Posted by : ngatmow prawierow 10.20.2018

Haru.
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel.....

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men..... beda...... cukuran rambut gembel disini beda...... di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah........dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho......... halah......


Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses.......

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan 

Penasaran ? Harus dong .......
Ceritanya begini gaess .......

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat...... ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ......
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ..................

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya..... Sadis........


Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro....... Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera.... eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ...............

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy .... kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.


Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ..........

Comments
1 Comments

{ 1 komentar... read them below or add one }

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow