Posted by : ngatmow prawierow 8.27.2011

Kalimat yang menarik muncul di account Facebooknya Dea Tunggaesti (itu lho perempuan cantik yang jadi tim pembelanya Nazarudin yang lagi heboh). Kira-kira kalimatnya seperti ini "....Dapat inspirasi dari orang hebat: Menyelesaikan problem negara ini tidak susah kok, tinggal panggil konsultan (yang pintar), panggil pemodal (banyak yang mau asalkan tidak diperas), selama pemodal kerjanya baik (tidak mengurangi KUALITAS), si pemodal td bisa DIPERKARAKAN. Maka "biaya koordinasi" dapat dihapuskan dan Indonesia bisa maju,...."
kakak Kandung Reisa Kartikasari ini emang belakangan menjadi bahan pembicaraan masyarakat baik di dunia maya maupun di alam nyata.

emang sih, kalau dipikir-pikir bener juga apa yang dituliskannya itu. Bangsa ini sudah semakin "mendekati ajalnya". mengapa ?

Pertama : para pejabat kita, para pemimpin kita dan para petinggi kita sudah semakin melambung dengan segala impian dan kepentingannya masing-masing. mereka sudah lupa dengan apa yang seharusnya menjadi komitmennya. semua hal yang ada di pemerintahan pusat sekarang sudah berbenturan langsung dengan segala kepentingan politik parpol. sehingga penegakan kebenaran, keadilan dan kejujuranpun sudah diselimuti dengan tabir kepalsuan partai politik. sebagai contoh kecil saja : Kasus Nazarudin yang semakin jelas bahwa dia hanya pion catur para pembesar, biaya koordinasi yang dikoordinasikan untuk kepentingan yang berkoordinasi saja tanpa memikirkan efek bola pantul yang kemudian timbul yang tentu saja jumlahnya bervariasi sesuai dengan lokasi dan posisi yang berkoordinasi, pemilihan ketua lembaga independen yang seharusnya independen tanpa intervensi partai politik malah justru menjadi ajang rebutan agar yang jadi ketua adalah orang mereka, jangan lupa juga kasus-kasus besar yang kemudian lenyap tak berbekas begitu saja.  lha terus mau jadi seperti apa bangsa ini beberapa tahun lagi ??

oke, itu baru sekilas para pejabat yang sudah "jadi". nah kalau yang belum jadi alias yang masih bakal calon ??
PARAH gan.......kita ambil contoh di daerahku aja. Pemilukada kemarin dimana ada 4 calon bupati, berakhir dengan acara tuntutan salah satu calon kepada calon lain yang memenangkan pemilu. dengan alasan telah terjadi kecurangan dalam proses "pembagian uang saku" kepada masyarakat sebelum pelasanaan pencoblosan. dalam tuntutannya si penuduh mengatakan bahwa pihak tertuduh sudah melakukan intimidasi dan bahkan penculikan disertai penganiayaan kepada "tim suksesnya". dengan kata lain, secara nggak langsung dia mengakui bahwa dia telah menggunakan uang sebagai "alat perayu" masyarakat. untungnya saja kasus ini sudah berakhir setelah persidangan yang aneh di Mahkamah Konstitusi
nah kalau sudah begini siapa yang akan bertanggung jawab akan kemurnian bangsa ini kalau pada setiap pemilukada di Indonesia tercinta terjadi hal yang sama ??

Kedua, dengan semakin tidak jelasnya pemerintahan yang ada di pusat sana, masyarakat yang ada di daerahpun semakin pesimis dengan hidup mereka. tingkat kepercayaan terhadap pemerintah semakin turun secara drastis. semakin banyak masyarakat yang berpikir bahwalebih baik mengurusi kepentingan mereka sendiri daripada ikut memikirkan negara dimana para negarawan yang ada juga sudah tidak memperdulikannya lagi. hidup yang sekarang sudah susah tidak sepatutnya dibuat semakin susah lagi...

Ketiga, semakin banyak orang yang dengan berkedok agama justru kemudian melakukan perbuatan-perbuatan yang memperburuk citra agamanya sendiri. tau maksudnya kan ? terkadang miris juga melihat orang orang berpakaian bak (sory) kyai, yang jelas banget terlihat di tivi melakukan tindakan anarkis dengan merusak bangunan dan barang-barang yang katanya "digunakan untuk maksiat", mengeroyok warga yang menganut agama lain sampai babak belur dan bahkan dengan bangga meneriakkan kata jihad untuk menyerbu saudara sekeyakinannya sendiri...... itu bukan jihad gan, itu bodoh.
oke lah, sekarang kita lihat negara-negara yang katanya menjadi sumber setan di Amerika dan Eropa sana. Asal tahu aja gan, disana justru sedang terjadi fenomena "banjir muallaf". banyak masyarakatnya yang kemudian berubah keyakinan setelah mengetahui hakikat hakiki Islam yang cinta damai. Sori, disini aku ga bermaksud untuk SARA. tapi ini hanya sebagai penggambaran betapa malunya aku melihat negeri ini.
nah pertanyaannya, kalau hal-hal bodoh seperti itu masih saja ada. kapan bangsa ini akan bangkit lagi dengan segala persatuan dan kesatuan seperti ketika bangsa ini bangun dari penjajahan 66 tahun yang lalu ??

Empat, dari segi pendidikan gan. Sekarang sudah banyak rekan-rekan guru yang meninggalkan semboyannya yaitu "Menjadi guru yang benar-benar profesional. Guru yang menghayati profesinya demi tercapainya pendidikan yang berkualitas ". Kalau diuraikan secara awam dan setelah melakukan pengamatan terhadap rekan-rekan guru yang ada di sekitar, terdapat lima masalah yang menjadi penghambat kemajuan pendidikan kita. Kelima masalah itu adalah kehilangan jiwa pengabdian, keengganan untuk menimba ilmu, terasuki jiwa konsumerisme, mental pengemis, dan gemar berkhayal.
Sebagai contoh reel adalah gemar berkhayal,
Bagi si kecil, kita harus menumbuhkan imajinasi positif agar mereka terangsang menjadi insan kreatif. Mereka harus dibuai oleh khayalan-khalayan indah. Betapa enaknya jadi presiden atau menteri. Kemana-mana selalu dikawal. Betapa enaknya jadi pilot. Mampu menerbangkan pesawat di angkasa nan luas. Namun, khayalan itu seharusnya dihindari guru. Mengapa?
Guru yang gemar mengkhayal akan terjerumus dan menjerumuskan diri ke jurang kesengsaraan. Keinginannnya begitu besar, tetapi kemampuannya begitu kecil. Mereka ingin tampil necis, tetapi isi kantong begitu tipis. Maka, satu-satunya jalan adalah kredit bank. Dan ini adalah awal petaka.
Demi menurutkan keinginan, banyak guru rela menggadaikan SK untuk mencari pinjaman. Bank tentu saja menuruti keinginan itu. Mengapa? Tentu PNS tidak mungkin mangkir atau menjadi kredit macet. Dan ini adalah bentuk perwujudan khayalan itu. Guru sudah kehilangan gaji selama 5-10 tahun. Dan kondisi itu menjadi tragedy dunia pendidikan. Mengapa? Guru tidak lagi bergairah karena kehilangan penghasilan.
Masih ada lagi gan, sesuatu yang kelihatannya sepele tapi justru ingin aku cacimaki  yaitu bagaimana kelakuan publik figur kita yang kemudian dicontoh oleh ababil-ababil di segala penjuru negeri ini tanpa mempertimbangkan lagi nilai kesopanan, kepantasan dan nilai budaya.
sebagai contoh gan, kita lihat bagaimana cara para artis ababil (ABG labil) yang dengan santainya menggunakan pakaian "seadanya dan sekenanya" bahkan pakaian "belum jadi" yang mempertontonkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya ditutupi. dan parahnya lagi itu semua dicontoh begitu saja oleh remaja remaja ABG di kampung-kampung yang jauh dari ibukota. bahkan kalau dipikir lagi apakah pas menggunakan hotpant di malam hari ketika udara begitu dingin menusuk tulang.


jujur saja gan, aku sebagai lelaki normal sih seneng saja liat yang kaya gitu. tapi disatu sisi hati ini miris banget gan lihat kemerosotan akhlak generasi muda bangsa ini.
aku memang bukan seseorang yang agamis, aku hanya seseorang yang bau amis. tapi aku akan malu kalau pelukan di jalan raya yang banyak orang apalagi sampai ciuman dengan seorang artis sekalipun. AKU MASIH PUNYA HARGA DIRI gan.....

sumpah masih banyak curhat dan caci maki yang sebenernya pingin aku tulis disini. tapi capek juga nulisnya. yang jelas kita sebagai manusia mungkin perlu mencontoh 7 sifat positif setan. yaitu pantang menyerah, kreatif, konsisten, solider, jenius, tanpa pamrih dan kompak dengan sesamanya. hehe...jangan salah faham dulu gan, Sifat jahat setan memang hendaknya jangan ditiru! Tapi tidaklah dosa jika kita mencontoh sifat-sifat baiknya yang bisa berguna bagi kebaikan diri kita dan bersama.

Comments
1 Comments

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. jangan terlalu pesimis mas bro.kita masih bisa bangkit kok.hanya saja perjuangan untuk itu sangatlah berat dan pasti akan ada halangan dan rintangan yang tak terhitung dan tak terukur lagi.keep fight !!!

    BalasHapus

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow