Posted by : ngatmow prawierow 2.19.2015

Masih inget dalam ingatan saya sebuah penggalan kisah ketika masih berbaju putih biru. Waktu itu ada seorang teman karib yang  bermata sipit mengajak saya ke rumahnya di daerah Kampung Cina (bukan nama sebenarnya - saya lupa nama daerahnya, tapi yang jelas bukan itu nama daerahnya hehehe....). Awalnya saya sempat menolak juga dengan alasan bukan jam kosong dan tidak mau bolos sekolah (jyahahaha.....seingat saya lho, tapi kayaknya bukan begitu kejadian sebenarnya), namun karena ada kata kunci khusus yang diucapkan si Cui (sebut saja begitu), maka saya dan beberapa orang teman lainnya dengan semangat 45 segera berangkat menuju lokasi.

Berbekal kemampuan panjat dinding yang cukup mumpuni dan lari marathon 10 KM akhirnya sampai juga kami ke rumah si Cui yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.
Rumah keluarga Cui dari depan kelihatan biasa biasa saja. tidak ada yang istimewa, hanya ada satu gantungan berwarna merah yang mirip kertas pengusir vampire pada film horor cina tergantung di bawah lampion di depan pintu.

Cui dan keluarganya merupakan keluarga pedagang yang cukup sukses di daerah kami. Hampir seluruh bidang kehidupan yang bisa diperjual belikan mereka punya tokonya. Pakaian, bahan makanan, perminyakan, rumah makan, toko kelontong bahkan onderdil kendaraan mereka ada. Dan yang membuat saya takjub waktu itu adalah mereka semuanya memiliki satu kemiripan yang tingkat keakuratannya mencapai 80 persen. Matanya mirip semua.....

" Weh kok sepi cu ? katanya banyak makanan ?" tanyaku waktu itu
" Santai W, masuk aja dulu ... " jawabnya singkat sambil tersenyum....

Ketika pintu dibuka, saya dan teman teman yang lain dibuat takjub  dengan apa yang kami jumpai di dalam sana. Banyak ornamen berwarna merah dan emas hampir di seluruh penjuru rumah. Lampu, lilin, hiasan dinding, balon, bahkan makanan berwarna merah dan emas. Di ruang tengah ada satu meja besar terletak di pojok ruangan berisi aneka makanan yang membuat air liur saya meleleh dengan derasnya, sedangkan di seberangnya, di sudut ruangan yang lain ada sebuah tempat lemari dengan beberapa ornamen bertuliskan cina dan 3 batang sapu lidi (belakangan saya baru tahu bahwa lidi tersebut adalah hio) yang dibakar di depannya. Semua orang yang ada di rumah itupun mengenakan baju yang berwarna sama.Merah.
Aroma aneh pun tersebar di seluruh penjuru rumah.Namun dapat langsung diabaikan begitu sepiring besar nasi dan lauk pauk sudah berada di tangan.

Waktu itu saya sempat bertanya kepada Cui, " ada acara pa ini ? lagi punya hajat ?"
" Lagi Imlek W .... " jawabnya singkat sambil mengunyah makanan
" Owh..... " sahut saya dengan lagak sok tau tanpa mengerti arti ucapan si Cui sesungguhnya.... - end of flash back -


Ya, begitu kira kira apa yang terjadi pada keluarga keturunan Tionghoa pada waktu saya masih berpakaian putih biru dulu. Minoritas dan (kalau boleh dikatakan tertindas), oleh sistem yang berlaku. Padahal kalau didalami dan ditelaah lebih jauh, bukan seperti itu isi yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 yang notabene menjadi dasar negara kita, Indonesia. Iya nggak ?

Imlek, sebuah kata yang asing di telinga saya dan bahkan tidak saya mengerti artinya waktu itu, selalu dirayakan oleh keluarga si Cui secara pribadi dan hanya berbatas keluarga, juga orang dekat yang dipercaya saja. Dan itu terjadi karena keterbatasan dan segala batas aturan yang ada.

Namun sekarang semua itu sudah berubah 180 derajat semenjak tahun 2000 lalu waktu Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95. Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah ". Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi dan merayakan apa yang menjadi hari besar mereka. Termasuk Imlek itu.

Yup, seperti yang bisa dilihat sekarang ini, Perayaan Imlek alias  Perayaan Tahun Baru Cina digelar secara besar dan bahkan menjadi Hari Besar Nasional. Ditandai dengan merahnya angka tanggal di kalender. Dan itu sangat membantu saya untuk bisa bangun siang seperti hari ini hehehe.......

by the way,"xin nian gong xi, Gong Xi Xin Nian Zhu Da Jia Dou Kuai Le ........." ye....







Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow