Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Haru.
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel.....

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men..... beda...... cukuran rambut gembel disini beda...... di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah........dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho......... halah......


Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses.......

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan 

Penasaran ? Harus dong .......
Ceritanya begini gaess .......

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat...... ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ......
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ..................

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya..... Sadis........


Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro....... Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera.... eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ...............

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy .... kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.


Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ..........

10.20.2018
Posted by ngatmow prawierow

Festival Payung Indonesia V di Borobudur

Pernah mengunjungi sebuah pagelaran seni tingkat nasional yang banyak payungnya ? 
Pernah dengar soal Festival Payung Indonesia ?

Festival Payung Indonesia adalah sebuah Event yang masuk Calendar of Event Kementerian Pariwisata dimana dihadiri oleh beragam payung Nusantara dan mempertemukan perajin payung, seniman, pekerja seni dan komunitas kreatif untuk melestarikan payung tradisional Indonesia. Selain itu mengeksplorasi tradisi payung Indonesia hingga batas terjauhnya dengan melibatkan partisipasi beragam masyarakat.


Gelaran Festival Payung Indonesia ke V pada tahun 2018 ini digelar di tempat asalnya, ibu segala payung yakni Borobudur. Dengan dipusatkan di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur Magelang pada 7-9 September 2018 Festival Payung Indonesia 2018 kali ini mengambil tema "Lalitavistara". Yaitu penggambaran cerita payung pada salah satu relief di Candi Borobudur. Tepatnya yang merayakan payung sebagai penanda kelahiran, berbagai tahap kehidupan, keagungan dan kematian. Payung menjadi simbol sekaligus penanda dalam siklus kehidupan dan perekat keberagaman. Di samping itu Candi Borobudur sendiri merupakan simbol inspiratif, Sebuah tempat yang pas untuk mencari inspirasi baru dan diharapkan menjadi pemersatu beragam latar belakang agama, politik, sosial, dan budaya yang ada di Indonesia.

Festival Payung Indonesia 2018 Borobudur ini dibuka oleh Arak-Arakan Payung Nusantara yang mengelilingi Borobudur, menapaki kembali jalan purba yang dilalui para peziarah dunia bersama masyarakat sekitar. Selanjutnya digelar pentas tari dan musik,workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint, dan pameran payung lontar. Selama tiga hari berbagai ragam tradisi payung dari pelosok tanah air, seperti Jepara, Banyumas, Tasikmalaya, Tegal, Kendal, Malang dan Juwiring (Klaten), Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya ditampilkan. Selain seni payung, beragam grup tari, musik, fashion dan komunitas kreatif dari Lumajang, Padang, Makassar, Banjarbaru (Kalsel), Bengkulu, Lampung Utara, Sumba Timur, Bali, Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga dipamerkan di venue. Tidak ketinggalan para perancang busana muda negeri ini juga ikut berpartisipasi dengan memamerkan karya karya mereka.

Partisipan festival tidak hanya dari dalam negeri lho gaes....... Ada juga pertisipan dari Jepang, India, Pakistan dan Thailand. Khususon untuk delegasi Thailand kabarnya memang sudah rutin hadir setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Provinsi Chiang Mai, Thailand) sudah melakukan hubungan sister-festival sejak 2016. Visinya pun sama. Yaitu menuju Asian Umbrella Community

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur. Malam hari pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Di puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).


Pada Festival Payung Indonesia di Borobudur kali ini, bisa dikatakan adalah sebagai festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukan bagi masyarakat kreatif. Komunitas lokal dilibatkan sejak dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan dan menyambut pengunjung dengan terbuka. Kemeriahan juga diselenggarakan di lima Balkondes (Balai Perekonomian Desa) yang tersebar di Wanurejo, Ngadiharjo, Borobudur, Karangrejo dan Bumiharjo. 

Puas ?
Tentu saja kisanak. Pagelaran yang istimewa ini secara tidak langsung membuka mata kita bahwa sebenarnya kekayaan bangsa ini seolah tidak ada habisnya. Hanya satu hal saja " Payung ", ternyata beragam hal bisa ditemukan dan membuat mata kita takjub. Bahkan setelah diabadikan menjadi sebuah foto pun pagelaran ini masih terasa ke "gebyar"annya.......so amazing

So, mau datang pada Festival Payung Indonesia ke VI tahun 2019 depan ?
yuk gaes .........


Efek samping mlipir ke sini kalo versi saya sih bisa begini .........
Bisa ketemu sama kakak rusuh idolah  ........ Donni L Anggoro

9.12.2018
Posted by ngatmow prawierow

Sejenak di MAJT, Masjid Agung Jawa Tengah

Sudah lama sebenernya pingin piknik ke suatu tempat yang nggak kaya biasanya, kalo biasanya saya perginya ke gunung, sawah, waduk, lapangan, dan sebagainya yang berbau bau alam, suatu ketika tuh pinginnya ke tempat yang beda gaes........Kota.....

Yes....... kota besar yang banyak anunya ...... ehhh

Jangan salah sangka dulu, jangan ngeres dulu kisanak.....
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........

Singkat cerita, Pucuk dicinta ulampun tiba sodara sodara, mungkin karena nasib lagi mujur atau mungkin sudah dituliskan dalam catatan hidup  saya oleh Nya, beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan menyambang kota kenangan (jaman masih bujangan), Semarang. eitss.......Jangan kira saya cuman sekedar mlipir dan jalan jalan ga jelas lho sodara sodara, ini tugas dinas lho ..... resmi dan halal  hehehe......

Hal pertama yang ada di kepala saya selama di perjalanan menuju kota itu adalah niat untuk motret di beberapa tempat (yang sedari jaman masih ganteng dulu menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar) yaitu Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Poo Kong, Tugu Muda plus Gedung Lawang Sewunya, serta Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal sebagai Vihara Buddhagaya Watugong.

skip........

Singkat cerita, setelah semua beban tugas terselesaikan maka saya langsung pesen ojek online (sopir kantor saya tinggal di suatu tempat yang bisa menjamin kebahagiaannya lahir dan bathin........ you know abaout that ? aw aw aw .....) untuk menuju target saya yang paling jauh dulu. Masjid Agung Jawa Tengah alias MAJT.
Masjid yang terletak di Jl. Gajah Raya No. 128 Sambirejo, Gayamsari Semarang ini ga jauh dari Simpang Lima lho. Ga sampai setengah jam dari Mall Ciputra kalo naik sepeda motor atau 
  • 4 Km dari pusat Kota Semarang melalui Jl. Semarang-Purwodadi (dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 15 menit) 
  • 4 Km dari Stasiun Tawang melalui Jl. Citarum (15 menit) 
  • 8 Km dari Bandara Ahmad Yani melalui Jl. Jendral Sudirman (24 menit) 
(perkiraan waktu tempuh menggunakan sepeda motor dan tanpa kendala lho ya)

Tapi.......  sangat tidak direkomendasikan untuk ke lokasi pada saat sore hari sebab jalan ke masjid ini pasti macet parah. menyebalkan..... and i hate it........


Apa sih yang bikin masjid ini menarik ?

Yang pertama, sebagai seorang muslim saya insyaalloh punya ikatan bathin yang kuat terhadap masjid. Karena bagi seorang muslim, masjid adalah rumah dan tempat untuk kembali (terserah mau ditafsirkan bagaimana ya......bebas). Selain itu  ada satu hal lagi yang muncul tiba tiba dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya pingin menjalankan Sholat Maghrib di masjid ini gaes....... suwer......

Yang kedua, masjid ini merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia lho. Luas lahannya saja mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk (untuk shalat) 7.669 meter persegi dengan rancangan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. So, sangat menarik untuk dipotret dan dipamerkan di halaman instagram kan ? hehehe ......

FYI, Masjid Agung yang luar biasa ini ceritanya dulu diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang disebut sebagai Menara Al Husna atau Al Husna Tower.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter ini pada bagian dasarnya terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dan di lantai 19 digunakan untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Dan tahu nggak gaes, pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha lho......



Di bagian depan masjid, Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di bagian gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Masih ada lagi kisanak, di sini ada Al Qur’an raksasa yang merupakan tulisan tangan karya H. Hayatuddin, yaitu seorang penulis kaligrafi dari Wonosobo dan ada juga replika bedug raksasa yang dibuat oleh santri dari Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.

Mantab kan ???

Alraight, setelah beberapa waktu mengambil gambar adzan Maghrib pun berkumandang. Merinding gaess....... langit memunculkan semburat merah kebiruan dengan kombinasi sinar lampu yang luar biasa indah. Suasana yang khikmad serta alunan ayat suci Al Quran yang mengalun syahdu membuat hati ini serasa mau runtuh...... Bahkan seluruh raga ini seolah tidak mau diajak untuk beranjak pergi setelah jamaah shalat Maghrib selesai ........

Sebuah pengalaman spiritual yang tidak terbayangkan........
Subhanalloh .......



Dan suatu saat nanti saya akan kesini lagi...... pasti !!

9.07.2018
Posted by ngatmow prawierow

Sedikit Opini Kemerdekaan Negeri ini

"Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdeka......
sekali merdeka tetap merdeka
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia tetap sedia
mempertahankan Indonesia
kita tetap setia tetap sedia
membela negara kita......."

Nggak sengaja air mata ini menetes di pipi. Bukan perkara saya cengeng atau apa tapi karena pas nyanyi lagu itu seekor semut nyasar ke mata sebelah kanan dan nggigit pula gaess ....... suwer..........hahahaha........

Tapi emang sih, nggak tahu kenapa hati ini sangat sangat dan sangat trenyuh waktu mendengar (dan menyanyikan) lagu itu. Dan nggak seperti tahun tahun sebelumnya yang kayaknya datar datar aja, tahun ini terasa beda.lebih jleb di dalam jiwa..... halah.......


Kalo dipikir sih mungkin semua itu akibat dari semakin rutinnya saya nonton tivi dan berita dalam negeri. Dimana masyarakat bangsa ini dikabarkan semakin tercerai beraikan oleh sesuatu hal yang bernama politik. Halal jadi Haram, benar jadi salah, kawan jadi lawan, dan semua hal yang berseberangan dan berkebalikan akan nampak seolah olah terbolak balik nggak karuan. Hasut menghasut serta memutar balikkan fakta seolah sudah menjadi "makanan ringan alias cemilan" bagi orang orang yang saya sendiri bingung mau menunjuk yang mana.....

Ah sudahlah.......
Bagi saya semua yang muncul di layar televisi kini hanyalah sinetron saja. Semua hal yang diberitakan hanyalah demi sebuah tujuan kekuasaan saja, terlepas bahwa di berita juga ada kabar menyesakkan dada bahwa habis terjadi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang menelan banyak jiwa......

Ada satu pertanyaan mendasar dan mungkin perlu sebuah jawaban dari hati sanubari kita masing masing (hanya bagi yang masih waras saja ya, belum tercemar dengan faham politikisasi hihihi.........) Benarkah kita sudah merdeka dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?

Alright, banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu gaess......Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban akan menjadi benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benar saya tidak lebih benar daripada kebenaran menurut anda? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.

Berterimakasihlah pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.

Situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.

Kini kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka--maksud saya bebas--bahkan untuk tidak merdeka.

Bingung kisanak ?
Damn...... Sama !!!!

Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa dengan segenap jiwa dan tulus ikhlas lahir bathin tanpa secuilpun pamrih....... Mungkin kita harus sadarkan diri kita masing masing bahwa rasa malu itu harus dipelihara sebagai kontrol pribadi..... malu pada sesama malu pada sanak saudara dan malu pada apa yang sudah dilakukan orang lain untuk negeri ini sementara kita belum terpikir untuk melakukannya.

Mungkin kita harus malu juga pada seorang Yohanes Andigala pelajar kelas 7 SMPN Silawan saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT yang berani memanjat tiang bendera setinggi 20 meter demi menarik kembali ujung tali pada tiang bendera ketika upacara HUT RI di daerahnya.....lha kita? sudah bisa apa? wong berangkat upacara saja telat..... dilapangan mengeluh kepanasan dan segera mencari tempat berteduh, kemudian buru buru kabur ke warung gara gara ga kuat nahan lapar.......

By the way, di hari kemerdekaan yang ke 73 ini mari kita murnikan hati kembali. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa mari kita tata kembali negeri ini dengan melupakan sejenak semua egoisme dan kepentingan politik, pribadi maupuun golongan. Mari kita kembalikan Indonesia kita yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo ........

DIRGAHAYU INDONESIA


8.17.2018
Posted by ngatmow prawierow

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow