Posted by : ngatmow prawierow 5.28.2014

Hihihi.....judulnya kayak judul sinetron di tivi-tivi swasta yang jam tayangnya diluar akal manusia itu ya....
Tapi bener kok, suer...... beberapa waktu yang lalu memang saya habis melepas rindu yang sekian lama terpendam sampai begitu dalam. Bukan kepada siapa siapa, melainkan kepada hobi lama saya semasa masih bocah dan belum se bulat sekarang ini. Naik Gunung.....

Kali ini saya memacu si Mbah Star tidak terlalu jauh dari kota tercinta Banjarnegara. Tapi jalur tempuhnya bisa dikatakan luar biasa. Kenapa? sebab kali ini tujuan utamanya adalah Gunung Prau,  di dataran tinggi Dieng yang tracknya naik turun dan penuh dengan tanjakan yang memaksa saya meng-gas pol kan si Mbah dengan sepol pol nya.....hehehe....

Penampakan Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu

Yup, Gunung Prau. Berada di koordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT gunung ini berada tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Memang sih gunung ini tidak begitu dikenal di kalangan para pendaki dan pecinta alam seperti gunung - gunung yang ada di sekitarnya yaitu  Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Karena disamping hanya memiliki ketinggian 2.565 MDPL (sehingga bisa dikatakan sebagai gunung pendek) juga karena bentuknya yang memanjang sehingga oleh sebagian pendaki "senior" disebut kurang menantang (memang gunung ini merupakan salah satu gunung dengan puncak terluas di Indonesia)
Tapi, tunggu dulu...... dibalik semua itu, Gunung Prau memiliki pesona dan keelokan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan yang lainnya. Keindahan alam yang ditawarkan disana sangat luar biasa. Hamparan awan membentang dengan diselingi puncak beberapa gunung besar yang ada di Jawa Tengah menyatu dengan tekstur alam yang mempesona menunjukkan betapa hebatnya karya Sang Pencipta. Jika sedang beruntung, birunya langit dan hamparan permadani nan indah bisa kita nikmati sambil minum kopi panas untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang..... sungguh sesuatu yang tidak bisa terkatakan dengan kalimat seperti apapun.

Oke, perjalanan dimulai dari Alun-alun Banjarnegara. saya dan rombongan menempuh setidaknya 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor menuju desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. (itu sudah termasuk istirahat ngopi, tambal ban, dan mampir SPBU untuk ke kamar mandi hehe...).  Dengan melalui banyak rintangan dan halangan, pada malam harinya kami sampai di posko pendakian yang ternyata merupakan salah satu ruangan balai desa Patakbanteng yang dikondisikan sebagai posko pendaftaran.

Rute pendakian Gn. Prau (Sumber : Mbah Google)


Ternyata menurut data petugas posko, malam itu ada 300 orang lebih yang telah tercatat melakukan pendakian hanya dari jalur itu saja (padahal ada 3 jalur pendakian ke puncak gunung prau lho). Sebuah hal yang sangat tidak terduga mengingat bahwa pada awalnya saya menganggap bahwa gunung ini kurang begitu populer dan paling hanya beberapa orang saja yang naik ke atas sana.
But it's okay.....it's not a problem.....and i think i'ts be a cool

Jam tangan menunjukkan jam 10 malam ketika kami mulai berjalan. Awalnya kami menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih 800 meter di tengah pemukiman penduduk hingga menuju ke areal perkebunan kentang di ujung desa.
Sampai di ujung jalan setapak ini kami bertemu dengan pos pemeriksaan terakhir sebelum memasuki "rute yang sesungguhnya". Rute ini adalah jalan setapak menyisir perkebunan kentang dan cabai setan milik warga (dikatakan demikian karena cabai jenis ini punya kepedasan yang luar biasa) dimana kemiringannya sudah mulai menyiksa kaki. Tapi itu belum seberapa, hanya beberapa menit berselang, kemiringan tanah akan semakin menjadi. Yaitu ketika jalan sudah memasuki area hutan pinus. Dari sini perjalanan sudah mulai amat sangat lambat apalagi mengingat berat badan saya yang sudah bertambah 20 kilo semenjak pendakian terakhir saya ke Gunung Ungaran hampir sepuluh tahun yang lalu.....
saya pun akhirnya ditinggalkan rombongan.....
berjalan hanya bersama seorang, Bonjes, kawan selangkah demi selangkah berusaha mengejar rombongan lain yang sudah naik duluan.

courtesy : Indro Brekele, thanks bro....
Setelah melewati barisan pepohonan pinus yang tinggi menjulang, hamparan rumput pun menjelang. Disitu kami berdua bertemu dengan beberapa orang anggota rombongan yang sengaja menunggu kami karena khawatir terjadi sesuatu. Budi, Indro, mas Syarif dan mas Roso setia menunggu kami hampir satu jam lamanya dengan perasaan cemas, padahal saya dan Bonjes sendiri berjalan dengan santai dan bahkan sempat tidur di tengah perjalanan......hehe.....
Jalan yang semakin terjal dan dengan diselingi bebatuan besar dan jalan yang semakin licin, berhasil dilewati dengan sukses. Sampai akhirnya kami disambut oleh padang rumput mendatar yang sangat luas. Dari situ terlihat hamparan permadani hitam penuh kerlap kerlip lampu berkumpul di beberapa tempat yang sangat indah. Hamparan rumput terakhir inilah yang seolah mengajak kami untuk berlari menggunakan sisa tenaga menuju ke camp area dimana sudah berdiri puluhan tenda disana.

Kami sampai di puncak.........

Dalam hitungan menit, dum pun berdiri. Beberapa orang kawan yang tiba bersama saya langsung menempatkan dirinya di posisi masing-masing. Tidur. sedangkan sisanya termasuk saya membuat perapian kecil untuk mengusir hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk dan seperti ingin membekukan setiap ujung jari.  Bahkan saking dinginnya secangkir kopi panas yang baru saja saya seduhpun dalam hitungan menit akan hilang panasnya, berubah menjadi dingin sedingin es kopi kesukaan saya di warung deket kantor.....amazing....

Sambil duduk dan menikmati secangkir kopi dingin, pandangan saya berputar, menatap luasnya ciptaan Tuhan. Keindahan yang tidak terkatakan dan kebesaran yang tiada bandingan.
Sungguh perasaan yang luar biasa. Puas, lemas, haru, bangga dan bahagia bercampur menjadi satu.
Rasa yang sudah sangat lama tidak saya rasakan.
Saya jadi teringat sebuah pepatah lama ketika saya masih aktif di pecinta alam,

"naik gunung bukanlah perkara menaklukkan gunung yang kita daki melainkan persoalan menaklukkan diri kita sendiri ......"

Dan akhirnya surga itupun terbentang sangat jelas ketika matahari sudah menunjukkan dirinya.  hamparan padang bunga chrysant yang cantik, pemandangan bukit Teletubbies (disebut demikian karena kontur permukaannya yang berbukit persis sama dengan apa yang digambarkan di film anak-anak tersebut) yang menawan dan megahnya Sindoro dan Sumbing terpampang jelas di depan mata.

Inilah surga.....
surga yang luar biasa ini ada di dekat kita.....
dan Yang Maha Besar lah yang bisa menciptakannya....... 
dan kita wajib untuk menjaganya
sepanjang hayat ada di dalam raga.....


Camp Area di Puncak Gn. Prau, arah menghadap ke timur


Puncak teletubbies


Dataran tinggi Dieng dari Puncak Gn. Prau berlatar belakang Gn. Slamet

Comments
2 Comments

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Luar biasa.ternyata ada juga ya gunung yang asik seperti ini di wonosobo.sy sebagai orang wonosobo malah belum pernah kesana.jadi malu

    BalasHapus
    Balasan
    1. welah, ga usah malu....wong saya saja baru pernah ke sana setelah 30 taun lebih jadi manusia hehehe....

      Hapus

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow