Posted by : ngatmow prawierow 11.10.2015

Membaca sebuah kalimat dari tulisan senior saya kak Radityo Widiatmojo dalam blognya fototiptrik.blogspot.co.id,  .....Fotografi akan lebih bermakna jika digunakan sebagai medium bercerita bukan sebagai pengumbar hawa...... mengundang senyum lebar di bibir saya yang katanya seksi ini. Hehehe....

Kenapa?
Sebab saya sangat setuju sekali dengan kalimat tersebut man... Kalimat yang seolah olah menceritakan apa yang sedang terjadi dan menjadi trending topic di dunia fotografi belakangan ini. Memang sih tidak semuanya pelaku fotografi (baik itu penggemar, penghobi maupun pekerja foto) berlaku seperti itu, namun apa yang terjadi di lingkungan saya terutama di kalangan anak anak muda (yang tentu saja seumuran dengan saya dan yang lebih muda lagi) menunjukkan kecenderungan bahwa hal tersebut adalah benar adanya.

Terkadang miris juga sih melihat atau membaca atau menjumpai anak muda seumuran saya yang masih eSeMA bercerita kepada temannya bahwa dia mau memotret seorang model dengan busana "minimalis" bersama teman-teman "fotografernya" (alias keroyokan) di suatu tempat yang menurut saya bahkan kalau disambungkan dengan busana yang diceritakannya itu sama sekali nggak nyambung temanya.....
Apakah ini bukan yang namanya pelecehan berkedok fotografi ??
Maaf bila salah, namun menurut saya hal tersebut sangat sangat tidak masuk akal dan menimbulkan banyak tanda tanya besar di kepala saya. Apa fotografi bagi dia hanya sebatas itu saja? apakah dia seorang fotografer hebat yang kemudian mendapatkan bayaran super besar setelah sesi pemotretan? atau hanya kemudian hanya untuk mendapatkan tanda jempol luar biasa banyak di media sosial semacam Fesbuk, Twiter atau Ige ?
Dan kenapa ada seorang perempuan muda nan cantik yang mau tubuhnya diabadikan sedemikian detil (bahkan hingga lubang pori-porinya kelihatan) untuk kemudian diekspos sedemikian sehingga di media sosial? dimana harga diri dan norma yang seharusnya dijaganya?

Entahlah..... mungkin saya yang terlalu kuno atau tidak kekinian. Tapi jujur saja, sebagai seorang ayah dari seorang anak perempuan dan seorang kakak dari beberapa adik perempuan, juga seorang anak dari seorang perempuan hebat, hati nurani saya sangat sangat tidak menyetujui hal semacam itu.........

Dalam tulisannya kak kak Radityo Widiatmojo juga menulis soal salah satu saran yang banyak disarankan fotografer hebat nan berpengalaman adalah "follow your passion"... yang bahkan kalimat tersebut berlaku di bidang-bidang lain selain fotografi. Menurutnya mengikuti kata hati bisa berdampak besar terhadap hidup kita dan harus diakui hal itu memang benar adanya man, karena biasanya dikaitkan dengan pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Namun apa jadinya bila jika anda membaca sebuah kalimat "PASSION SAYA DI FOTO MODEL..."?

Berikut sedikit penggalan tulisan beliau yang cukup menggelitik bagi saya, namun saya SANGAT MENYETUJUINYA.

Pernyataan "PASSION SAYA DI FOTO MODEL.." memang syah syah saja dan tidak salah. Namun ini menunjukkan barometer literasi visual fotografi di tanah air. Di Indonesia banyak sekali bertebaran klub foto yang mengadakan "hunting model". 1 model bisa digruduk 10-30 orang. Saya tidak munafik, saya dulu juga seperti itu, pernah mengalami hal demikian, pernah merasakan euforia motret model ditengah hiruk pikuk kerumunan fotografer yang masih dalam tahap belajar. Sekali lagi saya pernah merasakannya. Asyemmmm. Asyemmm karena sadar bahwa literasi visual saya saat itu begitu dangkal. Hasyem karena tidak seharusnya memperlakukan seorang model seperti itu. Tidak terjadi komunikasi antara model dan fotografer kan. Lha wong sang model dipanggil, "mbak'e noleh sini.." "mbak, mbak noleh atas mbak.." "Non, kiri kiri Non.." "Oke mbak, sekarang noleh ke saya ya mbak Manis..." Jika saya jadi modelnya ya amsyong lah. Model juga manusia bung, janganlah jadikan beliau sebuah objek yang dinikmati secara fotografis dan masif. Berkaitan dengan literasi visual, nampaknya literasi visual dalam satu dekade ini "masih" lebih banyak berseliweran foto-foto model dalam lini masa sosial media mereka, sehingga memaksa seseorang untuk melontarkan pernyataan "PASSION SAYA DI FOTO MODEL" secara sadar dan bangga.

Hunting model bagi saya adalah aktifitas untuk memenuhi hasrat indrawi para penghobi fotografi dan bukan sebagai ajang edukasi yang pas. Outputnya pasti jelas di upload di internet, yang berarti menambah kontribusi literasi visual foto model, emboh model opo. Jika mengatas-namakan "Sama-sama Belajar" antara model dan fotografer, mengapa tidak dikemas dalam format yang lebih edukatif dan interaktif? Satu mentor, satu model, dan maksimal 4 fotografer-lah. Jangan satu model dihajar habis orang 10 lebih. Di Sydney memang ada model motret grudukan seperti ini, tapi bukan model. Istilah motret bareng itu "Photo Walk", lebih ke arah dokumenter, landscape, street atau arsitektur. Kalau mau bikin "portrait" seorang model, teman-teman saya cenderung di studio untuk belajarnya, dengan format 1 model untuk 1 fotografer dan 2 asisten (1 model 1 fotografer). Begitu sang model dan fotografer sudah pede dan "mengenal" karakter masing-masing, maka mereka akan janjian lagi untuk pemotretan outdoor. Moda seperti itu jauh lebih efektif jika mengatas-namakan "Sama-sama Belajar". Bagaimana dengan lomba motret model yang rame-rame juga? Kalau itu bisa diapresiasi karena memang model profesional di bayar dengan profesional pula.

"Lantas apa yang bikin dilematis? Kan suka-suka saya ingin motret apa. Haknya saya kan. Kamera-kamera saya sendiri. Foto-foto saya sendiri. Facebook-facebook saya sendiri. Apa hak anda cawe-cawe passion saya?" Mungkin lontaran pertanyaan bernada offensive seperti ini akan memelihara jenis pembelajaran (motret model grudukan) tetap menjadi primadona. Seakan foto Model dan motret grudukan adalah dua sejoli yang tidak bisa dilepas.

Lantas?

Meskipun motretnya tidak grudukan, namun sosial media juga mengundang dan menggelitik fotografer untuk menggunggah foto Model di komunitas yang banyak penggemar foto Model. Lantas, sosial medialah yang menjadi tujuan akhir. Bukan rahasia umumlah jika upload foto di sosmed itu kabur batasannya antara "sharing", "minta saran" atau "pamer". Coba saja lihat berbagai group fotografi di FB, banyak sekali saya ditemui foto-foto (mohon maaf) tidak seronok/vulgar, tidak pantas dan berujung pada pamer kebinalan dari mata fotografer. Lebih binal lagi yang komentar, aduhhhhh benar-benar merusak komunitas fotografi di Indonesia deh.

Lantas (lagi) ada rekan saya dari negara tetangga yang bertanya "Lha piye je solusine?" Ya lha yo modyar kalau saya disuruh membuat solusinya, itu hak mereka atas bagaimana menggunakan karunia terindah dari Sang Pencipta, berupa mata. Gunakanlah mata fotografis anda dengan bijaksana, janganlah menindas tubuh atas nama "belajar" apalagi atas nama cinta.


Kalimat terakhir adalah kalimat yang menurut saya sangat menusuk hati yang terdalam. Hehehe........ sebab banyak pemahaman (terutama bagi mereka yang sudah saya sebutkan diatas) tentang fotografi (terutama model, portrait dan fashion) yang pada akhirnya secara tidak langsung akan menyentuh langsung pada  hal tersebut.

Bagi saya pribadi, fotografi merupakan sebuah wahana dimana kita bisa mengabadikan semua hal, semua moment, dan segala apa yang bisa kita lihat dan nikmati untuk kemudian dibagikan kepada orang lain untuk dinikmati bersama sama. Tidak hanya yang indah dan harus berbentuk sesosok tubuh menawan dengan balutan busana minimal saja, tapi juga segala hal yang ada di sekeliling kita sebagai bentuk keperdulian kita terhadap lingkungan.
Tapi satu hal yang begitu penting dan musti kita pahami sebelumnya (namun sering dilupakan oleh mereka-mereka, temen-teman yang hanya mengejar nafsu indrawinya saja) yaitu bagaimana belajar memahami kamera dan bagaimana membuat foto yang baik dengan beragam genrenya. Tidak lupa juga belajar menjadi santun dalam berfotografi adalah proses yang harus dilatih setiap hari. Fotografer juga manusia, kan? Kita bisa selalu berempati dan bersimpati.

Ingat kisanak, fotografer adalah orang yang paham dengan nilai seni dalam hasil jepretannya di mana letak keindahan atau nilai seninya karena bisa dinikmati siapa saja dan siapapun harus menerima keindahan dengan rasa enak, nyaman akhirnya ihlas menerimanya, jadi seni itu indah dalam format kebersamaan, tidak indah apabila cuma dinikmati dan memberi rasa puas hanya sepihak saja.
Menurut saya pendidikan dalam konteks seni dalam hal jepret menjepret dengan kamera khususnya fotografi juga otomatis seharusnya mengajarkan manusia Indonesia terutama fotografer kita supaya punya tata krama/etika. Jadi fotografer jangan hanya menuruti hawa nafsu saja man, namun juga masih banyak hal lain yang juga harus diperhatikan, dipahami dan diamalkan sehingga menjadi satu kesatuan yang kemudian bisa dipertanggung jawabkan secara moral dan spiritual....halah............

Sudah itu saja..............

Comments
4 Comments

{ 4 komentar... read them below or Comment }

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow