Archive for 2018

Karimunjawa dan cerita jatuh hati padanya

Pernah bermimpi piknik naik perahu besar selama lebih dari sejam untuk kemudian berbaring di pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih dan angin yang sepoi sepoi serta background pemandangan yang sempurna buat selfi ....... tapi dengan biaya yang ga akan nguras isi dompet (yang emang pas pasan) ini ?
Ngimpi ?

Hahaha bukan ngimpi gaess.......
Kita bisa kok kayak gitu, jalan jalan tanpa nguras kantong dalam dalam. Caranya ?
Rubah rencana travelingmu (kalau punya hehehe.....) ke Kepulauan Karimunjawa ......

Karimunjawa ?

Yes...... Kalo bahasa ndesonya saya, Karimunjawa Island ......


Karimunjawa merupakan kepulauan yang terletak di Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Laut Jawa, 83 km sebelah Utara Jepara. Karimunjawa pada dasarnya terdiri dari 27 pulau namun tidak semuanya berpenghuni hanya ada 5 pulau saja yang ada orangnya. Dan biasanya hanya pulau utama saja yang dijadikan destinasi tujuan wisata pokok karena hanya disanalah fasilitas (cukup) lengkap bagi wisatawan sudah tersedia.

Karimunjawa memiliki 76 jenis terumbu karang dan 562 jenis ikan hias lho gaes, sehingga tidak salah apabila kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Hal lain yang bisa dinikmati disini adalah hutan mangrove nya yang aduhai serta tempat trekking yang tepat untuk observasi burung. Burung beneran lho ya ..... bukan yang lain hehehe ..........

Konon, kata Karimunjawa berasal dari bahasa jawa " kremun kremun saking tanah jawi" yang kurang lebihnya berarti sesuatu yang samar apabila dilihat dari tanah jawa..........begitu .......

The Carribbean of Java, mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutnya. Disamping karena pasir putihnya, perairannya yang bening, tenang, dan keindahannya yang eksotis, pulau ini bisa membuat kita gagal move on dan selalu pengen balik ke sini lagi...... dijamin.....

Emmm ...... dan itu terjadi pada saya ........ hehehe ...........

Berangkat dari Banjarnegara hari Jumat malam sekitar jam 01.00 alias Sabtu dini hari dengan menggunakan minibus, rombongan kami sampai di pelabuhan penyeberangan di Jepara jam 7.00 alias 6 jam perjalanan (dipotong sholat Shubuh sebentar di Masjid Agung Demak).

Kenapa berangkat sepagi itu ?
Begini gaess, untuk menyeberang ke Karimunjawa hanya ada 2 kapal jenis feri, yaitu Express Bahari dan Siginjai. Keduanya hanya memiliki 1 jadwal keberangkatan tiap hari. Jadi kalau ketinggalan, terpaksa menunggu keesokan harinya. Ini juga menjadi satu faktor penentu berhasil tidaknya kita menyeberang pada hari itu, sebab tiket harus dibeli sendiri on the spot karena belum ada sistem online booking sehingga harus antre dari subuh jika tidak mau kehabisan. Untuk itulah makanya kami menggunakan jasa biro perjalanan, tour and travel. ..... Aman.......

Oya, sebenernya bisa sih kalau kita pengen ke Karimun tanpa harus ke Jepara lebih dulu. Alternatifnya yaitu berangkat dari Semarang (lebih baik pergi di hari Sabtu atau Kamis karena hanya terdapat 1 kapal saja yang berangkat dari Semarang yaitu KMC Kartini). Selain itu ada juga pesawat Cessna yang berangkat dari Semarang di hari Kamis dan Jumat langsung menuju Bandara Dewadaru yang ada di Karimun sana.

Skip ......

Adegan selanjutnya adalah sebelum masuk kapal kami sempat beristirahat di sekitar pelabuhan sambil beristirahat sembari menikmati hembusan angin laut yang semilir asik, dan kemudian bertambah asik lagi ketika di salah satu sudut warung terlihat ciptaan Tuhan yang istimewa dengan rambut lurus sebahu (lebih dikit.....) dijepit pake jepitan rambut warna pink dan membawa sebuah tas traveling warna orange bertuliskan Indonesia off-road eXpedition sedang minum teh sambil ngobrol cantik bersama seorang temannya........hihihi .........menarik.

Tepat pukul 10 pagi, kami masuk kapal cepat dan membelah lautan selama 2 jam perjalanan tanpa sempat merasakan goyangan ombak karena air laut....... sebab rasa capek perjalanan darat mengharuskan kami untuk memejamkan mata. Seketika.......

Dan .......

Tiba tiba kami berhamburan keluar dari kapal bagai seorang bocah disuruh main hujan hujanan. Pemandangan nan indah terhampar di depan mata kami. Air laut yang bening, pasir yang putih serta langit yang membiru seolah menyambut kami di Karimunjawa ....... pokoknya ...... wow


Setelah beristirahat di homestay, kami naik perahu wisata yang sudah dibooking oleh biro wisata kami. Perahu yang hanya muat sekitar 15-20 orang itu dengan cepat membawa kami menuju objek wisata khas Karimunjawa. Bermain di pasir putih Pulau Geleang yang luas dan menakjubkan..... dilanjut snorkling di tengah laut sekitaran Pulau Menjangan Kecil......... dan main air di pantai Tanjung Gelam sambil menikmati sunset yang menyayat hati ...... ehh.......


Sekedar tips sodara sodara, untuk bisa puas menikmati traveling di Karimunjawa yang mengharuskan kita mengunjungi pulau pulau kecil di sekitarnya (ada 27 pulau kecil dengan hanya 5 pulau saja yang berpenghuni), kita bisa menyewa perahu motor dengan tarif sekitar 400–600 ribu. Satu perahu motor bisa mengangkut penumpang maksimal 20 orang. Cocok kalo datang berombongan seperti kami. Kalau kebetulan bepergian dalam grup kecil 2-3 orang dan ingin mengunjungi pulau-pulau kecil sekaligus snorkeling, bisa juga kok kita bisa mengikuti tur yang disediakan oleh penduduk lokal. Biasanya sih kita akan digabung dengan kelompok tur lain (sekaligus kesempatan cari cari pandangan seger lain..... hihihi.....). Tarif berkeliling pulau-pulau dengan perahu, snorkeling, plus makan siang bisa kita dapatkan dengan tarif sekitar 150-200 ribu per orang namun lebih jelasnya, silahkan tanya ke pengelola penginapan tempat bermalam, siapa tahu bisa dapat harga yang lebih murah ....jangan lupa nego lho ya!).


Tips berikutnya adalah ketika kita berda di Karimunjawa, JANGAN MAGER apalagi BAPER.......
Sebab banyak sekali tempat menarik di sekitaran pemukiman penduduk yang sayang untuk kita lewatkan begitu saja.

Contoh kecil nih..... Taman Alon alon Karimun.......
Mungkin yang dimaksud alun alun kali ya, tapi berhubung tulisannya kaya gitu ya, gitu deh......hehehe......
Malam hari pas sudah tidak ada acara paketan dari biro perjalanan ada baiknya kita menunjungi tempat ini gaes...... sebuah tanah lapang seukuran separo lapangan bola (kalau di jawa) dimana disitu ternyata adalah surganya makan seafood ....... yes. seafood......
Kepiting, udang, cumi, kakap, sampai kerang semuanya ada. Pengunjung diberi kesempatan untuk memilih dalam keadaan segar, kemudian pedagang akan langsung mengolahnya sesuai permintaan.....
Enak ? pastinya kisanak...... bahkan saya makan kerang sampai satu nampan full hahahaha......... 
it's my favourite seafood ............

Habis makan seafood, pengunjung akan dimanjakan oleh aneka oleh oleh khas laut seperti kering ikan, terasi, ebi, dan sebagainya. Kita bisa juga membeli oleh oleh berupa beragam jenis pakaian bertuliskan Karimunjawa island yang tentu saja peletakannya masyaalloh noraknya..... hahhaha........

Skip.......

Pagi hari, ada satu spot sunrise yang cukup menarik dan sedang dalam proses penataan oleh penduduk setempat yaitu Pantai Bobi. Nggak tahu deh kenapa dinamakan itu, boyo bingung mungkin, atau apapun itu. Yang jelas untuk sampai ke pantai ini memakan waktu hampir 30 menit dari area pemukiman dan home stay, atau sekitar 5-10 menit dengan menggunakan sepeda motor. 

Pantai Bobi ini adalah sebuah pantai berpasir putih yang terletak di tengah tengah pepohonan di dalam hutan. Airnya sangat bening, pantainya bersih, dan viewnya sangat istimewa. Apalagi ditambah dengan momen tak terduga bisa ketemu sama pemilik tas orange di hari sebelumnya...... hemmm.....
And then, perpaduan warna hijau dari pepohonan, putih dari pasir, biru dari langit, orange dari matahari terbit dan syahdu dari senyumannya itu ........pokoknya indah banget........ rasanya ga pengen beranjak meninggalkannya deh. Suwer ......


Menjelang siang biasanya pengunjung akan diarahkan ke bukit love. Katanya sih belum ke Karimun  kalau belom foto sama patung prasasti bertuliskan KARIMUNJAWA disitu. Juga ada prasasti bertuliskan LOVE  yang cocok untuk ber alay alay sebentar......

Tapi ..... kunjungan ke lokasi ini nggak bisa berlangsung lama karena rombongan biasanya harus segera berkemas dan menuju ke pelabuhan. Dimana pada jam 11 siang sudah ditunggu kapal cepat untuk kembali menuju kehidupan sebenarnya lagi di pulau jawa .......

yang jelas, akan ada banyak sekali cerita, kenangan dan romansa yang melekat di isi kepala kita meskipun hanya beberapa saat di Karimunjawa. So, mari agendakan kesana lagi gaes, eksplore lebih banyak surga yang ada, nikmati lebih banyak hidangan malamnya sambil kita jaga kebersihan lautnya agar tetap bening, tetap indah dan tetap cantik mempesona seperti dia ......... ehh ..........


12.12.2018
Posted by ngatmow

Sam Poo Kong, monumen lintas agama pemersatu bangsa

Jalan jalan ke Semarang rasanya ngga akan lengkap kalau kita nggak mampir ke daerah Simongan gan. Hanya beberapa menit saja kok dari Tugu Muda dan Lawang Sewunya (kalau lewat RSUD Dr. Karyadi lho ya) menuju ke arah Jalur keluar Kota Semarang ke arah barat (Kendal, Batang, dan seterusnya sampai ke Jakarta)

Lha emang di sana ada apa sih ?

Disana ada sebuah klenteng yang ikonik dan punya nilai historis sangat menarik,...... Klenteng Sam Poo Kong ...... pernah dengar ?

Belum ?
hahaha ........ berarti anda kudet dan kurang piknik kisanak .........

Klenteng ini sudah sangat terkenal kok, lintas daerah, lintas agama, lintas budaya bahkan lintas negara lho ........


Kalo kita berkunjung kesini, nuansa Cina jaman kekaisaran jaman dahulu sangat kental terasa man. Seperti umumnya bangunan kelenteng, Kuil Sam Poo Kong ini didominasi warna merah yang tidak saja menghiasi kelentengnya, tetapi juga pohon pohon menuju pintu masuk.

Kalo kita berkeliling di dalamnya, ada beberapa bangunan berarsitektur khas Cina yang berdiri dengan megah mengelilingi sebuah tanah lapang. Juga sebuah patung perunggu seorang Laksamana Cheng Ho yang berukuran 10,6 meter berdiri dengan sangat gagah.

Siapa sih Laksamana Cheng Ho itu ?

Begini gaes, dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He, Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain. Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma. Begitu kira kira .....

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara. Selama 28 tahun (1405 – 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik, perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus, Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tionghoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi kaisar Ming Ta’i-Teu (berkuasa tahun 1368 – 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 – 1433. Misi ibadah haji ini sengaja dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan agama.

Kembali ke komplek Klenteng ya ........

Bangunan inti dari kelenteng Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.

Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari dan pintu masuknya dijaga oleh petugas keamanan. Hanya yang bermaksud sembahyang saja yang diijinkan masuk sedangkan wisatawan yang ingin melihat lihat bisa melakukan dari balik pagar.

Sejak Renovasi besar besaran tahun 2002 dan selesai 2005, yang menelah biaya 20 miliar, Sam Poo Kong menarik perhatian lebih banyak orang untuk berkunjung. Di halaman yang cukup luas di depan kelenteng, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho, yang cukup menarik untuk dinikmati. Di sinilah atraksi atraksi kesenian berupa tari tarian, barongsai atau bentuk kesenian lain digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China.


Setiap bulan ke-6 hari ke-29 Imlek, dilakukan arak-arakan menggotong duplikat patung Laksamana Cheng Ho, yang dikenal dengan sebutan Sam Poo Tay Djien, dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong. Arak-arakan ini dimaknai sebagai peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Hari hari besar lainnya yang dirayakan di sini termasuk di antaranya Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Kedatangan turis asing, terutama dari China, menunjukkan bahwa Sam Poo Kong dikenal luas di dunia. Berdasarkan uang sedekah yang ditinggalkan pengunjung, Kuil Gedung Batu ini juga sering dikunjungi turis turis asing dari Amerika, Rusia, Brazil dan negara negara lain.

Nah kapan nih mau berkunjung ke sini ?
Jangan lupa, siapkan catatan dan kamera ya..... karena banyak sekali yang bisa diabadikan disini dalam bentuk tulisan maupun foto gaess....

*dari berbagai sumber -- foto koleksi pribadi*
11.20.2018
Posted by ngatmow

Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Haru.
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel.....

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men..... beda...... cukuran rambut gembel disini beda...... di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah........dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho......... halah......


Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses.......

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan 

Penasaran ? Harus dong .......
Ceritanya begini gaess .......

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat...... ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ......
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ..................

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya..... Sadis........


Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro....... Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera.... eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ...............

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy .... kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.


Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ..........

Festival Payung Indonesia V di Borobudur

Pernah mengunjungi sebuah pagelaran seni tingkat nasional yang banyak payungnya ? 
Pernah dengar soal Festival Payung Indonesia ?

Festival Payung Indonesia adalah sebuah Event yang masuk Calendar of Event Kementerian Pariwisata dimana dihadiri oleh beragam payung Nusantara dan mempertemukan perajin payung, seniman, pekerja seni dan komunitas kreatif untuk melestarikan payung tradisional Indonesia. Selain itu mengeksplorasi tradisi payung Indonesia hingga batas terjauhnya dengan melibatkan partisipasi beragam masyarakat.


Gelaran Festival Payung Indonesia ke V pada tahun 2018 ini digelar di tempat asalnya, ibu segala payung yakni Borobudur. Dengan dipusatkan di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur Magelang pada 7-9 September 2018 Festival Payung Indonesia 2018 kali ini mengambil tema "Lalitavistara". Yaitu penggambaran cerita payung pada salah satu relief di Candi Borobudur. Tepatnya yang merayakan payung sebagai penanda kelahiran, berbagai tahap kehidupan, keagungan dan kematian. Payung menjadi simbol sekaligus penanda dalam siklus kehidupan dan perekat keberagaman. Di samping itu Candi Borobudur sendiri merupakan simbol inspiratif, Sebuah tempat yang pas untuk mencari inspirasi baru dan diharapkan menjadi pemersatu beragam latar belakang agama, politik, sosial, dan budaya yang ada di Indonesia.

Festival Payung Indonesia 2018 Borobudur ini dibuka oleh Arak-Arakan Payung Nusantara yang mengelilingi Borobudur, menapaki kembali jalan purba yang dilalui para peziarah dunia bersama masyarakat sekitar. Selanjutnya digelar pentas tari dan musik,workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint, dan pameran payung lontar. Selama tiga hari berbagai ragam tradisi payung dari pelosok tanah air, seperti Jepara, Banyumas, Tasikmalaya, Tegal, Kendal, Malang dan Juwiring (Klaten), Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya ditampilkan. Selain seni payung, beragam grup tari, musik, fashion dan komunitas kreatif dari Lumajang, Padang, Makassar, Banjarbaru (Kalsel), Bengkulu, Lampung Utara, Sumba Timur, Bali, Malang, Surabaya, Solo, Jakarta, Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya juga dipamerkan di venue. Tidak ketinggalan para perancang busana muda negeri ini juga ikut berpartisipasi dengan memamerkan karya karya mereka.

Partisipan festival tidak hanya dari dalam negeri lho gaes....... Ada juga pertisipan dari Jepang, India, Pakistan dan Thailand. Khususon untuk delegasi Thailand kabarnya memang sudah rutin hadir setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Provinsi Chiang Mai, Thailand) sudah melakukan hubungan sister-festival sejak 2016. Visinya pun sama. Yaitu menuju Asian Umbrella Community

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur. Malam hari pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Di puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).


Pada Festival Payung Indonesia di Borobudur kali ini, bisa dikatakan adalah sebagai festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukan bagi masyarakat kreatif. Komunitas lokal dilibatkan sejak dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan dan menyambut pengunjung dengan terbuka. Kemeriahan juga diselenggarakan di lima Balkondes (Balai Perekonomian Desa) yang tersebar di Wanurejo, Ngadiharjo, Borobudur, Karangrejo dan Bumiharjo. 

Puas ?
Tentu saja kisanak. Pagelaran yang istimewa ini secara tidak langsung membuka mata kita bahwa sebenarnya kekayaan bangsa ini seolah tidak ada habisnya. Hanya satu hal saja " Payung ", ternyata beragam hal bisa ditemukan dan membuat mata kita takjub. Bahkan setelah diabadikan menjadi sebuah foto pun pagelaran ini masih terasa ke "gebyar"annya.......so amazing

So, mau datang pada Festival Payung Indonesia ke VI tahun 2019 depan ?
yuk gaes .........


Efek samping mlipir ke sini kalo versi saya sih bisa begini .........
Bisa ketemu sama kakak rusuh idolah  ........ Donni L Anggoro

9.12.2018
Posted by ngatmow

Sejenak di MAJT, Masjid Agung Jawa Tengah

Sudah lama sebenernya pingin piknik ke suatu tempat yang nggak kaya biasanya, kalo biasanya saya perginya ke gunung, sawah, waduk, lapangan, dan sebagainya yang berbau bau alam, suatu ketika tuh pinginnya ke tempat yang beda gaes........Kota.....

Yes....... kota besar yang banyak anunya ...... ehhh

Jangan salah sangka dulu, jangan ngeres dulu kisanak.....
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........

Singkat cerita, Pucuk dicinta ulampun tiba sodara sodara, mungkin karena nasib lagi mujur atau mungkin sudah dituliskan dalam catatan hidup  saya oleh Nya, beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan menyambang kota kenangan (jaman masih bujangan), Semarang. eitss.......Jangan kira saya cuman sekedar mlipir dan jalan jalan ga jelas lho sodara sodara, ini tugas dinas lho ..... resmi dan halal  hehehe......

Hal pertama yang ada di kepala saya selama di perjalanan menuju kota itu adalah niat untuk motret di beberapa tempat (yang sedari jaman masih ganteng dulu menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar) yaitu Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Poo Kong, Tugu Muda plus Gedung Lawang Sewunya, serta Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal sebagai Vihara Buddhagaya Watugong.

skip........

Singkat cerita, setelah semua beban tugas terselesaikan maka saya langsung pesen ojek online (sopir kantor saya tinggal di suatu tempat yang bisa menjamin kebahagiaannya lahir dan bathin........ you know abaout that ? aw aw aw .....) untuk menuju target saya yang paling jauh dulu. Masjid Agung Jawa Tengah alias MAJT.
Masjid yang terletak di Jl. Gajah Raya No. 128 Sambirejo, Gayamsari Semarang ini ga jauh dari Simpang Lima lho. Ga sampai setengah jam dari Mall Ciputra kalo naik sepeda motor atau 
  • 4 Km dari pusat Kota Semarang melalui Jl. Semarang-Purwodadi (dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 15 menit) 
  • 4 Km dari Stasiun Tawang melalui Jl. Citarum (15 menit) 
  • 8 Km dari Bandara Ahmad Yani melalui Jl. Jendral Sudirman (24 menit) 
(perkiraan waktu tempuh menggunakan sepeda motor dan tanpa kendala lho ya)

Tapi.......  sangat tidak direkomendasikan untuk ke lokasi pada saat sore hari sebab jalan ke masjid ini pasti macet parah. menyebalkan..... and i hate it........


Apa sih yang bikin masjid ini menarik ?

Yang pertama, sebagai seorang muslim saya insyaalloh punya ikatan bathin yang kuat terhadap masjid. Karena bagi seorang muslim, masjid adalah rumah dan tempat untuk kembali (terserah mau ditafsirkan bagaimana ya......bebas). Selain itu  ada satu hal lagi yang muncul tiba tiba dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya pingin menjalankan Sholat Maghrib di masjid ini gaes....... suwer......

Yang kedua, masjid ini merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia lho. Luas lahannya saja mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk (untuk shalat) 7.669 meter persegi dengan rancangan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. So, sangat menarik untuk dipotret dan dipamerkan di halaman instagram kan ? hehehe ......

FYI, Masjid Agung yang luar biasa ini ceritanya dulu diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang disebut sebagai Menara Al Husna atau Al Husna Tower.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter ini pada bagian dasarnya terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dan di lantai 19 digunakan untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Dan tahu nggak gaes, pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha lho......



Di bagian depan masjid, Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di bagian gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Masih ada lagi kisanak, di sini ada Al Qur’an raksasa yang merupakan tulisan tangan karya H. Hayatuddin, yaitu seorang penulis kaligrafi dari Wonosobo dan ada juga replika bedug raksasa yang dibuat oleh santri dari Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.

Mantab kan ???

Alraight, setelah beberapa waktu mengambil gambar adzan Maghrib pun berkumandang. Merinding gaess....... langit memunculkan semburat merah kebiruan dengan kombinasi sinar lampu yang luar biasa indah. Suasana yang khikmad serta alunan ayat suci Al Quran yang mengalun syahdu membuat hati ini serasa mau runtuh...... Bahkan seluruh raga ini seolah tidak mau diajak untuk beranjak pergi setelah jamaah shalat Maghrib selesai ........

Sebuah pengalaman spiritual yang tidak terbayangkan........
Subhanalloh .......



Dan suatu saat nanti saya akan kesini lagi...... pasti !!

Sedikit Opini Kemerdekaan Negeri ini

"Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdeka......
sekali merdeka tetap merdeka
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia tetap sedia
mempertahankan Indonesia
kita tetap setia tetap sedia
membela negara kita......."

Nggak sengaja air mata ini menetes di pipi. Bukan perkara saya cengeng atau apa tapi karena pas nyanyi lagu itu seekor semut nyasar ke mata sebelah kanan dan nggigit pula gaess ....... suwer..........hahahaha........

Tapi emang sih, nggak tahu kenapa hati ini sangat sangat dan sangat trenyuh waktu mendengar (dan menyanyikan) lagu itu. Dan nggak seperti tahun tahun sebelumnya yang kayaknya datar datar aja, tahun ini terasa beda.lebih jleb di dalam jiwa..... halah.......


Kalo dipikir sih mungkin semua itu akibat dari semakin rutinnya saya nonton tivi dan berita dalam negeri. Dimana masyarakat bangsa ini dikabarkan semakin tercerai beraikan oleh sesuatu hal yang bernama politik. Halal jadi Haram, benar jadi salah, kawan jadi lawan, dan semua hal yang berseberangan dan berkebalikan akan nampak seolah olah terbolak balik nggak karuan. Hasut menghasut serta memutar balikkan fakta seolah sudah menjadi "makanan ringan alias cemilan" bagi orang orang yang saya sendiri bingung mau menunjuk yang mana.....

Ah sudahlah.......
Bagi saya semua yang muncul di layar televisi kini hanyalah sinetron saja. Semua hal yang diberitakan hanyalah demi sebuah tujuan kekuasaan saja, terlepas bahwa di berita juga ada kabar menyesakkan dada bahwa habis terjadi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang menelan banyak jiwa......

Ada satu pertanyaan mendasar dan mungkin perlu sebuah jawaban dari hati sanubari kita masing masing (hanya bagi yang masih waras saja ya, belum tercemar dengan faham politikisasi hihihi.........) Benarkah kita sudah merdeka dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?

Alright, banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu gaess......Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban akan menjadi benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benar saya tidak lebih benar daripada kebenaran menurut anda? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.

Berterimakasihlah pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.

Situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.

Kini kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka--maksud saya bebas--bahkan untuk tidak merdeka.

Bingung kisanak ?
Damn...... Sama !!!!

Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa dengan segenap jiwa dan tulus ikhlas lahir bathin tanpa secuilpun pamrih....... Mungkin kita harus sadarkan diri kita masing masing bahwa rasa malu itu harus dipelihara sebagai kontrol pribadi..... malu pada sesama malu pada sanak saudara dan malu pada apa yang sudah dilakukan orang lain untuk negeri ini sementara kita belum terpikir untuk melakukannya.

Mungkin kita harus malu juga pada seorang Yohanes Andigala pelajar kelas 7 SMPN Silawan saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT yang berani memanjat tiang bendera setinggi 20 meter demi menarik kembali ujung tali pada tiang bendera ketika upacara HUT RI di daerahnya.....lha kita? sudah bisa apa? wong berangkat upacara saja telat..... dilapangan mengeluh kepanasan dan segera mencari tempat berteduh, kemudian buru buru kabur ke warung gara gara ga kuat nahan lapar.......

By the way, di hari kemerdekaan yang ke 73 ini mari kita murnikan hati kembali. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa mari kita tata kembali negeri ini dengan melupakan sejenak semua egoisme dan kepentingan politik, pribadi maupuun golongan. Mari kita kembalikan Indonesia kita yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo ........

DIRGAHAYU INDONESIA


8.17.2018
Posted by ngatmow

Festival Dewi Gita, memulai sebuah tradisi ....

" Monggo pak .... " kata seorang wanita setengah baya berbaju jawa lama sambil menenteng sebuah bendho alias pisau besar mirip parang yang bentuknya seperti ibu hamil....... membesar di bagian tengah hehehe........
" Nggih bu..... badhe tindak pundi ? " jawabku singkat
" badhe teng curug pak, nderek jamasan gaman ... " sahut ibu ibu itu sambil mempercepat langkahnya  menyusuri jalan setapak yang naik turun khas pegunungan di depan kami.

Ibu itu nggak sendiri sodara sodara, dia bersama puluhan orang lainnya sedang bersama sama menuju ke arah Curug (Air Terjun) Genting di Desa Giritirta, sebab di sana sedang berlangsung Upacara Jamasan Gaman yang merupakan salah satu rangkaian dari Festival Dewi Gita (Desa Wisata Giritirta). Festival desa yang baru pertama kali diselenggarakan dengan inisiasi dari Tim KKN UGM di desa Giritirta.


For your infornation Guys, Desa Giritirta sebenarnya pada tahun 2015 memang sudah didapuk sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Banjarnegara. Keren sih, tapi pada kenyataannya tidak ada kegiatan apapun yang menunjang istilah " desa wisata " itu sendiri, dan bahkan sebagian besar warganya justru tidak tahu bahwa desa mereka adalah sebuah desa wisata. Aneh kan ?

Saya dan penduduk secara beriringan menuju ke lokasi kurang lebih selama sepuluh menit dari pusat desa. Sesampainya disana ternyata sudah menunggu  delapan orang laki laki yang dituakan di desa dengan berpakaian hitam dan kain putih diikatkan pada bagian pinggang. Masing masing dari mereka membawa sebuah alat pertanian seperti golok, celurit, cangkul dan lain sebagainya. Juga puluhan warga masyarakat baik tua muda, pria dan wanita yang menenteng peralatan pertaniannya masing masing. Tujuannya sama, Jamasan Gaman atau Mencuci Senjata.........

What ? Senjata ?
Tenang sodara sodara, senjata yang dimaksud disini adalah senjata yang digunakan untuk bertani, bukan senjata yang digunakan untuk berperang dan melukai orang lain (meskipun sebenernya perlatan pertanian pun bisa digunakan juga untuk itu kan hehehe......) dan bukan juga alat alat lain yang berkaitan sama mistis seperti keris, tombak dan sebagainya........ kalo kata orang sih takut menjurus ke hal hal syirik ..........

Bukan ..... bukan seperti itu kok .......

Rangkaian prosesi Jamasan Gaman ini diawali dengan sambutan Kepala Desa, Mister M. Yusuf, yang menegaskan bahwa acara ini (mencuci alat pertanian secara bersama sama di bawah air terjun Genting) adalah sebuah simbol yang bertujuan untuk mengajak warga agar lebih guyub rukun, tulung tinulung, bangga serta mau merawat lokasi wisata seperti Curug Genting yang ada di desa mereka itu. Selain itu diharapkan bahwa warga masyarakat di kemudian hari ikut menjaga aliran sungai yang mengalir di sepanjang desa agar tidak mengalami kerusakan dan tercemar.

Pada kesempatan itu, Camat Pejawaran juga berkenan untuk ikut mencuci dan mengasah sebilah parang milik Mbah Bambang yang merupakan tokoh dan sesepuh desa. Dengan diikuti oleh warga masyarakat yang hadir di lokasi, beliau nyemplung ke kali dan mencuci gaman bersama sama. Dalam kesempatan itu beliau berpesan agar kegiatan semacam ini dilestarikan dan dilanjutkan di tahun tahun berikutnya sebagai magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke desa Giritirta, karena bagaimanapun Tradisi dan Lokasi untuk hal tersebut sudah sangat mendukung. Hanya tinggal pengembangannya saja.

Setelah selesai proses pencucian, acara selanjutnya adalah mengarak (bukan arak yang itu lho gaess hihihi....) Gaman tersebut menuju ke pusat kegiatan Festival Dewi Gita di lapangan sebelah balai desa. Dengan diiringi oleh tabuhan musik kentongan dan lenggak lenggok tarian para penari Dewi Gita, arak arakan itu berjalan kurang lebih 1 kilometer dengan disaksikan oleh ratusan warga yang berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan desa.

Sesampai di lapangan, dilakukan acara serah terima dari rombongan pembawa tadi kepada pemuda desa sebagai perlambang sebuah harapan akan kontinuitas pertanian secara turun temurun di Desa Giritirta, dan sekaligus sebagai simbol ajakan para orang tua jepada generasi muda untuk tetap bercocok tanam.

Setelah rangkaian itu selesai barulah beragam kesenian tradisional dimulai. Ada Jepin, Kuda Lumping, Tari Dewi Gita sampai Organ Tunggal bergantian menghibur masyarakat sambil menunggu proses penjurian gunungan hasil bumi.


Sekitar jam 2 siang, penjurian gunungan hasil bumipun selesai. Dan dengan didahului bunyi Gong, massa pun ambyar sodara sodara .......... semuanya menyerbu ke arah gunungan. Saling berebut, saling sikut namun semuanya sambil tertawa bahagia. Karena mereka sadar bahwa pesta ini untuk mereka.... yes Festival Dewi Gita ini tidak lain dan tidak bukan untuk masyarakat seluruhnya.....Bukan untuk segelintir orang saja...... apalagi cuma untuk Kepala Desa saja hehehehe......

" Tahun ngajeng wonten malih bilih pak, seneng jane nek wonten rame rame kados niki "

" Ngenjang kulo tek nderek njamas pacul lah teng curug.Bismillah sareng sareng sederek ...... "

" Saya sama teman teman pemuda siap menyelenggarakan tahun depan mas...... dengan syarat ******************** sensor **********************, mohon dibantu ya ...... "

" Niku jamasane wonten malih pak ? tek mendet arit riyin "  


Menarik dan syahdu lho sodara sodara, sumpah..... bisa dibuktikan dari testimono testimoni tadi. Dan saya sepakat soal itu. Hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi lagi oleh panitia desa untuk pelaksanaan tahun tahun berikutnya.....
Pertama, Prosesi di lokasi Curug Genting masih perlu ditata lagi baik dari segi waktu pelaksanaan maupun ubo rampenya, lokasi pencucian juga perlu dipersiapkan sebelumnya agar tidak terjadi krodit dan kebingungan peserta, selain itu warga yang datang juga perlu ditambah jumlah. bayangkan saja apabila mereka mengenakan baju tradisional  .......... pasti epik sekali kan ???......

By the way, secara keseluruhan acara sih menurut saya festival yang pertama kali dilaksanakan ini bisa dikatakan cukup berhasil sebab semua rangkaian acara bisa terlewati dengan baik dan tidak ada permasalahan yang berarti. Pameran hasil kerajinan dan industri rumah tangga yang juga digelarpun mendapat respon positif dari tamu undangan dan segenap warga masyarakat.
Harapannya sih semoga kegiatan ini bisa berlanjut di tahun tahun mendatang dengan lebih meriah, lebih tertata, lebih terorganisir dan lebih baik lagi......

So berani mengagendakan tanggal 8 bulan 8 di tahun depan untuk berkunjung di sini???
why not?? rugi besar lho..... hihihi........











Sikunir yang sudah berbenah kini .....

Gadis berjilbab hijau itu memekik kegirangan ketika kami (lebih tepatnya - rombongannya dan saya yang ada di belakang mereka) sampai di puncak Sikunir. Senyumnya yang manis kemudian mengarah kepada saya yang juga sedang terpana oleh keindahan ciptaan Nya sehingga melupakan kamera yang menggelantung di pundak sebelah kanan.

Seketika itu juga tiba tiba saya sangat merasa sedih yang luar biasa kisanak.....
Kenapa ?
Sebab saya nggak ngerti bahasa yang keluar dari bibir itu. Blas..... satu katapun saya ga ada yang mudeng.......... hehehehe.........


"พระอาทิตย์ขึ้นที่สวยงามที่นี่ใช่ Subhanallah ...... " serunya sambil sekali lagi melirik saya.....dan kebetulan pas saya lagi melirik juga .... #ehh
"และพี่ชายที่นำถุงแดงก็หล่อมาก...... " tambahnya yang kemudian disusul tawa cekikikan kawan kawannya.
Nah lho ...........

Saya yang semakin penasaran kemudian dengan modus memasang tripod kamera bergeser posisi sedemikian rupa sehingga bisa lebih mendekati rombongan pemudapemudi berjaket biru dengan tulisan Yala Rajabhat University di punggungnya itu. Jebulnya mereka orang Thailand sodara sodara............ pantesan saja saya ga mudeng babar blas bahasanya.

Betewe, Pagi itu matahari muncul secara berlahan dengan warna emas yang sungguh indah. Layak dengan gelar sebagai tempat melihat matahari terbit terbaik di negeri ini. Saya bersama Mas Imam seolah tersihir untuk kembali memotret keindahan pagi di Sikunir sambil "menengok" tempat bolos sekolah favorit saya kala masih muda dulu ini lagi dan lagi.
Hasilnya ? Cukup memuaskan ternyata. Kami memperoleh foto foto pemandangan alam matahari terbit yang memerah di ufuk timur plus bonus foto candid para pengunjung Sikunir pada pagi hari itu yang beraneka rupa dan warna hihihi .........



"พี่ชายที่หล่อเหลาเหมือนคนดี คุณจะไม่เป็นไกด์ของเราในช่วง dieng? " sayup sayup saya mendengar ucap gadis cantik berjilbab hijau di rombongan sebelah  tadi diikuti dengan anggukan dari beberapa orang kawannya sambil menatap ke arah saya. Entah apa maksudnya.

Lha saya ? saya tetap fokus mencari gambar pemandangan kisanak. jangan khawatir .... hehehe......

Harus saya akui memang bahwa banyak hal telah berubah di bukit Sikunir ini. Mulai dari area parkirnya yang luas dan sekarang tertata rapi, jalan menuju puncaknya yang sudah dibangun sedemikian rupa sehingga tetap terkesan alami, kondisi di puncak yang dikondisikan untuk camping ground, adanya fasilitas seperti toilet dan musholla tanpa mengganggu keindahan bukit Sikunir itu sendiri, disediakannya tempat sampah di berbagai titik, serta munculnya warung warung di sekitar jalan masuk dari area parkir menuju ke tempat bermulanya tangga untuk naik ke puncak.
Dan semua itu ditata sedemikian rupa tanpa ada kesan mengganggu pemandangannya sodara sodara........Hebat.......

Sikunir lain dulu lain sekarang. Dulu tempat ini begitu tenang dan sepi, cocok untuk para penyendiri seperti saya. Namun sekarang tempat ini tak ubahnya seperti pasar pagi yang tumpah ruah. Ratusan kepala manusia berkumpul hanya untuk menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Padahal hari itu bukan malam minggu, namun malam Sabtu !!

Inilah yang membuat saya tidak heran mengapa warga setempat sangat "menyayangi" tempat ini. Secara logika, semakin ramai pengunjungnya maka otomatis pendapatan merekapun akan ikut "ramai" juga. Dan hal itu sudah sangat disadari penduduk sekitar. Banyak usaha bermunculan di area parkir dan bawah bukit Sikunir. mulai dari petugas parkir, penjual souvenir, penjual makanan bahkan sampai penunggu WC umum...... semuanya laris manis ........

Sayang, diluar semua keindahan dan kekaguman saya akan kondisi Sikunir yang sudah berbenah itu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita renungkan ulang. Pertama adanya spot yang agak mengganggu di puncak bukit, yaitu toilet dan musholla dengan atap seng yang mengkilat (hal ini sangat mengganggu pemotretan lho....... dan mungkin bisa diakali dengan mengecat atap seng tersebut dengan warna gelap atau hijau menyesuaikan dengan rerumputan yang ada di sekitarnya), yang kedua adalah adanya spot foto dengan burung hantu dengan membayar sejumlah uang sebagai imbalannya dengan alasan untuk memberi makan mereka (menurut saya alasan ini tidak bisa diterima karena bagaimanapun mereka sejatinya bukan hewan yang hidup beraktifitas pada siang hari dan yang sesungguhnya mencari makan adalah si empunya, bukan burung burung hantu ini ..... damn !!! #MENURUTSAYA)


Singkat cerita, setelah kurang lebih setengah jam kami berada di puncak bukit Sikunir untuk mengambil gambar, kami memutuskan untuk turun. Pulang. Sebab disamping cuaca yang mulai panas, juga lokasinya juga sudah mulai tidak menarik..... sepi...... ga ada lagi pemandangan indah hehehe ..........

Sampai di bagian bawah bukit, kami memutuskan untuk membeli tempe kemul dan teh panas terlebih dahulu sambil menikmati keramaian pengunjung Sikunir. Sampai tiba tiba ada suara merdu seseorang menyapa kami ......

" excume, boleh kami ikut duduk ? "
" ehh .... anu .... emm .... boleh boleh .... silahkan " jawab saya kaget setengah mati. Dan Mas Imam pun tersedak dengan sukses
" Terima Kasih "

Tak berapa lama kemudian setelah mereka dalam posisi nyaman, acara basa basi pun dimulai. Si cantik berkerudung hijau yang sejak tadi jadi bahan plirikan saya memberanikan diri memulai pembicaraan
" Perkenalkan ... saya Hafiza, ini Emma dan ini Natt, kami dari Bangkok. Kalau anda ? " jelasnya dengan bahasa Indonesia yang terbata.
" emm... ini mas imam. kami dari Banjarnegara saja....... oh iya, saya pesankan minum ya ....... mau minum apa? teh atau kopi, biar saya pesankan ..... "
" i think i wanna cup of Tea...... terima kasih" jawab si kacamata yang tadi diperkenalkan sebagai Nattchanappa  eh Natt saja ding.......
Karena saya menyadari bahwa mereka berasal dari luar negeri dan mungkin saja tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, saya kemudian memesan sejumlah minuman, tempe kemul dan arem arem ala desa sembungan yang enaknya istimewa.

"สิ่งที่ฉันพูดเขาเป็นคนดี ดีมองอีกครั้ง ..... " bisik mereka bertiga sambil mencicipi tempe kemul khas Wonosobo di pagi yang hangat itu ......

waktu pun berjalan semakin cepat dengan sinar mentari yang semakin hangat. asik namun aneh cara pembicaraan kami. sebab hanya bermodal bahasa Indonesia yang terbatas, bahasa Inggris yang terbatas pula serta dominan bahasa tarzan dimana mana...... tapi nyambung terus lho........

" ฉันชอบที่นี่จริงๆ วันหนึ่งฉันจะกลับมาแน่นอนและฉันหวังว่าพี่ชายของฉันจะมาพร้อมกับฉันเมื่อมันมาถึง "

mbuh..... apapun artinya itu, saya hanya modal ngomong  " haik......." saja hahahaha ........

Dan obrolan kami pun berlanjut panjang kemudian sodara sodara..........
#berkahanaksoleh
#mpilirdihati
#mayodolanbanjarnegara



Suasana Jalan tepat sebelum mendaki Sikunir 

Suasana parkiran yang sudah 

Jalan setapak itu sekarang jusah menjadi lebih lebar dan aman



Tempat sampah ada di beberapa tempat
Musholla pun sudah ada, asri pula.....




Rejeban Plabengan Dewi Cepag, tradisi unik yang penuh daya tarik

Mata saya masih "mbendul" dan merah ketika seseorang menyapa dengan suara sengau khasnya
" welah..... ada orang banjarnegara sampai di sini juga ...... dirimu nginep apa om ? "
" eh om senior...... nggak om, aku baru aja dateng.dari rumah tadi jam 3an kok " jawabku setengah kaget.
" weh jam tiga ? gasik men ...... "

Yes, itu sekelumit perbincangan saya dengan seorang senior motret dari Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya hahahaha........ Lha terus pertanyaannya, ngapain saya pagi uput uput macam itu otewe dari Banjarnegara ke Parakan Temanggung ?
Piknik dong pemirsa..... piknik spiritual demi bisa makan pisang sepuasnya sambil motret Rejeban Plabengan. Yaitu sebuah acara budaya yang digelar di Dewi Cepag atau Desa Wisata Cepit Pagergunung Kecamatan Bulu Temanggung. Sekitar 5,2 kilo meter dari arah RSK Ngesti Waluyo Parakan naik menuju punggung Gunung Sumbing.


Dusun Cepit Desa Pagergunung ini berada tepat di sebelah Timur agak ke Utara sedikit di kaki Gunung Sumbing, dimana puncak gunungnya sebenernya sudah tepat didepan mata. Bagi saya, desa ini sebenarnya sangat cocok bagi para landscaper karena pemandangan yang terpampang di semua sudut desa ini adalah keelokan yang tak terkatakan ......... suwer.........
selain itu keramah tamahan Penduduk, puncak gunung Ungaran di kejauhan dengan matahari yang muncul berwarna kemerahan di puncaknya, kearifan lokal penduduknya serta aroma lintingan klembak menyan yang harum menyengat, juga menambah eksotisme suasana di Dusun berpenduduk kurang lebih 250 KK ini........ istimewa pokoknya .....

Menurut cerita masyarakat, Plabengan merupakan sebuah petilasan yang konon dahulunya merupakan tempat berkumpul Ki Ageng Makukuhan (beliau adalah Tokoh Penyebar Agama Islam yang dipercaya sebagai penerus Wali Songo) bersama para muridnya yaitu Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Ageng Gandung Melati, Ki Ageng Paniti Kudo Negoro dan Syeh Dami Aking, untuk melakukan musyawarah sambil menyebarkan agama Islam. Nah untuk memperingati dan meneruskan tradisi itu, maka setiap hari Jumat Wage pada bulan Rejeb (Penanggalan jawa) masyarakat Desa Pagergunung melakukan tradisi unik Nyadran.

Sebagai info nih sodara sodara, Nyadran disini  merupakan prosesi mengunjungi Punden Plabengan dan Makam Leluhur yang ada disana untuk berdoa agar keberkahan selalu menyertai seluruh warga Desa Pagergunung. Prosesi ini pun tidak sembarangan dan berbeda dengan di tempat lain lho. Prosesi Rejeban Plabengan ini diawali dengan Ritual Doa Malam Jumat di Punden Plabengan yang diikuti para kaum lelaki warga desa dengan penerangan ratusan obor di sepanjang jalan menuju punden, acara sakral ini dipimpin oleh sesepuh dan pemangku adat desa dalam balutan pakaian jawa yang berupa beskap dan bangkon.

Paginya, seluruh warga berjalan kaki sejauh hampir 2 kilometer dari dusun Cepit naik menuju ke arah puncak gunung Sumbing dengan membawa bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Bekal tersebut  berupa dua sisir pisang atau lebih, ketan dan jenang, ingkung ayam serta aneka lauk pauk yang dibawa dalam dua tenong (wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu) dan dipikul oleh kaum laki laki dusun Cepit Desa Pagergunung. Selain itu warga masyarakat juga mempersiapkan beberapa buah gunungan yang berupa makanan pokok lengkap dengan lauk pauknya.

Setelah semua tenong dan gunungan ini masuk ke lokasi Punden Plabengan, semuanya ditata membentuk barisan memanjang dengan dikelilingi oleh masyarakat yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Beberapa saat kemudian sesepuh desa mengkomando masyarakat untuk melantunkan ayat ayat suci Al Quran, dan lokasipun menjadi penuh khikmad....... tenang ...... dan syahdu .......
Sekitar  20 menit kemudian, sesepuh desa dan Kepala Desa Pagergunung mulai memberikan wejangan, petuah bijak serta harapan harapan di depan semua yang hadir di lokasi itu, dilanjutkan dengan melakukan jamasan terhadap anak anak yang berambut gimbal dengan menggunakan air dari mata air yang ada di sebelah punden tersebut.

Para tukang foto pun ambyar ......... berebut maju ke depan ....... baik yang pemula seperti saya maupun sudah pro seperti om om yang suka pake hal hal berwarna merah brewokan yang tidak mau disebutkan namanya, berebut mencari posisi terbaik untuk mengabadikan momen di lokasi yang super sempit itu.

Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu tunggu sodara sodara..... pranoto coro memberikan komando kepada kami untuk merapat ke gunungan tumpeng utama yang ada di sebelah gazebo. Untuk apa ? makan tentu saja .....
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Lha saya ? berhubung saya cerdas, makanya saya justru menepi dan mencari tenong di pinggir lokasi yang relatif sepi dan tanpa rebutan demi bisa makan pisang dengan aman, nyaman tertib dan kenyang hehehee......

Oya, sambil makan kami disuguhi 8 kesenian tradisional yang tampil bergantian, mulai dari emblek (tari kuda kepang), tari angguk, tari butho galak, dan sebagainya. Epik, eksotis dan gaib......... begitu yang saya rasakan. Ada perasaan takut terbersit mengingat bahwa biasanya acara macam ini akan membawa banyak kejadian mistis
Dan benar saja, belum sampai 1 jam kesenian itu berlangsung tiba tiba banyak warga yang kesurupan. Tidak hanya kaum laki laki, tapi juga kaum hawa yang berada di sekitar lokasi ituk kesambet juga. Seru ......

Karena sudah terlalu banyak yang kesurupan, akhirnya sesepuh desa memerintahkan kami semua beserta masyarakat yang masih sadar untuk turun gunung kembali ke desa. Sayang memang karena acara belum selesai sudah dibubarkan seperti itu, namun demi keamanan dan keselamatan ya mau tidak mau kami harus menurutinya kan ?

Sesampainya di desa, kami berkumpul di kediaman Pak Kades untuk sekedar melepas lelah dan menikmati jamuan yang ternyata sudah disediakan. Disitu kami diajak untuk bertukar pikiran, memberikan masukan dan koreksi terkait penyelenggaraan kegiatan oleh pak kades dan ketua pokdarwis setempat. Sebuah kegiatan yang sangat jarang dilakukan oleh panitia panitia kegiatan budaya dimanapun yang pernah saya kunjungi ......... #salut

Ada satu kalimat yang dilontarkan sahabat saya @Yoga_YoGreat tentang kegiatan budaya kali ini :
" ........20% motret, 20% ketemu sedulur, 60% panen gedhang !!!! ......."

Apa panen gedhang ?
yes.....betul sodara sodara, sebab kalau setiap orang membawa 2 sisir pisang, maka jika dikalikan 250 KK akan ketemu 500 sisir pisang ! dan banyak diantaranya yang tidak hanya membawa 2 tapi juga 3, 4 bahkan lebih dari 5 sisir !! 

puassss........

Photo by @Yoga_YoGreat

Not recommended waterfall, Curug Tempuk Telu

Not recommended ?? why ??

bwahahahaha...... yes it's true sodara sodara. Sangat sangat tidak dianjurkan untuk didatangi oleh kalian kalian yang cemen, nggak punya jiwa petualang, ga suka mancing, manja, takut jatuh, nggak punya nyali untuk menaklukkan medan berat, takut basah dan ga bisa move on dari mantan ......ehhh...... Sebab untuk sampai ke air terjun super indah ini harus berjuang sangat keras menaklukkan rute yang ekstrim dan penuh liku seperti hidupmu.....eh......

Penasaran ? Jangan .......
yakin deh.......penasaran itu berat, kamu ga akan kuat...... cukup aku aja...... hehehe......

Ceritanya begini kisanak, beberapa waktu yang lalu saya dan teman teman berkunjung ke Curug Sipawon di Desa Sarwodadi Kecamatan Pejawaran,  kami mendapatkan informasi bahwa tidak jauh dari Curug itu ada Curug lain yang konon katanya jauh lebih indah dan menantang. Curug Tumpuk Telu atau Curug Tempuk Telu namanya. Nah dari situlah muncul rasa penasaran yang menggebu di hati sanubari kami semenggebu penasarannya arwah vampir vampir di film mandarin yang ga ada hentinya melompat sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang kuning itu hehehe.....

Olrait.......Sebagai informasi saja, Curug Tempuk Telu (sering disebut juga Curug Tumpuk Telu) ini sesuai namanya adalah barisan dari beberapa air terjun (namun hanya 3 yang dominan dan debit airnya paling besar). Titik jatuhnya air ketiga air terjun itu menjadi satu dan kemudian menjadi ujung sungai yang mengalir di tengah tengah tebing batu......... mirip seperti ujung sungai di film film petualangan Hollywood pemirsah ..... indah, mempesona, bikin mulut menganga dan pastinya akan memanjakan kita yang  suka banget berteman sama joran alias mancing ........ sebab disini surganya ikan man !!! .......suwer deh ......


Singkat cerita, setelah mengatur waktu, menyusun rencana mlipir sambil menunggu curah hujan mereda, akhirnya kamipun merealisasikannya kemarin. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menghubungi  "juru kunci" yang tidak lain dan tidak bukan adalah penduduk sekitar (dalam hal ini perangkat desa Sarwodadi - yang ternyata sebagian besar adalah tukang jaring ikan jagoan di sungai Panaraban) untuk meminta bantuan mereka sebagai penunjuk jalan. Hal ini penting mengingat bahwa jalur ke Curug Tempuk Telu dikabarkan sangat ekstrim dan katanya berbahaya.

foto by Agussalam
Setelah melakukan perjalanan sampai ke pinggiran Sungai Panaraban, kami melanjutkan perjalanan dengan berbasah basah ria. Dengan ditemani 3 orang perangkat desa Sarwodadi (Pak Toyo, Pak Tomo dan Pak Tadin), kami memulainya dengan menyeberang sungai Panaraban dengan debit air yang lumayan deras (pada waktu itu), kemudian berjalan merunduk melewati akar dan tumbuhan liar dengan trek yang cukup membuat mandi keringat, kemudian menyeberang sungai lagi dengan pola zig zag (mengikuti bagian sungai yang dangkal), menerobos tumbuhan liar dan rumput beracun (yang gatalnya gak hilang sampai sekarang), serta yang paling ekstrim adalah merambat di tebing batu di sepanjang aliran sungai itu....... nah........

Sebenarnya jarak Curug ini dari Curug Sipawon tidak begitu jauh sih, kurang lebih hanya 300 meter saja dan hanya dibatasi oleh sebuah bukit setinggi lebih dari 50 meter dengan kemiringan yang cukup curam. Tapi dengan rute yang ternyata sangat masyaalloh itu, kami (terutama saya) yang tidak biasa blangsakan disitu, harus menempuhnya dalam waktu hampir 40 menit (belum termasuk istirahat sambil minum kopi dan foto foto..... ) penuh dengan perjuangan yang cukup berat (halah......) hingga akhirnya kami berhasil mendekati lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.

What ?
Hanya mendekati ? belum sampai lokasi dong ....

Yes. Belum sampai lokasi dibawah air terjunnya langsung. Sebab pada waktu itu cuaca mendadak mendung, kabut hitam datang dan arus air bertambah cukup deras. Dengan banyak pertimbangan akhirnya kami balik kanan dan mengikhlaskan hati untuk tidak melanjutkan langkah yang tinggal 50 meter itu. Dan berdasarkan info dari sang juru kunci hehehe ..... 50 meter terakhir itu adalah yang paling sulit...... dan itulah yang kami jadikan bahan menghibur diri hehehehe......

Jika ditanya apa yang saya rasakan setelah blangsakan itu ?
Sangat berkesan sodara sodara....... apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa sesampainya di rumah, kartu memori saya tidak terbaca alias error dan setelah di recovery foto yang terselamatkan bukan foto aslinya yang berukuran besar melainkan copyannya saja yang berukuran sangat kecil....... ambyarrrrr................



Tapi tidak apa apa kisanak, salah satu tujuan utama saya telah tercapai. Apa itu ??
Survey jalan dan lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
Kenapa ? sebab berdasarkan informasi yang bisa dipercaya, lokasi ini di tahun 2019 akan mendapatkan dana pengelolaan daerah wisata dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisatanya. So, perlu dilakukan survey dalam perencanaan pembangunannya kan ? Mulai dari perencanaan tempat parkir, jalur wisata, gazebo, jalan setapak dan bahkan sampai rencana mengikis tebing batu untuk membuat minimal jalan setapak menuju Curug Tempuk Telu ini........(yang kalau dalam bayangan saya sih seperti jalan di Taman Nasional Gunung Tianmen, Zhangjiajie, di barat laut Provinsi Hunan, Cina itu)

Harapan kedepannya sih ga muluk, semoga nantinya setelah jadi daerah wisata, pendapatan desa dan masyarakat bisa meningkat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitarnya serta menjadikan orang orang seperti saya yang suka mlipir untuk berburu foto jadi punya lokasi alternatif lokasi motret  di wilayah Banjarnegara tercinta ini....... hehehe...........

Dan yang jelas besok pas sudah musim kemarau dan debit airnya menurun, saya insyaalloh PASTI AKAN KESITU LAGI ......... ikut ???

and the last question, anda berani kesana saat ini ?
hahhaha.................

Banyak curug kecil di sepanjang rute ekstrim ke sini


Perlu perjuangan berat     Photo by Agussalam

Lokasi ini  banyak dijadikan lokasi memancing dan menjala

This is us .......Blangsakan Team today
3.24.2018
Posted by ngatmow

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow