Posted by : ngatmow prawierow 8.27.2015

Festival Serayu Banjarnegara kembali digelar di tahun 2015 ini. Dengan mengusung tema "Merawat Sungai Merawat Peradaban", Acara berskala nasional ini diharapkan mampu menjadi salah satu pelopor upaya penyelamatan sungai dengan memadukan tradisi dan budaya demi terciptanya kelestarian sungai.Beberapa kegiatan akan mengisi acaranya seperti Serayu Expo, Pesta Parak Iwak, dan Parade Budaya. Ada pula acara pendukung seperti Banjar Banjir Dawet, Lomba Fotografi, Banjarnegara Bershalawat, dan Kongres Sungai Indonesia(KSI).

Pada Acara yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, serta dihadiri oleh hadir Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, pimpinan DPRD Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banjarnegara ini, ratusan masyarakat nampak memadati Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara dan Stadion Kolopaking Parakancanggah Banjarnegara untuk menyaksikan dan mengikuti pembukaan Festival Serayu Banjarnegara sekaligus Kongres Sungai Indonesia ini sekaligus untuk ikut mencicipi "banjir dawet" yang memang sudah dipersiapkan oleh pemerintah daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Puan mnyampaikan bahwa sungai memiliki peranan strategis bagi kehidupan manusia. Air sungai dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup seperti air bersih, irigasi, transportasi, perikanan, pariwisata serta menjadi sumber pembangkit listrik. Namun kondisi itu berubah saat sungai sudah tidak diperhatikan. Perilaku manusia modern membuat sungai sudah berubah fungsi. Saat ini, sungai tidak lagi diperlakukan sebagai sentra kehidupan yang harus dirawat dan dilestarikan. Namun sungai dirusak dan dicemari dan berubah fungsi lantaran diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, pelimbahan, dan dianggap sebagai salah satu sumber bencana.

‎"Menjadi keprihatinan bersama karena fenomena beberapa dekade terakhir ini, hampir semua sungai telah berubah fungsi. Perilaku manusia moderen justru bertentangan dengan misi peradaban dan keberadaan sungai. Saya mengingatkan kembali bahwa bencana paling banyak terjadi di negara kita yaitu bencana hidrometeorologis dan klimatologis sebesar 80 persen yang berupa bencana banjir, kekeringan, tanah longsor serta gelombang pasang," jelas Puan. "Diperlukan perubahan cara pandang, cara kerja, dan cara hidup kita dalam menjadikan sungai sebagai pusat peradaban, dan menjauhkan sungai dari tempat pembuangan sampah ataupun sebagai sumber bencana," tambahnya *Liputan6(26/8/2015).

Menurut Puan, perhelatan akbar Festival Serayu yang menggabungkan sektor kebudayaan dan lingkungan hidup ini sangat menarik dan mengundang minat wisatawan. Sebab makna dan nilai yang terkandung dalam kedua acara itu sangat tinggi karena menampilkan berbagai atraksi budaya yang menarik. Dan harapannya mMelalui Festival Serayu Tahun 2015 dan Kongres Sungai Indonesia, bisa dilahirkan rekomendasi perwujudan gerakan kedaulatan air, sungai dan perairan sebagai upaya kita dalam membangun sungai sebagai pusat peradaban kehidupan masyarakat Indonesia.

"Saya berharap agar melalui event ini, kita dapat meningkatkan motivasi, kegigihan dan kepedulian dalam pelestarian lingkungan dan budaya, serta mendorong generasi muda untuk bertindak dan berkarya positif dengan berakar pada kebudayaan sendiri," kata Puan.

Beberapa event yang menjadi satu rangkaian Festival Serayu Banjarnegara yaitu :

Kegiatan Festival Serayu diawali dengan diadakannya Kongres Sungai Indonesia (KSI) pada 29 Agustus 2015 dengan mengangkat tema yang sema dengan Festival tahun ini yaitu “Merawat Serayu Merawat Peradaban”. Kongres ini akan diikuti para pemangku dari sungai-sungai besar di Indonesia untuk mengisi acara berupa aksi hijau, ekspresi sungai berupa pidato, monalog, pantomim, teather, tari, dan film. Ada juga pameran dengan peserta dari BPDAS, Balai Besar Wilayah Sungai, Perguruan Tinggi, LSM, Komunitas Sungai, dan perseorangan.
Kongres Sungai Indonesia (KSI) tersebut merupakan yang pertama kali digelar di Indonesia. Tujuan penyelenggaraanya adalah ingin mengenalkan kembali bahwa sejak dahulu sungai selalu menjadi simpul peradaban dari nenek moyang. Namun demikian, saat ini banyak menemui permasalahan tentang pengelolaan sungai dan air. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan tidak adanya regulasi tentang pengelolaan air setelah Undang-Undang Sumber Daya Air dicabut.

Banjarbanjirdawet (26 Agustus 2015), berlangsung di dua tempat yaitu Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara dan Stadion Kolopaking, Parakancanggah Banjarnegara. Dawet ayu yang telah menjadi trade mark Banjarnegara di hidangkan gratis bagi pengunjung dan wisatawan di tengah perhelatan Festival Serayu Banjarnegara. Puluhan pikulan dawet menyajikan aneka jenis dawet seperti dawet lele, dawet lidah buaya, dawet ubi ungu, dawet ganyong, dan lainnya yang murni hasil kreativitas masyarakat Banjarnegara. Dan semua keunikan itu ternyata berhasil menarik ratusan pengunjung untuk ikut menyemarakkan acara pembukaan rangkaian Festival Serayu tahun ini.

Serayu Expo (26 – 29 Agustus 2015), mengambil tempat di Stadion Kolopaking Parakancanggah Banjarnegara. Serayu Expo menghadirkan pameran produksi Usaha Mikro Kecil menengah, produk pertanian, perikanan, peternakan juga akan diramaikan dengan pentas seni yang tidak hanya menampilkan seni tradisional Banjarnegara namun juga seni tradisional dari daerah lain di Jawa Tengah lainnya.

Gelar Seni (15-21 Agustus 2015), digelar di dua tempat Banjarnegara yaitu Balai Budaya dan Stadion Kolopaking. Gelaran seni ini untuk mendukung dan memeriahkan HUT RI dan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara. Ditampilkan beragam seni unggulan daerah berupa kesenian tradisional, seni kontemporer, dan seni modern yang dikemas dalam satu paket menarik.

Lomba Fotografi (26-30 Agustus 2015), Lomba fotografi berskala nasional di gelar kembali di Banjarnegara dengan seluruh kegiatan dalam rangkaian Festival Serayu 2015 sebagai obyek lomba. Beragam event utama dan event pendukung serta sajian pentas seni tradisional, pentas musik yang akan digelar non stop selama Festival Serayu merupakan tantangan bagi penggemar fotografi untuk dapat menampilkan foto terbaiknya dan berkompetisi dalam lomba ini.

Parade Budaya (29 Agustus 2015), bertempat di Alun-Alun Banjarnegara pada malam hari dengan tatanan cahaya yang menarik. Parade yang di gelar malam hari ini menampilkan berbagai kraeativitas seni dan budaya yang diangkat dari tradisi Banjarnegara ini  menjadi satu agenda menarik dan berbeda dalam rangkaian Festival Serayu Banjarnegara. Berbagai tema yang ditampilkan antara lain seperti Batik Carnaval, Dawet Ayu, Brenong Kepang, dan lainnya

Parak Iwak (30 Agustus 2015), berlangsung Sungai Serayu, Singomerto Banjarnegara. Pesta Parak Iwak merupakan bentuk kesadaran untuk nguri-uri merawat dan melestarikan Sungai Serayu, sekaligus rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gelaran Pesta Parak Iwak akan dikemas secara apik, kreasik, unik dan akrab. Wisatawan dapat ikut dalam kegiatan Parak Iwak (berebut menangkap ikan dengan tangan kosong), makan bersama serta menikmati hiburan Seni Budaya Banjarnegara.

Banjarnegara Bershalawat (31 Agustus 2015), berlokasi di Alun-Alun Banjarnegara berupa kegiatan ungkapan rasa syukur dan pujian untuk Sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuram dan kesejahteraan bagi Banjarnegara dengan kegiatan bershalawat.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow