Bolehkah Akun Media Sosial Dinas Dimonetisasi?
Media sosial sekarang bukan cuma tempat pamer foto atau cari hiburan. Buat pemerintah daerah, medsos sudah jadi etalase utama pelayanan publik. Mulai dari pengumuman kebijakan, info layanan, sampai klarifikasi isu—semuanya pindah ke Instagram, TikTok, X, dan YouTube.
Di Indonesia, isu monetisasi akun media sosial milik dinas pemerintah lagi jadi bahan obrolan hangat, apalagi sejak banyak instansi resmi punya akun YouTube, Instagram, sampai TikTok yang followers-nya nggak kalah sama kreator konten biasa. Di satu sisi, konten-konten mereka memang bermanfaat seperti informasi layanan publik, edukasi kebencanaan, transparansi anggaran, sampai kampanye lingkungan yang dibungkus secara kreatif dan relatable buat generasi muda.
Masalahnya, ketika akun medsos dinas makin ramai dan followers-nya tembus ribuan, muncul pertanyaan yang cukup sensitif:
“Kalau rame, boleh nggak sih dimonetisasi?”
Jawabannya: nggak sesederhana itu fergusso.
Medsos Dinas Itu Bukan Akun Pribadi
Akun media sosial dinas atau instansi pemerintah bukan akun pribadi dan bukan akun bisnis. Akun ini dikelola pakai:
- anggaran negara,
- fasilitas kantor,
- SDM aparatur sipil negara.
Artinya, sejak awal medsos pemerintah dibuat untuk melayani publik, bukan buat cari cuan. Secara aturan, ini ditegaskan lewat pedoman pemanfaatan media sosial instansi pemerintah yang fokus pada fungsi komunikasi, edukasi, dan transparansi.
Jadi, mindset-nya harus beda. Kalau akun pribadi rame lalu dapat adsense, itu sah. Tapi kalau akun dinas rame lalu dipasang iklan atau konten sponsor, itu sudah masuk wilayah abu-abu secara hukum.
Masalahnya Bukan di Teknologi, Tapi di Kewenangan
Secara teknis, YouTube atau platform lain memang menyediakan fitur monetisasi. Tapi dalam pemerintahan, yang penting bukan bisa atau tidak bisa, melainkan boleh atau tidak boleh.
Masalah nggak berhenti di situ. Di level platform, beberapa perusahaan teknologi besar justru membatasi bahkan melarang akun organisasi pemerintah ikut program monetisasi. Ada pernyataan yang tegas bahwa akun pemerintah tidak boleh ditarik ke skema komersial tertentu, terutama terkait iklan, karena dianggap berisiko menimbulkan konflik kepentingan dan disalahgunakan untuk propaganda. Artinya, walaupun secara teori ada potensi uang dari views dan ads, secara praktik sebagian platform memang “menutup pintu” buat akun pemerintah. Buat anak muda yang biasa lihat kreator hidup dari AdSense, ini kelihatan agak aneh, tapi di dunia kebijakan publik, ini menyangkut isu netralitas, kepercayaan publik, dan batas antara pelayanan dan bisnis.
Dalam hukum administrasi negara, setiap tindakan pemerintah harus punya dasar kewenangan yang jelas. Sampai sekarang, belum ada aturan yang secara tegas membolehkan dinas memonetisasi akun media sosialnya.
Kalau tetap dilakukan tanpa dasar hukum:
- bisa dianggap melampaui kewenangan,
- rawan konflik kepentingan,
- berpotensi jadi temuan pengawasan.
Singkatnya : fitur ada, tapi izinnya belum tentu ada.
Dari sisi etika, monetisasi akun dinas juga problematis. Bayangin kalau akun resmi dinas muncul iklan produk tertentu, atau tiba-tiba intens bikin konten yang kelihatan “kejar tayang” demi jam tayang, bukan demi pelayanan. Publik bisa curiga: apakah konten masih murni dibuat untuk kepentingan masyarakat atau sudah terpengaruh kepentingan sponsor? Ditambah lagi, ada risiko akun resmi bercampur dengan branding pribadi pejabatnya, sehingga yang kelihatan menonjol bukan lagi lembaganya, tapi figur individunya yang kemudian ikut menikmati popularitas dan mungkin pendapatan dari dunia digital
Uangnya Masuk Ke Mana?
Ini juga pertanyaan krusial. Misalnya akun dinas dapat penghasilan dari iklan digital. Lalu masuk ke rekening siapa? dicatat sebagai pendapatan apa? dilaporkan lewat mekanisme apa?
Ribet
Dalam sistem keuangan daerah, semua pendapatan harus jelas sumbernya, ada dasar hukumnya, dan tercatat di APBD. Kalau uang masuk tanpa skema yang sah, justru bisa jadi masalah baru.
Alih-alih nambah pemasukan, malah nambah risiko hukum.
Jadi, Harus Gimana Dong?
Bukan berarti pemerintah daerah anti digital atau anti inovasi. Justru sebaliknya. Media sosial tetap bisa dioptimalkan dengan cara yang aman dan elegan, misalnya:
- fokus ke konten informatif dan edukatif,
- promosi layanan publik dan program daerah,
- kolaborasi non-komersial tanpa iklan tersembunyi.
Kalau memang ingin mengembangkan konten digital yang berorientasi pendapatan, jalurnya bisa lewat BUMD atau BLUD, yang memang secara hukum diperbolehkan menjalankan fungsi ekonomi.
Medsos pemerintah boleh kreatif, boleh kekinian, bahkan boleh viral. Tapi satu hal yang nggak boleh hilang: orientasi pelayanan publik.
Karena di dunia pemerintahan, yang paling penting bukan seberapa banyak views dan adsense, tapi seberapa besar manfaatnya buat masyarakat.
Kalau sudah paham batasannya, medsos dinas bisa tetap keren—tanpa harus bikin pusing di belakang.
Viral Itu Bonus, Pelayanan Tetap Nomor Satu #katanyaoranghumas
Bencana Longsor Situkung, Banjarnegara Berduka Lagi !
Banyak
yang mengaitkan hujan dengan kenangan, asmara dan bahkan waktu bersantai untuk
makan dan minum sesuatu yang menghangatkan badan. Namun bagi warga yang tinggal
di dataran tinggi atau pegunungan, hujan apalagi sampai deras bukan lagi soal
"romantisme" atau "mie rebus". Hujan deras yang mengguyur
berjam-jam justru adalah alarm bahaya, dan semuanya harus dalam mode siaga.
Itulah
yang terjadi, bencana tanah longsor besar terjadi pada Minggu sore, 16 November
2025, di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Longsor ini terjadi akibat hujan deras yang berlangsung sepanjang hari, membuat
tanah di bukit yang berada di atas pemukiman warga menjadi labil dan runtuh secara
masif, menimbun puluhan rumah warga. Akibatnya 28 orang dinyatakan meninggal
dan seribu lebih warga berada di pengungsian.
Banjarnegara
berduka lagi.
Dari
keterangan berbagai sumber, sebenernya ternyata alam udah ngasih kode, gaess.
Sehari sebelum kejadian, tepatnya Sabtu, 15 November 2025, warga sudah
mendeteksi adanya retakan tanah di area Gunung Jaran yang terletak di atas
Dusun Situkung. Namun karena berada di tengah hutan dan banyaknya pohon di
sekelilingnya sebagai pengikat tanah, hal ini dirasa tidak begitu membahayakan.
Pada
hari Minggu (16 November 2025), hujan deras mengguyur Kecamatan Pandanarum
tanpa ampun selama lebih dari 13 jam. Bayangin, tanah yang udah retak diguyur
air segitu lamanya. Tekanan air pori di dalam tanah naik drastis, bikin tanah
jadi bubur yang siap meluncur ke bawah. Dan pada pukul 15.45 WIB mimpi buruk
itu terjadi. Sore itu, saat warga lagi istirahat dan sebagian keluar rumah
karena hujan reda, tebing di atas Dusun Situkung runtuh. Rekaman video yang
diambil warga pun mendadak viral di media sosial. Bencana mendadak itu berdampak
parah pada permukiman, pertanian, dan peternakan, menyebabkan ratusan warga
mengungsi, puluhan rumah rusak, ratusan ternak tertimbun, dan lahan pertanian
serta irigasi hancur, dengan area terdampak mencapai sekitar 10 hektar dan
luncuran material hingga 1 km.
Kepanikan
massal melanda. Semua masyarakat berlarian masing masing mencari selamat,
cerita kalau mereka nggak punya pilihan lain selain lari. Karena jalur biasa
udah tertutup lumpur atau terlalu bahaya, ada sebagian warga yang lari masuk ke
dalam hutan dan area kuburan desa buat nyelamatin diri. Kebayang nggak ?
Mereka
bertahan di sana sampai akhirnya ditemukan dan diidentifikasi oleh tim SAR beserta
relawan pada malam harinya. Mereka baru bisa dievakuasi dalam kondisi shock
berat, basah kuyup, dan penuh lumpur pada keesokan harinya melalui jalan hutan
yang memutar dengan waktu tempuh mencapai 1,5 jam. Respect setinggi-tingginya buat mental baja
mereka.
Hari
Senin, 17 November 2025 operasi evakuasi dimulai. Pandanarum mendadak
kedatangan ratusan orang dari berbagai penjuru, jalanan macet, banyak orang
dengan berbagai atribut tiba-tiba terlihat di sana. Mulai dari pasukan orange,
semi orange, TNI berbaju hijau, TNI berwarna abu abu, orang-orang yang
bersliweran membawa kamera dan alat perekam, drone terbang dimana mana. Sesuatu
yang jarang terjadi di sana.
Sebagian tim BPBD, SAR dan relawan mulai memetakan area longsor, lainnya ada yang mulai melakukan pendataan masyarakat terdampak, ada juga yang bergerak menyisir hutan untuk mencari penduduk yang mengungsi disana.
Kantor
Kecamatan Pandanarum berubah menjadi Posko Induk penanganan bencana, Dapur
Umum, Gudang Logistik dan Media Center. Semua bergerak, bersinergi dan
menyamakan tujuan, Penanganan Maksimal.
Satu
hal yang menjadi kendala dalam proses pencarian korban adalah factor cuaca yang
tidak bersahabat dan kontur tanah di sana yang memang "ngeri-ngeri
sedap". Menurut PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi), di daerah itu punya struktur geologi sesar dan jenis tanah
pelapukan yang gampang banget rontok kalau kena air jenuh. Dan inilah yang
menjadi penyebab luasnya area longsoran.
Sampai
hari ke 4 (Rabu, 19 November 2025), pencarian korban masih belum bisa dilakukan
secara maksimal. Meskipun sudah banyak pejabat yang datang dan memerintahkan
untuk segera melakukan pencarian (bahkan dengan alat berat sekalipun), alam
tetap tidak bisa dilawan. Kata teman teman BPBD, konyol rasanya kalau sampai
terjadi tim penyelamat malah diselamatkan. Betul juga kan ?
Tapi diluar itu semua, tim non lapangan tetap bergerak tanpa henti. Terus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi Masyarakat terdampak, plus para petugas dan relawan di lapangan. Dapur umum tetap mengebul, pendataan logistic dan bantuan yang masuk dan keluar tetap dilakukan dengan cermat, perbaikan sarana dan prasarana termasuk transportasi, jalur evakuasi bahkan fasilitas medis dipercepat.
Hebat….
Kamis
(20 November), Perlahan tapi pasti, korban-korban mulai ditemukan. Setelah
melalui proses rekayasa cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pencarian
besar besaran dimulai. Dengan melibatkan 18 alat berat (excavator) tim lapangan
menyisir Lokasi terjadinya longsoran sesuai dengan data yang sudah dibuat tim BPBD Banjarnegara.
Satu
demi satu korban mulai ditemukan.
Ada
satu hal yang unik dalam proses pencarian ini, muncul sosok “indigo” yang juga
ikut dilibatkan dalam proses pencarian jenazah. Rival Altaf namanya. Di
lapangan beberapa kali dia menunjukkan Lokasi diduga terdapat jenazah yang
masih tertimbun tanah, dan hampir semuanya tepat.
Saking sulitnya medan dan banyaknya korban yang belum ketemu, operasi SAR yang harusnya 7 hari diperpanjang 3 hari lagi. Dan puncaknya adalah di hari terakhir atau hari ke-10, Selasa (25 November 2025), tim SAR gabungan berhasil menemukan lima korban yang semuanya berasal dari sektor A2 (sektor A Worksite 2). Kelima korban yang ditemukan berada di sektor A2 merupakan satu keluarga yang berdasarkan kesaksian kerabat korban, mereka terlihat berlari untuk menyelamatkan diri namun tidak berhasil dan terjatuh di sisi kanan jalan setapak depan rumah.
Dengan
ditemukan jasad 5 orang ini, maka jumlah total korban longsor yang telah
dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia mencapai 17 orang dan 11 orang tidak
ditemukan.
Upacara
penaburan bunga berjalan dengan haru, hampir semua orang yang hadir tidak kuasa
menahan air mata. Ada perasaan haru, sedih, lega dan beragam perasaan yang
bercampur menjadi satu seiring rintik hujan yang ikut turun seolah semesta
turut berduka.
So,
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari bencana
ini ?
Bencana
Situkung ini jadi tamparan keras buat kita semua soal lingkungan. Banyak hal
yang perlu kita sadari dan pertimbangkan.
- Geografi Kita Rawan : Kita tinggal di Ring of Fire. Tanah di Banjarnegara emang subur, tapi juga rapuh.
- Pentingnya Mitigasi : Retakan tanah sehari sebelumnya itu warning. Ke depannya, sistem peringatan dini harus lebih kenceng lagi biar warga bisa evakuasi SEBELUM longsor kejadian, bukan SAAT kejadian.
- Solidaritas : Aku salut banget sama relawan. Dari yang masak di dapur umum sampai yang nyangkul lumpur, kalian pahlawan!
Yang terakhir,
kita semua harus peka dan peduli sama tanda alam !
Tembakau Lembutan Bansari, eksistensi tradisi asli tembakau Temanggung
Kalau ngomongin Temanggung, pasti banyak orang langsung kepikiran sama tembakau.
Yup, kabupaten di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini memang udah terkenal sebagai “surga tembakau”. Aroma khasnya bisa bikin siapa aja yang nyium langsung kebawa suasana pegunungan yang adem dan asri. Tapi, ternyata bukan cuma soal kualitas tembakaunya aja yang bikin Temanggung terkenal. Ada juga tradisi unik yang masih dijaga sampai sekarang, salah satunya adalah tembakau lembutan dari Desa Bansari.
Mungkin banyak yang masih asing sama istilah “lembutan”.
Jadi gini, lembutan itu sebenarnya salah satu cara atau proses pengolahan tembakau tradisional khas Bansari. Proses ini udah turun-temurun dari leluhur dan dipercaya bisa bikin rasa serta aroma tembakau jadi lebih mantap. Anak muda sekarang mungkin lebih sering lihat tembakau jadi rokok atau cerutu, tapi sebelum itu, ada proses panjang dan penuh makna di baliknya. Dan yang paling asik, tradisi ini bukan cuma sekadar urusan produksi, tapi juga punya nilai sosial, budaya, bahkan spiritual yang kental.
Tembakau lembutan bisa dibilang adalah “signature style” orang Bansari dalam mengolah tembakau. Setelah dipanen, daun tembakau nggak langsung dijemur atau diolah kayak biasanya. Mereka punya teknik khusus : daun tembakau ditumpuk dengan cara tertentu, dibiarkan dalam keadaan agak lembab, lalu melalui proses fermentasi alami. Proses ini bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung kondisi cuaca dan kelembapan.
Kata “lembutan” sendiri diambil dari kata “lembut”, yang menggambarkan tekstur daun tembakau setelah melalui proses ini. Hasil akhirnya, tembakau punya aroma yang lebih dalam, lebih legit, dan punya karakter kuat khas Temanggung yang nggak bisa ditiru daerah lain.
Buat warga Bansari, lembutan bukan sekadar urusan dagang. Ibaratnya, lembutan itu udah kayak ritual budaya. Proses nglembut tembakau biasanya dilakukan bareng-bareng, gotong royong, dan penuh kebersamaan. Bayangin aja, satu keluarga atau bahkan satu kampung bisa ikut bantu ngerjain, mulai dari nyusun daun, ngawasin kelembapan, sampai ngecek kapan waktunya dibuka.
Di momen kayak gini, biasanya suasana jadi rame. Obrolan ngalor-ngidul, cerita masa lalu, sampe candaan receh khas orang kampung bikin pekerjaan yang capek jadi terasa ringan. Jadi, ada semacam nilai kebersamaan dan silaturahmi yang tumbuh dari tradisi ini.
Nggak berhenti di situ, banyak juga yang percaya kalau nglembut itu harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh rasa syukur. Ada semacam doa-doa kecil yang dipanjatkan supaya hasilnya bagus. Kalau tembakau lembutan jadi berkualitas, otomatis harga jualnya naik, dan itu berarti rejeki buat banyak keluarga.
Kenapa tembakau lembutan Bansari begitu istimewa? Lokasi geografis punya peran besar. Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, pas banget di lereng Gunung Sumbing. Cuaca sejuk, tanah subur, dan kabut yang hampir tiap hari nyelimutin desa bikin tembakau di sini punya cita rasa unik.
Bayangin aja, tiap pagi petani berangkat ke ladang dengan pemandangan sunrise di atas gumpalan awan yang menghampar sangat luas plus pucuk pucuk gunung (Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Telomoyo) yang berdiri gagah di kejauhan. Sambil jalan, mereka bisa lihat hamparan kebun tembakau yang luas, daunnya hijau mengkilap, basah kena embun. Suasana kayak gini yang bikin tembakau Bansari punya cerita dan daya tarik tersendiri.
Di era sekarang, banyak anak muda desa yang lebih tertarik merantau ke kota daripada melanjutkan tradisi leluhur. Tapi, ada juga lho generasi muda Bansari yang tetap bangga sama warisan ini. Mereka mulai bikin konten di media sosial tentang proses nglembut, bahkan ada yang bikin vlog atau TikTok biar orang luar tahu kalau tembakau Bansari itu bukan hal biasa.
Selain itu, beberapa komunitas anak muda di Bansari juga udah mikirin gimana caranya biar lembutan tetap eksis tapi nggak ketinggalan zaman. Misalnya, ada yang coba bikin branding tembakau lembutan dengan kemasan modern, atau ikut pameran produk pertanian. Jadi, warisan budaya tetap jalan, tapi bisa juga masuk pasar global.
Kalau dilihat sepintas, lembutan mungkin cuma soal cara ngolah tembakau. Tapi juga identitas, jati diri, sekaligus kebanggaan masyarakat Bansari. Bayangin kalau tradisi ini hilang, berarti hilang juga satu cerita penting dari budaya Temanggung.
Apalagi, di tengah arus globalisasi, orang makin mudah ninggalin hal-hal tradisional. Nah, justru lembutan ini bisa jadi salah satu daya tarik wisata budaya. Bayangin aja kalau ada paket wisata “Belajar Nglembut di Bansari” — turis bisa langsung ikut prosesnya, dengerin cerita dari petani, sampai ngerasain suasana asli desa pegunungan. Seru banget kan?
Tradisi tembakau lembutan di Bansari bukan cuma tentang cara mengolah daun tembakau, tapi juga tentang cara hidup, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakatnya. Dari proses sederhana ini, lahirlah produk berkualitas yang udah terkenal sampai luar negeri.
Dan yang paling penting, lembutan jadi pengingat buat kita semua bahwa warisan leluhur nggak boleh dianggap sepele. Di balik aroma wangi tembakau, ada kerja keras, doa, dan cerita panjang yang bikin Bansari layak disebut sebagai salah satu pusat budaya tembakau paling keren di Indonesia.
Jadi, kalau suatu saat kamu main ke Temanggung, jangan cuma hunting kopi atau wisata gunung aja. Sempetin mampir ke Bansari, ngobrol sama petani, dan ngerasain langsung bagaimana tradisi lembutan bikin tembakau jadi “hidup”. Siapa tahu, kamu pulang-pulang nggak cuma bawa oleh-oleh tembakau, tapi juga bawa cerita dan pengalaman yang nggak bakal terlupa.
Workslop, berantakannya dunia kerja akibat AI
Pernah dengar istilah workslop?
Ini bukan typo dari workshop kok gaes, tapi sebuah istilah baru yang lagi ramai dibahas gara-gara maraknya penggunaan kecerdasan buatan alias AI.
Apa itu ?
Workslop merujuk pada kondisi di mana banyak pekerjaan jadi campur aduk, aneh, atau terasa “sloppy” karena hasilnya kebanyakan diproduksi sama AI tanpa filter kualitas yang jelas. Jadi kebayang kan, kalau dulu kita bisa bedain mana karya manusia dan mana yang asal-asalan, sekarang batasnya makin kabur.
Kenapa bisa terjadi sih ? Jelas Fenomena ini lahir karena AI makin gampang diakses.
Bagaimana nggak coba, kalian mau bikin artikel? Tinggal ketik prompt. Desain logo? Sekali klik jadi. Bikin apikasi atau website, tinggal tuangin ide jadi sebuah kalimat trus tekan enter, done. Video, musik, bahkan suara orang pun bisa direkayasa. Hasilnya, konten membanjiri internet dengan kecepatan luar biasa.
Dari satu sisi, ini keren banget—semua orang jadi bisa “berkarya” tanpa harus punya skill teknis. Tapi di sisi lain, lautan konten ini bikin kualitas jadi campur aduk. Ada yang bener-bener niat, ada juga yang cuma sekadar upload demi eksis. Nah, tumpukan konten campur-campur inilah yang disebut workslop.
![]() |
AI sekarang tuh ibarat mie instan. Praktis, murah, gampang dibuat, bisa langsung kenyang. Semua orang bisa bikin sesuatu dalam hitungan menit. Bayangin feed media sosial sekarang seperti tulisan, gambar, dan video yang kita lihat setiap hari sebagian besar mungkin udah disentuh atau bahkan dibuat full sama AI. Nggak perlu kursus bertahun-tahun atau punya skill spesial dulu.
Keren? Banget. Tapi masalahnya, kalau semua orang bikin konten dengan cara yang sama, hasilnya jadi kayak banjir—airnya banyak, tapi keruh.
Kadang kita nemu artikel yang keliatan rapi tapi isinya datar, atau gambar yang wow tapi pas diperhatiin ada jari tangan yang jumlahnya aneh. Ini bikin kita sebagai konsumen jadi harus punya “radar” lebih tajam buat milih mana yang layak dinikmati dan mana yang cuma “sampah digital”. Ada gambar super realistis yang bikin takjub, ada juga yang bikin ngakak karena aneh. Ada tulisan yang keliatan profesional tapi ternyata muter-muter tanpa isi. Di situlah workslop terjadi, hasil kerja yang serba cepat tapi belum tentu berkualitas.
Bahkan sebuah "karya" AI bisa merusak kondusifitas negara seperti yang beberapa waktu lalu terjadi di negara kita. Tepatnya ketika hasil olah digital AI menjadi fitnah bagi seorang menteri, yang kemudian menjadi salah satu poin penyulut demo besar-besaran, sampai berakibat jatuhnya korban jiwa dan mundurnya sang menteri.
Serem ? jelas....
Nah, pertanyaan pentingnya, workslop ini sebenernya masalah atau kesempatan?
Jawabannya : bisa dua-duanya. Kalau cuma jadi penonton, ya kita bakal kewalahan milih mana yang bener-bener bagus dan mana yang cuma sampah digital. Tapi kalau kita jadi pemain, justru ada peluang gede di sini.
AI itu cuma alat. Sama kayak gitar, pensil, atau kamera. Yang bikin hasilnya bernilai itu bukan alatnya, tapi siapa yang pakai. Kalau asal-asalan, ya hasilnya juga asal. Tapi kalau dipaduin sama kreativitas manusia, bisa jadi karya keren yang nggak kepikiran sebelumnya.
![]() |
| #hanyaContohsaja |
Ini bagian yang paling menarik, AI udah jadi sumber penghasilan buat banyak orang. Nggak cuma buat perusahaan besar, tapi juga anak muda biasa yang kreatif. Contohnya :
-
Side hustle cepat : bikin artikel, desain logo, atau edit video buat klien. Dengan bantuan AI, waktu pengerjaan jadi lebih singkat, hasilnya tetap oke.
-
Konten kreator : bikin channel YouTube dengan AI voice, bikin podcast pakai suara sintetis, atau produksi konten harian tanpa harus repot. bahkan mengaransemen ulang lagu lama pake gaya kita (misal lagu pop mellow diubah jadi gothic rock bahkan reggeae)
-
Digital product : bikin e-book, template desain, atau bahkan kursus mini berbasis AI, terus dijual di marketplace.
-
Bisnis utama : ada juga yang full-time kerjaan utamanya pakai AI. Misalnya, jadi konsultan AI buat bisnis kecil, bikin aplikasi sederhana, atau jadi kreator yang rutin jual karya digital.
Inspiratif banget kan? Dulu butuh modal gede buat mulai bisnis kreatif, sekarang dengan laptop dan koneksi internet aja udah bisa jadi mesin uang.
Meski AI bisa bikin segalanya jadi cepat, ada satu hal yang belum bisa dia tiru dengan sempurna, rasa manusia. Storytelling, emosi, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai unik itu cuma bisa lahir dari orang asli. Itulah kenapa karya yang bener-bener ngena biasanya tetap ada sentuhan manusianya.
Jadi kuncinya adalah jangan cuma ngandelin AI buat semua hal. Pakai dia sebagai alat bantu, tapi tetap kasih warna pribadi di setiap karya. Biar nggak tenggelam di lautan workslop, kita harus jadi navigatornya.
Kalau dipikir-pikir, workslop memang bikin dunia kerja kelihatan agak berantakan. Tapi justru di balik “kekacauan” ini ada peluang emas. Siapa pun bisa belajar, bikin karya, bahkan dapet penghasilan dari AI. Pertanyaannya tinggal: mau sekadar jadi penumpang di tengah banjir konten, atau jadi kapten kapal yang ngarahin ke jalannya sendiri?
AI udah ada di sini, nggak mungkin balik lagi. Tinggal kita yang milih ikut hanyut sama workslop, atau justru manfaatin buat bikin karya yang beda, punya nilai, dan bikin hidup lebih seru.
Contoh lain editan AI yang berbahaya, terutama buat saya. Tapi disclaimer dulu yaa..... semua foto sudah diutak atik pake bantuan GeminiAI. bisa dibuktikan adanya tanda air khas GeminiAI di pojok kiri bawah setiap foto.
DCF XV 2025, Sederhana dan Full Budaya
Ada yang berbeda dari
penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke XV tahun 2025 ini. Kali ini panggung
yang dibangun panitia tidak se "nyeni" tahun tahun sebelumnya, malah
lebih seperti panggung konser biasa. Tapi itulah menariknya DCF tahun ini.
Jujur, setelah sempat
"puasa" dan simpang siur kabar karena proyek penataan kawasan di
tahun sebelumnya, kembalinya DCF di Agustus 2025 kemarin itu rasanya kayak
ketemu mantan yang udah glow up. Ada rasa kangen, ada rasa penasaran,
tapi pas ketemu... ada juga rasa "lho, kok kamu berubah?".
Begini ceritanya ...
Masih mengusung
tema "Back to The Culture" seperti tahun sebelumnya,
DCF ke-15 yang digelar pada 23-24 Agustus 2025 lalu benar-benar mengajak kita
kembali ke akarnya. Lokasinya masih sama, di Dataran Tinggi Dieng, Desa
Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Hanya saja kali ini ada 4 venue yang
sama sama dilabeli "utama". Yaitu Venue Pandawa, Venue
Gatotkaca, Venue Arjuna dan Venue Komplek Candi Arjuna.
Kedengarannya berat dan
serius ya? Tapi kenyataannya, tema ini bener-bener ngubah wajah DCF yang selama
ini kita kenal.
Menurut mas mas panitia yang sempat ngobrol, hal ini
dimaksudkan agar terjadi pemerataan hiburan dan bisa mengakomodir banyaknya
kesenian yang ditampilkan pada momen itu. Sebut saja tari Ndolalak, Tari
Lengger Patak Banteng, Keroncong, Kubro Siswo, dan Kethoprak Conthong, juga
Tari Rampak Yakso, Reog Bimolukar, Kesenian Jepin, dan lain sebagainya yang
tampil menghibur masyarakat Dieng dan pengunjung tanpa harus memikirkan untuk
membeli tiket.
By the way, berikut sedikit pendapatku (dari sudut pandang pribadi tentunya) tentang hal hal yang ada di seputaran Dieng Culture Festival XV tahun 2025 yang lalu :
YANG BIKIN JATUH CINTA
(PLUSNYA)
1. Wajah Baru Dieng yang Lebih "Glowing"
Harus diakui, absennya
DCF di tahun sebelumnya demi proyek penataan kawasan itu worth it. Wajah
kawasan Candi Arjuna sekarang jauh lebih rapi. Trotoar lebih manusiawi buat
pejalan kaki (meskipun tetep aja penuh sesak pas acara), dan penataan venue
terasa lebih terkonsep. Nggak ada lagi tuh kesan kumuh yang terlalu parah di
area utama.
2. "Symphony Dieng" yang Bikin Merinding
Oke, ini poin yang tricky.
Banyak yang sedih karena format musiknya berubah (nanti kita bahas di poin
minus), tapi harus diakui, konsep Symphony Dieng kemarin itu magis
banget. Mendengar alunan lagu dari Nugie, Tiara Andini, Monita Tahalea dan orkestra
dari Gamelan Orkestra Prawiratama dari Yogyakarta di tengah suhu 5 derajat
celcius, dibalut kabut tipis, itu rasanya... ethereal. Mewah!
Aransemen musik yang
megah, lighting yang cetar membahana berpadu sama mistisnya suasana dataran tinggi bikin bulu kuduk berdiri
(bukan cuma karena dingin, ya!). Ini ngasih experience baru yang lebih
"mahal" dan kontemplatif dibanding sekadar loncat-loncat nonton
konser biasa.
3. Ritual Rambut Gimbal yang Lebih Sakral
Sesuai temanya, "Back to The
Culture", prosesi pencukuran rambut gimbal tahun ini terasa lebih khidmat.
Panitia sepertinya bener-bener mau balikin "roh" acara ini ke
akarnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya ritual ini kadang "ketutup"
sama hingar-bingar panggung musik, kemarin sorotannya bener-bener penuh ke
adik-adik rambut gimbal.
Melihat prosesi jamasan
sampai pelarungan, rasanya kita jadi diingetin lagi kalau DCF itu bukan cuma
soal hura-hura, tapi soal doa dan tradisi leluhur yang harus dijaga. Respect!
4. Pesta Lampion yang Nggak Pernah Gagal
Mau dikata cliché, mau dibilang mainstream,
momen pelepasan lampion itu tetap jadi juara. Titik. Ribuan cahaya kuning naik
pelan-pelan ke langit gelap, diiringi musik syahdu (dan ribuan story
Instagram yang di-upload bersamaan), itu tetap momen terbaik buat healing.
Romantisnya dapet, harunya dapet. Biarpun tangan beku megangin lampion, hati
rasanya anget banget.
YANG BIKIN GARUK KEPALA (MINUSNYA)
1. Tata panggung yang kok gitu ?
DCF tuh selalu identic dengan tata
panggung yang wah. Beberapa tahun terakhir panggung utama di setting sedemikian
rupa megah, nyeni dan ga pernah gagal membuat takjub, lengkap dengan setting
lampu, audio sampai asap buatannya, memanjakan tukang foto seperti kita kita.
Tahun ini, panggung
yang dibuat terkesan biasa saja dan (sori) kayak panggung dangdutan. Ga ada arsitektur
nyeninya. Dalam pikiran baikku ini mungkin karena mengusung konsep sederhana
itu tadi.
Tapi, bukankah nyeni juga
bisa dalam bentuk yang sederhana ?
Ah sudahlah ……
2. Durasi yang "Diskon" (Cuma 2 Hari !)
Biasanya kita
dimanjain sama acara 3 hari (Jumat-Minggu), tapi DCF 2025 kemarin dipadetin
jadi cuma 2 hari (Sabtu-Minggu). Efeknya? Rushed banget! Jadwal jadi
super padat. Baru nafas dikit abis nonton kirab, udah harus lari ngejar open
gate panggung musik.
Rasanya jadi kurang
puas buat explore objek wisata lain di sekitar Dieng. Mau ke Sikunir
ngejar sunrise jadi ragu karena takut telat balik buat acara inti.
Padahal kita udah jauh-jauh ke sana, pengennya sih slow living, eh malah
jadi rushing hour.
3. Ke Mana Perginya "Jazz Atas Awan"?
Ini nih yang jadi perdebatan panas
di tongkrongan traveler. Tahun 2025 ini, branding ikonik
"Jazz Atas Awan" yang santai, jazzy, dan membumi itu rasanya
agak "hilang" atau berubah drastis jadi format orkestra/simfoni tadi.
Buat penikmat lama DCF,
ada rasa kehilangan. Kita kangen duduk lesehan di rumput kering, dengerin
musisi jazz indie atau pop populer yang bikin kita nyanyi bareng santai
sambil nyeruput purwaceng. Format baru kemarin memang keren, tapi rasanya jadi
agak terlalu "formal" dan kaku. Kurang chill gitu lho, Genks.
Banyak yang bilang, "DCF tanpa Jazz Atas Awan itu kayak makan mie ongklok
tanpa sate sapi, enak tapi ada yang kurang.".
4. Masalah Sampah (Lagi dan Lagi)
Katanya "Back to Culture", yang harusnya
juga berarti mencintai alam. Tapi sedih banget pas bubaran acara lampion atau
konser, sampah plastik bekas jas hujan sekali pakai dan botol minum masih
berserakan.
Meskipun panitia udah
teriak-teriak soal "Aksi Dieng Bersih" dan nyediain tong sampah,
kesadaran kita sebagai pengunjung kayaknya masih perlu "direvolusi".
Malu dong sama lampionnya yang udah terbang cantik, masa ninggalin jejak kotor
di bawahnya?
SO, APAKAH DCF BERIKUTNYA MASIH LAYAK DITUNGGU?
Absolutely, YES.
Meskipun ada beberapa
perubahan format di tahun 2025 yang bikin kaget (terutama soal musik dan
durasi), Dieng Culture Festival tetap punya magisnya sendiri. Atmosfer
"Negeri di Atas Awan" itu nggak bisa diduplikasi di tempat lain.
Dinginnya, kabutnya, keramahan warga lokalnya, dan kentang goreng Dieng-nya
(ini penting!) selalu bikin rindu.
DCF 2025 mungkin adalah
masa transisi. Panitia dan warga lokal lagi nyari format terbaik buat
nyeimbangin antara pariwisata massal dan pelestarian budaya yang sakral.
Buat kamu yang kemarin
belum sempat ke sana, nabung deh buat tahun depan. Siapin fisik, siapin mental
buat macet, dan yang paling penting: turunkan ekspektasi soal konser hura-hura,
tapi naikkan ekspektasi buat pengalaman budaya yang menyentuh jiwa.
Sampai ketemu di Dieng
(semoga) tahun depan, dengan jaket yang lebih tebal dan hati yang lebih siap
jatuh cinta lagi!
Salam dari ketinggian
2.093 mdpl.


























