar lain lebih sering lagi.

Satu hal lagi adalah bahwa pelaksanaan Festival Serayu Banjarnegara yang digelar setiap 2 tahun sekali ini mampu mengangkat nama Banjarnegara menjadi lebih dikenal lagi di kalangan para maniak travelling. Ini sangat penting kisanak. Bagaimana tidak, sekarang kita contohkan saja bukit sikunir dan Gunung Prau di kota sebelah yang sekarang ini hampir setiap minggu dikunjungi ribuan traveller. Ya itu tadi, terkenal karena para penggemar jalan jalan ini mengabadikan sesuatu yang istimewa dan kemudian menyebarkannya melalui berbagai media (terutama media sosial). Sehingga akhirnya Boommm....... meledaklah nama dua destinasi (yang katanya wajib dikunjungi juka berkunjung ke Jawa Tengah itu) di seantero jagad raya......halah


Dalam rangkaian event besar ini, kehadiran para jurnalis dan fotografer juga tidak bisa dipungkiri sangat penting. Dari segi promosi, blow up keluar (daerah), bahkan sampai dari sisi dokumentasi, kehadiran mereka akan sangat berpengaruh. Bagaimana tidak, kegiatan yang mereka liput dan abadikan kemudian akan diterbitkan dalam media massa maupun media sosial, dan kemudian secara berantai akan dilihat oleh sekian banyak orang di luar sana yang diantaranya akan merasa tertarik, penasaran juga berminat untuk di kemudian hari berkunjung ke Banjarnegara. Nah.......

Hal tersebut mutlak harus mulai dipikirkan oleh pemerintah daerah dan juga beliau beliau yang terhormat yang duduk di kursi wakil rakyat (katanya) dalam rangka niatan mereka untuk menaikkan "derajat" banjarnegara dari sektor pariwisata. Sebab bagaimanapun, sektor inilah penunjang perekonomian terbesar bagi masyarakat. Juga sektor pariwisata merupakan pintu gerbang masuknya investor di bidang lain yang tidak jarang malah justru tidak ada sangkut pautnya dengan pariwisata. Dengan pariwisata yang terkelola dengan maksimal maka Banjarnegara akan lebih dikenal, selain itu banyak orang yang kemudian akan tertarik berkunjung dan bahkan membuka usaha. Dan itu adalah pekerjaan rumah bagi kita bersama yang mengaku mencintai Banjarnegara dan punya cita cita untuk memajukan kota nan asri ini.......

Harapan saya (dan teman teman penggemar dan penghobi fotografi) sih bahwasanya untuk tahun tahun berikutnya secuil tentang fotografi di Banjarnegara ikut diingat oleh panitia. Maksudnya adalah bahwa untuk event sekelas Festival Serayu yang (katanya) berkelas nasional seperti ini sudah selayaknya kebutuhan para pengambil gambar juga disediakan dengan layak. Baik dari sisi lighting, posisi, tempat serta tidak kalah pentingnya adalah akses. Sehingga semua momen yang terjadi bisa terekam dan tertangkap gambar dengan baik dan maksimal.

Berikut sedikit tangkapan gambar yang berhasil saya abadikan selama pelaksanaan Festival Serayu Banjarnegara 2015 yang lalu


















 







*All Photo taken by Canon EOS 550D
9.21.2015
Posted by ngatmow

Festival Serayu Banjarnegara 2015 : Edisi Banjar Banjir Dawet

Rangkaian Festival Serayu Banjarnegara memang sudah beberapa hari yang lalu berakhir. Namun hingar bingar festival budaya terbesar di Banjarnegara ini masih terasa hingga kini. Dan bahkan ratusan stok foto yang ada di dalam kamera terkadang sampai belum dibuka dan diseleksi oleh rekan rekan fotografer yang mengabadikan setiap moment yang ada. Termasuk saya (meskipun saya bukan seorang fotografer - hanya seorang tukang foto gadungan saja)....halah

Dari keseluruhan acara yang digelar, saya pribadi merasa bahwa festival budaya khas kota tercinta ini sangat istimewa. Ramai, Elegan, dan klasik. Meskipun tentu saja masih banyak kekurangan dibeberapa hal yang bisa dijadikan koreksi untuk pelaksanaan kegiatan serupa di masa yang akan datang.
Oke, saya contohkan saja pada event Banjarnegara banjir dawet,
Pertama, semua fotografer terpusat di depan Balai Budaya dimana menteri Puan Maharani dan Gubernur Ganjar hadir di sana. Hal ini menyebabkan sangat kurangnya dokumentasi kegiatan serupa yang digelar di Gedung Dekranasda dan Stadion Kolopaking yang mana ternyata jumlah rombong dawetnya lebih banyak dan variatif. Sebagai seorang masyarakat awam, hal ini tentu saja sangat kurang sip mengingat bahwa animo mayarakat di lapangan sangat luar biasa.

Yang kedua adalah kesan bahwa panitia seolah olah mengkotak kotakkan kelas dalam masyarakat itu sendiri. Meskipun sebenarnya bertujuan baik, yaitu menghindari terjadinya over pengunjung, namun hal ini justru membuat pelaksanaan event ini menjadi sepi dan kurang greget. Tidak seperti apa yang digembar gemborkan sebelumnya yaitu Banjarnegara akan menjadi lautan dawet.........Bew.......



Sedikit masukan sih sebagai koreksi panitia (kalau berkenan tapinya........), mungkin akan jauh lebih baik kalau saja event seperti banjar banjir dawet ini dilakukan di satu tempat, Stadion Sumitro Kolopaking misalnya, dengan memberikan tempat khusus bagi pejabat dan orang orang yang diistimewakan. Dengan begitu, kesan membedakan kasta dalam masyarakat tidak begitu jelas kelihatan.                                          




Bersambung .......

9.17.2015
Posted by ngatmow

prihatin TV.......halah

Pada hari Jumat tanggal 21/8/2015 yang lalu Presiden Joko Widodo mengumpulkan para pimpinan redaksi televisi nasional di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, presiden yang didampingi oleh Seskab Pramono Anung, Mendikbud Anies Baswedan, Menkominfo Rudiantara dan Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki menyampaikan pesan agar pers nasional bisa mendidik masyarakat, tidak semata-mata mengejar rating.(end of news)

Ada satu bahasan menarik dari penggalan berita diatas yang saya sendiri lupa dari media mana hehehe.....
Pada akhirnya, sebelum saya sendiri yang "turun tangan" untuk mengkritik media terutama televisi, presiden sudah terlebih dahulu melakukannya. Kritikan ini lebih mengarah kepada sisi hiburan dan siaran non berita yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi di negeri ini yang menurut saya pribadi sudah pada level yang sangat memprihatinkan.

Bila kita amati bersama, ada beberapa stasiun televisi swasta nasional yang mengandalkan siaran berupa sinetron negeri sebelah yang jam tayangnya luar biasa maksa. Sinetron anak-anak dengan durasi hampir 2 jam dan diputar 3 kali sehari (pagi, siang dan sore seperti minum obat) apakah satu hal yang wajar ? Tentu saja tidak..... Siaran acara show tidak jelas temanya yang hanya menampilkan pembawa acara dengan jumlah banyak yang hanya bersenda gurau dan kadang diselingi candaan dengan pukulan dan tindakan yang menjurus ke kekerasan dengan durasi 3-4 jam, apakah itu lumrah ? Sama sekali tidak......

Tentu saja itu semua sungguh sangat ironis, manakala para orang tua dan pendidik sedang berjuang keras mendidik anak tentang budi pekerti, seolah menjadi sia-sia karena pada sore dan malam harinya televisi justru menyuguhkan program (tontonan) yang berbanding terbalik dengan yang diajarkan. Tontonan yang menonjolkan budaya (mentalitas) konsumtif dan bermewah-mewahan serta banyaknya program televisi yang menanyangkan hal-hal yang berbau tahayul, tidak rasional.

Mengapa presiden tidak mengkritik televisi karena siaran beritanya, melainkan karena program-program hiburan dan sinetronnya?
Mungkin jawaban yang paling rasional adalah bahwa pemroduksi berita adalah wartawan, atau setidaknya orang sudah pantas diberi kartu pers, yang akan dipercaya oleh stasiun televisi untuk mencari dan menuliskan sebuah berita. Pemilik kartu pers pastilah orang yang sudah terlatih dalam penulisan berita serta paham akan kode etik jurnalistik. Dan mereka yang paham dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik pastilah akan mengikuti kaidah-kaidah penulisan berita yang benar. Sehingga ketika sebuah berita ditulis dengan mengikuti kaidah teknik dan etik yang benar pastilah isi berita bisa dipertanggungjawabkan.  Akibatnya informasi yang diterima oleh konsumen (yang dalam hal ini adalah masyarakat) penonton televisi adalah sesuatu yang benar dan bisa menjadi pengetahuan dan pembelajaran masyarakat.

Bukankah berita bisa direkayasa? Benar! Tetapi, ‘berita’ hasil rekayasa bukanlah sebuah berita melainkan cerita fiksi. Sebuah kebohongan. Bila itu dilakukan maka siperekayasa sudah melanggar kode etik, bahkan boleh jadi sudah melakukan tindakan kriminal. Jika itu alasan presiden tidak risau terhadap news televisi, maka dapat kita simpulkan bahwa presiden masih percaya dan  berharap bahwa wartawan televisi dapat, telah, dan akan selalu bekerja secara profesional.

Pada kesempatan itu, program dalam kategori tayangan hiburan yang mendapat kritikan adalah tayangan yang mendorong publik untuk konsumtif, bermewah-mewahan dan tidak rasional. Sebagai contoh adalah tayangan sinetron (baik dalam negeri maupun dari negeri tetangga yang sudah "merajalela" belakangan ini). Serta tayangan berbau mistis yang sempat merajai rating tayangan televisi.

Apakah tayangan tayangan itu salah? 
Bukankah percaya pada hal-hal berbau tahayul, perilaku konsumtif, suka bermewah-mewah, malas bekerja, adalah hak seseorang?
Bukankah tingginya rating mengindikasikan banyaknya anggota masyarakat kita menyukai perilaku seperti itu?

Kalau ada yang merasa bahwa menyukai tontonan sinetron, lawakan, atau hiburan-hiburan yang berkategori norak dan irasional adalah hak, maka sudah bisa dipastikan bahwa ada yang salah dengan otak kita. Ada indikasi bahwa otak kita sudah terlalu teracuni oleh tayangan televisi yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa hal hal semacam itu adalah sesuatu yang "biasa dan lumrah" ......... OMG..........halah
Dan kita pun lambat laun akan membiarkan perilaku-perilaku seperti narkoba, melacur, atau berjudi menjadi sebuah hal yang lazim. Mengapa? Menggunakan narkoba, yang rusak adalah diri pelaku sendiri. Tetapi yang dikhawatirkan adalah kecanduan akan mendorong orang tersebut melakukan tindakan kriminal untuk mendapat uang agar bisa membeli narkoba. Demikian juga melacur dan berjudi. Bukankah uang yang digunakan adalah uangnya sendiri, lantas kenapa mesti dilarang? Ketika melacur dan berjudi menjadi kebiasaan, makan akan banyak sekali hal negatif yang akan muncul mengikutinya. Bayangkan saja jika setiap hari ada pencurian, perampokan, penganiayaan dan lain sebagainya di sekitaran rumah kita. Aman ? Betah ? Nyaman ?
Tentu saja tidak kisanak.....................

Lalu apa hubungannya dengan kepercayaan pada hal-hal berbau tahayul dan mitos? Perilaku tahayul sama buruknya dengan ketiga kebiasaan tadi. Mengapa? Masih ingat beragam kasus kriminal-konyol yang pernah terjadi di negeri ini? Ada pemuda yang menjadi pembunuh berantai hanya karena terpikat akan memperoleh kesaktian setelah membunuh sekian puluh korban? Ada pemuda membongkar kuburan hanya untuk mendapat potongan kain kafan pembungkus mayat? Ada lagi ratusan orang tertipu oleh seseorang yang mengaku bisa menggandakan uang dengan cara gaib? Atau berita tentang adanya gadis dan ibu rumah tangga yang terpaksa menanggung aib dicabuli oleh orang yang mengklaim bisa memberi pesugihan?

Apa penyebab semua itu?
Kepercayaan pada hal-hal yang tidak rasional. Jadi, bila dampak tidak langsung yang kita pertimbangkan terhadap suatu perilaku maka jelaslah bahwa tayangan-tayangan yang mengumbar dan mengukuhkan perilaku irasional publik sangat buruk dampaknya. Sama buruknya dengan kebiasaan mengonsumsi narkoba, kebiasaan melacur, atau kebiasaan berjudi. Oleh sebab itu, kritik presiden terhadap kualitas tayangan (sinetron dan hiburan) di televisi nasional perlu mendapat perhatian dan dukungan semua pihak.

So, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mulai "mengalah" pada siaran televisi. Yaitu mengalah dalam artian "membunuh" televisi pada saat siaran-siaran tidak jelas tadi dan mulai menerapkan kebiasaan kebiasaan baru yang lebih berguna. Memasak misalnya hehehe......
Atau seperti saya yang menghapus beberapa stasiun televisi nasional yang hanya menayangkan siaran sinetron India dan Turki saja saban menitnya.......

Terakhir, mari kita bersama sama memperbaiki moral anak bangsa dengan memperbaiki "kualitas" tontonan mereka sedari dini. Karena bagaimanapun mau tidak mau, pengaruh siaran televisi akan sangat membekas dan berpengaruh pada pola pikir anak anak muda negeri ini yang masih labil dan perlu mendapatkan perlakuan khusus dalam hal tontonan mereka...........selain itu, mari kita doakan agar semua warga negeri ini terutama para pemilik stasiun televisi agar mulai melupakan rating, tapi kualitas siaran mereka yang secara tidak langsung bakal mempengaruhi anak anak muda harapan bangsa.................
9.03.2015
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow