Posted by : ngatmow prawierow 8.09.2016

Tanggal 5,6 dan 7 Agustus kemaren Dieng dipadati oleh ribuan manusia yang datang entah dari mana asalnya. Tujuannya sama. Ingin merasakan euforia Dieng Culture Festival ke 7 yang sudah digaungkan oleh media media massa nasional berbulan bulan sebelumnya.

Yes, Dieng Culture Festival atau yang biasa disingkat sebagai DCF ini memang sebuah agenda rutin prosesi ruwatan (penyucian) rambut gembel yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat setiap tahun. Tentu saja dengan beragam modifikasi acara (seperti Pesta lampion, Jazz atas awan, sunrise di Sikunir dan Pangonan, dan sebagainya), mendatangkan bintang tamu dari ibu kota dan berbagai hal menarik lainnya yang bagi sebagian orang sangat sayang untuk dilewatkan.

Seperti juga tahun ini, pihak penyelenggara memberikan banyak sentuhan seni modern (dengan bekerjasama bersama mahasiswa ISI) dan mengundang tokoh populer seperti Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Cak Nun dan penyanyi kondang, Anji. Dan pastinya hal itu menjadi satu daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung untuk rela merogoh koceknya lumayan dalam demi mendapatkan selembar tiket masuk ke arena konser jazz, lampion dan ritual potong rambut gembel.

Meskipun saya hanya pada hari terakhir alias hanya pada hari Minggu tanggal 7 Agustus 2016 saja berada di Dieng, namun ada beberapa hal yang sangat membuat saya merasa bahwa ada yang berbeda pada pelaksanaan DCF tahun ini dengan tahun tahun lainnya. Beberapa hal yang berbeda adalah jumlah pengunjung yang lebih padat antara tahun ini dengan tahun sebelumnya, kemacetan yang semakin parah, penataan lokasi tiap bagian event yang tertata rapi, lokasi Camping Ground yang semakin banyak, juga tarif parkir yang mencapai angka Rp. 10.000 ,-

What the hell that !!!!

Sepuluh ribu cuman buat bayar parkir ? F*#k that........
Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji kisanak..... memanfaatkan momen seperti ini hanya untuk mencari keuntungan sementara. Bayangkan saja apabila tahun depan pengunjung datang ke Dieng dengan berjalan kaki...... mau cari uang dari mana kalian ? parkir kaki ???

Oke, lupakan sejenak soal itu...... kembali ke jalannya DCF, setelah saya masuk lokasi dan bertemu dengan beberapa orang kawan, ternyata apa yang alami soal parkir kendaraan itu belum apa apa. Banyak terjadi hal lain yang lebih parah dan tentu aja memalukan. Misalnya ada petugas penarik bea kebersihan untuk tiap tenda di Camping Ground pada jam 2 malam...... Jam 2 malam men......... Gila apa......... besarannya 25.000 per tenda, tapi paginya bahkan sampai siang harinya lokasi itu ga ada bersih bersihnya sama sekali. Dan itu belum termasuk dari biaya sebesar Rp. 175.000,- untuk setiap kaplingan dum alias tenda yang sudah harus dipesan jauh jauh hari sebelumnya. Kan Fak namanya.......

Tapi ada yang menarik pada perhelatan DCF  yang ke 7 ini, pada setiap pintu masuk event ada penjaga gawang eh palang yang cukup tegas. Para penjaga ini terdiri dari gabungan petugas keamanan dari pihak panitia bekerjasama dengan Satuan Polisi pamong Praja Kabupaten Banjarnegara. Saking tegasnya, mereka sampai menolak, bahkan berani beradu mulut  dengan beberapa orang yang mengaku sebagai korps baju coklat (you know who lah ) yang hanya membawa satu kartu tiket masuk. Salut..........

By the way, ada satu moment yang tidak terduga dan tidak akan terlupakan bagi saya pribadi pada DCF kali ini yaitu secara tidak sengaja bertemu dengan tokoh tokoh fotografi yang selama ini saya kagumi meskipun hanya lewat internet, media sosial dan hasil browsing di internat saja, sebuah kehormatan dan kebanggaan besar bagi saya bisa berbagi waktu untuk mengobrol sambil menunggu ritual larung rambut gembel di telaga warna bersama seorang koordinator juri Salon foto 2016 kategori cetak warna Om Rasmono Sudarjo, om tukang dolan Tan Kiki, om makrodin Ronny Santoso , bang juwara Fadkus, Om eh bli Nyoman Butur Suantara, dan guru motret saya pak Agus Nonot. Hanya 3 jam namun cerita tentang pengalaman mereka membuat saya dan Bhakti seperti merasa bahwa waktu sesebentar itu seolah sudah memberi kami sebuah pengalaman fotografi yang luar biasa. Kurang dan tidak cukup tentu saja........


Diluar itu semua, ada sedikit unek unek yang pingin saya tulis disini dan semoga ada panitia tahunan DCF yang sempat untuk membacanya. Ada sedikit usul dari saya pribadi utnuk menambah panggung tempat memotret untuk wartawan di acara jamasan dan potong rambut. Sebab dua panggung dengan luas yang hanya beberapa meter seperti kemarin masih sangat kurang. banyak rekan wartawan yang tidak kebagian tempat di atas (panggung) karena di tempat yang seharusnya untuk mereka sudah ditempati orang lain. Dan untuk mengatasinya mungkin perlu ditempatkan personel keamanan khusus yang bertugas mengecek kartu identitas setiap orang yang hendak naik kesana.

Selain itu perlu diterapkan aturan bahwa tongsis dan tripot SANGAT DIHARAMKAN berada di barisan depan pengunjung. Sebab hanya alayers dan mereka yang tidak peduli lingkunganlah yang akan menggunakannya di depan barisan tanpa memperhatikan belakangnya yang tentu saja mengambil foto juga. Kalau perlu tindak tegas dan usir dari barisan. Biar tahu rasa......

Kenapa kedua hal itu menurut saya penting? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena bagaimanapun "besarnya" DCF adalah karena pemberitaan media dan foto foto di media sosial masyarakat. apabila foto yang dihasilkan bagus dan menarik juga tanpa cacat, maka hal tersebut akan menjadi viral dan masyarakat umum akan menjadi penasaran. Imbasnya adalah meningkatnya jumlah pengunjung pada pelaksanaan DCF di tahun tahun berikutnya.
Selain itu hal tersebut juga akan sangat membantu tugas teman teman wartawan sehingga mereka tidak lagi menggerutu (meminjam kalimat mas Anis Efizudin)
" nek ngene iki aku yo ra biso kerjoooo....... "

" Welcome to the Republic of Tongsis " by 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow