Archive for Agustus 2017

Banjarnegara Street Photohunt 2017 : Culture On The Street

Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) bekerjasama dengan Gajah Pro Production dan RajaTrophy Banjarnegara pada tanggal 22 Agustus 2017 atau bertepatan dengan Hari jadi Kabupaten Banjarnegara yang ke 186 sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk " Banjarnegara Street Photo Hunt : Culture On The Street "

Kegiatan yang berlangsung pada hari kerja ini ternyata tidak menyurutkan niat para peserta yang berlatar belakang dari berbagai golongan dan pekerjaan. Terbukti dengan jumlah peserta yang mencapai 77 orang. Jumlah yang cukup banyak untuk kegiatan yang digelar di hari kerja di kota kecil pula hehehehe...... FYI, banyak diantara peserta yang (berstatus pegawai, karyawan bahkan juragan) rela mengajukan cuti kantor, ijin, mengajukan Dinas Luar, bahkan ada yang sampai bolos resmi dari kantor/instansinya masing masing. Salutt........

Dengan submit point di Dapoer Central Cafe and Resto, secara garis besar pelaksanaan lomba foto OTS ini sukses digelar. Dimulai dari proses pendaftaran sejak jam 7 pagi sampai dengan berakhirnya proses penjurian pada jam 2 siang, semuanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada permasalahan yang cukup berarti. Bahkan pada saat waiting time,  alias menunggu proses penjurian, tidak ada satu pesertapun yang merasa kurang nyaman karena diselingi dengan Ekstra Photo session dan hidangan full dari DC resto ...... bebas makan apa saja......... bayarnya pas mau pulang saja ........dan bukan tanggungan panitia tentu saja........hehehehe.................


Dan......
Dari hasil penjurian yang cukup alot............dalam lomba foto ini diperoleh hasil sebagai berikut :
- Juara I      :  Edo Saputra 
- Juara II     :  Wahyu Tri Suroso
- Juara III    :  Agus Wuryanto
- Juara Harapan I  :  Moh Reza Gemi Omandi
- Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari
- Juara Harapan III  : Yoga Ardi Nugroho

Penasaran seperti apa foto foto juaranya ? Check this out man........
Monggo .........

Juara I : Edo Saputra

Juara II : Wahyu Tri Suroso

Juara III  :  Agus Wuryanto

Juara harapan I  :  Moh. Reza Gemi Omandi

Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari

Juara harapan III  :  Yoga Ardi N
Meskipun penduduk tuan rumah tidak ada satupun yang berhasil menjadi juara, tapi setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari lomba ini. Pertama, pelajaran tentang memahami tema lomba. Hal ini menjadi penting karena dari hasil penjurian ternyata sebagian besar penduduk tuan rumah mengirimkan foto yang melupakan 'street' nya. Alias justru mensubmit foto foto budaya yang sedang berlangsung. baru setelah pengumuman juara banyak yang menyesali keputusan submit fotonya masing masing

Kedua, dari sisi internal pribadi teman teman yang belum berhasil menjadi juara mungkin akan sedikit kecewa, namun hal itu diharapkan jangan sampai menjadi sebuah alasan untuk berhenti mencoba dan memupus jiwa kompetisi masing masing. Mental untuk berkompetisi perlu selalu dipupuk untuk menghasilkan seorang juara yang benar benar handal dan tahan banting. Ya minimal untuk sedikit mengobati kekecewaan gagal menjadi juara ya dengan menyalahkan teman.......

" sante, banyak temennya man....... tuh yang juara cuman berenam.lha kita segini banyak temennya kok............jangan lebay lah....... " begitu misalnya hehehehe....................

atau .......

" ah foto gitu aja menang....aku punya tuh yang lebih baik dari itu.........cuman ga disubmit ke panitia......... mbak panitia sih kenapa cantik banget, kan aku jadi ga fokus submitnya ........"

By the way, harapan utama diadakannya lomba foto semacam ini sebenarnya adalah ikut meramaikan pagelaran kirab hari jadi Banjarnegara dari sisi fotografi (suwer...... setelah acara ini pendaftar di lomba foto Pesona Banjarnegara jadi meningkat drastis), juga sebagai ajang silaturahmi para pecinta fotografi yang ada di wilayah Banjarnegara dan sekitarnya. Selain itu Wawan Kardjo sebagai ketua pelaksana,  berharap acara ini bisa menjadi langkah awal dari berbagai kegiatan fotografi dan lomba foto yang diadakan di Banjarnegara ke depannya sehingga duunia fotografi di Banjarnegara terus mengalami kemajuan yang positif dan signifikan........halah.........

Foto Keluarga

Para Jawara (termasuk yang tengah lho ......)

Tim Ubresh


8.31.2017
Posted by ngatmow

Dieng Culture Festival VIII, Semakin Rapi, Terkendali tapi semakin Sepi

Kau mainkan untukku 
Sebuah lagu tentang negri di awan 
Di mana kedamaian menjadi istananya 
Dan kini tengah kau bawa Aku menuju kesana ................

Begitu kira kira bait demi bait lagu Negeri Di Awan yang dilantunkan oleh om Katon Bagaskara dan pak Gubernur Ganjar Pranowo malam itu. Malam dimana suhu udara mencapai 3 derajat celcius.

What ? tiga derajat ?
Yang bener aja......

Ya iya lah Dieng gitu ..... kalau di bulan Juli-Agustus itu mah wajar saja. Dan akan selalu terulang di setiap tahunnya. Suer......
Dan kenapa kok om Katon dan Pak Gubernur rela berdingin dingin di Dieng sambil bernyanyi nyanyi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena algi ada pagelaran akbar tahunan warga Dieng yaitu Dieng Culture Festival yang ke delapan tanggal 4 - 6 Agustus 2017 lalu.

Yap, seperti tahun tahun sebelumnya DCF mampu menyedot perhatian ribuan massa untuk berkunjung ke Dieng dan menikmati dinginnya udara malam yang begitu menusuk tulang serta rela mengeluarkan duit 10ribu rupiah demi segelas kopi...... what the f#@k that........

DCF VIII tahun 2017 ini memang punya suasana yang agak berbeda dengan DCF tahun tahun sebelumnya. Terlihat lebih rapi, lebih terencana dan lebih sepi.........
Lho??
Khusus yang point terakhir, ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan sebagai "kambing hitam", salah satunya adalah mahalnya tiket masuk ke area yang mencapai 400ribu OTS. Damn.... !!!

Suasana puncak pesta kembang api dan lampion Jazz Atas Awan 2017

Alrigt..... mari kita ngobrol lebih jauh soal DCF VIII kali ini.
Hal positif pertama yang wajib dan harus kita apresiasi adalah bahwa pelaksanaan kali ini adalah murni swasembada Pokdarwis alias tanpa campur tangan pemerintah......
Kedua, pengelolaan lalu lintas jauh lebih baik dari pada DCF sebelumnya. Hal ini berimbas pada lancarnya arus kendaraan baik yang masuk maupun keluar dari Dieng.
Ketiga, Tempat parkir kendaraan dan "parkir manusia" dalam bentuk camping ground juga sudah tertata rapi (meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada banyak sekali tenda tenda dengan lokasi yang ilegal)

Selanjutnya, alias yang ke empat,  dari sisi acara juga sudah cukup bervariasi baik pada hari pertama maupun hari kedua. Hal ini bisa dibuktikan dengan penampilan grup rebana yang menyanyikan lagu-lagu keagamaan dan pembacaan ayat suci Alquran sebagai pembuka rangkaian acara, panggung Jazz di Atas Awan, Festival Caping dan Ritual Anak Gimbal sebagai acara puncak yang berlangsung pada hari Minggunya di area Candi Arjuna.

Kelima, pada saat pelaksanaan acara acara malam, titik dimana orang berdesak desakan sudah jauh berkurang. hanya pada tempat tertentu saja seperti di depan panggung (dan itupun di luar area tamu penting saja), hal ini kemudian menjadikan wilayah lain di sekitar Dieng relatif lebih sepi..
Enam, petugas keamanan yang selalu stand by penuh dan tanpa ampun dalam mengatasi segala bentuk potensi kerusuhan (ini bisa dibuktikan dengan terjadinya "pembuangan" beberapa orang pengunjung oleh pihak panitia dan keamanan karena mabuk berat di sekitar lokasi utama DCF sehingga meresahkan pengunjung lainnya ke luar area Festival)

Tapi....................Diluar segala hal positif itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan sukur sukur bisa menjadi bahan pelajaran dalam pelaksanaan DCF selanjutnya. Dan tanpa bermaksud mencela atau menghina, hanya bermaksud untuk mengajak kita semua berfikir sambil berbenah diri, berikut beberapa catatan yang saya rasa perlu ditindaklanjuti lebih jauh lagi.......
Pertama,  Harga Tiket yang (saya rasa) terlalu mahal untuk kantong masyarakat ramai macam saye.....400 ribu men...... gila aja....... untuk tiket dengan harga segini, andai saya masih mahasiswa tenu ga akan kuat beli. Paling kalo ke Dieng pun hanya bisa nonton keramaian dan suasananya dari jauh saja. Ga berani deket deket apalagi ikut berdesakan demi dapet fotonya Anji lagi nyanyi pas Jazz atas Awan ........

Kedua, meskipun sudah agak mendingan, saya pikir perlu ada petugas pengatur khusus untuk para pemotret yang berada di barisan depan pada saat ritual puncak pemotongan rambut gimbal di komplek candi arjuna. Kenapa perlu ? sebab banyak sekali tripot, tongsis dan bahkan drone yang pating pencungul di barisan depan dan itu sangat sangat mengganggu barisan fotografer yang ada di belakang (termasuk wartawan yang tidak dapat tempat di panggung).........

Ketiga, kemasan pada saat ritual puncak mungkin perlu sedikit dikemas sedmikian rupa sehingga penonton tidak bosan dan beranjak meninggalkan tempatnya sebelum acara selesai. Seperti kemarin, begitu pemotong ke tiga (Pak Bupati Budi Sarwono dan Wabup Syamsudin)  naik altar, penonton bubar.... nah...... hal itu terjadi karena mereka sudah ilfil duluan dan bosan menunggu menyaksikan ritual yang hanya seperti itu saja.......

Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara

Padahal .......Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi digelarnya kembali Dieng Culture Festival (DCF) 2017. Menurutnya ini kolaborasi penta-helix. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Kulon sebagai komunitas, sukses menginisiasi acara yang terbukti efektif menarik wisatawan.
katanya sih Indirect impact-nya atau media value-nya cukup besar. Dan terbukti dari banyak media asing yang ikut meliput. Beliau sebelumnya juga telah menetapkan Dieng sebagai satu dari empat kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain Borobudur, Sangiran dan Karimunjawa.

Nah ...........

Udah ah ...... itu aja................

Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Fotografi Tertinggi di Negeri Ini

Pernah dengar soal salon foto ??
belum ??
wajar.......
jangan malu kisanak..... banyak temennya hehehe........

Di kalangan penggila fotografi, Salon Foto tentu sudah tidak asing lagi. Salon Foto Indonesia, ajang apresiasi insan fotografi yang dihelat oleh Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) ini selalu dinanti. Tahun 2017 ini, Salon Foto Indonesia (SFI) diadakan di Surakarta alias Solo, Jawa Tengah dan bertindak sebagai "tuan rumah" yaitu teman teman dari HSB (Himpunan Senifoto Begawan).

Sebenarnya, meskipun SFI ini mirip dengan sebuah kompetisi fotografi, namun saya pikir kurang tepat bila menyebut acara ini sebagai kompetisi foto. Sebab, sejak pertama kali diadakan pada 1973, tujuan SFI adalah ajang apresiasi foto melalui pameran yang telah melalui proses kurasi. Karena itu, jarang sekali terdapat hadiah berupa uang. Kalau pun ada, lebih untuk menarik minat para calon peserta. Jika dunia musik punya Grammy Award dan insan film punya Academy Award, maka fotografi Indonesia punya Salon Foto. Fotografer mengikuti SFI demi mendapat gelar atau pengakuan dari sesama kolega. Memperoleh serta menambah gelar dengan mengikuti SFI menjadi pencapaian tersendiri dari karier seorang fotografer.

Kalau kita perhatikan, beberapa fotografer memasang gelar khas fotografi di belakang namanya. Seperti misalnya Agatha Bunanta, salah seorang perempuan di Indonesia yang punya gelar fotografi terbanyak: Agatha Anne Bunanta, ARPS, EPSA, EFIAP/bronze, UPI Crown 4.

Mengutip dari artikel yang pernah ditulis oleh Arbain Rambey, gelar-gelar tersebut adalah pengakuan dari lembaga foto internasional terhadap kemampuan karya dan jerih payah sang fotografer. Saat para penggemar fotografi saling berkumpul dan bertukar kartu nama, gelar-gelar fotografi sangat berperan di sini. Dengan mengetahui gelar tersebut, setidaknya di antara sesama fotografer mengetahui posisi dan kemampuan si pemilik gelar.

Gelar-gelar fotografi tersebut diberikan oleh berbagai lembaga yang diakui kekuatannya di lingkungan fotografi. Untuk lingkup Indonesia, lembaga yang memiliki kekuatan untuk memberikan gelar fotografi adalah FPSI. Sedangkan di lingkup dunia, ada empat lembaga fotografi internasional, yaitu:
  • RPS (Royal Photographic Society) yang berkantor pusat di Bath, Inggirs
  • PSA (Photographic Society of America) yang berkantor pusat di Amerika Serikat
  • FIAP (Federation Internationale de l’art Photographique) yang berkantor pusat di Paris
  • UPI (United Photographic International) yang berkantor pusat di Yunani

Dalam lomba internasional, setiap foto yang diterima atau terpilih untuk pameran akan mendapatkan satu poin. Dan poin itu dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu yang bisa diajukan sebagai gelar fotografi.

Sedangkan pada SFI, fotografer yang karyanya menang akan mendapatkan medali serta poin tertentu. Jika sering juara, poin akan terakumulasi dan sang fotografer berhak atas gelar khusus A.FPSI, atau “Artist of FPSI.” Gelar A.FPSI sendiri ada lima, dari satu bintang hingga lima bintang. Syarat poin untuk mendapatkan tiap gelar tersebut adalah sebagai berikut:

30 poin untuk A.FPSI* (Artist of FPSI One Star)
60 poin untuk A.FPSI** (Artist of FPSI Two Stars)
90 poin untuk A.FPSI***(Artist of FPSI Three Stars)
120 poin untuk A.FPSI**** (Artist of FPSI Four Stars)
150 poin untuk A.FPSI***** (Artist of FPSI Five Stars)

Sedangkan untuk perolehan poin dihitung dengan cara:
  • Terpilih / Accepted = 1 Point
  • Penghargaan / Honorable Mention + 1 = 2 poin
  • Medali Perunggu / Bronze Medal + 2 = 3 poin Medali Perak / Silver Medal + 3 = 4 poin
  • Medali Emas / Gold Medal + 4 = 5 poin
  • Pasangan Terbaik / Best Set (4 Karya Foto Accepted) + 2 = 6 poin

“ Semakin banyak poin yang dicapai, gelar yang telah didapat pun akan terus meningkat Dan ini akan menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang fotografer ”


Sedikit ngobrol saja, pada penyelenggaraan SFI ke 37 tahun 2016 yang lalu, sebagian besar foto saya berstatus R alias Rejected alias Ditolak hehehehe...... itu yang membuat saya jadi sadar diri bahwa saya mah apatuh.... masih perlu banyak belajar lagi soal fotografi, belum layak untuk sombong sambil mengatakan bahwa saya ini sudah jago (kaya wong kae hahahaha......), dan bahkan mungkin saya juga belum layak untuk menenteng kamera de es el er dengan lensa panjang berwarna putih belang belang hehehe......

Dengan adanya SFI di negeri ini, setidaknya para fotografer (muda) bisa belajar dan menimba ilmu serta pengalaman dari para seniornya agar bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Yang jelas, satu hal yang kemudian dialtih secara ga langsung disini adalah mental fotografernya itu sendiri. Mental untuk bersaing, mental untuk menerima kekalahan dan mental apabila mendapatkan predikat A alias Accepted........ sehingga apabil ada seorang (yang mengaku) fotografer namun langsung down begitu menerima predikat R alias Rejected alias Ditolak........ monggo menjauh saja, ga usah susah payah mendaftar Salon Foto Indonesia........ Pliss.........



8.16.2017
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow