Posted by : ngatmow prawierow 4.16.2014

Malam belum begitu larut saat Thomas beringsut meninggalkan singgasana (kalau boleh disebut demikian)andalannya. Sambil mengucek matanya yang mulai terasa pegal, dia berjalan untuk menuju perempatan di ujung gang rumah kosnya demi menuruti kemauan "anak buah" di dalam perut buncitnya yang sudah sejak tadi berdemo dan menimbulkan pergolakan hebat.


Pantas saja jika matanya terasa pegal, sebab sejak sore hari kedua mata itu dipaksanya melotot di depan komputer untuk mengejar dead line laporan keuangan kabupaten yang tinggal beberpa hari lagi harus disetorkannya kepada pemeriksa. Samar samar saat dia bangkit, sempat terdengar hembusan angin dan suara desahan lega dari kursi sofa reot berwarna ungu itu seolah sedang bernafas lega setelah baru saja terbebas dari "beban berat" yang tidak terkira rasanya. Sebagai tanda saking lamanya Thomas menancapkan pantat bundarnya di sana....

Hanya butuh kurang dari lima menit sampai juga Thomas di tujuan,di perempatan itu ada sebuah warung tenda yang menjual nasi goreng, mie goreng, nasi rebus, mie rebus, nasi bakar, mie bakar dan bahkan es teh bakar....sangar....

Pak Tamyis, begitu nama pemilik warung ini biasa dipanggil, adalah seorang pria berumur 45 tahun dengan tubuh kurus kering, sedikit kumis tipis, rambut yang lurus namun tidak beraturan dan selalu ada asap rokok mengepul dari mulutnya, selain itu dia adalah orang tua tunggal dari seorang gadis super manis dengan senyum paling menawan yang pernah ada di ujung gang itu. Hebatnya lagi, mereka adalah tukang begadang yang rela mengurangi jam "hidupnya" demi menunggui lapak dagangannya habis walaupun sampai jam berapapun.

Next....
singkat cerita, saat makan dengan lahapnya, Thomas sempat melihat ada seorang ibu beserta dua orang anak kecil melintas di depan warung tenda itu. Mereka berhenti sejenak menatap warung yang sedang ramai pengunjung itu. Ada wajah hampa dan tanpa harapan di wajah mereka. Tidak lama setelah itu mereka pergi, berjalan menyeberangi perempatan dan duduk di salah satu sudut toko yang ada di sana.

Malam pun kembali berjalan dengan tertib.....
Jam di tangan Thomas sudah menunjukkan angka 12 pas. Dia masih sangat betah berada di warung tenda itu dan belum ada tanda tanda akan beranjak pergi. Padahal Pak Tamyis sudah emosi banget lihat bocah tambun ini duduk ngobrol disitu sama anak gadis semata wayangnya, Martini, padahal makanan pesanannya sudah ludes hampir sejam sebelumnya.

" Bu....sini....." teriak pak Tamyis tiba-tiba di luar tenda.

Thomas yang sedang asik ngobrol sedikit mengernyitkan dahinya mendengar teriakan lelaki bertubuh mungil langganannya itu. Begitu juga dengan si manis Martini yang kaget dengan apa yang dilakukan bapaknya.
Tidak berapa lama muncul ibu tadi lengkap dengan kedua anaknya yang sudah kelihatan mengantuk. Wajah mereka pucat seperti menahan lapar.
" Bagaimana pak ? bapak memanggil saya ? " tanya ibu itu
" Sampeyan belum makan mbok bu ? ini saya ada sedikit nasi goreng. monggo dimakan saja. " jawab Pak Tamyis lengkap dengan logat Banyumasnya sambil mengulungkan dua piring nasi goreng anget kepada ibu itu.
" Wah jangan pak, tidak usah.... terima kasih. Wong sampeyan juga lagi jualan kok. Nanti kalau rugi bagaimana ? " jawab ibu itu menolak dengan halus.
" We lah....jyan, gapapa bu. wong saya alhamdulillah hari ini lagi banyak rejeki. Lumayan rame. ini buat ibu dan anak ibu....tidak apa apa....lagipula hanya dua piring kok, gak bikin saya rugi lah.....monggo ini...."
" Tapi saya tidak punya uang buat membayar pak......"
" Sudah bu, tidak apa-apa.... saya ikhlas. Anggap saja rejeki dari Yang Di Atas lewat saya bu..... "
" Alhamdulillah.....Terima kasih sekali pak....." Sahut ibu itu terbata-bata. Sambil menerima piring itu dia memanggil anaknya yang duduk di trotoar seperti bingung apa yang sedang terjadi. " Le, makan dulu ini, kita dapat rejeki....."

Dan merekapun makan dengan lahapnya seperti orang sedang membalaskan dendam kesumat.

Thomas dan beberapa orang yang sedang makan tertegun melihat adegan itu. Mungkin apa yang mereka pikirkan saat itu sama. Alangkah beruntungnya mereka dibandingkan dengan ibu beserta kedua anaknya yang sedang makan di pojok warung sana dan betapa mulianya hati pak Tamyis yang dengan sukarela memberikan sebagian barang dagangannya demi perasaan kemanusiaan.

" Maaf pak, kami tidak bisa membayar makan, biarlah kami mencuci piring disini untuk mengantinya ... " kata ibu itu tiba tiba. Tangannya memegang dua buah piring yang telah bersih tanpa ada satu butir nasi sekalipun.

" Busyet....cepet banget....ini makan apa nglonggong" komentar Thomas dalam hati

" Walah jangan....nggak usah bu, itu tugasnya anak saya. Nanti dia mau ngapain kalo sudah dicuci ibu. "
" Tapi pak..."
" Sudahlah bu, insyaalloh saya ikhlas lahir bathin kok. Lha sampeyan ini mau kemana, dari mana dan kok bisa ada di sini ?"
" Begini pak, kami ini berasal dari Yogyakarta dan sebenarnya mau ke ibu kota. Tapi di jalan tas saya dijambret orang. Padahal hape, dompet dan sedikit uang yang saya pegang ada di situ semua. Sekarang kami bingung mau bagaimana pak. Harta kami sudah lenyap. Dan kami bingung bagai mana cara kami pulang atau meneruskan ke ibu kota" cerita ibu itu sambil terbata-bata.....

" Sudah bu, jangan sedih atau bingung, malam ini sampeyan bisa tidur di rumah saya. Nanti biar ditemeni anak saya itu..."
" Lha bapak bagaimana ? apa istri tidak marah ?"
" Istri saya sudah meninggal kok bu, saya hanya hidup sama anak semata wayang saya itu. Lagipula saya biasanya di sini sampai pagi kok. Jadi sampeyan bisa istirahat di rumah saya..."
" Terimakasih sekali bantuannya pak....saya tidak tau harus ngomong apa lagi, terimakasih "
" iya bu...."

Setelah beberapa saat nampak ragu dan perlu sedikit bujukan dari Pak Tamyis, akhirnya mereka setuju untuk ikut bersama Martini pergi menuju rumah penjual nasi goreng itu yang jaraknya tidak jauh dari warung tenda yang kini hanya tertinggal 4 orang pengunjung beserta 1 makhluk aneh bertubuh bulat yang sedang tercengang tidak tahu harus ngomong apa.

Thomas pun beranjak untuk membayar tagihan makannya. Pada saat yang sama seorang pengunjung juga berdiri dan membayar makanannya. Tangannya memegang selembar uang seratus ribuan.

" tidak ada kembaliannya pak, yang kecil saja, wong hanya 20 ribu kok "
" bukan pak, nggak usah dikembalikan....ini sekalian untuk ibu dan dua anak itu kok, malam ini dan besok pagi....setuju kan ?
" we lhah.... jangan pak, nanti saya malah jadi nggak ikhlas lagi. beneran, jangan... "
" bener nih pak ? "
" saestu pak....saya ikhlas lahir bathin kok "
" benar benar mulia hati bapak ini, jarang lho ada orang kaya bapak ini.... hemm kalau begitu ya sudah pak. saya permisi dulu. Oya besok saya pesan nasi goreng bungkus yang jangan terlalu pedas ya. Sekitar 30 bungkus deh.saya ambil habis maghrib. oke pak ?"
" Bener itu pak ? alhamdulillah...siap ....insyaalloh akan saya siapkan. Terimakasih pak...."

Dan berlalulah orang itu dengan meninggalkan Thomas yang masih belum bisa bergerak dengan mulut yang ternganga. Semakin takjub.

Dalam hatinya Thomas hanya bisa mengandaikan bahwa apabila semua orang di negeri ini berlaku dan bersifat seperti ketiga orang yang ditemukannya malam ini, bangsa ini akan semakin besar dan tidak akan ada lagi yang namanya "keprihatinan bangsa" seperti yang terjadi di masa sekarang ini.

Hufftt.....semoga akan segera menjadi kenyataan

Comments
2 Comments

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. tulisan yang bagus, alangkah keterlaluan bila aku merasa kurang bersyukur atas apa yang Alloh berikan padaku selama ini... (jadi spirit hidup dan inspirasi) good

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kunjungannya....semoga bermanfaat

      Hapus

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow