Sikunir yang sudah berbenah kini .....

Gadis berjilbab hijau itu memekik kegirangan ketika kami (lebih tepatnya - rombongannya dan saya yang ada di belakang mereka) sampai di puncak Sikunir. Senyumnya yang manis kemudian mengarah kepada saya yang juga sedang terpana oleh keindahan ciptaan Nya sehingga melupakan kamera yang menggelantung di pundak sebelah kanan.

Seketika itu juga tiba tiba saya sangat merasa sedih yang luar biasa kisanak.....
Kenapa ?
Sebab saya nggak ngerti bahasa yang keluar dari bibir itu. Blas..... satu katapun saya ga ada yang mudeng.......... hehehehe.........


"พระอาทิตย์ขึ้นที่สวยงามที่นี่ใช่ Subhanallah ...... " serunya sambil sekali lagi melirik saya.....dan kebetulan pas saya lagi melirik juga .... #ehh
"และพี่ชายที่นำถุงแดงก็หล่อมาก...... " tambahnya yang kemudian disusul tawa cekikikan kawan kawannya.
Nah lho ...........

Saya yang semakin penasaran kemudian dengan modus memasang tripod kamera bergeser posisi sedemikian rupa sehingga bisa lebih mendekati rombongan pemudapemudi berjaket biru dengan tulisan Yala Rajabhat University di punggungnya itu. Jebulnya mereka orang Thailand sodara sodara............ pantesan saja saya ga mudeng babar blas bahasanya.

Betewe, Pagi itu matahari muncul secara berlahan dengan warna emas yang sungguh indah. Layak dengan gelar sebagai tempat melihat matahari terbit terbaik di negeri ini. Saya bersama Mas Imam seolah tersihir untuk kembali memotret keindahan pagi di Sikunir sambil "menengok" tempat bolos sekolah favorit saya kala masih muda dulu ini lagi dan lagi.
Hasilnya ? Cukup memuaskan ternyata. Kami memperoleh foto foto pemandangan alam matahari terbit yang memerah di ufuk timur plus bonus foto candid para pengunjung Sikunir pada pagi hari itu yang beraneka rupa dan warna hihihi .........



"พี่ชายที่หล่อเหลาเหมือนคนดี คุณจะไม่เป็นไกด์ของเราในช่วง dieng? " sayup sayup saya mendengar ucap gadis cantik berjilbab hijau di rombongan sebelah  tadi diikuti dengan anggukan dari beberapa orang kawannya sambil menatap ke arah saya. Entah apa maksudnya.

Lha saya ? saya tetap fokus mencari gambar pemandangan kisanak. jangan khawatir .... hehehe......

Harus saya akui memang bahwa banyak hal telah berubah di bukit Sikunir ini. Mulai dari area parkirnya yang luas dan sekarang tertata rapi, jalan menuju puncaknya yang sudah dibangun sedemikian rupa sehingga tetap terkesan alami, kondisi di puncak yang dikondisikan untuk camping ground, adanya fasilitas seperti toilet dan musholla tanpa mengganggu keindahan bukit Sikunir itu sendiri, disediakannya tempat sampah di berbagai titik, serta munculnya warung warung di sekitar jalan masuk dari area parkir menuju ke tempat bermulanya tangga untuk naik ke puncak.
Dan semua itu ditata sedemikian rupa tanpa ada kesan mengganggu pemandangannya sodara sodara........Hebat.......

Sikunir lain dulu lain sekarang. Dulu tempat ini begitu tenang dan sepi, cocok untuk para penyendiri seperti saya. Namun sekarang tempat ini tak ubahnya seperti pasar pagi yang tumpah ruah. Ratusan kepala manusia berkumpul hanya untuk menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Padahal hari itu bukan malam minggu, namun malam Sabtu !!

Inilah yang membuat saya tidak heran mengapa warga setempat sangat "menyayangi" tempat ini. Secara logika, semakin ramai pengunjungnya maka otomatis pendapatan merekapun akan ikut "ramai" juga. Dan hal itu sudah sangat disadari penduduk sekitar. Banyak usaha bermunculan di area parkir dan bawah bukit Sikunir. mulai dari petugas parkir, penjual souvenir, penjual makanan bahkan sampai penunggu WC umum...... semuanya laris manis ........

Sayang, diluar semua keindahan dan kekaguman saya akan kondisi Sikunir yang sudah berbenah itu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita renungkan ulang. Pertama adanya spot yang agak mengganggu di puncak bukit, yaitu toilet dan musholla dengan atap seng yang mengkilat (hal ini sangat mengganggu pemotretan lho....... dan mungkin bisa diakali dengan mengecat atap seng tersebut dengan warna gelap atau hijau menyesuaikan dengan rerumputan yang ada di sekitarnya), yang kedua adalah adanya spot foto dengan burung hantu dengan membayar sejumlah uang sebagai imbalannya dengan alasan untuk memberi makan mereka (menurut saya alasan ini tidak bisa diterima karena bagaimanapun mereka sejatinya bukan hewan yang hidup beraktifitas pada siang hari dan yang sesungguhnya mencari makan adalah si empunya, bukan burung burung hantu ini ..... damn !!! #MENURUTSAYA)


Singkat cerita, setelah kurang lebih setengah jam kami berada di puncak bukit Sikunir untuk mengambil gambar, kami memutuskan untuk turun. Pulang. Sebab disamping cuaca yang mulai panas, juga lokasinya juga sudah mulai tidak menarik..... sepi...... ga ada lagi pemandangan indah hehehe ..........

Sampai di bagian bawah bukit, kami memutuskan untuk membeli tempe kemul dan teh panas terlebih dahulu sambil menikmati keramaian pengunjung Sikunir. Sampai tiba tiba ada suara merdu seseorang menyapa kami ......

" excume, boleh kami ikut duduk ? "
" ehh .... anu .... emm .... boleh boleh .... silahkan " jawab saya kaget setengah mati. Dan Mas Imam pun tersedak dengan sukses
" Terima Kasih "

Tak berapa lama kemudian setelah mereka dalam posisi nyaman, acara basa basi pun dimulai. Si cantik berkerudung hijau yang sejak tadi jadi bahan plirikan saya memberanikan diri memulai pembicaraan
" Perkenalkan ... saya Hafiza, ini Emma dan ini Natt, kami dari Bangkok. Kalau anda ? " jelasnya dengan bahasa Indonesia yang terbata.
" emm... ini mas imam. kami dari Banjarnegara saja....... oh iya, saya pesankan minum ya ....... mau minum apa? teh atau kopi, biar saya pesankan ..... "
" i think i wanna cup of Tea...... terima kasih" jawab si kacamata yang tadi diperkenalkan sebagai Nattchanappa  eh Natt saja ding.......
Karena saya menyadari bahwa mereka berasal dari luar negeri dan mungkin saja tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, saya kemudian memesan sejumlah minuman, tempe kemul dan arem arem ala desa sembungan yang enaknya istimewa.

"สิ่งที่ฉันพูดเขาเป็นคนดี ดีมองอีกครั้ง ..... " bisik mereka bertiga sambil mencicipi tempe kemul khas Wonosobo di pagi yang hangat itu ......

waktu pun berjalan semakin cepat dengan sinar mentari yang semakin hangat. asik namun aneh cara pembicaraan kami. sebab hanya bermodal bahasa Indonesia yang terbatas, bahasa Inggris yang terbatas pula serta dominan bahasa tarzan dimana mana...... tapi nyambung terus lho........

" ฉันชอบที่นี่จริงๆ วันหนึ่งฉันจะกลับมาแน่นอนและฉันหวังว่าพี่ชายของฉันจะมาพร้อมกับฉันเมื่อมันมาถึง "

mbuh..... apapun artinya itu, saya hanya modal ngomong  " haik......." saja hahahaha ........

Dan obrolan kami pun berlanjut panjang kemudian sodara sodara..........
#berkahanaksoleh
#mpilirdihati
#mayodolanbanjarnegara



Suasana Jalan tepat sebelum mendaki Sikunir 

Suasana parkiran yang sudah 

Jalan setapak itu sekarang jusah menjadi lebih lebar dan aman



Tempat sampah ada di beberapa tempat
Musholla pun sudah ada, asri pula.....




5.16.2018
Posted by ngatmow prawierow

Rejeban Plabengan Dewi Cepag, tradisi unik yang penuh daya tarik

Mata saya masih "mbendul" dan merah ketika seseorang menyapa dengan suara sengau khasnya
" welah..... ada orang banjarnegara sampai di sini juga ...... dirimu nginep apa om ? "
" eh om senior...... nggak om, aku baru aja dateng.dari rumah tadi jam 3an kok " jawabku setengah kaget.
" weh jam tiga ? gasik men ...... "

Yes, itu sekelumit perbincangan saya dengan seorang senior motret dari Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya hahahaha........ Lha terus pertanyaannya, ngapain saya pagi uput uput macam itu otewe dari Banjarnegara ke Parakan Temanggung ?
Piknik dong pemirsa..... piknik spiritual demi bisa makan pisang sepuasnya sambil motret Rejeban Plabengan. Yaitu sebuah acara budaya yang digelar di Dewi Cepag atau Desa Wisata Cepit Pagergunung Kecamatan Bulu Temanggung. Sekitar 5,2 kilo meter dari arah RSK Ngesti Waluyo Parakan naik menuju punggung Gunung Sumbing.


Dusun Cepit Desa Pagergunung ini berada tepat di sebelah Timur agak ke Utara sedikit di kaki Gunung Sumbing, dimana puncak gunungnya sebenernya sudah tepat didepan mata. Bagi saya, desa ini sebenarnya sangat cocok bagi para landscaper karena pemandangan yang terpampang di semua sudut desa ini adalah keelokan yang tak terkatakan ......... suwer.........
selain itu keramah tamahan Penduduk, puncak gunung Ungaran di kejauhan dengan matahari yang muncul berwarna kemerahan di puncaknya, kearifan lokal penduduknya serta aroma lintingan klembak menyan yang harum menyengat, juga menambah eksotisme suasana di Dusun berpenduduk kurang lebih 250 KK ini........ istimewa pokoknya .....

Menurut cerita masyarakat, Plabengan merupakan sebuah petilasan yang konon dahulunya merupakan tempat berkumpul Ki Ageng Makukuhan (beliau adalah Tokoh Penyebar Agama Islam yang dipercaya sebagai penerus Wali Songo) bersama para muridnya yaitu Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Ageng Gandung Melati, Ki Ageng Paniti Kudo Negoro dan Syeh Dami Aking, untuk melakukan musyawarah sambil menyebarkan agama Islam. Nah untuk memperingati dan meneruskan tradisi itu, maka setiap hari Jumat Wage pada bulan Rejeb (Penanggalan jawa) masyarakat Desa Pagergunung melakukan tradisi unik Nyadran.

Sebagai info nih sodara sodara, Nyadran disini  merupakan prosesi mengunjungi Punden Plabengan dan Makam Leluhur yang ada disana untuk berdoa agar keberkahan selalu menyertai seluruh warga Desa Pagergunung. Prosesi ini pun tidak sembarangan dan berbeda dengan di tempat lain lho. Prosesi Rejeban Plabengan ini diawali dengan Ritual Doa Malam Jumat di Punden Plabengan yang diikuti para kaum lelaki warga desa dengan penerangan ratusan obor di sepanjang jalan menuju punden, acara sakral ini dipimpin oleh sesepuh dan pemangku adat desa dalam balutan pakaian jawa yang berupa beskap dan bangkon.

Paginya, seluruh warga berjalan kaki sejauh hampir 2 kilometer dari dusun Cepit naik menuju ke arah puncak gunung Sumbing dengan membawa bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Bekal tersebut  berupa dua sisir pisang atau lebih, ketan dan jenang, ingkung ayam serta aneka lauk pauk yang dibawa dalam dua tenong (wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu) dan dipikul oleh kaum laki laki dusun Cepit Desa Pagergunung. Selain itu warga masyarakat juga mempersiapkan beberapa buah gunungan yang berupa makanan pokok lengkap dengan lauk pauknya.

Setelah semua tenong dan gunungan ini masuk ke lokasi Punden Plabengan, semuanya ditata membentuk barisan memanjang dengan dikelilingi oleh masyarakat yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Beberapa saat kemudian sesepuh desa mengkomando masyarakat untuk melantunkan ayat ayat suci Al Quran, dan lokasipun menjadi penuh khikmad....... tenang ...... dan syahdu .......
Sekitar  20 menit kemudian, sesepuh desa dan Kepala Desa Pagergunung mulai memberikan wejangan, petuah bijak serta harapan harapan di depan semua yang hadir di lokasi itu, dilanjutkan dengan melakukan jamasan terhadap anak anak yang berambut gimbal dengan menggunakan air dari mata air yang ada di sebelah punden tersebut.

Para tukang foto pun ambyar ......... berebut maju ke depan ....... baik yang pemula seperti saya maupun sudah pro seperti om om yang suka pake hal hal berwarna merah brewokan yang tidak mau disebutkan namanya, berebut mencari posisi terbaik untuk mengabadikan momen di lokasi yang super sempit itu.

Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu tunggu sodara sodara..... pranoto coro memberikan komando kepada kami untuk merapat ke gunungan tumpeng utama yang ada di sebelah gazebo. Untuk apa ? makan tentu saja .....
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Lha saya ? berhubung saya cerdas, makanya saya justru menepi dan mencari tenong di pinggir lokasi yang relatif sepi dan tanpa rebutan demi bisa makan pisang dengan aman, nyaman tertib dan kenyang hehehee......

Oya, sambil makan kami disuguhi 8 kesenian tradisional yang tampil bergantian, mulai dari emblek (tari kuda kepang), tari angguk, tari butho galak, dan sebagainya. Epik, eksotis dan gaib......... begitu yang saya rasakan. Ada perasaan takut terbersit mengingat bahwa biasanya acara macam ini akan membawa banyak kejadian mistis
Dan benar saja, belum sampai 1 jam kesenian itu berlangsung tiba tiba banyak warga yang kesurupan. Tidak hanya kaum laki laki, tapi juga kaum hawa yang berada di sekitar lokasi ituk kesambet juga. Seru ......

Karena sudah terlalu banyak yang kesurupan, akhirnya sesepuh desa memerintahkan kami semua beserta masyarakat yang masih sadar untuk turun gunung kembali ke desa. Sayang memang karena acara belum selesai sudah dibubarkan seperti itu, namun demi keamanan dan keselamatan ya mau tidak mau kami harus menurutinya kan ?

Sesampainya di desa, kami berkumpul di kediaman Pak Kades untuk sekedar melepas lelah dan menikmati jamuan yang ternyata sudah disediakan. Disitu kami diajak untuk bertukar pikiran, memberikan masukan dan koreksi terkait penyelenggaraan kegiatan oleh pak kades dan ketua pokdarwis setempat. Sebuah kegiatan yang sangat jarang dilakukan oleh panitia panitia kegiatan budaya dimanapun yang pernah saya kunjungi ......... #salut

Ada satu kalimat yang dilontarkan sahabat saya @Yoga_YoGreat tentang kegiatan budaya kali ini :
" ........20% motret, 20% ketemu sedulur, 60% panen gedhang !!!! ......."

Apa panen gedhang ?
yes.....betul sodara sodara, sebab kalau setiap orang membawa 2 sisir pisang, maka jika dikalikan 250 KK akan ketemu 500 sisir pisang ! dan banyak diantaranya yang tidak hanya membawa 2 tapi juga 3, 4 bahkan lebih dari 5 sisir !! 

puassss........

Photo by @Yoga_YoGreat

4.01.2018
Posted by ngatmow prawierow

Not recommended waterfall, Curug Tempuk Telu

Not recommended ?? why ??

bwahahahaha...... yes it's true sodara sodara. Sangat sangat tidak dianjurkan untuk didatangi oleh kalian kalian yang cemen, nggak punya jiwa petualang, ga suka mancing, manja, takut jatuh, nggak punya nyali untuk menaklukkan medan berat, takut basah dan ga bisa move on dari mantan ......ehhh...... Sebab untuk sampai ke air terjun super indah ini harus berjuang sangat keras menaklukkan rute yang ekstrim dan penuh liku seperti hidupmu.....eh......

Penasaran ? Jangan .......
yakin deh.......penasaran itu berat, kamu ga akan kuat...... cukup aku aja...... hehehe......

Ceritanya begini kisanak, beberapa waktu yang lalu saya dan teman teman berkunjung ke Curug Sipawon di Desa Sarwodadi Kecamatan Pejawaran,  kami mendapatkan informasi bahwa tidak jauh dari Curug itu ada Curug lain yang konon katanya jauh lebih indah dan menantang. Curug Tumpuk Telu atau Curug Tempuk Telu namanya. Nah dari situlah muncul rasa penasaran yang menggebu di hati sanubari kami semenggebu penasarannya arwah vampir vampir di film mandarin yang ga ada hentinya melompat sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang kuning itu hehehe.....

Olrait.......Sebagai informasi saja, Curug Tempuk Telu (sering disebut juga Curug Tumpuk Telu) ini sesuai namanya adalah barisan dari beberapa air terjun (namun hanya 3 yang dominan dan debit airnya paling besar). Titik jatuhnya air ketiga air terjun itu menjadi satu dan kemudian menjadi ujung sungai yang mengalir di tengah tengah tebing batu......... mirip seperti ujung sungai di film film petualangan Hollywood pemirsah ..... indah, mempesona, bikin mulut menganga dan pastinya akan memanjakan kita yang  suka banget berteman sama joran alias mancing ........ sebab disini surganya ikan man !!! .......suwer deh ......


Singkat cerita, setelah mengatur waktu, menyusun rencana mlipir sambil menunggu curah hujan mereda, akhirnya kamipun merealisasikannya kemarin. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menghubungi  "juru kunci" yang tidak lain dan tidak bukan adalah penduduk sekitar (dalam hal ini perangkat desa Sarwodadi - yang ternyata sebagian besar adalah tukang jaring ikan jagoan di sungai Panaraban) untuk meminta bantuan mereka sebagai penunjuk jalan. Hal ini penting mengingat bahwa jalur ke Curug Tempuk Telu dikabarkan sangat ekstrim dan katanya berbahaya.

foto by Agussalam
Setelah melakukan perjalanan sampai ke pinggiran Sungai Panaraban, kami melanjutkan perjalanan dengan berbasah basah ria. Dengan ditemani 3 orang perangkat desa Sarwodadi (Pak Toyo, Pak Tomo dan Pak Tadin), kami memulainya dengan menyeberang sungai Panaraban dengan debit air yang lumayan deras (pada waktu itu), kemudian berjalan merunduk melewati akar dan tumbuhan liar dengan trek yang cukup membuat mandi keringat, kemudian menyeberang sungai lagi dengan pola zig zag (mengikuti bagian sungai yang dangkal), menerobos tumbuhan liar dan rumput beracun (yang gatalnya gak hilang sampai sekarang), serta yang paling ekstrim adalah merambat di tebing batu di sepanjang aliran sungai itu....... nah........

Sebenarnya jarak Curug ini dari Curug Sipawon tidak begitu jauh sih, kurang lebih hanya 300 meter saja dan hanya dibatasi oleh sebuah bukit setinggi lebih dari 50 meter dengan kemiringan yang cukup curam. Tapi dengan rute yang ternyata sangat masyaalloh itu, kami (terutama saya) yang tidak biasa blangsakan disitu, harus menempuhnya dalam waktu hampir 40 menit (belum termasuk istirahat sambil minum kopi dan foto foto..... ) penuh dengan perjuangan yang cukup berat (halah......) hingga akhirnya kami berhasil mendekati lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.

What ?
Hanya mendekati ? belum sampai lokasi dong ....

Yes. Belum sampai lokasi dibawah air terjunnya langsung. Sebab pada waktu itu cuaca mendadak mendung, kabut hitam datang dan arus air bertambah cukup deras. Dengan banyak pertimbangan akhirnya kami balik kanan dan mengikhlaskan hati untuk tidak melanjutkan langkah yang tinggal 50 meter itu. Dan berdasarkan info dari sang juru kunci hehehe ..... 50 meter terakhir itu adalah yang paling sulit...... dan itulah yang kami jadikan bahan menghibur diri hehehehe......

Jika ditanya apa yang saya rasakan setelah blangsakan itu ?
Sangat berkesan sodara sodara....... apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa sesampainya di rumah, kartu memori saya tidak terbaca alias error dan setelah di recovery foto yang terselamatkan bukan foto aslinya yang berukuran besar melainkan copyannya saja yang berukuran sangat kecil....... ambyarrrrr................



Tapi tidak apa apa kisanak, salah satu tujuan utama saya telah tercapai. Apa itu ??
Survey jalan dan lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
Kenapa ? sebab berdasarkan informasi yang bisa dipercaya, lokasi ini di tahun 2019 akan mendapatkan dana pengelolaan daerah wisata dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisatanya. So, perlu dilakukan survey dalam perencanaan pembangunannya kan ? Mulai dari perencanaan tempat parkir, jalur wisata, gazebo, jalan setapak dan bahkan sampai rencana mengikis tebing batu untuk membuat minimal jalan setapak menuju Curug Tempuk Telu ini........(yang kalau dalam bayangan saya sih seperti jalan di Taman Nasional Gunung Tianmen, Zhangjiajie, di barat laut Provinsi Hunan, Cina itu)

Harapan kedepannya sih ga muluk, semoga nantinya setelah jadi daerah wisata, pendapatan desa dan masyarakat bisa meningkat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitarnya serta menjadikan orang orang seperti saya yang suka mlipir untuk berburu foto jadi punya lokasi alternatif lokasi motret  di wilayah Banjarnegara tercinta ini....... hehehe...........

Dan yang jelas besok pas sudah musim kemarau dan debit airnya menurun, saya insyaalloh PASTI AKAN KESITU LAGI ......... ikut ???

and the last question, anda berani kesana saat ini ?
hahhaha.................

Banyak curug kecil di sepanjang rute ekstrim ke sini


Perlu perjuangan berat     Photo by Agussalam

Lokasi ini  banyak dijadikan lokasi memancing dan menjala

This is us .......Blangsakan Team today
3.24.2018
Posted by ngatmow prawierow

Curug Sirawe, surga tersembunyi di tanah kahyangan

Salah satu resiko bekerja sebagai abdi masyarakat di desa macam saya ini diantaranya adalah jadi sering piknik ke lokasi lokasi menarik dan jelas berpemandangan yang sangat indah kisanak. Dan itu sudah sangat pasti sepasti harga listrik yang selalu naik di negeri ini .... halah......

Seperti yang terjadi beberapa hari kemarin kisanak, habis merdesa alias kunjungan dinas ke desa saya beserta pasukan kemudian sedikit mingser alias membelokkan sepeda motor kami ke arah Dusun Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Atau lebih tepatnya lagi menuju ke Curug Sirawe yang konon katanya adalah curug dengan tiga air terjun dan dua jenis air, air panas dan air dingin. Nah......


Sekitar 15 Menit dari Pasar Kecamatan Batur, melalui jalur alternatif menuju ke Dieng via d'Qiano dengan akses jalan yang lumayan halus mulus, akhirnya kami sampai ke Dusun Bitingan. Sebuah dusun yang memiliki tingkat kemiringan tanah yang Masyaalloh (bahkan jalan cor beton yang ada di tengah dusun dan juga sebagai akses utama ke lokasi parkir punya kemiringan cukup ekstrim, mungkin lebih dari 45 derajat lho). Oya, sekedar saran sodara sodara, kalau mau ke sini jangan menggunakan kendaraan roda 4 karena akses jalan masuk ke dusun (via jalan cor beton) yang sangat sempit dan curam, dan jalan aspal yang hanya separo jalan (300 meter sebelum masuk dusun via jalan aspal yang memutar, sudah ambyar....).

Dari lokasi parkir sepeda motor, kami berjalan kurang lebih 15 menit (perkiraan waktu jalan bagi manusia dengan bobot 80 kilo macam saya hehehe .....) melewati jalan usaha tani (yang sudah berupa jalan cor beton) untuk menuju ke tujuan utama kami. Curug Sirawe. Trek yang dilalui cukup menarik lho kisanak, datar dulu nunjem kemudian. Sekitar 50 meter terakhir jalan berubah wujud jadi satu turunan yang lumayan curam dengan pemandangan yang istimewa. Suwer.........

Turunan pertama hanya setinggi 20 meter man, relatif mudah dan belum bikin kemringet.....kemudian ada sedikit tanah lapang yang datar dimana sekarang di tempat tersebut sudah dibangun saung saung beratap ijuk dan sebuah tower pandang yang terbuat dari bambu setinggi sekitar 7 meter (3 tingkat). Tepat di samping tower itu ada trek turun yang kedua setinggi sekitar 30 meter dengan kondisi jalan cukup berbahaya karena sangat licin dan penuh dengan rumput dan ilalang liar di sekitarnya. Dan pastinya di trek yang ini keringat akan deras mengalir membasahi seluruh tubuh kita. Itung itung olah raga hehehe .......




Kata penduduk sekitar yang kami temui, Konon penamaan Curug Sirawe ini diambil dari asal kata rawe, yang artinya banyak suwiran atau seperti kain yang terdapat roncenya. Hal itu bisa dimaklumi karena curug ini terdiri dari tiga curug yang lokasinya saling berdekatan. Dua curug berukuran besar dengan ketinggian kurang lebih 80an meter dan satu curug yang ukurannya lebih kecil dengan ketinggian yang sama namun airnya panas.

What ?? air panas ??

Yes sodara sodara. Dua dari tiga curug yang ada di sini airnya berasal dari mata air panas hasil proses geothermal di dalam perut pegunungan Dieng. So jangan kaget kalau di sekitar pegunungan dieng akan kita temui banyak mata air panas yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari hari. Bisa dibanyangkan deh mandi air panas gratis dan tanpa masak air sebelumnya....... enak kan ??

Berdasarkan  data wilayah Curug Sirawe ini masuk dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Lho ? iya sodara sodara. Perlu diketahui bahwa sungai yang mengalir dan kemudian membentuk curug ini merupakan batas desa dan batas kabupaten yaitu Banjarnegara dan Batang. Memang sih orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Disamping karena akses jalan dari Bitingan (Banjarnegara) lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan dari Sigemplong (Batang), juga karena mata airnya berada di Bitingan (bahkan dibawahnya sudah dibuat pemandian air panas juga lho).


Kata salah seorang warga, dahulu pihak Kabupaten Banjarnegara pernah mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara namun pihak Kabupaten Batang tidak begitu saja mengakui klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Kabupaten Batang berdalih, kalau memang curug tersebut menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Nah...njur piye jal .....

BTW, udah ga usah dibikin pusing. Biarkan para pembesar yang mikirin hal begituan......kita ? piknik aja.....hehehe

Setelah puas motret di curug dan cukup berkeringat karena jalan kaki, saya dan rombongan kemudian memutuskan untuk berendam dulu di pemandian air panas Bitingan yang lokasinya tepat di sebelah parkiran motor. Pemandian ini masih berupa sebuah kolam yang isinya air panas (kalau dikira kira panasnya seperti air panas satu gayung ditambah dengan air dingin dua gayung.....Pas banget dikulit !!!), dilanjut makan mie ayam di warung bambu disebelahnya yang ternyata rasanya ga kalah dengan mie ayam langganan di kota ..... yakin........... *cerita soal pemandian ini berlanjut di tulisan lain ya ......

Sekedar info kisanak, dari berbagai sumber saya dapet informasi bahwa karena sebagian be­sar para pengunjung Curug Sirawe lebih memilih melalui jalan Kabupaten Banjarnegara karena dinilai lebih efektif dan mudah dijangkau, Pemerintah Ka­bupaten Batang yang memiliki Curug Sirawe berusaha mengambil alih agar pengunjung bisa melalui Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Keseriusan Pemkab Batang untuk mengelola Curug Sirawe diwujudkan dengan mem­perbaiki sarana infrastruktur mulai dari Kecamatan Bawang hingga objek wisata itu. Pem­kab Batang sudah meren­canakan membangun masjid berukuran besar dan megah di sekitar Curug Sirawe.

Bahkan menurut beberapa sumber, Bupati Batang, Wihaji, me­ngatakan Pemkab akan mem­buat detail engineering design pembangunan infrastruktur, termasuk sarana pendukung­nya. Detail engineering design akan dibuat 2018 dan pada 2019 akan dimulai pelaksana­an pembangunannya. Bahkan dalam salah satu sumber, Bupati Wihaji mengatakan setelah jalur Bawang–Pranten selesai maka nantinya jarak tempuh yang selama ini me­merlukan waktu dua jam, dapat ditempuh 15 menit. Pemkab sudah menjanjikan untuk menghidupkan potensi wisata di Kecamatan Bawang. Pemkab akan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan tidak menutup kemung­kinan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Bentuk kerja sama dengan perusahaan melalui program corporate sosial responbilty untuk membantu pengem­bangan wisata curug itu.

Nah lho .....
Lha terus Banjarnegara ?
Masih banyak hal yang perlu ditindak lanjuti, dipikirkan dan kemudian segera disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara soal daerah ini kisanak. Yang jelas pertama dari sisi infrastruktur yang harus segera diperbaiki, kemudian promosi yang juga ditingkatkan sebagai komplek wisata kedua setelah komplek utama Dieng (karena dikomplek ini juga ada Pemandian air panas Bitingan yang sampai saat ini dikelola oleh BUMDes Desa Kepakisan namun menurut saya masih butuh campur tangan pemerintah Kabupaten Banjarnegara) dan sebagainya dan sebagainya......

Tinggal bagaimana menyikapinya.......



2.21.2018
Posted by ngatmow prawierow

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow