Archive for Agustus 2016

Rokok naik 50 ribu ? hemmm ......

Sudah seminggu ini saya menunggu dan wira wiri ke toko toko kembar macam Indongapret sama Alamat. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk "bola bali " mlirik harga rokok yang katanya mau naik sampai ke angka 50.00 rupiah per bungkusnya.

Weh ?
Yup. sudah sejak awal bulan lalu pemerintah mengeluarkan wacana bahwa harga rokok akan naik berkali kali lipat dan para perokok di negeri ini mau tidak mau harus segera melupakan harga per bungkus rokok di angka 13.000 - 15.000an. Sebetulnya sih tidak ada yang aneh di balik isu harga rokok yang melejit menjadi 50.000 rupiah perbungkus itu. paling hanya taktik pertempuran marketing yang biasa saja man...

Kalau menurut bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co, kira kira alurnya begini:

Kaum antirokok membuat studi, di harga berapakah para perokok akan berhenti merokok? Didapatlah harga 50.000 perbungkus. Kemudian penelitian ini didesiminasikan ke beberapa situsweb abal-abal. Diperbesar dengan tim buzzer di dunia maya, plus segala gimmick nan kreatif.
Ketika mulai ramai, maka langkah selanjutnya, mereka melakukan placement di media-media besar yang seakan-akan berita. Taktik yang dipakai berupa tanggapan tokoh lewat teknik doorstop. Para tokoh diwawancara dengan pertanyaan:
‘Apa tanggapan Bapak/Ibu dengan usulan masyarakat bahwa harga rokok sebaiknya dinaikkan menjadi 50.000 perbungkus?’

Dasar elit politik di negeri pencitraan, bukannya bertanya balik untuk mengkritisi, kebanyakan dari mereka berkomentar mendukung naiknya harga rokok. Politikus-politikus macam begitulah yang banyak menjadi korban para pakar hoax dunia maya. Malu bertanya, ancur muka kemudian. Jawaban-jawaban itu kemudian dipelintir, ditambah dengan penguatan dari para opinion leaders yang sudah digalang sebelumnya. Jadi itu barang. Isunya terbungkus rapi. Siap dihadiahkan ke ‘leading sectors’ untuk diberi tanggapan. Para jubir di leading sectors ini bukan politikus. Mereka menjawab normatif. Jadilah isu yang semula berasal dari ‘kajian’, berubah menjadi ‘usulan’, bergeser menjadi ‘seakan-akan mau terjadi’, lalu matang dalam isu: ‘sudah pasti terjadi’.
Masuk itu barang.
Ngeri-ngeri sedap.
Elok tenan!

Isu makin legit karena para politikus prorokok juga ikut latah menanggapi. Menari di atas gendang yang dipukul lawan. Plus, perang netizen di dunia maya yang terus berkobar. Sepintas semua berjalan dengan sempurna. Isu yang ‘sudah pasti terjadi’ ini tinggal digiling di ‘mesin akhir tim’ yang sudah siap di Pemerintah.
Para kaum antirokok pasti tahu yang saya maksud…

Tapi ternyata isu dunia maya berikut pelintirannya berbalik cepat seketika. Pasalnya ada dua.
Pertama, bagi para intelektual tertentu, tahu persis bahwa harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus itu tidak akan bisa terjadi. Karena komponen cukai, yang menyebabkan harga rokok selalu naik, punya hukum, aturan, dan perhitungan tersendiri. Ketika para pakar ini mulai berkomentar, arus mulai berbalik.
Kedua, di dunia nyata, para pakar pemasaran dan ahli-ahli strategi pasar setiap pabrik dan toko-toko ritel justru senang dengan isu tersebut.
Fakta di lapangan, dalam kurang-lebih seminggu isu ini bergulir, toko-toko mulai merasakan dampaknya. Para pembeli rokok yang rata-rata membeli sebungkus, kini berubah menjadi dua bungkus. Permintaan pasar naik menjadi dua kali lipat.

Datanglah ke gerai-gerai minimarket, dan tanyalah ke para penjaga maka muka mereka penuh senyum.
“Tidak sekalian beli tiga, Pak. Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 perbungkus, lho…” ucap mereka dengan muka manis sembari menyimpan sejenis senyum tipis, dan membatin,
“Bego banget orang ini, ganteng-ganteng mudah kena hoax…”
Mbak-mbak SPG yang semula lebih banyak tersenyum daripada menjelaskan soal rokok jualan mereka, mulai minggu kemarin mulai menutup penjelasan dengan kalimat,
“Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 lho, Pak…” ujar mereka sambil tersenyum penuh kegelian kalau kemudian menyaksikan ada orang yang merasa panik dengan kalimat ancaman itu.

Afiliasi antara para jagoan marketing rokok di lapangan dengan para manajer toko inilah yang membuat rokok laku makin menggila. Isu di dunia maya yang seakan para antirokok menang, justru dipelintir orang-orang marketing pabrik rokok yang memang teruji matang di lapangan.
Arus berbalik dua kali lipat. Di kepala mereka, seolah ada doa:
“Semoga isu ini bertahan lama… Laris. Laris. Laris, beib!”
Jauh hari sebelum para pakar hoax menjadi profesi, orang-orang marketing pabrik rokok ini sudah diuji dengan perang dagang sesungguhnya, menguasai toko demi toko, kampung demi kampung. Ukuran karier mereka jelas. Tidak ada istilah suka atau tidak suka. Tidak ada tempat bagi orang yang lebih suka bicara dibanding bekerja.

Semua berhenti di satu kata: Omzet.

Mereka sejak dulu sudah terlatih menangani isu-isu. “Rokok Marlboro itu bukan dari tembakau, tapi dari kertas. Kalau tidak percaya, rendamlah sebatang rokok Marlboro di dalam gelas. Nanti dia akan berubah menjadi kertas.”
Bagi orang yang mendalami dunia rokok, ini sangat menggelikan. Rokok putih memakai jenis tembakau virginia. Karakter tembakau virginia memang mirip kertas. Apalagi kalau basah. Sudah pasti mirip kertas.
Mereka, para jagoan marketing pabrik rokok, sudah biasa anjlok bersama isu. Djarum pernah diterpa isu: ‘Demi Jesus Aku Rela Untuk Mati’. Omzet langsung jatuh. Tapi kemudian mereka bisa bangkit lagi.

Contoh lain. Salah satu produk Gudang Garam yang semula tumbuh, tiba-tiba ambruk. Gudang Garam tahu persis kalau salah satu kelemahan rokok saat itu adalah mudah patah. Mereka kemudian menciptakan produk yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa patah. Produk premium itu langsung laris di pasar.
Tapi terhenti tiba-tiba hanya karena satu isu: “Tidak bisa patah karena ada plastiknya.” Begitu isu itu beredar, produk itu langsung wasalam.
Bayangkan, orang-orang macam ini, yang sudah biasa tiap tahun kena isu ‘rokok mengandung babi’, bertarung siang malam dengan para kompetitor, mendapati hoax ‘harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus’, hati mereka bukannya sedih malah merasa riang gembira.
Isu itu diambil alih oleh mereka. Isu yang mestinya bakal bikin orang tidak lagi merokok malah membuat perokok mengonsumsi rokok dua kali lipat. Bajilak, bukan?

Hal seperti inilah yang membuat para aktivis antirokok selalu kemut-kemut. Pusing.
Sebagian dari mereka memang lulusan dari ilmu komunikasi, tapi mereka gagap berkomunikasi dengan masyarakat, dan gagal memahami logika masyarakat. Sebagian dari mereka lagi adalah para wartawan yang gagal membangun karier kewartawanan mereka. Kalau membangun karier saja gagal, apalagi membangun rumahtangga? Eh, membangun isu, maksud saya.
Sebagian dari mereka yang lain adalah para dokter, tapi sudah lama mereka tidak praktek. Soalnya lebih enak makan uang perdiem daripada uang layanan kesehatan dari pasien. Sudah lupa caranya menyuntik, karena lebih mudah disuntik program dari funding.


*Sumber tulisan asli bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co

Dieng Culture Festival VII : Sekelumit cerita behind the scene

Tanggal 5,6 dan 7 Agustus kemaren Dieng dipadati oleh ribuan manusia yang datang entah dari mana asalnya. Tujuannya sama. Ingin merasakan euforia Dieng Culture Festival ke 7 yang sudah digaungkan oleh media media massa nasional berbulan bulan sebelumnya.

Yes, Dieng Culture Festival atau yang biasa disingkat sebagai DCF ini memang sebuah agenda rutin prosesi ruwatan (penyucian) rambut gembel yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat setiap tahun. Tentu saja dengan beragam modifikasi acara (seperti Pesta lampion, Jazz atas awan, sunrise di Sikunir dan Pangonan, dan sebagainya), mendatangkan bintang tamu dari ibu kota dan berbagai hal menarik lainnya yang bagi sebagian orang sangat sayang untuk dilewatkan.

Seperti juga tahun ini, pihak penyelenggara memberikan banyak sentuhan seni modern (dengan bekerjasama bersama mahasiswa ISI) dan mengundang tokoh populer seperti Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Cak Nun dan penyanyi kondang, Anji. Dan pastinya hal itu menjadi satu daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung untuk rela merogoh koceknya lumayan dalam demi mendapatkan selembar tiket masuk ke arena konser jazz, lampion dan ritual potong rambut gembel.

Meskipun saya hanya pada hari terakhir alias hanya pada hari Minggu tanggal 7 Agustus 2016 saja berada di Dieng, namun ada beberapa hal yang sangat membuat saya merasa bahwa ada yang berbeda pada pelaksanaan DCF tahun ini dengan tahun tahun lainnya. Beberapa hal yang berbeda adalah jumlah pengunjung yang lebih padat antara tahun ini dengan tahun sebelumnya, kemacetan yang semakin parah, penataan lokasi tiap bagian event yang tertata rapi, lokasi Camping Ground yang semakin banyak, juga tarif parkir yang mencapai angka Rp. 10.000 ,-

What the hell that !!!!

Sepuluh ribu cuman buat bayar parkir ? F*#k that........
Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji kisanak..... memanfaatkan momen seperti ini hanya untuk mencari keuntungan sementara. Bayangkan saja apabila tahun depan pengunjung datang ke Dieng dengan berjalan kaki...... mau cari uang dari mana kalian ? parkir kaki ???

Oke, lupakan sejenak soal itu...... kembali ke jalannya DCF, setelah saya masuk lokasi dan bertemu dengan beberapa orang kawan, ternyata apa yang alami soal parkir kendaraan itu belum apa apa. Banyak terjadi hal lain yang lebih parah dan tentu aja memalukan. Misalnya ada petugas penarik bea kebersihan untuk tiap tenda di Camping Ground pada jam 2 malam...... Jam 2 malam men......... Gila apa......... besarannya 25.000 per tenda, tapi paginya bahkan sampai siang harinya lokasi itu ga ada bersih bersihnya sama sekali. Dan itu belum termasuk dari biaya sebesar Rp. 175.000,- untuk setiap kaplingan dum alias tenda yang sudah harus dipesan jauh jauh hari sebelumnya. Kan Fak namanya.......

Tapi ada yang menarik pada perhelatan DCF  yang ke 7 ini, pada setiap pintu masuk event ada penjaga gawang eh palang yang cukup tegas. Para penjaga ini terdiri dari gabungan petugas keamanan dari pihak panitia bekerjasama dengan Satuan Polisi pamong Praja Kabupaten Banjarnegara. Saking tegasnya, mereka sampai menolak, bahkan berani beradu mulut  dengan beberapa orang yang mengaku sebagai korps baju coklat (you know who lah ) yang hanya membawa satu kartu tiket masuk. Salut..........

By the way, ada satu moment yang tidak terduga dan tidak akan terlupakan bagi saya pribadi pada DCF kali ini yaitu secara tidak sengaja bertemu dengan tokoh tokoh fotografi yang selama ini saya kagumi meskipun hanya lewat internet, media sosial dan hasil browsing di internat saja, sebuah kehormatan dan kebanggaan besar bagi saya bisa berbagi waktu untuk mengobrol sambil menunggu ritual larung rambut gembel di telaga warna bersama seorang koordinator juri Salon foto 2016 kategori cetak warna Om Rasmono Sudarjo, om tukang dolan Tan Kiki, om makrodin Ronny Santoso , bang juwara Fadkus, Om eh bli Nyoman Butur Suantara, dan guru motret saya pak Agus Nonot. Hanya 3 jam namun cerita tentang pengalaman mereka membuat saya dan Bhakti seperti merasa bahwa waktu sesebentar itu seolah sudah memberi kami sebuah pengalaman fotografi yang luar biasa. Kurang dan tidak cukup tentu saja........


Diluar itu semua, ada sedikit unek unek yang pingin saya tulis disini dan semoga ada panitia tahunan DCF yang sempat untuk membacanya. Ada sedikit usul dari saya pribadi utnuk menambah panggung tempat memotret untuk wartawan di acara jamasan dan potong rambut. Sebab dua panggung dengan luas yang hanya beberapa meter seperti kemarin masih sangat kurang. banyak rekan wartawan yang tidak kebagian tempat di atas (panggung) karena di tempat yang seharusnya untuk mereka sudah ditempati orang lain. Dan untuk mengatasinya mungkin perlu ditempatkan personel keamanan khusus yang bertugas mengecek kartu identitas setiap orang yang hendak naik kesana.

Selain itu perlu diterapkan aturan bahwa tongsis dan tripot SANGAT DIHARAMKAN berada di barisan depan pengunjung. Sebab hanya alayers dan mereka yang tidak peduli lingkunganlah yang akan menggunakannya di depan barisan tanpa memperhatikan belakangnya yang tentu saja mengambil foto juga. Kalau perlu tindak tegas dan usir dari barisan. Biar tahu rasa......

Kenapa kedua hal itu menurut saya penting? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena bagaimanapun "besarnya" DCF adalah karena pemberitaan media dan foto foto di media sosial masyarakat. apabila foto yang dihasilkan bagus dan menarik juga tanpa cacat, maka hal tersebut akan menjadi viral dan masyarakat umum akan menjadi penasaran. Imbasnya adalah meningkatnya jumlah pengunjung pada pelaksanaan DCF di tahun tahun berikutnya.
Selain itu hal tersebut juga akan sangat membantu tugas teman teman wartawan sehingga mereka tidak lagi menggerutu (meminjam kalimat mas Anis Efizudin)
" nek ngene iki aku yo ra biso kerjoooo....... "

" Welcome to the Republic of Tongsis " by 

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow