Posted by : ngatmow prawierow 8.17.2017

Kau mainkan untukku 
Sebuah lagu tentang negri di awan 
Di mana kedamaian menjadi istananya 
Dan kini tengah kau bawa Aku menuju kesana ................

Begitu kira kira bait demi bait lagu Negeri Di Awan yang dilantunkan oleh om Katon Bagaskara dan pak Gubernur Ganjar Pranowo malam itu. Malam dimana suhu udara mencapai 3 derajat celcius.

What ? tiga derajat ?
Yang bener aja......

Ya iya lah Dieng gitu ..... kalau di bulan Juli-Agustus itu mah wajar saja. Dan akan selalu terulang di setiap tahunnya. Suer......
Dan kenapa kok om Katon dan Pak Gubernur rela berdingin dingin di Dieng sambil bernyanyi nyanyi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena algi ada pagelaran akbar tahunan warga Dieng yaitu Dieng Culture Festival yang ke delapan tanggal 4 - 6 Agustus 2017 lalu.

Yap, seperti tahun tahun sebelumnya DCF mampu menyedot perhatian ribuan massa untuk berkunjung ke Dieng dan menikmati dinginnya udara malam yang begitu menusuk tulang serta rela mengeluarkan duit 10ribu rupiah demi segelas kopi...... what the f#@k that........

DCF VIII tahun 2017 ini memang punya suasana yang agak berbeda dengan DCF tahun tahun sebelumnya. Terlihat lebih rapi, lebih terencana dan lebih sepi.........
Lho??
Khusus yang point terakhir, ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan sebagai "kambing hitam", salah satunya adalah mahalnya tiket masuk ke area yang mencapai 400ribu OTS. Damn.... !!!

Suasana puncak pesta kembang api dan lampion Jazz Atas Awan 2017

Alrigt..... mari kita ngobrol lebih jauh soal DCF VIII kali ini.
Hal positif pertama yang wajib dan harus kita apresiasi adalah bahwa pelaksanaan kali ini adalah murni swasembada Pokdarwis alias tanpa campur tangan pemerintah......
Kedua, pengelolaan lalu lintas jauh lebih baik dari pada DCF sebelumnya. Hal ini berimbas pada lancarnya arus kendaraan baik yang masuk maupun keluar dari Dieng.
Ketiga, Tempat parkir kendaraan dan "parkir manusia" dalam bentuk camping ground juga sudah tertata rapi (meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada banyak sekali tenda tenda dengan lokasi yang ilegal)

Selanjutnya, alias yang ke empat,  dari sisi acara juga sudah cukup bervariasi baik pada hari pertama maupun hari kedua. Hal ini bisa dibuktikan dengan penampilan grup rebana yang menyanyikan lagu-lagu keagamaan dan pembacaan ayat suci Alquran sebagai pembuka rangkaian acara, panggung Jazz di Atas Awan, Festival Caping dan Ritual Anak Gimbal sebagai acara puncak yang berlangsung pada hari Minggunya di area Candi Arjuna.

Kelima, pada saat pelaksanaan acara acara malam, titik dimana orang berdesak desakan sudah jauh berkurang. hanya pada tempat tertentu saja seperti di depan panggung (dan itupun di luar area tamu penting saja), hal ini kemudian menjadikan wilayah lain di sekitar Dieng relatif lebih sepi..
Enam, petugas keamanan yang selalu stand by penuh dan tanpa ampun dalam mengatasi segala bentuk potensi kerusuhan (ini bisa dibuktikan dengan terjadinya "pembuangan" beberapa orang pengunjung oleh pihak panitia dan keamanan karena mabuk berat di sekitar lokasi utama DCF sehingga meresahkan pengunjung lainnya ke luar area Festival)

Tapi....................Diluar segala hal positif itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan sukur sukur bisa menjadi bahan pelajaran dalam pelaksanaan DCF selanjutnya. Dan tanpa bermaksud mencela atau menghina, hanya bermaksud untuk mengajak kita semua berfikir sambil berbenah diri, berikut beberapa catatan yang saya rasa perlu ditindaklanjuti lebih jauh lagi.......
Pertama,  Harga Tiket yang (saya rasa) terlalu mahal untuk kantong masyarakat ramai macam saye.....400 ribu men...... gila aja....... untuk tiket dengan harga segini, andai saya masih mahasiswa tenu ga akan kuat beli. Paling kalo ke Dieng pun hanya bisa nonton keramaian dan suasananya dari jauh saja. Ga berani deket deket apalagi ikut berdesakan demi dapet fotonya Anji lagi nyanyi pas Jazz atas Awan ........

Kedua, meskipun sudah agak mendingan, saya pikir perlu ada petugas pengatur khusus untuk para pemotret yang berada di barisan depan pada saat ritual puncak pemotongan rambut gimbal di komplek candi arjuna. Kenapa perlu ? sebab banyak sekali tripot, tongsis dan bahkan drone yang pating pencungul di barisan depan dan itu sangat sangat mengganggu barisan fotografer yang ada di belakang (termasuk wartawan yang tidak dapat tempat di panggung).........

Ketiga, kemasan pada saat ritual puncak mungkin perlu sedikit dikemas sedmikian rupa sehingga penonton tidak bosan dan beranjak meninggalkan tempatnya sebelum acara selesai. Seperti kemarin, begitu pemotong ke tiga (Pak Bupati Budi Sarwono dan Wabup Syamsudin)  naik altar, penonton bubar.... nah...... hal itu terjadi karena mereka sudah ilfil duluan dan bosan menunggu menyaksikan ritual yang hanya seperti itu saja.......

Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara

Padahal .......Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi digelarnya kembali Dieng Culture Festival (DCF) 2017. Menurutnya ini kolaborasi penta-helix. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Kulon sebagai komunitas, sukses menginisiasi acara yang terbukti efektif menarik wisatawan.
katanya sih Indirect impact-nya atau media value-nya cukup besar. Dan terbukti dari banyak media asing yang ikut meliput. Beliau sebelumnya juga telah menetapkan Dieng sebagai satu dari empat kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain Borobudur, Sangiran dan Karimunjawa.

Nah ...........

Udah ah ...... itu aja................

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow