Posted by : ngatmow prawierow 3.10.2014

Malam ini, secangkir kopi kembali menemani Thomas yang belum mau terpejam. Tangannya masih setia memegang mouse berwarna hitam pekat dan mengeluarkan warna merah terang di bagian bawahnya. Sebatang rokok yang juga berwarna hitam masih menyala tergigit di sela bibirnya.

Beberapa saat berlalu, sesekali tangannya menggapai secangkir kopi yang masih hangat di sampingnya. Namun pandangannya tetap tak bergerak, lurus ke arah monitor yang sudah menyala sejak sore tadi. Dari posisi dan gestur tubuhnya, seolah pemuda tambun ini enggan beranjak meninggalkan setumpuk pekerjaannya untuk alasan apapun. Dan biasanya akan terus seperti itu sampai adzan subuh berkumandang keesokan harinya.

Namun nampaknya malam ini agak berbeda. Setelah beberapa waktu berlalu tubuhnya nampak mengendur, dia kemudian bersandar di kursi putarnya. Dia menghela nafas panjang.....terdengar berat dan tanpa tenaga..........
Aroma kopi yang khas ternyata mampu mengalihkan pandangannya dari layar kaca. Aroma wangi asli kopi bubuk mengingatkannya pada sosok almarhum kakeknya yang dulu  setiap hari selalu memberi nasehat sambil mengajaknya minum secangkir kopi.

Yup. Kopi. Kopi hitam kupu-kupu begitu dulu beliau menyebutnya.
Kopi hitam kupu kupu adalah secangkir kopi hitam ditambah sesendok gula pasir dan sejumput kecil garam. Aneh memang, tapi itulah yang menyebabkannya berbeda. Rasa yang dihasilkannyapun lebih gurih dan khas kopi asli buatan negeri sendiri......

Dulu, sambil ngopi kakeknya sering bercerita dan berpetuah. Petuah bijak tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia. Segala sesuatu yang pasti akan dialami setiap manusia. Dan tak jarang segala sesuatu yang diprediksikan akan terjadi bahkan yang belum terbayangkan pada saat itu.

Thomas ingat pernah suatu saat sang kakek mengajaknya duduk di depan perapian sambil menyulut sebatang rokok klobot (rokok yang terbuat dari lembaran buah jagung) dan tentu saja secangkir kopi hitam di cangkir kaleng ukuran superjumbonya.

Sambil menimati rokoknya kakek bercerita, cerita perihal manusia dan secangkir kopi.

" Tom, kamu tahu tidak kalau hidup manusia itu seperti secangkir kopi ?"

" Halah kakek ini....... ya nggak lah kek, sama dimananya ?"

" Hehe .... kamu lihat cangkir kopi kita ini....." kata kakek sambil menunjukkan jarinya ke dua gelas cangkir berbeda rupa di depannya. " cangkir kakek terbuat dari kaleng, ukurannya besar, sudah kelihatan tua, kumuh dan rapuh, tapi masih bisa menampung air kopi ini sampai penuh dengan rasa yang sama dengan kopi yang ada di cangkirmu itu. padahal, cangkirmu masih bagus, terbuat dari beling, dan ukurannya hanya separo cangkir kakek...." lanjutnya.

" maksudnya kek ?" tanya Thomas nggak mengerti apa maksud pembicaraan kakeknya itu.

" tidakkah kamu sadar bahwa rasa kopi kita itu sama le ? tidakkah kamu sadar bahwa yang membedakan keduanya hanya cangkirnya saja ?"

" iya sih kek, tapi maksud kakek sebenarnya apa ? saya kok ndak mudyeng "

" begini cucuku yang ganteng dewe....maksud kakek sebenarnya adalah besok kalau kamu sudah menghadapi dunia nyata, kamu akan bertemu dengan berjuta warna sifat manusia. berjuta pula asal usul mereka...." kakek menghela nafas sebentar, kemudian ia melanjutkan perkataannya

" tapi satu hal yang perlu kamu perlu ketahui yaitu bahwa semua manusia adalah sama rasa, sama rata dan sama derajatnya di hadapan Allah SWT. Dan Dia tidak akan memandang cangkir kita, tidak akan memandang casing kita, tapi hanya akan "merasakan" kita sebagai umat manusia...."

" Sama seperti cangkir kopi ini, keduanya yang membedakan adalah cangkirnya, bukan isinya....cangkir ini mewakili asal usul manusia, pekerjaan mereka, jabatannya, kekayaannya, kekuasaanya dan sebagainya. Sedangkan isinya mewakili kita sebagai manusia seutuhnya.... "

" walah....ternyata seperti itu ya kek....nggak kepikiran saya je..."

" ada lagi lho Tom, kamu tahu kan kalau yang namanya kopi setelah habis pasti akan memberikan kesan bagi yang meminumnya ?"

" iya kek.... "

" nah itu dia, manusia setelah "habis masanya" juga akan meninggalkan kesan bagi orang-orang di sekitarnya. Apakah dia semasa hidupnya baik atau buruk, meninggalkan kesan positif atau negatif....itu semua tergantung pada saat dia masih mengisi cangkirnya, mengisi jabatannya, menggunakan kekayaannya, kedudukannya ketika hidup.... iya to "

" weh ...persis kek " jawab Thomas berbinar, wajahnya tampak bersemangat dan sudah mulai memahami apa sebenarnya yang disampaikan kakeknya itu.

" bagus....maka ingatlah sampai kapanpun ketika kamu meminum segelas kopi, maka kamu harus ingat bahwa hidup manusia ini sejatinya adalah untuk bersyukur menikmati apa yang ada dengan tidak melupakan Sang Penciptanya .....selalu ingat bahwa hidup ini sudah ada batasannya sehingga tidak akan muncul sikap sombong, selalu berusaha dengan maksimal dalam berusaha apapun dan dimanapun, selalu bersyukur, selalu berbuat baik, selalu berusaha untuk meninggalkan nama yang harum dan kenangan yang manis kepada sesama. Dan ingat, Jangan pernah mengunggul unggulkan cangkirmu, tapi isi yang ada pada dirimu."

" iya kek...."

" oya satu lagi, jangan lupa kalau kamu membuat segelas kopi, jangan lupa tambahkan sejumput garam. Jangan sampai kamu melupakan kopi hitam kupu-kupu ini seumur hidupmu..." sambung kakek serius.

" lho kenapa kek, apa maksudnya itu ?" cecar Thomas penasaran

" bukan apa-apa, kopi dengan sedikit garam itu sangat ampuh menangkal masuk angin lho....juga biar perutmu nggak mual. Tapi hal terpenting adalah...."

" apa kek ?"

" ...emmm...biar kamu selalu ingat kakek....hehehe "

Dan tidak terasa, setetes air mata telah mengalir di pipi Thomas malam ini.

Comments
2 Comments

{ 2 komentar... read them below or Comment }

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow