Posted by : ngatmow prawierow 2.21.2018

Salah satu resiko bekerja sebagai abdi masyarakat di desa macam saya ini diantaranya adalah jadi sering piknik ke lokasi lokasi menarik dan jelas berpemandangan yang sangat indah kisanak. Dan itu sudah sangat pasti sepasti harga listrik yang selalu naik di negeri ini .... halah......


Seperti yang terjadi beberapa hari kemarin kisanak, habis merdesa alias kunjungan dinas ke desa saya beserta pasukan kemudian sedikit mingser alias membelokkan sepeda motor kami ke arah Dusun Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Atau lebih tepatnya lagi menuju ke Curug Sirawe yang konon katanya adalah curug dengan tiga air terjun dan dua jenis air, air panas dan air dingin. Nah......


Sekitar 15 Menit dari Pasar Kecamatan Batur, melalui jalur alternatif menuju ke Dieng via d'Qiano dengan akses jalan yang lumayan halus mulus, akhirnya kami sampai ke Dusun Bitingan. Sebuah dusun yang memiliki tingkat kemiringan tanah yang Masyaalloh (bahkan jalan cor beton yang ada di tengah dusun dan juga sebagai akses utama ke lokasi parkir punya kemiringan cukup ekstrim, mungkin lebih dari 45 derajat lho). Oya, sekedar saran sodara sodara, kalau mau ke sini jangan menggunakan kendaraan roda 4 karena akses jalan masuk ke dusun (via jalan cor beton) yang sangat sempit dan curam, dan jalan aspal yang hanya separo jalan (300 meter sebelum masuk dusun via jalan aspal yang memutar, sudah ambyar....).

Dari lokasi parkir sepeda motor, kami berjalan kurang lebih 15 menit (perkiraan waktu jalan bagi manusia dengan bobot 80 kilo macam saya hehehe .....) melewati jalan usaha tani (yang sudah berupa jalan cor beton) untuk menuju ke tujuan utama kami. Curug Sirawe. Trek yang dilalui cukup menarik lho kisanak, datar dulu nunjem kemudian. Sekitar 50 meter terakhir jalan berubah wujud jadi satu turunan yang lumayan curam dengan pemandangan yang istimewa. Suwer.........

Turunan pertama hanya setinggi 20 meter man, relatif mudah dan belum bikin kemringet.....kemudian ada sedikit tanah lapang yang datar dimana sekarang di tempat tersebut sudah dibangun saung saung beratap ijuk dan sebuah tower pandang yang terbuat dari bambu setinggi sekitar 7 meter (3 tingkat). Tepat di samping tower itu ada trek turun yang kedua setinggi sekitar 30 meter dengan kondisi jalan cukup berbahaya karena sangat licin dan penuh dengan rumput dan ilalang liar di sekitarnya. Dan pastinya di trek yang ini keringat akan deras mengalir membasahi seluruh tubuh kita. Itung itung olah raga hehehe .......




Kata penduduk sekitar yang kami temui, Konon penamaan Curug Sirawe ini diambil dari asal kata rawe, yang artinya banyak suwiran atau seperti kain yang terdapat roncenya. Hal itu bisa dimaklumi karena curug ini terdiri dari tiga curug yang lokasinya saling berdekatan. Dua curug berukuran besar dengan ketinggian kurang lebih 80an meter dan satu curug yang ukurannya lebih kecil dengan ketinggian yang sama namun airnya panas.

What ?? air panas ??

Yes sodara sodara. Dua dari tiga curug yang ada di sini airnya berasal dari mata air panas hasil proses geothermal di dalam perut pegunungan Dieng. So jangan kaget kalau di sekitar pegunungan dieng akan kita temui banyak mata air panas yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari hari. Bisa dibanyangkan deh mandi air panas gratis dan tanpa masak air sebelumnya....... enak kan ??

Berdasarkan  data wilayah Curug Sirawe ini masuk dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Lho ? iya sodara sodara. Perlu diketahui bahwa sungai yang mengalir dan kemudian membentuk curug ini merupakan batas desa dan batas kabupaten yaitu Banjarnegara dan Batang. Memang sih orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Disamping karena akses jalan dari Bitingan (Banjarnegara) lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan dari Sigemplong (Batang), juga karena mata airnya berada di Bitingan (bahkan dibawahnya sudah dibuat pemandian air panas juga lho).


Kata salah seorang warga, dahulu pihak Kabupaten Banjarnegara pernah mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara namun pihak Kabupaten Batang tidak begitu saja mengakui klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Kabupaten Batang berdalih, kalau memang curug tersebut menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Nah...njur piye jal .....

BTW, udah ga usah dibikin pusing. Biarkan para pembesar yang mikirin hal begituan......kita ? piknik aja.....hehehe

Setelah puas motret di curug dan cukup berkeringat karena jalan kaki, saya dan rombongan kemudian memutuskan untuk berendam dulu di pemandian air panas Bitingan yang lokasinya tepat di sebelah parkiran motor. Pemandian ini masih berupa sebuah kolam yang isinya air panas (kalau dikira kira panasnya seperti air panas satu gayung ditambah dengan air dingin dua gayung.....Pas banget dikulit !!!), dilanjut makan mie ayam di warung bambu disebelahnya yang ternyata rasanya ga kalah dengan mie ayam langganan di kota ..... yakin........... *cerita soal pemandian ini berlanjut di tulisan lain ya ......

Sekedar info kisanak, dari berbagai sumber saya dapet informasi bahwa karena sebagian be­sar para pengunjung Curug Sirawe lebih memilih melalui jalan Kabupaten Banjarnegara karena dinilai lebih efektif dan mudah dijangkau, Pemerintah Ka­bupaten Batang yang memiliki Curug Sirawe berusaha mengambil alih agar pengunjung bisa melalui Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Keseriusan Pemkab Batang untuk mengelola Curug Sirawe diwujudkan dengan mem­perbaiki sarana infrastruktur mulai dari Kecamatan Bawang hingga objek wisata itu. Pem­kab Batang sudah meren­canakan membangun masjid berukuran besar dan megah di sekitar Curug Sirawe.

Bahkan menurut beberapa sumber, Bupati Batang, Wihaji, me­ngatakan Pemkab akan mem­buat detail engineering design pembangunan infrastruktur, termasuk sarana pendukung­nya. Detail engineering design akan dibuat 2018 dan pada 2019 akan dimulai pelaksana­an pembangunannya. Bahkan dalam salah satu sumber, Bupati Wihaji mengatakan setelah jalur Bawang–Pranten selesai maka nantinya jarak tempuh yang selama ini me­merlukan waktu dua jam, dapat ditempuh 15 menit. Pemkab sudah menjanjikan untuk menghidupkan potensi wisata di Kecamatan Bawang. Pemkab akan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan tidak menutup kemung­kinan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Bentuk kerja sama dengan perusahaan melalui program corporate sosial responbilty untuk membantu pengem­bangan wisata curug itu.

Nah lho .....
Lha terus Banjarnegara ?
Masih banyak hal yang perlu ditindak lanjuti, dipikirkan dan kemudian segera disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara soal daerah ini kisanak. Yang jelas pertama dari sisi infrastruktur yang harus segera diperbaiki, kemudian promosi yang juga ditingkatkan sebagai komplek wisata kedua setelah komplek utama Dieng (karena dikomplek ini juga ada Pemandian air panas Bitingan yang sampai saat ini dikelola oleh BUMDes Desa Kepakisan namun menurut saya masih butuh campur tangan pemerintah Kabupaten Banjarnegara) dan sebagainya dan sebagainya......

Tinggal bagaimana menyikapinya.......



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow