Posted by : ngatmow prawierow 3.14.2017

Beberapa waktu lalu, saya iseng posting beberapa foto di akun Instagram saya yang menggambarkan kondisi terakhir Bendungan Panglima Besar Jenderal Sudirman alias Waduk Mrica(n). Gambaran sebagian orang tentang bendungan yang penuh akan air dengan pemandangan indah menjadi backgoundnya seolah terbantahkan dalam foto saya. Mengapa ? karena yang muncul dalam gambar saya adalah gambar seorang kakek yang sedang termenung memandang bendungan kering dengan beberapa buah kapal terparkir tanpa daya di belakangnya.


Kering ?
Serius ?

Yes .... itulah yang terjadi pemirsa.......
Fenomena alam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memang sungguh mengkhawatirkan. Erosi yang terjadi di sepanjang sungai Serayu baik di hulu maupun hilir semakin parah. Ditambah dengan pola pertanian sebagian besar warga yang tinggal di daerah "atas" dan "kelakuan" para penghuni bantaran sungai di daerah "bawah" yang dengan semena mena membuang sampah secara ikhlas ke aliran sungai Serayu........

So Damn that !!


Bendungan yang terletak sekitar 9 km di sebelah barat kota Banjarnegara ini adalah saksi bisu bagaimana ketidakpedulian manusia akan alamnya. Bayangkan saja man, pengendapan tanah yang bersumber dari erosi super banyak di sepanjang aliran sungai Serayu dari Dataran Tinggi Dieng sana lambat laun semakin meninggi dan mengakibatkan pendangkalan yang luar biasa luas di Bendungan yang memiliki panjang 6,5 Km dengan luas 1.250 Ha ini. Gilanya lagi, pada bagian bagian tertentu yang terdapat pendangkalan maksimal bahkan sudah dijadikan area persawahan oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Disewakan pula !!!

bah !!!

Ditambah lagi dengan tumbuhnya enceng gondok yang merata hampir di seluruh permukaan air yang tersisa. Maka lengkap sudah  penderitaan Bendungan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya ini.

Kembali ke masalah penggunaan Bendungan sebagai sumber mata pencaharian penduduk di sekitar, sejak selesainya pembangunan dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1989, bendungan ini tidak hanya di gunakan sebagai PLTA saja (perlu diketahui bahwa PLTA Waduk Mrica menghasilkan daya listrik mencapai 184,5 MW, untuk memasok kebutuhan energi listrik meliputi area Jawa dan Bali man), namun juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menstabilkan aliran air irigasi yang dialirkan ke sawah-sawah dan terbentang luas di wilayah Banjarnegara dan sekitarnya (termasuk juga aliran sungai Serayu setelahnya). Selain itu air di sini dulunya juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan bahkan sebagai (mantan) objek wisata. Nah .......

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan kondisi bendungan yang semakin mengenaskan (kalau boleh saya katakan demikian), muncullah sebuah pertanyaan (dan pernyataan), masihkan bendungan ini berfungsi optimal.... ?
tentu jawabannya akan sangat mudah ditebak. bahkan oleh seorang bocah yang masih beringus sekalipun. TENTU SAJA TIDAK ...... iya tho ???



Okeh...mungkin akan tidak bijak kalau kita hanya ngomongin minusnya saja, mencari kekurangan saja, mung nyacat tok, muni muni tok, misuhi tok, tanpa kita berusaha mencari solusinya........

Baiklah.... begini kisanak .......

Yang pertama mungkin kita bahas soal pemanfaatan enceng gondok yang luar biasa banyak. Untuk soal ini, pemerintah daerah melalui Dinas Indagkop dan UMKM, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup mungkin perlu melakukan pengarahan, sosialisasi dan bahkan mungkin pelatihan terhadap masyarakat yang hidup di sekitar bendungan yang kesejahteraannya mulai menurun karena berkurangnya populasi ikan di sekitar bendungan. harapannya adalah dengan pemanfaatan enceng gondok secara maksimal sehingga bernilai jual tinggi, akan mampu mengangkat pendapatan dan taraf hidup mereka.

Yang kedua, pemerintah mungkin sudah waktunya menerapkan peraturan yang tegas mengenai tata guna lahan di wilayah pegunungan yaitu Dieng dan sekitarnya (tentu saja bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tetangga). Hal ini penting mengingat semakin gundulnya tanah disana. Hampir tidak ada lagi pohon penunjang dan penjaga ketahanan tanah. Berganti dengan berhektar hektar lahan pertanian kentang, wortel, kol, sawi dan sayuran lainnya yang tidak punya kekuatan menjaga alam. Sudah saatnya pemerintah secara tegas melakukan tindakan pencegahan sedari sekarang sebelum bencana melanda masyarakat kita......

Yang ketiga, mungkin pariwisata di lingkungan bendungan Mrica akan menjadi kembali seperti dahulu atau bahkan menjadi lebih baik apabila pengelolaannya diberikan kepada pihak swasta ataupun BUMD tersendiri yang bertanggung jawab penuh terhadap segala aspek pariwisata disana. Kenapa demikian ? sebab selama ini pengelolaan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sangatlah tidak optimal. Kondisi tempat wisatanya pun sangat mengenaskan disamping faktor keamanan yang juga lumayan buruk. Hal inilah yang kemudian berimbas kepada enggannya masyarakat untuk berkunjung kesana ataupun minimal datang dan berlama lama di lokasi........
Suwer.....ga bohong......
saya soalnya mengalami hal ini juga hehehe.......

Yang keempat, Pemerintah mungkin perlu untuk lebih mendorong desa desa di sekeliling Bendungan untuk lebih memaksimalkan wilayah mereka menjadi daerah wisata dengan memanfaatkan lokasi pinggir bendungan. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan mengarahkan desa untuk memanfaatkan dana yang bersumber dari Dana Desa sebagai embrio wisata kabupaten.iniaw

Selanjutnya, alangkah tidak bijaknya saya kalau nggak nampilin beberapa view Bendungan yang (katanya pernah) indah ini..........so check this out pemirsah ..............








Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow