Sam Poo Kong, monumen lintas agama pemersatu bangsa

Jalan jalan ke Semarang rasanya ngga akan lengkap kalau kita nggak mampir ke daerah Simongan gan. Hanya beberapa menit saja kok dari Tugu Muda dan Lawang Sewunya (kalau lewat RSUD Dr. Karyadi lho ya) menuju ke arah Jalur keluar Kota Semarang ke arah barat (Kendal, Batang, dan seterusnya sampai ke Jakarta)

Lha emang di sana ada apa sih ?

Disana ada sebuah klenteng yang ikonik dan punya nilai historis sangat menarik,...... Klenteng Sam Poo Kong ...... pernah dengar ?

Belum ?
hahaha ........ berarti anda kudet dan kurang piknik kisanak .........

Klenteng ini sudah sangat terkenal kok, lintas daerah, lintas agama, lintas budaya bahkan lintas negara lho ........


Kalo kita berkunjung kesini, nuansa Cina jaman kekaisaran jaman dahulu sangat kental terasa man. Seperti umumnya bangunan kelenteng, Kuil Sam Poo Kong ini didominasi warna merah yang tidak saja menghiasi kelentengnya, tetapi juga pohon pohon menuju pintu masuk.

Kalo kita berkeliling di dalamnya, ada beberapa bangunan berarsitektur khas Cina yang berdiri dengan megah mengelilingi sebuah tanah lapang. Juga sebuah patung perunggu seorang Laksamana Cheng Ho yang berukuran 10,6 meter berdiri dengan sangat gagah.

Siapa sih Laksamana Cheng Ho itu ?

Begini gaes, dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma. Begitu kira kira .....

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tionghoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Kembali ke komplek Klenteng ya ........

Bangunan inti dari kelenteng Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.

Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari dan pintu masuknya dijaga oleh petugas keamanan. Hanya yang bermaksud sembahyang saja yang diijinkan masuk sedangkan wisatawan yang ingin melihat lihat bisa melakukan dari balik pagar.

Sejak Renovasi besar besaran tahun 2002 dan selesai 2005, yang menelah biaya 20 miliar, Sam Poo Kong menarik perhatian lebih banyak orang untuk berkunjung. Di halaman yang cukup luas di depan kelenteng, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho, yang cukup menarik untuk dinikmati. Di sinilah atraksi atraksi kesenian berupa tari tarian, barongsai atau bentuk kesenian lain digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China.


Setiap bulan ke-6 hari ke-29 Imlek, dilakukan arak-arakan menggotong duplikat patung Laksamana Cheng Ho, yang dikenal dengan sebutan Sam Poo Tay Djien, dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong. Arak-arakan ini dimaknai sebagai peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Hari hari besar lainnya yang dirayakan di sini termasuk di antaranya Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Kedatangan turis asing, terutama dari China, menunjukkan bahwa Sam Poo Kong dikenal luas di dunia. Berdasarkan uang sedekah yang ditinggalkan pengunjung, Kuil Gedung Batu ini juga sering dikunjungi turis turis asing dari Amerika, Rusia, Brazil dan negara negara lain.

Nah kapan nih mau berkunjung ke sini ?
Jangan lupa, siapkan catatan dan kamera ya..... karena banyak sekali yang bisa diabadikan disini dalam bentuk tulisan maupun foto gaess....

*dari berbagai sumber -- foto koleksi pribadi*
11.20.2018
Posted by ngatmow prawierow

Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Haru.
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel.....

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men..... beda...... cukuran rambut gembel disini beda...... di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah........dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho......... halah......


Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses.......

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan 

Penasaran ? Harus dong .......
Ceritanya begini gaess .......

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat...... ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ......
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ..................

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya..... Sadis........


Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro....... Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera.... eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ...............

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy .... kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.


Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ..........

10.20.2018
Posted by ngatmow prawierow

Festival Payung Indonesia V di Borobudur

Pernah mengunjungi sebuah pagelaran seni tingkat nasional yang banyak payungnya ? 
Pernah dengar soal Festival Payung Indonesia ?

Festival Payung Indonesia adalah sebuah Event yang masuk Calendar of Event Kementerian Pariwisata dimana dihadiri oleh beragam payung Nusantara dan mempertemukan perajin payung, seniman, pekerja seni dan komunitas kreatif untuk melestarikan payung tradisional Indonesia. Selain itu mengeksplorasi tradisi payung Indonesia hingga batas terjauhnya dengan melibatkan partisipasi beragam masyarakat.


Gelaran Festival Payung Indonesia ke V pada tahun 2018 ini digelar di tempat asalnya, ibu segala payung yakni Borobudur. Dengan dipusatkan di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur Magelang pada 7-9 September 2018 Festival Payung Indonesia 2018 kali ini mengambil tema "Lalitavistara". Yaitu penggambaran cerita payung pada salah satu relief di Candi Borobudur. Tepatnya yang merayakan payung sebagai penanda kelahiran, berbagai tahap kehidupan, keagungan dan kematian. Payung menjadi simbol sekaligus penanda dalam siklus kehidupan dan perekat keberagaman. Di samping itu Candi Borobudur sendiri merupakan simbol inspiratif, Sebuah tempat yang pas untuk mencari inspirasi baru dan diharapkan menjadi pemersatu beragam latar belakang agama, politik, sosial, dan budaya yang ada di Indonesia.

Festival Payung Indonesia 2018 Borobudur ini dibuka oleh Arak-Arakan Payung Nusantara yang mengelilingi Borobudur, menapaki kembali jalan purba yang dilalui para peziarah dunia bersama masyarakat sekitar. Selanjutnya digelar pentas tari dan musik,workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint, dan pameran payung lontar. Selama tiga hari berbagai ragam tradisi payung dari pelosok tanah air, seperti Jepara, Banyumas, Tasikmalaya, Tegal, Kendal, Malang dan Juwiring (Klaten), Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya ditampilkan. Selain seni payung, beragam grup tari, musik, fashion dan komunitas kreatif dari Lumajang, Padang, Makassar, Banjarbaru (Kalsel), Bengkulu, Lampung Utara, Sumba Timur, Bali, Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga dipamerkan di venue. Tidak ketinggalan para perancang busana muda negeri ini juga ikut berpartisipasi dengan memamerkan karya karya mereka.

Partisipan festival tidak hanya dari dalam negeri lho gaes....... Ada juga pertisipan dari Jepang, India, Pakistan dan Thailand. Khususon untuk delegasi Thailand kabarnya memang sudah rutin hadir setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Provinsi Chiang Mai, Thailand) sudah melakukan hubungan sister-festival sejak 2016. Visinya pun sama. Yaitu menuju Asian Umbrella Community

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur. Malam hari pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Di puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).


Pada Festival Payung Indonesia di Borobudur kali ini, bisa dikatakan adalah sebagai festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukan bagi masyarakat kreatif. Komunitas lokal dilibatkan sejak dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan dan menyambut pengunjung dengan terbuka. Kemeriahan juga diselenggarakan di lima Balkondes (Balai Perekonomian Desa) yang tersebar di Wanurejo, Ngadiharjo, Borobudur, Karangrejo dan Bumiharjo. 

Puas ?
Tentu saja kisanak. Pagelaran yang istimewa ini secara tidak langsung membuka mata kita bahwa sebenarnya kekayaan bangsa ini seolah tidak ada habisnya. Hanya satu hal saja " Payung ", ternyata beragam hal bisa ditemukan dan membuat mata kita takjub. Bahkan setelah diabadikan menjadi sebuah foto pun pagelaran ini masih terasa ke "gebyar"annya.......so amazing

So, mau datang pada Festival Payung Indonesia ke VI tahun 2019 depan ?
yuk gaes .........


Efek samping mlipir ke sini kalo versi saya sih bisa begini .........
Bisa ketemu sama kakak rusuh idolah  ........ Donni L Anggoro

9.12.2018
Posted by ngatmow prawierow

Sejenak di MAJT, Masjid Agung Jawa Tengah

Sudah lama sebenernya pingin piknik ke suatu tempat yang nggak kaya biasanya, kalo biasanya saya perginya ke gunung, sawah, waduk, lapangan, dan sebagainya yang berbau bau alam, suatu ketika tuh pinginnya ke tempat yang beda gaes........Kota.....

Yes....... kota besar yang banyak anunya ...... ehhh

Jangan salah sangka dulu, jangan ngeres dulu kisanak.....
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........

Singkat cerita, Pucuk dicinta ulampun tiba sodara sodara, mungkin karena nasib lagi mujur atau mungkin sudah dituliskan dalam catatan hidup  saya oleh Nya, beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan menyambang kota kenangan (jaman masih bujangan), Semarang. eitss.......Jangan kira saya cuman sekedar mlipir dan jalan jalan ga jelas lho sodara sodara, ini tugas dinas lho ..... resmi dan halal  hehehe......

Hal pertama yang ada di kepala saya selama di perjalanan menuju kota itu adalah niat untuk motret di beberapa tempat (yang sedari jaman masih ganteng dulu menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar) yaitu Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Poo Kong, Tugu Muda plus Gedung Lawang Sewunya, serta Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal sebagai Vihara Buddhagaya Watugong.

skip........

Singkat cerita, setelah semua beban tugas terselesaikan maka saya langsung pesen ojek online (sopir kantor saya tinggal di suatu tempat yang bisa menjamin kebahagiaannya lahir dan bathin........ you know abaout that ? aw aw aw .....) untuk menuju target saya yang paling jauh dulu. Masjid Agung Jawa Tengah alias MAJT.
Masjid yang terletak di Jl. Gajah Raya No. 128 Sambirejo, Gayamsari Semarang ini ga jauh dari Simpang Lima lho. Ga sampai setengah jam dari Mall Ciputra kalo naik sepeda motor atau 
  • 4 Km dari pusat Kota Semarang melalui Jl. Semarang-Purwodadi (dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 15 menit) 
  • 4 Km dari Stasiun Tawang melalui Jl. Citarum (15 menit) 
  • 8 Km dari Bandara Ahmad Yani melalui Jl. Jendral Sudirman (24 menit) 
(perkiraan waktu tempuh menggunakan sepeda motor dan tanpa kendala lho ya)

Tapi.......  sangat tidak direkomendasikan untuk ke lokasi pada saat sore hari sebab jalan ke masjid ini pasti macet parah. menyebalkan..... and i hate it........


Apa sih yang bikin masjid ini menarik ?

Yang pertama, sebagai seorang muslim saya insyaalloh punya ikatan bathin yang kuat terhadap masjid. Karena bagi seorang muslim, masjid adalah rumah dan tempat untuk kembali (terserah mau ditafsirkan bagaimana ya......bebas). Selain itu  ada satu hal lagi yang muncul tiba tiba dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya pingin menjalankan Sholat Maghrib di masjid ini gaes....... suwer......

Yang kedua, masjid ini merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia lho. Luas lahannya saja mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk (untuk shalat) 7.669 meter persegi dengan rancangan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. So, sangat menarik untuk dipotret dan dipamerkan di halaman instagram kan ? hehehe ......

FYI, Masjid Agung yang luar biasa ini ceritanya dulu diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang disebut sebagai Menara Al Husna atau Al Husna Tower.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter ini pada bagian dasarnya terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dan di lantai 19 digunakan untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Dan tahu nggak gaes, pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha lho......



Di bagian depan masjid, Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di bagian gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Masih ada lagi kisanak, di sini ada Al Qur’an raksasa yang merupakan tulisan tangan karya H. Hayatuddin, yaitu seorang penulis kaligrafi dari Wonosobo dan ada juga replika bedug raksasa yang dibuat oleh santri dari Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.

Mantab kan ???

Alraight, setelah beberapa waktu mengambil gambar adzan Maghrib pun berkumandang. Merinding gaess....... langit memunculkan semburat merah kebiruan dengan kombinasi sinar lampu yang luar biasa indah. Suasana yang khikmad serta alunan ayat suci Al Quran yang mengalun syahdu membuat hati ini serasa mau runtuh...... Bahkan seluruh raga ini seolah tidak mau diajak untuk beranjak pergi setelah jamaah shalat Maghrib selesai ........

Sebuah pengalaman spiritual yang tidak terbayangkan........
Subhanalloh .......



Dan suatu saat nanti saya akan kesini lagi...... pasti !!

9.07.2018
Posted by ngatmow prawierow

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow