Posted by : ngatmow prawierow 5.30.2017

Do you know about a Banjarnegara traditional martial art called Jepin Broxy ?
Tanya seorang kawan asal Denmark pada saya beberapa waktu yang lalu. 
What the f*ck that .......saya ga tahu babar blas .......apa itu Jepin........
Malu saya sebagai warga Banjarnegara .......

So, pada hari itu juga saya browsing sana sini dan bertanya kepada teman teman pemerhati budaya yang ada di Banjarnegara tentang apa itu Jepin dan dimana Jepin itu ada........
hasilnya ? check this out man....... 


Kesenian Jepin mungkin tidak begitu familiar di telinga kita (apalagi bagi yang sok hidup di daerah kota......macam saya.....hehehe....), padahal kesenian ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah mengakar dalam hidup masyarakat lho.
Diangkat dari kata Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi di seluruh antero negeri ini.

Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.

Di Banjarnegara, ada beberapa daerah yang menjadi kantong kantong pelestari kebudayaan Jepin ini. Diantaranya adalah Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran. Khusus untuk Kecamatan Pejawaran sendiri ada beberapa desa dengan beberapa variasi yang khas dan tidak bisa digabungkan satu sama lain. Misalnya Jepin Desa Giritirta yang cenderung halus dan lembut, serta Jepin desa Ratamba yang cenderung keras dan "galak".

Dan berhubung saya tertarik dengan Jepin Ratamba, maka saya segerakan untuk on the way ke sana .....halah.....


Ratamba adalah sebuah desa dengan kontur permukaan yang asik. Bagaimana tidak, desa ini terdiri dari beberapa bukit dengan susunan rumah penduduk yang seolah bertingkat karena mengikuti permukaan tanah. Untuk menuju ke desa inipun dibutuhkan perjuangan yang cukup lumayan mengingat sepanjang 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pejawaran (dan plis jangan tanya berapa kilo jarak pusat kecamatan ini dari pusat kota Banjarnegara) kita harus melewati mantan jalan beraspal halus... nanjak pula......

Menurut sesepuh desa sekaligus sesepuh kesenian ini, Mbah Muhyono, Kesenian Jepin Ratamba (kalau boleh saya sebut demikian), ini agak lain dari yang lain karena pada awalnya merupakan pengembangan dari ilmu kanuragan bernama Rodad dan Cimoi, dan karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang yang berada di Banjarnegara pada waktu itu maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin yang bisa diartikan sebagai Dijajah Jepang .... lho ??

Oleh karena itulah kesenian ini tumbuh sejak jaman Jepang dan berlangsung sampai sekarang. Kata Mbah Mulyono, dulu kesenian ini diciptakan bertujuan untuk memancing dan menggelorakan semangat juang masyarakat. Gerakan olah kanuragan yang menciptakan gerakan tegas seirama tabuhan beritme dinamis yang berasal dari jedur dan terbang, lengkaplah sudah seni rakyat jepin menjadi gandrungan warga. Busana yang dipakai oleh pemain mirip busana kejawen silat serba hitam serta ikat kepala dari kain batik sebagai penegas gerakan kepala. Juga tiupan peluit yang melengking sebagai tanda dimulainya satu jurus tertentu yang menambah ke"gaharan" kesenian yang satu ini.

Jepin Ratamba memang lain dari yang lain kisanak, dari keterangan ketua Kesenian Jepin Ratamba, Walnoto, pada umumnya Kesenian Jepin memiliki 23 jurus namun untuk Jepin Ratamba terdapat 38 Jurus. Hanya saja dari 67 orang pelaku yang sekarang masih aktif rata rata hanya menguasai 2/3 nya saja karena disamping faktor usia yang belum matang, juga karena beratnya latihan yang harus dijalani untuk bisa menguasai jurus pamungkasnya itu.
Ada yang menarik mengenai jumlah jurus ini. Setelah diamati, ditelusuri dan kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan hehehe....... ternyata memang ada banyak jurus tambahan yang berdasar pada jurus jurus Karate. Weh ... karate ???
Yes..... ilmu kanuragan asal Jepang...... (dan inilah yang menjadikan Jepin Ratamba memiliki gerakan yang cenderung keras dan "galak").

Selain jumlah jurus yang lebih banyak dan gerakan yang cenderung keras, Jepin Ratamba memiliki keunikan lain. Mereka tidak ragu untuk bermain api. Baik itu menyembur api, melompati api dan bahkan makan bara api !! 


Busyet.... 
itu yang bikin saya tertarik setengah mati dengan kesenian yang satu ini......

Salah satu tokoh pemuda Ratamba yang juga menjadi senior di Kesenian Jepin, Sohib, mengatakan bahwa dalam Jepin Ratamba semua batasan manusia seolah terlewati. Seorang pemain jepin akan memiliki kemampuan yang luar biasa istimewa dan bahkan diluar akal manusia apabila dia sudah menguasai semua jurusnya, atau apabila dia sudah bisa bersatu dengan "endangnya"

What ?? endang ??
Endang disini bukan berarti mbak endang atau bu endang man...... endang dimaksud adalah roh halus atau jin tertentu yang bersedia untuk merasuk ke dalam jasad manusia yang mengundangnya. Dan biasanya sih mereka setia, dalam artian satu endang untuk satu orang saja........

Dan seperti kesenian kesenian lain di seluruh penjuru dunia, satu hal yang menjadi permasalahan bagi Jepin Ratamba adalah regenerasinya. Kini semakin banyak pemuda yang mengalihkan "dunia"nya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Semakin miris memang bahwa di satu sisi kesenian wajib dilestarikan, di sisi lain kebutuhan hidup sekarang memang semakin menusuk tulang. Sehingga pada akhirnya memang kesenian tradisional seperti ini hanya bergantung pada mereka mereka yang sanggup mengembannya meski jumlahnya tak semenjana........



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow