Posted by : ngatmow prawierow 9.03.2015

Pada hari Jumat tanggal 21/8/2015 yang lalu Presiden Joko Widodo mengumpulkan para pimpinan redaksi televisi nasional di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, presiden yang didampingi oleh Seskab Pramono Anung, Mendikbud Anies Baswedan, Menkominfo Rudiantara dan Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki menyampaikan pesan agar pers nasional bisa mendidik masyarakat, tidak semata-mata mengejar rating.(end of news)

Ada satu bahasan menarik dari penggalan berita diatas yang saya sendiri lupa dari media mana hehehe.....
Pada akhirnya, sebelum saya sendiri yang "turun tangan" untuk mengkritik media terutama televisi, presiden sudah terlebih dahulu melakukannya. Kritikan ini lebih mengarah kepada sisi hiburan dan siaran non berita yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi di negeri ini yang menurut saya pribadi sudah pada level yang sangat memprihatinkan.

Bila kita amati bersama, ada beberapa stasiun televisi swasta nasional yang mengandalkan siaran berupa sinetron negeri sebelah yang jam tayangnya luar biasa maksa. Sinetron anak-anak dengan durasi hampir 2 jam dan diputar 3 kali sehari (pagi, siang dan sore seperti minum obat) apakah satu hal yang wajar ? Tentu saja tidak..... Siaran acara show tidak jelas temanya yang hanya menampilkan pembawa acara dengan jumlah banyak yang hanya bersenda gurau dan kadang diselingi candaan dengan pukulan dan tindakan yang menjurus ke kekerasan dengan durasi 3-4 jam, apakah itu lumrah ? Sama sekali tidak......

Tentu saja itu semua sungguh sangat ironis, manakala para orang tua dan pendidik sedang berjuang keras mendidik anak tentang budi pekerti, seolah menjadi sia-sia karena pada sore dan malam harinya televisi justru menyuguhkan program (tontonan) yang berbanding terbalik dengan yang diajarkan. Tontonan yang menonjolkan budaya (mentalitas) konsumtif dan bermewah-mewahan serta banyaknya program televisi yang menanyangkan hal-hal yang berbau tahayul, tidak rasional.

Mengapa presiden tidak mengkritik televisi karena siaran beritanya, melainkan karena program-program hiburan dan sinetronnya?
Mungkin jawaban yang paling rasional adalah bahwa pemroduksi berita adalah wartawan, atau setidaknya orang sudah pantas diberi kartu pers, yang akan dipercaya oleh stasiun televisi untuk mencari dan menuliskan sebuah berita. Pemilik kartu pers pastilah orang yang sudah terlatih dalam penulisan berita serta paham akan kode etik jurnalistik. Dan mereka yang paham dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik pastilah akan mengikuti kaidah-kaidah penulisan berita yang benar. Sehingga ketika sebuah berita ditulis dengan mengikuti kaidah teknik dan etik yang benar pastilah isi berita bisa dipertanggungjawabkan.  Akibatnya informasi yang diterima oleh konsumen (yang dalam hal ini adalah masyarakat) penonton televisi adalah sesuatu yang benar dan bisa menjadi pengetahuan dan pembelajaran masyarakat.

Bukankah berita bisa direkayasa? Benar! Tetapi, ‘berita’ hasil rekayasa bukanlah sebuah berita melainkan cerita fiksi. Sebuah kebohongan. Bila itu dilakukan maka siperekayasa sudah melanggar kode etik, bahkan boleh jadi sudah melakukan tindakan kriminal. Jika itu alasan presiden tidak risau terhadap news televisi, maka dapat kita simpulkan bahwa presiden masih percaya dan  berharap bahwa wartawan televisi dapat, telah, dan akan selalu bekerja secara profesional.

Pada kesempatan itu, program dalam kategori tayangan hiburan yang mendapat kritikan adalah tayangan yang mendorong publik untuk konsumtif, bermewah-mewahan dan tidak rasional. Sebagai contoh adalah tayangan sinetron (baik dalam negeri maupun dari negeri tetangga yang sudah "merajalela" belakangan ini). Serta tayangan berbau mistis yang sempat merajai rating tayangan televisi.

Apakah tayangan tayangan itu salah? 
Bukankah percaya pada hal-hal berbau tahayul, perilaku konsumtif, suka bermewah-mewah, malas bekerja, adalah hak seseorang?
Bukankah tingginya rating mengindikasikan banyaknya anggota masyarakat kita menyukai perilaku seperti itu?

Kalau ada yang merasa bahwa menyukai tontonan sinetron, lawakan, atau hiburan-hiburan yang berkategori norak dan irasional adalah hak, maka sudah bisa dipastikan bahwa ada yang salah dengan otak kita. Ada indikasi bahwa otak kita sudah terlalu teracuni oleh tayangan televisi yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa hal hal semacam itu adalah sesuatu yang "biasa dan lumrah" ......... OMG..........halah
Dan kita pun lambat laun akan membiarkan perilaku-perilaku seperti narkoba, melacur, atau berjudi menjadi sebuah hal yang lazim. Mengapa? Menggunakan narkoba, yang rusak adalah diri pelaku sendiri. Tetapi yang dikhawatirkan adalah kecanduan akan mendorong orang tersebut melakukan tindakan kriminal untuk mendapat uang agar bisa membeli narkoba. Demikian juga melacur dan berjudi. Bukankah uang yang digunakan adalah uangnya sendiri, lantas kenapa mesti dilarang? Ketika melacur dan berjudi menjadi kebiasaan, makan akan banyak sekali hal negatif yang akan muncul mengikutinya. Bayangkan saja jika setiap hari ada pencurian, perampokan, penganiayaan dan lain sebagainya di sekitaran rumah kita. Aman ? Betah ? Nyaman ?
Tentu saja tidak kisanak.....................

Lalu apa hubungannya dengan kepercayaan pada hal-hal berbau tahayul dan mitos? Perilaku tahayul sama buruknya dengan ketiga kebiasaan tadi. Mengapa? Masih ingat beragam kasus kriminal-konyol yang pernah terjadi di negeri ini? Ada pemuda yang menjadi pembunuh berantai hanya karena terpikat akan memperoleh kesaktian setelah membunuh sekian puluh korban? Ada pemuda membongkar kuburan hanya untuk mendapat potongan kain kafan pembungkus mayat? Ada lagi ratusan orang tertipu oleh seseorang yang mengaku bisa menggandakan uang dengan cara gaib? Atau berita tentang adanya gadis dan ibu rumah tangga yang terpaksa menanggung aib dicabuli oleh orang yang mengklaim bisa memberi pesugihan?

Apa penyebab semua itu?
Kepercayaan pada hal-hal yang tidak rasional. Jadi, bila dampak tidak langsung yang kita pertimbangkan terhadap suatu perilaku maka jelaslah bahwa tayangan-tayangan yang mengumbar dan mengukuhkan perilaku irasional publik sangat buruk dampaknya. Sama buruknya dengan kebiasaan mengonsumsi narkoba, kebiasaan melacur, atau kebiasaan berjudi. Oleh sebab itu, kritik presiden terhadap kualitas tayangan (sinetron dan hiburan) di televisi nasional perlu mendapat perhatian dan dukungan semua pihak.

So, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mulai "mengalah" pada siaran televisi. Yaitu mengalah dalam artian "membunuh" televisi pada saat siaran-siaran tidak jelas tadi dan mulai menerapkan kebiasaan kebiasaan baru yang lebih berguna. Memasak misalnya hehehe......
Atau seperti saya yang menghapus beberapa stasiun televisi nasional yang hanya menayangkan siaran sinetron India dan Turki saja saban menitnya.......

Terakhir, mari kita bersama sama memperbaiki moral anak bangsa dengan memperbaiki "kualitas" tontonan mereka sedari dini. Karena bagaimanapun mau tidak mau, pengaruh siaran televisi akan sangat membekas dan berpengaruh pada pola pikir anak anak muda negeri ini yang masih labil dan perlu mendapatkan perlakuan khusus dalam hal tontonan mereka...........selain itu, mari kita doakan agar semua warga negeri ini terutama para pemilik stasiun televisi agar mulai melupakan rating, tapi kualitas siaran mereka yang secara tidak langsung bakal mempengaruhi anak anak muda harapan bangsa.................

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow