Curug Sikopel..... tragis

Curug Sikopel. Begitu nama yang tertera di papan daftar destinasi wisata Kabupaten Banjarnegara. Airnya besar dan merupakan salah satu air terjun yang cukup tinggi di kelasnya dengan landscape alam di sekitarnya terlihat sangat indah. Dan begitu pertama kali melihat fotonya, rasa penasaran itu seketika muncul layaknya perasaan orang jatuh cinta ...... halah .......

Photo Credit : AndriKharisma
Sekedar cerita sodara sodara, Curug Sikopel ini berada di Desa Babadan Kecamatan Pagentan, atau kurang lebih 30 kilometer dan 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Banjarnegara. Jauh ya ? emang jauh sih, tapi kalau selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan dan sambil membayangkan keindahan air terjun setinggi 70 meter itu insyaalloh ga bakal kerasa jauh deh ..........suwer.....

Dan itulah yang juga terjadi pada saya ..... hehehe......
Dengan sejuta harapan akan menemukan kepuasan saya mencari waktu senggang untuk bisa meluncur ke lokasi dengan sejuta bayangan indah.

Tapi .....

Sesampainya di lokasi parkir wisata, saya kaget sekaligus kecewa dengan apa yang saya lihat dan rasakan. Seketika saya langsung menjadi ilang feeling sodara sodara. Ambyarrrrr........

Kenapa ? sebab begitu masuk lokasi parkir kita akan menjumpai sebuah tanah lapang yang berukuran (mungkin) hampir sebesar lapangan voli dengan rumput yang tumbuh tinggi hampir selutut orang dewasa. Dan artinya lokasi ini tidak pernah dirawat dan dibersihkan oleh siapapun.......


Lanjut ke gerbang masuk, uang yang sudah dipersiapkan untuk tiket masuk sebesar Rp. 2000,- ternyata tetap utuh dan tidak terpakai. Sebab gerbangnya tanpa penjaga dan sudah berbentuk mengerikan. Semacam bangunan tidak terpakai selama belasan tahun hehehe.......  Harus diakui, memang sebenarnya masih ada sisa sisa bekas taman yang dibuat sebelumnya. Namun karena tingginya rumput liar, taman itu lenyap...... ya lenyap sodara sodara......


Hanya berselang kurang lebih 20 langkah dari gerbang masuk, kita akan menemukan sebuah peninggalan papan nama penanda yang sudah mulai hilang,dilanjutkan dengan jalan beton yang semula mulus lambat laun berubah wujud menjadi jalan tanah yang licin dan sudah mulai terkikis air hujan ..... lho .........dan seketika itulah keinginan saya untuk turun ke bawah (area sekitar air terjun) menghilang........

Balik kanan lalu pulang......

Eh sempat motret sebentar ding. Pas pake lensa wide 15-45 sih hasilnya memuaskan, curugnya bisa dikatakan bagus dan berkarakter. Tapi pas pake tele 70-200 mm, tumpukan sampah di sekeliling lokasi air terjun sangat mengganggu pemandangan..........

So d*mn that  right ?


Ada banyak pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya..... kok nggak ada yang merawat lokasi itu ya ? yang bertanggung jawab siapa sih sebenernya ? apa nggak ada koordinasi yang baik antara dinas dengan warga sekitar ? dan pertanyaan pertanyaan yang lain yang ngga akan cukup kalau dituliskan disini .......pokoknya faakkkk .............

Terlepas dari itu semua di tengah era informasi yang begitu cepat ini, sudah seharusnya pihak pihak yang berkepentingan baik aktif maupun pasif ikut memikirkan "kelangsungan hidup" dan kelestarian tempat wisata alam semacam ini. Kita nggak bisa dong nyalahin pemerintah (dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) yang mengampu satu kabupaten dengan segala "pernak pernik permasalahannya". Mereka sudah terlalu sibuk man ...... jangan lagi beralasan pemerintah nggak memperhatikan kalian...... coba tanya pada diri masing masing, sudah semaksimal apa kalian bantu pemerintah disini ?? apa apaan itu ?? 

Mikir ......


Mungkin, ada baiknya kalau yang berperan aktif disini adalah warga masyarakat atau pokdarwis atau bahkan relawan setempat semampunya (tanpa mengharapkan hasil dulu tentunya) menata lagi, mempertahankannya dan kemudian mempromosikan lewat dunia maya biar tanpa biaya.

Kenapa dunia maya ? ya jelas dong..... sekarang lagi jamannya gitu. 
Semakin kita gencar promosi, baik itu mengunggah foto foto terbaru, ngadain event juga disana, atau bahkan mengadakan lomba foto dengan menggandeng jagoan jagoan fotografi landscape yang jumlahnya banyak di banjarmegara ini, maka akan semakin naik lagi "rating" Curug Sikopel ini. Efeknya kemudian adalah wisatawan dateng lagi dan pengelolaan tempat ini hidup lagi........ dan terakhir warga sekitar akan dapat penghasilan lagi...... manis bukan ?

Yang jelas sih, sudah saatnya kita jangan saling menyalahkan pihak lain demi mencari kebenaran soal itu (dan tentu saja berlaku untuk permasalahan yang lainnya). Sikap bijak, keikhlasan dan perilaku ringan tangan kitalah yang akan menentukan posisi kita dimata orang lain. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Curug Sikopel (dan lokasi lokasi wisata lainnya) dimana sedang mengalami kondisi "sekarat" ..... 

Mari kita selamatkan mereka dengan cara yang kita bisa ....... plus keikhlasan dan sikap bijak kita masing masing pastinya .......... 



Karimunjawa dan cerita jatuh hati padanya

Pernah bermimpi piknik naik perahu besar selama lebih dari sejam untuk kemudian berbaring di pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih dan angin yang sepoi sepoi serta background pemandangan yang sempurna buat selfi ....... tapi dengan biaya yang ga akan nguras isi dompet (yang emang pas pasan) ini ?
Ngimpi ?

Hahaha bukan ngimpi gaess.......
Kita bisa kok kayak gitu, jalan jalan tanpa nguras kantong dalam dalam. Caranya ?
Rubah rencana travelingmu (kalau punya hehehe.....) ke Kepulauan Karimunjawa ......

Karimunjawa ?

Yes...... Kalo bahasa ndesonya saya, Karimunjawa Island ......


Karimunjawa merupakan kepulauan yang terletak di Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Laut Jawa, 83 km sebelah Utara Jepara. Karimunjawa pada dasarnya terdiri dari 27 pulau namun tidak semuanya berpenghuni hanya ada 5 pulau saja yang ada orangnya. Dan biasanya hanya pulau utama saja yang dijadikan destinasi tujuan wisata pokok karena hanya disanalah fasilitas (cukup) lengkap bagi wisatawan sudah tersedia.

Karimunjawa memiliki 76 jenis terumbu karang dan 562 jenis ikan hias lho gaes, sehingga tidak salah apabila kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Hal lain yang bisa dinikmati disini adalah hutan mangrove nya yang aduhai serta tempat trekking yang tepat untuk observasi burung. Burung beneran lho ya ..... bukan yang lain hehehe ..........

Konon, kata Karimunjawa berasal dari bahasa jawa " kremun kremun saking tanah jawi" yang kurang lebihnya berarti sesuatu yang samar apabila dilihat dari tanah jawa..........begitu .......

The Carribbean of Java, mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutnya. Disamping karena pasir putihnya, perairannya yang bening, tenang, dan keindahannya yang eksotis, pulau ini bisa membuat kita gagal move on dan selalu pengen balik ke sini lagi...... dijamin.....

Emmm ...... dan itu terjadi pada saya ........ hehehe ...........

Berangkat dari Banjarnegara hari Jumat malam sekitar jam 01.00 alias Sabtu dini hari dengan menggunakan minibus, rombongan kami sampai di pelabuhan penyeberangan di Jepara jam 7.00 alias 6 jam perjalanan (dipotong sholat Shubuh sebentar di Masjid Agung Demak).

Kenapa berangkat sepagi itu ?
Begini gaess, untuk menyeberang ke Karimunjawa hanya ada 2 kapal jenis feri, yaitu Express Bahari dan Siginjai. Keduanya hanya memiliki 1 jadwal keberangkatan tiap hari. Jadi kalau ketinggalan, terpaksa menunggu keesokan harinya. Ini juga menjadi satu faktor penentu berhasil tidaknya kita menyeberang pada hari itu, sebab tiket harus dibeli sendiri on the spot karena belum ada sistem online booking sehingga harus antre dari subuh jika tidak mau kehabisan. Untuk itulah makanya kami menggunakan jasa biro perjalanan, tour and travel. ..... Aman.......

Oya, sebenernya bisa sih kalau kita pengen ke Karimun tanpa harus ke Jepara lebih dulu. Alternatifnya yaitu berangkat dari Semarang (lebih baik pergi di hari Sabtu atau Kamis karena hanya terdapat 1 kapal saja yang berangkat dari Semarang yaitu KMC Kartini). Selain itu ada juga pesawat Cessna yang berangkat dari Semarang di hari Kamis dan Jumat langsung menuju Bandara Dewadaru yang ada di Karimun sana.

Skip ......

Adegan selanjutnya adalah sebelum masuk kapal kami sempat beristirahat di sekitar pelabuhan sambil beristirahat sembari menikmati hembusan angin laut yang semilir asik, dan kemudian bertambah asik lagi ketika di salah satu sudut warung terlihat ciptaan Tuhan yang istimewa dengan rambut lurus sebahu (lebih dikit.....) dijepit pake jepitan rambut warna pink dan membawa sebuah tas traveling warna orange bertuliskan Indonesia off-road eXpedition sedang minum teh sambil ngobrol cantik bersama seorang temannya........hihihi .........menarik.

Tepat pukul 10 pagi, kami masuk kapal cepat dan membelah lautan selama 2 jam perjalanan tanpa sempat merasakan goyangan ombak karena air laut....... sebab rasa capek perjalanan darat mengharuskan kami untuk memejamkan mata. Seketika.......

Dan .......

Tiba tiba kami berhamburan keluar dari kapal bagai seorang bocah disuruh main hujan hujanan. Pemandangan nan indah terhampar di depan mata kami. Air laut yang bening, pasir yang putih serta langit yang membiru seolah menyambut kami di Karimunjawa ....... pokoknya ...... wow


Setelah beristirahat di homestay, kami naik perahu wisata yang sudah dibooking oleh biro wisata kami. Perahu yang hanya muat sekitar 15-20 orang itu dengan cepat membawa kami menuju objek wisata khas Karimunjawa. Bermain di pasir putih Pulau Geleang yang luas dan menakjubkan..... dilanjut snorkling di tengah laut sekitaran Pulau Menjangan Kecil......... dan main air di pantai Tanjung Gelam sambil menikmati sunset yang menyayat hati ...... ehh.......


Sekedar tips sodara sodara, untuk bisa puas menikmati traveling di Karimunjawa yang mengharuskan kita mengunjungi pulau pulau kecil di sekitarnya (ada 27 pulau kecil dengan hanya 5 pulau saja yang berpenghuni), kita bisa menyewa perahu motor dengan tarif sekitar 400–600 ribu. Satu perahu motor bisa mengangkut penumpang maksimal 20 orang. Cocok kalo datang berombongan seperti kami. Kalau kebetulan bepergian dalam grup kecil 2-3 orang dan ingin mengunjungi pulau-pulau kecil sekaligus snorkeling, bisa juga kok kita bisa mengikuti tur yang disediakan oleh penduduk lokal. Biasanya sih kita akan digabung dengan kelompok tur lain (sekaligus kesempatan cari cari pandangan seger lain..... hihihi.....). Tarif berkeliling pulau-pulau dengan perahu, snorkeling, plus makan siang bisa kita dapatkan dengan tarif sekitar 150-200 ribu per orang namun lebih jelasnya, silahkan tanya ke pengelola penginapan tempat bermalam, siapa tahu bisa dapat harga yang lebih murah ....jangan lupa nego lho ya!).


Tips berikutnya adalah ketika kita berda di Karimunjawa, JANGAN MAGER apalagi BAPER.......
Sebab banyak sekali tempat menarik di sekitaran pemukiman penduduk yang sayang untuk kita lewatkan begitu saja.

Contoh kecil nih..... Taman Alon alon Karimun.......
Mungkin yang dimaksud alun alun kali ya, tapi berhubung tulisannya kaya gitu ya, gitu deh......hehehe......
Malam hari pas sudah tidak ada acara paketan dari biro perjalanan ada baiknya kita menunjungi tempat ini gaes...... sebuah tanah lapang seukuran separo lapangan bola (kalau di jawa) dimana disitu ternyata adalah surganya makan seafood ....... yes. seafood......
Kepiting, udang, cumi, kakap, sampai kerang semuanya ada. Pengunjung diberi kesempatan untuk memilih dalam keadaan segar, kemudian pedagang akan langsung mengolahnya sesuai permintaan.....
Enak ? pastinya kisanak...... bahkan saya makan kerang sampai satu nampan full hahahaha......... 
it's my favourite seafood ............

Habis makan seafood, pengunjung akan dimanjakan oleh aneka oleh oleh khas laut seperti kering ikan, terasi, ebi, dan sebagainya. Kita bisa juga membeli oleh oleh berupa beragam jenis pakaian bertuliskan Karimunjawa island yang tentu saja peletakannya masyaalloh noraknya..... hahhaha........

Skip.......

Pagi hari, ada satu spot sunrise yang cukup menarik dan sedang dalam proses penataan oleh penduduk setempat yaitu Pantai Bobi. Nggak tahu deh kenapa dinamakan itu, boyo bingung mungkin, atau apapun itu. Yang jelas untuk sampai ke pantai ini memakan waktu hampir 30 menit dari area pemukiman dan home stay, atau sekitar 5-10 menit dengan menggunakan sepeda motor. 

Pantai Bobi ini adalah sebuah pantai berpasir putih yang terletak di tengah tengah pepohonan di dalam hutan. Airnya sangat bening, pantainya bersih, dan viewnya sangat istimewa. Apalagi ditambah dengan momen tak terduga bisa ketemu sama pemilik tas orange di hari sebelumnya...... hemmm.....
And then, perpaduan warna hijau dari pepohonan, putih dari pasir, biru dari langit, orange dari matahari terbit dan syahdu dari senyumannya itu ........pokoknya indah banget........ rasanya ga pengen beranjak meninggalkannya deh. Suwer ......


Menjelang siang biasanya pengunjung akan diarahkan ke bukit love. Katanya sih belum ke Karimun  kalau belom foto sama patung prasasti bertuliskan KARIMUNJAWA disitu. Juga ada prasasti bertuliskan LOVE  yang cocok untuk ber alay alay sebentar......

Tapi ..... kunjungan ke lokasi ini nggak bisa berlangsung lama karena rombongan biasanya harus segera berkemas dan menuju ke pelabuhan. Dimana pada jam 11 siang sudah ditunggu kapal cepat untuk kembali menuju kehidupan sebenarnya lagi di pulau jawa .......

yang jelas, akan ada banyak sekali cerita, kenangan dan romansa yang melekat di isi kepala kita meskipun hanya beberapa saat di Karimunjawa. So, mari agendakan kesana lagi gaes, eksplore lebih banyak surga yang ada, nikmati lebih banyak hidangan malamnya sambil kita jaga kebersihan lautnya agar tetap bening, tetap indah dan tetap cantik mempesona seperti dia ......... ehh ..........


12.12.2018
Posted by ngatmow

Sam Poo Kong, monumen lintas agama pemersatu bangsa

Jalan jalan ke Semarang rasanya ngga akan lengkap kalau kita nggak mampir ke daerah Simongan gan. Hanya beberapa menit saja kok dari Tugu Muda dan Lawang Sewunya (kalau lewat RSUD Dr. Karyadi lho ya) menuju ke arah Jalur keluar Kota Semarang ke arah barat (Kendal, Batang, dan seterusnya sampai ke Jakarta)

Lha emang di sana ada apa sih ?

Disana ada sebuah klenteng yang ikonik dan punya nilai historis sangat menarik,...... Klenteng Sam Poo Kong ...... pernah dengar ?

Belum ?
hahaha ........ berarti anda kudet dan kurang piknik kisanak .........

Klenteng ini sudah sangat terkenal kok, lintas daerah, lintas agama, lintas budaya bahkan lintas negara lho ........


Kalo kita berkunjung kesini, nuansa Cina jaman kekaisaran jaman dahulu sangat kental terasa man. Seperti umumnya bangunan kelenteng, Kuil Sam Poo Kong ini didominasi warna merah yang tidak saja menghiasi kelentengnya, tetapi juga pohon pohon menuju pintu masuk.

Kalo kita berkeliling di dalamnya, ada beberapa bangunan berarsitektur khas Cina yang berdiri dengan megah mengelilingi sebuah tanah lapang. Juga sebuah patung perunggu seorang Laksamana Cheng Ho yang berukuran 10,6 meter berdiri dengan sangat gagah.

Siapa sih Laksamana Cheng Ho itu ?

Begini gaes, dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma. Begitu kira kira .....

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tionghoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Kembali ke komplek Klenteng ya ........

Bangunan inti dari kelenteng Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.

Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari dan pintu masuknya dijaga oleh petugas keamanan. Hanya yang bermaksud sembahyang saja yang diijinkan masuk sedangkan wisatawan yang ingin melihat lihat bisa melakukan dari balik pagar.

Sejak Renovasi besar besaran tahun 2002 dan selesai 2005, yang menelah biaya 20 miliar, Sam Poo Kong menarik perhatian lebih banyak orang untuk berkunjung. Di halaman yang cukup luas di depan kelenteng, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho, yang cukup menarik untuk dinikmati. Di sinilah atraksi atraksi kesenian berupa tari tarian, barongsai atau bentuk kesenian lain digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China.


Setiap bulan ke-6 hari ke-29 Imlek, dilakukan arak-arakan menggotong duplikat patung Laksamana Cheng Ho, yang dikenal dengan sebutan Sam Poo Tay Djien, dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong. Arak-arakan ini dimaknai sebagai peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Hari hari besar lainnya yang dirayakan di sini termasuk di antaranya Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Kedatangan turis asing, terutama dari China, menunjukkan bahwa Sam Poo Kong dikenal luas di dunia. Berdasarkan uang sedekah yang ditinggalkan pengunjung, Kuil Gedung Batu ini juga sering dikunjungi turis turis asing dari Amerika, Rusia, Brazil dan negara negara lain.

Nah kapan nih mau berkunjung ke sini ?
Jangan lupa, siapkan catatan dan kamera ya..... karena banyak sekali yang bisa diabadikan disini dalam bentuk tulisan maupun foto gaess....

*dari berbagai sumber -- foto koleksi pribadi*
11.20.2018
Posted by ngatmow

Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Haru.
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel.....

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men..... beda...... cukuran rambut gembel disini beda...... di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah........dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho......... halah......


Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses.......

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan 

Penasaran ? Harus dong .......
Ceritanya begini gaess .......

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat...... ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ......
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ..................

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya..... Sadis........


Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro....... Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera.... eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ...............

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy .... kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.


Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ..........

Festival Payung Indonesia V di Borobudur

Pernah mengunjungi sebuah pagelaran seni tingkat nasional yang banyak payungnya ? 
Pernah dengar soal Festival Payung Indonesia ?

Festival Payung Indonesia adalah sebuah Event yang masuk Calendar of Event Kementerian Pariwisata dimana dihadiri oleh beragam payung Nusantara dan mempertemukan perajin payung, seniman, pekerja seni dan komunitas kreatif untuk melestarikan payung tradisional Indonesia. Selain itu mengeksplorasi tradisi payung Indonesia hingga batas terjauhnya dengan melibatkan partisipasi beragam masyarakat.


Gelaran Festival Payung Indonesia ke V pada tahun 2018 ini digelar di tempat asalnya, ibu segala payung yakni Borobudur. Dengan dipusatkan di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur Magelang pada 7-9 September 2018 Festival Payung Indonesia 2018 kali ini mengambil tema "Lalitavistara". Yaitu penggambaran cerita payung pada salah satu relief di Candi Borobudur. Tepatnya yang merayakan payung sebagai penanda kelahiran, berbagai tahap kehidupan, keagungan dan kematian. Payung menjadi simbol sekaligus penanda dalam siklus kehidupan dan perekat keberagaman. Di samping itu Candi Borobudur sendiri merupakan simbol inspiratif, Sebuah tempat yang pas untuk mencari inspirasi baru dan diharapkan menjadi pemersatu beragam latar belakang agama, politik, sosial, dan budaya yang ada di Indonesia.

Festival Payung Indonesia 2018 Borobudur ini dibuka oleh Arak-Arakan Payung Nusantara yang mengelilingi Borobudur, menapaki kembali jalan purba yang dilalui para peziarah dunia bersama masyarakat sekitar. Selanjutnya digelar pentas tari dan musik,workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint, dan pameran payung lontar. Selama tiga hari berbagai ragam tradisi payung dari pelosok tanah air, seperti Jepara, Banyumas, Tasikmalaya, Tegal, Kendal, Malang dan Juwiring (Klaten), Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya ditampilkan. Selain seni payung, beragam grup tari, musik, fashion dan komunitas kreatif dari Lumajang, Padang, Makassar, Banjarbaru (Kalsel), Bengkulu, Lampung Utara, Sumba Timur, Bali, Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga dipamerkan di venue. Tidak ketinggalan para perancang busana muda negeri ini juga ikut berpartisipasi dengan memamerkan karya karya mereka.

Partisipan festival tidak hanya dari dalam negeri lho gaes....... Ada juga pertisipan dari Jepang, India, Pakistan dan Thailand. Khususon untuk delegasi Thailand kabarnya memang sudah rutin hadir setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Provinsi Chiang Mai, Thailand) sudah melakukan hubungan sister-festival sejak 2016. Visinya pun sama. Yaitu menuju Asian Umbrella Community

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur. Malam hari pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Di puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).


Pada Festival Payung Indonesia di Borobudur kali ini, bisa dikatakan adalah sebagai festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukan bagi masyarakat kreatif. Komunitas lokal dilibatkan sejak dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan dan menyambut pengunjung dengan terbuka. Kemeriahan juga diselenggarakan di lima Balkondes (Balai Perekonomian Desa) yang tersebar di Wanurejo, Ngadiharjo, Borobudur, Karangrejo dan Bumiharjo. 

Puas ?
Tentu saja kisanak. Pagelaran yang istimewa ini secara tidak langsung membuka mata kita bahwa sebenarnya kekayaan bangsa ini seolah tidak ada habisnya. Hanya satu hal saja " Payung ", ternyata beragam hal bisa ditemukan dan membuat mata kita takjub. Bahkan setelah diabadikan menjadi sebuah foto pun pagelaran ini masih terasa ke "gebyar"annya.......so amazing

So, mau datang pada Festival Payung Indonesia ke VI tahun 2019 depan ?
yuk gaes .........


Efek samping mlipir ke sini kalo versi saya sih bisa begini .........
Bisa ketemu sama kakak rusuh idolah  ........ Donni L Anggoro

9.12.2018
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow